[Antagonist]
NCT belongs to themselves
"Antagonist" belongs to Lexa Alexander
Inspired by: Caste Heaven by Chise Ogawa
Main Pair: TaeTen
Other Pair: JaeDo, JohnIl
Seo Youngho atau Johnny Seo, sahabat karib Taeyong, adalah King of Clover. Laki-laki jangkung berambut cokelat yang berwajah dingin namun sifat aslinya benar-benar berkebalikan dengan sifatnya. Mempunyai hobi bertengkar dengan Ten, dan tiap kali bertemu dengan Ten, selalu ada pertengkaran –minimal adu mulut, yang bahkan bisa menghabiskan 15 menit.
"Taey! Ada apa?" laki-laki jangkung dengan balutan seragam hijau dan jubah hijau itu menyapa Taeyong dengan ramah.
Taeyong akui dirinya sedikit kesal dengan panggilan 'Taey' dari Johnny.
Di sebelah Taeyong, Ten berdiri dengan angkuhnya, melipat kedua tangan di depan dada sembari menatap tajam Johnny –masih tidak terima karena selalu diejek 'pendek' oleh Johnny. Mentang-mentang tubuhnya tinggi, seenaknya mengatai Ten pendek. Lagi pula Ten tidak pendek juga, kok.
Mata Johnny menangkap sosok Ten yang sedang menatapnya tajam, "Cabai Bangkok! Tahun ini kau jadi Queen lagi?!" jari telunjuk Johnny menunjuk-nunjuk Ten, agak kaget sebenarnya melihat Ten dengan kostum Queen-nya lagi.
"Tiang Jemuran! Akhirnya naik kasta, ya?!" Ten membalas, melupakan bahwa laki-laki dengan kostum hijau di depannya adalah King yang jelas-jelas kastanya lebih tinggi dibanding Queen –masa bodoh, Ten kesal setengah mati pada Johnny.
"Please, stop." Taeyong memisahkan Ten dan Johnny, menatap Johnny dengan wajah serius, "Youngho, aku ingin bicara –tapi tidak disini."
Mendengar nama aslinya disebut, dan wajah serius Taeyong, wajah jenaka Johnny berubah serius. Paham kalau kali ini Taeyong menemuinya bukan untuk bercanda. "Baiklah, dimana?"
Taeyong tersenyum tipis, mengajak Johnny turun ke halaman belakang sekolah dimana banyak set meja dan kursi taman. Mereka duduk di salah satunya yang masih kosong, kemudian Taeyong buka suara, "Kali ini aku ingin minta tolong."
Kalimat Taeyong menuai tanda tanya besar dari Johnny. Tumben sekali anak ini minta tolong?
Melihat raut kebingungan Johnny, Taeyong yakin laki-laki di depannya sedang heran kenapa tiba-tiba seorang Lee Taeyong meminta tolong padanya. Laki-laki berambut silver itu mengulas senyum tipis, "Aku yakin kau kenal Jeonghyun."
"Floater di kelasku."
Taeyong mengangguk, masih dengan senyum tipisnya. Melihat itu Ten ikut tersenyum, paham kemana arah pembicaraan Taeyong. Kemarin malam Taeyong hanya mengajaknya untuk menemui Johnny, namun laki-laki itu tidak memberitahunya alasan mereka menemui Johnny.
Taeyong dengan rencana iblisnya yang tidak setengah-setengah.
"Untuk apa kau mencari Jeonghyun?" Johnny bertanya, setahunya Taeyong tidak ada urusan dengan Floater berambut tosca satu itu. Lagipula, untuk apa mencari seorang outcast? Bukankah seharusnya Floater dan Bad boy dianggap tidak ada?
"Karena dia ada hubungannya dengan Joker di kelasku." Taeyong bersandar pada kursi, mengangkat sedikit dagunya.
Seharusnya King mengurusi urusan kelasnya masing-masing, jadi tidak seharusnya Taeyong mencampuri urusan kelas Clover. Johnny hampir buka mulut untuk mengingatkan Taeyong tentang hal itu, namun Ten sudah buka suara terlebih dahulu, "Ingat kejadian di tahun pertama?"
Pertanyaan Ten membuat Johnny tutup mulut.
"Saat kau dan Taeil hyung di kelas 1-Diamond–"
Sekelebat ingatan saat itu melintas di kepala Johnny. Wajah pucat Taeil, aroma obat-obatan rumah sakit, dan wajah tak berdosa seseorang kembali teringat oleh Johnny.
Rahang Johnny mengeras saat mengingatnya.
"–bersama dengan Jeonghyun."
"Kau tahu kan saat itu Taeil hyung bukan Joker? Tapi kenapa tiba-tiba di akhir tahun dia terbaring di rumah sakit?" Ten menyentuh dagunya dengan jari telunjuk –memasang pose sok berpikir dengan wajah menyebalkannya.
"Kenapa?" suara yang dikeluarkan Johnny terdengar berat dan sedikit bergetar. Laki-laki itu sedang menahan amarah, mengingat keadaan Taeil yang terbaring di ranjang rumah sakit membuatnya sangat marah.
"Karena kartunya hilang!" Ten menjawab dengan nada ceria seperti anak kecil, ditambah dengan senyum cerahnya. Terkesan centil sekaligus menyebalkan.
