Tenten X Hyuuga Neji
Characters belong to Kishimoto.
.
.
.
Heavenly Heaven
Purest feeling you can get from a family
.
.
.
.
.
.
.
.
"Duduk yang benar, Hana - chan."
Suara yang mulai serak akibat usia mengembalikan pandangan Hanabi yang tadinya mulai tertutup. Bukannya mengindahkan peringatan, ia justru semakin menyamankan kepala yang diistirahatkan pada pangkuan nenek pengasuhnya.
Berbeda dengan kedua saudara tertuanya yang selalu patuh pada nenek Chiyo, ada kalanya si bungsu menunjukkan sifat berontak. Kalau masih dalam batas yang wajar, wanita senior yang sudah menjalani hidup selama hampir tujuh puluh lima tahun itu masih bisa memaklumi. Meski, kebanyakan waktu ia tak segan menegur bahkan sampai memarahi anak perempuan yang sudah seperti cucu kandungnya sendiri ini.
"Kakakmu bisa kehilangan muka kalau kamu tiduran begitu."
Mendengar protes nenek Chiyo, Hanabi menggerakan kaki yang masih berjuntai, seolah menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya berada dalam posisi yang dituduhkan. "Kakiku masih menyentuh lantai kok. Lagipula di sini tak ada siapa - siapa." bantahnya dalam suara yang hampir terbenam oleh kain kimono yang dikenakan nenek Chiyo.
Alasan Hanabi yang sekenanya membuat nenek Chiyo semakin gemas. Salah satu tangannya menepuk pinggul Hanabi dengan sebagian tenaga, membuat pianis muda itu sekilas meringis, "Kalau teman - teman kakakmu sampai dengar, kita tidak usah ikut pulang." ancaman itu terdengar serius, membuat Hanabi menampakkan wajah yang tadinya tersembunyi dalam pangkuan nenek Chiyo.
"Biar kamu masuk asrama lagi untuk belajar tata krama."
Hanabi mengernyitkan kening. Bebal, meski tidak menemukan kalimat untuk menambah bantahan. Dengan jelas menunjukkan kekesalan, ia membangkitkan diri, sebelum melipat kedua lengan dan bersandar lagi pada sofa panjang yang tengah mereka tempati.
Meski belum ada tiga puluh menit mereka menunggu di sana, Hanabi yang biasanya tidak mudah bosan, kini terganggu oleh perasaan itu.
Ia sempat terhibur oleh pemandangan di balik kaca jendela, tepat di hadapan ruang tunggu khusus, dimana terbentang luas pelataran dengan beberapa jenis pesawat. Perhatian Hanabi cukup lama terfokus pada salah satu diantaranya, yang mana sesuai informasi dari Shino, merupakan aset milik keluarga. Hanabi sudah cukup lama mengetahui hal itu, tapi tak pernah membahasnya dengan Neji.
Topik mengenai aset kepemilikan tak pernah menjadi sesuatu yang membuat Hanabi tertarik. Neji sendiri tak pernah terlihat ingin membahasnya.
Perhatiannya beralih mencari sang kakak, yang lagi - lagi tenggelam dalam percakapan di tengah enam atau tujuh orang dewasa berpakaian formal dan semi formal, berkumpul di salah satu meja paling besar di antara meja lainnya. Termasuk di antaranya, wanita bersurai matahari yang sempat menjadi kekhawatiran Hanabi, dengan cerdik mengambil posisi di samping Neji.
Tentu saja, dalam situasi itu kecil kemungkinan Alana Baker akan bertindak di luar batas kewajaran. Meski terlihat jelas motifnya, Hanabi tahu Alana memiliki tata krama yang lebih baik dibandingkan dirinya sendiri. Mungkin itu juga salah satu alasan mengapa Neji memberikan posisi yang penting padanya.
Padahal berada dalam tempat yang sama, tapi Hanabi merasa Neji terlalu jauh dari jangkauan. Ukuran ruang tunggu beserta perabotan yang didesain khusus, juga pelengkap yang tersedia di sana sepertinya berlebihan jika hanya digunakan untuk sebagian kecil orang.
Bukannya Hanabi tidak menghargai dengan apa yang bisa Neji berikan padanya sekarang. Hidup dengan kenyamanan memang menggiurkan, sangat. Kalau Hanabi mau, Neji bisa saja menyediakan semua yang terbaik di detik pertama setelah Hanabi meminta, bahkan perjalanan ke bulan dengan roket berteknologi terbaru sekalipun.
Sejak dulu Neji memang tak akan membiarkan keluarga atau teman terdekatnya berada dalam situasi yang tak nyaman. Ia selalu memastikan mereka mendapat pelayanan terbaik dalam hal apapun.
Tetap saja.
