[Chapter 28]
Kyungsoo baru saja tiba di Kantornya. Ia datang lebih awal karena ia harus membuka pintu Ruangan para Atasannya. Setelah menyelesaikan tugasnya, Kyungsoo berjalan ke Kantin untuk membeli sarapan. Seperti yang biasa ia lakukan setiap harinya.
Sepanjang ia menghabiskan sarapannya seorang diri di Kantin, tak hentinya ia tersenyum. Ia merasa seperti seorang Gadis yang baru saja menemukan Pangeran pujaan hatinya. Pipinya merona setiap kali ia teringat tentang kejadian kemarin.
Kejadian di saat Kai memeluknya di dalam Mobil Lelaki tampan itu.
Tak terasa makanannya telah habis. Kemudian ia bangkit dan kembali ke Ruangannya. Melanjutkan pekerjaan yang sudah menunggunya. Namun saat ia berada di Lobby dan menunggu pintu Lift terbuka, ia melihat sosok Kai bersama beberapa relasi Bisnis mereka, berada di dalam Lift tersebut.
Kyungsoo tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia hanya terdiam dan membungkuk hormat pada orang-orang tersebut saat berjalan melewatinya. Sementara Kai hanya meliriknya sekilas dan bertindak seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka.
Kyungsoo sempat merasakan sesak di dadanya. Namun setelah beberapa langkah Kai berjalan melewatinya, Kai membalikkan tubuhnya dan menatapnya. Mau tidak mau ia membalas tatapan Atasannya tersebut.
"Kyungsoo… luangkan waktu makan siangmu untukku."
Deg!
Jantung Kyungsoo spontan berdetak lebih keras. Pasalnya, Kai mengatakan hal itu sambil tersenyum padanya. Apakah benar yang ia alami saat ini adalah kenyataan? Tetapi… kenapa terasa begitu indah layaknya mimpi?
"N-ne tentu Tuan," jawabnya.
Setelahnya, ia memasuki Lift itu sementara Kai berjalan keluar Gedung karena harus menghadiri Rapat bersama Kolega Bisnisnya.
Di dalam Lift, Kyungsoo meringis. Ia merasa sangat senang. Ia bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa untuk mengekspresikan kebahagiannya saat ini. Berulang kali, ia memukul kecil kepalanya sendiri karena perasaan cinta yang meluap di hatinya itu. Beruntung ia hanya seorang diri di dalam Lift itu, jadi tidak ada yang dapat melihat reaksi konyolnya.
Tak lama, pintu Lift itu terbuka. Menandakan bahwa ia telah sampai di Lantai dimana Ruangannya berada. Baru saja ia keluar dari Lift, ia mendapati Baekhyun sang Atasan sedang berjalan ke arahnya dengan membawa tas kerjanya.
Kyungsoo menyapa Baekhyun dengan sopan.
"Selamat pagi Tuan," sapa Kyungsoo.
"Selamat pagi Kyungsoo Hyung. Ahh iya, kau bisa membantuku?" ucap Baekhyun sebelum ia memasuki Lift.
"Tentu Tuan."
"Aku akan menghadiri Rapat bersama Tuan Kim Suho. Tolong katakan pada Kai, berkas yang dia butuhkan, sudah aku kerjakan dan aku letakkan di atas mejaku," ucap Baekhyun dengan cepat dan jelas.
"Baik Tuan. Aku akan menyampaikannya pada Tuan Kai."
"Terima kasih."
Kyungsoo mengangguk dan membalas senyuman dari Baekhyun. Kemudian atasannya tersebut menghilang di balik pintu Lift yang tertutup.
Sementara Baekhyun, ia sengaja memerintahkan Kyungsoo agar menyampaikan hal ini pada Kai. Ia hanya ingin melihat Kyungsoo dan Kai semakin dekat. Padahal, bisa saja ia mengirimkan pesan pada Kai secara langsung. Tapi jika ia memilih opsi itu, ia tidak akan puas.
Ia hanya akan puas jika Kai dan Kyungsoo benar-benar menjalin hubungan.
Karena Kyungsoolah orang terbaik dan paling cocok untuk Kai.
Tak lama ia tiba di Lobby. Di sana, melihat sang Ayah baru saja turun dari Mobilnya. Ia sedikit khawatir pada sang Ayah karena tadi malam sang Ayah tidak pulang ke Mansion. Jadi, dimanakah sang Ayah tidur semalam?
"Ayah?"
Chanyeol baru menyadari keberadaan Baekhyun. Ia segera menghampiri Puteranya tersebut dan menunjukkan senyuman menawannya.
"Maaf, Ayah tida mengabarimu semalam. Ada beberapa pekerjaan yang harus Ayah kerjakan secara cepat."
Baekhyun tidak menaruh kecurigaan sedikit pun pada sang Ayah dan menanggapinya dengan senyuman. Ia sudah sangat bersyukur jika sang Ayah baik-baik saja.
"Tidak apa-apa Ayah. Aku… akan menghadiri Rapat bersama Tuan Kim Suho sekarang."
Chanyeol terdiam sejenak. Namun setelahnya ia mengangguk dan mengusak pelan rambut sang Putera.
"Ayah percaya kau akan melakukan yang terbaik untuk Ayah."
Pipi Baekhyun sedikit merona atas perlakuan sang Ayah. Pasalnya, apa yang mereka lakukan, disaksikan oleh banyak Karyawan yang bekerja di Perusahaan mereka.
"Tentu Ayah."
"Baiklah, hati-hati. Kita akan makan bersama saat makan siang nanti."
"Ya, Ayah."
.
.
.
