[Antagonist]

NCT belongs to themselves

"Antagonist" belongs to Lexa Alexander

Inspired by: Caste Heaven by Chise Ogawa

Main Pair: TaeTen

Other Pair: JaeDo, JohnIl


Pagi itu Ten berangkat bersama Taeyong menggunakan mobil Taeyong yang dibawa Taeyong semalam. Taeil sudah menunggunya di tempat parkir –tidak bersama Doyoung karena Doyoung pasti lebih memilih menunggu Jaehyun.

Ah, ya, Jaehyun berangkat sendiri dari mansion keluarga Lee. Laki-laki dengan tinggi menjulang itu sempat panik mencari Taeyong yang pagi itu sudah menghilang dari kediaman keluarga Lee –tidak tahu kalau semalam Taeyong pergi ke rumah Ten. Jaehyun baru bisa tenang setelah Ten mengabarinya lewat pesan singkat.

"Maaf karena semalam aku mengganggumu." Taeyong berkata pelan saat mereka berjalan melewati lorong, dengan latar belakang murid-murid lain yang berkerumun ingin melihat pasangan King dan Queen yang sering menjadi berita utama majalah sekolah –pagi yang seperti biasanya.

Mendengar ucapan Taeyong, Ten menggeleng disertai senyuman. "Tidak apa-apa. Aku mengerti," kata Ten, kemudian jemarinya bergerak untuk menggenggam jari kelingking Taeyong. Sudah menjadi kebiasaan, dan Ten tidak bisa menahan diri untuk tidak menggenggam jari kelingking Taeyong tiap kali mereka berjalan bersisian. Ini lebih baik daripada Ten yang bergelayut di lengan Taeyong. Entah kenapa Ten senang sekali melakukan skinship dengan sahabatnya itu.

Hening sejenak.

"Ten," panggil Taeyong, yang dibalas dengan gumaman. "Aku ... bersyukur bisa memilikimu di sisiku," kata Taeyong, kemudian laki-laki itu menggigit bibirnya pelan. Dia ingin mengatakan banyak hal kepada sahabatnya, tentang betapa bersyukurnya dia bisa memiliki Ten yang selalu ada di saat tersulit dalam hidupnya, tentang Ten yang selalu bisa menenangkannya, tentang Ten yang begitu berharga baginya. Namun untuk saat ini, Taeyong tidak bisa menyusun kalimat yang ingin dikatakannya dengan baik, dan yang keluar hanya satu kalimat pendek tadi.

"Aku juga," balas Ten sembari memainkan jari kelingking Taeyong. Laki-laki itu menunduk menatap ujung sepatunya, diam-diam memikirkan hal yang sama dengan Taeyong.

Kemudian hening hingga mereka menginjakkan kaki di kelas. Keduanya terlarut dalam pikiran masing-masing, tidak berniat membuka pembicaraan lain. Hingga Ten teringat sesuatu.

"Taeyong-ie hyung," panggil Ten, memecah keheningan diantara keduanya. Taeyong yang sedang mengeluarkan buku pelajarannya menoleh menatap Ten, bertanya. "Nanti sepulang sekolah, bagaimana kalau ke mall dulu?"

"Mall?" Taeyong mengulang, yang diangguki oleh Ten. "Boleh saja," kata Taeyong, menyetujui. Kepalanya langsung terisi dengan pikiran tentang apa saja yang akan dibelinya nanti –hal pertama yang dia pikirkan adalah membeli sepatu baru.

Ten tersenyum, niatnya ingin mengajak Taeyong jalan-jalan untuk melupakan masalahnya sejenak. Laki-laki manis itu tahu Taeyong tidak terlalu sering berpergian –karena suatu hal, Taeyong tidak terlalu menyukai dunia luar dan tempat ramai. Kalau tidak bersama Ten, mungkin Taeyong tidak mau pergi keluar dan bertemu dengan orang-orang.

Kemudian pelajaran jam pertama dimulai. Sejarah.

Saat membuka bukunya dan melihat lembar catatan terakhir, Ten langsung tersenyum, membuat Taeyong melemparkan tatapan bertanya padanya. Memangnya ada apa dengan catatan terakhir pelajaran ini?

