Jealousy!

(Kolam Renang, Hotel K3.)

Shinichi Kudo mengangkat pandangannya dari Ran, Kazuha, dan Heiji yang justru sedang bermain air bersamanya di dalam laut buatan itu, untuk menatap gadis blasteran Jepang-Eropa yang duduk di kursi pantai seberang tempat Profesor Agasa. Otak logisnya sebagai seorang detektif tidak bisa menalar mengapa ilmuan muda itu mengenakan baju renang yang begitu fulgar sementara baru saja kemarin dia nyaris mendapat pelecehan seksual di kereta api. Lihat saja, baju renang yang dikenakannya nyaris seperti sehelai benang yang asal ditempelkan. Bahkan dari jarak sejauh ini, Shinichi bisa dengan jelas melihat belahan dadanya.

Akan tetapi, masalah terbesarnya bukan karena pemandangan Shinichi yang terganggu, melainkan karena nyaris semua mata melihat ke arah yang sama. Mata-mata lelaki hidung belang terus menjadikan tubuh Shiho Miyano sebagai obyek pelecehan visual. Dan satu yang paling mengganggu adalah seorang pria yang saat ini sedang mengobrol dengan gadis itu.

Shinichi sudah cukup kesal menahan diri memperhatikannya, sehingga ia memutuskan berjalan keluar dari air dan menghampiri mereka. Seraya meraih handuk di kursi Profesor Agasa, ia mendengarkan apa yang pria di depan Shiho katakan, terutama bagian sesi perkenalan yang dimulai oleh pria itu.

"Shinichi Kudo," ia menyahut tanpa perlu diundang, kemudian melemparkan handuk ke tubuh Shiho dan mengambil tempat berdiri di tengah-tengah keduanya sambil menyungging senyuman. "Detektif."

Dengan sengaja pemuda ini menunjukkan harga dirinya karena bisa melihat bahwa sosok lawan bicaranya bukan orang sembarangan. Beberapa benda yang dikenakan pria itu, seperti jam tangan dan kaca mata renang yang melingkari lehernya, menunjukkan bahwa dia adalah orang kaya. Salah satu pria kaya yang mata keranjang dan percaya diri, tentu saja.

"Kau boleh meminta bantuanku kalau mungkin anjingmu hilang."

Shinichi menjabat tangan pria itu menggantikan Shiho yang sebenarnya adalah orang pertama yang diajak berkenalan. Setelah melepaskan jabat tangan mereka, tangannya kemudian beralih menarik tangan Shiho untuk mengajak gadis tersebut pergi dari sana tanpa meninggalkan salam.

Namun senyum percaya diri yang Shinichi sungging sebelumnya, musnah seketika di perjalanan. Sesampainya di depan ruang ganti pemuda ini berhenti dan menatap gadis yang bersamanya. Hal-hal yang membuat Shinichi semakin tidak senang adalah bagaimana Shiho Miyano justru tersenyum seolah menertawakan. Sebuah deklarasi tersembunyi bahwa Shinichi Kudo baru saja dikalahkan oleh kecemburuan.

"Lucu, huh?" Shinichi mendengus kesal seraya melepaskan tangan di dalam genggamannya.

"Aku tidak benar-benar tahu kalau kau ternyata akan melakukannya." Balas Shiho dengan santai. Namun tingkahnya itu justru terlihat meledek bagi sang lawan bicara. "Meskipun aku tahu, kau memperhatikanku sejak tadi."

"Jadi kau memang sengaja?" Shinichi mengelak dan membuang muka, sekaligus kamuflase untuk menghindarkan matanya dari pemandangan yang berbahaya. "Terserahlah, lagi pula aku juga tidak sengaja melihat ke tempatmu. Dan tadi aku pikir kau perlu bantuanku."

Shiho menyangsikan hal itu. Ditatapnya Shinichi cukup lama sampai akhirnya ia menyadari sesuatu. Handuk yang dikenakannya jatuh dan kini hanya menutupi bagian kiri tubuhnya, menyampir di salah satu pundaknya. Dengan sengaja, Shiho melepaskan handuk tersebut sekarang. Sekarang, Shinichi tidak bisa mengelak bahwa tubuh Shiho memang menyita perhatiannya. Nalurinya sebagai laki-laki menuntun Shinichi untuk melirik secara terang-terangan saat itu juga.

