Tenten X Hyuuga Neji
Characters belong to Kishimoto.
.
.
.
Heavenly Heaven
The purest feeling you can get from a family
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tak sedikit orang yang memberikan penilaian bahwa Hyuuga Neji adalah orang yang memiliki aura mengintimidasi. Hanabi beberapa kali mendapat pengakuan itu dari banyak kenalannya yang baru pertama kali bertemu dengan Hyuuga sulung.
"Sekedar mengucap salam pun harus memutar otak. Jangan sampai salah ucap." kata mereka.
Sampai bosan Hanabi menampis kesan itu. Meyakinkan mereka bahwa kakak sulungnya bukan orang yang segitu menakutkannya. Dia memang kaku, tapi Hanabi hampir tak pernah melihat atau mendapat perlakuan dari Neji yang membuatnya merasa harus bersikap sungkan.
Hanabi tahu sekali.
Makanya ini aneh.
Kalau Hanabi sekarang berada pada posisi sama dengan orang - orang yang pernah mendapatkan perlakuan mengancam dari Neji.
Bukan hanya Hanabi, tangan yang mendekap pundaknya juga mengerat. Menandakan bahwa si pemilik juga merasakan hal yang sama.
"Usianya belum delapan belas tahun," dia berucap dengan penekanan yang membuat ketegangan Tenten bertambah, meski intonasinya stabil, "baik secara norma, bahkan hukum konkret, yang memiliki hak atas pengambilan keputusan berkaitan dengannya ada di tanganku sebagai wali."
Delikan mata yang meski ronanya identik dengan Hanabi dibedakan dengan intensitas darinya yang berkebalikan dengan tatapan memelas Hanabi.
"And you, as someone with not even a bit of relation to her, dare to say such a thing."
.
.
.
Tepat sasaran.
Ciri khas Hyuuga Neji yang selalu piawai mendominasi keadaan ketika dirinya ditantang.
Bagaimana Tenten bisa sampai melupakan itu?
Hanya saja, bagaimanapun fakta yang jelas menyudutkannya, telapak tangan yang menggenggam sebagian kain pakaian di punggung Tenten menguatkan keyakinan untuk memutarbalik kenyataan dengan sesuatu yang tak masuk akal.
Tenten tidak salah, jadi untuk apa dia merasa takut?
"Dua tahun dia berada di bawah bimbinganku, di lingkungan sekolah yang terdaftar secara sah dan tanpa ada pelanggaran kode etik yang membuatnya dilarang untuk bertemu denganku," belum pernah setegas itu Hanabi mendengar Tenten bersuara, "alasan itu kurasa cukup sebagai pertimbangan."
Alasan apapun, selama Tenten bisa mencegah agar pikiran anak ini tak dikekang oleh kakak kandungnya sendiri.
Lagipula, tolonglah. Dia hanya ingin bertemu Tenten. Tak ada maksud lain.
.
.
.
Bisakah alasan itu dijadikan bahan pertimbangan?
Tentu tidak.
"Hanabi," panggilnya sekali. Tak mengubah volume suara, hanya terdengar lebih berat, "come to me."
Lengan yang melingkar di pundak Hanabi sedikit bergerak. Gadis itu memalingkan pandangan wajah dengan membenamkan pada bahu mantan wali kelasnya.
Ini sudah berlebihan. Hyuuga Neji keterlaluan.
"Yang bermasalah denganku itu kamu, Neji. Jangan libatkan Hana-"
"Hyuuga Hanabi."
Panggilan kedua yang sampai ke telinga Hanabi jauh berbeda dari yang ia kenal.
Asing. Keras.
Tak ada toleransi untuknya, apalagi dilawan.
"Maaf sensei..." bisiknya sebelum membuat jarak perlahan. Dengan kepala yang menunduk, tak melihat arah selain aspal tempat kakinya berpijak, ia mengambil langkah seperti anak kecil yang patuh.
Tenten hanya bisa terdiam memandangi gerak Hanabi. Bahkan ketika Neji mengulurkan tangan padanya pun, anak itu masih dengan patuh menerima. Mungilnya telapak itu terhalang pandang, diselimuti oleh dinginnya tangan besar Neji yang seharusnya hangat.
Hanabi terbawa dalam rangkumannya untuk beberapa saat.
"Jangan besar kepala." ia berkata untuk terakhir kali, seraya membimbing gadis dalam dekapannya untuk berlalu meninggalkan Tenten yang terpaku.
"It's no longer exist."
.
.
.
.
.
"Besok kau berangkat ke Tokyo bersama Chiyo - san dan Kiba."
