Warning: typo(s), alur berantakan, tidak sesuai EYD. Thank you for your attention, sistur! Enjoy!

P.S; biasakan untuk membaca author's note di akhir chapter. Thank you!

Warning Pt. 2: it's NC area. And a lil bit BDSM. If u don't like it, u can close it. Thank!

Aku meregangkan ototku, menopang dagu dan mataku melirik kesana-kemari mencari Jongin yang entah mengapa belum menampakkan batang hidung nya sama sekali.

Cafe ini begitu renggang meskipun waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Jongin mengutusku untuk bertemu dengannya hari ini. Sepertinya, ia membawa informasi yang bisa membuatku sedikit menemukan pencerahan akan masalah ini.

Aku mengisi perut kosong ku dengan sepiring omelette dan hot capuccino yang asap nya masih mengebul parah.

PIP

Aku terperanjat kaget. Melirik pada ponsel ku yang menyala—syarat akan pesan masuk.

From : Oh Sehun Sajangnim

Selamat siang, Luhan. Jangan lupa memakan makanan mu. Aku sedang ada urusan bersama klien siang ini, bersama Chanyeol dan Bora. Jika sudah selesai, kau bisa datang ke Studio. Akan ada Tiffany yang menemani mu. Jaga dirimu, Sayang.

P.s; aku amat merindukan mu, sungguh.

Aku mengulum bibirku—astaga, Sehun manis sekali hari ini! Aku tak bisa menahan senyuman ku!

"Kenapa kau bahagia sekali, Lu?" suara seseorang membuatku terperanjat untuk kesekian kalinya.

Aku mendongak, menemukan Jongin yang tersenyum tipis padaku sambil mendudukkan dirinya di depan ku. Laki-laki itu masih memakai jas kerja miliknya. Tak lupa, tas kerja nya ia gelantungkan di pundak lebarnya.

"Tidak apa. Hanya menerima sebuah pesan," Aku terkekeh kecil. Mematikan ponsel ku dan kembali memakan omelette ku yang tersisa sedikit.

"Dari kekasih mu, eo?"

"...Ya," Aku tersenyum canggung. Aku lihat perubahan ekspresi dari Jongin. Ia sedikit mematung dan mulai muram.

Apa yang salah dari jawaban ku?

"Ah, ternyata kau sudah punya kekasih. Aku kira tidak," ia berucap dengan nada yang menurutku amat sedih.

Apa yang salah dengan dirinya?

"Baiklah, Jongin. Apa yang kau bawakan untukku hari ini?" Aku berusaha mengalihkan perhatiannya. Aku sedikit menarik kursi ku hingga lumayan dekat dengannya.

Ia mengeluarkan catatan hitam milikku beserta kertas-kertas putih yang memiliki banyak tulisan tangan cantik.

"Ini adalah hasil analisis Soojung. Seperti perkataanku, Soojung amat senang ketika membaca catatan hitam ini, Lu. Ia bahkan rela lembur hanya untuk menganalisis syndrome ini."

"Astaga, tolong ucapkan terima kasih ku padanya, Jongin. Akan ku traktir lain kali." Aku bersungguh-sungguh. Pahlawan ku yang sebenarnya adalah Soojung.

"Kau akan menyesal mengajaknya makan, Luhan. Porsi nya sudah seperti tukang bangunan."

Aku terkekeh mendengar perkataan mencemooh nya. Jongin memberikan catatan hitam beserta kertas-kertas itu padaku.

Mataku meneliti beberapa tulisan tangan Soojung.

Penelitian : 1

Ini adalah Stendal Syndrome. Sindrom Stendhal adalah sebuah sindrom yang menyebabkan penderitanya mengalami pusing, jantung berdetak sangat cepat serta berhalusinasi ketika melihat sesuatu yang indah atau karya seni. Syndrome ini mulai terkuak pada tahun 1979. Sindrom ini dicetuskan oleh Graziella Magherini.

Hingga pada tahun 2009, Sindrom ini kembali diteliti karena seorang pria mengalami paranoid setelah menghabiskan liburannya di Florens. Dilansir dari British Medical Journal Case Reports, kasus ini menjelaskan pasien sangat bersemangat untuk mengunjungi jembatan Ponte Veccio dan setelah itu, ia mengalami disorientasi dan "florid persecutory ideation" (ide persekutor yang jerau) (Nicholas, 2009).

Disorientasi adalah kondisi mental yang berubah di mana seseorang yang mengalami ini tidak mengetahui waktu atau tempat mereka berada saat itu, bahkan tidak mengenali identitas dirinya sendiri.