"Dasar bocah mesum!" Shiho melemparkan handuk di tangannya ke muka Shinichi, menutup pemandangan pemuda itu sebelum berjalan pergi.

"Brengsek, Miyano!" Dengan kesal Shinichi menarik handuk di kepalanya dan meremasnya.

Ia pasti sudah mengejarnya kalau saja tidak menyadari bahwa wanita penggoda itu masuk ke kamar ganti. Tapi jangan dipikir Shinichi akan membiarkan dirinya dikerjai. Ia pasti akan membalas, lihat saja nanti.


(Kamar Ganti Kolam Renang, Hotel K3)

Shiho Miyano sudah mengenalinya sebagai Ran Mouri dari suaranya yang terdengar sejak beberapa detik lalu sebelum ia membuka pintu. Gadis berambut panjang tersebut bersama seorang gadis lain menatap ke arahnya seolah menunggu. Namun menyapa lebih dulu bukan tugasnya, sehingga Shiho memutuskan tetap diam seraya berjalan.

"Shiho-chan sudah selesai? Mau kembali ke restoran bersama kami?" Seperti yang sudah diduga, Ran yang lebih dulu membuka percakapan.

"Tidak apa-apa?" Shiho membalasnya dengan tenang.

"Tentu saja, Profesor Agasa sudah kesana lebih dulu dan memintaku untuk mengajakmu." Gadis itu menjawab dengan ceria. "Oh iya, ini Kazuha Tomoya, pacar Heiji, kami satu kamar." Lanjutnya seraya mendorong pundak Kazuha dari belakang untuk membuatnya lebih dekat dengan Shiho.

Shiho sekedar tersenyum tipis khas dirinya selagi menjulurkan tangan. Ia cukup tahu tipe gadis satu ini sehingga tidak terkejut ketika setelah mereka berjabat tangan, mendapat tatapan penuh curiga darinya.

"Kau teman Kudo yang dari luar negeri itu ya? Apa kau tahu kalau Ran ini pacarnya?"

"Kazuha!"

Suara Ran yang cukup tinggi langsung menyahut pertanyaan itu, sementara Shiho sendiri yang merupakan obyek asli hanya mengangkat sebelah alisnya. Tidak perlu diingatkan kalau Shiho tahu pertemanan mereka yang nyaris sama dengan pertemanan antara Ran dan Sonoko, namun ia tidak menyangka akan menjadi tersangka secepat ini. Ia iri terhadap Ran bukan hanya karena Shinichi lebih mencintainya, tapi juga karena Ran Mouri memiliki teman-teman yang perhatian dan peka. Kepekaan mereka sangat besar bahkan sampai bisa melihat Shiho sebagai kandidat orang ketiga di hari pertama mereka bertemu.

"Aku tahu."

Jawaban itu menyela perdebatan Ran yang berusaha meyakinkan Kazuha bahwa Shiho dan Shinichi hanya teman biasa. Hanya saja Shiho sendiri tidak berusaha untuk membenarkan pembelaan Ran kali ini. Berjeda satu detik setelahnya, ia menambahkan,

"Tidak ada yang tidak aku tahu tentang Kudo."

Perkataan itu sukses membuat Kazuha kembali melayangkan pandangan menyelidik pada pemiliknya. Namun Shiho memutuskan untuk berjalan lebih dulu keluar dari ruangan itu. Jauh di dalam nurani, Shiho ingin berteman dengan Ran karena sifatnya yang penuh perhatian membuat hati siapapun senang. Akan tetapi melihat Ran bersama Shinichi benar-benar membuatnya cemburu.

"Ngomong-ngomong, apa kau punya pacar? Aku punya banyak kenalan kalau kau belum punya." Kazuha menyamakan langkah dengan Shiho secara tiba-tiba. "Pria seperti apa yang kau suka?"

Meski tidak perlu memikirkan jawabannya, Shiho tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Samar-samar ia mendengar Kazuha dan Ran berbisik-bisik sebelum ini. Meski tidak tahu apa yang mereka bicarakan, namun Shiho yakin apapun itu pasti ada hubungannya dengan ia dan Shinichi.

"Tidak ada tipe khusus." Shiho menjawab sambil menengok samar ke arah lawan bicaranya, dan melipat lengan di depan dada. "Sejauh ini aku hanya menyukai satu orang."

"Siapa?" Kazuha dan Ran nyaris bertanya bersamaan, hanya saja suara Ran terdengar lebih pelan.