"Oh, aku mendapat ide bagus," bisik Ten. Taeyong menatap buku catatannya dan Ten bergantian, lalu matanya menangkap sosok Joker. Ah, ternyata tugas itu. Taeyong ingat bulan lalu Ten sempat menyobek lembar buku Serim saat perempuan itu sedang menyicil tugas Sejarahnya.

"Terserah, Ten. Aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu." Taeyong tertawa pelan.

Ten tersenyum lebar saat melihat Taeyong tertawa. Setidaknya, Taeyong harus melupakan masalahnya –untuk saat ini. Tidak ada salahnya lari dari masalah dan bersenang-senang. Ten tidak ingin melihat wajah murung Taeyong –sama sekali. Ten ingin melihat Taeyong tersenyum dan tertawa, Ten tidak ingin melihat Taeyong dengan mata kosong yang menyedihkan itu lagi.

Tugas essay yang diberikan guru Sejarah lebih dari sebulan yang lalu sudah selesai dikerjakan Ten –begitu pula Taeyong. Keduanya mengeluarkan tugas essay Sejarah dari dalam tasnya, bersiap mengumpulkannya.

"Kumpulkan tugas essay sebulan yang lalu," Junsu seonsaengnim berkata sembari mengecek absen. Murid-muridnya sibuk mengeluarkan tugas essay dan memberikannya pada Jungkook selaku Messenger –yang nanti akan dikumpulkan pada Junsu seonsaengnim.

Ten dan Taeyong memberikan tugas essaynya pada Jungkoook, kemudian Ten bergegas menuju meja Park Serim, menarik tugas essay milik perempuan itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

"T-Ten!" tangan Serim langsung terangkat untuk meraih tugas essay-nya. Gadis itu segera berdiri dari duduknya dan berusaha mengambil kembali tugasnya, namun Ten lebih cekatan. Serim hanya menggenggam angin.

"Apa?" Ten tersenyum miring, masih tidak ingin memberikan tugas essay Serim pada pemiliknya –dan memang tidak berniat untuk mengembalikannya. "Kau ingin mendapat nilai A seperti yang lain?"

Serim terdiam. "Tolong kembalikan, Ten. Kumohon."

"Kumohon~" Ten menirukan suara Serim, sedikit banyak dilebih-lebihkan. Kemudian Ten tertawa sinis, "Tidak mau. Aku tidak akan mengembalikannya –mungkin?" Ten kembali tertawa menyebalkan.

Serim mengangkat kepalanya, "Tolong kembalikan, Ten." Gadis itu menatap memelas kearah Ten, berharap laki-laki itu mengembalikan tugas essaynya.

Namun Ten tidak sebaik itu.

Laki-laki itu melihat-lihat hasil jerih payah Serim, membolak-balik lembaran kertas yang dijilid jadi satu tersebut. "Woah, bagus juga." Pujian Ten terdengar hanya untuk basa-basi. Dalam hati Ten berkata, tugasku jauh lebih baik dari sampah ini.

Seluruh penghuni kelas menunggu apa yang akan dilakukan Ten. Junsu seonsaengnim memperhatikan dalam diam, ikut penasaran. Dua tahun berturut-turut Ten selalu mendapat nilai nyaris sempurna untuk aktingnya, tentu saja Junsu seonsaengnim penasaran dengan apa yang akan dilakukan Ten kali ini.

Ten berbalik menghadap Serim setelah sebelumnya memunggungi gadis itu untuk melihat-lihat tugas essaynya. Tangannya memainkan tugas essay Serim di hadapan pemiliknya, membuka sebuah halaman. "Serim, aku akan mengembalikan tugas essaymu–" tangan Ten menarik selembar kertas itu main-main, membuat wajah Serim memucat saat gadis itu tahu apa yang akan dilakukan Ten.

"Ten, jangan–"

Selembar kertas ditarik paksa, dirobek menjadi potongan-potongan kecil yang berakhir jatuh menyentuh lantai.

"–setelah kumainkan." Ten tersenyum lebar, namun senyum itu tidak mencapai matanya.

