[Chapter 27]

Kyungsoo membuka kedua matanya. Dan ia langsung menyadari bahwa ia tak sengaja tetidur saat dirinya dan Kai kembali setelah menjenguk Baekhyun. Benar, ia masih berada di dalam Mobil Kai, namun Mobil ini tidak lagi melaju, melainkan berhenti di tempat yang entah dimana.

Kyungsoo segera menolehkan kepalanya ke arah Kai, dan betapa terkejutnya ia mendapati Kai sedang menatapnya dengan dalam. Hanya keheningan yang ia rasakan. Atmosfer di sekitar mereka sungguh sunyi, Kyungsoo bahkan yakin Kai dapat mendengar suara detakan jantungnya saat ini.

Ia baru saja ingin membuka suaranya, untuk menanyakan keberadaan mereka. Namun niatnya meluap begitu saja kala ia merasakan tangan Kai mulai menggenggam kedua tangannya. Ia tidak mengerti kenapa Atasannya ini tiba-tiba memegang kedua tangannya. Terlebih, Kai tidak melontarkan satu patah katapun.

"Tuan…"

"Kyungsoo, kau sudah mengetahui semuanya bukan?"

Kyungsoo mengenyitkan dahinya tidak mengerti. Dadanya mulai terasa sesak dan ia sedikit kesulitan untuk bernafas.

"Tuan… menyukai Tuan Muda Park Baekhyun?"

"Dulu. Sebelum aku mengetahui perasaanmu."

Kyungsoo semakin gelagapan. Bagaimana mungkin Kai mengetahui perasaannya? Padahal selama ini ia sudah berusaha mati-matian untuk menyembunyikan perasaan itu dan bersikap profesional. Ia memang menyukai Kai. Sangat. Tetapi tidak ada bayangan dalam hidupnya untuk menjalin sebuah hubungan yang spesial bersama Atasannya tersebut. Baginya, itu adalah mimpi yang tidak akan menjadi kenyataan.

"Maafkan aku Tuan," lirih Kyungsoo sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sesekali ia melihat genggaman tangan Kai pada tangannya. Apakah ini adalah kenyataan?

Atau…

Apakah ia masih bermimpi dan belum terbangun dari tidurnya?

"Aku berjanji tidak akan mencampuri urusan pribadiku dengan urusan pekerjaan," lanjut Kyungsoo.

"Bukan jawaban itu yang aku inginkan, Do Kyungsoo."

Mau tidak mau, Kyungsoo memberanikan dirinya untuk menatap mata Kai. Untuk yang kesekian kalinya, ia terhipnotis oleh tatapan tajam namun mempersona dari Lelaki yang disukai ini.

"Aku senang jika kau menyukaiku," ucap Kai.

Genggaman tangan Kai perlahan terlepas, dan justru beralih untuk menangkup wajah Kyungsoo. Ia usap lembut pipi Asistennya tersebut. Ia bahkan tidak memperdulikan perbedaan status mereka, karena yang ia rasakan saat ini adalah rasa penasaran akan sosok asli seorang Lelaki manis bermata bulat yang berada di hadapannya saat ini.

"Setelah apa yang kuceritakan padamu, apa kau masih menyukaiku?" tanya Kai.

Kyungsoo menganggukkan kepalanya.

Tentu saja ia masih menyukai Kai. Karena hanya Kai lelaki yang tertangkap oleh pandangannya selama ini. Ia tidak mampu memandang Lelaki lain selain Kai. Dan Kai adalah Lelaki yang paling istimewa baginya.

Kai tersenyum puas atas jawaban Kyungsoo. Kemudian tangannya yang semula menangkup wajah Kyungsoo, perlahan turun dan berhenti pada kedua bahu sempit Kyungsoo. Kai menghela nafasnya dan mulai memejamkan kedua matanya saat ia berhasil menghapus jarak di antara mereka. Kyungsoo bahkan bisa merasakan hembusan nafas Kai di wajahnya, dan ia reflek ikut memejamkan kedua matanya.

Hanya beberapa jarak lagi, bibir itu dapat menyatu. Namun Kai tidak memilih opsi itu, dan justru menopangkan dagunya pada bahu Kyungsoo, memeluk tubuh mungil itu dengan erat.

"Bisakah aku mengenalmu lebih jauh?" lirih Kai. Dan lagi-lagi ia mendapatkan anggukan dari Kyungsoo.

"T-tentu Tuan."

"Terima kasih, Do Kyungsoo."

.

.

.

Baekhyun duduk terdiam di Ruangannya. Hari ini adalah hari pertama ia masuk kerja. Dan ia baru saja mendapatkan perintah dari sang Ayah, yang menyuruhnya untuk menghadiri rapat bersama Tuan Kim Suho. Dan hal itu yang membuat pikirannya berkecamuk.

Sepanjang ini, ia tidak mendapati kecurigaan apapun dari sang Ayah mengenal sosok Kim Suho. Sang Ayah pun hanya menganggap Kim Suho sebagai salah satu dari relasi bisnis Perusahaan mereka selama ini dan memperlakukannya yang hal yang biasa ia lakukan.

Baekhyun mendadak ragu. Apakah ia harus menuruti perintah sang Ayah dan mengenal sendiri sosok Kim Suho secara langsung?

Kemudian ia memutuskan untuk mengeluarkan ponsel dan menghubungi sang Ayah. Ia yakin sang Ayah masih berada di Ruangannya dan sedang seorang diri di sana.

