"KAU—APA?!"

Mata belok Kyungsoo kian membesar berkat hal yang baru saja didengarnya. Lima menit yang lalu, Baekhyun menghubunginya, mengatakan bahwa ada hal penting yang ingin ia bicarakan. Kyungsoo pikir ini seputar masalah skripsi, tapi nyatanya jauh berbeda dari apa yang ada dalam benaknya. Bahkan saking terkejutnya, Kyungsoo nyaris tersedak ludahnya sendiri.

"Aku..pacaran dengan PCY Seonsaengnim.."

Ini perasaannya saja atau sahabatnya memang baru saja mengatakan bahwa ia pacaran dengan dosen killer di fakultas bahasa? Apa ini semacam lelucon?

"In case kau menganggapku sedang bercanda, aku sedang serius. Aku benar-benar pacaran dengan PCY Saem."

Kyungsoo jaw-drop dibuatnya.

Hebat. Sekarang Baekhyun memiliki kemampuan cenayang? Dari mana sahabatnya itu bisa tahu apa yang sedang dipikirkannya?

Menggeleng keras, Kyungsoo berusaha untuk fokus. Dari mana Baekhyun bisa tahu apa yang sedang dipikirkannya bukanlah hal penting, yang menjadi pertanyaan utama adalah sejak kapan Baekhyun pacaran dengan Chanyeol?

"Sejak kapan?"

"Sejak tadi pagi—"

"TADI PAGI?!" Lagi, Kyungsoo memekik terkejut. Ia nyaris speechless. "Yak, kau—tapi bagaimana bisa?"

Baekhyun terkekeh di seberang sana. Tiba-tiba ia jadi malu sendiri membayangkan kejadian tadi pagi. "Awalnya aku hanya bertanya tentang ciuman waktu itu, tapi kemudian atmosfernya berubah dan tanpa diduga-duga PCY Saem menyatakan cinta padaku."

"DAEBAK! Ternyata PCY Saem benar-benar memiliki perasaan khusus padamu? Woah~ drama macam apa ini?" seru Kyungsoo heboh. Namun sedetik kemudian dahinya berkerut. "Tapi sejak kapan? Beliau bahkan belum pernah mengajar di angkatan kita?"

"K–katanya..sejak setahun yang lalu."

"Setahun yang lalu? Bukankah itu saat beliau masuk ke SNU?"

"Rupanya aku lupa kami pernah bertemu di tempat lain sebelum PCY Saem mulai mengajar di SNU."

"OH-MY-GOD." Kyungsoo kembali jaw-drop. Ia tak menyangka drama yang biasa ia lihat di TV terjadi pada sahabatnya.

.

.

.

###

AEIPATHY (GS VERSION)

Chapter 9 – Shocking Morning

Main Casts : Park Chanyeol & Byun Baekhyun

###

.

.

.

"Bersumpahlah kau takkan mengumbar-umbar hal ini, Kyung. Aku tak mau hubungan kami jadi canggung hanya karena orang-orang membicarakan kami."

Kyungsoo mendengus. "Tanpa aku mengumbar-umbar pun, orang-orang pasti akan langsung tahu. Jika sebelum kalian pacaran saja PCY Saem berani menciummu, apalagi jika sudah resmi?"

Sialan. Kyungsoo ada benarnya juga—umpat Baekhyun dalam hati.

"Omong-omong, apa Sehun Sunbae menghubungimu?"

Baekhyun mengernyit saat nama Sehun disebut. "Sehun Sunbae?"

"Iya, tadi pagi aku bertemu Sehun Sunbae dan dia menanyakan nomor ponselmu, katanya dia ada urusan denganmu."

"Urusan? Urusan apa?"

Kyungsoo mengedikkan bahu. "Entahlah. Dia tidak memberikan detail saat kutanya urusan apa. Mungkinkah itu hanya alasan untuk mendapatkan nomor ponselmu?"

"Eyy~ mana mungkin Sehun Sunbae melakukan hal semacam itu?" tepis Baekhyun.

"Yak, memangnya kau lupa, hah? Dulu kan sempat ada rumor bahwa dia menyukaimu."

"Rumor tetaplah rumor, bukan berarti itu benar, kan?"

"Bagaimana kalau itu benar?"

Baekhyun menggeleng tegas. "Aku tetap tidak percaya, terkecuali jika dia sendiri yang mengatakannya langsung padaku."

Kyungsoo berdecak kesal. "Ck, percuma saja meyakinkanmu. Hatimu sudah tertambat pada PCY Saem."

"Y–yak! Hentikan itu!"

