Yooooo guysss kita kembali lagi untuk update dan untuk yang lainnya sepertinya gak ada yang ingin dibicarakan apalagi gak ada sesuatu yang baru atau meskipun jadi trending sepertinya hal seperti itu gak penting tapi, mungkin karena selera kita cukup pasaran jadi jangan heran karena kita tetap berkembang dan gak maju apalagi indonesia masih versi beta (demo) atau belum Full version (ngelawak lo admin kampang!) ohhhh btw lagi gak ada rencana untuk buat lagi fic baru meskipun di otak sudah kebayang bagaimana ceritanya karena saya lelah apalagi mengupdate 7 cerita sekaligus gak mudah bray! kalau tidak percaya tolong tanyakan saja ke author yang sudah pensi dan hiatus lalu tanyakan rasanya.

P.s : ohhhh ngomong-ngomong LN atau manga Genre yang model mature, Horror, Pyshcological, mystery atau Seinen, jarang atau terkadang gak pernah dapat adaptasi anime biasanya model isekai atau apapun itu kebanyakan, mungkin karena ceritanya terlalu gila dan gambaran manganya parah jadi, pasti banyak diskip atau diubah.

.

...

.

- Markas Night Raid

Kali ini berada di ruangan yang biasanya dipakai latihan atau sparring lainnya kini Tatsumi dan Akame berada, mereka saling berhadapan satu sama lain untuk melakukan sebuah sparring, menjajal kekuatan mereka sudah sejauh mana berkembang dan mengetes tehknik baru mereka.

Tatsumi hanya merasa ini nostalgia sekali waktu jaman masih dilatih oleh Gozuki dia sering berlatih sparring dengan Akame terkadang Najasho, atau Cornelia yang memiliki kekuatan hebat tapi semenjak insiden di Gudang itu dia sudah tak melakukannya dengan teman-temannya ini dan palingan dengan Taeko saja.

Akame tau temannya ini sudah bertambah kuat, tidak lebih tepatnya semakin kuat sekali dari sebelumnya bahkan setelah beberapa tahun tak bertemu lelaki bermata Emerald ini banyak perubahan terutama di fisik yang bertambah besar dan tangan yang berotot bahkan sudah tinggi darinya

"Jadi, sudah berapa lama kita tak seperti ini?" Tatsumi membuka pembicaraan dan menatap gadis ini.

"Sudah cukup lama sampai aku lupa kapan terakhir kali kita pernah melakukannya" jawab Akame tersenyum dan sedikit menyinggung "itu, benar-benar waktu yang menyenangkan sampai dihancurkan oleh orang yang seenaknya saja bertindak"

Tatsumi menghela nafas "ohhhhh, ayolah itu sudah cukup lama sekali dan kau masih saja membahasnya lagipula, aku benar-benar menyesal dan mohon maaf" dia benar-benar tak memikirkan konsekuensi tindakannya waktu itu yang akhirnya menghilangkan beberapa nyawa teman-temannya.

"Enggak bukan itu saja, terlebih kau banyak menyimpan rahasia yang bahkan tak pernah diberi tau termaksud rahasia pribadimu" ucap Akame cemberut bahwa tau Tatsumi dan Cornelia sudah memiliki hubungan lebih sejak sangat lama "dan kenapa kau tak pernah memberi tau?"

Tatsumi memasang seringai jahil "ohhh, jadi ceritanya kau cemburu nih?!" dia mengangkat alisnya dan tau bahwa gadis ini menyukainya sejak lama dari Cornelia cuman dia ingin tau sendiri dan harus keluar dari gadis itu sendiri

Akame lengah dalam emosinya dan muncul blush kecil "mana ada, kau ini kalau ngomong-ngomong suka ngawur!"

"Aku tau aku tau" Tatsumi mengangkat tangannya dan dia tertawa karena meskipun gadis berambut hitam ini memiliki ekspresi datar tapi, jika bisa membuatnya lengah maka akan terlihat lucu sekali "tapi, aku juga ingin memberi taunya pada waktu itu, mamun kita memilih tahan dulu karena tau Guy akan buat masalah jika langsung mengetahuinya"

"Oh, jadi seperti itu rupanya" Akame tertawa kecil jika mengingat pembicaraan sewaktu di pemandian itu.

"Ngomong-ngomong dengan Taeko juga sama" ucap Tatsumi dan dia beruntung karena ada Akame saja jika Lubbock atau Guy mendengar dia mengencani dua gadis sekaligus pasti akan terkena marah dari mereka.

"Ohhh, sepertinya begitu" Akame mengangguk faham tapi dia sadar ada yang aneh dengan ucapan Tatsumi "Taeko? maksudmu kau memiliki pacar dua begitu?" lalu Tatsumi mengangguk, dia tak mengira dan sulit percaya bahwa ada hal seperti itu dan sebenarnya banyak yang berubah tapi, karena dunia dalam keadaan rusak hal seperti ini memang terjadi.

"Tunggu, kau tak marah?" Tatsumi melihat reaksi Akame yang normal.

"Untuk apa? lagipula itu pilihan mereka, setidaknya kau tak sama seperti mereka yang cuma memurutkan hawa nafsu doang" balas Akame.

"Oi, nyinggung gak langsung ceritanya nih?" Tatsumi menyipitkan matanya karena Akame bicaranya langsung tanpa disaring dulu dan itu menyakitkan sekali jika didengar.

"Gak, gak, aku serius" Akame mengibaskan tangannya lalu memegang erat katana kayu dengan dicondongkan ke depan "sebaiknya, kita berlatih karena sudah cukup lama terakhir kali aku kalah sparring denganmu" dan dia juga ingin menguji kekuatannya sendiri.

Tatsumi mengangkat sebelah alisnya "terakhir kali? perasaan rekor sparring kita aku selalu menamg dan kau kalah terus" dia mengepal tangannya dan hari ini tak pakai sarung tangan cuma tali putih yang mengikat kedua tangannya "coba, kita lihat sejauh mana kau berkembang mungkin saja kau bisa mengalahkanku"

Tatsumi langsung bergerak ke depan dengan cepat, Akame bersiap dalam posisinya dengan mata serius karena serangan seperti ini mudah terbaca olehnya dan beruntung dia pakai katana kayu karena jika menggunakan [Murasame] bisa mati langsung lelaki bermata emerald itu karena kemampuannya yang bisa membunuh siapapun cuma dengan goresan kecil saja.

