[Antagonist]
NCT belongs to themselves
"Antagonist" belongs to Lexa Alexander
Inspired by: Caste Heaven by Chise Ogawa
Main Pair: TaeTen
Other Pair: JaeDo, JohnIl
Malam itu, selepas makan malam, Ten memilih untuk bersantai di ruang tengah sembari menonton televisi. Walaupun tidak ada acara yang menarik, namun suara dari televisi bisa mengusir sedikit keheningan di apartemennya.
Biasanya, Ten sudah sibuk dengan ponselnya dan mengirim belasan pesan pada Yeonmin untuk menemaninya mengobrol –walaupun akhirnya tidak dibaca dan tidak dibalas oleh Yeonmin. Sama saja sendiri sebenarnya.
Yeonmin, ya?
Rasanya Ten tidak terlalu kehilangan, entah kenapa. Mungkin karena sudah terbiasa tidak bersama Yeonmin, mungkin karena sudah biasa diabaikan Yeonmin.
Ternyata memang lebih baik dilepaskan. Rasanya lebih ringan. Tidak lagi terpikirkan untuk mengurusi hal yang tidak berguna.
Ten sedang berguling di sofa saat tiba-tiba bel apartemennya berbunyi.
Siapa?
Rasanya seperti pernah mengalaminya beberapa waktu yang lalu –tidak ada janji dengan siapapun, dan tidak ada orang yang mengabarinya bahwa akan berkunjung ke apartemennya, namun tahu-tahu bel apartemennya berbunyi tanda ada orang yang berkunjung.
Oh. Ten kenal seseorang yang selalu datang tiba-tiba tanpa mengabarinya.
Dengan langkah lebar Ten berjalan menuju pintu, lalu membukanya. "Sudah kuduga–"
Ucapan Ten terhenti saat melihat kantung mata yang menghitam di bawah mata Taeyong.
Benar, itu Taeyong. Berdiri di depannya, dengan tangan yang membawa satu stel seragam dan tas sekolah. Laki-laki itu nyengir lebar seolah tanpa dosa, namun Ten tahu Taeyong tidak baik-baik saja.
"Masuklah."
Taeyong langsung masuk ke apartemen Ten, berjalan cepat menuju kamar Ten dan meletakkan barang-barangnya disana. Ten menutup pintu, berjalan menuju ruang tengah untuk mematikan televisi sebelum menyusul Taeyong ke kamarnya.
Ten langsung berbaring di kasurnya, meraih ponselnya untuk menyetel alarm sementara Taeyong masih sibuk dengan barang-barangnya. Setelah selesai dengan barang-barangnya, Taeyong membuka lemari Ten, mencari tumpukan baju miliknya sendiri di lemari tersebut –sudah terlampau sering menginap.
Taeyong mengganti pakaiannya, kemudian setelah menutup lemari, laki-laki itu naik ke tempat tidur, berbaring di sebelah Ten.
"Ada apa?" Ten meletakkan ponselnya, beralih menatap Taeyong.
Begitu ditanya, Taeyong berbalik dan memeluk perut Ten, membenamkan wajahnya disana. Awalnya hening, namun beberapa saat kemudian Ten bisa mendengar Taeyong yang sesenggukan. Laki-laki berambut silver-putih itu menangis, mengeratkan pelukannya pada Ten.
Ten menghela nafas, balas memeluk Taeyong sembari mengusap lembut kepala bersurai nyentrik itu, memainkan jemarinya disana.
"Aku lelah." Samar-samar Ten bisa mendengar gumaman Taeyong sebelum laki-laki itu kembali menangis. Ten kembali menghela nafas, masih mengusap kepala Taeyong. Paham akan masalah yang menimpa sahabatnya.
Taeyong dan segala masalahnya.
Taeyong yang menyembunyikan sosoknya dibalik wajah dingin dan sifat menyebalkannya.
Taeyong yang sebenarnya –hanya diketahui oleh Ten. []