Mungkin terlalu pagi bagi Sehun untuk menemui Luhan di Kantornya. Tapi di sinilah ia berada, di sofa yang tersedia di Lobby Gedung Kantor milik Luhan. Menunggu sosok Lelaki cantik itu datang.
Ia sengaja tidak menghubungi Luhan lebih dulu, karena ia tahu Luhan pasti akan menghindarinya. Dan inilah pilihan satu-satunya yang ia miliki. Ia tidak memiliki pilihan lain karena ia sangat ingin bertemu dengan Lelaki cantik itu segera.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pintu utama Lobby Gedung tersebut terbuka. Menunjukkan kehadiran sosok Luhan juga beberapa orang di belakangnya. Wajah cantik Luhan nampak datar dan tak bersemangat. Hingga tanpa sengaja, pandangan mereka bertemu. Sehun dapat melihat raut keterkejutan di wajah Luhan saat melihatnya.
Tanpa membuang-buang waktu, Sehun segera berdiri dan menghampiri Luhan. Sementara seluruh Karyawan yang berada di Lobby itu, mulai memperhatikan ke arah mereka, mengingat Sehun–si Bocah yang mengenakan seragam Sekolah itu–begitu berani berhadapan langsung dengan Pemilik Perusahaan tersebut.
Merasa diperhatikan, Luhan segera memerintahkan Sehun untuk mengikutinya. Tentu Sehun langsung menurutinya. Luhan tidak ingin Chanyeol sampai mengetahui hal ini.
Dan mereka tiba di Ruangan Luhan. Luhan mempersilahkan Sehun masuk tanpa mengeluarkan suaranya sedikit pun. Sehun maupun Luhan tidak melontarkan satu patah kata pun, hingga keheningan cukup lama menyelimuti atmosfer Ruangan tersebut.
Luhan menghadapkan tubuhnya tepat di depan Sehun. Sementara Sehun masih berdiri di dekat pintu Ruangan tersebut sambil menatapnya.
"Katakan apa keinginanmu, dan mari kita lupakan semuanya," ucap Luhan akhirnya.
Bukan itu yang ingin Sehun dengar dari Luhan. Ia datang ke sini hanya untuk menyatakan perasaannya terhadap Luhan. Ia serius dengan perasaannya kali ini. Dan ia sama sekali tidak perduli dengan jarak usia mereka yang cukup jauh.
"Kau mungkin menganggapku sebagai anak kecil. Tapi saat ini, aku ingin kau mendengar semuanya dengan jelas…"
Sehun menggantungkan kalimatnya dan melangkah mendekati Luhan.
"Aku mencintaimu, dan aku ingin memilikimu," lanjutnya.
Namun Luhan bereaksi di luar dugaan Sehun. Luhan justru menertawai ungkapan cinta darinya.
"Kau melihatnya?" tanya Luhan sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya pada Sehun.
"Aku sudah Menikah," lanjutnya.
Sehun membuang tatapannya tidak ingin melihat cincin itu. Setelahnya, ia kembali menatap Luhan dengan dalam.
"Kau memang sudah Menikah. Tapi kau tidak bisa membohongi perasaanmu Luhan," lirih Sehun sambil tersenyum kecil.
Tanpa ragu, ia menarik dagu Luhan dan mengecup bibir itu dengan lembut dan dalam. Ia tahu, Luhan memiliki perasaan untuknya. Dan ia tahu, bahwa Luhan selalu menyukai ciumannya.
Luhan mendorong tubuh Sehun sekuat tenaga sehingga ciuman mereka terlepas. Ia hendak menampar wajah Sehun, namun ia tidak mampu dan menjatuhkan tangannya begitu saja. Ia menunduk dalam dan berkecamuk dengan pikirannya sendiri.
Sehun tidak salah. Ia memang menyimpan perasaan yang sama pada Bocah ini. Namun tidakkah semua ini akan menyulitkan untuknya? Ia tidak bisa berhubungan dengan Bocah ini, terlebih ia pun tidak mungkin mempermainkan Pernikahannya bersama Chanyeol. Sekali pun Chanyeol lebih dulu mempermainkan Pernikahan mereka.
"Luhan, aku mencintaimu. Aku ingin hidup denganmu," ucap Sehun.
Kemudian ia menarik tubuh Luhan ke dalam pelukannya. Memeluk erat tubuh Lelaki cantik yang berhasil membuatnya jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Ia ingin mendekap tubuh ini selamanya. Dan ia rasa, tidak akan ada yang mampu menggantikan posisi Luhan di hatinya. Hanya Luhan orang yang pertama, dan satu-satunya.
"Bagaimana jika Chanyeol mengetahuinya?" gumam Luhan.
"Paman Chanyeol tidak akan marah mengetahui hal ini. Paman Chanyeol adalah orang yang baik. Aku tahu bagaimana hubunganmu dengannya, dan aku rasa, sudah saatnya kau menghentikan semua ini. Jangan merasa sedih lagi. Kita sama-sama tahu bagaimana hubungan Paman Chanyeol dengan Baekhyun Hyung."
Sehun benar. Untuk apa ia terjebak oleh kesedihan yang ia ciptakan sendiri? Sementara ada kebahagiaan yang sudah menjemputnya. Biarkan Pernikahan ini berlanjut untuk urusan Bisnis saja. Selebihnya, ia akan membiarkan cinta menemukan jalannya sendiri.
Perasaannya pada Chanyeol pun semakin lama semakin memudar. Ia tidak mampu membuat Chanyeol jatuh cinta padanya sekeras apapun usahanya. Bahkan sekali pun mereka telah Menikah.
Dan kehadiran Sehun, membuat matanya terbuka. Mungkin sudah seharusnya ia berhenti mencintai Chanyeol.
