[Chapter 26]
"Dia baik-baik saja?"
Kai bertanya langsung pada Chanyeol yang sedang berdiri dengan gelisah di depan Ruang Pemeriksaan, setibanya ia di Rumah Sakit. Ya, Kai baru saja mendapatkan kabar bahwa Baekhyun jatuh pingsan dan dilarikan ke Rumah Sakit oleh sang Ayah.
Awalnya, Kai tidak mengerti kenapa Baekhyun dilarikan ke Rumah Sakit padahal ia yakin betul bahwa Baekhyun memiliki kesehatan yang bagus. Namun melihat reaksi Chanyeol seperti ini, mau tidak mau membuatnya ikut sedikit khawatir.
"Entahlah, dia tiba-tiba demam dan jatuh pingsan," jawab Chanyeol.
Kai menunduk memikirkan sesuatu. Ujung matanya melirik ke arah Chanyeol dan tidak bohong, ia menaruh sedikit curiga terhadap Lelaki itu.
"Kau tidak melakukan hal yang macam-macam terhadapnya kan?" tanya Kai.
"Apa maksudmu?" tanya Chanyeol tidak terima atas tuduhan Kai padanya.
"Aku tidak bersama Baekhyun seharian ini. Dan aku pikir, ia bersamamu. Jadi, siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas semua ini?" sindir Kai.
Ya, Kai benar. Sepanjang hari ini, ia mengurus pekerjaan dan menghadiri Rapat Perusahaan Kim Suho bersama Kyungsoo.
"Jadi kau berpikir bahwa akulah penyebab Baekhyun sakit?"
Kai hanya mengangkat bahunya acuh. "Maksudku… kau terlalu memforsir pekerjaannya. Kau bahkan lupa bahwa dia hanyalah seorang Bocah."
Chanyeol menghela nafasnya. Ia tahu semua ini adalah kesalahannya. Dan ia memang pantas disalahkan saat ini oleh Kai.
"Aku tidak memiliki pilihan lain," lirih Chanyeol.
Tak lama, pintu Ruangan Pemeriksaan Baekhyun terbuka, dan menunjukkan seorang Dokter laki-laki paruh baya. Dokter tersebut berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi pada Baekhyun.
"Bagaimana keadaan Puteraku?" tanya Chanyeol cepat. Kai pun menunggu jawaban dari Dokter tersebut.
"Putera anda hanya kelelahan. Sepertinya ia sering melewatkan jam makannya, dan jadwal tidurnya pun berantakan. Kuharap anda bisa lebih memperhatikan aktivitasnya," jelas sang Dokter.
Chanyeol mengangguk dan Kai nampak hendak mengeluarkan suaranya.
"Apakah Baekhyun akan baik-baik saja jika ia beristirahat dengan cukup?" tanya Kai. Sang Dokter mengangguk.
"Sepertinya, kondisi pikirannyalah yang mempengaruhi kesehatannya. Baekhyun nampak tertekan dan itu tidak bisa dibiarkan terus berlanjut," ucap sang Dokter.
"Baiklah, terima kasih," ucap Kai sambil membungkuk sopan pada Dokter tersebut, dan membiarkan Dokter itu beranjak dari hadapan mereka.
Tanpa mengeluarkan satu patah kata pun, Chanyeol memasuki Ruangan Baekhyun untuk memastikan kondisi Baekhyun. Namun belum sempat ia masuk, ia lebih dulu ditahan oleh Kai. Sontak ia melemparkan tatapan marahanya pada Kai.
"Kau dengar apa kata Dokter tadi?" tanya Kai.
Chanyeol tidak menjawab dan membiarkan Kai melanjutkan kalimatnya.
"Kau telah membuat Baekhyun tertekan dengan kehadiran Luhan di Mansion kau menyadari itu, Park Chanyeol?" sindir Kai.
"Apa maumu?" tanya Chanyeol cepat.
Kai tersenyum kecil. "Biarkan aku yang berbicara padanya. Kau memanglah Ayahnya, tapi… kau tidak mengerti bagaimana perasaannya."
Tubuh Chanyeol mematung, dan ia hanya melihat kepergian Kai yang mulai memasuki Ruangan Baekhyun.
Cklek
Pintu itu terbuka. Mata Kai langsung menangkap sosok Baekhyun yang tengah terbaring di atas tempat tidur. Baekhyun sudah membuka matanya, meskipun kondisinya masih lemah, tetapi ia berusaha untuk menyambut kehadiran Kai.
"Bagaimana kondisimu? Apa yang menyebabkanmu menjadi seperti ini?" tanya Kai. Lelaki tampan itu mendudukkan tubuhnya di kursi samping tempat tidur Baekhyun.
Dengan hati-hati, ia meraih tangan Baekhyun lalu mengusap lembut punggung tangan Bocah manis tersebut.
Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Entahlah. Kepalaku tiba-tiba terasa pusing, dan aku merasa sangat cemas. Aku tidak tahu apa yang salah pada diriku," lirih Baekhyun.
"Apa kau masih mempermasalahkan Pernikahan Ayahmu dengan Luhan?" tanya Kai.
Baekhyun mengangguk. "Bisa dikatakan seperti itu. Aku… merasa kehilangan Ayah."