Hanabi merindukan masa - masa dimana ia dan Neji bisa berjalan menyusuri kota dengan leluasa. Menikmati sajian dari restoran kecil yang meski terlihat sederhana, namun meninggalkan kesan hangat. Atau kalau dalam situasi sekarang, setidaknya Neji menyediakan penerbangan komersial, sehingga Hanabi mendapat kesempatan untuk berbaur dengan lebih banyak orang dengan latar belakang beragam.
Bukannya malah merenung kesepian dalam ruangan berkilau yang hanya ditempati oleh sebagian kecil orang, bertopeng senyum palsu demi mencapai kepentingan masing - masing.
Seandainya sifat terlalu melindungi Neji bisa diperhalus dan Hanabi tidak sebegitu dalam menyayangi Neji, dengan senang hati Hanabi akan berpetualang sendiri mengikuti gaya hidup yang bisa menyesuaikan keinginan. Apalagi kini Hanabi mulai mendapat tempat pada bidang yang digeluti. Memang hanya undangan untuk berpartisipasi dalam konser musik klasik atau resital piano kecil, tapi permulaan yang cukup baik untuk profesional belia sepertinya, bukan?
Terdengar bodoh memang, tapi Hanabi tak tahu apakah ia sanggup mengikuti pola hidup seperti yang Neji jalani sekarang. Dengan begitu banyak topeng yang setiap detik bisa berubah tergantung situasi.
'Ni - san tipe orang yang sederhana,' pikirnya untuk kesekian kali, 'tapi sekarang minta fish and chips saja harus pesan dari restoran bersertifikat higienis dulu.'
Sebagai pengobat rindu, Hanabi sudah mengagendakan agar Hinata membawanya ke restoran pinggir jalan yang sedang ramai dikunjungi sesampainya di Osaka nanti.
Ngomong - ngomong soal Hinata…
Ia sedikit bergeser, mendekati nenek pengasuh yang baru selesai menyesap teh hijau. Mengaitkan lengan yang hampir setiap malam menimang hingga tertidur ketika ia masih bayi, seraya menyandarkan kepala pada pundak yang mulai membungkuk.
"Ba - san," bisiknya, berubah melankolis, "soal pesan singkat dari ne - san yang aku ceritakan kemarin."
Ia menutup kelopak mata, sebelum menyambung ragu, "Kira - kira… kalau aku yang bertemu dengannya, dia menghindar tidak, ya?"
Tak perlu dijelaskan lebih jauh topik apa yang dimaksud Hanabi, nenek Chiyo sudah tahu apa yang menjadi penyebab perubahan emosinya.
Tangan berkeriput yang bebas perlahan menyisir helaian di pucuk kepala, seperti ada telepati. Menyampaikan perasaan sentimental yang mulai menyebar dalam dada Hanabi.
"Dia rela menunggu hingga jam kerja Hinata selesai," jelasnya dengan intonasi yang lebih lembut dibanding sebelumnya, "padahal dia bisa saja menghindar."
Hanabi mengernyitkan kening, memberi tatapan tanya.
"Kamu dan Hinata itu sama penting baginya," sekali lagi ia menyisir helaian panjang Hanabi yang dibiarkan tergerai, "tak ada alasan untuk memperlakukanmu dengan beda."
"Kok ba - san tahu?"
Raut tegas yang biasa dipasang, digantikan oleh senyum lembut.
"Wali kelasmu itu tidak seperti Neji. Tak sulit untuk membaca pikirannya."
Hanabi sudah menerima segala kebaikan Tuhan yang dilimpahkan dalam hidupnya. Termasuk hangatnya pelukan nenek Chiyo, yang merupakan kenyamanan tertinggi.
Meski begitu Hanabi tetap manusia biasa, yang sarat akan sifat serakah.
Kesempurnaan hidup tak akan dirasa selama satu harapan itu belum terkabul. Atau malah tak akan terwujud.
"Aku ingin melihatnya, ba - san," lirih ia berbisik, "ingin sekali."
.
.
.
.
.
Tenten tidak menahan senyum geli ketika untuk kesekian kali anak perempuan yang kini sudah dewasa melirik malu - malu padanya. Sudah lewat empat puluh menit sejak mereka meninggalkan rumah sakit, memutuskan untuk mampir ke salah satu restoran keluarga yang ada di dekat sana agar lebih leluasa bercengkrama.
Meraih sisi wajah Hinata yang duduk di seberangnya, jemari Tenten mencubit pelan, membuat dokter muda itu meringis.
"Aku sudah menunggu sampai jam kerjamu selesai," ucapnya setengah bercanda, "sekarang kita diam - diam saja, nih?"
Teguran itu membuat bibir Hinata yang tadinya terasa kaku, mampu melebarkan senyum. Lega.
