6 Days Sunset

( • )

Dua bulan berlalu sejak Fang menjalin hubungan dengan Boboiboy.

Selama dua bulan terakhir pula, keduanya jadi makin mengerti kebiasaan ataupun hal-hal sederhana satu sama lain. Seperti Fang baru mengetahui kalau Boboiboy lebih muda darinya. Begitu juga Boboiboy baru mengetahui kebiasaan Fang ketika pemuda itu kesal, yaitu meminum cola.

Apa yang terjadi selama dua bulan terakhir?

Tidak banyak sebenarnya. Dari ikan kesayangan Shielda yang mati di makan kucing—Ocho yang bercerita pada Fang. Esoknya saat ia berpapasan dengan Shielda, dapat dilihatnya mata pemuda itu yang membengkak. Ketika Fang mengucapkan turut berduka untuk ikan pemuda itu, Shielda justru bertanya dari mana dirinya tahu. Pertanyaan itu hanya direspon dengan senyum canggung dari Fang.

Lalu, ada Sai yang menceritakan tentang anak kucing miliknya. Pemuda itu menceritakan padanya dan Ocho juga Boboiboy ketika rapat jurnalistik. Iya, karena tidak tahu apa yang dibahas, jadilah mereka malah ngelantur. Setelahnya baru terungkap kalau induk kucing dari anak kucing milik Sai adalah kucing yang sama dengan kucing yang memakan ikan Shielda.

"Itu pasti kucingmu ngidam pengen makan ikan!"

Komentar yang Ocho lontarkan direspon dengan tawa dari teman-temannya.

Yang menjadi pertanyaan di benak Fang, mengapa bisa kucing Sai memakan ikan milik Shielda? Tidak mungkin mereka kalau bertemu membawa peliharaan mereka 'kan? Kalau keduanya tinggal serumah, baru masuk akal.

Terlepas dari ikan milik Shielda dan kucing milik Sai. Ada yang lebih menghebohkan dari kabar Boboiboy dan Fang yang berpacaran. Yaitu mantan ketua OSIS dan ketua Jurnalistik yang menjalin hubungan.

Iya, Sai dan Shielda berpacaran.

Kabar itu baru menyebar sekitar dua minggu yang lalu. Dan selama itu pula ia tahu sahabat baiknya tidak baik-baik saja. Meski begitu Ocho bersikap seolah tak ada yang terjadi, tetap saja senyumnya tampak lain di mata Fang.

Fang ingin marah karena mereka telah membuat sahabatnya menjadi murung. Lebih buruknya lagi, sahabatnya itu pura-pura baik-baik saja. Namun, ia pun sadar tak ada yang bisa di salahkan antara Sai maupun Shielda. Karena ia juga yang membuat Sai mampu jujur perasaannya.

Itu yang terjadi dua bulan terakhir.

Kini Fang hanya termenung sembari menyaksikan air hujan yang menghantam kaca jendela. Ocho yang duduk di hadapannya pun tak jauh beda, pemuda itu ikut menyaksikan hujan di luar jendela. Mereka baru saja selesai rapat untuk lomba mading.

Sudah hampir setengah jam berlalu dan tak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Fang menghela napas, rasanya menyesal sudah datang ke sekolah di hari libur ini.

Iya, mereka sedang menikmati libur akhir semester sebenarnya.

Tiba-tiba layar ponsel Fang yang tergeletak di meja menampilkan notifikasi dari aplikasi chatting. Dari Boboiboy ternyata.

Bucin

Bucin

By, kamu belum pulang?

Bucin

Ku jemput ya?

ShadowF

Nggak usah, katanya

ada acara

ShadowF

Lagian di sini hujan

Bucin

Ya gegara hujan itu

kamu harus ku jemput

ShadowF

Nggak usah ih

Bucin

Ku jemput atau

aku ngambek?

ShadowF

...

ShadowF

Yauda iya

Bucin

Good baby

Fang menghela napas lagi karena Boboiboy.

Boboiboy memang tidak bisa ikut rapat kali ini karena ada acara keluarga. Lalu kenapa pemuda itu malah memaksa akan menjemputnya, saat hujan pula. Tapi dia iyakan saja, dari pada kekasihnya itu merajuk.

Fang tidak masalah sebenarnya kalau Boboiboy diam saat pemuda itu merajuk. Masalahnya, Boboiboy kalau sudah merajuk padanya pasti jadi kekanakan. Pemuda itu jadi makin menempel pada Fang dan lebih sering modus mencuri kecupan di pipinya. Tidak baik untuk hati Fang jadinya.

Kini Fang menunggu Boboiboy yang katanya akan menjemputnya di gerbang sekolah, berhubung hujan sudah reda dan hanya menyisakan gerimis tipis. Namun Boboiboy tak kunjung datang, sementara Ocho sudah pulang lebih dulu. Baru saja Fang ingin menghubungi Boboiboy, ada pesan yang dikirim pemuda itu.

Bucin

Tunggu bentar ya, by

Jemputannya lagi otw

Belum sempat Fang membalas pesan Boboiboy, ada sepeda motor yang berhenti tak jauh dari tempatnya berada. Pengendaranya berjalan menghampiri Fang dengan cengiran yang terpasang di wajahnya.

"Fang ya?"

Fang mengangguk mengiyakan.

"Manis kayak namanya."

Lah? Apaan lagi sih ini?

( • )