Luhan menganggukkan kepalanya dan menguatkan dirinya untuk menatap mata Sehun. Perlahan, senyuman mulai tercipta di bibir tipisnya. Ia melemparkan senyumannya pada Sehun untuk meyakinkan dirinya bahwa Sehun adalah orang yang tepat. Sehun memiliki cinta yang besar untuknya. Dan ia harus memilih Sehun untuk menjadi sosok pengisi hatinya. Sehun adalah orang yang pantas.
Tiba-tiba Luhan tertawa kecil sambil mengusak rambut Sehun hingga tatanan rambut Sehun berantakan.
"Aku baru tahu jika Bocah kecil sepertimu sudah mengerti apa itu cinta," goda Luhan.
"Hey, aku bukan Bocah kecil. Apa kau masih meragukanku?" balas Sehun.
"Tidak tidak. Aku tidak meragukanmu. Dan…" Luhan melirik ke arah jam tangannya, "sebaiknya kau kembali ke Sekolahmu atau kau akan dihukum karena terlambat ke Sekolah."
"Jadi…"
Luhan mengernyitkan dahinya tidak mengerti. "Jadi?"
"Jadi… apa kau menerima cintaku dan kita adalah sepasang Kekasih sekarang?" tanya Sehun sumringah.
Luhan mendadak merona dan tidak mampu menyembunyikan rasa malunya dari Sehun.
"Kita akan jadi sepasang Kekasih setelah kau lulus dari Sekolahmu!" ledek Luhan.
"Yak, apa-apaan itu?"
Keduanya saling melempar tawa satu sama lain. Setelahnya, Sehun memeluk tubuh Luhan satu kali lagi. Ia hanya ingin memastikan bahwa saat ini Luhan benar-benar telah menjadi miliknya, dan ia sedang tidak bermimpi. Tentu Luhan membalas pelukan itu tak kalah erat dan mengatakan bahwa ia juga mencintai Sehun.
Meskipun hubungan mereka terlihat sangat aneh, tetapi Luhan berusaha untuk menjadi sosok yang kuat seperti sebelumnya dan siap menghadapi apapun yang akan menjadi penghalang antara hubungannya dengan Sehun. Ia benar-benar siap menghadapi itu semua.
"Baiklah, aku akan membicarakan tentang hubungan kita pada Chanyeol secara baik-baik. Aku mencintaimu Sehun. Dan aku harap kau tidak mempermainkanku seperti yang Chanyeol lakukan padaku," ucap Luhan lemah.
Sehun mengangguk cepat. "Aku tidak mungkin mempermainkan cinta pertamaku. Dan aku pun akan mengatakan hal ini pada Baekhyun Hyung."
Luhan mengangguk dan setelahnya membiarkan Sehun keluar dari Ruangannya untuk pergi ke Sekolah. Senyuman tak hentinya ia tunjukkan pada Sehun hingga akhirnya Sehun menghilang di balik pintu.
"Aku mencintaimu, Tuan Xi Luhan," bisik Sehun sebelum pintu itu tertutup.
"Ck! Anak itu," gumam Luhan sambil menggelengkan kepalanya. Setelahnya, ia melanjutkan pekerjaan yang harus ia kerjakan hari itu.
.
.
.
Suho baru saja menyelesaikan Rapat pentingnya pagi ini. Tanpa memperdulikan apapun, ia segera keluar dari Ruangan Rapat yang bertempat di Kantor miliknya tersebut, dan berjalan kembali menuju ke Ruangan pribadinya.
Sepanjang Rapat berlangsung, ia memperhatikan sosok Putera Park Chanyeol. Ya, matanya tak lepas dari sosok sempurna Park Baekhyun hingga Rapat itu berakhir. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Chanyeol, bahwa Baekhyun adalah seorang Bocah yang nyaris sempurna. Ia cantik, pintar dan begitu cerdas mengatasi situasi. Ia bahkan dapat melihat sosok Chanyeol di dalam diri Baekhyun. Dan itulah yang memperkuat anggapannya tentang Baekhyun, bahwa Baekhyun bukanlah seseorang yang dapat diremehkan.
Jadi, sosok seperti itu yang diinginkan oleh Chanyeol?
Sosok itu yang membuat Chanyeol bertahan dengan kelainannya?
Pikiran Suho berkecamuk. Ia bahkan tidak sadar telah menjatuhkan berkasnya ke Lantai. Hingga sebuah suara berhasil menghentikan langkahnya. Dan saat ia membalikkan tubuhnya, ia melihat Baekhyun sedang tersenyum padanya dan berjalan mendekatinya dengan membawa berkas yang tadi tak sengaja ia jatuhkan.
"Berkasmu terjatuh, Tuan Kim Suho," ucap Baekhyun dengan ramah dan sopan.
"Ahh terima kasih," balas Suho sambil menerima berkas itu dari tangan Baekhyun.
Entah kenapa ia teringat oleh kejadian semalam. Dimana ia bercinta dengan Park Chanyeol, dan mengatakan bahwa ia tidak akan mengganggu kehidupan percintaan Chanyeol lagi. Hatinya masih terluka sampai detik ini. Namun ia tidak dapat menyalahkan siapapun. Ia pun tidak dapat menyalahkan Baekhyun tentang masa lalunya bersama Chanyeol.
Juga, Baekhyun nyatanya hanyalah Bocah yang polos. Jiwanya masih murni dan tidak pantas untuk dijadikan sebagai objek kebenciannya.