Kai mengusap rambut Baekhyun dengan sayang. "Baekhyun, kau sangat berarti bagiku dan juga Ayahmu. Kau sangat berharga. Maka, hargailah kesehatanmu. Jika kau memiliki masalah, kau bisa bercerita padaku."
Baekhyun berusaha untuk bangkit terduduk, lalu setelahnya, ia menggenggam tangan Kai bermaksud agar Kai mendekat ke arahnya. Setelah Kai menuruti permintaannya, dengan cepat Baekhyun menubrukkan bibirnya pada bibir Kai dan menyesap bibir itu dengan dalam. Baekhyun memejamkan matanya selama ciuman itu berlangsung. Setelahnya, dengan perlahan ia melepaskan ciuman itu dan melemparkan senyumannya pada Kai.
Lambat laun senyuman itu berubah menjadi tawaan. Nyatanya Baekhyun tengah menertawai dirinya saat ini.
"Sebenarnya kita ini apa? Kita berpelukan, saling berciuman dan bahkan… bercinta. Kau pun selalu ada di saat masa-masa tersulitku. Tuan Kim Jongin… tidakkah kau bisa menganggapku lebih? Aku menginginkanmu. Benar-benar menginginkanmu," ucap Baekhyun dengan tulus.
Sementara dari luar pintu, Chanyeol menyaksikan semuanya dan meremas kedua tangannya sendiri. Hatinya sangat sakit melihat Baekhyun nampak begitu menginginkan Kai. Bukannya dirinya. Ia tidak dapat menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini.
"Ayah sudah menikahi Luhan. Dan aku tidak memiliki harapan lagi," lanjut Baekhyun.
"Kau tidak mencintaiku, Baekhyun. Kau tidak bisa membohongi dirimu sendiri," ucap Kai.
"Tapi aku membutuhkanmu, Kai!" elak Baekhyun.
Kai menggelengkan kepalanya. "Datangilah Ayahmu jika kau memiliki masalah. Tugasku hanya mengawasimu mulai saat ini. Tidak lebih."
Baekhyun merasa hatinya remuk setelah mendengar ucapan Kai. Benarkah Kai tidak membiarkannya untuk menjadi bagian dari hidupnya?
"Aku tidak bisa menandingi kesempurnaan Park Chanyeol," lanjut Kai.
Kai beranjak bangkit dari kursinya, setelah sebelumnya ia mengusak lembut surai lembut milik Baekhyun. Ia melemparkan senyuman terhangatnya untuk Bocah manis itu. Sepertinya ia sudah memilih jalan terbaik untuk kejelasan hubungannya dengan Baekhyun. Baekhyun sudah lebih dulu menjadi milik Ayahnya. Dan ia tidak mau mengambil resiko jika merebut sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain.
Baekhyun menatap sendu kepergian Kai, terlebih saat pintu Ruangan itu tertutup dan Kai menghilang di baliknya. Baekhyun tidak mampu menyembunyikan airmatanya. Perasaannya merasa sedih. Sedih berkali-kali lipat.
Sekeluarnya ia dari Ruangan Baekhyun dirawat, ia melihat sosok Chanyeol yang masih berdiri mematung tak jauh dari pintu. Ia berusaha untuk menjelaskan apa yang barusan ia lakukan terhadap Baekhyun. Ia benar-benar tidak bermaksud untuk merampas Baekhyun darinya.
"Bicarakan hubunganmu dengan Luhan yang sebenarnya pada Baekhyun. Jangan gunakan nada bicara yang tinggi padanya. Baekhyun hanya mengharapkan cinta dan perhatian darimu, tidak lebih. Kau harus memahami perasaannya, Park."
Tanpa mengatakan apapun, Chanyeol segera memasuki Ruangan Baekhyun untuk melakukan apa yang Kai perintahkan. Ia mencoba untuk lebih tenang dalam menghadapi situasi ini. Karena hanya Baekhyun yang ia miliki. Dan ia tidak mau menyakiti atau bahkan opsi terburuk, yaitu kehilangan Putera satu-satunya tersebut.
"Baekhyun…" gumam Chanyeol.
Baekhyun nampak terkejut oleh kehadiran Chanyeol. Lain daripada itu, apakah Ayahnya tersebut melihat apa yang barusan ia lakukan dengan Kai?
"A-ayah?"
Chanyeol menduduki kursi yang sebelumnya diduduki oleh Kai. Ia meraih tangan mungil Baekhyun lalu mengecup punggung tangan itu lembut.
"Kau telah membuat Ayah khawatir," Chanyeol nampak ingin meneteskan airmatanya. Namun dengan sekuat tenaga ia menahannya.
"M-maafkan aku, Ayah…"
"Ayah yang seharusnya meminta maaf. Ayah telah bersikap egois padamu."
Baekhyun menangkup wajah sang Ayah dan menatapnya dengan dalam. Debaran yang ia rasakan pada sang Ayah, terasa berbeda dengan yang ia rasakan pada Kai.
"Ayah… aku mencintaimu."
Katakanlah jiwa Baekhyun sedang sedikit terguncang saat ini. Beberapa menit yang lalu, ia mengatakan bahwa ia menginginkan Kai. Namun kali ini, ia mengatakan bahwa ia mencintai sang Ayah. Apa yang salah pada dirinya?
