Tenten X Hyuuga Neji

Characters belong to Kishimoto.

.

.

.

Heavenly Heaven

The purest feeling you can get from a family

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Bayangan akan hal itu… jauh lebih menyiksaku."

Caranya mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran sama sekali berbeda dengan gambaran atas perlakuan Neji yang sempat dikeluhkan Hyuuga bungsu beberapa saat lalu.

"Ni - san nggak pernah berubah. Otoriter." suntuk Hanabi, kepalan tangannya menjadikan bantal kepala di atas tempat tidur Hinata sebagai pelampiasan. "Dia punya masalah sama sensei lalu aku diseret - seret untuk menjauhinya juga? Tidak ingat berapa usianya? Anak TK saja sudah bisa bersikap lebih dewasa daripada itu."

"Sudah bisanya main musuh - musuhan, masih mengajariku supaya bisa berpikir panjang pula. Seharusnya dia berkaca pada perkataannya sendiri!"

Melihat sikap mereka, Hinata bertanya - tanya seperti apa hidup keduanya di sana, tanpa keberadaan Hinata yang menjadi penengah.

Sama - sama keras kepala. Hanabi yang tengah mengalami masa transisi, dihadapkan oleh Neji yang punya pola pikir kompleks, pada momen yang tidak tepat ibarat memadamkan api dengan menyiramkan minyak.

Kalau sudah menyangkut sesuatu yang abstrak dan di luar logika, belum ada orang yang bisa menginterpretasikan dengan jelas bagaimana cara Neji menanggapi hal itu. Ia selalu memproses dan mengungkapkan dengan cara yang rumit, dan berakhir dengan salah paham yang bukan satu atau dua kali terjadi.

Bahkan Hinata sendiri, tak bisa mengira - ngira kalau bukan Neji yang menjelaskan. Bersyukur, kini Hinata sudah mampu bersikap lebih matang, sehingga bisa memenuhi standar sebagai tempat Neji untuk membuka satu per satu lapisan yang membungkus dirinya.

Perjalanan yang tidak sebentar dan mudah bagi Hinata untuk bisa sampai ke titik itu.

Dan itu menimbulkan pertanyaan baru.

Bagaimana mungkin pertahanan itu bisa ditembus dengan mudah oleh mantan wali kelas Hanabi, yang jika dihitung tak lebih dari dua tahun mereka kenal? Jauh lebih singkat dibandingkan Hinata yang sudah mengenalnya seumur hidup.

'Kesamaan apa yang mereka punya, sampai - sampai Tenten - san bisa membaca pikirannya seperti buku panduan yang sederhana?' pikirnya.

Tangannya yang terselimut dalam tangkupan Neji bergerak kecil, sebelum ikut mendekatkan kening pada pucuk kepala Neji.

"Ni - san tahu? Aku selalu membanggakan diri, karena menjadi satu - satunya orang yang bisa mengetahui apa yang ada di pikiranmu sebelum orang lain," bisikan yang melankolis, "ternyata pikiranku terlalu sempit. Aku kalah."

Tanpa mengubah posisi, Neji menyeringai, seraya menikmati ketentraman yang ditawarkan si anak tengah. "From whom?"

Pengakuan kalah tanpa kekecewaan, melainkan perasaan lega.

"Tak lama setelah Hanabi tertidur, aku menerima pesan singkat," tak perlu diucapkan siapa orang itu, Neji pasti sudah tahu, terasa dari genggaman tangannya yang agak menegang.

Membuat Hinata ikut tersenyum samar.

"Apa yang ni - san katakan padaku barusan hampir sejalan dengan isi pesannya tentangmu."

.

.

.

Meski suara Hinata terdengar menenangkan, pengakuan darinya memberikan setitik celah yang merusak damai.

"Mungkin bukan dalam konteks yang sama dengan ni - san," perubahan yang dialami Neji terasa oleh Hinata, tapi tak digubris. Hinata tahu ada kalanya Neji harus mengakui pertahanannya yang juga tak sempurna, "tapi Tenten - san menangkap arti dari sikap ni - san jauh lebih tepat dibandingkan Hanabi."

Bibirnya mendengungkan sekilas tawa, yang membuat Neji mencari raut wajah Hinata.