"Tidak! Ten, hentikan!"

Ten seolah tuli, masih menyobek lembar demi lembar essay Serim dengan brutal. Potongan kecil kertas mengotori lantai, beberapa mengenai Serim yang kini jatuh terduduk di lantai menangisi tugas essaynya yang hancur tidak berbentuk karena ulah Ten.

Sementara Ten tersenyum puas saat lembaran kertas itu habis, menyisakan sampul mika berwarna biru di tangannya. Dengan kasar dia menjatuhkan mika biru itu di hadapan Serim, "Kukembalikan~ terima kasih mainannya."

Ten melangkah pergi meninggalkan Serim yang meremat potongan kertasnya dengan penuh emosi. Baru beberapa langkah, tangan Ten ditarik paksa dan dengan cepat dia merasakan pipinya memanas.

Seisi kelas langsung menahan nafas –suasana mendadak hening dan tegang. Seseorang disana langsung merasakan darahnya mendidih karena amarah. Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih dan urat di tangan dan lehernya terlihat di permukaan kulit.

Ten belum sempat bereaksi saat telinganya menangkap suara bangku yang terbanting keras dan suara kulit yang beradu dengan kulit. Begitu sadar Serim sudah tersungkur di lantai dengan tangan kanan yang menyentuh pipi yang memerah, rambut cokelat panjang menutupi wajahnya, membuat Ten tidak bisa melihat ekspresi gadis itu.

Bahu Ten diguncang keras, "Ten, kau baik-baik saja?"

Ten mengerjap beberapa kali, melihat wajah khawatir Taeyong tepat di depan wajahnya. Kemudian matanya menatap sosok Serim yang masih menangis dan Taeyong yang menatapnya khawatir.

Apa yang terjadi?

Beberapa detik kemudian, barulah Ten sadar. Serim menamparnya, dan Taeyong langsung balas menampar Serim berkali-kali lipat lebih keras. Dari suara tamparan Taeyong pada Serim, Ten yakin pipi perempuan menyebalkan itu akan membiru untuk beberapa hari kedepan.

Taeyong melepaskan cengkramannya pada bahu Ten, beralih berdiri di hadapan Serim dengan mata yang menatap Serim tajam, penuh amarah. Aura gelapnya seakan menyelimuti seluruh kelas –mereka bersumpah itu adalah aura membunuh, seakan Taeyong benar-benar bisa membunuh Serim jika dia mau.

Junsu seonsaengnim hampir saja melerai Taeyong, namun Jaehyun menahannya. "Tenang, saem. Taeyong tidak sebodoh itu untuk membunuh seseorang di depan umum."

Jadi, kalo tidak di depan umum, Taeyong akan membunuhnya? Junsu seonsaengnim hanya bisa bertanya dalam hati, memilih menuruti kata-kata Jaehyun dan menonton drama yang dilakukan anak didiknya –oh, ini jauh lebih menarik dari opera sabun murahan yang tayang di televisi setiap harinya.

"Park Serim."

Suara rendah Taeyong menyapa indera pendengaran Serim, membuat Serim menggigil ketakutan. Tubuh Serim seakan membeku, dan perempuan itu tidak berani bergerak bahkan hanya untuk mendongak dan menatap Taeyong yang berdiri dengan angkuh di hadapannya.

"Angkat kepalamu, Joker."

Kalimat Taeyong bagikan mantra yang mengikat Serim, yang memaksa Serim melakukannya mau tidak mau. Dengan gerakan patah-patah Serim mengangkat kepalanya, menatap Taeyong dengan berlinang air mata –antara sakit hati, takut, dan perih di pipinya. Saat itulah Serim melihat wajah penuh amarah Taeyong. Serim berani bersumpah itu adalah saat dimana dirinya merasa seakan berhadapan dengan iblis yang tidak segan mencabut nyawanya dengan kasar.

"T-Taeyong ..."

Taeyong berjongkok di hadapan Serim, tangannya menyentuh lembut telapak tangan Serim yang menyentuh pipinya yang membiru, menyingkirkannya. Tubuh Serim bergetar, ketakutan. Tangan berbalut sarung tangan Taeyong terasa dingin saat Taeyong menyentuh lembut lebam di pipinya. Walaupun Taeyong menyentuh lembut lebam itu, namun Serim masih merasa takut –siapa yang tahu apa yang akan dilakukan Taeyong?