Akame tak bergeming dari posisinya matanya sangat serius sekali membaca pergerakan Tatsumi yang akan muncul atau berubah serangan di mana saja, tapi dia takkan tertipu lagi atau sama seperti dulu dan sudah berubah, gak seperti dulu yang terlalu naif hanya membaca gerakan lawan dalam sekali saja.

Tatsumi berhenti mendadak beberapa centi dari gadis itu, Akame bersiap cuman katana miliknya dimiringkan 50 derajat bahwa tau lelaki ini akan menyerangnya dari belakang atau melayangkan tinjunya ke depan jadi masih bisa ditahan oleh katana kayu ini hanya saja Tatsumi memasang seringai di wajahnya.

Akame menyadari ekspresi wajah itu 'tunggu, sebentar!?' dia tersadar bahwa ada salah persepsi atau perhitungan yang dia kira serangan Tatsumi bakal ke arah.

Tatsumi tak bergerak ke belakang atau meninju malahan dia menekuk telapak kaki kanannya ke atas dan membalikan badannya ke belakang dengan maksud mengayunkan tendangan dari bawah, Akame tersadar dengan cepat bahwa serangan Tatsumi mengincar katana kayunya itu bukan dirinya dan langsung melompat jauh.

"Ohhh, reaksi yang bagus" Tatsumi memujinya.

"Seperti biasa mengejutkan terus yah" balas Akame menghembuskan nafas.

Akame mengambil inisiatif untuk maju mengangkat katana ke atas sambil mengayunkan ke bawah, Tatsumi berniat menangkap atau menangkis serangan itu cuman dugaan dia kini salah karena gadis bermata merah ini membelokkan serangannya dengan mengincar perut samping bahkan cepat sekali sehingga mengejutkan Tatsumi.

Dan Tatsumi yang tak bisa mengelak akhirnya terkena serangan itu dan tampak sebuah senyum wajah Akame karena akhirnya dia menang dan bisa mengalahkan Tatsumi dalam sparring karena biasanya dirinya selalu losestreak dan sekarang bisa pecah rekor.

"Aku menang" ucap Akame tersenyum riang seperti anak kecil yang berhasil memukul Pinata yang berisi permen dan gula.

"Memang benar tapi..." ucap Tatsumi belum selesai bicara dan tangannya langsung mematahkan katana kayu itu dan bergerak maju cepat ke depan dan langsung menyentil dahi Akame dengan keras sehingga menimbulkan bekas "jika saja Teigu milikmu bukan Murasame maka kau akan tewas karena akan sangat bahaya jika bertemu lawan yang memiliki semangat pantang menyerah seperti itu dan kau harus bisa langsung menyerang titik vitalnya"

Akame memegang dahinya dan menjawab "aku tau itu, cuman terima kasih atas perhatiannya" dia juga sudah pengalaman menghadapi musuh model seperti itu cuman jika tipe musuh yang membuat riskan atau resiko seperti Tatsumi tadi sungguh mengerikan.

"Kita latihan lagi" ucap Tatsumi bersiap lagi.

"Iya tapi... kau menghancurkan katana kayu ini" jawab Akame melihat ke bawah.

"Ah, benar juga" Tatsumi merasa malu karena berlebihan tadi.

Braht datang ke arah mereka sambil bertepuk tangan "ohhh sungguh latihan yang sangat bagus sekali sehingga mengeluarkan banyak keringat" dan merangkul kepala Tatsumi seperti sudah lama kenal dan memberi kedipan kecil "tapi, hari ini kita tunda dulu karena kau punya janji denganku untuk sedikit ikut berpetualang benar?" dia tersenyum dan membuat giginya langsung berkilau.

"I-iya" jawab Tatsumi sedikit gugup dan agak berkeringat dalam masalah karena tau bahwa Braht ini maho tapi, dia orang yang baik meski punya kelainan sedikit.

"Nah begitu dong! semangat!" Braht menggosokan rambut coklat itu seperti seorang ayah yang bangga kepada anaknya.

"Baiklah kita tunda dulu, lagipula aku ada sedikit janji dengan Taeko untuk memburu hewan buas buat makan malam nanti" ucap Akame merapihkan pakaiannya dan dia jadi teringat bahwa hari ini adalah tugasnya untuk memasak "ngomong-ngomong belum ada misi lagi dari Boss?"

"Sejak hari itu belum ada, cuman boss bilang bahwa kita akan segera dapat misi lagi dan tentu saja bagi yang tubuhnya masih sehat" jawab Braht melipat tangannya "dan terlebih tampaknya beberapa Jenderal akan bergerak untuk memburu kita dan kita tak tau kapan Esdeath akan kembali jadi, kita harus secepat mungkin melemahkan kekuatan mereka"

'Ohhhh, itu berarti Mine dan Sheele takkan diberi misi' Tatsumi tau keadaan gadis pink itu yang parah dengan kedua tangan patah dan beberapa luka dalam berkat sesuatu yang besar sedangkan Sheele kedua kakinya tak bisa digerakan dan lebih parahnya sudah kehilangan Teigu.

"Begitu" Akame faham jadi, untuk sekarang dia tak boleh tergesa-gesa.

.

.

.

.

.

- Lembah

Tatsumi bersama dengan Braht kali ini sedang berjalan melewati tebing yang panjang dengan jurang yang begitu dalam dan tampaknya mereka sedang menuju puncak pegunungan jika dilihat dari rute yang mereka lewati apalagi ditambah suasana yang berkabut tanpa awan dan hawa dingin cukup menandakan mereka berada di tempat tinggi.

Kali ini mereka hanya sekedar jalan-jalan biasa saja dengan membawa Tas punggungg yang berisi banyak barang dan sudah dipastikan bakal berat sekali apalagi berjalan dengan medan menanjak yang sudah pasti bertambah sulit namun karena kedua orang ini sudah terlatih jadi bagi mereka ini bukan apa-apa.

"Cukup aneh untuk daerah pegunungan yang liar bahkan, aku sendiri tak menemukan monster atau hewan buas sekalipun" Tatsumi berkomentar melihat situasi di sekitar sini sangat sepi sekali bahkan hanya terdengar hembusan angin dan suara burung di langit.

"Mungkin monster-monster di sini lebih suka menunggu dan saat mangsanya lengah pasti mereka bergerak" jawab Braht tertawa karena cukup lucu sekali " apalagi daerah pegunungan seperti ini sangat jarang karena makanan sulit di dapat dan lebih menyenangkan di Hutan saja"

"Begitu yah" Tatsumi sendiri pernah sewaktu masih menjadi anak asuh Gozuki yang selalu tinggal di gunung atau tempat tinggi dan tak pernah menemui satu hewan buas pun pada saat misi keculi di Hutan atau wilayah dekat pemukiman.