Hanabi hanya diam mendengarkan perintah dari kursi penumpang di sebelah Neji yang sibuk mengemudi. Bahkan Neji sekalipun, tak berbaik hati untuk melembutkan suara atau minimal melirik guna memastikan kondisi adik bungsunya.
Hyuuga Neji memang orang yang kaku, tapi dia tidak semenakutkan itu.
Dulu. Bukan saat ini.
"Aku akan menyusul sesuai jadwal. Sebaiknya kau tetap tinggal di rumah," belum selesai dia bertitah, "if you need something, Kiba will get them for you."
Jemari Hanabi mengepal kuat pada kain baju terusannya.
"Apa ini? Tempat kita tinggal sedang dilanda bencana? Atau dikelilingi teroris?" ketakutan dan geram berpadu, membuat suaranya bergetar, "Hanya sekilas bertemu sensei, lalu aku menjadi tahanan?"
"Just do as I say."
"Sensei juga bilang kan? Itu masalah ni - san sama sensei. Tak ada hubungannya denganku. Mau bertemu atau tidak, itu hakku!"
Berhenti.
Laju mobil yang sampai tadi masih stabil mendadak dihentikan. Membuat tubuh Hanabi sedikit tersentak. Jika bukan karena sabuk pengaman, mungkin tubuhnya akan melompat hingga menabrak dashboard.
Lampu merah.
Hanabi tak sadar kalau mereka melaju dalam kecepatan yang tak biasa.
"Coba untuk berpikir lebih jauh sebelum kamu bertindak," kali itu tatapan mereka bertemu, Hanabi tak tahu kemana keberaniannya pergi, "semua itu untuk kebaikanmu."
Bukan hanya untuk Hanabi, tapi juga Tenten.
Benar…
Demi kebaikan kalian.
.
.
.
.
.
Ketegangan yang terasa di belakang leher melunak, ketika jemari Hinata memijatnya perlahan.
Tersenyum samar, keningnya masih ditopang oleh telapak tangan yang saling bertaut di atas meja kerja pribadi. Kedua ibu jari mendinginkan kelopak mata setelah lelah berkutat di depan layar komputer selama hampir empat jam.
"Kakakku biasanya tak pernah membawa pekerjaan ke rumah," sapa Hinata halus, masih memijat belakang leher Neji, "sudah hampir tengah malam. Ni - san sebaiknya istirahat, besok pagi masih ada rapat kan?"
"Right…" helanya hampir tak terdengar, meski belum ada niat untuk beranjak, "It's good to have a doctor in my house."
Putri sulung Hyuuga hanya tersenyum tipis.
Beberapa saat keduanya hening. Membiarkan kepala sibuk dengan pikirannya masing - masing.
"Kalau ni - san tidak keberatan," berhati - hati agar intonasinya tak mengganggu ketenangan Neji, Hinata memecah keheningan, "boleh aku tahu ada masalah apa dengan Hanabi?"
Urat leher Neji tidak terasa menegang. Ia bahkan tidak terkejut dengan pertanyaan Hinata.
"Dia cerita?"
Mengangguk sekali, Hinata memastikan untuk tetap tersenyum, "Protes sembari menangis."
Kakak sulungnya mendenguskan sekilas tawa. Miris.
"Bukan Hanabi yang salah. Seharusnya aku tidak perlu cerita kalau kebetulan bertemu dengannya di sini." jelas Hinata, mencoba meminta maklum dari Neji.
"Aku juga tak tahu kalau kerabatnya bekerja di rumah sakit itu, apalagi ternyata dia juga sudah kembali ke Osaka. Semua serba kebetulan."
Tangan yang masih memijat belakang lehernya terhenti oleh tangan si pemilik.
"Aku tahu." jeda Neji. memberi pandangan sama tenangnya dengan Hinata, "Aku tak menyalahkanmu. Tak ada yang salah."
Ibu jari Hinata mengelus telapak tangan Neji.
"Tak bisakah Hanabi bertemu Tenten - san? Sebentar saja. Mungkin sekedar minum teh, supaya sedikit lega."
Neji menghela nafas.
"It sounds fine," setelah berpikir sedetik, ia menyambut, "at the moment. Tapi setelah itu?"
Hinata menyiratkan tanya.
"Trauma itu akan gagal dilupakan. Both of them. They will be haunted by those memories. Hanabi akan terus merasa bersalah atas sesuatu yang bukan akibat perbuatannya, sedangkan Ten-"
Tanpa melanjutkan nama yang terselip dari bibirnya, kedua tangan Neji saling bertaut dengan telapak Hinata di antaranya. Menyentuhkan jemari halus dan mungil itu pada kening, seperti berdoa pada Hinata.