"Wow, sekarang kau malu-malu kucing, hm?" goda Kyungsoo. Bisa ia bayangkan pipi Baekhyun yang bersemu saat ini.

"P–pokoknya jangan menyebar gosip yang aneh-aneh, oke? Terutama yang menyangkut pria lain. PCY Saem itu mudah cemburu."

"Ohooo! Pencemburu, hm?" Kyungsoo menyeringai jahil. "Kau sudah tahu banyak tentang beliau rupanya. Menarik juga~"

Satu tatapan datar Baekhyun layangkan untuk sahabatnya. Hell, tanpa bertanya sekalipun, Baekhyun betul tahu apa yang ada dalam benak Kyungsoo.

"Yak, jangan berpikiran macam-macam. Kami ini baru pacaran, aku tak mau ada masalah, terlebih karena hal sepele."

"Baiklah, baiklah, aku akan menjadi anak penurut untuk hal ini. Tapi aku penasaran," Kyungsoo menggantungkan kalimatnya untuk memberi kesan dramatis. "Dulu kau mengatakan bahwa kau tidak memiliki perasaan apa pun pada PCY Saem, tapi sekarang tingkahmu seperti remaja yang baru merasakan cinta. Apa yang membuat perasaanmu berubah, hm?"

"I–itu.." Baekhyun tiba-tiba jadi salah tingkah. Ingatan tentang sikap manis Chanyeol padanya tanpa permisi memenuhi kepalanya, membuatnya mengulum senyum. "Sikapnya yang manis.."

"Aigoo~ baiklah, baiklah, aku paham. Aku takkan bertanya soal detail." Kyungsoo geleng-geleng kepala tak habis pikir. Menilik dari intonsai Baekhyun saja Kyungsoo bisa menebak bahwa sahabatnya ini benar-benar telah jatuh cinta pada sang dosen. Dan itu hal yang bagus. "Anyway, jangan lupa untuk mentraktirku ya?"

"Apa itu? Kenapa harus?" protes Baekhyun.

"Itu namanya 'pajak pacaran', sahabatku."

Baekhyun mendengus kesal ketika Kyungsoo mulai berceloteh soal makanan yang ingin ia makan besok.

###

TING TONG!

Samuel baru saja menyapukan selai kacang ke roti bakarnya ketika bel pintu rumahnya dipencet seseorang. Alisnya bertautan sempurna, terlebih saat melihat jarum jam yang belum berhenti di angka tujuh.

"Siapa yang bertamu pagi-pagi begini?" gumam Samuel. Meletakkan kembali rotinya di atas piring, ia kemudian beranjak untuk membukakan pintu tersebut.

CKLEK.

"Siapa—"

Seolah mendapatkan kejutan di pagi hari, suara Samuel berhenti tepat di tenggorokan. Alisnya menukik tajam, sementara bola matanya bergerak menilik sosok tinggi bersurai ash grey di hadapannya. Ya, sosok itulah yang menjadi sumber keterkejutannya. Entah bagaimana, Samuel merasa tak asing dengan pria tinggi itu.

"Hai, kau pasti adiknya Baekhyun."

Mendengar itu, tak elak membuat Samuel semakin bingung. "Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

"Ya, pernah sekali, di tempatmu bekerja."

Samuel mencoba mengingat di mana sekiranya ia pernah melihat wajah pria tinggi itu. Dan sekelebat kejadian tak mengenakkan terlintas dalam benaknya. Itu adalah kejadian di mana Baekhyun tak sengaja menumpahkan kopi ke kemeja seorang pria tinggi.

"Kau.." Mulut Samuel menganga kecil. "Jangan bilang kau adalah Ahjussi yang marah-marah pada Noona-ku dulu?"

Chanyeol—pria tinggi bersuai ash grey itu—menggaruk pipinya kikuk. "Ya, uh..kupikir ada sedikit kesalahpahaman di sini."

Tak mengindahkan ucapan Chanyeol, Samuel langsung saja melipat kedua tangannya di depan dada. Rautnya terlihat tak bersahabat. "Mau apa kau kemari?"

"Apa Baekhyun sudah berangkat kuliah?"

"Untuk apa kau tanya-tanya?"

"Hey, tenanglah, aku datang bukan untuk berniat buruk."

Sebelah alis Samuel terangkat tinggi. "Lalu?"

"Tentu saja untuk menjemputnya."

"Menjemputnya? Atas dasar apa? Memang kau siapa, hah?"

Rentetan pertanyaan itu anehnya tak menciutkan niatan Chanyeol. Pria tinggi itu justru menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang tak terlalu lebar. Lalu sambil mempertahankan karismanya, Chanyeol mengulurkan tangannya ke hadapan Samuel.