Shiho menengok Ran yang berjalan agak di belakang dan tersenyum, kemudian menjawab dengan tenang,

"Rahasia."

"Shinichi?" Suara Ran satu ini membuat langkah Shiho langsung berhenti untuk menengok gadis itu terang-terangan.

Tidak seperti dugaan awalnya, Ran Mouri tidak bicara dengannya. Gadis berambut panjang tersebut saat ini sedang menatap lurus ke depan, tepatnya ke arah lift yang baru terbuka. Shiho mengikuti pandangan Ran dan kemudian melihat pemilik nama keluar dari sana.

"Shinichi, kau kemana saja? Kenapa kau tiba-tiba pergi tanpa memberi tahuku?" Gadis itu menghambur ke arah Shinichi yang juga berjalan mendekati mereka.

"Oh itu," pemuda berjas abu-abu tersebut mengalihkan pandangan ke samping yang justru bukan pada siapapun di antara mereka bertiga. "Aku tadi kembali ke kamar duluan karena sakit perut."

Ran tersenyum menertawakan jawaban detektif muda itu, sementara Shiho mendengus pelan setelah sempat lupa cara bernapas. Untuk beberapa detik lalu ia mengira Ran menyebut nama Shinichi untuk menebak siapa orang yang Shiho sukai. Benar-benar bodoh.

"Kau juga baru selesai ganti baju?" Shinichi kali ini mengarahkan pandangannya pada Shiho.

"Mau bagaimana lagi, tadi ada orang bodoh yang tiba-tiba menyeretku ke kamar ganti, jadi aku harus menunggu sampai profesor membawakan kunci lokerku yang aku tinggal di meja pantai." Dengan sindiran telak Shiho menjawabnya, sembari menatap bosan dan menyisir rambut ke belakang telinga.

Shinichi sebagai penerimanya langsung mengumpat dalam hati. Ia kehilangan selera untuk berbasa-basi sehingga memutar langkah menuju salah satu meja restoran yang telah ditempati oleh Profesor dan Heiji sejak tadi. Tiga gadis di belakang Shinichi pun tidak membuang waktu setelahnya. Masing-masing menempati kursi di satu set meja yang sama.

"Kalian lama sekali, kami sudah hampir mati kelaparan." Heiji langsung mengeluh pada empat orang itu.

"Ini karena seseorang butuh waktu berjam-jam untuk ganti baju." Kazuha adalah yang pertama kali menjawab, tanpa lupa menuding Shiho melalui lirikan mata.

"Kazuha..." Ucap Ran pelan untuk menegurnya.

"Memang benar, kan?"

Sementara mereka sibuk berdebat sendiri, Shiho yang dijadikan kambing hitam justru melihat-lihat daftar menu dengan tenang, sama sekali tidak perduli. Ia mengangkat tangan memanggil pelayan untuk mulai memesan. Namun justru sikap tenang Shiho yang seperti itu yang berhasil membuat dua wanita lain di mejanya itu terdiam. Suara mereka tidak lagi terdengar kecuali saat ikut memesan makanan.

"Permisi, ini untuk Anda dari tuan yang duduk di sebelah sana."

Tidak lama setelah pelayan yang mencatat pesananya pergi, pelayan lain datang membawakan kue dan segelas es moccacino. Shiho menengok ke arah yang pelayan tersebut tunjuk untuk menemui seorang pria yang saat ini sedang menatap ke arahnya. Pria itu adalah Kenichi Hugo yang mengajaknya berkenalan di pantai tadi.

"Terima kasih." Ucap Shiho pada pelayan itu.

"Oe, oe... dia benar-benar pantang menyerah.." Suara itu datang dari seberang meja Shiho, tepatnya dari Shihichi.

"Yah, setidaknya dia tahu cara menghargai seorang wanita." Shiho menyempatkan diri membalas sebelum mencicipi kue itu sesuap.

"Yang benar saja?" Shinichi kembali berkomentar, kali ini sambil mendengus sebal. "Apa kau pernah menghitung berapa kali aku mentraktirmu atau membelikanmu sesuatu? Lalu berapa kali aku menyelamatkanmu? Aku bahkan berkali-kali hampir mati gara-gara melindungimu."