Serim meringis, air matanya mengalir makin deras saat Taeyong tiba-tiba mencengkram kuat pipinya, menekan lebam itu secara kasar, memberikan rasa sakit yang tidak terkira. Sobek di bibirnya makin terasa perih. Serim menangis namun Taeyong tidak peduli.

"Dengar, Park Serim." Taeyong menyebut namanya lambat-lambat, mengintimidasi. Matanya berkilat marah, "Aku tidak peduli kau perempuan atau laki-laki. Jika kau berani menyakiti Ten, akan aku pastikan kau akan mendapat sakitnya berkali-kali lipat. Berani kau melukai Ten walaupun hanya tergores, akan aku pastikan kau menghilang dari muka bumi ini, dan sebelum kau menghadap Tuhan, aku pastikan kau tersiksa selama 365 hari."

Ucapan Taeyong melekat di kepala Serim, perempuan itu yakin kalimat Taeyong akan terulang-ulang di kepalanya bagaikan kaset rusak.

Belum sampai disitu, Taeyong menarik rambutnya, memaksa kepalanya untuk mendongak, "Lalu, kuingatkan sekali lagi. Kau hanyalah Joker. Jangan berani-beraninya melawan Royal Class seperti kami. Lalu, ingatkan kekasihmu, jangan bermain-main dengan Lee Taeyong dan orang-orang disekitarnya, atau nasibnya akan lebih buruk."

Kalimat terakhir Taeyong seakan menarik Serim ke dalam jurang tanpa dasar. Entah kenapa Serim langsung teringat akan Jeonghyun –dan kejadian itu, dan apa yang dilakukannya tahun lalu.

Apa yang Lee Taeyong ketahui?

Kepala dengan surai cokelat madu dihempaskan dengan kasar. Taeyong kembali ke hadapan Ten, menatapnya khawatir. Jemari Taeyong menyentuh lembut tangan Ten yang menutupi pipinya yang memerah, menyingkirkannya perlahan. Kulit Ten memerah –tentu saja. Serim menamparnya dengan cukup keras, namun Taeyong yakin kalau dia sudah membalasnya dengan lebih keras.

Taeyong melepas sarung tangannya, menyentuh merah di pipi Ten perlahan, dengan lembut. Ten merasakan tangan dingin Taeyong yang membelai pipinya, terasa menyejukkan. Ten selalu menyukai tangan dingin Taeyong –tangan itu akan selalu dingin, meskipun di cuaca panas sekalipun. Ten menyukai dinginnya tangan Taeyong saat menyentuh kulitnya yang hangat.

"Sakit?" pertanyaan yang jawabannya sudah jelas itu diajukan Taeyong. Laki-laki bersurai silver itu berbisik di depan wajah Ten yang jaraknya hanya beberapa senti, hingga hidung keduanya nyaris bersentuhan, dan mereka bisa merasakan terpaan nafas satu sama lain. Taeyong masih menyentuh bekas tamparan Serim di pipi Ten, tidak berniat menjauhkan tangannya dari sana, memilih untuk menyentuhnya dengan lembut –berharap dengan itu sakit di pipi Ten sedikit berkurang.

"Perih." Ten menjawab dengan bisikan.

"Ke ruang kesehatan, ya?" Taeyong menjauhkan tangannya dari pipi sahabatnya, beralih mengulurkan tangannya pada Ten –gestur mengajak.

Ten mengangguk, menyambut uluran tangan Taeyong dan menggenggamnya. Keduanya berjalan meninggalkan kelas dan teman-teman sekelasnya yang menatap kepergian dua orang itu dengan wajah memerah.

Yang barusan romantis sekali.

Jaehyun menghela nafas, memijat keningnya. Dasar tidak tahu tempat. []


.

.

.

Lexa demam TT

Nyesel kemaren hujan-hujanan. Mana sebelumnya minum es pula. hikd.

Stay healthy and stay safe ya semuanya~