Tenten X Hyuuga Neji

Characters belong to Kishimoto.

.

.

.

Heavenly Heaven

The purest feeling you can get from a family

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To make a people great,

It is necessary to send them to battle,

Even if you have to kick them in the pants.

Benito Mussolini.

Memanfaatkan lebih dari separuh bagian hidup bergelut di bidang hukum tak mengubah perspektif Hatake Kakashi terhadap ranah politik. Ironis memang, tapi sangat sulit bagi Kakashi untuk menyamakan sudut pandang dari kacamata pelaku yang mengukuhkan suatu norma sehingga menjadi hukum yang valid. Bagi seorang idealis sepertinya, politik ibarat virus penyakit yang sebisa mungkin dicegah penyebarannya.

Untuk kali ini, ia membuat pengecualian. Sependapat dengan pernyataan tokoh sejarah politik berdarah Italia itu.

.

.

.

"...permintaan di pasar obligasi internasional cenderung meningkat dibandingkan saham, sebagian besar investor mulai bersikap waspada setelah brexit. Situasi ini bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan harga wajar. Sedangkan saham akan tetap berada di harga yang sama."

Hyuuga Neji memberi jeda sesaat, yang segera ditangkap oleh Hoheto sebagai kesempatan untuk berbicara, "Dengan permintaan yang menurun, bukankah sebaiknya harga saham diturunkan untuk menarik perhatian pasar?"

Seakan sudah bisa menebak pertanyaan yang akan diajukan, tanpa lama berpikir sang direktur utama menguatkan tegas, "It's for assurance," lensa mata menatap si penanya dengan intensitas yang tak berubah, sebelum beralih pada tak kurang dari lima belas peserta rapat yang akan menentukan pengambilan suara, "dengan menetapkan harga saham di tingkat yang stabil, investor akan menilai kinerja Hyuuga tidak terpengaruh meski dalam situasi politik yang gamang. Dengan konsekuensi penawaran saham dalam negeri harus ditingkatkan, agar likuiditas terjaga. Di samping itu, beberapa investor besar justru tak kehilangan minat untuk berinvestasi di Britania. That's what I'm aiming for."

"Dalam jangka waktu lima, tidak, bahkan tiga tahun setelah laporan keuangan tahunan diterbitkan, investor bisa menilai keseluruhan kinerja Hyuuga. Bukan hanya dari sisi keuntungan, tapi juga efektivitas manajemen, terutama setelah skandal. We need to regain their trust."

.

.

.

Dua kali ketukan pada pintu ruangan mendapat perhatian Neji.

Dengan cara berjalan yang khas, Hatake Kakashi menampilkan diri ke dalam ruangan Neji, memberi sekilas apresiasi pada Shino yang membukakan daun pintu untuknya.

Hanya sedetik Neji menahan pandangan pada sosok Kakashi sebelum mengembalikan fokus pada laporan yang tengah ditelaah.

"You're early," ungkap Neji tanpa berbasa - basi, "pertemuan untuk membahas legal pukul dua nanti."

Perlakuan dingin ini, tak menggubris untuk memberi sopan santun. Ciri Hyuuga Neji yang Kakashi harapkan. Semakin dingin perlakuan Neji, semakin transparan topeng yang menyembunyikan tabiat mereka.

"Just here to give you appreciation," punggung yang masih bugar meski mulai termakan usia dinyamankan pada sofa hitam di tengah ruangan, berjarak tak kurang empat meter dari meja kerja Neji, "ini kali pertama shachou memberikan jabatan tangan padamu. I believe he's impressed as well."

Tak ada perubahan yang tampak dari raut Neji. Meski begitu, Kakashi paham orang seperti mereka tak mencari sanjungan.

"I'm just doing what supposed to be done."

Kakashi menyeringai samar.

"These past years really kick you off," tanpa sungkan, ia mengambil satu batang nikotin dari kotak yang tersimpan dalam saku jas, menyelipkan di antara belahan bibir, sebelum membakar ujung lainnya dengan pemantik, "kamu generasi pertama yang berani mengambil langkah untuk melebarkan pasar Hyuuga secara internasional. Pengalihan yang tepat setelah skandal. Dengan pengakuan eksistensi yang luas, perlindungan hukum bagi Hyuuga akan semakin kuat."