"Ayah…"

"Ada apa sayang?"

"Bisakah kita bicara sebentar, Ayah? Aku ingin membahas sesuatu."

"Katakanlah."

Baekhyun terdiam beberapa saat.

"Mengenai… rapat dengan Tuan Kim Suho."

"Apa kau bermasalah? Ayah hanya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkenalkanmu padanya."

"Apakah Ayah yakin dia adalah orang yang… baik?"

Kali ini, giliran Chanyeol yang terdiam. "Kau masih di Ruanganmu?"

"Ya, Ayah."

"Ayah akan ke sana."

Baekhyun menghela nafasnya, dan meletakkan kembali ponselnya ke tempat semula. Tak lama, sang Ayah datang setelah sebelumnya mengetuk pintu Ruangannya tersebut.

"Baekhyun?"

"Ya Ayah?" Baekhyun segera berdiri dan menghampiri sang Ayah. Raut wajahnya terlihat sedikit gelisah.

"Apa yang telah kau dengar tentang Kim Suho dari Kai?"

Baekhyun tahu, sang Ayah pasti mengetahui hal ini.

"Tuan Kim Suho adalah… musuh di balik selimut?"

Chanyeol melirik ke sembarang arah sejenak. Lalu setelahnya, ia kembali menatap Baekhyun dan menepuk kedua bahu Puteranya tersebut. Baekhyun hanya menatap sang Ayah menuntut sebuah jawaban di atas kebingungannya.

"Baekhyun, dengarkan Ayah baik-baik."

Baekhyun mengangukkan kepalanya cepat.

"Tuan Kim Suho adalah orang yang baik. Kau tidak perlu khawatir karena dia tidak akan menyakitimu, Ayah pun tidak akan membiarkanmu disakiti olehnya. Kau hanya perlu melakukan apa yang seharusnya kau lakukan. Kau mengerti itu, Park Baekhyun?"

Tidak bohong, Baekhyun sedikit kecewa atas jawaban sang Ayah. Bukan itu jawaban yang ingin ia dengar.

"Aku mengerti Ayah."

Baekhyun menundukkan kepalanya. Namun tak lama, ia dikejutkan oleh sang Ayah yang tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat.

"Ayah pernah melakukan kesalahan padanya di masa lalu. Tapi percayalah, kaulah yang Ayah cintai. Selamanya."

.

.

.

Malam ini, Chanyeol memutuskan untuk pulang lebih awal karena ia memiliki janji dengan seseorang. Ia pun sudah memerintahkan Baekhyun untuk pulang bersama Paman Lee. Dan saat ini, ia sedang dalam perjalanan menuju sebuah tempat yang menjadi janji temu dirinya dengan orang tersebut. Hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit, ia sudah tiba di tempat yang merupakan sebuah Restoran mewah.

Sepasang kaki panjangnya terus melangkah memasuki Restoran tersebut dan mencari keberadaan orang yang nyatanya sedang menunggu kedatangannya. Tak lama, ia berhasil menangkap sosok tersebut. Duduk seorang diri berbalut mantel berbulu tebal, yang nampak sangat cocok membalut tubuhnya.

Hingga akhirnya tatapan mata mereka bertemu. Tubuh Chanyeol tiba-tiba terasa kaku, kala melihat senyuman yang ditunjukkan orang itu kepadanya.

Jantungnya mendadak berdebar, terlebih ketika ia berhasil meraih tempat duduknya dan duduk tepat di hadapan orang itu.

"Sudah lama kita tidak duduk berdua saja seperti ini," gumam orang itu.

"Bagaimana kabar–"

"Ahh, selamat atas Pernikahanmu. Aku sangat senang kau telah menemukan pendamping hidupmu," ucap orang itu memotong perkataan Chanyeol.

Mata Chanyeol melebar saat melihat orang itu meneteskan airmatanya secara tiba-tiba. Chanyeol segera bangkit dari kursinya dan mendekati orang itu. Ia bawa orang itu ke dalam pelukannya dan membiarkannya menangis di dadanya.

Chanyeol tahu, bahwa ia pasti sangat terpukul atas Pernikahannya dengan Luhan.

"Inilah yang paling aku benci darimu, Chanyeol. Kau sudah menyakitiku, tapi kau masih saja memberiku harapan."

"Junmyeon… maafkan aku," gumam Chanyeol.

Ya, orang yang saat ini sedang ia peluk adalah Kim Suho atau Kim Junmyeon. Dan permintaan maaf dari Chanyeol barusan, membuat Suho tertawa.

"Aku tidak suka kau memanggil nama asliku," ucap Suho.

Chanyeol terdiam. Memang semua adalah salahnya karena pernah menyakiti Lelaki ini. Namun ia tidak mengira bahwa Suho masih memiliki cinta yang besar untuknya. Bahkan Suho tahu bahwa ia memiliki kelainan seksual, yaitu mencintai Anak kandungnya sendiri.

"Maafkan aku," ulang Chanyeol.

Suho menggelengkan kepalanya dan melepaskan pelukan itu. "Bukan permintaan maafmu yang aku inginkan."

[Flashback]

Warning! Chanyeol x Suho Scene!

"Perkenalkan, namaku adalah Park Chanyeol. Aku berada di jurusan yang sama denganmu."

12 tahun yang lalu, adalah waktu dimana Suho mengenal sosok Chanyeol untuk yang pertama kali. Chanyeol adalah orang yang sempurna. Itulah yang dapat ia deskripsikan mengenai diri Chanyeol bahkan di saat pertama kali ia melihat sosok Chanyeol.

