4 Days Sunshine

( • )

Fang masih tidak menyangka kalau Boboiboy serius membawanya pergi berkencan. Tadinya ia kira pemuda itu hanya bercanda, namun kenyataannya di sinilah ia berada sekarang. Pasar malam.

Iya, Fang benar-benar dibawa ke pasar malam.

Tadi pagi keduanya sempat berdebat. Karena pada awalnya Fang tidak tertarik pergi keluar untuk berkencan. Sementara Boboiboy terus-menerus memaksanya dan pemuda itu ingin mengajaknya ke taman setelah mereka selesai sarapan.

Fang langsung menolak tentu saja, karena dirinya ingin bermalas-malasan di rumah saja daripada pergi ke taman.

Boboiboy masih saja terus memaksa. Pemuda itu terus menempel pada Fang dan merecokinya. Terus memeluk kekasih manisnya dan mengikuti kemana kekasihnya itu pergi.

Boboiboy baru bisa terlepas dari Fang saat pemuda itu ke kamar mandi. Awalnya Boboiboy tetap ingin ikut dan berakhir dia yang mendapat jitakan dari Fang.

"Fang, ayo kencan!"

Fang yang baru saja selesai mandi hanya mampu menghela napas menghadapi tingkah Boboiboy. Entah berapa kali dirinya mendengar kalimat yang sama terlontar dari Boboiboy dalam satu jam terakhir. Dan entah untuk berapa kalinya Fang menjawab dengan alasan yang sama.

"Aku males keluar, Boboiboy!"

"Ayo dong, by. Kemana aja yang penting kita kencan." Boboiboy yang sudah menempel lagi pada Fang kembali berucap.

"Ya udah, di apartemen aja."

"Di kasur ya—aduh!"

Sekali lagi Boboiboy mendapat jitakan sayang dari Fang.

"Nggak!" bantah Fang.

Kemana saja?

Fang jadi teringat cerita Ochobeberapa hari lalu tentang kunjungannya ke pasar malam. Entah kenapa tiba-tiba ia tertarik pergi ke pasar malam.

"Ayo dong, by."

"Oke, kita kencan."

Boboiboy langsung bersemangat, "Oke, ayo berangkat!"

Fang menggeleng dan berucap, "Nggak sekarang, Boboiboy."

"Terus kapan, by?"

Setelah Fang mengatakan kalau ia ingin ke pasar malam, Boboiboy masih saja protes. Pemuda itu bilang akan terlalu lama jika harus menunggu malam tiba. Namun Boboiboy hanya bisa menurut setelah Fang berucap, "Ke pasar malam atau tidak sama sekali."

Jadi di sinilah Boboiboy dan Fang.

Mencoba satu persatu wahana dan juga permainan yang ada di pasar malam. Keduanya terlarut dalam kebersamaan mereka di tengah keramaian pasar malam.

Wahana terakhir yang mereka coba adalah bianglala. Fang benar-benar bersemangat mencobanya, sementara Boboiboy ikut tersenyum kala melihat senyum yang mengembang di wajah Fang.

Fang selalu menyukai bianglala. Pemuda itu menyukai pemandangan yang dilihatnya kala ia menaiki bianglala. Entah mengapa itu membuatnya merasa bahagia. Dan kini ada Boboiboy yang duduk di sebelahnya.

Di tengah lamunannya, Fang kembali teringat hari di mana Boboiboy mengungkapkan perasaannya. Fang tidak tahu harus merasa senang atau sedih ketika mengingat.

"Indah ya?"

Ucapan Boboiboy mengembalikan kesadaran Fang. Pemuda itu merespon dengan anggukan. Karena pemandangan malam dilihat dari bianglala memanglah indah.

"Bukan pemandangannya."

Fang mengalihkan perhatiannya pada Boboiboy, "Terus?"

"Kamu."

"Hah, apaan sih!" ucap Fang mencoba menutupi kegugupannya.

"Aku serius," Boboiboy kembali bersuara, "kamu jauh lebih indah dari pemandangan yang kamu lihat tadi."

Tubuh Fang membeku saat Boboiboy mengakhiri perkataannya. Pemuda itu kembali mencuri kecupan dari Fang. Kali ini bukan lagi di pipi, melainkan di bibir mungil Fang. Hanya sesaat memang, tapi itu berefek besar untuk Fang.

Malam itu berakhir dengan wajah Fang yang masih merona bahkan saat keduanya telah kembali ke apartemen.

( • )