"Perkenalkan. Namaku Park Chanyeol—dosen sekaligus kekasih Baekhyun."

###

"Noona, Noona Noona, cepat bangun!"

Baekhyun sedang enak-enaknya tidur, tapi suara Samuel yang memanggilnya secara beruntun malah mengusik ketenangan itu. Padahal ia sedang asyik bermimpi tentang kencannya dengan Chanyeol, tapi semuanya rusak gara-gara Samuel. Sedikit mengerang, Baekhyun paksakan kelopak matanya untuk terbuka.

"Apa, Sam? Aku masih mengantuk!" ujarnya malas sambil menarik kembali selimutnya yang tadi disibak Samuel.

"Ada tamu untukmu."

"Kalau itu Kyungsoo atau Jongdae, suruh mereka pulang saja. Ini masih terlalu pagi untuk merusak hariku."

Samuel merotasikan bola matanya. "Tapi tamu ini bukan Kyungsoo Noona atau Jongdae Hyung."

"Lalu?"

"Seseorang yang mengaku adalah dosen sekaligus kekasihmu. Kau kenal dia?"

Dalam satu nanodetik, kalimat itu membunuh rasa kantuk Baekhyun. Gadis itu bangkit dari posisi tidurnya, bola matanya membulat kaget.

"M–Maksudmu..P–PCY Seonsaengnim?!"

Mendapat respon itu, raut muka Samuel sontak berubah keruh. "What the hell? Jadi, dia benar-benar kekasihmu? Bukankah dia adalah Ahjussi yang memarahimu sewaktu—HEY! Aku belum selesai bicara!"

Baekhyun sama sekali tak menghiraukan aksi protes adiknya di belakang sana, malah bergegas turun untuk memastikan identitas si tamu. Ia benar-benar berharap Samuel sedang bercanda saja, ia harap yang datang hanyalah Kyungsoo yang berniat mengerjainya.

"Oh?"

Tapi ternyata tidak. Samuel tidak berbohong padanya. Itu benar-benar Chanyeol. Dan pria tinggi itu sedang menertawakan penampilan Baekhyun yang agak berantakan dengan rambut singa dan piyama Rilakuma.

"Good morning, Sweet Muffin. Apa tidurmu nyenyak?"

SI-A-LAN.

Baekhyun benar-benar ingin mati saja rasanya. Kenapa pula Chanyeol harus datang ke rumahnya ketika dirinya baru saja bangun tidur? Ia pasti terlihat mengerikan sekarang. Memalukan sekali!

"S–S–Seon—"

"Yak." Chanyeol dengan cepat menyela Baekhyun yang hendak memanggilnya 'Seosaengnim'. "Bukankah sudah kukatakan untuk memanggilku 'Oppa' mulai hari ini? Kau lupa ya?"

Lamat-lamat Baekhyun menelan paksa ludahnya. Sial—batinnya. Gara-gara kemarin terlalu sibuk memikirkan soal Sehun, ia jadi lupa untuk berlatih memanggil Chanyeol dengan sebutan 'Oppa'. Apa yang harus dilakukannya sekarang?

"M–maaf, aku..belum bisa membiasakan diri.."

Chanyeol berdecak pelan. "Ya sudah. Kalau begitu, cepatlah bersiap-siap, kita berangkat ke kampus bersama-sama."

"E–eh? Sekarang juga?"

"Memang kau ingin berangkat jam berapa, hm?"

Baekhyun menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Uh..a–anu..itu..aku..mungkin akan agak lama bersiap-siapnya.."

"Well, aku tak keberatan menunggu Tuan Putri-ku bersiap-siap~" Chanyeol mengedipkan mata kirinya, menggoda Baekhyun yang mulai memerah pipinya. Lucunya, gadis itu segera mengalihkan wajahnya ke arah lain beberapa detik kemudian, seperti ingin menyembunyikan rona itu, padahal Chanyeol sudah terlanjur melihatnya.

"A–a–aku akan segera bersiap-siap!" seru Baekhyun, lalu berlalu secepat kilat menuju kamarnya lagi. Sementara di belakang sana, Chanyeol menahan tawanya agar tak meledak.

###

"Kau belum sarapan, kan?" tanya Chanyeol pada Baekhyun, memecahkan keheningan yang sempat merayapi perjalanan mereka menuju SNU. "Aku membawa beberapa potong sandwich tuna untukmu. Ambil saja di jok belakang."

Baekhyun mengambil zip-lock bag di jok belakang sesuai perintah Chanyeol dan memakan salah satu sandwich itu dengan raut bersalah. "Maafkan aku, Saem.."