Ia menatap juluran tangan Chanyeol padanya saat dirinya sedang terduduk seorang diri di halaman samping Kampusnya, sambil membaca buku.

Tangan mereka saling menyapa untuk yang pertama kalinya. Sentuhan tangan yang Chanyeol lakukan, mengalirkan debaran kuat ke jantungnya.

Ia merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada dirinya saat bertemu dengan Lelaki berpostur tubuh sangat tinggi ini.

"Namaku adalah Kim Junmyeon. Kau bisa memanggilku Suho," balasnya.

Sejak saat itu, lambat laun ia mulai jatuh cinta pada sosok Chanyeol. Terlebih hubungan pertemanan yang mereka jalani, juga seringnya mereka bertemu, membuatnya semakin tidak mampu membohongi perasaannya bahwa ia sangat mengagumi sosok itu. Namun Suho bukanlah tipe orang yang akan langsung menyatakan perasaannya begitu saja, ia lebih memilih untuk menyimpan perasaannya karena takut hubungan pertemanan mereka akan hancur.

Suho selalu bersemangat setiap kali ia bertemu dengan Chanyeol. Meskipun terkadang Chanyeol bersikap dingin padanya, namun tak membuat perasaannya yang tulus itu pudar.

Ia ingat satu hal. Sesuatu yang membuatnya semakin terjatuh terperosok jauh ke dalam pesona seorang Park Chanyeol. Sesuatu yang tidak pernah ia lupakan selama hidupnya. Yaitu, ketika Chanyeol menghiburnya saat kedua Orangtuanya meninggal secara tiba-tiba akibat sebuah kecelakaan mobil yang fatal.

Suho benar-benar terpuruk pada saat itu. Tidak ada yang menemaninya. Ia bahkan selalu duduk seorang diri di dekat Makam kedua Orangtuanya. Hingga akhirnya sosok Chanyeol muncul, menemaninya bahkan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan itu. Chanyeol selalu berada di sampingnya di saat masa-masa sulitnya. Menemani dirinya.

Kini, ia tinggal seorang diri. Tidak ada yang menemaninya. Membuat Chanyeol khawatir padanya dengan kondisinya yang seperti ini. Alhasil, Lelaki itu sering berkunjung ke Rumahnya, hanya untuk memastikan keadaannya baik-baik saja.

"Kau tidak seharusnya bersikap seperti ini padaku," isak Suho saat Chanyeol mendapati dirinya di Kamarnya, yang sedang menangis sambil memeluk bingkai foto kedua Orangtuanya.

"Aku akan membuat kondisimu menjadi lebih baik. Aku berjanji," ucap Chanyeol.

Sejak saat itu, ia berpikir tentang kenapa Chanyeol begitu perduli kepadanya. Nyatanya apa yang dilakukan oleh Chanyeol terhadapnya, semakin membuatnya jatuh cinta pada Lelaki tampan itu. Ya, ia semakin mencintai Chanyeol.

Ia mulai belajar untuk bangkit dan berusaha menjalani hari-harinya seperti sedia kala. Senyuman di wajahnya kembali terukir setiap kali ia melihat sosok Chanyeol hadir di hadapannya. Ia dapat mendapatkan merasakan kebahagiaan itu kembali. Hingga tak terasa, mereka akhirnya berhasil Lulus dari Universitas.

Tidak ada yang membuat mereka menjadi sedekat ini selain karena ingin meneruskan usaha Orangtua mereka masing-masih yang nyatanya berada di Bidang Bisnis yang sama.

"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Chanyeol padanya dengan nada yang ceria.

"Aku akan membangun kembali usaha Ayahku dan membanggakannya. Sama sepertimu."

Chanyeol tersenyum dan mengusak rambutnya dengan lembut.

Chanyeol senang dirinya berhasil membuat Suho bangkit dan membangun kembali impiannya. Dan itu berarti, tugasnya sudah selesai. Ia pun harus membangun impiannya dan mulai fokus dengan pekerjaannya di Perusahaan sang Ayah.

Ia rasa, Suho sudah hidup lebih baik dan tidak mungkin bergantung lagi padanya.

"Chanyeol… terima kasih," ucap Suho sambil menggenggam tangan Chanyeol.

Sebenarnya Chanyeol tahu bahwa Suho menyukainya sejak lama. Tapi apa mau dikata? Ia sadar bahwa ia bukanlah orang yang tepat untuk Suho. Tepatnya, setelah ia dihancurkan oleh sebuah kejadian dimana ia dipaksa oleh sang Ayah untuk Menikah di usia yang masih sangat muda. Meskipun kenyataannya ia berhasil menghindari Pernikahan itu.

Hingga hal buruk terjadi, ia terpaksa melakukan bayi tabung dan menanamkan spermnya di rahim seseorang agar ia bisa memiliki keturunan tanpa harus Menikah ataupun menjalin hubungan dengan seseorang. Dan setelah setahun ia menunggu, bayi itu akhirnya lahir meskipun tidak bersamanya.

5 tahun berlalu begitu cepat. Puteranya telah tumbuh dan pada saat ia dipertemukan oleh sang Putera, ia mulai merasakan kelainan pada dirinya. Yaitu ia merasa begitu mengharapkan kehadiran Puteranya dan perasaan itu kian lama kian berubah menjadi obsesi.