Suho segera beranjak dari hadapan Baekhyun setelah ia mendapatkan berkasnya kembali. Ia tidak mampu berhadapan dengan Putera Park Chanyeol itu lebih lama lagi. Ia merasa menjadi seorang Pecundang. Dan memang sudah saatnya ia angkat kaki dari kehidupan Chanyeol.
Sementara Baekhyun, ia memandangi kepergian Suho dari hadapannya. Ia masih tidak mengerti dengan ucapan Kai yang mengatakan bahwa Suho adalah seorang musuh di dalam selimut. Ia melihat Suho adalah orang yang baik seperti relasi Bisnis mereka yang lain. Dan tidak ada kejanggalan yang ia rasakan saat berhadapan dengan Suho.
Tapi entah kenapa, ia mereka seperti ada sebuah cerita yang belum diselesaikan. Suho bersikap berbeda seperti saat pertama kali mereka bertemu di Pernikahan sang Ayah. Saat itu, tatapan Suho nampak ingin menghancurkannya. Namun kali ini, ia melihat keputus asaan dari raut wajah Lelaki itu.
Sebenarnya apa yang telah terjadi? Sebenarnya apa yang tidak ia ketahui? Haruskah ia menanyakan hal ini secara langsung pada sang Ayah? Tapi… apakah ia pantas melakukannya?
Sosok Suho perlahan menghilang dari pandangannya. Merasa ada yang harus dibicarakan, Baekhyun berjalan cepat menyusul Suho. Ia harap, ia masih mampu mengejarnya.
"Tuan Kim Suho," panggil Baekhyun.
Sementara Suho yang sedang berdiri menunggu pintu Lift terbuka, menolehkan kepalanya ke arahnya dengan tatapan sedikit bingung.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Apa kau memiliki waktu sebentar?" ucap Baekhyun memberanikan dirinya.
Suho nampak berpikir. Tetapi ia tidak memiliki kesempatan lain untuk berbicara dengan Putera Chanyeol tersebut. Tak lama, ia menganggukkan kepalanya dan membuka suaranya.
"Bicaralah di Ruanganku," ucap Suho. Setelahnya, Baekhyun mengangguk dan mengikutinya.
Di dalam Lift, Baekhyun diam-diam memperhatikan sosok Suho. Lelaki ini nampak sangat tenang dan juga berwibawa. Tidak heran kenapa Suho dapat memegang kendali Perusahaan besar ini seorang diri. Berdasarkan dari berita yang ia dengar, Suho sudah lama kehilangan kedua Orangtuanya dan membangun kembali Perusahaan ini yang nyaris gulung tikar.
Bisa dikatakan, Suho bisa menjadi sosok panutan untuknya.
Tak terasa mereka mulai memasuki Ruangan pribadi Suho. Baekhyun dipersilahkan duduk di sofa yang tersedia, dan Suho duduk tepat di hadapannya. Baekhyun tidak yakin mampu menanyakan hal ini pada Suho atau tidak. Tetapi ia sudah terlanjur sejauh ini, ia harus menanyakan apa yang membebaninya selama ini.
"Tuan Kim Suho, mungkin aku sudah terlalu lancang padamu. Tapi… aku ingin membicarakan hal yang penting. Yaitu, tentang Ayahku."
Suho memperhatikan setiap kata yang keluar dari bibir Baekhyun. Ia menganggukkan kepalanya, sebagai tanda bahwa Baekhyun boleh melanjutkan perkataannya.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu, dan um… aku sangat ingin mengetahuinya. Tentang kau dan Ayahku."
Suho tersenyum kecil.
"Kau sungguh berani, Park Baekhyun."
"Maaf jika aku bertindak seperti ini. Jika kau keberatan, aku tidak akan memaksamu untuk mengatakannya," ucap Baekhyun dengan cepat.
"Kau tahu bahwa aku dan Ayahmu adalah Rekan Bisnis sejak lama. Dan kami bersahabat bahkan saat kami masih duduk di bangku Kuliah. Kami berpotensi di bidang usaha yang sama, itulah yang membuat kami cocok dan dekat," mulai Suho.
Sepertinya sudah saatnya ia menceritakan semuanya pada Baekhyun. Karena Baekhyun terlihat sangat ingin mengetahui apa yang terjadi di masa lalu mereka.
"Hanya… itu?" tanya Baekhyun sedikit ragu.
Suho tertawa kecil. "Memangnya apa yang telah Ayahmu katakan tentangku?"
Baekhyun berpikir sejenak. Ia harus berhati-hati dalam berbicara, karena ia tidak mau Suho mengetahui hubungan anehnya dengan sang Ayah.
"Apa kau cemburu padaku?" tanya Suho lagi.
Sontak pertanyaan itu membuat Baekhyun terkejut bukan main. Bibirnya tiba-tba tertutup rapat dan ia tidak tahu harus bersikap seperti apa saat ini.
"Aku sudah mengetahui hubunganmu dengan Park Chanyeol," lanjut Suho dengan senyuman kecilnya.
Baekhyun hendak beranjak dari sana karena ia merasa posisinya sedang tidak aman. Ia harus segera pergi dari tempat ini.
Namun saat ia berjalan ke arah pintu Ruangan itu, tangannya lebih dulu ditahan oleh Suho dan Suho lagi-lagi berhasil mengejutkannya atas perkataan Lelaki itu.
"Aku dan Chanyeol pernah menjadi sepasang Kekasih," ucap Suho dengan jelas.
Deg!
Dada Baekhyun terasa nyeri mendengar pernyataan dari Suho. Ternyata dugaannya benar, Suho dan Ayahnya pasti pernah memiliki hubungan. Dan yang membuatnya lebih takut lagi saat ini adalah…
Apakah sang Ayah dan Suho masih memiliki hubungan yang spesial saat ini?