Merasakan sebuah ancaman di tubuhnya Tatsumi langsung lompat cepat ke depan dan benar sesuatu seperti kayu pohon jalar memanjang bersiap menusuknya dan lebih mengejutkan lagi ternyata itu hewan buas yang berasal dari pohon kayu mati dan memiliki mata. dan sebelum dia membalas sebuah lemparan cepat melintasi wajahnya dan membunuh mahluk buas itu.

ternyata itu ulah Braht yang sudah siap siaga "sungguh refleks yang bagus sekali" dia memujinya dan menatap mahluk buas yang muncul lagi "ini adalah monster pohon yang selalu ada di sekitaran ini dan sedikit lengah saja atau kau akan dimakan langsung"

"Ohhh jadi seperti itu rupanya" Tatsumi bersiap nampaknya kali ini sedikit berburu atau berkeringat tak ada masalah dan tak lama muncul sekumpulan monster pohon yang mengelilingi mereka dan tak memberi jalan keluar

"Hati-hati mahluk buas disekitar sini memiliki keahlian menyamar dan serangan mengendap-ngendap" ucap Braht mengepal tinjunya penuh semangat "dan juga tempat ini bisa sangat cocok untuk latihan jika kau akan menghadapi tipe musuh yang tak banyak bersuara"

"Ngomong-ngomong aku ingin tau, apakah monster seperti bisa dimakan?" Tatsumi belum pernah mencobanya siapa tau enak dan mungkin bisa dibawa pulang untuk dimasak oleh Akame atau Taeko karena hampir semua mahluk buas bisa dimakan juga.

"Tentu dibagian tubuhnya bisa dibuat Sup atau Lodeh saja dan matanya juga bisa dijual ke pedagang aksesoris yang ada di desa" jawab Braht dan juga bersiap untuk memburu mereka jika permintaan Tatsumi seperti itu "dan kita harus melakukan apa yang harus dilakukan"

"Oke" Tatsumi tampaknya tak bisa menggunakan Teigu karena akan membuat monster ini rusak dan hangus jadi tak bisa digunakan dan dia hanya menggunakan pedang pendek saja.

"Dan jika kau terluka maka dengan senang hati aku akan menggendongmu hingga sampai markas" ucap Braht dengan romantis dan dengan blush ditambah aura bunga yang ada di sekitarnya tapi yang jadi masalahnya ucapan itu ditunjukan kepada laki-laki.

"Berhenti memasang wajah seperti itu" Tatsumi sweatdrop dan agak merinding karena pria ini memang memiliki masalah tentang kesukaan yang gak wajar jadi, dia memilih menjaga jarak.

.

.

Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

- Ruang Pertemuan

Semua Anggota Night Raid kini kembali dikumpulkan di ruang diskusi atas perintah Najenda karena sudah pasti ada misi yang sangat penting lagi, dan juga semua anggota di sini sudah kembali dari misi mereka jadi dalam keadaan kekuatan penuh tapi, agak kurang seimbang karena Mine keduanya tangannya patah dan Sheele yang pincang sehabis misi itu tapi tetap saja ikut dikumpulkan untuk diskusi.

"Ngomong-ngomong aku di sini ingin mengatakan bahwa ada sedikit 3 kabar buruk" ucap Najenda memulai rapat dengan wajah serius seperti biasa "dan yang pertama aku tidak bisa menghubungi Tim lokal yang ada di sana"

"Apa itu Tim lokal?" Tatsumi memiringkan kepalanya dan tau hal seperti itu.

"Dengan kata lain kelompok yang sama menjalankan tugas yang sama seperti kita" jawab Akame mengangkat satu tangannya "sedangkan kelompok kita yang mengurus di ibukota dan ada tim lain yang mengurus hal sama di lain tempat mengingat kerajaan itu luas"

"Dan sempat diinvestigasi bahwa besar kemungkinan mereka sudah terjadi, persiapkan diri kalian" ucap Najenda yang cukup terkejut dengan mantan Perdana Menteri beserta anaknya tewas waktu perjalanan ke Ibukota.

"Dan yang kedua?" Guy bertanya ingin tau.

"Yang kedua bahwa Esdeath telah kembali Ibukota dan dikabarkan bahwa di selesai menaklukan Kerajaan di Utara" jawab Najenda dan semuanya merasa tertekan dengan tubuh mengigil takut kecuali Tatsumi dan Taeko yang tak tau apapun tentang Jenderal Sadis ini.

"Aku fikir dia akan kembali dalam waktu yang lama paling tidak sebulan, dan dia sangat cepat sekali menaklukan Suku Utara yang terkenal hebat itu" Braht sulit mempercayai itu tapi jika Najenda bilang begitu maka jelas beritanya bukan palsu.

"Jika itu dia, aku tak terkejut bisa selesai secepat itu" Cornelia memilih menyandarkan tubuhnya ke tembok.

"Apakah dia kembali ke Kerajaan untuk mengatasi pasukan Revolusi?" ucap Lubbock penasaran dan jika itu terjadi akan jadi masalah karena Esdeath adalah masalah besar setelah Jenderal Budho.

"Aku tak tau karena pergerakan dia sangat sulit diprediksi dan apa yang akan dia lakukan selanjutnya" jawab Najenda menyulutkan rokok lagi karena masalah memusingkan seperti ini "dan Leone, aku ingin kau ke Ibukota awasi pergerakannya sekarang"

"Baiklah aku tau!" Leone mematuhinya dengan senang dan hati dan rasa ingin tau tentang wanita itu karena menurut kebanyakan orang Esdeath berbeda bahkan sama gilanya dengan Perdana Menteri bahkan kekuatannya sungguh mencengangkan 'kukuku, aku sungguh jadi tak sabar' dia tertawa maniak dan membayangkan jika berhasil membunuh wanita itu.

"Dia itu bukan orang sembarang yang bisa kau bunuh begitu saja seperti orang-orang yang pernah kau habisi" ucap Cornelia membaca ekspresi wajah wanita pirang itu dan Leone cuma menjulurkan lidah.

"Dia itu Pyscho tanpa otak yang cuma keinginan membunuh saja jadi hati-hati" Najenda memperingatkan karena dia sendiri sudah jadi korban tapi, beruntung masih selamat dan tak tersiksa "dan juga kita harus waspada karena selain Esdeath beberapa Jenderal seperti Michaela dan Yobese juga akan turun tangan tapi, kedua orang ini masih pasif jadi belum jadi ancaman penuh"

"Bagaimana dengan Qrowfest dan Budho?" Braht tau dua orang ini juga jadi batu penghalang besar karena kekuatan gila mereka sama seperti Esdeath dan alasan dia bisa tau karena bekas Tentara Kerajaan.

