[Chapter 29]
Tidak biasanya Luhan datang ke Kantor Chanyeol dan mengajaknya untuk pulang bersama, tetapi inilah yang sedang terjadi. Ia bahkan sudah terduduk di sofa di dalam Ruangan Chanyeol dan menunggu Lelaki itu menyelesaikan sedikit pekerjaannya.
Luhan menunggu dengan sabar. Sesekali ia lirik wajah tampan Suaminya tersebut. Suami yang telah ia khianati akhir-akhir ini.
"Aku sudah selesai. Mari kita pulang."
Suara Chanyeol memecahkan lamunannya. Kemudian ia segera bangkit dan menghampiri Chanyeol untuk pulang bersama. Luhan tak hentinya melemparkan senyum pada Suaminya tersebut. Ia pun menggandeng lengan Chanyeol sepanjang perjalanan mereka menuju Lobby.
Bukankah itu hal yang wajar ia lakukan?
Tetapi kenapa ia merasa amat sangat tidak nyaman?
Paman Lee menyapa mereka. Lagi-lagi Luhan hanya mampu melemparkan senyumannya dan masuk ke dalam Mobil mewah itu bersama Chanyeol. Ingin sekali rasanya ia mengatakan bahwa ia telah mencintai Lelaki lain. Tetapi sekarang bukanlah waktu yang tepat. Chanyeol nampak kelelahan, dan bersandar pada bahunya.
"Aku sangat senang kau datang ke Kantorku. Aku… merindukanmu," ucap Chanyeol.
Tangan Luhan terangkat untuk mengusap lembut pipi Chanyeol dan mengecup rambut Chanyeol dengan sayang. Ia tersenyum dengan hati yang teriris.
"Aku juga merindukanmu. Aku pikir pulang bersama seperti ini akan sangat menyenangkan," balas Luhan.
Tubuh Luhan terasa kaku saat Chanyeol memeluk pinggangnya dengan erat. Ia merasa sangat intim dengan Chanyeol, tetapi perasaan kali ini berbeda. Sebelumnya, ia akan sangat senang jika Chanyeol melakukan hal ini padanya. Tetapi sekarang…
Dadanya mendadak sesak.
Tidak seharusnya ia melanjutkan hubungannya dengan Chanyeol.
Akhirnya mereka sampai di Mansion. Mereka segera menuju ke Kamar mereka dan Luhan hanya bungkam membiarkan Chanyeol melakukan aktivitasnya. Sementara dirinya, ia memilih untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Tak hentinya ia melamun. Ia sungguh bingung bagaimana harus mengatakannya pada Chanyeol. Darimana ia harus memulainya. Ia tidak dapat berekspektasi tentang apa yang selanjutnya akan terjadi pada mereka.
Tetapi ia harus melakukannya.
Cepat atau lambat, Chanyeol harus mengetahuinya.
Luhan sudah menyelesaikan acara mandinya. Kemudian ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang besar milik Chanyeol. Tatapan matanya kosong hanya tertuju pada lantai. Dan hal itu membuat Chanyeol merasa ada aneh pada Istrinya tersebut.
Tanpa berpikir panjang, ia segera menghampiri Luhan dan duduk di samping Lelaki cantik itu.
"Apa yang kau pikirkan hm? Kenapa kau melamun seperti itu sejak tadi?" tanya Chanyeol. Ia mengusap rambut Luhan dengan sayang. Memberikan kenyamanan pada Istrinya tersebut.
"Ada yang ingin kubicarakan padamu," lirih Luhan. Ia kini menatap Chanyeol.
"Katakanlah."
"Sepertinya… aku tidak bisa bertahan lagi di sampingmu."
Chanyeol mengernyit bingung atas ucapan Lelaki cantik itu.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku… aku tidak bisa memaksamu untuk mencintaiku. Aku tahu kau mencintai Puteramu sendiri."
Chanyeol tersenyum kecil. "Kau masih mempermasalahkan hal itu?"
"Tidak. Aku baik-baik saja dengan hubungan kalian. Aku juga ingin mempertahankan Pernikahan ini. Hanya saja…" Luhan menggantungkan kalimatnya dan tanpa sadar meneteskan airmatanya. Ia tahu ia akan menyakiti hati Chanyeol, "aku mencintai Lelaki lain."
Chanyeol terkejut bukan main. Ia tidak melihat kebohongan di mata Luhan. Ia tahu bahwa Luhan sedang berkata jujur. Tetapi… siapakah Lelaki itu? Apakah ia mengenalnya? Dan juga… kenapa begitu tiba-tiba?
"Apakah aku mengenal Lelaki itu?" tanya Chanyeol mencoba untuk tenang.
Luhan mengangguk. "Kau mengenalnya."
Chanyeol memutar otak dan mengira-ngira siapa orang yang Luhan cintai. Tetapi nihil, ia tidak mampu menemukan jawabannya.
"Maafkan aku," isak Luhan. Kini Lelaki cantik itu menundukkan kepalanya tidak mampu menatap mata Chanyeol lebih lama lagi.
"Kau tidak perlu menangis. Ini bukan salahmu. Seharusnya aku yang meminta maaf padamu karena telah mempermainkan Pernikahan kita," ucap Chanyeol dengan tenang.