"Bayangan akan hal itu… jauh lebih menyiksaku."
.
.
.
.
.
"Kurasa sekarang kau sudah tahu," ia mengeluarkan suara untuk terakhir kali, seraya menyentuh kenop pintu, "mengapa saat itu aku meninggalkan buku catatan Yamasaki di tanganmu."
Neji tak akan mengakuinya tapi seburuk apa pun sifat yang dimiliki Hatake Kakashi, selalu ada hal yang membuat rasa hormat kepadanya semakin bertambah.
.
.
.
Buku catatan yang hanya terisi tak sampai separuh dari jumlah lembaran yang ada.
Seharusnya terakhir kali ditulisi dua dekade lalu oleh si pemilik.
Ternyata menyimpan satu catatan lain. Masih baru.
Satu halaman sebelum akhir.
Tulisannya lebih rapi, menunjukkan bahwa si penulis terbiasa untuk memastikan semua huruf mudah dibaca.
.
.
.
Aku bersyukur dihadirkan oleh orangtuaku sebagai bentuk anugerah-Mu.
Bahkan jika suatu saat aku terlahir kembali, aku memohon agar bisa bertemu lagi dengan mereka.
Tak ada sedikitpun sesal atau keluh yang aku rasakan atas semua pemberian-Mu.
Begitu pun dengan kehadiran dia. Meski hanya bagian singkat dalam hidup.
Aku terima dengan senang hati, dan kurelakan dengan pasrah. Jika kuteruskan maka tak akan adil untuk orangtuaku. Dan untuknya. Aku tahu, Tuhan, meski ia menyangkal, hidup denganku akan terus membuatnya dirundung rasa bersalah, seumur hidupnya. Akan lebih baik jika saat ini, di kehidupan ini, ada orang lain yang bisa menemaninya tanpa beban.
Namun, aku masih manusia yang tamak.
Aku sudah merelakan semua dengan ikhlas untuk kehidupan ini.
Maka, aku mohon kebaikan hati-Mu, agar diberi izin untuk disatukan dengannya di kehidupan yang lain.
Tanpa celah. Tanpa beban.
Saling mengasihi tanpa rasa bersalah.
Dalam perlindungan dan izin-Mu, aku memohon dengan kesungguhan hati.
.
.
.
.
.
Aku dan Kamu. Siapa yang bodoh dan siapa yang egois?
Mungkin kita sama - sama memiliki keduanya.
Tak ada yang tahu mana yang benar.
.
.
.
.
.
.
.
"Tumben pulang telat."
Tenten lepas dari lamunan sesaat. Memastikan senyum yang natural meski tak dirasa, "Ada rapat untuk festival olahraga nanti." jawabnya ringan pada Anko. Ia mengacak singkat rambut di pucuk kepala Iwa yang tengah berbaring di sofa seraya memusatkan perhatian pada telepon genggamnya. "Minggu depan tes tengah semester, loh. Kapan belajarnya?" tegurnya setengah bercanda.
Pemuda yang tingginya sudah sama dengan sang kepala keluarga mencibir, tak beralih dari kegiatannya.
Tenten menggelengkan kepala, sebelum beranjak menuju ruang pribadinya di lantai dua.
Tampak seperti biasa.
Namun tak luput dari firasat Anko.
"Ten," panggil Anko, menghentikan langkah Tenten yang sudah berjejak pada anak tangga pertama, "makan malam dulu."
Tenten tahu seperti apapun disembunyikan tak akan mengelabui ketajaman Anko.
"Sepertinya aku harus langsung tidur. Mungkin tekanan darahku turun lagi," tolaknya halus, meyakinkan Anko tanpa menyembunyikan pandangan wajah, "jatah makan malamku untuk Gai - san saja."
Tanpa diduga, Anko hanya menghela nafas. Padahal Tenten sudah yakin ibu asuhnya akan mengoceh.
"Ya sudah, ke kamarmu sana. Aku ambil tensimeter dulu."
Mengangguk sekali, Tenten melanjutkan langkah.
Hanya kurang tidur. Penyebab kenapa dia melankolis.
Hal yang terjadi dalam perjalanan pulang tadi bukan apa - apa.
.
.
.
.
.
"Seratus per enam puluh." ucap Anko menyuarakan meski angka terpampang jelas di layar tensimeter digital, "Kamu begadang, ya?"
Seraya meluruskan lipatan kain lengan kaosnya, Tenten hanya mengangkat bahu.