"Mereka takkan melakukan apapun selama Jenderal lain belum dibunuh dan itu cukup melegakan" jawab Najenda menghisap rokok dan andaikan jika kelima orang Jenderal itu bergerak bersama maka kelompok ini takkan bisa bernafas meski sedetik.

"Astaga kita benar-benar menghadapi musuh yang merepotkan" ucap Guy menggaruk rambutnya karena pusing.

"Badan saja kau besarkan, tapi nyali gak ada" Mine menyinggung sangat dalam.

"Bodo amat!" Guy tak mempedulikan itu.

"Dan yang terakhir aku mendapatkan laporan tentang kasus pembunuhan beberapa warga sipil dan para mantan pejabat terjadi di dalam Ibukota" ucap Najenda menunjukan poster symbol dari Night Raid "cuman masalahnya adalah, bahwa mereka menggunakan poster ini dan mengaku-ngaku dari Night Raid"

"Lempar batu sembunyi tangan heh" ucap Tatsumi yang merasa istilah itu cocok dan Guy cuma mengangkat bahunya gak faham karena kapasitas otaknya gak bakal sampai.

"Jadi pada dasarnya semua kejadian yang terjadi itu, seolah-olah perbuatan kita" Braht melipat tangannya.

"Mereka berniat menyalahkan kita dan membuat kita jadi kriminal" ucap Lubbock.

"Pada dasarnya kita memang kriminal kalau menurut mereka" Guy menyahuti ucapan lelaki mesum itu.

"Bukankah itu terlihat mengada-ngada dan rekayasa buatan mereka saja?" ucap Taeko.

"Untuk kasus pembunuhan beberapa warga biasa masih dikatakan lumrah cuman yang jadi masalah adalah beberapa mantan pejabat dan anggota kekaisaran sipil lainnya" jawab Najenda menghembuskan nafas "dan para pejabat ini sudah meningkatkan keamanan perlindungan mereka tapi, tetap saja terbunuh seperti kasus terakhir mantan Perdana Menteri Chori yang terbunuh juga beserta anaknya"

"Bisa dibilang mereka terbunuh bukan karena pembunuh bayaran biasa melainkan pengguna Teigu" ucap Akame yang teringat adiknya tapi, itu rasanya mustahil jika Kurome yang melakukannya "dan orang-orang akan berasumsi bahwa semua kejadian itu dilemparkan kepada ke arah kita"

Najenda mengambil sebatang rokok lagi "dan orang-orang yang terbunuh ini adalah yang selalu membuat Perdana Menteri tak nyaman, jadi dia bisa dikatakan menyingkirkan semua musuhnya dan menjadikan kelompok kita sebagai kambing hitam atas perbuatannya sendiri"

"Sepertinya dia sengaja melakukannya dengan membuat jebakan dan memancing kita untuk keluar?" ucap Braht memasang ekspresi serius.

"Aku sudah tau itu jebakan makanya aku memberi tau kalian" ucap Najenda mengusap belakang lehernya "cuman orang-orang yang terbunuh ini adalah orang-orang yang penting dan sangat peduli dengan kerajaan saja, dan orang-orang seperti itu sangat penting untuk Negara baru kita dan kita tak bisa membiarkan lebih banyak lagi orang-orang dengan ideologi hebat itu menghilang"

"Jadi kau di sini meminta pendapat kami apa yang harus dilakukan tentang Grup palsu ini?" Cornelia bertanya.

"Bukankah sudah jelas? hancurkan apa sulitnya?" jawab Guy sangat santai sekali.

"Enteng banget tuh ngomong" Lubbock sweatdrop.

"Jadi aku ingin meminta kalian untuk menghancurkan Grup palsu ini" ucap Najenda memberi tugas kepada mereka dengan tatapan mata yang tajam serius.

"Jika dalam kasus Hukum bahwa pencemaran nama baik bisa dihukum maka kita hukum mereka dengan cara kita sendiri" ucap Tatsumi dengan kepalan tangan berapi.

Braht tersenyum grin tertarik mendengar ini "cukup bagus sekali Tatsumi!"

Najenda berdiri dengan mengibaskan jubahnya "kalau begitu ayo beri mereka hukuman dengan cara kita" dia sudah mendengar persetujuan ini dan akhirnya memberi perintah "di sini Total ada 5 pejabat yang bakal jadi target lagi namun kita perinci lagi karena ada beberapa yang sudah lebih dulu pergi dari Ibukota"

"Akame dan Lubbock kalian ke Hutan Death Forest yang mana ada Jalan setapak di sana yang digunakan untuk kabur jadi kalian menunggu di awal pintu masuk, lalu Braht dengan Guy kalian ke Pelabuhan di sana ada kapal besar Ryuusen dan untuk Tatsumi dengan Cornelia kalian ke Mansion tua yang ada dalam Hutan yang sedikit dekat dengan pemukiman kumuh di kota Arcasta"

"Bagaimana dengan dia?" Mine menujuk gadis dengan poni perak.

"Aku ada tugas lain dan ini permintaan khusus dari seseorang jadi, tugas dia bukan untuk membunuh suatu kelompok tapi mencari informasi keberadaan seseorang" jawab Najend memberi berkas besar dan memberikannya kepada Taeko "dan jangan dulu dibuka karena kau akan tau sendiri sasarannya siapa"

"Baiklah" Taeko menerimanya dan dia tak bertanya tugas itu dari siapa karena sudah pasti Najenda akan merahasiakannya.

"Dan tambahan lagi tugas ini diprioritaskan hanya mencari informasi dan menemukan keberadaan seseorang yang hilang jadi, aku melarangmu membunuh, menangkap, atau membawa seseorang" ucap Najenda serius karena misi ini berasal dari orang penting cuman dia tak bisa memberitaukan itu.

"Jadi kemana tujuan pencariannya?" Braht bertanya.

"Carnivalis" jawab Najenda sangat serius dan semua orang hening tegang mendengar tempat itu minus Tatsumi yang gak tau apa-apa.

"Bukankah itu..." Cornelia sangat hafal tempat itu.