"M-maaf Tuan Kim Suho, aku harus segera kembali ke Kantor Ayah," gumam Baekhyun.
Perlahan Suho melepaskan tangan Baekhyun dan menghadap pada Bocah itu. Ia menepuk kedua bahu Baekhyun dan meminta Baekhyun untuk mendengarkan perkataannya secara baik-baik.
"Kau tidak perlu khawatir, Park Baekhyun. Aku tidak akan menyakitimu atau Ayahmu. Aku sudah berjanji padanya untuk tidak mengganggu kehidupannya lagi. Dan… aku ingin meminta maaf padamu, karena aku telah bertindak bodoh kemarin."
Baekhyun tidak menjawab dan membungkuk hormat pada Suho sebelum ia beranjak dari hadapan Lelaki itu. Setelah berhasil keluar dari Ruangan itu, Baekhyun berjalan dengan cepat dan ia tidak mengerti kenapa ia meneteskan airmatanya. Hatinya terasa sakit mengetahui fakta itu. Fakta bahwa kenyataannya, Ayahnya pernah menjalin hubungan dengan Lelaki lain.
Baekhyun menyembunyikan isak tangisnya sesampainya ia di Mobil. Sepanjang perjalanan menuju ke Kantornya, Baekhyun hanya terdiam memikirkan hal barusan. Ia bahkan tidak dapat membayangkan seperti apa masa lalu sang Ayah bersama Suho.
Hingga ia tiba di Kantornya dan ia langsung menuju ke Ruangan sang Ayah berada. Ia bahkan hanya menundukkan kepalanya tanpa memperdulikan Karyawan yang memberikan sapaan kepadanya.
Baekhyun membuka pintu Ruangan sang Ayah tanpa mengetuknya lebih dulu. Matanya mencari keberadaan sang Ayah dan ia menemukannya. Sang Ayah masih berkutat dengan pekerjaannya dan memandang bingung ke arahnya.
"Ayah. Apa ada hal lainnya yang kau sembunyikan dariku? Katakan padaku Ayah!" sambar Baekhyun.
"Baekhyun kau—"
"Selain Luhan dan Kim Suho, siapa lagi laki-laki yang kau tiduri?!"
"Jaga ucapanmu, Park Baekhyun!"
Baekhyun terdiam di tengah isakannya. Ia menatap marah pada sang Ayah. Kenapa sang Ayah kejam sekali menyakitinya berkali-kali?
"Aku membencimu, Ayah!"
BRAKK!
Baekhyun berlari keluar dan membanting pintu Ruangan Chanyeol dengan keras. Sementara Chanyeol berusaha untuk mengejar Baekhyun dengan sedikit berlari.
Ia tahu bahwa akan terjadi sesuatu pada Baekhyun setelah ia membiarkan Baekhyun bertemu dengan Suho. Tetapi, bukankah Suho berjanji untuk tidak mengganggu kehidupannya lagi? Lantas, kenapa Baekhyun bereaksi seperti ini padanya? Apakah Suho sudah mengatakan hal yang tidak-tidak pada Puteranya tersebut?
"Aku dan Chanyeol pernah menjadi sepasang Kekasih."
"Kau tidak perlu khawatir, Park Baekhyun. Aku tidak akan menyakitimu atau Ayahmu. Aku sudah berjanji padanya untuk tidak mengganggu kehidupannya lagi. Dan… aku ingin meminta maaf padamu, karena aku telah bertindak bodoh kemarin."
"Aku meminta Chanyeol untuk tidur denganku. Itulah alasan kenapa Chanyeol tidak kembali ke Mansion-nya."
"Tapi aku sadar, bahwa Chanyeol tidak pernah memiliki cinta untukku. Dan aku… tidak akan mengusik hubungan kalian lagi."
Kalimat itu, masih teringat jelas di pikiran Baekhyun. Meskipun Suho berjanji tidak akan mengganggu kehidupan sang Ayah lagi, tetapi tetap saja sang Ayah menorehkan kembali luka di hatinya yang belum sempat sembuh. Dan itu sangat menyakitinya. Ia sangat sakit. Ia tidak bisa menahan rasa sakit ini sendirian.
"Baekhyun, Ayah hanya ingin Suho berhenti untuk mengejar Ayah. Hanya itu."
Baekhyun menutup kedua telinganya tidak ingin mendengar ucapan sang Ayah. Ia membalikkan tubuhnya dan memunggungi sang Ayah, ia tidak perduli meskipun sang Ayah sudah rela mengejarnya hingga ke Ruangannya seperti ini untuk menjelaskan semuanya.
"TAPI KAU TIDAK HARUS MENIDURINYA AYAH!"
Chanyeol terdiam. Ia tahu ia telah melakukan banyak kesalahan terhadap Puteranya. Tetapi ia tidak memiliki pilihan lain. Ia harus melakukan semua itu untuk mempertahankan Baekhyun.
"Maafkan Ayah, Baekhyun."
"Apakah Ayah pantas aku maafkan?"
Baekhyun membalikkan tubuhnya untuk menatap sang Ayah. Ia menyeka airmatanya berkali-kali, meskipun airmatanya tidak henti menetes.
"Setelah dengan egoisnya Ayah membuangku, Ayah memintaku untuk kembali pada Ayah ketika aku dewasa. Ayah memaksaku untuk meninggalkan Ibu dan menuruti seluruh perkataan Ayah. Kau memanfaatkan keberadaanku! Ayah bahkan tidak mengizinkanku untuk bertemu dengan Kakek sampai sekarang. Apa sebenarnya rencanamu Ayah? Aku sungguh tidak mengerti dengan keinginan Ayah! Hiks!"