Sedangkan "florid persecutory ideation" adalah suatu kondisi delusional yang menyebabkan penderita nya percaya bahwa dirinya sedang dianiaya.

Tak hanya takjub terhadap seni, Stendhal Syndrome atau Sindrom Stendhal juga bisa terjadi terhadap sejarah, budaya dan agama (Datta, 2017).

Penelitian : 2

Menurut hasil dari catatan hitam milik Nona Luhan, dapat dijelaskan bahwa laki-laki tersebut menderita Sindrom Stendhal karena karya seni yang indah.

Semakin ia mengamati karya seni yang indah, maka semakin ia masuk kedalam khayalannya. Tidak bisa membedakan mana yang asli dan mana yang tidak asli. Bahkan, jika terus dibiarkan akan membahayakan dirinya.

Aku tertegun. Jadi, Oh Sehun menderita Stendhal Syndrome? Sindrom akan karya seni yang indah? Begitukah?

Penelitian : 3

Karya seni yang indah tidak hanya pada lukisan, tetapi pada tubuh manusia. Yang akan dipandang sama oleh penderita bahwa tubuh manusia yang ia puja akan seperti lukisan yang ia idam-idamkan.

Bahkan, penderita akan melukis tubuh manusia itu dan dijadikan koleksi pribadinya. Lebih parah, ia akan menggoreskan seluruh cat-cat pada tubuh manusia tersebut.

Aku menelan saliva ku dengan susah payah. Apa yang dijelaskan Soojung benar-benar sama apa yang ku rasakan sekarang.

Aku tidak bisa mengungkapkan seluruh keterkejutanku. Ini benar-benar sama! Benar-benar akurat!

"Sudah membacanya, Lu?"

Aku terperanjat kembali. Aku menatap Jongin yang menopang dagu sambil menatapku bingung. "Kenapa, Lu?"

"Ti-tidak apa-apa!" Aku mengibas-ibaskan tanganku di depannya. "Aku...hanya terkejut,"

Jongin mengangguk paham, "Begitu pun denganku, Lu. Aku benar-benar tak paham di dunia ini terdapat jenis manusia seperti itu. Itu menakutkan, Lu."

Aku menggigit bibirku gelisah. Jari-jemari laki-laki itu tiba-tiba memegang jari-jemari ku, "Teman mu yang mengalami hal seperti ini kenapa kau begitu khawatir, Lu?"

"...Entahlah, Jongin. Aku benar-benar merasa kasihan padanya."

"Karena harus mengalami hal seperti ini?"

"...Ya,"

Aku mendorong cukup kuat pintu Studio Sehun. Hari sangat panas dan aku merasakan seluruh tubuh ku dipenuhi keringat. Terdapat Tiffany beserta Chanyeol di depan meja Tiffany.

Tunggu, sejak kapan Chanyeol telah kembali? Bukankah Sehun berkata pergi bersama laki-laki itu?

"H-hai, Luhan. Selamat siang," Chanyeol menyapaku sambil tersenyum canggung.

Kenapa lagi dengan dirinya? Kenapa dia terbata-bata menyapaku?

"Selamat siang, Chanyeol. Apa Sehun ada?" Aku menguncir rambutku keatas secara acak. Menyebabkan masih banyak helai-helai rambutku yang masih berjatuhan melewati leher hingga pundakku.

"Dia di dalam, Luhan. Sedang beristirahat. Silahkan kalau ingin masuk kedalam," Tiffany tersenyum tipis padaku.

Dia benar-benar tidak suka berbasa-basi. Dan, lebih dewasa. Aku menyukainya.

"Terima kasih, Tiffany. Aku membelikan kalian cappucino." Aku meletakkan dua buah cappucino diatas meja milik perempuan itu. Berlalu masuk ke dalam ruangan yang selalu digunakan Sehun maupun Chanyeol untuk melakukan pekerjaan mereka.

Banyak lampu yang dimatikan, sehingga ruangan ini amat redup. Hampir tidak ada cahaya masuk. Aku bahkan tak yakin bisa menangkap dimana Sehun berada.

Sebenarnya ada apa ini?

"Sehun?"

"Kenapa kau kemari?" suara dingin Sehun membuatku terperanjat—merinding sekaligus. Sehun benar-benar membuatku takut.

Dimana Sehun?

"Sehun, kau dimana?"

"Di belakang mu," Ia tiba-tiba membekap mulutku secara paksa. Menghimpitku ke pintu hingga aku hampir tak bisa bernafas.