"Tenten - san ingat saat dulu Hanabi mengeluhkan sifat ni - san yang terlalu melindungi. Dia jadi ikut merasakannya sekarang." rasa geli terhenti oleh helaan nafas pelan, "dan… hal itu membuat Tenten - san tersinggung. Membuktikan bahwa ni - san meremehkan dirinya."

.

.

.

...mungkin aku tak memiliki hak untuk mengetahui bagaimana perkembangan Hanabi selama tiga tahun ini, tapi aku tahu dia anak yang jauh lebih kuat dari apa yang kakakmu khawatirkan. Aku tahu Neji tak menjelaskan apa pun padanya, dan memang sebaiknya begitu. Mencegahnya bertemu denganku justru akan membuat Hanabi semakin bertanya - tanya.

Jika dia khawatir aku akan kembali membahas masa lalu dengan Hanabi, dia sebaiknya tak perlu buang waktu memikirkannya. Aku menepati janjiku untuk melepas masa lalu, dan memang itu yang terjadi sekarang. Sikapnya tadi membuatku merasa dia meremehkanku. Aku tidak selemah yang dia pikir.

Atau sebetulnya sifat terlalu melindungi itu bukan ditujukan untuk Hanabi, tapi justru untuk dirinya sendiri?

Jika memang benar begitu, katakan pada Neji.

Bukan aku, kamu ataupun Hanabi yang tak bisa melepaskan masa lalu.

Membiarkan rasa bersalah menetap tidak akan membawamu kemanapun.

.

.

.

Hinata tak menampik sudut pandang yang dijabarkan Tenten. Lagipula hal itu juga selalu terbesit di kesimpulannya.

Seharusnya Hinata menyampaikan pesan pada kalimat terakhir Tenten, sayangnya Hinata terlanjur mengetahui ego Neji yang mudah tertantang. Apalagi oleh sesuatu yang ambigu.

Ungkapanmu samar pengertian, Tenten - san.

Jika aku sampaikan pada ni - san yang mempunyai banyak processor sehingga mampu menghasilkan berbagai macam output.

Aku khawatir itu akan sampai pada kesimpulan bahwa masa lalu yang ditinggalkan menyapu bersih ruang kosong di hatimu, sehingga kamu menyediakan tempat untuk pengisian yang baru.

Dan Hyuuga Neji, dengan pikirannya yang tak bisa ditebak. Bisa saja mengambil jalan yang nekat untuk mengisi kekosongan itu. Bagus kalau Tenten memang masih menyediakan tempat untuknya, tapi kalau ternyata dia memberikan tempat itu tanpa ada niat?

Hinata tak berani mengambil risiko.

"Melihat kalian berdua, aku jadi ikut pusing," ucap Hinata setelah menimbang, membiarkan kesunyian menemani pertanyaan yang tersirat dari raut Neji, "ni - san sudah menyeret Tenten - san masuk ke dalam pikiranmu yang rumit itu."

Itu bukan keluhan, justru seperti pujian bagi Neji.

"And she plays along well, too." seringainya.

Salah satu dari berjuta alasan yang membuat pelepasan terasa sulit bagi Neji.

.

.

.

.

.

"Kiba akan mengantar Chiyo - san untuk pemeriksaan kesehatan rutin hari ini,," ucap Neji tanpa mengalihkan pandangan dari lembaran yang tengah ditandatangani, dibawakan oleh Shino di tengah kegiatan sarapan, membuat asistennya itu mendapat cemooh tanpa kata, "so if you don't have the mood to practice today, feel free to roam around the town."

Garpu yang sejak tadi digunakan untuk mengacak makanan di atas piringnya, yang belum ada niat untuk dilahap, berhenti. Ia melirik skeptis pada Neji, sudah tampak gagah seperti pagi yang sibuk seperti biasa, kontras dengan dirinya yang masih terbalut pakaian tidur. Tindakan awal sebagai penyuaraan penolakan untuk diberangkatkan meninggalkan kota yang baru tiga hari ditinggali.

"How many people will disguised as common people to stalk me today?" tanyanya tanpa menyembunyikan nada curiga.

Dari kursi makan yang berseberangan dengan Hanabi, Hinata mendesiskan sekilas tawa.