Chanyeol memikirkan perkataan sang Putera. Ia memang telah melakukan banyak kesalahan selama ini. Bahkan terlalu banyak rahasia yang ia sembunyikan. Dan kini, ia hanya mampu menatap sang Putera tanpa bisa melakukan apapun.
"Kau telah membohongiku berkali-kali. Dan aku rasa, aku sudah berada di ujung kemampuanku. Ayah… mari kita akhiri saja hubungan ini. Anggap aku sebagai Anakmu, dan aku akan menganggapmu sebagai Ayahku. Biarkan aku mencari cintaku, dan aku tidak mengurusi dengan siapa kau menjalin hubungan."
Chanyeol menggelengkan kepalanya tidak mampu membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi. Ia berjalan mendekati Baekhyun dan dengan mengejutkan, ia berlutut tepat di depan Puteranya tersebut.
Baekhyun terkejut bukan main. Untuk apa sang Ayah berlutut di depannya seperti ini? Bahkan sang Ayah terus menundukkan kepalanya dan tidak mau menatapnya.
"Hentikan Ayah," gumam Baekhyun.
"Maafkan Ayah."
Mata Baekhyun membulat mendengar suara sang Ayah yang bergetar.
"Ayah mohon jangan membenci Ayah. Hanya kau yang Ayah miliki," lanjutnya.
Baekhyun ikut berlutut dan meraih kedua bahu sang Ayah. Ia memaksa sang Ayah untuk menatapnya, dan ia melihat wajah sang Ayah sudah basah oleh airmata.
"Ayah… aku masih menjadi Putera Ayah. Hanya saja… aku tidak bisa menjadi Kekasih Ayah lagi."
Chanyeol sontak menatap mata indah Puteranya tersebut. Ia kembali menggelengkan kepalanya. Ia ingin Baekhyun tahu bahwa ia tidak bisa menjalin hubungan dengan siapapun selain dirinya.
"Lagipula kita tidak bisa terus menerus menyembunyikan hubungan kita. Lambat laun semua orang pasti mengetahuinya," lanjut Baekhyun.
Baekhyun pun merasa tersakiti atas ucapannya sendiri. Tetapi ia harus melakukannya. Ia ingin semuanya berjalan normal. Ia ingin menjadi orang yang normal. Menjalani kehidupan yang normal layaknya kehidupan orang lain. Ia harus bisa. Ia harus berusaha agar bisa.
Chanyeol memeluk erat tubuh mungil Baekhyun hingga beberapa menit. Ia mencoba menenangkan dirinya dengan memeluk Puteranya tersebut. Kehidupannya sudah cukup berat ia jalani sejak dulu. Hanya Baekhyun yang mampu membuatnya kuat dan menjadikannya seperti sekarang.
"Ayah menyesal telah menghancurkanmu. Maafkan Ayah. Dan terima kasih telah menjadi Putera yang baik untuk Ayah. Cinta Ayah padamu sangatlah besar, Ayah bahkan tidak mampu mengungkapkannya. Ayah akan selalu melindungimu, Park Baekhyun. Ayah hidup hanya untukmu."
Baekhyun membalas pelukan sang Ayah tak kalah erat dan mengusap punggung sang Ayah dengan lembut. Kemudian ia membawa tubuh sang Ayah untuk bangkit berdiri dan tersenyum tulus padanya.
"Terima kasih Ayah. Kau adalah Ayah terbaik yang pernah aku miliki," ucap Baekhyun.
Kemudian ia mengecup bibir sang Ayah dengan lembut. Kecupan terakhir yang ia berikan untuk sang Ayah sebelum hubungan mereka benar-benar berakhir.
"Aku sangat menyayangimu, Ayah."
.
.
.
Setelah selesai menghadiri Rapat, Kai segera kembali ke Ruangannya. Bukan untuk mengerjakan tugasnya, tetapi untuk menunggu kehadiran Kyungsoo karena saat ini sudah memasuki jam makan siang.
Ia hanya terduduk di Ruangannya sambil menatap ke luar jendela, seperti yang biasa ia lakukan jika sedang menunggu seseorang. Dan ia tidak sadar bahwa ia sedang tersenyum seperti orang bodoh karena bayangan seseorang. Ya, siapa lagi jika bukan Kyungsoo?
Sosok Lelaki manis yang akan selalu merona jika sedang berhadapan dengannya.
Tak lama, ia mendengar suara ketukan dari arah pintu Ruangannya. Ia segera menolehkan kepalanya dan melihat sosok Kyungsoo di sana. Senyuman kembali tercetak di wajah tampannya. Ia bangkit dan menghampiri sosok Kyungsoo.
"Apakah Tuan… membutuhkan bantuanku?" cicit Kyungsoo.
Seingat Kyungsoo, Atasannya tersebut memintanya meluangkan waktu makan siangnya untuknya. Sekarang ia sudah berada di sini, dan ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Um… dimana biasanya kau makan siang? Apa kau boleh ikut makan siang denganmu?" tanya Kai.
"Aku terbiasa makan siang di Kantin, Tuan. Jika Tuan tidak keberatan, aku bisa menemani Tuan makan siang di sana."
Mati-matian Kyungsoo membuang rasa gugupnya dan bersikap seperti biasa. Meskipun ia yakin pipinya sudah merona saat ini, tetapi ia mampu berbicara dengan lancar di hadapan Kai.
Dan ia terkejut kala Kai menganggukkan kepalanya dan melepaskan jas formalnya lalu meletakkanya di kursi kerjanya.
"Ayo, kita ke Kantin sekarang. Aku sudah sangat lapar," ajak Kai.
Ini aneh!