Luhan menggeleng. "Aku sungguh baik-baik saja dengan Pernikahan kita. Hanya saja, aku pikir akan lebih baik jika aku tidak mengganggu kehidupanmu lagi."
"Kau sama sekali tidak menggangguku, Luhan. Aku membutuhkanmu. Tetapi jika kau sudah menemukan Lelaki yang kau cintai dan mencintaimu, aku tidak bisa berbuat banyak."
Chanyeol membawa tubuh Luhan yang bergetar ke dalam pelukannya. Ia peluk Lelaki cantik yang berstatus sebagai Istrinya tersebut dengan sangat erat.
"Kau boleh memiliki kehidupanmu sendiri. Aku tidak akan menghalangimu," lanjut Chanyeol.
Luhan tersenyum di sela isakannya. Ia memang tidak salah pernah mencintai Lelaki ini. Nyatanya Chanyeol adalah sosok yang baik dan dapat mengerti bagaimana perasaannya.
"Chanyeol… terima kasih untuk segalanya."
Setelah mengatakan kalimat itu, Luhan melepaskan pelukan itu dan membawa wajah Chanyeol untuk mendekat. Ia pejamkan kedua matanya erat, dan merasakan kehangatan bibir Chanyeol yang menyapa bibirnya dalam waktu yang cukup lama.
Ia memberikan ciuman terakhirnya untuk Chanyeol dengan sangat manis. Dan Chanyeol membalas ciuman itu tak kalah manis.
"Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku, Xi Luhan."
.
.
.
Baekhyun mengernyitkan dahinya, memperhatikan sang Ayah bersama Luhan di bawah melalui kaca jendela Kamarnya. Ini sudah cukup larut untuk pergi keluar. Menimbulkan tanda tanya besar, kenapa Luhan membawa beberapa kopernya dan masuk ke dalam Mobilnya begitu saja.
Baekhyun menutup tirai jendela Kamarnya kembali, dan membaringkan tubuhnya di atas ranjanganya. Ia tidak mengerti kenapa Luhan pergi selarut ini. Jika Luhan ada perjalanan Bisnis keluar Kota, kenapa Luhan membawa koper sebanyak itu? Bukankah itu sangat aneh?
Tak lama, ia mendengar suara ketukan di pintu Kamarnya. Ia pikir itu adalah Paman Lee atau Pelayan yang lain. Ia segera berjalan ke arah pintu dan membuka pintu tersebut. Dan ia cukup terkejut melihat siapa yang mengetuk pintu tersebut. Bukan Paman Lee atau Pelayan lainnya.
Melainkan Park Chanyeol. Sang Ayah.
"A-ayah…"
"Ayah hanya ingin memastikan kau sudah tertidur. Tetapi… kenapa kau belum tidur?"
"A-aku… baru saja menyusun Dokumen untuk Rapat besok," bohong Baekhyun.
Chanyeol terdiam sejenak karena ia mengetahui kebohongan Baekhyun.
"Bisakah Ayah masuk?"
Baekhyun mempersilahkan sang Ayah untuk masuk ke dalam Kamarnya. Dan tak lupa ia menutup pintu itu kembali. Ia tidak ingin Paman Lee ataupun Pelayan lainnya tahu, jika sang Ayah melakukan hal yang tidak terduga terhadapnya.
"Kenapa Ayah belum… tidur?" tanya Baekhyun berbasa-basi.
"Bagaimana Ayah bisa tidur?" Chanyeol justru bertanya balik.
"Apa ada masalah?"
Chanyeol masih berdiri di tengah Kamar itu. Sementara Baekhyun, hanya mampu memperhatikan Chanyeol di dekat pintu.
Chanyeol membalikkan tubuhnya, dan Baekhyun merasa sedikit terintimidasi oleh tatapan dari sang Ayah.
"Baekhyun… apa kau mau bercinta dengan Ayah?"
Deg!
Baekhyun tidak bisa menerima ini. Chanyeol sudah berjanji padanya untuk menganggapnya sebagai Anak. Bukan sebagai Kekasihnya lagi. Hubungan terlarang mereka sudah berakhir.
"Ayah… kumohon hentikan ini," gumam Baekhyun.
Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Wajahnya memerah dan dahinya berkeringat. Jantungnya berdebar dengan cepat, dan tak lama ia merasakan pusing hebat di kepalanya.
"Aku… tidak bisa menerima perlakuanmu yang seperti ini lagi, Ayah."
"Kenapa? Ayah sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan Luhan. Dia sudah mencintai Lelaki lain, Baekhyun."
Baekhyun menggelengkan kepalanya, dan menarik tangannya dari genggaman tangan sang Ayah. Ia tidak mau mendengar alasan apapun dari sang Ayah. Ia pun tidak perduli jika sang Ayah sudah tidak berhubungan lagi dengan Luhan.
"Kau gila Ayah!"
"Ayah tidak suka mendengar kalimatmu itu, Baekhyun."
Baekhyun terpaksa menatap mata sang Ayah dan memberanikan dirinya untuk menolak sang Ayah. Untuk kali ini, ia harus benar-benar menolaknya.