"Apa kau begitu menginginkan sosok Kai di kehidupanmu?" tanya Chanyeol.
"Aku… tidak tahu," lirih Baekhyun.
"Bisakah kau membutuhkan Ayah seperti kau membutuhkan Kai?"
Baekhyun tidak suka mendengar sang Ayah yang mulai membandingkan dirinya dengan Kai.
"Aku hanya membutuhkan perhatian dari Ayah. Sosok Ayah yang menemani hari-hariku dan menjadi satu-satunya tempat untukku berbagi keluh kesah. Bisakah kau melakukan hal itu untukku, Ayah?" pinta Baekhyun.
"Haruskah Ayah menceraikan Luhan?"
Deg!
Tubuh Baekhyun mendadak kaku. Kedua tangannya yang menangkup wajah Chanyeol pun perlahan terlepas.
"Lebih baik Ayah kehilangan segalanya daripada Ayah kehilanganmu. Kau lebih berharga dari segalanya, Park Baekhyun."
Baekhyun tidak ingin sang Ayah mengucapkan kalimat apapun lagi, lalu dengan perlahan ia melingkarkan lengannya di leher sang Ayah dan memeluknya dengan sangat erat.
"Aku baik-baik saja Ayah. Aku mencintai Ayah. Dan perasaan itu tidak akan pernah berubah," bisik Baekhyun.
Chanyeol melepaskan pelukan hangat itu, dan dengan cepat menarik dagu Baekhyun dan menyatukan bibir mereka dengan dalam. Ia tidak perduli jika bibir ini baru saja dikecup oleh orang lain. Karena yang ia yakini saat ini…
Baekhyun adalah miliknya.
"Ayah juga mencintaimu, sayang."
.
.
.
"Sehun, apa yang membuatmu pulang terlambat malam ini?"
Hangeng; Ayah Sehun, menyambut kedatangan sang Putera di Ruang tengah. Baru kali ini ia mendapati Sehun pulang hingga larut malam. Jadi, sudah sewajarnya ia bertanya demikian pada sang Putera.
"Setelah menemani Ibu di Rumah Sakit, aku mengerjakan tugas Sekolahku di Rumah salah seorang Teman," jawab Sehun asal.
"Hingga selarut ini? Terlebih kau tidak mengabari Ayah sama sekali."
"Maafkan aku, Ayah."
Hangeng menghela nafasnya tidak ingin berdebat dengan sang Putera. Ia pun lelah karena seharian bekerja.
"Baiklah, jangan diulangi lagi dan segera ke Kamarmu."
"Baik, Ayah."
Sehun melangkah menuju ke Kamarnya dengan tatapan yang kosong. Pikirannya berkecamuk memikirkan tentang apa yang terjadi padanya beberapa saat lalu. Ia tidak menyangka akan mengalami hal semacam itu. Terlebih bersama seseorang yang sangat asing baginya.
"Aku bisa mati jika Paman Park Chanyeol mengetahui hal ini."
[Flashback]
"Apa kau keberatan jika aku menginginkan hal yang lebih dari sekedar ciuman saat ini?"
Sehun terdiam sejenak mencoba untuk memahami perkataan Luhan barusan. Apa yang Luhan maksud dengan menginginkan hal yang lebih? Apakah Luhan memintanya untuk menyetubuhi Lelaki cantik itu?
Tidak. Ia tidak mungkin melakukan hal tersebut pada Luhan.
"Aku pikir… kau sedang mabuk. Bukankah akan lebih baik jika aku mengantarmu kembali ke Mansion Paman Park Chanyeol?" elak Sehun. Jantungnya berdebar tak karuan saat ini. Ia berusaha keras untuk menolak permintaan Luhan tersebut.
Luhan menggelengkan kepalanya cepat. "Aku tidak mau melihatnya bercinta lagi dengan Baekhyun."
"Tapi kau harus–"
Sehun tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena ia merasakan tangan Luhan meremas kuat miliknya di bawah sana. Bodohnya, ia terbawa oleh ciuman panas yang dilakukan oleh Luhan terhadapnya saat ini.
Aroma alkohol jelas dapat Sehun rasakan menguar dari bibir Luhan. Luhan benar-benar mabuk, dan sepertinya Lelaki cantik ini tidak dapat mengendalikan pikirannya.
Sehun berusaha untuk menjauhkan tangan Luhan dari miliknya. Ia pun mengakhiri ciuman itu dan tidak memperdulikan tatapan protes dari Luhan. Ia bangkit duduknya, namun tangan Luhan menahannya. Mau tidak mau, ia menatap Lelaki cantik itu kembali.
"Bukankah kau mengatakan bahwa kau tertarik padaku?" tanya Luhan.
Belum sempat Sehun menjawab, Luhan mengeluarkan ponselnya terlihat sedang memesan sesuatu. Tak lama, ia kembali menatap Sehun namun kali ini lengkap dengan senyuman manisnya.
"Aku sudah menyewa sebuah Kamar di Club ini untuk kita."
Apa?
Apakah Luhan serius dengan apa yang ia katakan?
