Mereka duduk. Berhadapan.

Jimin menjelaskan semuanya. Saat dimana dia tertidur hingga tidak mengetahui fenomena aneh dari klan vampire origin. Selama keeksistensiannya baru kali ini dia mendengarkan penjelasan yang dikemukakan Jimin padanya.

Sebuah fakta.

Pengabdian seorang vampire terhormat pada seorang manusia.

"Aku tidak tahu jika ada hukum alam seperti itu."

"Aku juga tidak tahu hyung. Jika saja salah satu dari sepupu kita tidak mengalami situasi yang sama sepertimu sekarang, para tetua dari vampire origin tidak akan pernah mengemukakan tentang hukum alam tersebut. Mereka hanya akan menjelaskan jika meminum darah manusia hidup adalah tindakan hina. Hanya seperti itu, mereka tidak menjelaskannya lebih lanjut. Kita hanya diperbolehkan mengkonsumsi darah manusia yang didonorkan dan disimpan dipusat perkumpulan penyimpanan darah vampire origin."

Ada kesedihan setelah mengetahui fakta yang dia alami.

Rasa yang akhirnya dia rasakan dan jelas dia harapkan murni dari hatinya, kini Taehyung meragukannya.

Apa perasaannya untuk Jungkook adalah perasaan yang terselimutkan oleh ikatan darah mereka? Akibat hukuman alam yang ada dunianya.

"Hyung."

Jimin mendekati Taehyung, menaruh tangannya pada bahu Taehyung.

"Aku akan kembali kerumah sakit."

Taehyung membebaskan bahunya dari tangan Jimin. Dia berdiri, melangkah pelan menuju pintu keluar. Sebelum dia menghilang Jimin menghentikan langkahnya. Memblok dirinya.

"Jangan biarkan siapapun tahu mengenai hubunganmu dengannya hyung."

"Kenapa?" Tanya Taehyung, mata birunya menatap Jimin.

"Vampire origin yang ketahuan meminum darah manusia hidup dan terikat pada mereka akan di musnahkan." Jelas Jimin ketakutan. "Dan aku tidak ingin kau dimusnakan hyung. Tidak ingin!"

.

.

.

Cahaya yang menyilaukan. Masuk di sela–sela jendela yang hanya terhalangi kaca. Sinarnya menyentuh permukaan wajah Jungkook yang menutup mata. Memikirkan berbagai kemelut hidupnya.

Kelima ujung jemari tangannya meraba kaca.

Hangat.

Tapi tak sehangat hatinya ketika melihat tangan melingkar disekitar pinggangnya. Tangan kokoh yang selama 2 minggu menemaninya. Menenangkan hatinya dan selalu setia menyeka air matanya.

Jungkook membelai punggung tangan tersebut. Meraihnya dan menaruh tepat di ujung bibirnya.

"Aku masih tidak mengerti Taehyung," sahut Jungkook masih merasa asing akan panggilan barunya untuk Taehyung. Pria vampire itu telah menyuruh Jungkook agar memanggilnya dengan nama. Tidak lagi menggunakan embel Master. Mereka sudah terikat . tak ada lagi pembatas seperti pelayan dan tuannya. Lagipula Taehyung senang mendengar namanya diserukan oleh Jungkook. Namanya menjadi terdengar berkali lipat lebih indah jika terdengar dari mulut Jungkook.

"Aku sama sekali tidak mengerti," lanjut Jungkook.

Dia cukup memiliki alasan mengatakan hal tersebut. Dia tidak mengerti. Hubungan mereka aneh. Semenjak hari pertama Jungkook berada dirumah sakit dan Taehyung menemukannya, dari hari itu Taehyung selalu berada disisinya. Taehyung tidak pernah membiarkannya sendiri. Kemanapun dia pergi Taehyung akan mengikutinya. Dan segalanya semakin aneh karena hubungan mereka semakin intim. Melakukan sentuhan–sentuhan fisik. Taehyung mengenggam, memeluk dan menciumnya.

"Apa yang tidak kau mengerti?"

Nafas hangat Taehyung berhembus menerpa lehernya. Memberikan aliran listrik yang membuat Jungkook tersontak kecil. Dia bisa merasakan bibir Taehyung membelai tengkuknya. Dia menyukainya tapi tetap terasa janggal karena Taehyung tidak menjelaskan apapun mengenai hubungan mereka.

Tidak ada kejelasan. Tidak ada penegasan.

"Tentang kita?"

Tanya Jungkook malu. Dia menunduk. Menyembunyikan rona merah pipinya.

Taehyung membalik tubuh Jungkook. Mereka saling berhadapan.

"Aku tidak bisa menjelaskan sekarang," jelas Taehyung.

"Kenapa?"

"Tidak sekarang, aku akan menjelaskannya nanti! Aku hanya ingin berada disisimu! Apa kau tidak ingin berada disisiku?"

Jungkook cepat–cepat menggeleng. Dia meraih tangan Taehyung menggenggamnya dengan erat.

"Aku ingin tentu saja."

.

.

Taehyung menutup mata.

Gemuruh tak berhenti terjadi dalam hatinya. Dia menatap sedih Jungkook yang tertidur di sofa. Memaksa untuk menunggu Namjoon hingga menolak untuk pulang.

Tentang mereka?

Bagaimana Taehyung menjelaskannya? Memakai bahasa apa agar terdengar halus?

Dia sendiri tidak yakin akan kemurnian perasaannya. Dia sendiri tidak tahu harus mengkategorikan hubungan mereka seperti apa. Pasangan jiwa? Kekasih? Dua jiwa yang saling mencintai?

Mencintai? Benarkah perasaannya seperti itu? Tidakkah dalam hatinya cinta yang tumbuh untuk Jungkook hanya disebabkan terikatnya darah antara mereka?