"Keluar dari Kamarku, Ayah. Kumohon," lirih Baekhyun.
Bukannya menuruti permintaan Baekhyun, Chanyeol justru menarik dagu Baekhyun dan mencium bibirnya dengan kasar. Baekhyun memang memberontak, tetapi ia tahu bahwa Baekhyun tidak mampu melawannya. Tenaga mereka tidaklah seimbang. Ia yakin Baekhyun lambat laun akan menyerah.
"Cpkhh hmpphh–"
Baekhyun meronta di tengah ciuman itu dan memukul-mukul dada Chanyeol dengan keras. Hingga tak lama, pintu Kamar Baekhyun terbuka dengan cepat dan menunjukkan sesosok Pria paruh baya tengah berdiri di sana, menatap mereka dengan tatapan tidak percaya.
Chanyeol yang merasakan kehadiran seseorang di sana, sontak melepaskan ciumannya terhadap sang Putera dan membulatkan kedua matanya karena terkejut setelah melihat sosok itu.
Tubuh Chanyeol mendadak kaku, dan ia tidak dapat berkata-kata karena lidahnya terasa kelu.
"KAU PIKIR APA YANG TENGAH KAU LAKUKAN TERHADAP PUTERAMU SENDIRI, PARK CHANYEOL?"
Baekhyun pun bereaksi sama. jantungnya berdebar kencang karena merasa takut dengan sosok itu.
Sosok yang ia ketahui adalah Park Sungjin. Ayah dari Park Chanyeol.
Sontak Park Sungjin menyeret Chanyeol keluar dari Kamar Baekhyun ke Ruang tengah, Baekhyun berlari mengikuti sang Ayah dan ia sempat melewati Paman Lee yang nyatanya sedari tadi berdiri di dekat pintu.
Di sana, ia melihat sang Ayah hanya terdiam dan menerima tamparan keras dari sang Kakek tanpa perlawanan sedikit pun. Untuk yang pertama kalinya, ia melihat sosok sang Kakek yang begitu membuatnya penasaran selama ini. Ia pun masih tidak mengerti mengapa Chanyeol tidak membiarkannya untuk menemui sang Kakek.
"Apa yang kau rasakan saat kau mencium Puteramu seperti itu eoh?!"
Chanyeol masih bungkam, ia bahkan tidak berani menatap sang Ayah. Sementara Baekhyun, ia berdiri di sudut Ruangan, disusul oleh kehadiran Paman Lee yang ikut menyaksikan hal tersebut tanpa suara.
"Jika bukan Paman Lee yang memberitahuku tentang Cucuku, aku tidak mungkin datang ke sini."
Ya, Paman Lee adalah orang terpercaya Keluarga Park, sehingga tidak ada rahasia apapun di dalam Keluarga Park.
"Kenapa kau tidak mengatakan pada Ayah, kau telah membawa Cucuku ke Perusahaan, Park Chanyeol? Kau tahu? Ayah marah besar padamu."
Tatapan mata Sungjin nampak menyalang marah. "Kau telah melakukan banyak hal yang tidak Ayah ketahui. Ayah tidak pernah mengajarkanmu menjadi seseorang yang brengsek seperti ini, Park Chanyeol."
Chanyeol tahu bahwa ia telah melakukan kesalahan yang besar. Ia melakukan hal ini karena ia tidak ingin kehidupannya diatur oleh sang Ayah. Ia memang harus menuruti setiap perkataan sang Ayah, tetapi untuk perasaannya…
Ia tidak akan membiarkan sang Ayah turut mencampurinya.
"Kau berada di bawah pengawasan Ayah mulai saat ini."
Tuan Park Sungjin beranjak dari hadapan Chanyeol begitu saja. Sementara Baekhyun masih berdiri di sana dan tanpa sengaja tatapan mereka bertemu beberapa detik. Sang Kakek yang begitu ia tunggu kemunculannya, kini sudah berada di depan matanya. Namun entah kenapa, Baekhyun tidak merasakan sosok sang Kakek dari diri Park Sungjin.
Ia merasa…
Dirinya tidak lebih dari orang yang asing.
.
.
.
Baekhyun merasa gelisah pagi ini. Pasalnya, ia tidak mendapati sang Ayah di Kantor. Paman Lee pun tidak menjawab saat ia bertanya kenapa sang Ayah tidak hadir di Kantor hari ini. Meskipun begitu, ia harus menjalankan tugasnya di Kantor dan tidak terlalu memikirkan kejadian semalam.
Ia tahu bahwa sang Ayah sedikit terguncang atas kedatangan sang Kakek yang begitu mendadak di Mansion.
Baekhyun bangkit dari kursi kerjanya dan menghela nafasnya panjang. Entah kenapa ia tidak bisa fokus dengan pekerjaan yang ada di depan matanya, karena pikirannya selalu tertuju pada kondisi sang Ayah saat ini.
Bertanya pada Kai, ia rasa bukan pilihan yang buruk.
Dan di sinilah ia berada. Tepat di depan pintu Ruangan Kai, menunggu Kai memerintahkannya untuk masuk. Dan pintu itu terbuka. Ia mendapatkan tatapan bertanya dari Kai, karena ia tahu bahwa raut wajahnya saat ini nampak sedikit berantakan.