Shiho tidak menyangka Shinichi sampai mengungkit hal seperti itu meski memang benar perkataannya tadi untuk menyindir. Tapi tujuannya hanya bercanda. Shiho tahu Shinichi menghargainya, terlebih akhir-akhir ini setelah perasaannya diketahui oleh pemuda itu. Kenapa juga dia sampai marah-marah?

"Baiklah, di dunia ini kaulah yang paling menghargaiku. Puas?" Kali ini Shiho membalas tak kalah emosi.

"Tidak!" Jawab Shinichi lagi yang sepertinya memang ingin membuat kegaduhan. "Berikan kue dan kopi itu padaku."

Shiho berpikir untuk melemparkannya ke wajah Shinichi saja kalau bisa. Tapi hal itu akan membuat kegaduhan yang lebih besar dan mempermalukan dirinya sendiri. Dengan kesal akhirnya gadis ini meletakkan sendok di tangannya ke meja, baru setelah itu memberikan kue dan kopi di depannya pada Shinichi.

Hal berikutnya benar-benar tidak dapat Shiho percaya. Awalnya ia mengira pemuda itu akan memakannya, namun ternyata Shinichi membawa kue dan kopi pemberiannya ke sudut ruang restoran kemudian membuangnya ke tempat sampah yang ada di sana.

Dengan senyum puas detektif bodoh itu kemudian kembali ke meja dan duduk tanpa rasa bersalah.

"Shinichi, apa yang kau lakukan?" Tentu saja, itu bukan pertanyaan yang datang dari Shiho, Ran adalah yang mengatakannya.

Hanya saja kali ini Shinichi tidak menjelaskan. Tidak mau menjelaskan. Karena hanya dia dan Shiho sendiri yang tahu peperangan macam apa yang sedang mereka lakukan.

"Aku mengerti sekarang." Shiho yang sejak tadi diam menatap senyuman Shinichi, kini berdiri.

Sekarang Shiho tahu kenapa Shinichi Kudo sampai marah-marah hanya karena sindiran itu. Jadi sebenarnya pemuda ini masih kesal karena apa yang Shiho lakukan di pantai tadi. Kalau begitu masalahnya, ia justru akan membuatnya semakin kesal lagi.

Saat itu juga, Shiho berjalan ke tempat Kenichi dan menyapanya. Ia memperkenalkan diri sekaligus berterima kasih atas apa yang pria muda itu kirimkan. Dan semua itu dilakukannya tepat di depan mata Shinichi yang sejak tadi terus mengawasi.


(Kamar 601, Hotel K3.)

"Jadi kau menyadarinya saat berada di kolam renang karena bagian luar berangkas itu mirip dengan panel tenaga surya?"

"Hm..."

"Kalau begitu, apa kau berpikir untuk menggunakan matahari buatan di kolam renang untuk membuktikannya nanti malam?" Heiji berhenti untuk beberapa detik. "Kudo?"

Shinichi Kudo yang duduk di atas ranjangnya terlihat berpikir, namun Heiji tidak yakin jika temannya itu sedang memikirkan masalah pekerjaan. Seraya mendekat pemuda berkulit gelap itu mengayunkan tangan di depannya.

"Oh... iya." Akhirnya pemuda yang satu lagi membalas meski terlambat.

"Apa yang kau pikirkan barusan?" Tanya Heiji sedikit kesal sambil berkacak pinggang di depannya.

"Bukan apa-apa." Shinichi menghindari tatapan temannya itu dengan membaringkan diri di atas ranjang.

"Bukannya aku tidak menyadarinya..." Heiji berkata lagi. Nadanya yang mengambang seperti akan meneruskan bicara, membuat Shinichi menatapnya kali ini. "Awalnya aku hanya tidak mau ikut campur, tapi sikapmu benar-benar aneh sejak kakak itu datang. Bahkan Kazuha bercerita padaku kalau Kak Ran cemburu melihat kalian."

Mendengar semua itu, Shinichi malah memalingkan matanya untuk menatap ke langit-langit kamar. Ia tahu kenyataan itupun tidak ada yang bisa dilakukannya. Bagaimana pun sejak awal Shinichi tahu bahwa Shiho mulai mencuri tempat di hatinya, dan ia sendiri yang membawanya pulang dengan memberikan harapan jika mungkin suatu hari perasaannya bisa berubah. Ia sudah tahu akibatnya dan siapa yang akan terluka jika itu terjadi. Satu hal yang tidak Shinichi prediksi adalah bagaimana cara Shiho mengalihkankan semua perhatiannya sampai-sampai ia sulit untuk mengabaikan keberadaan gadis itu bahkan di depan pacarnya sendiri.