Ia mulai mencintai Puteranya sendiri.

Dan bahkan, ia telah memperkosa Puteranya yang ia beri nama Park Baekhyun.

Ia merasa menjadi orang yang buruk dan terguncang atas kelainannya itu. Dan untuk kali ini, giliran Suho yang hadir untuk menghiburnya di masa-masa terburuknya. Setelah sekian lama mereka tidak saling menyapa karena kesibukkan masing-masing.

Suho selalu berada di sampingnya dan ia rasa, tidak ada salahnya jika ia mencoba untuk menjalin hubungan dengan Lelaki yang berstatus sebagai Sahabatnya itu.

Ia ingin mencoba menghilangkan kelainannya itu.

Memang, ini akan menjadi mudah untuknya, mengingat Suho yang ternyata masih menyimpan perasaan untuknya. Atas keinginan dirinya sendiri, ia berusaha untuk keluar dari kelainannya itu.

Hingga suatu hari, Chanyeol memutuskan untuk mendatangi Rumah Suho. Tentu Suho amat terkejut atas kedatangan Chanyeol dan tanpa memberinya kabar. Chanyeol cukup senang menyadari Suho masih tinggal di Rumah ini seorang diri. Itu berarti, Suho tidak sedang menjalin hubungan dengan seseorang dan memudahkannya untuk menjalankan niatnya.

"Aku akan membuatkan minum untukmu," ucap Suho seperti yang biasa ia lakukan dulu setiap kali Chanyeol berkunjung ke Rumahnya.

Jika biasanya Chanyeol akan menunggu dan duduk di sofa Ruang tengah, namun kali ini berbeda. Chanyeol mengikuti arah langkah Suho dan memperhatikan sosok Lelaki itu lamat-lamat. Suho memunggunginya karena ia sedang membuatkan minuman di meja counter Dapurnya.

Entah kenapa, langkah kaki Chanyeol membawa dirinya untuk semakin mendekati Suho. Hingga kini, ia berdiri tepat di belakang tubuh Lelaki yang bertubuh lebih pendek darinya tersebut.

Tubuh Suho menegang, tepat setelah ia merasakan kedua lengan besar Chanyeol melingkar secara perlahan di pinggangnya. Chanyeol memeluknya dengan erat dari belakang. Pergerakkan Suho terhenti, kala Chanyeol menopangkan dagunya di bahunya. Tanpa bisa bergerak, Suho merasakan pelukan Chanyeol yang semakin mengerat.

"Apa kau… ada masalah?" tanya Suho dengan lirih dan hati-hati.

"Kenapa kau menyembunyikannya?"

Katakanlah Chanyeol sudah gila saat tepatnya, ia bersikap seperti ini pada Suho karena ia tidak memiliki pilihan lain. Ia harus segera sembuh dari kelainannya.

Sementara Suho tidak mengerti dengan ucapan Chanyeol. Membuat jantungnya kini mulai berdegup dengan keras.

"Aku tahu kau menyukaiku sejak dulu."

Deg!

Suho tidak dapat berkata-kata. Apakah Chanyeol telah menyadari perasaannya? Lalu apa yang harus ia lakukan?

"Kau terus memperhatikanku saat kita berada di Kelas. Dan aku pun melihat kau berlari menjauh ketika ada seseorang yang mendekatiku. Kau menunjukkan senyuman termanismu padaku setiap kali kita bertemu. Dan…"

Chanyeol menghirup aroma tubuh Suho dengan lembut.

"Tubuhmu bergetar hebat saat aku memelukmu seperti ini. Apa kau benar-benar memiliki cinta yang besar untukku?" tanya Chanyeol.

Lutut Suho melemas. Ia tidak dapat berdiri di atas kedua kakinya lebih lama lagi. Terlebih tubuhnya tengah dipeluk erat oleh seseorang yang telah lama ia sukai. Ia merasa sedang bermimpi saat ini.

Memberanikan dirinya, Suho mengangguk menjawab pertanyaan dari Chanyeol. Setelahnya, ia menangis dalam diam. Perasaannya sungguh bercampur aduk. Ia tidak dapat mengekspresikan perasaan itu dengan baik.

Chanyeollah satu-satunya orang yang ada di sampingnya saat ia sedang terpuruk.

Dan Chanyeollah satu-satunya orang yang membuatnya bangkit.

Bagaimana mungkin ia tida mencintai sosok Chanyeol?

Suho mengangkat kedua tangannya yang terbebas untuk melepaskan tangan Chanyeol dari pinggangnya. Ia lepaskan secara perlahan lalu kemudian membalikkan tubuhnya. Ia mencari keberadaan mata Chanyeol dan ia berhasil menemukannya. Kembali ia menunjukkan senyuman termanisnya pada Chanyeol.

Ia tahu, bahwa Chanyeol menyukai senyumannya itu.

"Aku… masih mencintaimu sampai sekarang," lirih Suho.

Tanpa mengatakan apapun, Chanyeol perlahan mengangkat tangannya untuk meraih dagu Suho. Ia ingin Suho hanya menatapnya dan dengan begitu, ia dapat memiliki hati Lelaki ini sepenuhnya. Chanyeol semakin menghapus jarak di antara mereka, hingga kedua belah bibir itu bertemu untuk yang pertama kalinya. Ia senang bahwa Suho masih mencintainya. Ia tahu bahwa cinta Suho untuknya sangatlah tulus.

