[Antagonist]

NCT belongs to themselves

"Antagonist" belongs to Lexa Alexander

Inspired by: Caste Heaven by Chise Ogawa

Main Pair: TaeTen

Other Pair: JaeDo, JohnIl


"Sudah terkirim, Tuan Muda." Jaehyun menyimpan benda persegi itu ke dalam saku jasnya, menatap Taeyong yang kini sedang melepas jasnya dan melemparnya asal ke arah meja kerja yang di atasnya bertumpuk dokumen-dokumen yang entah apa isinya. Beberapa hanya kertas kosong, hanya untuk pencitraan.

Tuan Muda itu tertawa keras layaknya tawa iblis, puas mengerjai Joker hingga membuatnya membeli barang-barang tidak berguna dan menunggu 13 orang selama berjam-jam di sekolah –padahal yang ditunggu sama sekali tidak ada niatan untuk datang. Taeyong yakin teman-temannya yang lain sedang berleha-leha di rumah, bergelung dengan selimutnya atau bahkan menonton film.

"Aku ingin ke rumah Ten," kata Taeyong setelah selesai dengan tawa iblisnya. Jemarinya bergerak untuk membuka kancing lengan kemejanya. "Kalau kau ingin menemui Doyoung, silahkan. Aku bisa ke rumah Ten sendiri."

"Baik, Tuan Muda."

Taeyong mendengus, lagi-lagi sikap formal itu. Sudah berkali-kali laki-laki itu berkata pada Jaehyun untuk berhenti bersikap formal padanya, karena akan lebih menyenangkan jika Jaehyun bersikap layaknya sahabat atau saudara. Selama sebelas tahun mereka bersama, apa tidak cukup bagi Jaehyun untuk menghilangkan sikap formalnya? Taeyong benar-benar tidak tahu apa isi pikiran Jaehyun.

Laki-laki yang seumuran dengan Tuan Muda-nya itu mengambil jas Taeyong dan mengikuti laki-laki berambut silver itu keluar ruang belajarnya, tidak lupa menutup pintu mahoni di belakangnya. Taeyong berjalan memasuki kamarnya dan Jaehyun berhenti di depan pintu, membungkukkan tubuhnya hingga pintu besar itu tertutup pelan.

Tidak lama kemudian Taeyong keluar dari kamarnya dengan pakaian santai –hoodie hitam dengan celana jeans hitam dan sneakers abu-abu dengan sedikit warna hitam. Tangannya membawa dompet, ponsel, dan kunci mobil. Dia mencari Jaehyun dan mendapati pelayan pribadinya baru saja keluar dari kamarnya yang ada di sebelahnya dengan pakaian santai –kemeja yang digulung sebatas siku dengan jeans biru dan sneakers putih. Jaehyun membungkuk pada Taeyong, "Tuan Muda, saya permisi."

Taeyong mengangguk, sama sekali tidak masalah. Malah Taeyong ingin Jaehyun merasa sedikit lebih bebas. Walaupun tugasnya memang pelayan pribadi Taeyong, namun selebihnya, Taeyong merasa Jaehyun sudah seperti saudaranya. Begitu-begitu Taeyong ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki saudara, dan disanalah Jaehyun berada.

"Jae, sudah kubilang tidak perlu se-formal itu padaku." Taeyong melangkahkan kakinya dan berjalan mendahului Jaehyun. Beberapa langkah di belakangnya Jaehyun mengikuti. "Kita tidak sedang berada di acara formal, kau tahu."

"Baik, Tuan Muda. Maafkan saya."

Lagi-lagi perkataan Jaehyun membuat Taeyong mengeluarkan tatapan tajam, berkali-kali dia mengingatkan dan Jaehyun masih sering 'kelepasan' berbicara formal padanya.

Taeyong menginjakkan kakinya di luar rumah, kemudian berhenti. Dia berbalik menatap Jaehyun yang masih setia mengikutinya, "Kau akan menemui Doyoung?" tanyanya, dan dijawab dengan anggukan. "Apa rencanamu untuk sehari ini?"

"Hanya jalan-jalan, mungkin?" Jaehyun sedikit ragu dengan jawabannya. Dia sendiri tidak yakin untuk rencananya bersama Doyoung. Walaupun kemarin Doyoung meminta tolong padanya untuk menemaninya ke toko buku, Jaehyun rasa hari ini dia tidak hanya ke toko buku. Doyoung pasti akan menyeretnya ke mana-mana, dan Jaehyun sendiri pasti akan menyeret Doyoung untuk mencoba berbagai kuliner yang ada di kota.

Alis Taeyong menukik, dan dahinya mengernyit. Dia seakan sedang membaca isi pikiran Jaehyun. Tidak lama kemudian laki-laki itu menodongkan tangannya, gestur meminta. "Kemarikan kunci motormu, dan suratnya," perintahnya. Nadanya terdengar galak dan memerintah, layaknya tuan yang sebenarnya. Jaehyun memasang wajah penuh tanda tanya, namun tanpa banyak tanya atau menolak, dia menyerahkan kunci motor dan surat kendaraan pada Taeyong.

Kemudian, tanpa disangka, Taeyong melemparkan kunci mobil dan surat kendaraannya pada Jaehyun, yang langsung ditangkap dengan cekatan. Taeyong langsung membalikkan badannya dan segera berjalan menuju garasi, meninggalkan Jaehyun yang masih berdiri di tempatnya, menatap kunci dan surat kendaraan yang kini ada pada genggamannya.

"Tae–"

"Aku tidak ada rencana jalan-jalan bersama Ten. Kau pakai saja mobilku. Sudah, aku buru-buru."

Pintu garasi terbuka, dan Taeyong segera masuk ke dalamnya. Tidak lama kemudian deru mesin motor terdengar, dan terlihat Taeyong yang melesat bersama motor hitamnya meninggalkan mansion keluarga Lee dengan kecepatan penuh.

Jaehyun menghela nafas. Padahal dia punya motor sendiri. Jaehyun tersenyum, menatap kunci mobil di tangannya. []