Entah berapa lama yang lalu, berkat rasa curiga yang mungkin sudah turun temurun, Hanabi mendapati bahwa pemberian izin dari Neji untuk menikmati kota sendirian tanpa pengawasan siapapun ternyata tak sepenuhnya dikabulkan. Dua orang pengawal sewaan Neji, yang dengan lihainya menyamar sebagai orang lewat ternyata tak luput dari pengamatan Hanabi.

Dan mereka orang - orang yang payah, karena Hanabi masih bisa membuat mereka mengaku dengan sedikit ancaman darinya.

Neji yang menerima pertanyaan itu tak merubah raut wajah, "Only one. I told him to keep a good distance so you won't feel disturb by his presence."

Hanabi menghela nafas sekali, menegakkan punggung dan menyandarkan pada tubuh kursi. Setidaknya, dia bisa tersingkir dari rencana Neji untuk memberangkatkannya ke Tokyo hari ini, "Lalu seberapa jauh bebas yang kudapat itu?"

"Ten p.m.," sahut Neji, "no places with age restriction, or empty streets."

Sekali lagi menghela nafas, mengalihkan pandang kembali pada peralatan makan. Tak merasa senang dan tak menolak.

"Dan," seraya bangkit dari meja untuk bersiap memulai aktivitas, Neji menambahkan, "ajak siapapun yang kamu mau untuk menemani."

Keputusan itu mendapatkan perhatiannya. Ia mendongak pada Neji yang berdiri dengan kokoh.

"Anyone?" ada sedikit nada suara pada pertanyaan Hanabi.

Masih tak ada perubahan dari wajah kakunya. Membuat siapapun yang hadir di sana menerka - nerka, termasuk Hinata.

"Anyone." ucapnya singkat sebelum menghampiri Hanabi, memberikan kecupan salam di keningnya, sebelum memberikan perlakuan yang sama pada Hinata. Meninggalkan keduanya untuk menepati tanggung jawab.

Sang dokter muda hanya menggelengkan kepala sekali. Mengapresiasi dalam hati.

Sedikit gertakan dari orang itu dan Neji pun luluh.

.

.

.

.

.

Jemari kurus yang ujungnya sedikit kapalan, sebagai hasil dari penggunaan untuk berlatih piano yang dilakukan hampir setiap hari, kali ini saling memainkan diri. Sesekali bertautan, meremas, dan terasa agak dingin meski suhu masih hangat.

Pandangan violetnya sesekali berganti pandang tanpa lelah ke semua penjuru arah tempatnya berada. Sudah beberapa kali ia melihat suasana itu sampai agak bosan. Namun kali ini agak beda. Ada tambahan debaran semangat yang menemani, mengaburkan rasa bosan.

Dia akan datang pukul tiga sore, lebih cepat beberapa jam dari jadwal mengajarnya yang biasa.

Hanabi tersenyum sendiri ketika menyadari dia bahkan rela meminta izin selesai mengajar lebih awal, demi memenuhi permintaan Hanabi melalui pesan singkat yang diwakilkan oleh Hinata.

Dan Hanabi tidak mau menyia - nyiakan penghargaannya itu, dengan datang tiga puluh menit lebih awal, menunggu di sisi sungai tempat mereka bertemu tanpa kesan yang menyenangkan kemarin. Beberapa kali ia menyusun kembali rambut panjang yang tergerai, khawatir hembusan pelan angin membuatnya tak tertata rapi. Tangannya juga ikut merapikan terusan biru muda sepanjang betis yang didesain khusus untuknya.

Ibarat gadis yang dengan manis tengah menunggu pasangan kencan pertama.

Terserah apa pendapatmu, tapi Hanabi memang tengah menunggu orang itu. Yang merebut hatinya dengan pengertian yang dirinya sendiri belum bisa menjelaskan perasaan cinta yang seperti apa.

"Kaa - san! Tunggu! Belanjaan yang aku bawa terlalu berat."

Suara kekanakan yang masuk ke telinga membuat Hanabi menoleh pada satu titik. Dimana ia menangkap seorang wanita dewasa, menghentikan langkah, sebelum menoleh menyambut panggilan bocah lelaki yang dengan tangan mungil menenteng satu kantung plastik yang berukuran tak sampai sepertiga tubuhnya.