"Tempat Michaela berada untuk bermain atau dia memang ada sering di kota itu karena rumahnya ada di sana" jawab Najenda sangat cemas dan makanya dia mewanti-wanti untuk tak gegabah karena bisa saja hal buruk terjadi "jika kau tak berbuat kekacauan aku yakin misi ini akan berjalan sukses dan berharap saja tak bertemu dengannya namun, jika ketemu aku sarankan jangan melawannya lebih jauh dan segera kabur karena salah satu kekuatan Teigu miliknya bisa berubah seseorang menjadi Anjing Chihuahua"

"Teigu yang merepotkan" Guman Lubbock.

"Tunggu, bukankah Michaela tak tau banyak tentang Taeko apalagi poster Buronan menunjukan belum semua anggota Night Raid diketahui?" ucap Mine dan untuk dia sendiri sudah pasti ada berkat pertarungan dengan pasukan keamanan kerajaan yang membuatnya seperti ini.

"Dia itu tak semudah yang kau kira tau" Najenda sudah mengenal gadis itu sangat lama sama seperti Esdeath sewaktu di kerajaan "tidak peduli mau siapapun itu warga biasa, polisi, pejabat atau yang lainnya dia dengan tak begitu peduli dan akan mengubah siapapun menjadi Anjing lalu menyiksanya hanya untuk kesenangannya saja"

"Jadi jangan heran jika sampai di sana akan menemukan banyak Anjing sekali" ucap Braht menambahkan.

"Yang jelas hindari apapun yang bakal membuat keributan dan aku ingin kau hanya menjalankan tugasmu" ucap Najenda.

"Dimengerti" jawab Taeko tanpa ekspresi.

.

.

.

.

.

- Pelabuhan Kota

Di sini Braht dengan Guy melaksanakan misi mereka menjaga pejabat sipil yang ingin kabur sekaligus mencari tau keberadaan kelompok penipu yang mengaku-ngaku sebagai Night Raid namun, itu tak mudah menemukan mereka karena pada dasarnya pengguna Teigu yang sudah pasti ahli dalam membunuh.

Kedua pria berbadan besar ini sudah sampai di tempat misi mereka berada di sebuah Kapal besar dengan motif kepala Naga di depannya dan kapal ini sering digunakan untuk berlayar dan melakukan kunjungan ke sebuah Negara dan perlu waktu yang cukup lama untuk membuat Kapal sebesar ini.

Di sini Guy melihat sekeliling yang mana sangat ramai sekali dengan banyak orang jadi agak tak mudah menemukan mereka dengan cara biasa seperti ini terlebih Poster wajahnya sudah diketahui oleh kerajaan jadi dia mengenakan masker dan kacamata hitam untuk menutupi identitasnya, apalagi misi ini cukup rawan jika buat masalah dan sedangkan Braht mengenakan kekuatan Armor [Incursio] yang mana bisa membuat tubuhnya tak terlihat atau transparan.

Dan setelah itu semua orang naik ke Kapal untuk bersiap berangkat dan berkumpul di atas kabin sambil berbincang ria, dengan Braht masih menghilang dan Guy mengenakan Tuxedo putih yang rapi sekali tapi tetap wajahnya masih tertutup karena prioritas pembunuh bayangan adalah tak menunjukan identitas asli.

"Kapal ini sangat besar dan bagus juga" Guy memuji dan menunjukan rasa kagum tentang kemegahan ini.

Braht menepuk pundaknya dari belakang " kau jangan terlalu terlena karena misi kita lebih penting sekarang dan ingat tetap perhatikan sekitar "

"Aku tau itu" balas Guy berjalan sedikit ke depan dan melihat ke bawah banyak orang-orang yang melambaikan tangan mungkin menunjukan sebuah salam perpisahan "tapi, di sini terlalu banyak orang jadi agak sulit sekarang" dan dia melihat juga Target sasaran sudah dilindungi banyak orang jadi, dia cukup santai dulu.

Braht kembali menepuk pundaknya "berhenti mengira bahwa musuh takkan bergerak, setidaknya mereka akan bergerak hingga waktunya dan kita tak tau kekuatan mereka seperti apa"

Guy menggosok belakang lehernya "aku tau tapi, tidak bisakah kau berhenti untuk memukulku terus" bukan sakit cuma menyebalkan saja.

"Sebab aku memukulmu itu karena aku sangat khawatir padamu" ucap Braht dengan nada suara sengaja diimutkan dan blush di balik Armor itu.

"Najis!" jawab Guy sewot dan merinding karena ada sifat negatif dari pria ini meski kuat dan dia sedikit menghela nafas kecewa "rasanya enak sekali yah bisa menghilang dan kau bisa melakukan sesuatu seperti yah... mengintip" dia cukup mengutuk ketidakberuntungan miliknya dan andaikan Teigu miliknya [Incursio] maka dia bisa mengintip Cornelia atau Leone yang mandi.

"Sebenarnya itu juga ada batasnya dan aku malah iri dengan Teigu punyamu karena takkan terluka dengan serangan apapun" balas Braht dan menyadari Guy banyak mengeluarkan darah dari hidung "ngomong-ngomong kau mimisan, apa kau baik-baik saja?"

Guy tersadar dari khayalan bejatnya dan kembali normal "ohhh, aku hanya pilek saja begitu" dan mengusap hidungnya.

Braht menyadari kekuatannya ada batasnya "nah, baru saja aku bilang, nampaknya akan jadi masalah jika tak segera dilepaskan dan aku lupa bawa penutup wajah"

"Itu akan bisa jadi masalah karena mereka akan mengenali wajahmu" jawab Guy dengan tangan terlipat.

Braht berjalan ke arah deck "baiklah, aku akan memeriksa di bagian bawah sedangkan kau awasi bagian atas"

"Dimengerti" balas Guy melambaikan tangannya.

Setelah beberapa menit Braht berjalan tak lama terdengar suara lantuan Seruling yang sangat indah sekali melewati kuping Guy dan itu terdengar keras jadi siapapun bisa mendengarnya, nampaknya cuman dia saja yang ada di sini sedangkan Braht di bawah jadi bisa dikatakan kelompok Night Raid palsu itu ada sekarang.

"Nampaknya sudah dimulai" Guy melepas Masker wajah.

.

Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

- Jalan Utama Ibukota

Esdeath tengah berjalan normal melewati pasar kecil yang ada di sini sambil sesekali matanya menatap sekeliling dan sedikit bersenandung riang, banyak orang-orang yang mengira Jenderal ini sedang dalam kondisi mood bagus namun tak ada yang berani bertanya karena reputasi wanita ini terbilang kejam seperti Singa yang marah jika tidurnya diganggu.