"S-Sehun!" Astaga, kenapa lagi dengan dirinya? Kenapa dia bisa semarah ini?!

Sehun tetap membekap mulutku. Sedangkan, tangan-tangan besarnya meraba tubuh ku dari pundak hingga pinggang berkali-kali.

Membuat diriku menggeliat tak nyaman. Astaga, apa yang ia lakukan sekarang?!

"Aku tak suka kau berulah, Luhan. Jadilah gadis yang penurut," Nada dominannya memasuki alat pendengaranku.

Jari-jari panjang Sehun beralih menuju rok pendek ku. Menyingkap rok berwarna hitam polos itu sehingga tertampak celana dalam tipis berenda hitam ku. Aku menggeliat kembali!

Astaga, aku mulai panik!

"Diam, gadis nakal." Nada dominannya!

Sehun tanpa memberitahu ku langsung melesakkan jari-jari panjang nya pada alat kemaluan ku.

"Ah—!" aku menjerit tertahan. Aku berusaha mengeluarkan jari-jari sialan Sehun dari dalam sana!

"Luhan, berhenti memberontak kalau kau tidak ingin mendapatkan hukuman tambahan," Suara Sehun benar-benar dingin. Tidak ada aura hangat di dalam nya.

Sehun... aku takut.

"Berhenti menggeliat, Luhan. Aku benar-benar harus menghukum mu." Geraman rendah nya terdengar sangat menakutkan bagiku.

Sehun menekan tombol lampu pelan. Bias-bias cahaya mulai masuk kedalam retina ku. Membuatku berkedip—membiasakan cahaya yang tiba-tiba datang.

"Angkat tangan mu keatas. Jangan pernah berbalik." Aku menunduk—menatap pintu di depan ku dengan nanar.

Aku takut.

"Sekarang, Luhan."

Aku mengangkat kedua tanganku keatas. Aku bisa merasakan Sehun mulai mengepang rambutku dengan pelan. Dan, ia mengikat kedua tanganku dengan tali berwarna merah menyala.

Apa yang salah dengan dirinya?!

"Berbalik,"

Aku memutar tubuhku perlahan. Terdapat Sehun dengan segala aura menyeramkannya. Ia mendekat, menggigit bibir bawah ku dan menariknya perlahan, "Kau benar-benar membuat kesabaran ku habis, Luhan."

"A-aku—"

"Sudah berapa kali aku mengingatkan mu, Luhan? Jangan pernah bertemu dengan Dokter-sialan-Kim itu. Tapi, kau bertemu dengannya siang ini? Sial, laki-laki keparat itu bahkan menyentuh mu. Dan, kau sepertinya tidak keberatan. Kau menyukainya, Luhan?"

Jadi...Ini karena Jongin?

Sehun mengeluarkan dua buah bola kecil yang amat mengkilap. Dilengkapi tali tebal berwarna hitam yang menggabungkan keduanya. Apa itu dari besi?

"Buka mulutmu dan kulum,"

Aku membuka mulutku—mengulum salah satu dari dua bola itu dan merasakan betapa dinginnya benda itu.

"Keluarkan,"

Aku mengeluarkan benda itu. Hingga salivaku terbentang hingga daguku. Aku menatap bingung pada laki-laki depanku kini.

Apa yang akan Sehun lakukan?

"Menungging,"

Aku terbelalak! "Jangan pernah memasukkan benda seperti itu ke dalam pantatku!"

"Tidak di pantat mu, babe. Cepat,"

Aku berbalik kembali dan menungging. Kedua tanganku bertumpu pada pintu. Aku menarik-narik kedua tanganku yang terikat.

Astaga, ini begitu menyiksa!

"Ah—!" Aku menjerit terkejut. Merasakan bagian bawah ku penuh dengan bola itu. Aku menggeliat tak nyaman, benda ini amat dingin.

"Berdiri tegap," Ia kembali memerintah. Untuk kesekian kalinya.

"Ouch!" Aku memekik tertahan. Semakin aku berdiri tegap, benda sialan ini semakin masuk ke dalam tubuh ku.

Astaga, sensasi yang gila!

"Bagaimana rasanya?" Sehun memeluk perutku dari belakang, meremas pakaian ku dengan lembut.

"Hm..." Aku mengulum bibirku gelisah, "Aneh...tapi enak,"

Sehun menarik tali celana dalam tipis ku keatas—membuatku memekik semakin keras, "Ah! Sehun!"