"Kamar nomor 20."
"Lebih baik aku mengantarmu ke Mansion," ulang Sehun.
"Tidak. Aku tidak–ugh!"
Luhan membekap mulutnya sendiri karena hendak muntah. Satu tangannya yang lain, ia gunakan untuk memegangi perutnya dan Sehun menyadari hal itu. Sehun mendesah keras. Mau tidak mau ia meraih tubuh Luhan untuk memastikan kondisi Lelaki cantik itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sehun.
Luhan menggelengkan kepalanya karena ia tidak bisa menjawab. Terpaksa Sehun membawa Luhan ke Kamar yang Luhan sebut tadi. Bukan untuk bercinta dengan Luhan, tetapi memastikan Luhan beristirahat di sana.
Dan di sinilah mereka berada. Di Kamar nomor 20, yang bisa terbilang mewah meskipun ukurannya tidak terlalu besar. Tetapi benda-benda di Kamar ini nampak mewah dan terdapat satu Kamar mandi di dalamnya.
Luhan segera berlari ke Kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya di closet. Sehun memperhatikan Luhan dari celah pintu luar Kamar mandi tersebut dan menunggunya sambil duduk di atas tempat tidur. Tak lama, Luhan bangkit berdiri dengan perlahan dan menghampiri Sehun.
Lelaki cantik itu terduduk di sampingnya dan Sehun masih bertahan dengan keterdiamannya.
"Kau benar. Aku bukanlah seorang peminum. Aku bahkan sangat membenci rasa dari minuman itu," ucap Luhan sedikit dengan tawanya.
Sehun memperhatikan Luhan dari ujung rambut hingga ujung kaki, dan pandangannya terhenti pada wajah cantik Luhan. Ia pandangi wajah itu lamat-lamat seperti orang yang sedang terhipnotis. Hingga tanpa sadar satu tangannya terangkat untuk menarik dagu Luhan agar Lelaki cantik itu menatapnya.
"Jangan menangis, okay?" gumam Sehun. Ia menghapus lelehan airmata Luhan, lalu sedetik kemudian ia menyatukan bibir mereka.
Luhan kembali terbuai oleh ciuman Sehun dan tidak banyak yang dapat diperbuatnya selain menerima ciuman manis ini. Di tengah ciuman mereka, Luhan tersenyum merasa senang karena ia berhasil membawa Sehun pada suasana yang cukup intim. Terbukti Bocah ini menciumnya dengan tiba-tiba dan tidak menolaknya lagi.
Sehun menutup rapat kedua matanya menikmati bibir Luhan yang sedang dilumatnya. Menikmati degupan keras di jantungnya, dan tanpa sadar ia membawa Luhan untuk berbaring di atas tempat tidur yang mereka duduki. Kini ia sudah berhasil mengunci tubuh Luhan di bawahnya. Tak hentinya ia mengecupi seluruh permukaan kulit Luhan, wajah hingga leher, tak luput dari jejak bibirnya.
Mungkin ia akan menyesali apa yang sedang diperbuatnya saat ini bersama Luhan. Namun apa mau dikata? Semuanya sudah terlambat, dan ia tidak dapat menghentikan dirinya untuk tidak menyentuh Luhan. Luhan terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja.
Dengan berdasarkan nalurinya, Sehun mulai melepaskan satu persatu pakaian yang Luhan kenakan maupun pakaiannya sendiri. Setelahnya, ia kembali melumat bibir Luhan, bermain-main dengan lidahnya hingga tak sedikit benang-benang saliva yang tercipta akibat ciuman panas itu.
"S-sehun ahh… a-akuh ingin memuaskanmu," racau Luhan.
Sehun tersenyum dan mulai meneroboskan miliknya ke dalam lubang milik Luhan. Ia sudah tidak dapat menunggu lebih lama lagi, karena nafsunya sudah berada di ujung. Dengan cepat ia memasuki tubuh Luhan dan menghentak-hentak tubuh itu dengan cukup keras.
Mereka saling bertatapan selama penyatuan tubuh mereka berlangsung. Luhan dapat melihat nafsu yang besar di mata Sehun untuknya. Dan Luhan memutuskan untuk memeluk erat leher Sehun agar Sehun memasuki dirinya lebih dalam lagi.
Tak sedikit desahan yang Luhan lantunkan untuk Sehun. Ia pun sangat menyukai penyatuan tubuh mereka. Ia sungguh bahagia. Perasaan yang ia rasakan saat ini sungguh berbeda ketika ia bercinta dengan Chanyeol. Ia tidak merasakan cinta dari Chanyeol untuknya. Sementara Sehun, Bocah ini nampak sangat menginginkannya.
Luhan memejamkan kedua matanya erat saat merasakan gerakan Sehun yang semakin cepat. Ia pun merasakan milik Sehun mulai membesar di bawah sana. Ia berusaha untuk memuaskan Sehun seperti apa yang ia katakan tadi, ia ingin membuat Sehun meraih kenikmatan bersamanya.
Luhan menahan nafasnya dan tubuhnya sedikit tersentak kala Sehun tiba pada orgasmenya. Ia tersenyum pada Sehun dan menangkup wajah Sehun, lalu mempertemukan bibir mereka di tengah kenikmatan yang melanda mereka.