"Ada apa, Baek?" sapa Kai.
"Ini soal Ayah."
Baekhyun mendahului Kai memasuki Ruangan itu. Disusul oleh Kai dan kini Lelaki berkulit tan itu duduk tepat di hadapannya. Menantinya untuk mengeluarkan suara.
"Semalam Kakek datang ke Mansion dan ia memarahi Ayah karena mendapati Ayah sedang menciumku di Kamar. Aku sudah berusaha untuk menolak Ayah, tetapi Ayah memaksa karena ia baru saja ditinggalkan oleh Luhan," ucap Baekhyun langsung pada inti.
Sementara Kai, ia merasakan keterkejutan ganda atas ucapan Baekhyun. Nyatanya, banyak hal yang telah terjadi hanya dalam satu malam. Dan itu adalah hal yang luar biasa. Bukan hal yang sepele dan mudah dilupakan begitu saja.
Namun yang membuat Kai terkejut adalah kedatangan Tuan Park Sungjin yang tiba-tiba. Setahunya, Ayah dari Park Chanyeol itu hanya akan menginjakkan kakinya di Korea hanya karena masalah Keluarga. Ya, nyatanya Tuan Park Sungjin telah lama menetap di Jepang dan mengelola Bisnis mereka di sana.
"Kakekmu… Tuan Park Sungjin datang ke Mansion?" ulang Kai dengan rasa terkejut. Sementara Baekhyun hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Semalam… Ayah ditampar dan dimaki-maki oleh Kakek. Hanya karena… Ayah menyembunyikan kehadiranku darinya," lanjut Baekhyun.
Kai nampak berpikir. Hal ini sudah pernah terjadi sebelumnya. Yaitu ketika Chanyeol dipaksa untuk Menikah dengan seorang wanita, dan Chanyeol menolaknya dengan keras. Hingga akhirnya Chanyeol melakukan cara yang salah untuk mendapatkan keturunan. Yaitu melakukan bayi tabung, hingga muncullah Baekhyun.
Dulu, Chanyeol bahkan sempat cuti bekerja selama beberapa minggu karena insiden itu. Park Sungjin tidak segan-segan untuk menghajar Puteranya dengan tangannya sendiri atas kesalahan yang dilakukan oleh Chanyeol. Bahkan hingga saat ini, ia tidak mau menerima kelainan yang dimiliki oleh Putera satu-satunya yang ia miliki tersebut.
"Dulu… hal ini pernah terjadi," gumam Kai.
Baekhyun nampak tertarik dan ia cukup terkejut atas ucapan Kai. Ia melemparkan tatapan menuntut jawaban pada Kai.
"Park Chanyeol tidak datang ke Kantor selama beberapa minggu dan sempat membuat Kantor hampir mengalami kebangkrutan. Itu karena ia dipaksa Menikah oleh Tuan Park Sungjin."
"Apakah… Kakek adalah seseorang yang mengerikan?" tanya Baekhyun takut-takut.
"Ia mempercayakan seluruhnya pada Chanyeol. Dan bukankah sudah sewajarnya jika ia bersikap seperti itu jika Chanyeol melakukan kesalahan? Ia hanya membutuhkan keturunan untuk Perusahaan ini. Tetapi kau bahkan tahu, bahwa Chanyeol tidak bisa Menikah dengan Wanita, atau pun Lelaki lain karena ia hanya mencintai Puteranya sendiri."
Jadi, apakah benar Chanyeol sudah memiliki kelainan sejak dirinya dilahirkan?
"Aku yakin Chanyeol sedang sangat terguncang saat ini. Seperti yang ia rasakan 17 tahun yang lalu."
Baekhyun meremas kedua tangannya sendiri dan terlihat gelisah. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk membantu sang Ayah.
"Lalu… apa yang harus aku lakukan?" gumam Baekhyun dengan suaranya yang hampir tak terdengar.
Kai hanya mampu menguatkan Baekhyun dan menepuk bahu Baekhyun dengan lembut. Ia yakin Baekhyun memiliki caranya sendiri untuk keluar dari masalah ini.
"Kau harus membuktikan pada Kakekmu bahwa kau mampu melakukan yang terbaik untuknya dan Perusahaan. Aku yakin kau memiliki caramu sendiri, Baek."
Baekhyun mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Kai. Ia harus membuktikan bahwa ia pantas menjadi Penerus Park Corp dan kehadirannya bukanlah penyebab masalah.
Dan sepertinya, ia harus menemui sang Ibu untuk mengetahui semua yang terjadi di masa lalu. Tentang dirinya dan juga sang Ayah. Ia yakin sang Ibu mampu membantunya kali ini.
.
.
.
Luhan terpaksa menerima kedatangan Tuan Park Sungjin di Apartemennya karena ia tahu bahwa hal penting sedang terjadi. Pernah sekali ia bertemu dengan Ayah dari Chanyeol ini saat dirinya dan Chanyeol hendak Menikah. Namun yang ia tahu dari Tuan Park Sungjin, ia bukanlah seorang yang rela membuang waktunya untuk sekedar melakukan hal yang tidak penting. Setiap detik yang dimiliki olehnya sangatlah penting.