Laporan yang selesai ditelaah kembali ditempatkan di atas meja, hanya untuk diganti dengan tumpukan yang lain. Otak secepat kilat mengganti fokus pada informasi baru, "We're paying off what should be our responsibility. Dengan jumlah dana keluar yang tak sedikit, secepat mungkin harus diimbangi. That's common knowledge, so obviously I'm not trying to backup anything."

Kakashi mengibaskan tangan, isyarat menyerah, "I've never been good with business strategy," lebih tepat, pada bisnis yang tak melibatkan permainan aturan, "tetap saja, perubahan ini memudahkanku untuk membuktikan bahwa kalian tak ada kaitan dengan kasus Yamasaki. Membuatku meragukan independensi pengadilan Jepang."

Bukan tanpa sengaja Kakashi menyelipkan nama yang sempat tabu bagi mereka. Ia hanya ingin Neji sedikit mengalihkan perhatian dari laporan yang menurutnya tak berguna itu.

Benar saja. Hanya sedetik, tapi Kakashi mendapatkan sekali delik dari lensa unik keturunan Hyuuga.

Merasa terhibur, Kakashi bersikap seolah tak menangkap situasi.

Meski begitu, ia tak berniat untuk mengganggu emosi Neji hari ini.

"That blonde lady. Miss Baker? Is she the one whom you mentioned weeks ago?"

Neji bergumam mengamini, "Dia akan menjelaskan lebih detil mengenai legalitas Hyuuga di Inggris. Ada beberapa penyesuaian yang harus ia diskusikan denganmu."

Penjelasan Neji membuat Kakashi tertarik. Bukan mengenai tugas, lebih pada personal.

"We'll see that later," ia membuang sisa pembakaran nikotin pada wadah abu rokok di atas meja, "it's refreshing to have a woman in our team. Hyuuga sebaiknya lebih banyak merekrut profesional wanita."

"Selama kualitas portofolio sesuai, gender bukan tolak ukur."

Kakashi menaikan sebelah alis.

"Her figure tells no lies about her quality," pendapat yang dikeluarkan tanpa ragu akan penyangkalan, "even before she speaks, men will think twice to reject her."

Keseragaman pikir yang dikira ada, ternyata justru mendapat perhatian Neji. Ia menatap dingin pada pria paruh baya yang sempat menjadi panutan.

"Kukira kau lebih baik dari itu, Bengoshi - sama," dijawab tanpa menyembunyikan nada melecehkan, "have you been pent up lately to the point that's the first thing appear on your head?"

Sarkasme yang justru membuat Kakashi terkekeh.

"It's not me," bukan bermaksud melindungi diri, hanya ingin menyangkal saja, "Shino bukan satu - satunya orang yang akan mendampingi kemanapun kau pergi, mulai sekarang?"

"What are you implying to?"

Sekali lagi ia menyeringai. Semakin terhibur dengan kekesalan Neji, tak menghiraukan niat awal untuk tetap berdamai hari ini.

"Kau tahu maksudku," suaranya terdengar lebih dalam, "posisinya akan lebih penting dari Shino. In a personal matter."

Kali ini giliran Neji yang menyeringai.

"You're ridiculous."

"But not impossible."

Lembaran laporan yang sejak tadi menjadi objek fokus terhentak ke atas meja.

"Berikan aku lebih banyak ide untuk kepentingan Hyuuga," akhirnya Kakashi mendapat perhatian seutuhnya, meski dengan intensitas yang tak ia harapkan, "instead of spitting out rubbish."

Kakashi mengangkat kedua tangan, meski senyum tumpul masih melecehkan, "Take it easy, son."

Penenangan sekenanya yang tak diharapkan membuahkan hasil.

"Tetap saja," ia membangkitkan diri, sebelum merapikan jas yang tak nampak segarispun kerutan tak wajar, "meski berhasil mengubah arah Hyuuga, you are still helpless in one particular side."

Sudah waktunya Kakashi bersiap untuk pertemuan yang akan dimulai kurang dari tiga puluh menit lagi, maka ia mulai beranjak meninggalkan Neji yang terlihat sama gusar seperti tahun - tahun sebelumnya.