Sang wanita tersenyum khas menanti kedatangan langkah kecil bocah itu dengan sabar, berjongkok untuk menyamakan pandang dengan tingginya, lalu menyeka kening yang tampak agak basah dengan peluh.

"Kei - kun hebat. Terima kasih sudah membantu membawakan belanjaan kaa - san." pujian yang siapapun bisa melihat ketulusan di dalamnya, "Mampir ke toko kue dulu, yuk."

Kontras dengan langkah tak bersemangat sebelumnya, anak itu melompat kegirangan.

Hanabi menelaah pemandangan yang biasa terjadi dimana saja itu dengan pengertian yang lebih dalam.

Ya…

Mungkin itu…

Rasa itu yang Hanabi punya untuk Tenten.

.

.

.

"...kuil ini satu arah dengan sekolah menengahku. Hampir tiap tahun, menjelang pekan ujian pasti murid - murid dari sekolahku datang ke sini untuk berdoa. Aku juga sama." narasinya belum terputus seraya menapak pada anak tangga, tangannya masih digenggam oleh Hanabi, menjadikannya tuntunan.

"Hee," gumamnya, hanya beralih beberapa detik pada bangunan kuil yang tak kalah indah dari yang pernah ia lihat, sebelum mengembalikan fokus pada Tenten, "berarti kuil ini cukup populer ya?"

Mengangguk sekali, Tenten tertawa singkat, "Walau begitu, katanya sih doa yang dikabulkan pilih - pilih. Doa untuk kesuksesan belajar pasti terkabul. Di luar itu, meragukan." meletakkan satu telunjuk di depan bibir, ia tersenyum jahil, "tidak sedikit temanku yang pernyataan cintanya ditolak meski sudah berdoa ke sini."

Hanabi tertawa ringan mendengar pengungkapan Tenten.

"Menurutku," seraya melanjutkan langkah, menuntun Hanabi menuju bagian utama kuil, "jika memang kita bersungguh - sungguh meminta, dimanapun tempatnya, selama itu hal yang baik, pasti akan terkabul."

Begitukah?

Berarti selama ini, mungkin, Hanabi belum sungguh - sungguh berdoa.

.

.

.

.

.

Tak menyia - nyiakan kesempatan yang ada, tentu Hinata akan bergabung bersama mereka.

"Maito - san memang kepala perawat panutan, ya." kesan Hinata, seraya menempatkan diri di kursi ketiga yang mengelilingi meja mungil di kafe tempat Tenten dan Hanabi singgah lebih dulu darinya, "pemeriksaan dan laporan tugas rutin masih sanggup ia kerjakan meski waktu shiftnya sudah berakhir. Perawat muda yang berniat mangkir pun sampai patuh."

Tertawa ringan mendengar pernyataan Hinata, Tenten menanggapinya dengan santai, sudah hafal dengan kebiasaan sang ibu asuh, "Antara patuh atau takut, pastinya Anko - san selalu punya cara untuk memastikan semua pekerjaan terkendali dengan baik. Tak heran rumah sakit memintanya untuk bertahan meski ia sempat meminta pensiun dini."

Hinata menyetujui seraya tertawa pelan, "Iya, beliau juga sempat menyarankan agar aku tidak lupa memberikan catatan untuk dokter pengganti selama aku cuti nanti. Catatannya pun harus lengkap katanya."

"Cuti?"

Mengangguk sekali, Hinata memberikan jeda untuk mengapresiasi pelayan kafe yang menyediakan buku menu untuknya, "Akhir minggu ini kami akan berangkat ke Tokyo," sekali lagi ia berhenti, tanpa ada penghambat luar, melainkan karena pikirannya sendiri, "untuk memperingati hari kematian kaa - san."

Kalimat Hinata menjadi penunda percakapan.

Suasana agak berubah. Hening sesaat.

Hanabi juga merasakan itu, maka ia mendahului untuk mengembalikan suasana, "Aku juga mau reuni sama teman - teman SMP, loh. Sensei ikut, yuk. Hari Sabtu sekolah libur kan?"