"Aku pikir Chanyeol bisa berubah setelah Menikahimu. Maka dari itu, aku cukup terkejut saat Paman Lee mengabariku bahwa kau pergi dari Mansion," mulai Tuan Park Sungjin.
"Ini adalah keinginanku, Ayah. Aku tidak dapat memaksa Chanyeol untuk mencintaiku, karena ia… sangat mencintai Puteranya sendiri," jawab Luhan dengan jujur. Ia tahu, bahwa kejujurannya akan dihargai oleh Park Sungjin.
"Park Chanyeol telah melakukan banyak hal yang fatal di belakangku. Aku tidak mengerti kenapa ia tidak mau jujur terhadapku," ucap Sungjin dengan nada kecewa.
Luhan mengerti itu.
"Maafkan aku Ayah. Aku tidak bisa bertahan di samping Chanyeol lagi. Aku tidak mau menyulitkan Chanyeol."
"Aku mengerti. Dan aku ingin meminta maaf padamu atas kebodohan yang dilakukan oleh Chanyeol. Aku harap, kau bisa memaklumi kelainannya itu."
"Tentu aku sudah memaafkannya. Tidak masalah bagiku, meskipun awalnya terasa cukup sulit untuk menerima. Aku baik-baik saja," jawab Luhan.
"Mulai sekarang, aku tidak akan memaksa Chanyeol untuk mempertahankan Pernikahan kalian. Kau memiliki pilihanmu sendiri, dan biarkan aku yang menangani kelainan Chanyeol itu. Kau bisa menggugat cerai padanya," ucap Sungjin.
Jika memang itu yang terbaik, maka Luhan akan melakukan apa yang Ayah mertuanya itu inginkan. Ia bertemu dengan Chanyeol secara baik-baik dan ia akan berpisah dengan Chanyeol secara yang baik-baik pula.
"Baik, Ayah."
Tuan Park Sungjin mengangguk dan menepuk bahu Luhan pelan karena telah menganggap Luhan sebagai Anaknya sendiri.
Urusannya dengan Luhan selaku menantunya telah selesai. Kini, ia hanya harus menyelesaikan masalah kelainan Puteranya dan juga Cucunya tersebut.
.
.
.
Baekhyun memandang ke arah tangannya yang saat ingin digenggam oleh sang Ibu. Ya, Baekhyun segera mendatangi sang Ibu di Rumahnya setelah ia pulang dari Kantor. Ia memanfaatkan kesempatan yang ia miliki selagi Chanyeol tidak bekerja. Ia bebas pergi kemana pun tanpa dilarang oleh sang Ayah.
Baekhyun dapat melihat raut khawatir di wajah sang Ibu. Ia pun mendapati Sehun yang saat ini tengah duduk di depannya, menunjukkan ekspresi yang sama. Ia tidak tahu harus pergi kemana dan mencari bantuan pada siapa lagi selain pada Keluarga kecilnya ini.
"Bisakah kau membantuku, Bu?" pinta Baekhyun.
Heechul mengaggukkan kepalanya. "Ibu akan datang ke Mansion dan menjelaskan apa yang telah terjadi selama ini padamu. Ibu yakin Tuan Park Sungjin akan mempercayai penjelasan Ibu."
Baekhyun terdiam sejenak. Setelahnya ia memberanikan dirinya untuk bertanya pada sang Ibu tentang dirinya. Karena sejak dulu, ia hanya meyakini bahwa ia adalah Putera dari Heechul dan dibesarkan oleh Heechul. Bukan Chanyeol.
"Ibu… apakah benar jika kehadiranku di Dunia ini tidak diinginkan? Apakah Ayah terpaksa melakukan bayi tabung itu?"
Heechul cukup terkejut atas pertanyaan Baekhyun. Ia sudah menjaga rahasia ini dengan baik, karena ia tidak mau Baekhyun mengetahuinya. Tetapi ia baru sadar, bahwa Baekhyun terlalu pintar untuk ia bodohi begitu saja.
"Tidak Baekhyun. Kehadiranmu sangat diharapkan oleh Tuan Park Sungjin maupun Ayahmu. Dan masalah bayi tabung itu… Ibu hanya membantu Ayahmu agar ia bisa terbebas dari tekanan Tuan Park Sungjin."
Meskipun itu terdengar menyakitkan, tetapi Baekhyun mencoba untuk menerimanya. Bukankah semua hanya masa lalu? Lagipula, ia bisa tumbuh dengan sehat seperti sekarang.
"Hyung, jangan berpikiran yang tidak-tidak. Kami semua menyayangimu, Hyung."
Setidaknya, ucapan Sehun bisa menciptakan sebuah senyuman di bibir Baekhyun. Seharusnya ia beruntung bisa tumbuh dan hidup di dalam Keluarga kecil nan hangat ini.
"Tentu Sehun. Aku tidak akan memikirkan apapun lagi saat ini," jawab Baekhyun.
Dan saatnya pun tiba. Saat dimana ia harus membawa Heechul–sang Ibu–ke Mansion. Heechul pun sudah mempersiapkan dirinya dan juga dokumen saat Baekhyun terlahir dulu, sebagai bukti agar Park Sungjin mempercayainya. Heechul tahu, saat ini pasti akan tiba. Mau tidak mau, ia harus siap menghadapi Park Sungjin.