Ia dapat mendengar desahan nafas Sehun di telinganya. Sehun pun mengecupi pipinya berkali-kali, sebelum akhirnya Adik tiri Baekhyun itu ambruk di samping tubuhnya. Luhan masih mampu membuka matanya untuk memandangi wajah Sehun yang nampak kelelahan. Ia usap keringat yang mengalir di dahi Sehun dengan lembut. Entah kenapa ia merasa sangat bahagia saat bersama Bocah ini.
"Aku tidak akan memintamu untuk tidur di sini. Aku tahu Orangtuamu pasti mengkhawatirkanmu," ucap Luhan.
Wajah Sehun memerah karena merasa malu dengan apa yang baru saja diperbuatnya terhadap Lelaki cantik di sampingnya ini. Tetapi apa yang bisa ia lakukan selain menuruti ucapan Luhan?
Sehun menganggukkan kepalanya dan beristirahat sejenak sambil mendekap tubuh telanjang Luhan selama beberapa menit. Setelahnya, ia bangkit dan membiarkan Luhan melanjutkan tidurnya. Ia bergegas memakai pakaiannya kembali lalu kembali ke Rumahnya. Tak lupa ia menyempatkan dirinya untuk mengecup dahi Luhan dengan sayang.
Entahlah…
Ia rasa, ia mulai menyayangi Lelaki cantik itu.
.
.
.
Senyuman Kyungsoo tak pernah luntur dari wajah manisnya sepanjang hari ini. Entah kenapa, hatinya begitu bahagia saat menghabiskan waktunya lebih sering bersama Kai. Lelaki yang telah lama ia sukai secara diam-diam.
Dan tak terasa waktu telah berjalan dengan cepat. Semuanya telah berlalu dan saat ini ia harus bergegas kembali ke Rumah untuk beristirahat. Menyisakan satu tugas yang masih harus ia kerjakan yaitu mengunci pintu Ruangan para Atasan di Perusahaan tempatnya bekerja.
Lampu-lampu Gedung sudah banyak yang dimatikan, hingga membuat lorong yang ia lewati nampak redup dan sunyi. Kyungsoo hanya seorang diri di sini, dengan beberapa kunci yang berada di tangannya. Kini tersisa satu Ruangan yang harus ia kunci, yaitu Ruangan Kim Jongin atau Kai.
Jantung Kyungsoo berdegup keras seiring langkahnya membawa pada Ruangan yang ia tuju saat ini. Dan tibalah ia di sini. Di depan pintu Ruangan Kai, dan ia enggan untuk membuka pintu tersebut. Entah apa yang terjadi pada dirinya saat ini, perasaan yang ia rasakan tidak seperti biasanya.
Kyungsoo meringis dan merutuki dirinya sendiri yang telah bersikap bodoh. Setelah membuang pikiran bodohnya jauh-jauh, Kyungsoo membuka pintu itu untuk memastikan masih ada Atasannya di dalam sana atau tidak.
Pintu itu terbuka, dan tubuh Kyungsoo mendadak kaku kala mendapati Kai masih berada di depan layar laptop-nya.
"A-ahh… ma-maafkan aku. Aku kira Tuan sudah pulang. Sekali lagi maafkan aku," Kyungsoo membungkukkan tubuhnya berkali-kali pada Kai karena merasa bersalah.
Sementara Kai hanya tertawa kecil melihat sikap Kyungsoo padanya.
"Aku rasa, aku yang seharusnya meminta maaf karena tidak memberitahumu lebih dulu kalau aku akan lembur malam ini," jelas Kai.
"K-kalau begitu, a-aku tidak akan mengunci pintu Ruangan ini."
"Kyungsoo… apa kau akan langsung pulang ke Apartemenmu setelah ini?" Kai bertanya pada Kyungsoo dan mengabaikan ucapan Kyungsoo yang sebelumnya.
"A-apa?"
Lagi-lagi Kai tertawa menanggapi reaksi gelagapan dari Kyungsoo. Menurutnya, Kyungsoo terlihat cukup lucu dan nampak sangat pemalu.
"Apa kau akan langsung pulang setelah ini?" ulang Kai.
"I-iya… tentu. Aku akan pulang setelah ini. Jika… Tuan tidak membutuhkan bantuanku lagi?" ucapan Kyungsoo lebih terdengar seperti pertanyaan.
"Sepertinya… aku membutuhkan bantuanmu. Bisakah kau membantuku untuk menyelesaikan dokumen ini?"
Reflek Kyungsoo menghampiri Kai dan melihat dokumen yang baru saja ditunjuk oleh Kai. "Tentu aku akan membantu Tuan."
"Kau tidak perlu khawatir, aku akan memberikanmu bonus untuk bulan ini," ucap Kai sedikit bergurau.
Kyungsoo hanya menganggukkan kepalanya, dan menerima dokumen yang harus ia kerjakan dari Kai. Ia hendak keluar dari Ruangan itu, namun suara Kai lebih dulu menahannya.
"Kyungsoo. Kau ingin kemana?" tanya Kai.
"Mengerjakan tugas ini di… Ruanganku?" gumam Kyungsoo.
"Apa kau tidak takut? Ini hampir tengah malam."