Chanyeol terkekeh mendengar cicitan itu. "Kenapa minta maaf segala, hm?"

"I–itu karena Saem sampai menjemputku ke rumah dan membuatkanku sarapan segala, itu kan benar-benar merepotkan."

"Kenapa? Kau tidak suka?"

"Bukannya tidak suka, tapi aku merasa..aku merepotkan Saem terlalu sering.."

"Eyy~ apanya yang merepotkan? Aku senang kok melakukannya untukmu. Dan bolehkah kuingatkan kau untuk berhenti memanggilku 'Saem' dan menggantinya dengan 'Oppa'? Telingaku mulai gatal mendengarnya."

"A–ah, ya, aku lupa. Maaf.." Baekhyun menggigit bibir bawahnya sebentar, menahan gugup. Ekor matanya diam-diam melirik Chanyeol. "O–Op..pa.."

Sudut bibir Chanyeol tak elak membentangkan senyuman lebar mendengar itu. Well, itu memang lirih, tapi tentu saja telinganya yang lebar bisa menangkapnya dengan jelas. Dan ia sudah cukup puas.

"Good girl~" Chanyeol mengusuk gemas surai brunette Baekhyun. Pria tinggi itu melewatkan satu momen ketika rona merambat ke telinga kekasih mungilnya. "Omong-omong, aku juga minta maaf karena tak mengabarimu terlebih dahulu. Kemarin aku tak sempat meminta nomormu, jadi aku semacam ingin memberimu kejutan pagi ini. Tak kusangka kau sekaget ini."

Baekhyun terkekeh kecil teringat kejadian di rumahnya pagi ini. "Ya, aku benar-benar kaget."

"Jadi, boleh aku minta nomormu?"

"Tentu."

"Ini." Chanyeol memberikan ponselnya pada Baekhyun. "Kau tuliskan sendiri. Kata sandinya satu-nol-satu-satu."

"Satu-nol-satu—" Pergerakan jemari Baekhyun terhenti kala menyadari sesuatu. Satu-nol-satu-satu. Kenapa kata sandi ponsel Chanyeol sama dengan tanggal lahirnya? Apakah ini hanya kebetulan atau—

"Ya, itu tanggal lahirmu. Aku sengaja memasangnya sebagai kata sandi ponselku. Boleh, kan?"

Baekhyun mengulum bibirnya, sebelum akhirnya mengangguk dua kali. "B–boleh saja.."

"Aku harus mengajar sampai pukul sepuluh, kau tak keberatan kan menunggu sebentar? Nanti aku akan menghubungimu kalau sudah selesai."

"Tidak apa, aku bisa menunggumu di perpustakaan."

"Call! Kita makan siang bersama, oke?"

"Call~"

###

Baekhyun keluar dari mobil Tesla milik Chanyeol begitu sang kekasih membukakan pintu untuknya. Demi apa pun, ini sangat cheesy. Baekhyun sudah mengatakannya pada Chanyeol, tapi pria tinggi itu bersikukuh menahannya di tempat sampai ia membukakan pintu mobil untuknya.

Baekhyun takkan menyebut dirinya beruntung sekalipun tak banyak orang yang melihat mereka berdua, karena—percayalah—mulut orang itu bagai mesin gosip tercepat di dunia. Berita dirinya pacaran dengan Chanyeol sebentar lagi pasti akan menyebar. Baekhyun hanya berharap itu tidak akan terlalu heboh.

"So, I'll see you at ten?"

"Okay, see—"

CUP!

Serangan ciuman mendadak yang pertama.

Baekhyun berkedip dengan mata membola. Untuk sesaat ia tenggelam dalam mode terkejut, sampai sebuah kekehan terdengar dan tangan Chanyeol mengusuk surainya.

"Later, Sweet Muffin~"

Begitu Chanyeol masuk ke dalam gedung fakultas bahasa, Baekhyun menepuk-nepuk pipinya yang terasa panas karena serangan Chanyeol barusan. Ugh, ia belum terbiasa dengan semua ini.

"Lama-lama aku bisa kena penyakit jantung kalau begini terus." gumamnya sambil menghembuskan napas untuk menenangkan detak jantungnya di dalam sana.

Baru mengambil beberapa langkah, seseorang tiba-tiba saja menahan lengan Baekhyun dari arah belakang. Baekhyun pikir itu adalah Chanyeol atau salah satu temannya, tapi ternyata bukan. Itu seorang pria bersurai ebony yang tak lain adalah Oh Sehun.

"S–Sunbae?" Baekhyun dibuat terkejut. "Ada ap—"

"Aku ingin bicara."