Tangan Tenten yang mulai menjauh, didekapnya agar tetap berada di sana.
"Aku bingung mau mulai darimana," telapak tangan yang digenggam dalam jemarinya masih sama, hangat. "banyak yang mau aku ceritakan."
Hampir lima jam waktu yang Tenten sia - siakan siang tadi, terpecah pikiran antara meninggalkan tempat atau mengabulkan permintaan wanita yang bagi Tenten masih gadis berseragam dengan raut yang kikuk namun menyenangkan untuk dilihat.
Waktu itu tidak terbuang sia - sia. Pantas digunakan demi membuat Hinata lega. Tak terbayang rasa bersalah yang akan timbul jika Tenten meninggalkan dirinya yang berharap.
"Bagaimana kalau kita mulai dari cerita tentangmu?"
.
.
.
.
.
Sudah lewat tengah malam, ditambah dengan penerbangan lintas zona waktu yang seharusnya membuat tubuh lelah, tak membuat otak Hanabi menuntut untuk diistirahatkan.
Selain karena rindu pada Hinata yang akhirnya terobati, cerita darinya juga menjadi salah satu alasan mengapa Hanabi semakin tidak sabar untuk sampai di kediaman yang sengaja Neji siapkan segera setelah mengetahui wilayah tempat Hinata akan melakukan praktik. Memang tidak sebesar kediaman utama di Tokyo, tapi lebih dari cukup untuk ditempati Hinata dan dua asisten yang menemani. Bukan bermaksud berlebihan, tapi Neji juga bermaksud menjadikan rumah itu sebagai tempatnya singgah sewaktu - waktu.
Hanabi bahkan tetap memiliki kamar pribadi di rumah itu, tapi untuk hari nampaknya tidak akan ia gunakan.
"...aku sampai tak tahu apa saja yang sudah kuceritakan padanya, malah cerita tentang Naruto - senpai berkali - kali kuulang, tapi dia masih sabar mendengarkan." Hinata bernarasi dengan suara yang lebih melambai, menandakan kantuk mulai menghampiri, "Dan tawanya itu… entahlah, aku suka sekali melihatnya. Seperti ada rasa yang familiar. Menggelitik? Atau menarik sesuatu dalam dada? Entahlah, tapi aku suka melihatnya tertawa."
Meski cerita Hinata diselimuti dengan aura yang menyenangkan, Hanabi mendengarkannya dalam perasaan yang semakin merundung.
Dia lega ketika mendengar dengan lengkap bahwa mantan wali kelasnya baik - baik saja. Begitupun dengan pertemuan yang terjadi antara mereka. Sungguh, Hanabi tenang mendengar bahwa Tenten sehat dan dalam keadaan bahagia.
Hanya saja, semakin jauh Hinata bercerita, semakin kuat keinginan Hanabi untuk berada di posisi yang sama dengan Hinata. Angannya mendambakan untuk melihat langsung subjek yang menjadi bahan perbincangan mereka.
Dan keinginan untuk mengabulkan itu ditentang oleh ragu yang sebelumnya sempat diutarakan.
"Kalau aku menemuinya, dia..." suaranya yang sempat hilang beberapa saat lalu memotong narasi Hinata.
Tenggelam pada pengalaman yang disampaikan, membuat Hinata tak sadar perubahan suasana hati yang dialami Hanabi.
Sendu wajahnya dengan segera menimbulkan perasaan bersalah.
Hinata mengangkat dagu adiknya yang tertunduk, menghentikan kalimat yang ada di pikiran.
"Dia banyak bertanya tentangmu," Hinata menambahkan, membantu Hanabi menjawab pertanyaan yang tidak bisa diutarakan. "dia tidak mengatakannya, tapi aku yakin ia juga sangat ingin bertemu denganmu."
Pengungkapan itu seperti membuka satu perisai yang menghalangi kepercayaan diri.
"Meskipun aku sudah melakukan sesuatu yang buruk padanya?"
Itu juga pertanyaan yang dulu sempat terlintas di benak Hinata.
Sejak tadi Hinata terus bernarasi dengan gambaran yang ideal, sesuai dengan apa yang terlihat di mata. Padahal dalam hati Hinata tahu ada juga sesal dan khawatir yang terus dirasa selama pertemuan yang teralih oleh rasa senangnya.
"Kita pergi begitu saja saat dia paling membutuhkan kita," klausa yang sama persis di pikiran terwakilkan.
"Apa benar dia masih mau bertemu… atau hanya basa - basi?"
.
.
.
Tidak sampai situ Hinata berprasangka.
"Hentikan itu, Hanabi."
Suara Hinata yang berubah tegas mengembalikannya pada kesadaran.