"Boleh saja kalau mau langsung tidur, tapi coba isi perutmu dulu dengan makanan ringan. Jangan dibiarkan kosong sampai pagi."
Lagi, ia hanya mengangguk.
Baru saja Tenten beranjak untuk ke kamar mandi, lengannya ditahan oleh Anko.
"Duduk dulu," titahnya.
Baru saja Tenten bernafas agak lega karena Anko yang tidak bertanya apa - apa. Akhirnya ditampik juga.
"Kenapa?" tanya Tenten halus, setelah kembali menempati tempat tidurnya bersebelahan dengan sang perawat senior.
Justru membuat Anko menaikkan sebelah alis, "Bukan. Kamu yang kenapa?"
Bahu yang tanpa sadar tegang langsung turun, seperti beban yang dipikul lepas.
Ia terkekeh pelan. Membuat Anko mengernyit lagi.
"Sudah tak ada yang bisa disembunyikan dari Anko - san, ya?" ia mengusap kelopak mata sekilas, tak tahu senyuman itu untuk apa, padahal dalamnya bukan senang, "Aku ketemu dia tadi. Kebetulan."
Sejak awal dokter muda itu tiba, Anko sudah menduga - duga akan ada saat seperti ini, dimana orang yang menjadi kekhawatirannya juga ikut muncul. Tak disangka saja secepat ini.
Tenten sepertinya mengatasi itu dengan cukup baik.
"Harusnya aku kenalkan dia pada Anko - san lebih cepat lagi. Sebelum terlanjur runyam begini. Sulit memang, tapi sampai kemarin aku baik - baik saja. Bertemu Hinata juga tak masalah, aku malah lega."
Dia masih saja terkekeh, tak tahu kenapa.
Ia mungkin sudah mulai tak waras.
"Selama tiga tahun ini aku hanya pura - pura merelakan, karena kupikir dia juga sama. Pura - pura terlihat lupa, meski sebenarnya tak akan ada ingatan yang dibiarkan hilang."
Tenten sudah tak bisa memandang Anko sekarang.
"Tapi aku tahu sekarang," matanya mulai terasa panas, entah karena lelah atau apa. Tidak, Tenten yakin emosinya tak bisa ditata karena mengantuk, "aku yang terlalu percaya diri. Lagipula aku ini siapa? Orang seperti aku tentu saja akan mudah dia lupakan."
Dia hanya mengantuk, air mata yang jatuh hanya karena matanya sudah terlalu lelah.
"Semoga saja Tuhan tidak menganggap doaku serius. Tahu begini, aku tak perlu memohon lagi. Kalau sudah berakhir, seharusnya dibiarkan seperti itu saja."
Racauan Tenten sudah tak tentu kemana arahnya, tapi Anko bisa menangkap apa yang ada di pikirannya.
"Tenten."
Suara memperingati Anko menghentikan Tenten, membebaskannya dari pikiran yang terbelit tak beraturan.
"Lihat aku."
Tentu saja itu tak akan dipatuhi olehnya, yang kini bebal karena menanggung malu.
Anko memaklumi itu.
"Aku sudah berusaha semampuku agar kebiasaan menutupi keinginanmu itu bisa hilang. Mungkin itu sudah sifat dasar yang diturunkan entah dari ayah atau ibumu," bukan dalam hal buruk Anko mengatakan itu, justru sebaliknya. "katakan terus terang apa maumu? Memikirkan orang lain boleh - boleh saja, tapi pikirkan juga apa yang sebetulnya kamu mau."
Masih belum mampu Tenten menatap Anko. Meski ucapan itu membuatnya sadar.
Ia mengusap sisi wajahnya sekali lagi, menghapus jejak air.
Mendadak merasa kesal. Bukan kepada Anko, sama sekali bukan.
Dia benar - benar kurang tidur. Tapi semua emosi yang dirasakannya masuk akal, hanya terkubur saja.
"Masih ada yang belum selesai. Aku dan Hyuuga Neji."
Anko tak akan mencegahnya kali ini.
Ia akan membiarkan Tenten meluapkan semua yang terpendam.
Kenapa diizinkan, katamu?
Karena Anko tahu, Tenten bukan orang yang akan terjerumus untuk kedua kalinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ps. Maafkan saya atas keterlambatan update.
Again, ide untuk plot kesandung batu. Bukannya bangkit malah stuck.
Tapi sudah mulai ada jalan terang hehehe.
Harus rajin buat draft, tapi nyesuaiin waktu minta ampun susahnya.
Terima kasih loh teman - teman yang review. Selalu sukses memompa semangat.
Until next chapt,
Dinda308