"Inilah sensasinya, Nona. Semakin aku menarik celana dalam mu, semakin dalam benda ini memenuhi mu."

Rona-rona merah mulai memenuhi kedua pipiku. Astaga, perkataan laki-laki ini! Sialan!

"Kau akan memakai benda ini seharian. Jangan sampai kau mengeluarkannya. Atau, hukuman mu bertambah. Kau mengerti, Nona?"

Aku terpaksa mengangguk.

Dan, aku benar-benar menyesalinya.

"Se-Sehun...berhenti memegang pahaku!" Aku mengerang pelan. Tangan Sehun benar-benar sialan. Fokusku pada tugas di depan ku benar-benar terpecah karena laki-laki ini.

"Kau memakai rok pendek hari ini, Luhan. Aku menyukainya. Benar-benar cantik," ia meraba pahaku hingga memasukkan telapak tangannya menuju celana dalam tipisku yang sedaritadi amat basah. Bola-bola sialan itu benar-benar membuatku terangsang.

"Umm..." Sial, ini nikmat.

Aku menoleh gelisah ke kanan-ke kiri, memastikan bahwa manusia-manusia di dalam perpustakaan ini tidak memperhatikan diriku dan Sehun.

Persetan dengan Sehun yang masih mengedepankan pikiran kotornya di dalam perpustakaan kota seperti ini!

Hari ini amat lenggang. Tidak banyak manusia yang mengunjungi perpustakaan besar ini. Aku hanya bisa melihat beberapa gerombolan mahasiswa-mahasiswi seperti aku yang berkutat serius dengan tugas-tugas menumpuk mereka.

Sangat pandai Sehun memilih tempat duduk di pojok. Ia benar-benar menggodaku tak tersisa!

"Basah sekali, Luhan. Kau benar-benar membuatku tergoda," Sehun merapatkan tubuh nya padaku. Ia tetap mengelus celana dalam ku hingga aku merapatkan kakiku sambil menggeliat tak nyaman.

"Ugh..."

Ia membenamkan wajah nya pada perpotongan leher jenjang ku. Menghirup aroma tubuh ku yang telah bercampur keringat, "Aroma mu masih sama. Wangi, tetap membuatku candu."

"Hmm... Sehun,"

Aku menggigit bibir bawahku kuat. Kata-kata menjijikkan ini berusaha keluar dari mulutku. Aku meremas bulpoin ku dan berpegangan pada ujung meja. Astaga, laki-laki sialan ini.

"Keluarkan saja, Luhan. Tidak akan ada yang mendengar. Mahasiswa-mahasiswa itu tidak akan mendengarkan mu, Luhan. Kalau pun mendengar, mereka akan bergabung."

Aku terbelalak! "Sehun, kau gila?!" Aku memekik tertahan. Menatap nyalang pada Sehun yang menampilkan senyum miring licik nya itu.

"Sebelum mereka bergabung, mereka akan kubunuh, Luhan." Dia mengecup rahang beserta ujung bibirku yang sedikit terbuka—akibat menghirup udara yang begitu menyesakkan dada.

"Sehun, aku sedang mengerjakan tugas." Aku memberikan peringatan padanya.

Sehun tersenyum, "Aku tahu, babe. Kerjakan saja. Aku tidak mengganggu."

"Aku tidak bisa fokus! Kau—"

"Luhan?" Perkataan ku terpotong. Aku dan Sehun menoleh secara bersamaan.

Ah, dia Wong Yukhei, mahasiswa Sastra Inggris yang kebetulan berasal dari China. Aku dan laki-laki ini bertemu pada saat orientasi mahasiswa.

Yap, ia sering disapa dengan nama Lucas.

"Lucas?" Aku tersenyum tipis, "Sedang apa kau disini?"

Ia memamerkan beberapa buku tebal yang telah ia dapat, "Mencari referensi baru, Luhan. Kau tahu, ujian kali ini benar-benar harus menghafal beberapa kosakata baru dan itu adalah British. Kau tahu kan kalau aku masih payah dalam urusan British accent?"

Aku mengangguk, "Ya, bagaimana harimu?"

"Amat baik. Apalagi kalau bertemu gadis cantik sepertimu di siang hari ku yang amat cerah ini."

Lucas, kau membuatku dalam bahaya.

Aku bisa merasakan Sehun mulai menggeram rendah. Salah satu tangannya ia sembunyikan pada belakang tubuh ku, sedangkan tangan yang lain tiba-tiba memukul depan kemaluanku yang makin basah dengan sengaja.