Ia mendorong tubuh Suho hingga punggungnya menyentuh meja counter yang ada di belakangnya. Ia mencium bibir manis itu dengan dalam dan juga lembut. Ia bahkan memejamkan kedua matanya erat untuk menikmati ciuman ini.

Chanyeol memeluk pinggang Suho dengan satu tangannya, sementara Suho menyandarkan kedua telapak tangannya di dada Chanyeol. Mereka berciuman dengan mesra dalam waktu yang cukup lama.

Suho tidak pernah berharap mimpinya menjadi nyata. Chanyeol akhirnya mengethui perasaannya dan menciumnya dengan manis seperti ini.

Apakah Chanyeol pun memiliki perasaan yang sama dengannya?

Setelah cukup lama, akhirnya ciuman itu terlepas. Chanyeol bahkan tempat menyentuh bibirnya Suho dengan lembut menggunakan ibu jarinya.

"Kim Junmyeon… jadilah Kekasihku."

Perasaan yang ia simpan terhadap Chanyeol tidaklah singkat. Membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencintai Lelaki tampan itu dalam diam. Dan kini, Malaikat telah mendengar seluruh harapannya. Chanyeol kini hadir di hadapannya dan memintanya untuk menjadi Kekasih Lelaki itu.

"Aku ingin lebih dekat denganmu," lanjut Chanyeol.

Lagi-lagi Suho tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Setelahnya ia kembali memeluk tubuh tinggi Chanyeol dengan sangat erat.

[Flashback End]

"Junmyeon… aku pikir, kita tidak bisa membicarakan hal itu di sini," ucap Chanyeol.

"Baiklah, bawa aku ke tempat yang kau inginkan."

Tanpa menjawab, Chanyeol segera menggenggam tangan Suho dan membawa Lelaki manis itu menuju Mobilnya. Sepertinya ia akan menyewa sebuah Kamar Hotel agar ia dapat membahas tentang masa lalu mereka dengan tenang tanpa ada yang mengganggu.

Ia hanya tidak ingin Suho terus mengharapkan cintanya. Ia ingin Suho hidup lebih baik dan melupakan masa lalu mereka.

Dan di sinilah mereka berada, di sebuah Kamar Hotel yang sangat mewah. Dengan Chanyeol yang berdiri di hadapan Suho yang sedang duduk di tepi ranjang. Suho terus menundukkan kepalanya tanpa mau mengeluarkan suaranya.

"Junmyeon… semua hanya masa lalu. Kau harus melupakan–"

"Aku masih mencintaimu hingga detik ini, Chanyeol."

Chanyeol bungkam setelah mendengar ucapan Suho. Kemudian ia menatap sepasang mata indah milik Suho yang mulai menatapnya.

"Aku tidak bisa mencintai Lelaki lain," lanjut Suho. Suaranya terdengar sangat lirih.

"Kau bisa. Kau harus mencobanya," ucap Chanyeol.

Suho menggeleng cepat. "Tidak bisakah kita kembali seperti dulu?"

Chanyeol menghela nafasnya lemah. "Itu tidak mungkin. Aku sudah Menikah dengan Luhan."

"Kenapa kau menikahinya?" tanya Suho cepat.

Ia bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan Chanyeol. Ia menatap Lelaki yang ia cintai itu dengan dalam.

"Kenapa kau tidak menikahiku saja? Jika kau membutuhkan bantuan untuk Perusahaanmu, aku bisa membantumu," lanjut Suho.

Ya, ia tahu bahwa Pernikahan Chanyeol dan Luhan terjadi karena urusan Bisnis.

"Junmyeon, kau adalah Lelaki yang baik. Aku tidak ingin menyakitimu lebih jauh. Dan aku masih menganggapmu sebagai Sahabatku."

"Aku tidak mau hanya menjadi Sahabatmu, Park Chanyeol."

"Kau bahkan tahu, bahwa aku memiliki kelainan. Aku mencintai Puteraku sendiri."

Terpaksa Chanyeol mengatakan hal itu pada Suho. Ia ingin Suho tahu bahwa ia memang mencintai Baekhyun. Dan ia tidak bisa mencintai Lelaki lain selain Baekhyun.

"Bisakah aku memilikimu untuk malam ini saja?" pinta Suho.

Chanyeol terdiam. Ia tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiran Suho. Bagaimana mungkin Suho melayangkan permintaan seperti itu padanya?

"Apa maksudmu?"

"Aku sangat menginginkanmu, Chanyeol."

Chanyeol menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa. Maafkan aku Junmyeon."

Chanyeol hendak beranjak dari hadapan Suho, namun dengan cepat Suho menahannya dengan memeluk pinggangnya erat dari belakang. Chanyeol terdiam, ia merasakan Suho mulai terisak-isak di balik punggungnya.

"Chanyeol, aku tidak bisa melupakanmu begitu saja."

Chanyeol memandangi kedua tangan Suho di perutnya.

"Aku tidak suka kau melakukan cara kotor untuk mendapatkanku. Aku tahu kaulah yang menyuruh orang suruhan untuk menghajar Kai. Aku tidak ingin kau melakukan hal itu pada orang-orang terdekatku," ucap Chanyeol dingin.

"Aku minta maaf atas kejadian itu. Itu adalah kesalahanku," jawab Suho.

"Maka dari itu, aku ingin menyelesaikan masalah kita. Aku tidak bisa membalas cintamu, Junmyeon."