Benar juga, Shinichi tidak memprediksi hal ini karena di dalam pikirannya saat itu Shiho Miyano adalah Ai Haibara, gadis kecil yang hanya ia pandang sebagai partnernya. Saat itu ia tidak pernah tahu bahwa Shiho memiliki cara untuk menarik perhatiannya karena sebagai Haibara gadis itu selalu memendam perasaannya. Saat sebagai Haibara pula Shinichi tidak pernah merasa cemburu saat anak-anak SD Teitan mendekati gadis itu karena tahu tidak mungkin gadis itu akan jatuh cinta pada anak-anak. Sedangkan sekarang, Shiho Miyano adalah wanita dewasa. Melihatnya mengenakan bikini saja Shinichi tidak dapat mencegah matanya untuk tidak melirik, apalagi saat gadis itu memancing kecemburuannya.

"Kudo?"

"Aku tahu!" Ia menjawab sebelum membangunkan diri. "Tidak perlu khawatir, otakku masih waras. Lagi pula sebagai seorang pria aku tidak akan melanggar komitmenku."

Heiji menaikkan alis mempertanyakan kata terakhir yang temannya ini sebutkan. Jika yang Shinichi pertahankan hanya komitmennya, sebenarnya bagaimana dengan perasaan pemuda itu sendiri?

"Sebagai bukti, aku akan mengajak Ran jalan-jalan." Shinichi menambahkan seraya berjalan ke pintu.

Melihat hal itu, Heiji hanya menggelengkan kepala sebelum mengikuti Shinichi keluar dari kamar. Pemuda ini memutuskan tidak menyuarakan pertanyaan dan melihat saja apa yang akan terjadi. Meskipun, jika benar kecurigaannya, Heiji sendiri tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

"Kau mau kemana?"

"Hah?" Heiji mendongak, diteruskan dengan menengok kemana Shinichi mengarahkan matanya.

Pertanyaan yang sempat ia kira ditujukan padanya itu, ternyata di tujukan pada Shiho Miyano yang baru saja keluar dari kamar.

"Kenichi memintaku memeriksa anjingnya." Shiho membalas seraya menutup pintu.

"Itu pasti hanya akal-akalannya saja agar dia bisa bertemu denganmu." Jawaban Shinichi diselesaikan dengan sebuah dengusan.

"Aku akan tahu kalau sudah melihatnya. Lagi pula ini masalah antara hidup dan mati seekor anjing, mana bisa aku mengabaikannya hanya karena pemiliknya terlihat mencurigakan?" Sambil melipat tangannya di depan dada, gadis itu menjawab malas-malasan.

"Kalau begitu aku akan ikut melihatnya."

Heiji yang sejak tadi diam memperhatikan dari belakang, sudah memprediksikan bahwa Shinichi pasti merubah tujuannya saat tahu kemana Shiho akan pergi. Benar-benar kebetulan yang tidak tepat sama sekali.

"Aku juga ikut." Kata Heiji saat berjalan ke samping Shinichi.

Shiho Miyano menatap keduanya secara bergantian. Rasanya memang sedikit berlebihan ia membawa dua pemuda sekedar untuk memeriksa anak anjing. Tapi ia juga tidak megundang mereka kan?

"Terserahlah." Pada akhirnya Shiho tidak ambil pusing kemudian berjalan ke arah lift lebih dulu.

###

(Kamar nomer 707, Hotel K3.)

Shiho Miyano benar-benar datang menemui Kenichi bersama Shinichi dan Heiji, dan membuktikan bahwa benar ada seekor anjing yang sedang sakit di sana. Shiho sekedar memberikan antibiotik pada anjing berjenis Chihua-hua itu dan mencatatkan nomer telpon dokter hewan yang dikenalnya, karena sebagai seorang mahasiswa, ia belum memiliki wewenang untuk melakukan pengobatan.

"Terima kasih banyak, Shiho." Kenichi menyampaikan ungkapannya sambil menggendong anjing kecil itu, dan mengantar Shiho beserta dua temannya ke depan pintu.

"Tidak perlu, sebenarnya aku juga tidak melakukan apa-apa." Shiho tersenyum menatap anjing kecil berwarna hitam di pelukkan Kenichi, mengusapnya pelan dan penuh kasih sayang.