Tidak ada Atasan yang mau makan di Kantin Kantor ini sebelumnya. Karena yeah… biasanya para Atasan lebih memilih untuk makan di Restoran yang terletak tak jauh dari Gedung Kantor mereka. Bukankah ini adalah hal yang langka?
Kyungsoo mengikuti langkah Kai menuju ke Kantin. Kai menerima sapaan Karyawan lain dengan riang. Sementara dirinya hanya mampu menundukkan kepalanya dalam-dalam karena merasa malu. Entah kenapa, ia tidak begitu nyaman dengan tatapan Karyawan lain yang tertuju padanya.
Dan di sinilah ia berada. Kyungsoo memilih Kantin ini untuk makan siang bersama Kai. Ia memesan menu makanan yang biasa ia pilih saat makan siang, sementara Kai nampak bingung dengan menu makanan apa yang ingin ia makan saat ini.
"Tuan ingin pesan apa?" tanya Kyungsoo.
"Apapun yang kau pesan."
Akhirnya Kyungsoo memesan makanan untuk 2 orang. Untuknya dan untuk Kai. Tak lama, pesanan mereka datang, dan kini tersaji di hadapan mereka siap untuk disantap.
Kyungsoo memperhatikan Kai diam-diam, dan ia bersyukur karena Kai nampak tidak sabar untuk menghabisi makanannya. Kyungsoo tertawa kecil melihat Kai memakan makanannya. Hatinya menghangat, dan ia masih tidak mengerti kenapa Kai tidak malu makan bersama dengannya di Kantin ini.
Kyungsoo menghabiskan makanannya dengan cepat. Dan ia menunggu Kai menyelesaikan makanannya. Sembari menunggu, Kyungsoo mencoba membunuh waktu dengan memainkan ponselnya. Mengecek beberapa notifikasi email yang masuk.
Namun ia terkejut saat ponselnya diambil oleh Kai begitu saja. Kai meletakkan ponselnya di atas meja dan menatapnya dengan dalam.
"Aku tidak ingin kau mengalihkan perhatianmu pada ponsel ini," ucap Kai.
Kyungsoo sedikit takut dan bingung. Namun setelahnya, Kai tiba-tiba menarik tangannya dan beranjak dari tempat itu. Kyungsoo semakin malu dan hanya menyembunyikan wajahnya, karena apa yang dilakukan oleh Kai saat ini, sangat menarik perhatian Karyawan di sana.
Kyungsoo hanya mampu memandangi genggaman tangan Kai pada tangannya, dan di sinilah mereka berada. Kai menyuruhnya untuk memasuki Mobilnya, dan Atasannya itu mengatakan bahwa ia ingin menemui Ibunya yang dirawat di Rumah Sakit.
"Aku hanya memiliki waktu saat ini, apakah aku boleh menjenguk Ibumu?" tanya Kai.
"Apa… Tuan benar-benar ingin menjenguk Ibuku?" tanya Kyungsoo ragu.
Kai mengangguk cepat. "Aku ingin sekali berkenalan dengan Ibumu dan mengobrol dengannya."
"B-baiklah Tuan."
Setelahnya, mereka segera meluncur ke Rumah Sakit yang terbilang tak jauh dari Gedung Kantor mereka. Tidak ada percakapan yang terjadi selama perjalanan. Kai hanya membungkam bibirnya, dan tidak ada alasan bagi Kyungsoo untuk berbicara.
Hingga mereka tiba di Rumah Sakit, dan Kyungsoo langsung meminta Kai untuk mengikutinya. Mengikutinya ke arah Ruangan Ibu Kyungsoo dirawat.
Kyungsoo membuka pintu Ruang rawat sang Ibu dengan perlahan. Dan ia melihat sang Ibu sedang menikmati makan siangnya seorang diri. Tentu ia tahu bahwa sang Ibu akan terkejut melihatnya saat ini. karena yang Ibunya tahu, ia bekerja di Kantor dari pagi hingga malam.
"Ibu…" sapa Kyungsoo.
"Kyungsoo, apa yang membawamu kemari? Apa kau bolos bekerja?" tanya sang Ibu khawatir.
Sudah sewajarnya sang Ibu bertanya demikian, terlebih saat melihat sang Putera masih berpakaian rapih, mengenakan jas kantornya.
"Ada seorang Atasanku yang ingin menjenguk Ibu," cicit Kyungsoo.
Sang Ibu mengernyit heran. Pasalnya, jarang sekali sang Putera membawa seorang Teman ke hadapannya. Terlebih, Kyungsoo barusan mengatakan bahwa Atasannya ingin bertemu dengannya. Bukankah itu… sedikit aneh?
"Baiklah, suruh dia masuk Nak," perintah sang Ibu. Kyungsoo mengangguk dan mempersilahkan Kai masuk.
Kai segera menyapa Ibu Kyungsoo dengan sopan. Lengkap dengan senyuman mempesonanya. Membuat Ibu Kyungsoo sangat sungkan terhadap Atasan tempat Puteranya bekerja tersebut.
"Perkenalkan, namaku adalah Kim Jongin. Kyungsoo bercerita bahwa ia memiliki Ibu yang sedang dirawat di Rumah Sakit. Dan aku… sangat ingin menjenguk Bibi."
Ibu Kyungsoo yang awalnya sedikit bingung, lantas menunjukkan senyuman teduhnya pada Kai. Senyuman yang sangat mirip dengan senyuman milik Kyungsoo.
"Terima kasih sudah repot-repot menjenguk Bibi. Suatu kehormatan untuk Bibi bisa dijenguk oleh Atasan di tempat Putera Bibi bekerja," ucap Ibu Kyungsoo ramah.