Menangkap maksud penghiburan Hanabi, Tenten terbawa riangnya, "Benarkah? Wah, pasti menyenangkan," ia berpikir sebentar, "kebetulan hari itu aku juga akan ke Tokyo, tapi mungkin aku tak sempat untuk menghadiri reuni teman - temanmu."

"Sensei mau ke Tokyo juga? Ada acara ya?"

Mengangguk sekali mengamini, "Masih ingat Gaara - sensei? Dia akan berangkat ke Vienna untuk melanjutkan pendidikan. Penerbangannya Sabtu siang, makanya aku harus mengambil kereta pagi agar sempat mengantar."

Bibir Hanabi membulat, mata berbinar, "Sekolah ke Vienna? Hebat sekali, Gaara - sensei." kagumnya, mengingat kepiawaian guru yang sempat mendampingi dengan pelajaran piano. Sedikit banyak, Hanabi juga merasa berutang budi padanya. Berkat Gaara, Hanabi bisa menemukan minat lagi pada piano.

Hinata yang memperhatikan tak mau ketinggalan percakapan, "Mengapa tidak berangkat sehari sebelumnya, Tenten - san? Kita bisa berangkat bersama."

Seketika tawaran spontan itu terucap, Hinata langsung menyadari kecerobohannya, "Ah, gomen, maksudku-"

Lain halnya dengan Hanabi, yang tak sepeka Hinata. Melebur kalimat kakaknya tanpa izin, "Iya benar, nanti aku minta tolong Aburame - san untuk siapkan tiket pesawat untuk sensei juga."

Melambaikan tangan sekali, Tenten menolak halus, "Aku masih ada jadwal mengajar hari itu, kebetulan bagian cutiku untuk tahun ini tinggal empat hari, kalau digeser aku tidak bisa menghadiri baby shower Sakura. Ah, Hanabi ingat Uchiha - sensei? Beliau mau punya bayi lagi, loh."

"Waah, sugoi. Aku malah belum sempat bertemu anak pertamanya, sekarang sudah mau punya adik." riang Hanabi, bernostalgia, "Aku benar - benar ketinggalan banyak berita."

Lagi, Tenten menyetujui, "Aku pun begitu. Beruntung ada Gaara yang mau berbaik hati berbagi berita mengenai teman - teman di sana."

Tenten mengungkapkan itu tanpa maksud apa pun. Namun, ada sesuatu yang menghampiri pikiran Hanabi.

Terkutuklah, rasa penasaran dan curiga yang tak bisa dicegah.

"Umm sensei…" ia mengulum bibir sebentar, ragu untuk melanjutkan kalimat. Sayang terlanjur menarik perhatian Tenten dan Hinata.

"Sensei… rajin komunikasi ya, dengan Gaara - sensei?"

Jika Hanabi tidak memberikan jeda dan menyiratkan raut wajah yang sudah Hinata hafal itu, ia akan bersikap biasa. Seolah itu pertanyaan yang ringan, bisa timbul kapan saja ketika topik hadir.

Tapi Hinata tahu.

Dia berharap Tenten belum menangkap arah pertanyaan Hanabi.

"Ya," jawab Tenten, netral. "Soal kehamilan kedua Sakura juga, Gaara yang memberitahu. Dia beberapa kali mampir ke tempat tinggalku juga. Setiap kali Gaara datang, Anko - san akan memintanya memainkan keyboard Iwa. Membuat Iwa merasa bersalah karena tidak melanjutkan pelajaran keyboardnya."

"Anko - san nampaknya sudah terpikat oleh Gaara. Dia menyesal sekali karena tidak mungkin ambil cuti untuk mengantar kepergiannya. Padahal bisa saja, tapi Anko - san terlalu bertanggung jawab untuk merelakan hari kerja."

Cerita Tenten, hanya disambut oleh Hinata yang masih tersenyum.

Meski dalam hati Hinata agak khawatir dengan Hanabi yang mendadak diam. Pandangannya tidak berfokus pada Tenten. Melamun menatap gelas minumannya.

"...sudah seperti keluarga sekarang."

Dan akhir kalimat itu, membuat Hanabi segera membangkitkan diri dari tempatnya duduk.

"Aku permisi ke toilet, ya. Sensei, ne - san."

.

.

.