"Apa?"

"Ikut aku."

Sehun kemudian menarik tangan Baekhyun menuju taman kampus.

###

"Sial." Chanyeol mengumpat ketika tersadar bahwa charger laptopnya tertinggal di dalam mobil. Padahal ia baru saja sampai di ruangannya dan tengah mempersiapkan materi ajar, tapi sekarang ia harus kembali ke mobilnya hanya untuk mengambil charger laptop. Ya, apa boleh buat, daripada nanti laptopnya mati saat sedang mengajar? Itu jauh lebih merepotkan.

Chanyeol pun meraih kunci mobilnya, bersiap untuk kembali ke sana, sebelum maniknya menangkap sesuatu di jendela ruangannya. Itu adalah Sehun menarik tangan Baekhyun menuju taman kampus. Pemandangan itu dengan cepat mengundang rasa cemburu di hati Chanyeol. Alisnya menukik tajam, mendadak kepalanya dipenuhi rasa ingin tahu.

"Mau apa pria itu?"

Tak membuang banyak waktu hanya untuk menerka-nerka, Chanyeol pun keluar dari ruangannya, berjalan cepat menuju taman kampus.

###

"Sunbae, tunggu dulu! Kau mau membawaku ke mana?"

Sehun mendengus kecil mendengar rontaan Baekhyun untuk yang ke-sekian kalinya. Namun untuk yang ke-sekian kalinya pula, Sehun tak memedulikannya. Ia terus menarik tangan gadis itu menuju taman kampus dan baru berhenti ketika sudah menemukan tempat yang sekiranya agak sepi.

"Aku meneleponmu, kenapa kau tidak mengangkatnya?" tanya Sehun, langsung ke intinya.

"Eh? Kau meneleponku?" Baekhyun segera mengecek ponselnya. Dan benar saja, memang ada beberapa panggilan tak terjawab dari nomor asing. "Maaf, Sunbae. Aku lupa mematikan mode senyap di ponselku karena tadi agak terburu-buru." Tatapannya ia kembalikan pada Sehun. "Tapi ada perlu apa kau meneleponku pagi-pagi?"

"Tadinya aku mau tanya jam berapa kau pergi ke kampus, jadi aku bisa menjemputmu di rumah dan kita berangkat bersama-sama." Sehun menggenggam tangan kiri Baekhyun sambil tersenyum manis. "Kita kan sudah lama tidak bertemu, aku juga ingin mengobrol banyak denganmu, Baekhyun-ah."

Entah bagaimana, jantung Baekhyun menghentak keras karena aksi Sehun ini. Padahal sejauh Baekhyun mengenal pria bersurai ebony itu, ia belum pernah melihat Sehun bersikap manis padanya seperti ini.

GREP!

Tangan Baekhyun yang semula digenggam oleh Sehun, tiba-tiba ditarik paksa oleh seseorang.

"Lepaskan dia."

Orang itu adalah Chanyeol.

"S–Seonsaengnim?" Bola mata Baekhyun membulat dalam keterkejutan. Sejak kapan Chanyeol ada di dekat mereka?

"Anda pasti Park Chanyeol Seonsaengnim." Bibir Sehun berusaha menarik senyum, meski terlihat agak terpaksa. "Saya Oh Sehun, yang akan menggantikan Seo Seonsaengnim selama cuti hamil. Salam kenal." ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.

Namun alih-alih menyambut uluran tangan Sehun, Chanyeol justru bertanya dengan intonasi dingin. "Ada perlu Anda dengan Baekhyun?"

Sadar lawan bicaranya enggan berkenalan, Sehun pun membuang napas kasar, sebelum menarik kembali tangannya. "Ini hanya urusan di antara saya dengan Baekhyun, Anda tidak perlu tahu."

"Tentu saja itu urusan saya." Tatapan Chanyeol menusuk manik Sehun, lalu menarik Baekhyun ke belakang tubuhnya. "Baekhyun adalah kekasih saya. Segala hal yang menyangkut Baekhyun akan menjadi urusan saya juga."

Seketika atmosfer dingin menyelimuti Chanyeol dan Sehun. Keduanya saling melemparkan tatapan tajam, mengabaikan Baekhyun yang justru merasa serba bingung. Well, ia memang senang dengan ucapan Chanyeol yang terkesan protektif, tapi jika untuk situasinya dengan Sehun saat ini, ia pikir reaksi Chanyeol agak berlebihan.