Setelah misi dari Utara Esdeath menyempatkan waktunya bersantai sejenak di sekitaran sini sambil memikirkan langkah-langkah ke depannya dalam membasmi kelompok Night Raid ini namun, dia masih harus melihat 6 orang dengan pemilik Teigu yang cocok dalam kategorinya dan dia berhenti di sebuah kedai kecil.

"Untuk sekarang tak ada yang perlu ditakuti karena mulai sekarang aku yang akan menjaga keamanan di sekitaran Ibukota" ucap Esdeath kepada seorang pria yang terlihat sebagai pemilik Kedai kecil ini.

Pria ini menunduk dengan sedikit mengigil takut "te-terima ka-kasih banyak! Esdeath-sama!" lalu dia mengeluarkan beberapa koin emas tapi matanya tak berani menatap karena rasa tekanan yang menakutkan sekali "ja-jadi, to-tolong te-terima ini sebagai ha-hadiah"

Esdeath tanpa pandang bulu langsung mencolok mata pemilik Kedai itu karena jengkel "aku gak butuh sama sekali uangmu, jika kau mengulangi yang tadi maka dengan senang hati akan aku siksa tubuhmu" dan pria itu berteriak sakit namun Esdeath tak peduli lalu langsung duduk "ngomong-ngomong, coba keluarkan Es Krim terbaik yang ada di sini"

"Baiklah!" pria itu langsung masuk ke dalam tanpa bicara lagi karena akan bermasalah sekarang.

Sementara Esdeath tengah menunggu pesanan agak sedikit jauh dari tempatnya terdapat sebuah bangunan namun yang terpenting di atas adalah ada Leone yang tengah mengawasinya dari tempat meskipun sadar hawa keberadaannya cuma Esdeath diam saja dan biarkan orang idiot ini membuat tindakan konyolnya jadi, dia bisa menangkapnya dan sedikit memberi beberapa siksaan baru.

Leone yang tengah menatap targetnya dari atas Gedung itu hanya diam saja tak bergerak, keringat membasahi wajahnya dengan wajah seperti tertekan. sebenarnya dia berencana untuk memberi serangan dadakan tapi, Teigu ini memberi intruksi atau insting alaminya mengatakan tak boleh menyerang karena berbahaya.

Leone sebenarnya ingin mengetahui orang seperti apa Esdeath ini dan kebanyakan orang bilang bahwa Jenderal ini jelas monster di antara Jenderal lainnya dan setelah melihat sendiri dengan matanya wanita pirang ini setuju bahwa targetnya ini benar-benar monster dengan hawa pembunuh kuat.

Mungkin dalam hal sehari-hari serangan biasa dadakan cukup untuk membunuhnya tapi, dia sadar bahwa ini adalah jebakan dan Esdeath tau keberadaannya cuman tak bergerak dan hanya memilihnya untuk bergerak jika tidak, mana mungkin dia melengahkan penjagaannya di tempat terbuka seperti ini. dan sudah jelas ini beresiko jika dilanjutkan lagi.

'Betapa konyolnya aku, bahwa bisa membunuhnya di tempat seperti ini' Leone mencakar tanah sangat frustasi namun tak bisa berbuat apapun karena akan menghancurkan rencana ini dan hasrat membunuh Esdeath kini berubah menjadi ketakutan lebih dalam 'sebaiknya aku kabur saja selagi ada kesempatan' dia langsung lari menjauh.

Esdeath menghela nafas sambil melihat ke atas ketika tau mangsanya menghilang "tch, kabur huh? padahal aku sudah memiliki banyak metode penyiksaan yang baru" dia menjilati Es Krim dengan santai sambil menikmati suasana nyaman di sekitar sini "tampaknya setelah misi ini selesai aku akan mengajak mereka bertiga"

.

.

.

.

.

- Kota Carnaval

Taeko berjalan di jalanan kota kecil ini dengan mengenakan Jubah pelindung meskipun wajahnya masih belum diketahui tapi, untuk sekedar jaga-jaga jika sesuatu buruk terjadi apalagi saat ini dia sedang dalam misi mencari keberadaan seseorang ditambah tempat ini adalah daerah salah satu Jenderal tinggal.

Misi Taeko bisa dibilang gak terlalu sulit tapi bisa juga gak mudah, kenapa gak terlalu sulit karena dia cuman mencari tau atau memberi informasi seseorang yang hilang dan cukup mengejutkan bahwa target yang diperintahkan adalah seorang Anak Pejabat yang sangat kaya sekali saking kayanya setengah kekuasaan Negeri ini miliknya. dan yang membuatnya gak mudah karena kemungkinan buruk pasti bertemu Jenderal itu.

Taeko sudah sampai di kota tersebut dengan sesuai peta jika dilihat situasi yang ada di kota kecil ini bisa dibilang normal-normal saja dengan orang-orang yang melakukan aktifitas dan ada yang santai-santai saja namun, dia tak menemukan seekor pun Anjing yang maksud Braht dan dia tau ini masih awal saja untuk segera memprediksi.

Dan sesuai dengan Najenda bilang bahwa jika ingin mencari targetnya bukan di kota tapi bagian Carnaval karena terakhir kali Target terlihat ada di sana dan setelah itu menghilang tanpa jejak, setelah bertanya pada seseorang Taeko melihat ke depan dan terlihat sebuah Kincir angin besar yang mana lokasi taman bermain itu sekaligus pencariannya.

'Lumayan jauh juga dari sini' Taeko memperkirakan jika berjalan menghabiskan waktu 15 menit namun dirinya tak bisa mengeluh karena sewaktu di Oreburg sudah diajarkan untuk tetap menjalankan misi apapun resikonya.

Dan tak lama di sampai lalu membeli Ticket untuk masuk dan akhirnya misinya dimulai namun, dia waspada dengan sekitar karena ini wilayah musuh namun yang terlihat oleh matanya ialah adalah orang-orang lalu lalang menikmati Hiburan yang ada di Carnaval ini. Dan ada sedikit yang menarik perhatiannya adalah beberapa sekumpulan orang dengan pakaian sangar dan wajah seperti Preman cuma berkumpul saja bersenang-senang di sudutan dan tak mengganggu orang lain meski begitu patut diwaspadai.

Terdengar suara bunyi kerongkongan perut membuat Taeko tersipu malu karena dia lapar dan lupa makan akhirnya dia ke Kedai Makanan lalu memesan sesuatu tapi tetap wajahnya tertutup dan tak mau terekspos.

"Tolong Jangkrik Goreng Saus Tiram dengan Tiga Mangkuk Nasi" ucap Taeko memesan makanan setelah melihat menu yang tersedia dan ngomong-ngomong dia seperti Akame, Rakus namun tak separah gadis bermata merah.