Kyungsoo kembali terdiam karena mengalami perdebatan di dalam pikirannya.
"Kerjakanlah di sini. Ruangan ini cukup luas untuk kita berdua," lanjut Kai.
Lagi-lagi Kyungsoo hanya mengangguk menuruti perintah dari Kai. Ia mendudukkan dirinya di sofa yang terletak di sudut Ruangan itu, dan mulai membuka laptop miliknya yang ia bawa.
Kyungsoo memasang kacamatanya dan nampak serius mengerjakan tugas itu. Meskipun sudah tengah malam, tapi entah kenapa ia tidak merasakan kantuk. Mungkin… karena ada sosok Kai yang berada tak jauh dari dirinya saat ini?
Tak lama, ada sebuah panggilan masuk di ponsel Kyungsoo. Dengan cepat Kyungsoo jawab panggilan tersebut dan sedikit mencodongkan tubuhnya memunggungi Kai agar Kai tidak terganggu karena suaranya.
"Ada apa Bu?" lirih Kyungsoo.
"…"
"Ya, aku baik-baik saja. Bagaimana kabar Ibu? Kenapa Ibu belum tidur?"
"…"
Tentu Bu. Aku akan mengunjungi Ibu hari Minggu besok. Aku juga merindukan Ibu."
"…"
"Selamat malam Bu. Aku mencintaimu."
Kyungsoo memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas kerjanya. Nyatanya yang baru saja menghubunginya adalah sang Ibu. Satu-satunya Orangtua yang ia miliki saat ini, dan ia begitu menyayangi sosok Ibunya. Setelah Ayahnya meninggal karena sebuah penyakit 10 tahun lalu, Kyungsoo membiasakan dirinya untuk hidup mandiri bersama sang Ibu dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dan sosok Ibunyalah yang menjadikannya seorang yang bisa dikatakan cukup sukses seperti ini.
Usaha dan kerja kerasnya, semata-mata ia lakukan hanya untuk sang Ibu.
"Ekhem," Kai berdeham dan membuat Kyungsoo segera meminta maaf pada Atasannya tersebut.
"Maafkan aku Tuan. Ibuku baru saja menghubungiku."
"Tidak masalah. Dan… dari apa yang aku dengar, sepertinya kalian cukup dekat ya?" Kai bertanya untuk mencairkan suasana.
"Hanya Ibu yang aku punya di Dunia ini, Tuan."
Tidak ada jawaban dari Kai. Lebih tepatnya, Kai sedikit terkejut atas jawaban Kyungsoo dan memandang Asistennya tersebut dengan pandangan yang sulit diartikan. Sementara Kyungsoo tidak menyadari tatapan dari Kai karena Kyungsoo kembali terfokus pada laptop-nya.
Dari kejauhan, Kai mencoba untuk membaca raut wajah yang ditunjukkan oleh Kyungsoo saat ini. Kyungsoo nampak memiliki beban yang cukup berat, namun Lelaki bertubuh mungil itu nampaknya tidak ingin menunjukkan pada semua orang. Ia terlihat bisa mengatasi masalahnya sendiri dan tidak membutuhkan orang lain untuknya bergantung.
"Kyungsoo…"
"Ya Tuan?"
"Lain kali, bisakah aku bertemu dengan Ibumu?" ucap Kai dengan nada serius.
Kyungsoo tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan Kai kali ini. "Bertemu dengan… Ibuku?" ulang Kyungsoo.
Kai menganggukkan kepalanya.
"T-tentu saja Tuan," jawab Kyungsoo sungkan.
Wajahnya tiba-tiba memanas, dan ia yakin bahwa kedua pipinya sudah merona hebat saat ini. Ia mencoba untuk menundukkan kepalanya agar Kai tidak dapat melihat rona di wajahnya. Ia benar-benar malu ditatap seperti itu oleh Kai.
"Kau tidak perlu bekerja besok, aku yang mengizinkanmu untuk libur," ucap Kai.
"Baik, Tuan."
"Apa kau keberatan jika aku mengajakmu untuk menjenguk Baekhyun di Mansion-nya?" tanya Kai cepat.
Kyungsoo mencoba untuk menenangkan dirinya saat ini. "Tentu aku tidak akan keberatan, Tuan."
Kai tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Aku akan menjemputmu besok jam 1 siang."
Kyungsoo lagi-lagi dikejutkan oleh sikap Kai yang menurutnya cukup aneh terhadapnya akhir-akhir ini. Ia tidak mengerti kenapa Kai seperti tergantung padanya. Kai selalu membutuhkan bantuannya dan juga bersikap lebih memperdulikannya. Sikap Kai tidak lagi dingin seperti biasanya.
"B-baik Tuan."
Entah Kyungsoo bisa berhenti menyukai Atasannya tersebut atau tidak. Ia tidak yakin dapat membuang perasaannya terhadap Kai begitu saja, terlebih setelah Kai memberikan perasaan yang sangat menakjubkan untuknya.
Sepertinya ia…
Semakin jatuh cinta pada Lelaki itu.
.
.
.