"Ayo." Chanyeol menarik tangan Baekhyun dari sana, meninggalkan Sehun yang memandang kepergian mereka dengan tatapan tak suka. Baekhyun sendiri, entah kenapa tak bisa menghentikan Chanyeol dan berakhir dengan mengikuti pria tinggi itu ke fakultas bahasa.

Berbagai macam tatapan Baekhyun dapatkan dari setiap orang yang dilewatinya, dimulai dari para mahasiswa sampai staf jurusan. Raut muka mereka pun beragam; ada yang menganga, ada yang saling berbisik sambil tersenyum kecil, ada pula yang memekik tertahan. Chanyeol tentu saja tak memedulikannya, tapi tidak dengan Baekhyun yang hanya mampu menundukkan kepala. Ugh, ini terlalu menarik perhatian.

"K–kita mau ke mana?" cicit Baekhyun.

Chanyeol tak mengindahkan pertanyaan itu dan terus menarik tangan Baekhyun menuju ruangannya. Begitu mereka sudah sampai di sana dan ruangan telah dikunci, Chanyeol berdiri menghadap Baekhyun.

"Bisa kau jelaskan kenapa kau berada di taman bersama dosen baru itu?" tanya Chanyeol. Meski intonasinya tenang, tapi Baekhyun bisa merasakan aura tak mengenakkan dari kekasihnya itu.

"T–tidak ada. Sehun Sunbae hanya mengajakku bicara."

"Tentang?"

Baekhyun tak merespon. Untuk beberapa alasan, ia bingung bagaimana menjelaskannya pada Chanyeol.

"Baekhyun, kau belum menjawabku."

Tersentak oleh suara bass Chanyeol yang terkesan menuntut, Baekhyun menelan paksa ludahnya. Ia rangkai terlebih dahulu kata-kata dalam kepalanya, sebelum akhirnya menatap balik obsidian Chanyeol.

"Sehun Sunbae bilang dia ingin mengobrol denganku karena kami sudah lama tidak bertemu. Itu saja."

Untuk beberapa saat, Chanyeol hanya terdiam di tempat. Ekspresinya tak bisa Baekhyun baca dan ini mulai membuatnya gelisah.

"A–aku tidak berbohong. Kami sungguh hanya berteman."

Satu helaan napas keluar dari celah bibir Chanyeol. Pria tinggi itu tersenyum kecil pada si mungil yang terlihat gelisah, kemudian mengusuk lembut puncak kepalanya.

"Hey, tenanglah. Aku percaya padamu kok." Chanyeol mengelus pipi Baekhyun. "Aku tadi hanya cemburu. Bukankah aku sudah mengatakannya padamu bahwa aku adalah seorang pencemburu?"

"Ah.." Baekhyun baru tersadar. Diam-diam ia merasa lega karena Chanyeol memercayainya.

"Meski begitu," ucap Chanyeol lagi. "Kau jangan terlalu dekat dengannya, oke?"

"Eh? Kenapa?"

Chanyeol mengedikkan bahunya. "Aku tidak menyukainya." Melihat Baekhyun yang sepertinya kebingungan, Chanyeol pun menambahkan, "Bukannya aku curiga padamu atau apa pun, ini hanya insting pria. Perasaanku baru saja bersambut dan aku tak mau jika ada yang merebutmu dariku. Kau bisa mengerti, kan?"

Baekhyun mengemut bibirnya, lamat-lamat menahan senyumannya yang tak tahan ingin mengembang lebar. "Baiklah, kalau begitu."

"Good girl~" Chanyeol mengusuk surai Baekhyun dengan gemas. "Omong-omong, kau tunggu di sini saja ya?"

"Eh?" Baekhyun melotot kaget. "D–di sini? Sendirian?"

Chanyeol terkekeh melihat reaksi lucu itu. "Relax, aku tidak akan lama kok. Kalau mau, kau juga boleh menguncinya dari dalam."

"T–tapi—"

"Ayolah. Aku janji aku akan segera menjemputmu begitu selesai mengajar. Hanya sampai jam sepuluh, hm?"

Diberi tatapan memohon begitu, Baekhyun mana tega berkata 'tidak'. Lagipula, hal buruk apa yang mungkin akan terjadi? Ia bahkan diperbolehkan mengunci ruangan itu dari dalam.

"Baiklah." Baekhyun pun mengalah. "Tapi benar-benar sampai jam sepuluh ya?" pintanya kemudian.

"Yup." Chanyeol membawa Baekhyun ke dalam pelukannya, mengayunkan tubuh mungil itu ke kanan dan ke kiri. "Lagipula, mana mungkin aku meninggalkan Tuan Putri-ku sendirian terlalu lama?"