"Pikiranmu mulai terlalu jauh," ia menurunkan sedikit intonasi, mencegah naik turunnya emosi Hanabi yang tengah rentan. Berkaca pada pengalaman sendiri membuat Hinata paham kemana pikiran Hanabi mengarah. "Kebiasaanmu mengalihkan keinginan dengan memikirkan kemungkinan terburuk itu fatal akibatnya."
"Bukan berarti aku mendadak buta dengan apa yang terjadi antara kita dan Tenten - san. Hal itu sangat membebaniku, sungguh, tapi kita tak bisa menyalahkan apa yang sudah terjadi. Aku juga tak punya muka untuk bertemu dengannya. Meski begitu sekali lagi, ia mungkin tidak menyadari, tapi Tenten - san membuat keadaan menjadi lebih mudah, setidaknya untukku."
"Tenten - san bisa saja mengabaikan permintaanku, tapi dia tetap menepatinya. Kamu harus paham seberapa kuat ia mengorbankan marah yang sangat wajar dirasa, demi menjaga perasaanku agar tidak semakin bersalah. Karena dia memahami itu, maka apa alasanku untuk mencurigai-"
Bendung yang akan pecah menghentikan pembelaan Hinata.
"Aku juga mau ketemu," satu senggukan mengkhianati keteguhan diri, tapi Hanabi sudah tak bisa menampung, "tapi kalau aku ketemu, aku pasti tak akan mau pisah. Aku tak mau dia jadi orang asing lagi."
"Kita sudah berbuat jahat padanya, tapi aku masih menginginkan dia." Hanabi tak menolak saat lengan Hinata membawanya masuk dalam rangkuman, usaha menenangkan yang justru membawa dampak berkebalikan, "Sensei bukan orang lain lagi, ne - san."
"Dia juga bukan orang lain bagiku," dalam pengertian Hinata mengamini, "dan aku yakin Tenten - san bersedia menemuimu. Namun, Hanabi harus ingat, hanya itu satu - satunya hal yang bisa kita minta darinya. Kita sudah terlalu banyak menerima."
"...dan juga…" Hinata mendekatkan wajah pada helaian di pucuk kepala Hanabi, menguatkan diri sendiri, "...kita tidak bisa mengingkari janji yang setengah mati dijaga oleh ni - san."
.
.
.
.
.
Janji yang setengah mati dijaga.
Bukankah ada larangan untuk membawa zat adiktif ke dalam rumahnya?
Neji bahkan sudah lupa dengan aturan yang ia buat sendiri.
Cairan yang tersisa sedikit dalam gelas bening kembali masuk ke dalam tenggorokan, mengalir dan membakar dada.
Pun begitu, ia belum selesai.
Pagi masih jauh, dan pikirannya belum tenang.
Tanpa ada bukti nyata, janji hanya janji. Tak ada kekuatan yang bisa mengikat. Bebas untuk dilanggar, atau malah dihapus.
Itu sifat dasar manusia, mengambil kesempatan di setiap cuil celah. Maka dari itu Neji tak pernah lengah untuk memastikan semua kesepakatan yang ia buat harus otentik dengan perlindungan hukum.
Setengah gelas kembali terisi cairan yang sama, mengalir dari mulut botol. Tak berharap ronde itu mampu mengendalikan pikiran.
Janji tanpa bukti kuat hanya angin lalu.
Tapi mengapa…
.
.
.
"Aku percaya, Tuhan menghadirkanmu dalam keluarga ini untuk meluruskan semuanya, Neji."
"Lepaskan aku seperti aku melepas masa lalu."
"Sedetikpun jangan lagi ia bertemu denganmu."
.
.
.
Sudah sampai sejauh ini pun, masih ada janji yang membelenggu.
Tak jelas wujudnya, tak tahu apa hukuman jika dilanggar.
Namun kuat mengikat.
.
.
.
.
.
"Kaichou,"
Neji tak menggubris untuk menjawab panggilan Shino.
"Apakah sebaiknya saya informasikan kepada fuku - kaichou untuk mewakili anda pada pertemuan hari ini?"
Dari kaca spion tengah Shino melirik kondisi Neji sekali lagi. Memastikan bahwa kantung mata itu memang meyakinkan kekhawatirannya.
"Tak perlu."
Jika Neji berkata demikian, maka Shino tak perlu membantah.
"Instead," suara beratnya kembali menambahkan, membuat Shino melirik untuk kedua kalinya, "sebelum menghadiri pertemuan, antarkan aku ke suatu tempat."
.
.
.
Tak ada bukti nyata yang menyatakan ia harus terikat pada janji itu.
Kecuali satu hal.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ps. just as I said before.
Slowly, patiently.
Seperti kemampuan otak yang mulai melambat.
Thanks for waiting, reading, wabil khusus reviewing :3
#bucinreview
With love,
Dinda308