Dengan perlahan Chanyeol melepaskan kedua tangan Suho yang memeluknya erat. Meninggalkan Lelaki itu begitu saja dengan perasaan kecewa.

"Aku ingin kau tahu bahwa aku sangat mencintai Baekhyun. Putera kandungku sendiri. Dan kau harus melihat sendiri, betapa sempurnanya ia."

Suho tidak dapat berkata-kata atas ucapan Chanyeol barusan. Tubuhnya terasa kaku dan ia tidak habis pikir kenapa Chanyeol begitu mencintai Puteranya tersebut.

Ia sungguh penasaran dengan sosok asli Baekhyun. Dan besok, adalah hari dimana ia bertemu dengan Putera Chanyeol tersebut.

Sosok yang telah berhasil menghancurkan harapannya terhadap Chanyeol.

Melihat Chanyeol menghilang di balik pintu, Suho meremas kedua tangannya kuat dan meninju dinding Kamar tersebut. Ia berteriak sekuat tenaga dan menangisi dirinya yang tak lebih dari seorang pecundang.

"Aku akan menghancurkanmu dengan kedua tanganku sendiri, Park Baekhyun!"

.

.

.

Luhan terduduk gelisah di tempat tidurnya. Mata indahnya melirik ke arah jam yang ada di dinding, dan saat ini bahkan sudah larut, namun Chanyeol belum juga kembali ke Mansion. Sebenarnya, ia sedikit merasakan kebimbangan. Mengenai Pernikahan yang ia jalani bersama Chanyeol. Nyatanya, tidak berjalan dengan baik dan tidak seperti apa yang ia harapkan selama ini.

Ia kira, Chanyeol akan lebih sering berada di sampingnya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, mereka semakin sibuk, bahkan mereka belum pernah berbulan madu.

Ia memang tidak pernah mempermasalahkan tentang kesibukan mereka. Yang ia permasalahkan adalah Pernikahan mereka yang semakin lama semakin terasa hambar. Padahal belum ada satu bulan mereka menikah.

Lain daripada itu, ia telah melakukan kesalahan besar terhadap Chanyeol. Rahasia besar yang pasti akan membuat Chanyeol marah jika mengetahuinya. Ya, ia telah bercinta dengan Lelaki lain. Parahnya, Lelaki itu adalah Adik tiri dari Baekhyun. Ia bahkan tidak mampu membayangkan bagaimana reaksi Chanyeol jika mengetahui fakta itu.

Luhan meneteskan airmatanya dalam lamunannya. Seorang diri, ia terisak di dalam Kamar yang sunyi. Ia merasa seperti orang yang bodoh. Amat sangat bodoh. Karena membiarkan kehidupannya sendiri dipermainkan.

Tidak ada tempat bercerita. Ia pun tidak tahu darimana harus memulainya. Semua sudah terlanjur kacau. Dan kekacauan ini, dibuat sendiri olehnya.

Lamunan Luhan pecah, kala ada sebuah panggilan masuk di ponselnya. Ia mengernyitkan dahinya karena yang menghubunginya saat ini adalah nomor yang tidak ia kenal. Jika yang menghubunginya saat ini adalah rekan kerjanya, itu tidak mungkin. Mana ada orang yang membicarakan urusan pekerjaan selarut ini?

Setelah terdiam cukup lama, akhirnya ia memutuskan untuk menerima panggilan tersebut. Bibirnya tertutup rapat selagi ia mendengarkan suara yang mulai menyapa indera pendengarannya.

"Luhan…"

Tidak ada orang yang berani memanggil namanya secara langsung tanpa embel-embel 'Tuan' seperti yang dilakukan orang ini. Ya, tidak ada yang berani melakukannya kecuali Sehun. Lelaki yang berhasil mengacaukan pikirannya akhir-akhir ini.

"Sehun," gumam Luhan.

"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Bisakah kita bertemu besok?"

Untuk apa?

Untuk apa Sehun memintanya untuk bertemu?

Bukankah yang mereka lakukan beberapa hari lalu hanyalah sebuah kesalahan? Kesalahan itu tidak seharusnya merka ingat.

"Aku rasa… tidak ada yang perlu kita bicarakan."

"Kumohon. Aku ingin meminta maaf atas kejadian kemarin."

"Aku sudah memaafkanmu," jawab Luhan cepat.

Cukup lama tidak ada jawaban dari Sehun. HIngga Luhan memutuskan untuk membuka suaranya kembal.

"Lagipula, itu juga kesalahanku. Aku harap kau tidak mengatakan hal ini pada Baekhyun maupun Chanyeol," lirih Luhan.

"Aku tidak akan mengatakannya. Dan… kumohon percayalah padaku."

Luhan menahan nafasnya menunggu kalimat selanjutnya dari Sehun.

"Aku menyayangimu, Luhan."

Mendengar itu, Luhan meremas satu tangannya yang terbebas. Dadanya terasa sesak mendengar pernyataan dari Sehun. Ia benar-benar merasa dipermainkan oleh Dunia ini. Sudah terlalu jauh ia menjadi orang yang bodoh.

"Aku akan mengakhiri panggilan ini," ucap Luhan.

"Luhan… aku bersungguh-sungguh."

"Hentikan Sehun. Kumohon padamu."

"Kau tidak mempercayaiku?"

Tentu Luhan mempercayai ucapan dari Bocah ini. Ia sangat mempercayainya. Tapi apakah hubungan mereka tidak terdengar aneh? Terlebih jarak usia mereka yang terpuat sangat jauh.