Heechul menghela nafasnya panjang. Kini ia baru saja menuruni Mobil yang mengantarnya hingga ke Mansion milik Keluarga Park. Tentu bersama Baekhyun di sampingnya. Yang mulai menggiring langkahnya memasuki Mansion mewah tersebut.
Untuk pertama kali, Heechul mendudukkan dirinya di atas sofa besar di Mansion ini. Sebelumnya, ia tidak pernah mau bahkan sekedar untuk menginjakkan kakinya di sini. Baginya, ia tidak memiliki urusan apapun dengan Chanyeol dan tidak lebih dari sekedar seorang sukarelawan yang membantu Lelaki itu untuk keluar dari masalahnya.
Namun kali ini, ia benar-benar harus datang ke sini karena ia tidak mungkin lari begitu saja. Ia yang telah mengandung Baekhyun selama 9 bulan, merawat dan membesarkan Baekhyun hingga berusia 17 tahun dan itu artinya ia harus bertanggung jawab atas Baekhyun.
Heechul terduduk seorang diri di sana, menunggu kehadiran Tuan Park Sungjin. Sementara Baekhyun, ia memilih untuk memasuki Kamarnya, dan membiarkan sang Ibu yang menyelesaikan masalah mereka.
Pupil mata Heechul membesar kala menangkap sosok Park Sungjin yang sedang berjalan mendekatinya. Hingga Pria paruh baya tersebut duduk di hadapannya dan menerima salam penghormatan darinya.
"Selamat malam Tuan Park Sungjin. Perkenalkan, aku adalah Kim Heechul… Ibu dari Park Baekhyun. Cucu Anda," sapa Heechul.
Park Sungjin hanya mengangguk dan memperhatikan penampilan Heechul secara detail. Ia adalah orang yang sangat observatif pada seseorang yang baru pertama kali ditemuinya.
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya, Heechul-ssi?" ucap Sungjin.
"Belum pernah. Aku harap Tuan mau mendengarkan penjelasanku mengenai siapa Baekhyun sebenarnya. Aku akan menjelaskan semuanya secara jelas dan tanpa kebohongan sedikit pun, Tuan."
Heechul mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tasnya ke atas meja, dan menunjukkannya pada Sungjin.
"Aku dan Chanyeol bertemu untuk yang pertama kalinya di Rumah Sakit. Aku adalah seorang sukarelawan di Rumah Sakit itu, dan Chanyeol membutuhkan bantuanku. Ia memohon padaku dan ia bahkan memberikan uang dengan jumlah yang cukup besar jika aku mau membantunya," jelas Heechul.
"Awalnya, aku tidak mengetahui kelainan Chanyeol. Karena pada saat itu aku membutuhkan uang, maka aku membantunya. Kami melakukan program bayi tabung dan terlahirlah Baekhyun. Park Baekhyun. Semua data Baekhyun tercantum jelas di berkas ini," lanjut Heechul.
Berat bagi Sungjin untuk menerima kenyataan ini. Kenyataan dimana sang Putera satu-satunya yang ia miliki, melakukan bayi tabung dengan sembarang orang. Ini sulit dipercaya. Tetapi berkas resmi yang berada di tangannya, memaksanya untuk membuka mata, hati dan juga telinganya.
"Ia nampak sangat tertekan pada saat itu. Saat aku tengah mengandung Baekhyun pun, Chanyeol nampak tidak tenang, seperti ada sesuatu yang sangat membebaninya. Karena itu, aku memutuskan untuk merawat Baekhyun seorang diri hingga tak terasa Baekhyun tumbuh dewasa."
"Apa lagi yang tidak aku ketahui?" ucap Sungjin.
"Aku sangat terkejut dan mengira ia telah membuang Baekhyun. Tapi nyatanya, ia memintaku agar Baekhyun kembali padanya saat Baekhyun dewasa. Aku melakukannya, meskipun aku sangat tidak rela. Tetapi aku sadar, aku tidak memiliki hak atas Baekhyun. Aku hanya memiliki tugas untuk merawat Baekhyun dengan baik. Hanya itu."
"Apa kau tahu? Anak itu telah menyembunyikan rahasia besar ini dariku selama 17 tahun," ujar Sungjin dengan nada yang amat kecewa.
"Itulah alasan aku datang ke sini. Aku ingin Tuan memaafkan Chanyeol karena semua ini bukan sepenuhnya kesalahannya. Tuan bahkan bisa melihat sendiri bahwa Perusahaan masih berjalan dengan lancar. Terlebih setelah hadirnya Baekhyun di Perusahaan itu."
"Aku tidak mempermasalahkan kehadiran Baekhyun, Cucuku. Aku mempermasalahkan kenapa aku tidak mengetahui bagaimana Cucuku sendiri terlahir hingga tumbuh besar. Aku sungguh menyesalinya."
Heechul tidak bisa berbuat banyak saat ini. Ia tahu Tuan Park Sungjin kecewa. Tetapi bukankah semua telah terjadi?