Sebelum itu…

"Kurasa sekarang kau sudah tahu," ia mengeluarkan suara untuk terakhir kali, seraya menyentuh kenop pintu, "mengapa saat itu aku meninggalkan buku catatan Yamasaki di tanganmu."

.

.

.

.

.

"...tempatnya tinggal sekarang tak jauh dari lokasi sungai Okawa. Kurasa, setiap berangkat dan pulang dari mengajar dia akan melewati jembatan yang melintasi sungai."

Begitu kata Hinata di malam pertama mereka tiba di Osaka.

Hanabi menghembuskan nafas. Kedua lengan diistirahatkan pada pagar pembatas jembatan yang nampaknya sesuai dengan yang dimaksudkan Hinata, menumpukan sebagian beban tubuh pada tubuh pagar.

Kalau dihitung sudah hampir satu jam ia berdiri di sana. Beberapa kali pindah posisi, menyusuri sepanjang jembatan. Meski begitu hingga matahari terbenam dan cahaya digantikan oleh lampu jalan, belum ada tanda kemunculan dari sosok yang diharapkan.

Untung saja pemandangan di sekitarnya luar biasa cantik. Beberapa kali ia memanfaatkan kesempatan dengan mengambil foto deretan pohon sakura yang masih bermekaran sepanjang sisi sungai.

Tapi itu kemarin, ketika pertama kali ia tiba untuk mencoba peruntungan. Entah karena seling jalan atau malah Tenten tidak melewati jalan tempat Hanabi menunggu, ia gagal menemukan mantan wali kelasnya itu. Ini sudah kali kedua dia menunggu, Hanabi tidak berharap untuk menunggu selama tiga jam berdiam diri lagi di sana.

Rencana yang sudah tersusun di telepon genggam ia abaikan, mengorbankan waktu mulai dari matahari mulai terbenam hingga jam sebelum tidur untuk menunggu di sana.

Hinata bilang dia selesai mengajar setelah pukul lima sore, seharusnya awal matahari terbenam Tenten lewat sini.

Ia mengecek layar telepon genggam sekali lagi, memastikan waktu yang terlewat. Ternyata baru lima menit lagi terlewati. Sudah hampir pukul setengah tujuh malam sekarang.

Layar yang sempat meredup kembali terang, ditambah dengan getaran sebagai tanda notifikasi.

Hyuuga Neji memberi panggilan.

"Hmm, ni - san?" ia menyambut panggilan kakak sulungnya setelah dua getaran, "aku di sungai Okawa. Aku yang minta Kiba - san supaya tak usah mengantar. Kasihan kalau nanti harus bolak - balik jemput ne - san juga."

Protes Neji membuatnya memutar bola mata. Dia tidak mengoceh, hanya memperingati halus seperti biasa, tapi tetap saja membuat Hanabi risih.

"Aku bisa naik taksi kok. Tadi juga berangkat naik taksi," beralasan dengan bebal, "memang ni - san sudah selesai? Aburame - san kemana?"

Hanabi mendengus pelan sekali lagi, bermaksud menolak tawaran, bukan, pemberitahuan sang kakak yang hendak menjemputnya tepat di tempat Hanabi berada. Kenapa ia tolak? Jelas saja, kalau nanti Tenten - sensei akhirnya lewat, lalu ada ni - san di sini juga, bagaimana?

Tunggu…

Bukan bagaimana…

"Aku berdiri persis di sisi jembatan. Dekat pohon Sakura yang paling tinggi," suara yang sampai tadi masih terdengar malas, mendadak sedikit bersemangat, "cepat jemput aku ya. Jalanan mulai sepi." bohong.

Betapa naif Hanabi jika menantikan klise terjadi sesuai bayangan.

Tapi, Hanabi berharap hari ini Tuhan memberikan lagi keberuntungan padanya.

Gerakan langkahnya agar lewat jalan ini, Tuhan. Kumohon.

.

.

.

Hanabi yakin sekarang Tuhan tak akan menyia - nyiakan doa yang dipanjatkan oleh ciptaan - Nya.

Bahkan di momen yang paling sempurna.

Hanya berselang tak sampai satu menit setelah Neji menemukannya, dari sisi yang berseberangan sosok yang sudah ia tunggu sejak kemarin akhirnya terlihat.