Sehun baru berusia 15 tahun, sementara dirinya sudah 30 tahun.

Ia merasa tidak pantas. Ia merasa malu.

"Kumohon jangan mempersulitku, Oh Sehun."

"Kita harus bicara secara langsung. Aku akan datang ke Kantormu besok. Kuharap kau tidak menghindariku. Selamat malam, Xi Luhan."

Pip

Luhan membuka bibirnya hendak menolak permintaan Sehun. Namun Bocah itu lebih dulu mengakhiri panggilan mereka secara sepihak.

Jika benar besok Sehun datang ke Kantornya, maka ia tidak memiliki pilihan lain. Dan ia harus mengatakan pada Bocah itu untuk berhenti menemuinya. Ia tidak ingin berhubungan dengan Bocah itu lagi.

.

.

.

Chanyeol berjalan cepat meninggalkan Kamar Hotel itu. Ia membiarkan Suho di sana seorang diri. Ia sungguh tidak perduli. Ia rasa, sudah cukup ia berhubungan dengan Suho. Ia telah mencintai Baekhyun, dan ia tidak ingin Baekhyun terluka untuk yang kesekian kalinya.

Chanyeol mengendarai Mobilnya dengan pikiran yang kacau. Ia tidak berniat untuk kembali ke Mansion-nya malam ini. Entahlah, dengan perasaan seperti ini, tidak mungkin ia mampu berhadapan dengan Baekhyun maupun Luhan. Ia ingin menenangkan dirinya sejenak seorang diri.

Setelah menembus keheningan malam, Chanyeol menghentikan Mobilnya di sebuah Club malam yang tidak terlalu ramai. Club ini adalah Club yang berbeda dari Club lain. Di sini, tidak ada dentuman musik yang keras memekakkan telinga. Yang ada hanya beberapa orang yang saling mengobrol dengan tenang dan santai sambil meminum minuman beralkoholnya.

Chanyeol memilih kursi tinggi yang berada di meja bar. Ia memesan satu botol alkohol dan segera meneguk minuman memabukkan itu dengan cepat. Tak lama, ia ambruk di atas meja bar tersebut. menggumamkan kalimat tidak jelas, hingga tak lama ia mulai memejamkan kedua matanya.

Sementara di sisi lain, ada seorang Lelaki yang memperhatikan apa yang Chanyeol lakukan. Setelah ia memastikan Chanyeol tak sadarkan diri, ia mulai menghubungi seseorang melalui ponselnya. Memberitahu orang tersebut tentang keberadaan Chanyeol saat ini. Senyuman miring tercetak di bibirnya. Ia rasa saat ini adalah saat yang tepat untuk membalaskan dendamya pada Lelaki keparat tersebut.

Ya, ia harus membuat Chanyeol menderita seperti apa yang ia rasakan di masa lalu karena perbuatan Lelaki itu.

"Kau masih saja bodoh seperti dulu, Park Chanyeol Keparat!"

Lelaki itu segera menghampiri Chanyeol dan membawa tubuh Chanyeol keluar dari Club tersebut. Beruntung tidak ada seorang pun Bodyguard yang mengikuti Chanyeol. Dengan susah payah, ia membopong tubuh Chanyeol menuju ke Mobilnya. Beruntung Chanyeol benar-benar tidak sadarkan diri hingga ia berhasil mendudukkan Chanyeol di dalam Mobilnya.

Tak lama, sebuah Mobil lain berhenti tak jauh dari tempat Mobilnya terparkir. Lelaki itu tersenyum melihat kehadian seseorang keluar dari Mobil itu. Ia menghampiri orang itu dan melakukan gerakan tubuh yang memberitahu bahwa Chanyeol sudah berada di dalam Mobilnya.

"Terima kasih, Jongdae-ah."

"Ini sudah menjadi tugasku, Suho Hyung."

Suho menyeka airmatanya dan tersenyum sambil melangkahkan kakinya menghampiri Mobil milik Jongdae, dimana terdapat Chanyeol di sana. Ya, ia menyuruh Jongdae untuk mengikuti Chanyeol karena ia yakin bahwa Chanyeol tidak akan kembali ke Mansion-nya. Dan dugaannya benar, Chanyeol mabuk dan dengan mudah ia menjalankan rencananya.

Dengan hati yang berdebar, Suho mulai memasuki Mobil itu. Ia langsugn disuguhkan oleh sosok Chanyeol yang tidak sadarkan diri dengan penampilannya yang berantakan. Dengan hati-hati, Suho mengangkat satu tangannya dan mengusap lembut wajah Chanyeol. Wajah yang selalu ia dambakan di setiap malam-malamnya.

Ia sudah lama mencintai dan mengagumi Lelaki ini. Dan sudah saatnya ia memiliki Chanyeol malam ini.

Tanpa menunggu lama, Suho segera menyambar bibir Chanyeol dan menciumnya dengan kasar. Ia luapkan perasaan cintanya pada Chanyeol saat ini. Airmatanya kembali mengalir. Ia tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Ia sangat bahagia karena bisa memiliki Chanyeol meskipun cintanya masih bertepuk sebelah tangan.

"Chanyeol… aku sangat mencintaimu," ucap Suho menjeda ciuman itu.

