A My Hero Academia fanfiction
by Setiantia (follow me on Wattpad to get updates faster)
All characters belong to Horikoshi Kohei
#
#
A Special Flashback Story.
#
Uraraka tengah membaca kartu undangan yang tadi dilihatnya tergeletak di meja. Bakugou keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang menutupi pinggang hingga ke lututnya, sengaja memamerkan tubuh tegap dan berotot yang selalu dibayangkan para wanita tentang pro-hero Ground Zero. Oh ya, dan jangan lupakan juga rambutnya yang masih basah setelah keramas, dijamin akan membuat imajinasi perempuan manapun melalang buana melihatnya.
"Oi, kau sedang apa?" Tanya Bakugou yang dengan santainya mendekati Uraraka dan mengambil kartu undangan tersebut.
"Hei, Katsuki! Kembalikan! Aku belum selesai membacanya." Jawab Uraraka yang berusaha mengambil kartu itu kembali.
"Bodoh! Ini kartu undangan untukku." Ucapnya ringan. Uraraka berhenti mencoba merebutnya. Mereka sedang berada di apartemen Bakugou, tentu saja kartu undangan yang baru datang itu memang disampaikan untuk pemuda tampan itu. Undangan resepsi pernikahan Kamui dan Mt. Lady.
"Sebenarnya aku juga mendapatkannya. Tapi belum sempat kubuka dan aku penasaran." Balasnya sembari menggembungkan pipi karena kesal. Bakugou meletakkan kartu undangan itu di meja. Uraraka mengambilnya kembali dan lanjut membaca isi undangan itu sementara Bakugou berjalan menuju kamar.
Wajah Uraraka tiba-tiba memerah setelah membaca isi undangannya. Bukan tentang pengantinnya, bukan pula mengenai tempat atau waktu dari acaranya, melainkan adanya ketentuan yang meminta tamu undangan untuk datang berpasangan atau membawa pasangan.
Hah? Ini gila!, pikir Uraraka. Seketika sosok yang dibayangkannya adalah Midoriya Izuku. Ia ingin sekali datang kesana dengan Midoriya, tapi apa iya pemuda itu akan mengajaknya?
Bakugou keluar dari kamar dengan mengenakan setelan celana pendek dan kaos berwarna abu-abu. Ia melihat Uraraka yang sedang melamun sambil memegang kartu undangan Mt. Lady. Ia putuskan duduk disamping Uraraka lalu menyalakan televisi. Uraraka dibuat kaget dengan kehadirannya.
"Ochaco." Panggil Bakugou. Matanya masih tidak beranjak dari layar televisi.
"Hm?" Respon Uraraka menoleh.
"Datanglah denganku ya, ke acara itu. Aku rasa aku akan bosan setengah mati disana." Ucapnya.
Uraraka menatap lekat kekasihnya itu. Ia pikir Bakugou tidak akan tertarik datang ke acara ini. Apalagi Mt. Lady sangat suka menggodanya dan juga tentang ketentuan membawa pasangan itu,..
"Sialan! Kau dengar tidak, sih?" Kesal Bakugou yang tidak kunjung mendapatkan respon.
"Gomen! Kupikir kau tidak tertarik datang, jadi aku kaget dengar kau mengajakku" Ucap Uraraka salah tingkah.
Bakugou menyenderkan kepalanya ke bahu kiri Uraraka. "Aku memang tidak ingin datang. Tapi kuso baba itu pasti akan menghajarku kalau aku tidak datang ke pernikahannya" Jawab Bakugou. Memang, Bakugou cukup dekat dengan wanita bernama lengkap Takeyama Yu itu.
Uraraka ikut menyenderkan kepalanya. "Kau pasti dikerjai Mt. Lady habis-habisan kalau tidak datang, Katsuki." Uraraka tertawa kecil.
"Karena itu, aku terpaksa harus datang!" Kesal Bakugou.
"Ya, tentu saja! Lagipula Katsuki-kun, memang kau mau nanti saat menikah orang-orang tidak datang ke pernikahanmu?" Sindir Uraraka dengan nada menggoda.