"Akh! Sehun!" Aku memekik heboh padanya. Menatap matanya yang menatap datar padaku.

Lucas menarik kursi dan mendudukkan dirinya agak jauh dari tempat ku dan Sehun. Sepertinya dia mengerti tatapan tajam Sehun padanya, "Jadi, siapa ini, Luhan?"

Aku menoleh kembali pada Lucas, "Dia kekasihku, Lucas."

Lucas mengangguk perlahan, "Ah, ternyata kekasih. Aku mengira dia adalah gege-mu. Ternyata aku salah, maafkan aku."

"Tidak apa-apa, Lucas. Maafkan aku, dia sedikit marah hari ini."

"Tidak apa, Luhan. It's okay. I'm fine." Lucas tersenyum lebar padaku.

Kenapa pula laki-laki ini harus tersenyum seperti itu padaku?!

"Luhan, aku ingin pulang." Sehun dengan sengaja memeluk pinggang ku. Meletakkan dagu runcing nya pada pundakku. Menggoyangkan rambut nya pada leherku hingga membuatku menggeliat akibat kegelian.

"Sedikit lagi, Sehun. Tetap pada posisimu," Aku mengelus lembut pipi tirusnya. Bukannya melepaskanku, laki-laki ini semakin membenamkan wajah nya pada leherku.

Astaga, laki-laki manja ini.

Tangannya kembali meraba paha hingga ke paha dalam ku. Mengelus perlahan hingga menuju kemaluanku yang berkedut pelan. Ia memasukkan jemari nya ke dalam celana dalam ku dan menekan bola-bola sialan itu semakin masuk ke dalam.

"Ohh!" Aku terbelalak. Melirik pada Lucas yang tetap fokus pada pekerjaannya. Earphone bahkan telah tertanam apik ke dalam kedua telinga nya.

Lega rasanya.

Sehun menarik-narik pelan bulu-bulu tipis kemaluanku dan memasukkan jari telunjuk nya dengan paksa.

"Ahhh..." Astaga, mulut sialan ini!

Bagian bawahku sekarang berkedut parah. Sehun dengan segala kelakuan biadab nya malah menggerakan jarinya itu pada bagian dalam tubuh ku.

"Ugh... Ahh," Persetan dengan tugas-tugas ini! Aku benar-benar panas!

Aku mengadahkan kepalaku keatas. Sensasi gila serta nikmat ini membuatku tak bisa berpikir jernih. Aku mencengkram lengan Sehun dengan kuat.

Sehun menarik bola-bola besi ini keluar secara perlahan. Dan memasukkannya kembali dengan paksa.

"Ouhh!" Aku mendesah keras. Membuat beberapa pasang mata menoleh kepadaku serta Sehun.

"Maafkan kami, dia sedang tidak enak badan. Aku memijitnya pelan," Sehun tersenyum tipis—membuat mahasiswa-mahasiswa itu mengangguk dan kembali fokus pada tugas-tugas mereka.

"Jangan berisik, Luhan. Hanya aku yang dapat mendengarkan desahan seksi mu itu." Sehun meniup daun telingaku dengan lembut.

Aku semakin ingin dipuaskan! Persetan Sehun dengan seluruh perbuatan laknatnya terhadapku! Aku menginginkan Sehun!

"Lepaskan celana dalam mu, Luhan."

Aku menoleh terkejut padanya, "Sekarang?"

"...Ya, Luhan. Cepat,"

Aku mengulum bibirku. Sedikit membungkukkan tubuhku untuk menarik celana dalam ku ke bawah. Menggenggam celana dalam ku sendiri dan Sehun langsung memasukkannya ke dalam saku celana nya.

"Gadis pintar. Aku akan memberikan hadiah padamu." Oh Sehun tersenyum tampan. Sudah berapa banyak aku dibuat meleleh akibat senyumannya itu?

Sehun dengan cepat memasukkan seluruh tugasku pada ransel. Ia menggantungkan ransel kecilku pada bahu lebarnya.

Laki-laki ini menyelimuti tubuh kecilku dengan jacket oversize nya, ah—jacket denim dengan gambar squidward di belakang nya. Mengingatkan ku akan dirinya yang begitu menawan hari itu saat berada di dalam bis.

"Berdiri dengan pelan, Luhan. Aku tahu sangat tidak nyaman karena ada yang mengganggu di bawah sana," Sehun berbisik dan menjilat telingaku lembut.

"Hm..." Aku hanya bisa mengerang pelan saat mulai berdiri. Sehun dengan sabar menuntunku—memberikan lengannya untuk ku jadikan pegangan.