"Chanyeol bertanggung jawab atas Baekhyun selama ini. Ia menunjang hidup Baekhyun dengan baik dan sangat menyayanginya," ucap Heechul.
"Apa kau tahu bahwa Puteraku memiliki kelainan pada Cucuku? Chanyeol tidak hanya menyayangi Baehyun, tapi juga mencintainya!"
Heechul menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia pun masih sulit menerima hal ini, dan ia tahu bagaimana perasaan Tuan Park Sungjin saat ini.
"Ya, aku mengetahuinya. Aku sudah mengetahui hal itu sejak usia Baekhyun masih 5 tahun."
Tanpa mengatakan apapun, Park Sungjin beranjak begitu saja dari hadapan Heechul dan berjalan cepat menuju ke Kamar sang Putera. Ia ingin menghajar Chanyeol sekali lagi agar Puteranya itu sadar bahwa ia telah salah jalan. Ia tidak ingin memiliki Putera yang kelainan.
Baekhyun mendengar itu semua. Masa lalu yang tidak pernah ia ketahui. Namun dengan sekuat hati, ia memutuskan untuk keluar dari Kamarnya dan mencegah sang Kakek. Ia memberanikan dirinya untuk menahan tangan sang Kakek dan berdiri di hadapannya. Awalnya ia merasa sangat ketakutan, tetapi ia merasakan sedikit kehangatan dari tangan yang ia genggam saat ini. Membuat ia yakin bahwa ia harus melindungi sang Ayah yang selama ini telah melindunginya.
"Kakek…"
Sungjin menatap Cucunya tersebut. Merasakan genggaman tangan kecil milik Baekhyun pada tangannya. Cucunya yang baru ia ketahui kehadirannya setelah 17 tahun lamanya.
"Ayahmu harus mendapatkan pelajaran," ucap Sungjin.
Baekhyun menggelengkan kepalanya. Airmata menetes begitu cepat membasahi pipinya. Bibirnya bergetar dan wajahnya mulai memerah.
"Ayah telah memperlakukanku dengan baik selama ini. Ayah selalu melindungiku. Ayah tidak pernah menyakitiku. Jadi kumohon pada Kakek… jangan sakiti Ayah lagi," pinta Baekhyun.
Sungjin menurunkan pandangannya ke arah tangahnya yang digenggam oleh Baekhyun. Pandangannya yang semula menyalang, kian lama kian melembut. Ia mendesahkan nafasnya merubah raut wajahnya menjadi haru. Ia pun tanpa sadar meneteskan airmatanya. Menyadari bahwa semua ini terjadi bukan kesalahan Chanyeol, melainkan adalah kesalahannya sendiri yang terlalu menuntut Chanyeol selama ini.
Sungjin melepaskan genggaman tangan itu dan menarik tubuh Baekhyun ke dalam pelukannya. Memeluk Cucunya itu dengan penuh kasih.
"Maafkan Kakek."
Baekhyun tentu terkesiap mendapatkan pelukan seperti itu dari sang Kakek. Namun ia mampu mengatasi situasi dan membalas pelukan itu. Tak pernah ia merasakan pelukan hangat seperti ini dari sosok sang Kakek.
"Apakah Kakek… sudah memaafkan Ayah?"
Sungjin tertawa kecil mendapati pertanyaan lugu dari Cucunya ini. Bagaimana pun juga, Baekhyun hanyalah seorang Bocah biasa yang masih memiliki keluguan di dalam hatinya.
"Ya, Kakek memaafkannya. Kakek berjanji tidak akan menghajarnya lagi. Kakek berjanji."
Baekhyun tersenyum seiring pelukan itu terlepas. Ia menatap wajah tua sang Kakek dan menunjukkan senyumannya.
"Terima kasih, Kakek."
.
.
.
"Kyungsoo, aku tidak bisa hadir di Kantor hari ini. Aku sedang tidak enak badan. Bisakah kau mengantarkan tugas yang harus kerjakan ke Apartemenku?"
Kai berbicara pada Asistennya tersebut melalui sambungan telepon. Ia berkata jujur bahwa saat ini ia sedang tidak enak badan. Demam lebih tepatnya. Namun itu bukan masalah karena ia sudah meminum obat yang ia dapatkan dari Minseok, Dokter pribadinya. Dan ia yakin, demam juga sakit di kepalanya akan cepat menghilang.
Sebenarnya ada satu hal yang menjadi alasan kenapa ia bisa jatuh sakit seperti ini. Ya, ia telah bekerja terlalu keras di saat Chanyeol meninggalkan pekerjaannya dengan seenak jidat begitu saja. Tugasnya bertambah dua kali lipat, dan hal itu mengharuskannya untuk lembur setiap hari.
Pada hari ketiga, ia tidak sanggup untuk lembur lagi, sehingga ia memutuskan untuk beristirahat demi kesehatan tubuhnya. Bukan tanpa usaha, ia sudah menghubungi Chanyeol bahkan memakinya agar Chanyeol kembali bekerja. Namun hasilnya nihil, Chanyeol tetap tidak datang ke Kantor dan membuatnya kewalahan.
"Aku akan memberikan alamat Apartemenku padamu."