Bagi Shiho pribadi, hewan-hewan kecil yang dipelihara manusia itu seperti dirinya di masa lalu yang tidak bisa hidup bebas, namun juga kesulitan bertahan hidup jika melarikan diri. Atas dasar perasaan itulah ia ingin menjadi dokter bagi mereka. Ia ingin menjaga mereka dan memastikan, meski menjadi peliharaan, hewan-hewan itu tetap menjalani hidup dengan selamat.

Seperti... Shinichi dan Profesor Agasa yang memungutnya dan selalu menjaganya.

"Ada apa ini?"

Pertanyaan itu menyentak kenangan Shiho, membuatnya dan yang lain menengok ke sumber suara yang berasal dari lorong.

"Oh, Keiko." Kenichi yang satu-satunya menjawab karena hanya dia yang mengenal wanita muda itu. "Tidak ada apa-apa, Elish hanya kurang sehat, tapi Shiho sudah memeriksanya."

"Oh, Elish kau baik-baik saja?" Dengan cepat wanita muda itu menghampiri Kenichi dan mengusap-usap anjing kecil di pelukkannya. "Jadi kau Shiho yang terus dibicarakan Kenichi sejak kemarin ya?"

"Jangan seperti itu, kau membuatku malu." Sahut Kenichi cepat-cepat.

"Aku tahu kau menyukainya." Keiko menatap pria muda itu sebelum kembali memandang Shiho yang masih diam di depan keduanya. "Jadi, apa kau menyukai Kenichi juga?"

Untuk sesaat Shiho menatap mereka berdua secara bergantian. Tapi waktu yang diperlukan Shiho untuk menerka maksud dibalik pertanyaan itu, justru memberi kesempatan bagi pemuda di belakangnya untuk menimpali.

"Shiho menyukai pria lain."

Dengan pelan Shiho menengok, menemui seringaian Shinichi yang lebar nan menyebalkan.

"Maaf, kami harus permisi dulu." Shiho mengabaikan pemuda detektif itu kali ini untuk segera mengundurkan diri.

Kepergiannya tentu saja diikuti Shinichi dan Heiji seperti boyguard. Mereka menaiki lift untuk kembali ke kamar yang berada di lantai sebelas yang tepat berada di bawah lantai ini. Saat itulah, Shiho mulai mengungkap kekesalannya.

"Apa maksudmu mengatakan hal seperti itu?" Shiho yang berdiri di bagian paling depan menatap Shinichi melalui pantulan pintu lift.

"Apa? Aku hanya menyampaikan kebenaran agar dia tidak besar kepala." Tanpa rasa bersalah pemuda itu menjawabnya.

Shiho menengok agar dapat melihat Shinichi dan memberikannya tatapan tajam secara langsung. Hanya saja tatapannya tidak menghasilkan apapun. Melihatnya membuat pemuda tersebut tersenyum semakin lebar. Malah setelah itu, Shinichi menarik lengannya dan membuat mereka saling berhadapan. Sembari mendekatkan diri, Shinichi berbisik di dekat telinganya,

"Kau menyukaiku, dan itulah kebenarannya..."

Heiji yang menyaksikan semua itu hanya diam karena tidak yakin harus melakukan apa, bahkan tidak tahu apa yang mereka berdua bicarakan. Namun pintu lift yang terbuka membuat pemuda Osaka ini harus rela ikut campur. Ia memanggil nama marga dari teman detektifnya itu, membuat Shinichi mendongak dan melihat sosok Ran dan Kazuha yang berdiri di depan pintu.

#7


Note: ah saya akhirnya juga melanjutkan ini, meski masih sama absurdnya dengan chapter lain. Tapi saya sudah mengingatkan sebelumnya kalau fict ini akan menjadi fict pelampiasan, dimana plot dan tingkah-tingkah karakternya akan saya buat sesuka hati. Tapi saya masih berharap dan berusaha agar fict ini tidak terlalu absurd sehingga bisa dinikmati teman-teman sekalian.

Terima kasih sudah membaca, dan terima kasih banyak sudah meninggalkan review! Saya selalu membaca review meski tidak pernah membalas, karena kadang saat mau membalas juga bingung membalas gimana, tapi sebenarnya saya sangat senang menerima review dari kalian! Terima kasih! Terima kasih!