[Antagonist]

NCT belongs to themselves

"Antagonist" belongs to Lexa Alexander

Inspired by: Caste Heaven by Chise Ogawa

Main Pair: TaeTen

Other Pair: JaeDo, JohnIl


Bau obat-obatan langsung tercium begitu Taeyong membuka pintu ruang kesehatan. Ten mengernyitkan dahi begitu bau obat-obatan menyeruak masuk ke hidungnya –baunya seperti rumah sakit, dan Ten tidak pernah menyukai rumah sakit. Namun karena ini bukan rumah sakit, Ten tidak terlalu mempermasalahkannya. Lagipula, Ten beberapa kali membolos kelas dan tidur di ruang kesehatan. Ranjang di ruang kesehatan sangat empuk dan nyaman. Ten menyukainya.

Ten duduk di pinggir salah satu ranjang ruang kesehatan. Berada di paling ujung, dekat dengan jendela yang menghadap langsung ke halaman depan sekolah. Sebelum duduk, Ten membuka jendela itu dan membiarkan udara segar masuk, mengurangi bau obat-obatan di ruang kesehatan.

Tidak lama kemudian Taeyong datang dengan kompres dingin di tangannya. Ten mengambil kompres itu dari tangan Taeyong dan langsung mengompres lukanya. Rasanya dingin sekali –enak.

Taeyong duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang yang diduduki Ten, berhadapan dengan Ten yang sedang memejamkan matanya menikmati kompres dingin yang menyentuh luka di pipinya, membelakangi jendela yang terbuka lebar. "Sepertinya bekas tamparan Serim tidak akan sampai lebam, Ten." Taeyong berkomentar, kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Duduk dengan santai menikmati angin sepoi-sepoi yang sedikit menerbangkan anak rambutnya.

Mendengar komentar Taeyong, Ten mengerucutkan bibirnya kesal. "Tapi ini sakit sekali ..." Ten mengadu, belum puas kalau belum menjelek-jelekkan Serim hingga perempuan itu putus asa. Ten ingin melihat Serim dengan wajah putus asa, ingin melihat perempuan itu menyerah untuk melanjutkan hidupnya.

"Aku sudah membalasnya, Ten. Berkali-kali lipat dari yang kau terima."

Melihat Ten yang sedang mengompres lukanya membuat Taeyong teringat Serim yang dengan berani menampar Ten. Taeyong menggeram, masih kesal karena kejadian barusan. Jujur saja Taeyong belum puas hanya dengan menampar Serim –perempuan itu membuat Ten-nya terluka, dan tamparan Taeyong tadi jelas belum cukup untuk menghukum Serim. Taeyong ingin melihat Serim yang tersiksa, yang bersujud memohon kesempatan hidup padanya, dan Taeyong belum puas jika Serim belum melakukannya.

"Kurang." Ten merajuk seperti anak kecil yang ingin dibelikan es krim lagi setelah es krimnya yang kedua.

"Aku tahu. Aku juga belum puas." Taeyong mengulum senyum gemas, kemudian menepuk kepala Ten dan mengusaknya lembut.

Ten mendengus setelah Taeyong berhenti mengusak rambutnya. "Lain kali kita harus lebih kejam lagi."

"Iya, iya."

Setelah itu hening. Ten kembali menikmati kompres dinginnya dan Taeyong memejamkan matanya merasakan angin sepoi-sepoi yang membuatnya sedikit mengantuk. Dalam kepalanya, kalimat terakhir Ten terus terulang-ulang. Kita harus lebih kejam lagi. Taeyong tidak tahu apa yang membuat kalimat Ten terus terngiang –ada yang mengganjal, ada yang membuatnya teringat akan sesuatu.

"Ten," panggil Taeyong, yang dibalas Ten dengan gumaman tidak jelas. "Di setiap cerita, tokoh antagonis seperti kita akan berakhir menyedihkan," kata Taeyong, menatap Ten yang balas menatapnya. "Entah itu gagal mencapai tujuannya, mendapat karma, atau pergi."

"Lalu?" tanya Ten, namun Taeyong tidak menjawabnya. Taeyong tahu Ten masih ingin melanjutkan ucapannya. "Aku tidak ingin itu terjadi," mulai Ten, "Aku tahu, dalam kehidupan Park Serim, kita adalah tokoh antagonisnya. Jelas sekali. Tapi aku tidak ingin kisah ini berakhir seperti kebanyakan cerita yang ada." Jeda sejenak karena Ten yang meletakkan kompresnya di baskom yang ada di meja nakas, kemudian kembali menatap Taeyong yang duduk berhadapan dengannya, bertukar pandangan. "Dengar, hyung. Di akhir cerita, aku tidak ingin meminta maaf dengan berurai air mata pada Serim. Aku juga tidak ingin berakhir dengan berdamai dengan Serim kemudian menjadi teman baiknya lagi. Aku tidak ingin mendapat karma atas apa yang aku lakukan sekarang –kalimat 'roda selalu berputar, seperti kehidupan' tidak berlaku untukku, hanya sekali aku berada di bawah dan seterusnya aku akan selalu berada di atas. Aku juga tidak ingin di akhir cerita nanti salah satu dari kita atau kita berdua pergi. Kita tidak akan mendapat akhir yang seperti itu. Tidak akan."

Taeyong mendengar baik-baik apa yang dikatakan Ten. Apa yang dikatakan laki-laki manis itu memang benar –Taeyong juga memikirkan hal yang sama. Mereka tidak akan berakhir seperti tokoh antagonis dalam cerita pada umumnya. Mereka tidak sama, dan tidak ingin disamakan. Mereka akan membuat akhir yang berbeda, dimana mereka tertawa dengan puas, tidak meratapi nasib buruk yang menimpa mereka atau malah berbaikan dan meminta maaf pada protagonis atas kesalahan apa yang mereka perbuat sebelumnya.

Seulas senyum tercipta di bibir Taeyong. "Jadi, menurutmu, ini adalah karma untuk mereka? Atas apa yang mereka lakukan dulu?" tanyanya.

"Tentu saja."

Ucapan Ten yang sebelumnya seolah mengenyahkan pikiran-pikiran negatif yang merasuki pikiran Taeyong. Ten menenangkannya, Ten menghiburnya, dan Ten memberinya energi positif yang selalu dibutuhkannya selama ini. Ten juga yang memberinya kekuatan untuk melanjutkan hidup ketika dirinya berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Ten memberinya energi untuk melanjutkan hidup. Taeyong bisa bernafas saat ini pun karena Ten –seolah Ten adalah hidup Taeyong.

Sesaat kemudian Taeyong beranjak dari duduknya dan langsung menarik Ten ke dalam dekapannya. Taeyong mendekap Ten erat seolah-olah Ten akan menghilang jika Taeyong tidak mendekapnya seerat mungkin. Taeyong mendekatkan mulutnya pada telinga Ten, berbisik pada laki-laki yang lebih kecil itu dengan pelan, "Aku berharap kau tidak meninggalkanku, Ten."

Ten terdiam untuk beberapa saat, kemudian membuka mulutnya untuk berbicara sebelum akhirnya dia memutuskan untuk menutup mulutnya lagi karena Taeyong melanjutkan ucapannya.

"–dan aku berharap aku tidak meninggalkanmu." []


.

.

.

next chap 3K+ words, jadi chap ini segini dulu yak. hwhwhwhwhwhwhw :3