"Menurutmu, apa aku terlalu kejam pada Hanabi?"

Hinata menoleh pada Tenten, antara terkejut dan bingung dengan pertanyaannya.

"Kejam bagaimana maksudnya, Tenten - san?"

Tenten tersenyum samar. Menata kalimat agar Hinata tidak salah paham.

"Aku memang masih lemah ternyata, kalau sudah dihadapkan pada adikmu," ada sedikit nada suara yang membuat Hinata bertanya maksud perkataannya, "Aku tak tahu bagaimana cara yang baik untuk menyampaikan kepadanya."

Hening.

"Dia tidak meminta. Dan aku bersyukur dia tidak mengungkapkan, karena aku belum sanggup melihat wajah sedih karena putusnya keinginan."

.

.

.

Oh…

Dia tahu…

"Hanabi memang sama keras kepala dengan ni - san kalau sudah menginginkan sesuatu," perlahan Hinata menjawab, dalam pengertian yang sama dengan Tenten, "Tenten - san tidak salah, justru ini cara yang terbaik untuk Hanabi."

Terlepas dari rasa kecewa Hanabi atas permintaan yang belum diungkapkan, ada rasa yang sama hadir dalam diri Hinata.

Setidaknya, Hinata mendapat jawaban yang lebih jelas dibandingkan Neji maupun Hanabi.

Antisipasi agar tidak memberitahu Neji pesan ambigu yang Tenten berikan padanya kemarin merupakan tindakan tepat.

Tangannya yang dingin mendapat sentuhan dari wanita yang dalam lubuk hati juga menjadi harapan. Lembut, menyiratkan rasa nostalgia.

"Aku mungkin tak pantas berkata seperti ini," ibu jari Tenten mengusap telapak tangan Hinata, "kapan saja Hinata dan Hanabi membutuhkanku, tak perlu ragu untuk menghubungi. Aku akan ada untuk kalian, semampuku. Kamu dan Hanabi sudah bukan orang lain."

Itu juga yang ada dalam perasaan Hinata dan Hanabi.

Tapi mengapa rasanya…

"Meskipun," Tenten memberikan jeda sedetik, mengusap satu titik air yang jatuh dari pelupuk mata Hinata, memberikannya penenangan dengan senyum yang konstan, "aku tak bisa menjawab keinginan kalian untuk satu hal ini. Tak mungkin."

Rasanya tak adil untuk Neji ni - sankalau hanya Hinata dan Hanabi yang mendapatkan kehangatan ini.

"Kakakmu akan menemukan orang yang lebih tepat untuk menemaninya."

Satu doa itu yang Tenten harap dianggap serius oleh Maha Penentu.

.

.

.

.

.

Tinggal tiga puluh menit sampai batas jam malam yang ditetapkan Hyuuga sulung untuk ditepati Hanabi.

Gerakan Tenten untuk memberi jarak dihentikan oleh lengan kurus yang masih mengelilingi punggungnya. Tanpa menolak, ia tersenyum samar, menuruti permintaan.

"Beri waktu istirahat kalau kepalamu mulai terasa pusing saat latihan piano. Jangan paksa untuk diteruskan, ya. Banyak minum air putih juga." bisik Tenten, mengelus pundak Hanabi yang masih terangkum dalam lengannya.

Dari dalam pelukan, Tenten merasakan anggukan pelan Hanabi.

"Beritahu aku kalau nanti kamu kembali lagi ke Jepang. Nanti kita jalan - jalan lagi."

Lagi, ia hanya mengangguk.

"Aku sayang sensei."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Beberapa hari kemudian…

"Tunggu, tunggu," suara Anko menghentikan langkah Tenten yang sudah siap beranjak melewati pintu depan, "bawa ini juga. Bilang sama Gaara - kun untuk mencampurkan madu ini dengan air panas, susu atau teh. Jangan dicampur kopi."

Tenten mengernyit memandang tangan Anko yang menyelipkan satu botol kaca seukuran genggaman tangan ke dalam tas jinjing Tenten. "Di sana juga banyak jual madu, Anko - san."

"Madu Jepang beda. Kandungan gulanya hampir nol persen."

Tak berani melawan, ia hanya mengangguk pasrah, "Hai, hai. Ada lagi? Taksiku sudah menunggu di depan."

