[Antagonist]

NCT belongs to themselves

"Antagonist" belongs to Lexa Alexander

Inspired by: Caste Heaven by Chise Ogawa

Main Pair: TaeTen

Other Pair: JaeDo, JohnIl


Ten masih bergelung dengan selimut hangatnya. Dia merasa puas setelah berhasil mengerjai Serim. Memangnya enak, menunggu berjam-jam namun akhirnya janji dibatalkan?

Ini sudah menjelang siang namun Ten sama sekali tidak ada niatan untuk beraktivitas. Tidak ada janji dengan siapa pun, dan dia bosan menonton film. Akhirnya laki-laki manis itu hanya bergelung dengan selimutnya, tidak beranjak dari kasur empuknya dan memilih untuk bermain game di ponselnya.

Sebenarnya Ten lapar, ingin makan camilan sebelum makan siang namun terlalu malas hanya untuk bergerak ke dapur. Di kulkas masih ada sepotong tiramisu, sebuah roti dengan topping sosis, dan satu roti matcha. Ada beberapa bahan untuk memasak makanan untuk siang nanti, dan pilihan menu makan siang Ten jatuh pada nasi goreng dengan tambahan sosis dan potongan daging dan telur.

Ten makin lapar.

Akhirnya laki-laki itu mengalah dan beranjak dari tempat tidurnya. Telapak kakinya menyentuh permukaan lantai yang sedikit dingin, kemudian dengan malas melangkahkan kakinya menuju dapur. Dia membuka kulkas dan mengeluarkan tiramisu.

Saat itulah bel apartemennya berdering.

Siapa?

Ten rasa dia tidak ada janji dengan siapa pun, dan ibunya juga tidak mengabari dirinya tentang rencana menjenguknya –lalu siapa?

Sepotong tiramisu diletakkan di atas meja bersama dengan sebuah sendok, kemudian laki-laki berambut hitam itu melangkah menuju pintu dan tanpa basa-basi langsung membukanya, mendapati sosok laki-laki yang menyerupai tokoh anime berdiri disana dengan tangannya yang membawa kantung belanjaan berisi bahan makanan dan beberapa camilan. "Halo," sapanya riang, diikuti cengiran lebar.

"Taeyong-ie hyung?" Ten memasang wajah bingung, kenapa anak ini tiba-tiba berada di depan apartemennya, dengan membawa bahan makanan?

"Boleh aku masuk?" Taeyong bertanya, membuat Ten buru-buru menggeser tubuhnya, memberi jalan pada Taeyong. Ten menutup pintunya setelah Taeyong masuk.

Taeyong langsung menuju dapur dan membereskan barang belanjaannya. Bahan makanan dan camilan dia susun di kulkas dengan rapi, membuat Ten menatapnya dengan wajah penuh tanda tanya.

"Apa maksudmu?" Ten duduk di meja, masa bodoh dengan tata krama. Tangannya terlipat di depan dada, menatap Taeyong meminta penjelasan kenapa laki-laki itu tiba-tiba berada di depan apartemennya tanpa diundang.

Sebelum pintu kulkas ditutup, dengan wajah tanpa dosa Taeyong mengambil roti sosis milik Ten dan membawanya untuk dihangatkan di microwave. Taeyong menatap Ten yang baru saja bertanya padanya. "Apa? Aku hanya ingin main ke tempatmu."

"Sampai membawakanku bahan makanan dan camilan? Aku bisa beli sendiri." Ten mengambil tiramisunya yang tergeletak di atas meja, memakannya. Rasa pahit dan manis langsung memenuhi indra pengecapnya. Enak.

Taeyong mengeluarkan roti yang sudah dihangatkan dari microwave, sembari menjawab pertanyaan Ten, "Ah, aku tidak sebodoh itu untuk mengabaikan sahabat tersayangku ini kehabisan bahan makanan sampai tidak tahu harus memasak apa dengan bahan makanan yang tersisa."

Tatapan tajam dilayangkan untuk Taeyong, namun laki-laki itu masa bodoh dengan tatapan tajam Ten. Taeyong masih melanjutkan ocehannya, "Maaf, ya, aku tidak akan lupa saat kau benar-benar lupa mengisi ulang kulkasmu sampai yang tersisa di kulkas hanyalah sebuah kentang dan wortel. Kau sampai menelponku malam-malam, bertanya padaku apa yang bisa dibuat dengan satu buah kentang dan wortel. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi untuk yang kesekian kali."

Diam-diam Ten tersenyum. Taeyong memang terlihat seperti orang yang cuek, angkuh, kejam, dan bermulut tajam. Namun sebenarnya dia tidak seperti itu. Ten bahkan masih ingat saat dirinya kelaparan sekitar pukul sebelas malam, namun bahan makanan yang tersisa hanya sebuah kentang dan wortel. Dia menelpon Taeyong, bertanya apa yang bisa dimasak dengan sebuah kentang dan wortel, namun laki-laki itu langsung memutus panggilannya. Tidak lama kemudian Taeyong datang ke apartemennya dengan dua buah kantung belanjaan dan memasakkan makanan untuknya –tidak ketinggalan ceramah panjang dari Taeyong, tentang jangan lupa membeli bahan makanan sebelum persediaanmu habis dan lain sebagainya. Ten tahu Taeyong benar-benar mengkhawatirkannya.

"Hyung, persediaanku masih cukup untuk membuat nasi goreng nanti siang, bahkan untuk makan malam nanti." Ten membela diri, tidak bohong tentang sisa persediaannya yang masih cukup untuk memasak makan siang dan makan malam.

"Sebutir telur, sebungkus daging, dua buah sosis, dan selembar daun bawang?"

Ten mengangguk, menuai decakan dari Taeyong. "Untunglah aku datang di saat yang tepat," kata Taeyong.

Ten memutar bola matanya, jengah.

"Oh, ya. Kau mau apa untuk makan siang?" tanya Taeyong sembari berjalan menuju meja makan dan duduk di salah satu kursinya. Roti sosisnya sudah habis, sedangkan tiramisu yang dimakan Ten masih tersisa seperempat.

Yang ditanya malah angkat bahu, tidak terpikirkan apapun. Padahal rencananya akan masak nasi goreng untuk makan siang, namun karena persediaannya sudah diisi ulang oleh Taeyong, dia jadi tidak tahu ingin masak apa. Ten berpikir sejenak sebelum menjawab, "Daging?"

"Daging?" Taeyong mengulang. Jawaban Ten barusan terdengar meragukan –karena Ten pun menjawabnya dengan ragu.

Ten langsung mengangguk. "Aku sedang ingin makan daging."

Taeyong terdiam sejenak, memikirkan apa menu yang bisa dia buat dengan daging. Karena tadi dia membeli daging ayam dan daging sapi, mungkin pilihan menunya sedikit lebih banyak.

Pilihan menu makan siang jatuh pada daging ayam yang diisi dengan bayam. Taeyong pernah membuatnya beberapa kali di rumah. Cara membuatnya juga tidak terlalu rumit, dan bahan-bahannya pun sederhana.

"Baiklah. Menu makan siang hari ini adalah daging ayam. Kurasa kau tidak akan menolak stuffed spinach chicken." []