Setelah mengatakan itu, ia memutuskan sambungan telepon itu dan berjalan menuju Dapur. Sepertinya membuat kopi adalah ide yang bagus. Ia tidak bisa bersemangat jika tidak ada kopi di pagi harinya.
Kai menyesap kopi hitam panasnya dan menyandarkan punggungnya di sofa mewah miliknya. Kepalanya menoleh ke arah jendela yang menunjukkan view kesibukan Kota di pagi hari kali ini. Ia merasa sedikit lega karena ia bisa terhindar dari kesibukan Kantor. Dan ia sangat menikmati waktu ini seorang diri.
Masih dengan mengenakan piyamanya, ia memeriksa email-email yang masuk dan mengeceknya satu persatu. Libur yang ia jalani hari ini, bukanlah sebenar-benarnya libur. Bagaimana tidak? Lihatlah apa yang ia lakukan saat ini. Ia bahkan tidak bisa meletakkan ponselnya barang sedetik pun.
Berjam-jam telah Kai habiskan di atas sofa ditemani oleh secangkir kopi yang hampir habis. Hingga fokusnya teralihkan karena suara bel Apartemennya yang berbunyi. Mau tidak mau ia bangkit dan membukakan pintu untuk orang tersebut.
"Ahh Kyungsoo?"
"S-selamat siang Tuan," sapa Kyungsoo.
"Silahkan masuk, Kyungsoo-ah."
Kai mempersilahkan Asistennya tersebut masuk. Dan matanya tak henti memperhatikan sosok Kyungsoo dari atas hingga bawah. Ia pun melihat Kyungsoo membawa cukup banyak dokumen untuknya dan meletakkannya di atas meja kerjanya.
"Kyungsoo… bukankah aku hanya memerintahkanmu untuk membawakanku dokumen? Tapi kenapa kau membawa…"
"Ahh, a-aku dengar Tuan sedang sakit. Maka dari itu aku bawakan buah-buahan untuk Tuan," potong Kyungsoo dengan cepat. Ia menatap ke arah Kai yang sedang berdiri tepat di hadapannya.
Kai tersenyum dan berjalan mendekati Kyungsoo.
"Terima kasih."
Kyungsoo sempat terpaku oleh senyuman dari Kai. Namun cepat-cepat ia tersadar dan hendak beranjak dari hadapan Kai. Namun Kai menahan tangannya, sehingga ia tidak dapat melanjutkan langkahnya lagi.
Kyungsoo tidak menyukai situasi ini. Dimana hanya ada mereka berdua saja yang terjebak dalam keheningan. Keadaan ini membuatnya sangat canggung. Terlebih saat ia kembali teringat saat Kai mengatakan bahwa Atasannya tersebut mulai jatuh cinta padanya.
Kyungsoo mendengar Kai sedikit berdeham dan memaksanya untuk menatap mata tajam itu lagi. Sebenarnya apa yang ingin Kai katakan? Dan juga… kenapa Kai menatapnya sedalam itu?
"Kyungsoo… bagaimana jawabanmu? Aku menunggumu."
Benarkah Kai jatuh cinta padanya dan menunggu jawaban darinya? Tapi bukankah sudah jelas bahwa ia memang menyukai Atasaannya tersebut jauh hari dari kedekatan mereka akhir-akhir ini?
Kyungsoo nampak berpikir dan melepaskan genggaman tangan Kai pada tangannya secara perlahan. Kemudian kedua tangannya terangkat untuk meraih wajah Kai dan ia tidak mengerti kenapa ia begitu lancang menempelkan bibirnya tepat di bibir Kai.
Bodoh! Kenapa ia begitu bodoh?!
Kai tentu sangat terkejut. Kyungsoo tiba-tiba menciumnya seperti ini, meskipun hanya kecupan yang singkat dan lembut. Ketika ciuman itu terlepas, Kyungsoo nampak panik dan terburu-buru ingin pergi dari hadapannya.
"A-aku harus segera kembali ke Kantor. Masih banyak tugas yang harus aku kerjakan," alibi Kyungsoo.
Kai sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Ia justru tersenyum melihat kepergian Kyungsoo dengan gelagatnya yang terlihat lucu. Kemudian ia sentuh bibirnya yang beberapa detik lalu dicium oleh Kyungsoo, dan menyadari bahwa Kyungsoo memanglah mencintainya. Kyungsoo telah menerima pernyataan cintanya.
"Apa ini berarti bahwa ia menjawab iya?"
.
.
.
.
.
.
To Be Continued…
.
.
.
.
.
.
Yeay! KaiSoo udah jadian dan Kakek Park sudah memaafkan kelakuan bejat/? Park Chanyeol.
Dan semua itu, tanda-tanda bahwa FF ini akan tamat. Ahhh~ Yuta lega banget hampir bisa menyelesaikan FF ini. Dan sesuai janji Yuta, Yuta bakal lanjutin FF Yuta yang lain. Yaitu, WRONG. So, staytune on this channel/? Jangan kemana-mana dan tetap setia baca FF Yuta *apasih :"vv
REVIEWNYA JANGAN LUPA, YUTA TUNGGU!
TERIMA KASIH.
SARANGHAE BBUING~!