Terhembus mengikuti angin, helaian rambut cokelat yang hanya sebatas bahu, sisi wajahnya tersapu. Tak menghalangi penampakan wajah cantik yang masih sama. Lensa mata dengan warna cokelat yang identik dengan rambutnya bersih, menyiratkan keterkejutan yang samar.

Dan Hanabi tahu perasaan Hinata sekarang.

"Sensei…" hembus Hanabi pelan, terdengar oleh telinganya sendiri. Langkah kaki mengambil setengah langkah, mengajukan diri untuk mendekati sosoknya yang berhenti di tengah jembatan.

Sebelum niat itu digagalkan oleh tangan Neji yang menahan lengannya.

Jelas kehadirannya tak terlewatkan oleh tangkapan mata Neji.

Lalu mengapa ia mencegah Hanabi?

Dan sorot mata itu…

Keras dan tajam.

"That's enough."

Kekuatan Hanabi tak bisa menyaingi cengkraman Neji yang menariknya beranjak dari sana.

"Jangan," tangan yang bebas masih berusaha melepaskan genggaman kuat Neji pada lengannya, tubuh tak kuasa mengikuti arah Neji yang berlawanan dengan posisi wali kelasnya berdiri. Ia beralih pada sosok Tenten, perlahan mulai terlihat lebih jauh. Bergantian sekali lagi pada Neji yang memunggungi, menepuk dan mendorong tangannya sekuat tenaga, "ni - san!"

Tapi Neji seperti kehilangan pendengaran.

Tenten sudah semakin jauh sekarang.

"Sensei!"

.

.

.

.

.

"Sensei!"

Suara yang sampai ke telinganya membuat borgol kasat mata yang mendadak mengikat kedua kaki terlepas.

Ia berjalan cepat melintasi jembatan, ke arah yang sama dengan dua orang berlensa identik yang sampai kini masih membayangi pikiran.

Entah dari mana tenaga yang ia dapat, dengan usaha yang sedikit lebih keras menghalangi tangan itu mencengkeram lengan kurus lebih lama sekaligus mencegah mereka pergi lebih jauh menuruti niat pria yang lebih kokoh darinya.

"Dia punya urusan denganku," Tenten membawa tubuh Hanabi yang kini setengah terisak ke dalam perlindungan, "kamu tak bisa mencegah."

Tuhan memang mengabulkan doa Hanabi.

Meski harapan Hanabi tak sejalan dengan keinginan keduanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ps. don't be such a coward Neji.

Sesuai permintaan sebelumnya, saya akan sertakan subtitle (?) dari percakapan dalam cerita, meskipun nggak secara literal ya, karena aneh pasti jadinya.

Quote yang pertama itu dari politikus Itali, Benito Mussolini. Artinya kira - kira supaya kemampuan seseorang yang sebenarnya keluar, mereka harus ditempatkan di situasi yang paling nggak enak

Percakapan saat rapat, Neji mau memberi jaminan ke para investor supaya investasi di Hyuuga, dia juga ngincer investor yang gede, dan mau ngembaliin kepercayaan investor

Kakashi mau ketemu Neji cuma mau muji (awalnya), terus bilang kakek Neji juga kagum

tapi Neji cuma mikir untuk lakuin hal yang mesti dilakuin, dan nggak maksud untuk bikin skema pengalihan isu (pasti ngerti deh kalo bandingin sama Indo yang suka tampilin berita pengalihan isu)

Topik beralih ke Alana, menurut Kakashi, cakepnya Alana itu setara sama kepintarannya, dan laki - laki mesti mikir dua kali kalo mau nolak dia

Neji malah ngeledek balik, nyangka Kakashi nggak cukup puas dari perhatian cewek - ceweknya (Neji tahu kalo Kakashi punya banyak pacar) (ehe, sorry Kakashi's fans)

Terus Kakashi bales kalo niat Neji ke Alana nggak cuma sebatas pekerjaan aja, gitu deh

Neji ya nggak terimalah dianggap kaya gitu

Kaya jadi summary gini, hahaha

Pokoknya gitu deh.

Terima kasih buat masukannya,

See you next,

Dinda308