Kartu yang mereka dapatkan saat awal tahun ajaran memang tidak boleh hilang, namun menyimpannya di rumah jelas dilarang. Kartu itu harus dibawa setiap saat, dan sebisa mungkin dijaga. Jika kartunya hilang, maka siapapun itu akan menjadi Joker –bertukar posisi dengan Joker.
Namun, mengambil kartu orang lain adalah pelanggaran. Siapapun yang melanggar peraturan akan bertukar tempat dengan Joker.
"Hilang?" Johnny bertanya. Tidak mungkin Taeil seceroboh itu menghilangkan kartunya hingga dia harus menjadi Joker.
Ten mengangguk sebagai jawaban. "Taeil hyung kehilangan kartunya sehingga dia harus dihukum bertukar tempat dengan Joker."
Johnny terdiam, mencerna ucapan Ten dan mengingat kejadian saat dirinya di tahun pertama.
Saat itu di kelas 1-Diamond, Johnny adalah Jack, dan Taeil Queen. Joker saat itu adalah Yeri.
"Yeri–"
Ten menggeleng, "Yeri tidak ada hubungannya dengan ini."
"Lalu?" Johnny benar-benar bingung. Siapa lagi yang diuntungkan dengan Taeil yang menjadi Joker kalau bukan si Joker itu sendiri?
"Tentu saja Jeonghyun, bodoh!" Ten gemas sendiri, Johnny benar-benar lamban. Bagaimana bisa orang selamban ini bisa mendapat peringkat tiga besar di kelasnya? Untuk apa kami kesini kalau bukan karena Jeonghyun? Lagipula kami sudah menyebutkan nama Jeonghyun tadi. Ck.
Untuk kali ini Johnny mengabaikan Ten yang mengatainya bodoh. Fokusnya saat ini adalah, Jeonghyun yang diuntungkan dengan turunnya Taeil menjadi Joker?
"Bagaimana bisa Jeonghyun –maksudku, Jeonghyun saat itu hanya Wannabe, peringkatnya sudah cukup tinggi. Seharusnya dia tidak masalah dengan itu."
Taeyong melirik Ten, menyuruhnya untuk kembali menjelaskan pada Johnny.
Ten menghela nafas, sabar dengan temannya yang lamban luar biasa. "Kuharap kau tidak lupa bahwa saat itu King-nya adalah Irene," kata Ten, mengingatkan.
Tentu Johnny tidak lupa bahwa ayah Irene sering mengajak anaknya untuk ikut perjalanan bisnisnya. Karena sekarang sudah kelas 3, jadi Irene jarang absen. Namun saat kelas 1 dan 2, Irene sering absen karena ayahnya yang memaksanya ikut perjalanan bisnisnya kemana-mana. Absennya Irene sebagai King saat kelas 1 membuat Taeil harus menjalankan perannya sebagai pengganti King –Queen.
Mem-bully Joker tentu sudah kewajiban. Selain itu, "Mengatur kelas?"
Johnny paham.
Mengatur teman-temannya agar berperan sesuai dengan perannya.
"Peran Pleaser dan Wannabe memang sebagai follower Royal Class, tapi disamping itu, mereka juga sebagai pelayan King dan Queen."
Taeyong dan Ten mengangguk. "Jeonghyun tidak terima karena perannya sebagai Wannabe mengharuskannya untuk menjadi pelayan Queen."
"Jadi, Jeonghyun mengambil kartu Queen milik Taeil hyung?!" Johnny menggebrak meja, menimbulkan suara debam keras yang menyita perhatian orang-orang di halaman belakang untuk sejenak.
"Bukan 'mengambil', tapi 'menghilangkan'." Ten mengoreksi. "Mungkin ini tidak terpikirkan oleh murid-murid lain, tapi kita tidak melanggar peraturan kalau menghilangkan kartu orang lain," lanjut Ten, menjelaskan. "Kau paham maksudku? Jeonghyun menghilangkan kartu Taeil hyung. Aku dan Taeyong-ie hyung mendengar percakapan Jeonghyun dan Serim beberapa bulan setelah Taeil hyung dirawat di rumah sakit."
"Kenapa kalian baru memberitahuku sekarang?!" Johnny menatap nyalang Ten dan Taeyong.
"Karena kami lihat kau sudah tidak peduli dengan itu. Lagipula saat kelas 2 Taeil hyung baik-baik saja dengan posisi Wannabe di kelasku." Taeyong berucap dengan santai. Tak kusangka informasi itu berguna juga sekarang.
Johnny diam, membenarkan jawaban Taeyong. Dulu dia mencoba melupakannya karena saat itu Taeil sudah baik-baik saja dengan posisinya sebagai Wannabe. Johnny juga tidak sebodoh itu untuk tidak mengetahui niat Taeyong dan Ten yang menemuinya sembari membawa informasi itu. Johnny ingat tadi Taeyong berkata bahwa dia ingin meminta tolong padanya.
Laki-laki jangkung itu menarik nafas dalam, kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi taman, melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Taeyong tajam, "Tak kusangka kau selicik ini, Taey."
Taeyong tertawa hambar. "Kawanmu ini lumayan juga, kan, John?"
Johnny mengangguk. "Aku terima tawaran kerja samamu." Johnny mengulurkan tangannya, yang dibalas Taeyong. "Pertama, aku hanya perlu menghilangkan kartunya, kan?"
Seringai Johnny terbentuk, dan saat itu pula Taeyong tertawa puas dalam hati.
Kena kau, Yoon Jeonghyun. []