Bakugou diam sejenak. "Bodoh! Aku tidak mempermasalahkan hal sepele semacam itu. Lagipula selama kau yang jadi pengantinku, aku tidak peduli dengan hal lain." Jawabnya datar.
Sesaat Uraraka hanya membisu tak merespon. Bakugou selalu terdengar serius dan yakin tiap kali mengutarakan perasaannya. Sampai-sampai Uraraka berpikir, jika saja dirinya saat itu juga meminta Bakugou melamarnya dengan membawa cincin sekalipun Bakugou mungkin sudah siap. Tidak ingin membalas perasaan itu, juga tidak mau menggodanya karena takut dianggap memberi harapan, Uraraka pasti akan segera mengganti topik pembicaraan atau pergi tiap kali hal semacam ini terjadi. Wanita itu menghela napas. "Oke!"
Bakugou menoleh. "Apa? Kau mau jadi pengantinku?"
Uraraka melempar bantal kursi didekatnya ke wajah Bakugou. "Baka! Siapa yang mau menikah denganmu!" Ucapnya yang lalu pergi ke kamar Bakugou.
"Sialan kau, Muka Bulat!" Kesal Bakugou.
Uraraka mengambil pakaiannya di lemari baju milik Bakugou. Ia bermaksud untuk mandi karena hari sudah sore. Uraraka keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar mandi. Dilihatnya Bakugou tengah berbicara dengan seseorang di telpon. Sesampainya ia di kamar mandi, Uraraka menaruh baju gantinya. Ada sebesit rasa bersalah yang hinggap di pikirannya.
Sampai kapan aku begini?
Setelah Uraraka selesai mandi, ia kembali ke kamar. Bakugou ada di dalam sedang mengenakan jaketnya. Ia sudah berpenampilan rapi seperti hendak pergi. Uraraka heran.
"Katsuki, kau mau kemana?" Tanya Uraraka keheranan.
"Aku harus ke agensi. Ada urusan mendadak." Jawabnya singkat. Bakugou memasukkan dompet dan ponselnya ke saku celana.
Tapi ini kan hari libur.
"Pulang jam berapa?" Tanya Uraraka yang sekarang duduk di sisi ranjang. Ia sudah tidak heran jika hero sepertinya dan Bakugou dipanggil tugas saat weekend.
"Mungkin sedikit larut. Kau tetap menginap disini, kan?" Tanya Bakugou.
Uraraka menggembungkan pipinya. "Padahal aku akhirnya bisa menginap disini, tapi kau malah pergi."
Bakugou menghela napas. "Jangan cerewet! Tunggulah disini. Aku akan segera pulang. Untuk makan malam ini kau pesan online dulu saja, ya." Ucap Bakugou penuh perhatian namun dengan ala-ala tsundere. Uraraka bisa lihat Bakugou sebenarnya tidak ingin meninggalkannya.
Uraraka lalu tersenyum. "Kalau begitu, cepat pulang ya!" Bakugou tersenyum lalu beranjak pergi.
##
3 Hari kemudian.
Uraraka baru saja keluar dari agensi setelah setengah hari ia habiskan untuk mendidik siswa SMA yang sedang magang. Hari masih sore. Ia senang sekali, pekerjaannya seminggu ini bisa membuatnya pulang lebih cepat.
"Ochaco-chan! Ada yang menunggumu, tuh!" Sapa Nejiro dengan nada sedikit menggoda. Semburat merah langsung muncul di wajah Uraraka kala melihat ke arah yang ditunjukkan Nejiro barusan.
"Se-senpai, benarkah Deku-kun sedang menungguku? Barangkali dia sedang menunggu orang lain. " Ucap Uraraka ragu. Jujur ia takut jawabannya tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Nejiro menggeleng-gelengkan kepala. "Aku baru saja mengobrol dengannya. Dia memang sedang menunggumu. Mungkin dia mau mengajakmu kencan, Ochaco-chan!" Goda Nejiro.
Uraraka tersenyum miris. "Mana mungkin, kan? Dia sudah punya Camie-san, senpai!" Jawab Uraraka.
Nejiro menghela napas. "Midoriya-kun tidak pernah mengiyakan gosip itu, kan? Kenapa kau harus menyerah? Siapa tahu itu cuma gosip." Uraraka mengakui hal itu. Ia sendiri sedikit ragu. Nejiro lalu menepuk bahu Uraraka. "Cepat pergi sana!" Lanjut Nejiro.
