[Antagonist]
NCT belongs to themselves
"Antagonist" belongs to Lexa Alexander
Inspired by: Caste Heaven by Chise Ogawa
Main Pair: TaeTen
Other Pair: JaeDo, JohnIl
Malam itu, sekitar pukul tujuh, Taeyong mengirim pesan pada Jaehyun, setelah acaramu selesai, tolong bawakan keperluanku untuk besok ke apartemen Ten.
Taeyong kira Jaehyun akan datang sekitar pukul sembilan atau sepuluh, namun tidak ada satu jam, bel apartemen Ten berbunyi, dan Jaehyun berdiri di depan sana, membawa satu stel kostum King beserta atributnya dan tas berisi perlengkapan sekolah Taeyong.
"Acaramu dan Doyoung sudah selesai?" tanya Taeyong sembari menerima kostum dan tasnya. Jaehyun mengangguk mengiyakan, "Karena besok sekolah, jadi sekitar pukul lima aku sudah mengantarnya pulang," begitu jawaban Jaehyun. Taeyong hanya mengangguk saja. "Kalau begitu, Tuan Muda, saya permisi." Jaehyun membungkuk sebelum akhirnya membalikkan badannya dan melangkah pergi dari sana.
"Jaehyun."
Merasa namanya dipanggil, Jaehyun menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Taeyong.
"Besok kau langsung berangkat sekolah saja. Aku berangkat bersama Ten. Aku masih pinjam motormu."
Jaehyun mengangguk, hampir saja membungkukkan badannya lagi saat Taeyong berkata, "Tidak usah formal."
Belum sempat Jaehyun pamit, pintu apartemen Ten tertutup, meninggalkan Jaehyun yang berdiri dengan wajah blank di lorong apartemen.
Taeyong membawa seragam dan tasnya ke kamar Ten, menggantungkan seragam itu di lemari dan meletakkan tasnya di sebelah tas Ten yang tergeletak di sebelah meja belajar. Lalu Taeyong kembali ke dapur, dimana Ten sedang duduk santai di kursi sembari menunggu Taeyong. Makan malam sudah tersaji di meja, dan uapnya mengepul –masih hangat. Begitu Taeyong kembali, keduanya memulai makan malam.
"Hyung." Ten memanggil, dibalas dengan gumaman karena yang dipanggil masih mengunyah makan malamnya. "Terpikirkan sesuatu lagi untuk Joker?"
Taeyong menggeleng, kemudian berkata, "Sebenarnya banyak, tapi aku bingung memilih yang mana–" ucapannya terhenti di tengah-tengah, kemudian hening. Ten menatapnya dengan wajah bingung sekaligus penasaran.
Terbesit sebuah ide di kepala Taeyong yang membuat laki-laki berambut silver-putih itu mengulas senyum iblis.
"Ah, aku benar-benar jenius."
Ucapan Taeyong yang tiba-tiba makin membuat Ten penasaran, dan kebingungan. Kalimat Taeyong berhenti begitu saja, lalu hening, dan tiba-tiba laki-laki itu tersenyum lebar dan berkata bahwa dirinya benar-benar jenius.
"Apa? Kau memikirkan apa?" Ten bertanya, benar-benar penasaran. Kalau Taeyong memiliki ide yang bagus, dia juga harus tahu.
Mendengar pertanyaan Ten, Taeyong meletakkan sendok dan garpunya, menautkan kedua tangannya dan meletakkan dagunya disana. Menatap Ten dengan mata yang berkilat jahat. Seringai iblisnya masih bertahan disana, membuat Ten makin penasaran –ide apa yang Taeyong miliki kali ini?
"Dengar, Ten, besok kita akan menemui Johnny." []