Anko berpikir sejenak, "Sudah, kurasa. Lagipula kamu juga kenapa buru - buru? Keretamu jam setengah delapan kan? Masih ada dua jam lagi." pertanyaan Tenten kini malah dijawab dengan ketus.

Berusaha meredakan ketusnya itu, Tenten memeluk Anko dengan sebelah lengan, singkat. "Mau menyapa ibu dulu. Sudah lama tidak ke sana,"

.

.

.

.

.

.

Seingat Tenten, terakhir ia mengunjungi makam ibunya memang tak sampai dua bulan lalu. Setiap kali datang, satu ikat bunga bakung putih tak pernah absen dibawa untuk dihadiahkan di atas nisan.

Secara alami, bunga yang sudah dipetik, meski terendam air pun akan layu dalam waktu kurang dari sepuluh hari.

Lalu mengapa?

Tenten mengedarkan pandangan pada sekitar.

"Oji - san!" panggilnya ketika menangkap kehadiran penjaga lingkungan makam yang juga merangkap sebagai pengurus.

Pria kurus yang mulai memasuki usia senja menghampiri posisi Tenten yang masih berdiri di depan makam Kotoha. Tenten mendahuluinya untuk memberi bungkukan sapa ketika jarak hanya beberapa langkah.

"Anu, makam ibu saya," Tenten bingung bagaimana mempersingkat pertanyaan, "apa ada yang datang berkunjung beberapa hari kemarin? Seingat saya terakhir kemari dua bulan lalu. Biasanya kalau bunga sudah kering, Oji - san yang merapikan bukan?"

Tangan keriput membetulkan posisi bingkai kacamata bundarnya, mengidentifikasi nama dari ukiran nisan. Ia melirik ke atas, menggali ingatan yang mulai lemah karena usia.

"Ah, sou." ucapnya ketika ingatan kembali, "ada yang datang ke sini tiga? Ah, empat hari lalu. Laki - laki tinggi, rambut panjang. Bajunya serba hitam. Seperti baju orang - orang barat sana."

Tak banyak kenalan ibunya yang Tenten tahu. Dia bahkan tak tahu apakah orang - orang itu mengetahui keberadaan makam ibunya.

Apa orang itu…

"Hai. Terima kasih, oji - san."

Sepeninggal kakek pengurus, Tenten belum berpaling dari ikatan bunga yang terdiam di sana.

Masih segar, putih bersih. Ukurannya sedikit lebih besar dari yang biasa Tenten bawa.

Lensanya menyiratkan penasaran saat melihat sesuatu terselip di antara ikatan pita pada batang bunga.

Jemarinya meraih benda itu.

Satu lipat kertas.

Terkaan Tenten langsung dibenarkan ketika melihat bentuk huruf yang tertulis di dalamnya. Ingatan langsung mengenali siapa pemilik tulisan dengan susunan yang rapi itu.

.

.

.

.

.

Seperti kerinduan pada surga yang tak pernah dikunjungi,

Begitupun dengan kerinduan untukmu,

Sekedar mengingatmu, aku hilang muka,

Tak pantas mendambakan,

Malaikat yang kau titipkan,

Gagal dilindungi,

Malah diberi luka,

Ini dosaku,

Kamu, juga dia yang menjadi korban,

Lalu mengapa dia menganggap bahwa aku yang terbebani olehnya?

Bukan dia yang menjadi bebanku,

Tak sadarkah dia?

Bahwa dia adalah bentuk titipan Tuhan yang diberikan padaku,

Tanggung jawabku kepada Tuhan,

Jalanku agar bisa kembali pada - Nya,

Dan bertemu denganmu,

Ini bukan perasaan bersalah,

Dia, bentuk janjiku pada Tuhan dan padamu,

N.H.

.

.

.

.

.

Kamu akan menemukan orang yang jauh lebih tepat untuk menemanimu.

Tepat di mata siapa?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ps. Maafkan puisi yang seadanya ini.

Semoga tidak menyinggung teman - teman pujangga yang biasa berpuisi.

Mohon keikhlasan teman - teman untuk memberi review m(_ _)m

Next chap mungkin akan jadi konklusi,

Until next time,

Dinda308