Uraraka berjalan mendekati Midoriya. Laki-laki itupun menyadari kedatangannya dan tersenyum. "Deku-kun, kau mencariku?" Tanya Uraraka ragu. Midoriya tekekeh malu.
"Iya. Kebetulan hari ini aku bisa pulang cepat, jadi aku ingin mengantarmu pulang. Boleh, kan?" Tanya Midoriya.
Uraraka tersenyum mendengarnya. "Tapi, apa Camie-san tidak keberatan aku bersamamu, Deku-kun? Aku hanya tidak ingin ada wartawan yang salah paham melihat kita dan…" Ucapan Uraraka terhenti.
"Dan apa?" Tanya Midoriya datar. "Uraraka-san, bukankah sudah kubilang aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Camie-san? Kenapa kau terus berpikir aku berpacaran dengannya?" Ada sebesit nada kekecewaan dari ucapan Midoriya.
"Go-gomen! Aku tidak bermaksud begitu." Ucap Uraraka menyesal.
Midoriya sesaat menyadari kesalahannya. "Ti-tidak, Uraraka-san! Maafkan aku. Justru aku yang salah. Berita-berita tentang hubunganku dan Camie-san memang semakin menggila, tidak heran jika semua orang berpikir begitu. Bukan hal yang aneh kalau kau tidak percaya denganku."
Uraraka merasa bersalah. Ia hendak berbicara sebelum dering ponselnya menginterupsi. Uraraka melihat ponselnya masih dengan degup jantungnya yang berdetak cepat.
Bakugou Katsuki.
Uraraka mengangkat telponnya dan berjalan sedikit menjauh dari Midoriya. "Halo."
"Ochaco, kau sudah pulang?" Tanya suara diseberang sana.
"Be-belum. Aku baru saja keluar dari kantor."
"Cepatlah pulang dan istirahat. Kari tadi pagi masih banyak, kan? Panaskan dulu sebelum dimakan."
"Iya."
"Hei, kau kenapa? Tidak seperti biasanya!"
"Tidak apa-apa. Kau jadi ke apartemenku, kan? Kemejamu ketinggalan."
"Aku tidak bisa. Malam ini aku pulang larut. Besok pagi aku akan kesana, oke?"
"Oke." Uraraka mematikan ponselnya. Bakugou heran, Uraraka tidak seperti biasanya.
Uraraka menghampiri Midoriya. "Deku-kun, kita pulang sekarang?" Tanya Uraraka.
Midoriya tersenyum. "Oke, kita pulang sekarang." Jawabnya. Merekapun berjalan ke parkiran melupakan kecanggungan sebelumnya.
Selama perjalanan, Uraraka bercerita tentang banyak hal. Seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya, Midoriya dengan senang hati menimpali obrolan mereka dengan tawa khasnya.
Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat. Lalu lintas di Tokyo terasa lengang petang ini. Mereka sudah sampai di depan apartemen Uraraka sekarang.
Uraraka melepas belt-nya. "Deku-kun, terima kasih karena sudah mengantarku." Ucap Uraraka.
"Aku senang karena bisa mengobrol denganmu, Uraraka-san. Selama ini kita terlalu sibuk sampai tidak punya waktu bertemu. Kapan-kapan aku akan mengajak Iida-kun juga." Ucap Midoriya.
Uraraka tersenyum. "Deku-kun, bagaimana kalau kau mampir sebentar? Aku punya banyak kari. Kupikir kita bisa memakannya bersama." Ucap Uraraka ragu, takut akan penolakan?
Midoriya sedikit terkejut. Ia lantas tersenyum dan menjawab "Apa tidak merepotkan?"
Uraraka refleks menjawab. "Te-tentu saja tidak!"
Merekapun masuk ke dalam gedung apartemen. Uraraka membuka kunci apartemennya. Ia dan Midoriya pun masuk. Uraraka berjalan ke ruang tamu dan sedikit kaget melihat setelan kemeja dan jas yang baru dibelikannya untuk Bakugou kini tergeletak di sofa. Ia tidak memindahkannya sebelumnya karena tidak pernah terpikirkan bahwa ia akan mengajak Midoriya masuk ke apartemennya.