Sehun mengetuk pelan meja depan Lucas, menyebabkan laki-laki itu melepaskan earphone nya dan mendongak kearah ku, "Luhan? Sudah ingin pulang? Astaga, wajah mu merah sekali, Luhan. Kau tak apa?"

Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum semanis mungkin, "...Ya, aku baik. Aku duluan, ya? Sampai jumpa."

"Eum! Sampai jumpa, Nona cantik."

Lucas sialan. Kenapa dia harus memanggil ku seperti itu saat ada Sehun?!

"...Sepertinya teman mu benar-benar ingin ku habisi, Luhan."

"Ahh... Sehun!" Sensasi nikmat namun menyiksa ini—aku menyukainya, sangat!

Sehun benar-benar memberikan 'hadiah' untukku. Sebuah perlakuan menyenangkan darinya untukku.

Aku mengadahkan kepalaku keatas, melihat langit-langit ruang kerja milik Sehun sambil melenguh keras. Aku hanya bisa mencengkram ujung sofa sambil terus memohon padanya.

Untuk dipuaskan, tentu saja.

Laki-laki ini benar-benar bisa membuatku berada di atas langit. Lidah nya memasuki bagian bawah ku dengan lihai dan memuaskan.

Seluruh tubuh Sehun sepertinya bisa membuatku puas akan hasrat yang menyiksa.

Ia meremas pantatku sambil terus memasukkan lidah nya. "Ohh! Ohh! Sehun!"

Mataku menggelap. Tergantikan oleh nafsu yang benar-benar berada di puncak. Rambutnya ku tarik dengan seluruh tenaga yang ku punya.

Kaki ku lemas. Bahkan, dengan posisi kaki membuka lebar seperti ini aku bisa merasakan bahwa kaki ku sebenarnya bergetar.

Aku benar-benar tak bisa berpikir jernih. Seluruh pikiranku sudah terkuras habis, tergantikan oleh Oh Sehun, Oh Sehun, dan Oh Sehun.

"Ahh! Sehun! Aku ingin pipis!" Aku tak pernah merasakan sensasi se-dahsyat ini sebelum nya.

Aku bisa mendengar suara kekehan Sehun dari bawah sana, "Itu bukan pipis, sayang. Keluarkan saja,"

"T-tapi..."

"Keluarkan, sayang. Untukku," Sehun semakin semangat mencerca kemaluanku yang berkedut parah.

Membuatku tidak tahan untuk mengeluarkan semuanya. Melemas sambil menghirup nafas sebanyak-banyaknya.

"Manis. Aku menyukainya," laki-laki ini benar-benar tidak bisa dinalar oleh pemikiranku sendiri. Ia bahkan menjilat kemaluanku tanpa sisa cairan sedikitpun.

Aku menatapnya dengan pandangan mengabur. Apakah itu pelepasanku?

Sehun dengan perlahan menindihku—aku semakin memojokkan tubuhku pada sofa.

Ia menjilat ujung bibirku. Menggigit serta menarik bibir bawah ku dengan gigi-gigi nya, "Ingin lebih dari ini, sayang?"

Hello, peeps!

Jangan marah, shay. Kalian tinggal ber-khayal sendiri bagaimana lanjutannya, ckck.

I'm back again, lol. Who's miss me? Raise your hand, saggy! (?)

Terimakasih kalau ada dari kalian, yang masih menunggu kelanjutan dari ff ini. Xixi, thank you so much, guys. Ur my boss. Tanpa kalian, aku gak bakal ada selama ini nangkring di platform ini.

And, yap. Stay safe untuk kalian semua. Maupun yang bekerja, kuliah, sekolah, dll. work from home, kuliah online, tugas online, sekolah online, les online. Stay safe for you all. U must be carefull. Bumi sedang memperbaiki dirinya sendiri.

#DirumahAja bakalan aku temani dengan ff-ff ku. Yang akan aku kerjakan semampuku. Kalau saja, otak ku mau bekerja sama, okay? I'm so sorry.

Dan, yap. Aku akan up mungkin satu ff di wattpad / ff ini akan aku move ke wattpad. Tetapi, ini tetap jalan. Kalian tidak usah khawatir.

Semoga kalian masih betah untuk membaca ceritaku, guys.

Oke, bisakah kalian memberikan review, favs, follow semacam nya? Biar aku senang kalau karya ku ada yang menantikan. Gomapta!

Sidoarjo, March 27th, 2019.