Setelahnya, ia kembali melumat bibir Chanyeol dan tangannya bergerak cepat untuk melepaskan satu persatu pakaian yang Chanyeol kenakan. Kini ciuman beralih ke leher Chanyeol dan menciptakan beberapa tanda cinta di sana. Tangisnya semakin pecah menyadari ia sangatlah menyedihkan. Chanyeol tidak bereaksi apapun, dan hanya bergumam tidak jelas sesekali.

Tak merasa puas, Suho melumat bibir Chanyeol dengan kasar. Ia sangat takut hari esok datang, dan ia akan kehilangan Chanyeol kembali, seperti yang ia rasakan di masa lalu. Tangannya bahkan sudah tergerak bermain di kejantanan Chanyeol. Ia manjakan milik Chanyeol dengan kemampuan yang ia miliki.

Hingga ia sedikit terkejut kala Chanyeol membuka sedikit matanya dan menatap ke arahnya dengan pandangan yang redup. Ia melepaskan ciumannya karena takut Chanyeol sadar. Namun saat ia menjauhkan bibirnya dari bibir Lelaki itu, Chanyeol justru menarik lehernya dan melumat bibirnya dengan dalam.

Jantung Suho berpacu dengan cepat, tidak menyangka bahwa Chanyeol membalas ciumannya. Terlebih, kedua tangan Chanyeol bergerak cepat untuk melepaskan pakaian yang dikenakannya, hingga mereka kini sama-sama dalam keadaan polos.

Chanyeol mendorong tubuhnya dan menindihnya dengan cepat. Ciumannya beralih pada lehernya dan Suho lagi-lagi terkejut saat ia merasakan Chanyeol mulai melesakkan miliknya ke dalam bagian bawah tubuhnya.

Nafas Suho tertahan. Pikirannya berkecamuk atas sikap Chanyeol padanya saat ini.

"Bukankah ini yang kau inginkan?" ucap Chanyeol.

Mata Suho membulat menatap ke dalam mata Chanyeol.

"Kau sudah sejauh ini. Aku tidak memiliki pilihan lain selain memenuhi keinginanmu," lanjut Chanyeol.

Mata Suho sontak terpejam erat saat milik Chanyeol melesak masuk ke dalam lubangnya. Ia bahkan meremas bahu Chanyeol untuk menyalurkan rasa sakit yang ia rasakan saat ini. Kenapa Chanyeol melakukan hal ini padanya? Bukankah Chanyeol sangat membencinya?

Suho ingin membuka suaranya, namun Chanyeol lebih dulu melumat bibirnya dan tidak membiarkannya untuk berbicara.

Chanyeol tertawa kecil di tengah aktivitasnya menggagahi Suho. Ia pun tidak menyangka, ia menyetubuhi Sahabatnya sendiri seperti ini. Benar, ia memang tidak memiliki pilihan lain. Ia hanya ingin Suho melupakannya setelah ini.

Mereka melakukan aktivitas panas itu di dalam Mobil cukup lama. Karena penyatuan ini sangatlah berkesan. Menjawab semua rasa bimbang dan keraguan yang mereka rasakan. Chanyeol menyentuh Suho dengan baik dan memperlakukan Suho dengan manis. Dengan harapan, Suho akan meninggalkannya secara baik-baik.

Setelah cukup lama penyatuan itu berlangsung, akhirnya Suho tiba pada orgasmenya. Sementara Chanyeol, ia tetap tidak bisa meraih orgasmenya karena ia tidak memiliki hasrat pada siapapun selain Puteranya. Nyatanya, ia masihlah memiliki kelainan itu sampai sekarang.

"Junmyeon, dengarkan aku baik-baik," bisik Chanyeol tepat di depan bibir Suho yang sedikit terbuka.

Suho meresponnya dengan anggukkan kecil dan menatapnya dengan serius.

"Aku menyayangimu, tentu sebagai Sahabatku. Aku tidak bisa menganggapmu lebih. Kumohon kau mengerti dengan kondisiku. Dan aku harap kau tidak melukai Puteraku. Hanya dia yang aku miliki di Dunia ini. Aku sangat mencintainya."

Setelah mengucapkan kalimat menyakitkan itu pada Suho, Chanyeol bangkit dari atas tubuhnya dan memakai kembali pakaiannya. Sementara Suho, ia terdiam memperhatikan Chanyeol dan menangis dalam diam.

"Aku sadar, kau memang tidak pernah mencintaiku. Kau hanya mempermainkanku. Dan apa yang kita lakukan tadi, membuatmu semakin merasa menjadi seorang pecundang," isak Suho.

Setelahnya, Suho tertawa. Menertawai dirinya sendiri.

"Bodohnya kau mencintai seseorang sepertimu," lanjutnya.

"Maafkan aku," lirih Chanyeol.

"Bisakah kau bermalam di Rumahku kali ini saja?"

Chanyeol menatap Suho tidak mengerti.

"Setelah ini. Aku tidak akan mengharapkan cintamu lagi. Aku berjanji," ucap Suho.

Dan Chanyeol menyetujuinya.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued…

.

.

.

.

.

.

Ahh sial, kenapa Chanyeol dan Suho malah enaena? ;;_;;

Maafin Yuta karena lagi gemes sama ChanHo ;;_;;

Okeh, tapi Yuta janji gak akan ada ChanHo lagi setelahnya.

Lagian juga, Yuta capek ngetik ff ini gak selesai-selesai.

Mau buru-buru Yuta selesaiin ff ini wkwkwk :'v

Last, Yuta minta review dari kalian.

Yuta tunggu.

TERIMA KASIH.

SARANGHAE BBUING~!