Taehyung menekan pelipis dengan ibu jari. Bersender pada tembok sembari menatap Jungkook. Dia menekan dadanya kemudian memikirkan hal lain.

Saat pikirannya melayang di antara ribuan kenangannya. Pikirannya jatuh pada mimpi samar saat dia tertidur.

Mata birunya terbuka. Tampak membulat.

Sama.

Rasa hangat yang sama saat dia bermimpi ketika memandangi Jungkook. Kebahagiaan yang menghilangkan rasa sepinya.

Taehyung mendekat. Melangkah pelan menuju dimana Jungkook tertidur lelap di sofa ruang inap Namjoon .

"Jungkook," Taehyung berbisik pelan. Tidak bermaksud untuk membangunkan. Bibirnya memerintahkan dia untuk memanggil nama tersebut.

Rasa sepi menghilang. Rasa hangat dalam mimpinya yang walaupun samar untuk dia ingat tapi dapat dipastikan jika perasaan itu sama seperti yang dia rasakan sekarang, mimpi yang membuatnya tidak ingin terbangun. Tidak ingin sama sekali membuka mata.

"Jungkook."

Apa benar seperti ini takdirnya.

Rasa sepi hilang karena sebuah darah yang mengikat Taehyung menjadi budak?

Bagaimana caranya agar dia bisa membedakan jika perasaannya tulus?

"Hyung…"

Sebuah suara mengusik Taehyung. Dia menoleh dan tampak terkejut ketika Jimin menarik tangannya. Adiknya sedikit memaksa Taehyung agar mengikutinya dan beranjak dari ruang inap dimana Namjoon dirawat.

Taehyung sedikit memberontak, menarik pergelangan tangannya.

"Ada apa?"

"Ikut aku sekarang hyung," pinta Jimin.

"Kau tahu bagaimana perasaanku sekarang, kan? Aku tidak bisa meninggalkannya."

Jimin melalui mata coklat terangnya melirik Jungkook sebentar kemudian menatap Taehyung dengan pandangan memohon. Dia ingin menjelaskan, tapi menurut Jimin akan lebih baik jika dia langsung menyeret Taehyung pada akar permasalahan.

"Aku akan menjelaskannya di Mansion. Ikut aku sekarang."

"Ta-"

"Ini permintaan ibu."

Taehyung berpikir dengan keras. Menahan gejolak di hati yang memaksanya agar tidak beranjak sedikit pun dari sisi Jungkook, dia tidak bisa, dia tidak mampu membayangkan berada jauh dari sisi Jungkook. Namun mendengar kata terakhir Jimin yang mengatakan jika ini adalah permintaan ibunya, membuat Taehyung tidak bisa berkutik.

Berat hati, langkah kakinya memberi jarak antara dirinya dan Jungkook. Sebelum pintu tertutup dia menyempatkan mata birunya memandang penuh sosok Jungkook yang tertidur.

.

.

.

Bunyi alat pendeteksi kehidupan Namjoon membuat Jungkook terbangun. Dia meregangkan tubuhnya pelan. Memberi pijatan–pijatan kecil pada persendian lengan dan jemarinya. Terasa amat pegal dan ngilu karena Jungkook menjadikan lengannya sebagai alas kepalanya ketika tertidur.

Dia mengusap mata. Mengedipkan beberapa kali hingga matanya membulat melihat Namjoon telah membuka mata dan berdendang pelan.

"HYUNG!."

Hampir saja membiarkan raganya memeluk sosok yang penuh perban di atas ranjang pesakitan. Untung pada detik terakhir Jungkook sadar akan kondisi Namjoon , jika tidak entah rasa sakit seperti apa lagi yang akan dirasakan Namjoon .

"Hyung…"

Jungkook mendekatkan wajahnya melihat senyum yang terukir pada bibir Namjoon . Rasa lega membuatnya kembali menitikkan air mata dan langsung buru–buru menyekanya. Dia tahu Namjoon sama sekali tidak menyukai jika Jungkook menangis.

Namjoon memberi tanda sign dengan jari menggunakan tangan kanan . Pria ceria itu membuat tanda kemenangan V dan membuat Jungkook terkekeh.

"Kau hebat hyung. Dokter mengatakan jika kau akan bangun berbulan–bulan kemudian, tapi lihat. Kau sudah bangun? WOW!"

Jungkook menepuk–nepuk pipi Namjoon . Sudah tak ada air mata di sudut–sudut mata runcingnya. Bibirnya melengkung membentuk senyum yang tak habis–habis. Namjoon membelai pipinya.

"Aku memang hebat! Luka seperti ini tidak akan sanggup mengalahkanku."

Suara yang serak. Namjoon berusaha terdengar kuat untuk adiknya dan berhasil. Jungkook semakin terkekeh dan dia mencubit pipi Namjoon .

"Ouch. Yah, kau kejam sekali pada orang sakit."

Jungkook hanya menjulurkan lidahnya dan kemudian senyumnya menghilang. Ada sesuatu yang hilang. Ada kekosongan.

Taehyung?

Dimana?

Matanya mencari ke sekeliling ruangan dan tidak tampak sosok rupawan tersebut. Dia berlari mendekati kamar mandi, namun yang dia dapat tetap kekosongan.

Taehyung tidak ada dimanapun. Padahal Taehyung sama sekali tidak pernah meninggalkan sisi Jungkook selama mereka bersama.

"Apa yang kau cari Jungkook?" Tanya Namjoon sembari mengikuti gerakan adiknya.

"Jungkook?"

Seakan ditulikan oleh kegundahan. Jungkook tak membalas pertanyaan Namjoon. Dia memandangi pintu masuk.

"Taehyung…"

Jungkook berbisik pelan.

Bersambung…