[Antagonist]

NCT belongs to themselves

"Antagonist" belongs to Lexa Alexander

Inspired by: Caste Heaven by Chise Ogawa

Main Pair: TaeTen

Other Pair: JaeDo, JohnIl


Taeyong menghabiskan hari Minggu di apartemen Ten. Walaupun Tuan Muda itu sudah memberinya kebebasan untuk satu hari ini –sebenarnya, sering, hanya saja Jaehyun lebih sering menolak tawaran libur dari Taeyong. Namun kali ini entah kenapa Jaehyun menerima tawaran –paksaan– libur dari Taeyong dengan suka rela –mungkin karena, Doyoung?

Mendekati waktu makan siang, Jaehyun bisa menebak kalau saat ini Taeyong sedang memasak sesuatu untuk Ten. Mungkin juga ditambah dengan obrolan ringan atau rencana untuk mengusili Joker lagi. Sementara itu dirinya sedang menunggu pesannya datang, dengan Doyoung yang duduk di seberangnya, sedang memainkan ponsel.

"Porsi makanmu tidak berkurang, ya." Doyoung buka suara, setelah selesai dengan urusannya di ponsel dan menyimpan benda pipih itu ke dalam saku.

"Kenapa memangnya?" Jaehyun bertanya.

"Heran saja, porsi makanmu sangat besar namun tubuhmu tidak kelihatan kelebihan lemak sama sekali."

Jaehyun tertawa, kemudian hening untuk sesaat.

Keduanya sama-sama bukan orang yang banyak bicara –kata orang-orang. Namun Jaehyun rasa tidak begitu. Mereka mengobrol layaknya orang-orang pada umumnya, contohnya seperti saat ini.

"Kau dekat sekali, ya, dengan Taeyong," celetuk Doyoung, membuat Jaehyun menatapnya dengan pandangan bertanya. Oh, tentu saja Jaehyun dekat dengan Taeyong –dia kan pelayan pribadi Taeyong, mau bagaimana lagi?

Mengerti dengan arti tatapan Jaehyun, Doyoung berkata, "Orang-orang beranggapan kalau hubunganmu dan Taeyong lebih dari sekadar itu. Bahkan ada yang beranggapan kalau kau menyukai Taeyong dalam konteks romantis."

Jaehyun tidak bodoh untuk mengerti ucapan Doyoung, karena itulah wajah Jaehyun berubah masam. "Kalaupun aku bukan pelayan Tuan Muda, aku tetap tidak akan menyukainya."

Doyoung membulatkan matanya, "Loh, kenapa? Tidak sedikit orang yang menginginkan Taeyong untuk menjadi kekasih, kau tahu?"

Yang ditanya malah mengalihkan tatapannya ke arah lain. Pandangannya menerawang jauh, seakan sedang mengingat sesuatu. Beberapa saat kemudian Jaehyun menghela nafas dan menjawab, "Pertama, aku terlanjur menganggap Tuan Muda sebagai saudaraku –abaikan kalau aku masih memanggilnya 'Tuan Muda', karena itu sudah menjadi kebiasaan," ucapan Jaehyun terhenti, menggantung. Laki-laki berambut fawn itu memikirkan sesuatu, kemudian melanjutkan, "Kedua, aku tidak bisa menyukai seseorang semudah aku membalikkan telapak tanganku. Tuan Muda itu rumit, lagi pula, aku sudah memiliki orang yang kusuka."

Kalimat terakhir Jaehyun menarik perhatian Doyoung, "Siapa orang yang kau suka?"

Ah, kelepasan. "Abaikan saja, tolong," kata Jaehyun, memasang senyum canggung.

Doyoung ingin protes, namun tertunda karena pelayan yang membawakan makan siang pesanan mereka. Setelah pelayan itu pergi, barulah Doyoung bicara, mengomentari jawaban Jaehyun, "Perlakuanmu ke Taeyong juga membuat orang-orang salah paham, omong-omong."

"Salah paham bagaimana?" Jaehyun mulai menyuapkan makanan ke mulutnya, sembari menyimak ucapan Doyoung.

"Ya, salah paham," kalimat Doyoung menggantung, "terkadang kau bilang kau ingin melindunginya, atau bersedia melakukan apapun untuk Taeyong. Lagi pula, kalian tinggal di rumah yang sama. Tidak menutup kemungkinan kalau salah satu di antara kalian memiliki perasaan lebih, kan?"

Jaehyun memutar bola matanya, jengah. Ini yang kesekian kali dia mendengar ucapan yang sama, dari orang yang berbeda. "Tentang melindungi Tuan Muda, aku murni karena aku peduli padanya. Tidak banyak orang yang tahu bagaimana Tuan Muda yang sebenarnya, jadi pastilah mereka salah paham. Lalu tentang aku yang bersedia melakukan apapun untuk Tuan Muda, itu karena aku berutang budi pada Tuan Muda, Tuan Besar, dan Nyonya."

Hening, Doyoung mencerna jawaban Jaehyun. Tidak lama kemudian laki-laki itu tersenyum, "Hubunganmu dan Taeyong sepertinya rumit, ya?"

Jaehyun terkekeh pelan, "Daripada hubunganku dan Tuan Muda, sepertinya yang rumit adalah Tuan Muda sendiri."

"Taeyong?"

Jaehyun mengangguk, kembali menyuap sesendok nasi dan potongan daging.

"Aku tahu kalau Taeyong memiliki cerita yang rumit, tapi terkadang aku masih tidak paham." Doyoung memainkan sendoknya seolah sedang berpikir tentang sesuatu. Beberapa saat kemudian Doyoung mengangkat kepalanya, "Oh, Jae. Aku sudah lama terpikirkan ini. Apa alasanmu dan Taeyong mem-bully Park Serim? Kurasa kalian hampir tidak pernah terlibat sesuatu dengannya."

Yang ditanya menghentikan acara makannya untuk sejenak, berpikir, kemudian menjawab, "Aku dan Tuan Muda terlibat secara tidak langsung."

"'Secara tidak langsung'?"

Jaehyun mengangguk. "Dengan orang yang berbeda, tentu saja."

Doyoung masih memasang wajah kebingungan –tidak paham karena Jaehyun seolah menjelaskannya secara setengah-setengah. Melihat wajah kebingungan Doyoung membuat Jaehyun terkekeh pelan.

"Oh, ya. Aku teringat sesuatu."

Jaehyun menunjukkan wajah yang seolah bertanya ada apa?

"Menurutmu, apa tidak masalah mem-bully Joker bahkan di hari libur seperti ini? Kurasa ini sudah melanggar aturan."

Jaehyun terdiam, memikirkan sesuatu. Wajah santainya tadi menghilang entah kemana, berganti dengan wajah dingin. "Kurasa, ini setimpal."

Jawaban Jaehyun membuat Doyoung memasang wajah penuh tanda tanya. Apa maksudnya? Setimpal?

Namun Jaehyun seolah tidak melihat wajah bertanya sahabatnya. Wajah laki-laki itu berubah gelap, dan Doyoung bisa melihat sedikit kerutan di dahinya. Jaehyun terlihat sedang teringat sesuatu yang memuatnya marah.

Doyoung tidak tahu.

Memangnya, apa yang pernah terjadi di antara Jaehyun dan Park Serim? []


.

Hayoloh, Jahe sama Serim punya masalah apa~

wkwkwkwkwkw~