Dalam hati Baekhyun bersyukur akan posisinya saat ini, dengan begitu Chanyeol takkan melihat pipinya yang merona.

"S–sudah jam delapan lewat, bukankah kau harus segera mengajar?"

Chanyeol melepaskan pelukan itu, lalu mendaratkan ciuman sekilas di bibir Baekhyun. "Hm, aku pergi dulu ya, Muffin? Jangan terlalu merindukanku, oke?"

"A–aku tidak kok!" elak Baekhyun. Rona kemerahan merambat memenuhi permukaan wajahnya, membuat Chanyeol tak tahan untuk tertawa. "J–jangan menertawaiku, Oppa! Itu tidak lucu!" serunya sambil memukul pelan lengan Chanyeol.

"Baiklah, baiklah, aku minta maaf ya?"

Baekhyun meniup poninya, antara kesal juga tidak tega. Sial. Sejak kapan ia lemah pada tatapan memohon Chanyeol? Jangan sampai pria jangkung itu menyadarinya.

"I'll see you at ten. Bye, Sweet Muffin~" Chanyeol melambaikan tangannya, meninggalkan Baekhyun di sana.

Begitu sosok Chanyeol pergi dari ruangan itu, Baekhyun mendudukkan dirinya di sofa sambil menatap sekelilingnya. Padahal ia sudah beberapa kali memasuki ruangan itu, tapi ditinggal sendirian di sana membuatnya cukup gugup.

Aroma parfum Chanyeol tercium begitu kental, rasanya seperti pria tinggi itu ada di dekatnya. Deretan buku juga tumpukan beberapa dokumen di atas meja hanya menambah aksen smart di diri Chanyeol, menyadarkan Baekhyun bahwa kekasihnya adalah seorang pria dewasa yang merupakan dosennya sendiri.

Ah kalau ingat itu, Baekhyun jadi dibuat berdebar. Rasanya masih sulit dipercaya ia benar-benar berpacaran dengan dosen yang dulu tak ia sukai. Mungkinkah ini yang dinamakan 'karma'? Entahlah. Tapi yang pasti, Baekhyun tak menyesali keputusannya untuk membalas perasaan Chanyeol.

Memandang lurus ke jendela ruangan Chanyeol, Baekhyun baru sadar ia bisa melihat taman kampus dengan jelas dari sana. Mungkinkah dia melihat kami dari sini?—batinnya, menduga-duga. Tiba-tiba kejadian tadi di taman terlintas dalam benaknya.

"Tapi ada perlu apa kau meneleponku pagi-pagi?"

"Tadinya aku mau tanya jam berapa kau pergi ke kampus, jadi aku bisa menjemputmu di rumah dan kita berangkat bersama-sama." Sehun menggenggam tangan kiri Baekhyun sambil tersenyum manis. "Kita kan sudah lama tidak bertemu, aku juga ingin mengobrol banyak denganmu, Baekhyun-ah."

Ucapan Sehun tak henti mengganggu pikiran Baekhyun. Dan tak bisa dipungkiri, ia penasaran kenapa Sehun tiba-tiba bersikap manis padanya? Ini aneh sekali.

###

Jieqiong berjalan menghampiri Chanyeol yang menunggu di ambang pintu ruang kelasnya, senyum penuh makna memenuhi paras cantiknya. Chanyeol yang menyadari ada yang aneh dengan senyuman Jieqiong, pun memicing curiga pada gadis itu.

"Ada apa dengan senyuman itu? Terlihat mengerikan, kau tahu?"

"Tidak ada~" Jieqiong cengengesan. "Hanya saja..apa Saem tidak mau memberitahu saya sesuatu?"

Sebelah alis Chanyeol terangkat tinggi. "Sesuatu apa?"

"Well, you know, about you and Baekhyun Eonnie are dating?"

"What—how do you know?" tanya Chanyeol, antara terkejut sekaligus tak percaya.

"It's called 'hot news', Saem. Zaman sekarang, gosip itu tidak hanya menyebar dari mulut ke mulut, tapi melalui media sosial juga. Duh."

Chanyeol geleng-geleng kepala dibuatnya. Serius, ia dan Baekhyun baru pacaran kemarin, tapi kenapa beritanya sudah menyebar secepat ini? Mereka bahkan bukan artis.

"Tapi, selamat ya? Saya turut senang lho! Akhirnya cinta Saem bersambut juga setelah setahun menjadi penguntit Baekhyun Eonnie."

"Yak, siapa yang kau panggil 'penguntit', hah? Lagipula, sejak kapan mengumpulkan beberapa informasi tentang orang yang disukai itu termasuk pekerjaan 'menguntit'? Cih!"