"Baiklah" sang Pria agak tua itu membalasnya dan segera memasak, ngomong-ngomong dia tak curiga atau penasaran dengan penampilan gadis ini yang tertutup karena baginya jika ada yang membayar masakannya meski siapapun itu akan dilayani dengan senang hati.

Taeko sedikit menunggu lalu akhirnya pesanan tiba dan langsung melahap makanan itu dengan cepat seperti orang kelaparan, jangan heran jika sama seperti Akame karena sifatnya pendiam, jarang memamerkan ekspresi, dan yang terpenting banyak makan.

Setelah selesai makan Taeko melihat sekeliling jika ada yang mengintip lalu memanggil pemilik Kedai dan menunjukan sebuah Foto sambil bertanya dengan suara pelan "aku ingin tau, apakah kau pernah melihat keberadaan orang ini? yang terakhir terlihat ada di sekitar sini" dia bicara pelan karena berbahaya jika terdengar oleh orang lain karena akan merusak misi.

Pria itu agak sedikit terkejut namun kembali normal, matanya melirik ke sekitaran dan setelah rasa aman dia bicara "hmmmm, jadi kau ini pembunuh bayaran yah" Taeko tak menjawab cuma diam "jika kau tanya anak muda ini terakhir setelah makan di Kedai milikku, dia ke arah Tenda Besar yang menunjukan acara Sirkus" dia sudah biasa dengan ini karena sering ditanyai oleh orang-orang aneh dan dia hanya menjawab saja selama sedikit hati-hati.

"Terima kasih" ucap Taeko menaruh Uang untuk bayar makanan dan sedikit Tip atas informasinya lalu pergi.

"Sekedar saran dariku nona muda" ucap Pria itu membersihkan gelas "kau harus sedikit hati-hati dengan orang-orang pakaian sangar itu dan terutama Jenderal Michaela karena sudah beberapa orang yang bertanya dan akhirnya tak kembali namun aku yakin mereka diubah jadi Anjing"

Taeko diam dan sesuai dengan ucapan Braht ketika masuk ke sini banyak sekali Anjing Chihuahua yang berkeliaran liar di sekitaran sini dengan berbagai warna yang lucu.

"Terima kasih" Taeko langsung pergi.

"Nona muda secantik itu akan sangat sia-sia jika mati" Pria itu menghela nafas "tapi, semoga selamat karena memang orang-orang seperti mereka harus disingkirkan terutama Perdana Menteri"

Taeko masuk sesuai yang diberitaukan Tenda Besar yang berisi atraksi Sirkus lalu dia mencari tempat duduk yang sesuai sambil mengawasi sekitar mencari Targetnya apalagi Najenda bilang Jenderal Michaela di Carnaval jadi dirinya harus hati-hati agar tak terekspos dan saat ini belun bertemu Targetnya.

"Baiklah kalian semua yang sudah datang mohon duduk karena atraksi seru akan datang!"

"Huooohhhhhh"

Suara teriakan penonton penuh semangat menggema seisi Tenda ini setelah sang pembawa acara berkostum lucu bicara dan Taeko masih tetap waspada meski situasinya sedang seru.

"Ini adalah pertarungan antara seorang pria besar yang 5 kali tak terkalahkan berturut-turut The Champ!"

"akan melawan seorang wanita muda dengan tubuh yang dapat membawa siapapun bernafsu melihatnya Girles!"

Taeko fikir ini pertunjukan Sirkus seperti atraksi orang menjinakkan hewan buas, lempar meriam orang, atau atraksi akrobatik badut dengan sepeda roda satu mereka, namun rupanya ini adalah sebuah arena pertarungan atau adu domba sebagai sarana hiburan yang mana para penonton di sini akan bertaruh satu sama lain.

"3...2...1!"

"Mulai!"

Kedua orang peserta itu mulai bertarung satu sama lain dan Taeko mengamati pertarungan mereka dan matanya menangkap sesuatu mencurigakan dan melihat beberapa orang berpakaian sangar ada berada di beberapa posisi seperti sudah teroganisir dan dia tetap bergerak agar tidak terlihat mencurigakan.

"Dan pemenangnya adalah Girles!"

Taeko sudah menduga karena pria besar itu cuma mengandalkan otot dan kekuatan sedangkan perempuan itu dengan tehknik dan kepintaran otaknya namun, tak lama hal yang tak diinginkan muncul dari atas dan terjun ke bawah.

"Yuhuuuuu! jadi bagaimana kalian semua? menikmati pertunjukannya?"

Sial, Taeko tak mengira nasib buruknya menghampirinya disaat yang kurang tepat sekali karena saat ini misinya belum selesai maka tak lama muncul orang yang tak ingin dia hadapi Jenderal Michaela dengan pakaian nyentriknya dari atas, dam bertambah buruk dia tak bisa kabur karena situasi ramai ini padahal Najenda berpesan untuk menghindari keributan atau pertarungan dengan gadis kulit pucat ini sebisa mungkin.

'Bajingan, ini benar-benar buruk' Taeko belum bisa kabur sekarang dan akan segera dicurigai.

"Inilah adalah acara pembukaan yang akan dibuka oleh Jenderal sendiri dengan tarian tongkat indahnya" ucap sang pembawa acara.

Michaela berkedip dengan memberi kecupan ke semua orang "yuhuuu! kalian semua akan terpana dengan tarianku jadi, jangan sampai berkedip yah!"

*wushhh *wushhh *wushhh

Taeko tau ini sesuatu yang gawat dan melihat orang-orang dengan wajah mencurigakan sudah menghilang terlebih dia melihat Michaela bukan mau ingin melakukan pertunjukan melainkan mengeluarkan tehknik terlebih dia sedikit mewanti bahwa Teigu Tongkat Pendek itu adalah berbahaya bisa mengubah seseorang menjadi Anjing dan dia memang memiliki firasat tak enak.

"MIRACLE BLSTO!"

*Wnggggg!

Dan benar saja Michaela menghempaskan Tongkat ke tanah dan menghempaskan aura pink besar dan menghempaskan ledakan angin yang besar ditambah itu bukan sesuatu yang berbahaya tapi, menghasilkan hal yang menakutkan sekali.

'Najenda benar' Taeko sudah ambil tindakan dengan melompat ke atas menghindari itu dan melayang di udara 'dia bisa benar-benar mengubah mereka semua' dia melihat para penonton berubah menjadi Anjing Chihuahua yang lucu.