Esok hari telah tiba, Kyungsoo berlari ke arah Apartemennya sendiri karena ia baru saja dari Rumah Sakit untuk mengunjungi sang Ibu. Kyungsoo tidak tahu jika hari ini jalanan akan macet, itulah alasan kenapa ia berlari. Ya, karena ia tidak ingin Kai menunggunya terlalu lama.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi, ia segera menerima panggilan tersebut yang nyatanya berasal dari Kai.
"Kyungsoo, aku sudah berada di depan Apartemenmu," ucap Kai di seberang sana.
"Aku akan tiba di sana sebentar lagi."
Setelah menerima respon dari Kai, Kyungsoo mengakhiri panggilan tersebut dan terus berlari. Dari kejauhan, ia sudah dapat menangkap sosok Kai yang sedang berdiri di samping Mobil mewahnya, menunggunya.
"Maaf telah membuatmu menunggu, Tuan."
Kyungsoo menyambut Kai dengan kalimat maafnya. Ia membungkuk sopan pada Kai dan merutuki kesalahannya. Bagaimana mungkin ia membuat Atasannya menunggu seperti ini?
"Kau… kenapa berlari dari arah sana?" tanya Kai sedikit bingung.
"Aku baru saja dari Rumah Sakit untuk mengunjungi Ibuku. Aku kira aku memiliki waktu yang cukup, tapi ternyata jalanan hari ini sedang macet," jelas Kyungsoo.
Jadi, apakah Ibu Kyungsoo dirawat Rumah Sakit?
"Apa Ibumu sakit?" tanya Kai hati-hati.
Kyungsoo mengangguk. "Ibuku mengidap Leukimia, dan dirawat selama empat bulan terakhir."
"Ow, maafkan aku. Aku pikir aku sudah mengganggu hari liburmu."
"Tidak apa-apa Tuan. Aku sudah memastikan keadaan Ibuku sejak tadi pagi."
Kai mengangguk dan mempersilahkan Kyungsoo memasuki Mobilnya. Kyungsoo menurutinya dan mereka mulai menuju ke Mansion milik Chanyeol untuk menjenguk Baekhyun.
Selama dalam perjalanan, tidak ada percakapan yang terjadi. Keduanya sama-sama bungkam, dan hal itu membuat Kyungsoo memiliki tanda tanya besar kenapa Kai mengajaknya untuk menjenguk Baekhyun. Selain ia hanyalah seorang Asisten, ia pun tidak cukup pantas untuk mengunjungi Mansion milik CEO di Perusahaan yang menjadi tempatnya bekerja.
Membutuhkan waktu sekitar 30 menit, untuk tiba di sana. Kedatangan mereka, disambut dengan hangat oleh para Pelayan yang bekerja di Mansion tersebut. Kai hanya memberikan tatapan perintah pada Kyungsoo untuk mengikutinya. Kyungsoo pun mengikutinya hingga mereka tiba di depan sebuah Kamar dengan pintu yang sangat besar.
Kai membuka pintu itu dan ia mendapati Baekhyun sedang terduduk seorang diri sambil menatap ke arah jendela.
Kehadiran Kai membuat Baekhyun terkejut, namun kehadiran Kyungsoolah yang membuatnya lebih terkejut lagi. Apakah Kai memiliki niat dengan membawa Kyungsoo ke hadapannya saat ini? Padahal hal ini tidak ada urusannya dengan masalah pekerjaan.
"Bagaimana kondisimu, Baekhyun?" tanya Kai.
Baekhyun bangkit dari duduknya dan menyambut pelukan hangat dari Kai. Ia memeluk tubuh tinggi Kai dengan erat dan menampilkan senyuman teduhnya.
"Aku sudah lebih baik. Terima kasih telah mengunjungiku," ucap Baekhyun.
Tak lama, tatapan Baekhyun kembali beralih pada Kyungsoo dan Kai mengerti dengan arti tatapan itu.
"Aku yang mengajak Kyungsoo untuk ikut denganku. Kau tahu? Dia sudah banyak membantuku untuk mengerjakan tugas yang kau tinggalkan," jelas Kai.
"Terima kasih telah membantuku dan mengunjungiku, Kyungsoo," ucap Baekhyun dengan lembut.
"Sudah menjadi tugasku, Tuan Muda Park Baekhyun," jawab Kyungsoo sambil membungkukkan tubuhnya sopan ke arah Baekhyun.
Tak bohong, ia merasa sedih harus menyaksikan Kai dan Baekhyun berpelukan dengan hangat tepat di hadapannya. Namun ia harus sadar, bahwa ia tidak memiliki hak sekedar untuk cemburu.
"Jadi… mulai hari Senin, kau sudah bisa masuk Kantor?" tanya Kai.
"Aku harus bisa. Lagipula, aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaanku terlalu lama. Ayah bisa membunuhku jika aku mengabaikan tugasku," canda Baekhyun.
"Ah iya, dimana Park Chanyeol?"
"Ia… sedang makan siang dengan Luhan," lirih Baekhyun.
Kai menyadari perubahan raut wajah Baekhyun. "Kau… baik-baik saja?" tanya Kai hati-hati.
Baekhyun tertawa. "Tentu aku baik-baik saja. Masalah sudah selesai."