Jieqiong terbahak melihat Chanyeol yang merengut kesal. Jarang-jarang dosennya ini memperlihatkan sisi seperti ini di hadapannya. "Omong-omong, ada apa Saem kemari? Apa ada hal urgent?" tanya Jieqiong, mengalihkan topik pembicaraan.

Chanyeol tidak segera menjawab. Kepalanya malah celingukan untuk beberapa saat, sebelum kembali menatap Jieqiong. "Apa dosen baru yang bernama Oh Sehun mengajar di kelasmu juga?"

"Ya, kenapa?"

"Saya ingin kau memastikan pria itu tidak dekat-dekat Baekhyun."

"Baekhyun Eonnie? Memang kenapa?"

"Pokoknya pastikan saja, oke? Dan kalau bisa," Chanyeol berbisik. "Jangan sampai mereka bertemu satu sama lain."

###

Sehun menghembuskan asap rokoknya ke atas, bersamaan dengan keluarnya rasa lelahnya. Kejadian tadi di taman tak henti mengusik pikirannya, terlebih setelah ia tahu mulai sekarang akan cukup sulit untuk mendekati Baekhyun.

"Aish." Sehun mengumpat sambil menginjak rokoknya yang masih tersisa setengah.

Sungguh, ini membuat Sehun gila. Padahal ia sempat berpikir pertemuan mereka akan menjadi awal yang bagus untuk mendekati Baekhyun setelah tiga tahun menahan rindu. Tapi kesempatan itu justru terhalang oleh orang baru yang entah dari mana asal-usulnya.

"Sehun Sunbae?"

Suara di belakang yang tak asing itu sontak menarik atensi Sehun. Rupanya itu suara Kyungsoo.

"Ya ampun, kupikir kau itu mahasiswa. Baru saja ingin kumarahi karena merokok di dalam kelas. Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya sambil menghampiri Sehun.

"Chilling. Kau sendiri?"

"Aku mau menemui Song Seonsaengnim. Kau melihat beliau?"

"Tidak." Membalikkan tubuhnya kembali menghadap jendela, Sehun mengambil satu batang rokok lainnya. "Kyungsoo-ya?"

"Hm?"

"Kau tahu sejak kapan Baekhyun pacaran dengan PCY Seonsaengnim?"

"Eh? Kau tahu dari mana?" Kyungsoo balik bertanya.

"Pria itu sendiri yang bilang padaku saat aku sedang bicara dengan Baekhyun." Sehun menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Ekor matanya melirik Kyungsoo. "Jadi?"

"Um.." Kyungsoo menggaruk pipinya yang tak gatal. "Belum lama, baru kemarin."

Mood Sehun yang semula buruk, seketika membaik mendengar jawaban itu. Pikirnya, ini akan memudahkannya untuk mencari celah guna meretakkan hubungan Baekhyun dan Chanyeol.

"Sunbae?" panggil Kyungsoo kemudian. Sehun berdehem. "Apa kau menyukai Baekhyun?"

Sehun lantas menoleh karena pertanyaan itu. "Apa?"

"Kau tahu, perasaan khusus lebih dari seorang teman. Apa kau memilikinya terhadap Baekhyun?"

Keheningan tercipta ketika Sehun memilih diam. Daripada itu, ia justru penasaran akan hal lain.

"Kenapa kau ingin tahu?"

"Karena jika itu benar, kuharap kau tahu di mana posisimu."

Dahi Sehun sontak mengerut tak simetris. "Maksudmu?"

"Maksudku, kini Baekhyun sudah memiliki kekasih. Aku hanya berharap kau takkan mengganggu hubungan mereka. Setidaknya kau harus pintar-pintar menjaga jarak dengan Baekhyun agar—"

"Kenapa aku harus menjaga jarak dengannya?" Sehun menyela dengan desisan tajam.

"Apa?"

"Aku menerima tawaran bekerja di sini supaya aku bisa bertemu dengan Baekhyun lagi, tak peduli apakah dia sudah memiliki kekasih atau belum." Sehun mengambil satu langkah ke arah Kyungsoo dan menusuk manik cantik itu. "Siapa pun tak berhak menyuruhku untuk menjaga jarak dengannya, entah itu kau atau pria PCY itu. Kau paham?"

"Sunbae, bukan itu yang—" Kyungsoo hendak mencegah Sehun untuk pergi, tapi ia terlambat. Pria bersurai ebony itu terlanjur meninggalkannya. "Ah, sial. Bagaimana ini?" gumamnya sambil menggigit bibir bawahnya. Tak tahu kenapa, ia merasakan firasat buruk akan hal ini.

TBC