"Wah, wah, wah, ada yang beruntung di sini rupanya" ucap Michaela melirik ke atas dengan seringai "apa kau di sini mencari seseorang? nona pembunuh?"

"Tck" Taeko mendecak kesal dan dia tak punya pilihan lain untuk melawan namun, takkan serius karena misinya belum selesai tapi sudah ketahuan

"Apa boleh buat"

.

.

Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

- Mansion Tua

Sedangkan itu ada misi yang lainnya dikerjakan oleh kedua Anggota Night Raid ini Tatsumi dan Cornelia atau bisa dikatakan kedua pasangan yang tengah menjalankan misi yang sama menjaga seseorang dan mengungkap identitas Night Raid palsu cuman ada sedikit kendala dalam misi kali ini.

"Apa ini hanya perasaanku saja atau memang Mansion inu terasa kayak kosong gak ada orang?" Tatsumi menyadari bahwa hening dan cuma terdengar kicauan burung karena lokasi Mansion tua ini agak sedikit jauh dari pemukiman dan dalam hutan.

"Aku rasa mereka sudah pergi dulu sebelum kita datang lebih dahulu jadi, bisa dibilang mereka kabur lebih awal" balas Cornelia mengintip dari balik pohon "kemungkinan mereka sudah terbunuh oleh kelompok palsu itu?"

Tatsumi menggeleng "tidak, karena Najenda bilang ada 3 kemungkinan tempat jadi bisa dibilang orang-orang di sini tak terbunuh dan sudah kabur bebas, jadi mungkin saja kelompok palsu itu ada di tempat yang lainnya" dia tak merasakan hawa bertarung dan mendengar teriakan "yah, bisa dikatakan kelompok palsu itu tidak ada di sini"

"Bisakah kita sedikit menunggu agak lama?" Cornelia merasakan Mansion tua ini sangat mencurigakan namun tak berani masuk karena mungkin saja sudah banyak jebakan "cuman aku sangat penasaran untuk menyelidiki Mansion ini"

"Baiklah kita tunggu 3 atau 4 jam jika hasilnya sama saja kita pergi" ucap Tatsumi yang tak merasakan seseorang di dalam Mansion itu lagipula seperti sebuah tempat yang ditinggalkan.

Dan beberapa saat kemudian tak ada apapun yang terjadi jadi akhirnya mereka memilih pergi namun karena Cornelia sangat penasaran dan keras kepala sekali ingin masuk akhirnya Tatsumi menyerah dan membiarkannya masuk sekalian dirinya berjaga-jaga di belakang takut ada serangan dadakan.

"Mansion yang sangat bagus dan luas banget" ucap Tatsumi mengomentari bangunan ini.

"Dan terlihat orang-orang itu kabur dengan sangat tergesa-gesa sehingga meninggalkan barang berharga" ucap Cornelia menunjuk beberapa senjata yang ditinggal begitu saja padahal kondisinya masih bagus.

Dan mereka berjalan lebih dalam lagi namun tak menemukan apapun cuma barang-barang yang tak berguna saja jadi orang-orang di sini sudah pergi dan kondisi sangat sepi.

"Ada apa?" Cornelia bertanya melihat Tatsumi berhenti di depan tangga menunju lantai dua.

"Tidakkah kau merasakannya?" jawab Tatsumi melirik ke gadis itu dan semenjak melewati tangga ini dia merasakan sesuatu yang gelap dan begitu kuat namun tertahankan berkat sesuatu seperti tanda segel.

Cornelia mengangguk dan merasakan sedikit saja "bagaimana kalau kita periksa?"

Dan kedua orang itu langsung naik ke lantai dua dan di sana mereka mendapati sebuah ruangan besar yang dengan pintu besar tertutup rapat dan satu hal lagi ada aura segel tiga kepala singa di depan pintu itu.

"Terkunci" Cornelia mencoba membukanya tapi hasil nihil.

Tatsumi mencoba dengan Teigu dengan membuat tinju api tapi hasilnya sama saja "sama sekali gak bisa dihancurkan" dan dia merasakan bahwa seperti dihisap waktu mau mengeluarkan kekuatannya "pintu ini menghisap kekuatanku ketika aku ingin menghancurkannya, jadi kita butuh sesuatu seperti Kunci untuk melepas segel ini"

"Apa ini berguna?" Cornelia menunjukan sebuah benda symbol salib warna ungu gelap dan ada corak kepala tengkorak dan ada tiga buah "dan karena itu sangat menarik dan seolah memaksaku untuk mengambilnya jadi, aku ambil saja"

"Kita coba dulu" ucap Tatsumi dan langsung memasang benda itu tepat di segel kepala singa itu yang ada di pintu lalu tak lama bereaksi dengan cahaya gelap keluar lalu meledak tak beraturan.

"Sepertinya berhasil" Cornelia melihat reaksi tadi dan mencoba sekali hingga hasilnya sama.

Dan setelah segel itu menghilang dengan sendirinya pintu besar tadi langsung terbuka begitu saja tanpa ada siapapun yang melakukannya seolah keberadaan mereka sudah diketahui dan berniat menyapa tamu mereka.

"Berhati-hatilah" ucap Cornelia dengan cemas karena Auranya sangat gila dan gelap sekali seperti Esdeath.

"Aku tau" balas Tatsumi maju di depan karena ada seseorang yang ada di dalam dan tak lama terdengar suara asing yang senang menyambut mereka.

"Ohhhhh, akhirnya ada juga yang berhasil melakukannya demi aku"

Suara menggelegar berat dan tinggi dari dalam ruangan itu dan di sana terdapat seorang pria besar gendut, kulit hitam, tinggi, rambut botak setengah, wajah menakutkan, dan 6 tanda titik di dahinya, gelang bola ungu di kedua tangannya, dan cerutu besar di mulutnya.

Cornelia tau siapa orang ini tubuhnya bergidik ketakutan penuh tekanan dan keringat membasahi lehernya "sial, kenapa malah jadi seperti ini" dia tak mengharapkan bakal terjadi tapi nasib buruk kali ini benar-benar menimpanya dan Tatsumi.

"Kau mengenalnya?" Tatsumi melihat reaksi Cornelia yang cukup serius dan dia merasakan aura yang sangat kuat sekali dari pria seperti ini.

"Kita tak punya pilihan lain" Cornelia bersiap dengan mode tarung.

"Hoh? Night Raid ya?!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Dan cuttt akhirnya kita selesai juga dan mohon maaf saja untuk keterlambatan ini meski tak ingin tapi melihat situasi dan kondisinya jadi sangat terpaksa saja hehehehe.

Pm

RnR