"Sona, ayah mohon kuatkan lah hatimu, tapi ibu.. ibu mu sudah pergi meninggalkan kita"

Ayah.. Kenapa hatiku seperti tersambar petir, seperti ada jutaan meteor sedang menghujam jantungku. Aku benci percakapan ini, tidak bisakah ayah hanya mengatakan kau rindu padaku, kau ingin mendengar kabar ku, kau ingin bertemu dan memeluk ku, kenapa ayah? kenapa? kenapa satu tahun kita tak bertemu ayah bicara seperti ini padaku?. Kenapa? Kenapa harus aku??

Aku tak sanggup untuk berbicara pada ayah, aku segera menutup telpon ini. Aku menangis sejadi jadinya di bus perjalanan pulang.

Ibu, apa kau membenci ku? Kenapa pergi secepat itu? Tidak kah kau ingin datang saat aku wisuda nanti? Hatiku hancur bu, aku sangat kacau saat ini.

Aku menelpon hye mi dan tae eun, mereka segera menemui ku dan memeluk ku. Aku tak tau harus bagaimana saat ini, aku tak bisa pulang ke indonesia karna suatu hal.

Aku menangis sepanjang hari, nafasku terasa sesak.

Hye Mi mengajak ku untuk tinggal di rumah nya. Tae Eun harus segera kembali kerumah sakit untuk menjaga ayah nya.

Aku baru bisa tertidur tengah malam, setelah hye mi membuat kan ku teh lemon yang hangat.

Keesokan hari nya, Tae Eun menyuruhku untuk tidak bekerja dulu saat ini, dia akan meminta teman nya untuk menggantikan ku. Tapi jika aku hanya berdiam diri dan merenung, maka aku akan semakin sedih dan menyusahkan banyak orang. Jadi kuputuskan aku akan tetap beraktivitas agar tak berlarut-larut.

Mataku sangat sembab pagi ini, dan mood ku pun sedang tidak bagus.

"Sona, kau baik-baik saja? Jika kau sakit kau tak perlu bekerja dulu hari ini" Tanya ibu Shin sang pemilik restoran kepada ku.

"Aku baik-baik saja, aku akan mengantarkan ayam ini ke alamat nya"

Aku hanya melamun sepanjang jalan sambil mengendarai motor, sesekali aku kehilangan momen lampu hijau dijalan, dan di klason kendaraan berkali-kali.

Akhirnya aku sampai di rumah si pemesan ayam.

"Ini 10 box ayam mu" Ucapku dengan lemas.

"Tidak ramah sekali si pengantar ayam ini" Jawab lelaki itu.

Aku mengangkat kepala ku, dan ternyata itu adalah Kyungsoo. Aku melihat sekeliling. Ahh aku terlalu banyak melamun sampai tidak sadar jika aku sedang berada dirumah nya.

"Kenapa? Mata mu sembab, kau habis putus dengan pacar mu?" Tanya nya dengan nada meledek.

Aku tak menghiraukan ucapan nya.

"Total nya 40.000 won"

"Ambilah kembalian nya, gunakan untuk menghibur dirimu yang baru putus cinta"

Lagi-lagi aku tak menghiraukan ucapan nya, aku merasa sangat lelah hari ini.

Setelah mengantar ayam kerumah Kyungsoo aku meminta izin untuk pulang pada ibu Shin.

Aku menelpon Hye Mi untuk mengajak nya keluar, tapi Hye Mi sedang latihan vocal dan alat musik hari ini. Jadi aku memutuskan untuk menelpon senior Gang Min.

"Halo senior, bagaimana kabarmu? Ah aku belum sempat ngobrol dengan mu kemarin, bisa bertemu hari ini?"

"Hari ini? Baiklah jam 19.00, kita bertemu di persimpangan dekat cafe yang biasa kita datangi"

"oh, baiklah sampai bertemu"

Aku menutup telpon nya dan pergi menyiapkan barang yang akan kuberikan pada senior gang min. Aku fikir aku hanya akan memberi nya parfum dan seikat bunga yang cantik.

Waktu sudah menunjukkan pukul 18.56, aku sudah sampai di lokasi tempat kami berjanji untuk bertemu.

Sekarang pukul 19.45 belum ada tanda-tanda kedatangan senior Gang Min.

"Ah mungkin dia sedang ada keperluan lain, aku akan menunggunya"

Tiba-tiba salju pertama turun malam ini.

"Wah apa ini? Salju pertama, indah sekali, Ibu apakah kau yang mendatangkan salju ini? Apakah ini sebagai ucapan perpisahan dari mu?"

Tanpa terasa air mata ku perlahan menetes dan tak sanggup ku bendung. Aku menangis lagi dibawah salju pertama ini, aku sedih dan aku kedinginan, aku seperti akan mati karna sedih dan membeku malam ini.

"Hey, pakai jaket mu, diluar sangat dingin"

Suara seorang lelaki mendekati ku, itu suara yang kukenal (lagi).