Sementara Kyungsoo, hanya memperhatikan Kai dan sang Ibu berbincang-bincang. Banyak yang mereka bicarakan, dan entah kenapa mereka nampak cepat akrab, padahal ini adalah pertemuan pertama mereka. Perasaan Kyungsoo menghangat, melihat Lelaki yang ia sukai secara diam-diam, bisa seakrab itu dengan sang Ibu yang sangat ia sayangi.
"Baiklah Bi, sepertinya kami harus segera kembali ke Kantor. Bibi harus bersemangat dan lawan penyakit Bibi. Tidakkah Bibi ingin melihat Kyungsoo bahagia?"
Tepat di akhir kalimatnya, Kai melirik ke arah Kyungsoo dan Kyungsoo menyadari tatapan itu. Kyungsoo sontak menundukkan kepalanya untuk menutupi rasa malunya.
"Tentu, tentu Bibi akan bersemangat hingga sembuh dan melihat Putera Bibi bahagia."
Setelah berpamitan, Kyungsoo kini berjalan di belakang Kai mengikuti Atasannya tersebut. Sementara Kai, merasa tidak nyaman karena saat ini mereka sedang tidak berada di Kantor. Ia tidak suka Kyungsoo bersikap terlalu formal padanya. Ia memelankan langkahnya, hingga Kyungsoo kini berjalan sejajar tepat di sampingnya. Tetapi Asistennya itu, masih saja menundukkan kepalanya.
"Apa yang kau pikirkan hm?" tanya Kai. Membuat Kyungsoo langsung gelagapan.
"A-ahh tidak. Aku tidak memikirkan apapun Tuan."
Kai tersenyum dan tak terasa mereka sudah berada di luar Rumah Sakit tersebut. Kyungsoo bingung ketika Kai justru menghentikan langkahnya dan bukan berjalan menuju Parkiran.
"Kyungsoo… apa kau tahu Kedai kopi di sekitar sini?" tanya Kai.
Tentu Kyungsoo tahu. Bahkan nyaris setiap hari ia mendatangi Kedai kopi yang berada tepat di samping Rumah Sakit ini, agar ia terjaga selama menjaga sang Ibu.
Kyungsoo mengangguk dan menunjuk ke arah kanan, yang mana langsung nampak Kedai kopi yang ia maksud.
"Di sana Tuan."
"Apa enak?"
"Sangat enak," Kyungsoo tersenyum dan mereka berjalan kaki ke Kedai kopi tersebut.
Setelah memesan 2 cup kopi, mereka berjalan keluar dari Kedai kopi tersebut. Berjalan kaki berdampingan dengan memegang cup kopi mereka masing-masing.
"Hahh~ nikmat sekali angin sore saat ini," gumam Kai sambil menikmati hembusan angin yang menerpa tubuh mereka.
Sementara Kyungsoo merona memperhatikan sosok Kai yang sempurna. Ia masih tidak menyangka bahwa ia akan berjalan berdampingan dengan Kai seperti ini.
"Ahh iya, bukankah di sini ada Sungai Han? Mau ke sana?" tanya Kai.
Kyungsoo hanya mampu mengangguk menuruti perintah Kai, karena itulah kewajiban seorang Asisten terhadap Atasannya. Mereka kembali berjalan kaki dan duduk di sebuah kursi panjang yang menghadap langsung pada Sungai Han. Menikmati kopi di sore hari, sambil memandangi aliran tenang air Sungai di hadapan mereka.
Matahari mulai tenggelam. Menyisakan sinar senja yang menenangkan. Tempat yang sangat tepat untuk menghabiskan waktu sore hari mereka.
Tidak ada perbincangan. Tidak ada percakapan. Mereka sama-sama terdiam menikmati suasana langka ini.
Kai tertawa kecil sambil menatap Sungai tersebut. Entah kenapa ia merindukan sang Ibu saat ini. Ia merindukan Ibunya yang telah lama pergi meninggalkannya. Dan pertemuannya dengan Ibu Kyungsoo tadi, membuat hatinya terasa menghangat karena merasakan kehadiran sosok Ibu di hidupnya.
Diam-diam ia melirik ke arah Kyungsoo yang juga sedang memandangi aliran air Sungai. Hembusan angin nyatanya menerbangkan beberapa helai rambut yang menutupi dahi Kyungsoo. Entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdebar. Ia baru menyadari bahwa Kyungsoo memiliki wajah yang manis.
Lama ia memandangi wajah manis Kyungsoo, membuat Kyungsoo tersadar dan mulai menatapnya dengan tatapan bingung. Sungguh, ia tidak dapat memalingkan pandangannya dari wajah Kyungsoo.
Senyuman Kyungsoo yang begitu tulus, begitu mirip dengan senyuman Ibunya dulu. Ia terpesona dan jatuh dalam senyuman itu. Ia hanya ingin melihat senyuman itu lebih lama.
Hingga tak sadar bibirnya terbuka dan ia menggumamkan sesuatu pada Lelaki manis yang ada di sampingnya ini.
"Kyungsoo.. sepertinya aku benar-benar mulai jatuh cinta padamu."
.
.
.
.
.
.
To Be Continued…
.
.
.
.
.
.
Jreng jreng~!
ChanBaek putus, dan KaiSoo menuju jadian :'v
Sepertinya FF ini akan selesai di Chapter 30 saja. Semoga masih ada yang mau baca cerita ini sampai tamat. Jangan bosen, karena masih ada satu konflik lagi yang akan muncul.
STAY TUNE!
JANGAN LUPA REVIEW. YUTA TUNGGU!
TERIMA KASIH. SARANGHAE BBUING~!