Kai menghela nafasnya lega. Kemudian, ia menatap wajah Baekhyun yang berubah. Baekhyun nampak sedikit menggodanya dengan kehadiran Kyungsoo di sana. Sementara Baekhyun, ia tidak memiliki clue kenapa Kai tiba-tiba mengajak Kyungsoo ke sini.
"Kau mulai menyadarinya?" bisik Baekhyun.
Ia berbicara dengan hati-hati, takut Kyungsoo mendengar suaranya. Sementara Kyungsoo sedang terduduk di dekat pintu sambil memainkan ponselnya.
"Menyadari kalau dia manis maksudmu?" ucap Kai dengan senyum kecilnya.
"Kai… sepertinya Kyungsoo adalah orang yang cocok untukmu."
"Kau berpikir begitu?"
Baekhyun mengangguk antusias. "Baiklah, aku menunggu kabar baik darimu."
Kai tertawa kecil menanggapi ucapan Baekhyun. "Ck! Kau ini."
Setelahnya, Kai bangkit dan diikuti oleh Baekhyun. Sepertinya sudah saatnya mereka beranjak dari sini.
"Baiklah, aku harus segera pergi. Sampai bertemu lagi, Tuan Muda Park Baekhyun," goda Kai. Dan Kyungsoo menanggapinya dengan senyuman kecil.
"Tentu, Tuan Kim Freaking Jongin."
Lalu Kai menghampiri Kyungsoo dan menuntun langkah Asistennya itu untuk keluar dari Kamar Baekhyun. Setelah melewati lorong panjang, dan juga menuruni beberapa anak tangga, Kai dan Kyungsoo tiba di depan Mobil Kai. Mereka memasuki Mobil itu dan Kai melajukan Mobilnya keluar dari Mansion tersebut.
"Hahh~ aku ingin bercerita banyak padamu," ucap Kai yang sedang fokus mengendarai.
"Ne?"
"Mengenai hubunganku dengan Baekhyun."
Deg!
Dada Kyungsoo tiba-tiba terasa nyeri. Ia tidak siap jika harus mendengar tentang hubungan Kai dengan Baekhyun secara langsung dari bibir Kai. Ia tidak mau mendengar fakta apapun. Biarlah ia tetap bermimpi dan tenggelam dalam imajinasi bersama Kai. Ia tidak mau menerima kenyataan, jika ternyata Kai dan Baekhyun memiliki hubungan yang spesial.
"Kau mendengarku, Kyungsoo?"
"Y-ya Tuan."
"Aku sangat menyukai Baekhyun. Kau tahu itu?"
Bodoh! Kenapa Kai menanyakan hal semacam itu? Bukankah sudah jelas ia mengetahui hal tersebut? Bahkan seluruh isi Gedung Kantor mereka telah mengetahuinya.
"Ya, aku tahu Tuan," lirih Kyungsoo.
"Maaf jika aku membicarakan hal pribadi. Aku… hanya tidak memiliki tempat untuk bercerita," ucap Kai diselingi oleh tawanya yang renyah. Tawa yang sangat Kyungsoo sukai.
"Baekhyun adalah sosok yang sangat sempurna. Sama seperti Ayahnya. Dan kesempurnaan itulah yang berhasil menarik perhatianku. Aku jatuh hati pada Bocah itu."
Kyungsoo menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia memutusukan untuk menatap jemarinya yang saling bertaut. Lidahnya terasa kelu. Ia tidak tahu harus merespon ucapan Kai seperti apa. Hatinya terasa sangat sakit.
"Ya… Tuan Muda Park Baekhyun sangat sempurna."
"Kau benar. Aku tidak pernah merasa seakrab itu dengan seseorang seperti aku akrab dengan Baekhyun. Aku… benar-benar ingin melindunginya," lanjut Kai.
"Tuan, kepalaku sedikit pusing."
Tubuh Kyungsoo melemah, bahkan kepalanya ia sandarkan pada jendela Mobil tersebut.
"Apa kau sakit?"
Kyungsoo menggeleng. "Tidak, sepertinya aku mabuk perjalanan. Bisakah aku tidur sebentar?" izin Kyungsoo.
"Um, tentu."
Diam-diam Kai memperhatikan Kyungsoo yang mulai memejamkan kedua matanya. Tanpa Lelaki bermata bulat itu ketahui, Kai mengembangkan senyuman kecil di bibirnya. Ia senang melihat Kyungsoo cemburu seperti ini.
Bukankah reaksi Kyungsoo membuktikan bahwa Asistennya tersebut sedang cemburu pada Baekhyun?
Dan itu berarti…
Bukankah Kyungsoo benar-benar menyukainya?
"Manis sekali dia."
.
.
.
.
.
.
To Be Continued…
.
.
.
.
.
.
Kai sudah mulai cenat-cenut pada Kyungsoo, tinggal tunggu eksekusinya/? aja :"vvv
Dan HunHan udah NAENA woiii! Bbbbrrr~!
Siap-siap Chapter selanjutnya bakalan ada konflik, yaitu kehadiran Suho yang akan menjadi masalah besar bagi ChanBaek.
PENASARAN? STAY TUNE!
JANGAN LUPA REVIEW. YUTA TUNGGU!
TERIMA KASIH. SARANGHAE BBUING~!