Uraraka dengan cepat menghampiri sofa dan mengambil setelan pakaian itu lalu melipatnya. Ia berharap Midoriya tidak melihatnya, itu yang dia diharapkan. Namun Midoriya ternyata sudah lebih dulu menyadari keberadaan pakaian itu. Midoriya merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan Uraraka.
"Deku-kun, silakan duduk. Aku mau ke kamar sebentar untuk ganti baju." Uraraka terlihat gugup. Namun Midoriya bersikap seolah tak menyadarinya. Ia mengangguk.
Midoriya memperhatikan sekitarnya. Berharap tidak menemukan apapun yang menandakan kalau sahabat baik sekaligus gadis yang sejak lama dicintainya dalam diam itu kini menjalin hubungan dan tinggal dengan laki-laki lain.
Uraraka menutup pintu kamarnya. Ia langsung menggeletakkan pakaian Bakugou di kasur.
Bagaimana bisa aku lupa?! Semoga Deku-kun tidak menyadarinya.
Uraraka menghela napas. Ya, semoga!
Satu jam berlalu. Midoriya dan Uraraka selesai dengan makan malam sederhana mereka. Ada sebesit perasaan bersalah yang menghinggap di kepala Uraraka. Ia tidak seharusnya membawa Midoriya masuk ke apartemennya. Bakugou tidak akan suka dengan hal ini. Namun segera ia tepis rasa bersalah itu. Bakugou tidak akan tahu.
Midoriya meminta izin untuk menggunakan kamar mandi. Ia ingin membasuh wajahnya. Uraraka mengiyakan dan lanjut dengan aktivitas mencuci piringnya.
Setelah masuk ke kamar mandi, Midoriya langsung menuju wastafel. Awalnya ia ingin menyalakan keran wastafel, namun kegiatannya terhenti ketika pandangannya teralihkan pada dua set sikat gigi yang ada disamping wastafel. Ia tahu persis salah satunya bukanlah milik Uraraka. Selain itu, ada pula sabun wajah yang sama sekali tidak mungkin digunakan Uraraka karena produk itu khusus diperuntukkan untuk laki-laki saja.
Lalu punya siapa semua ini?
Midoriya menepis pertanyaan itu. Ia pun menyelesaikan kegiatannya dan beranjak keluar dari kamar mandi.
"Uraraka-san, terima kasih atas makan malamnya. Karinya enak sekali, apa kau memasaknya sendiri?" Ucap Midoriya basa-basi.
Uraraka sedikit gugup karena bingung harus menjawab apa. Yang membuat kari itu tentu saja kekasih rahasianya. "Aku..membuatnya sendiri." Jawab Uraraka.
"Kau jago masak, ya Uraraka-san. Pacarmu beruntung sekali!" Ucap Midoriya yang seketika membuat Uraraka terdiam membeku. Dari sini Midoriya semakin yakin.
"Deku-kun, kau pasti bercanda!" Uraraka tertawa renyah. "Aku sama sekali tidak punya pacar. Kenapa kau bisa berpikir begitu?"
Deku tersenyum. "Benarkah? Kalau begitu, bisakah kau menemaniku di resepsi pernikahan Mt. Lady nanti, Uraraka-san?" Tanya Midoriya.
Uraraka sedikit kaget mendengarnya. Beberapa hari lalu ia sangat berharap bisa datang dengan Midoriya ke acara itu. Namun,…
"Gomen, Deku-kun! Aku tidak bisa. Aku sudah janji akan datang dengan seseorang." Jawab Uraraka. Dengan nada yang sangat sangat menyesal.
"Sayang sekali." ucap Midoriya dengan nada kecewa. "Apa kau akan datang dengan pacarmu, Uraraka-san?" Tanya Midoriya.
"Tidak. Dia bukan pacarku. Kau mengenalnya. Dia hanya bingung harus datang dengan siapa, lalu aku menawarkan diri." Jawab Uraraka.
"Begitu? Aku jadi penasaran" kekeh Midoriya.
Tidak lama Midoriya pun pamit karena tidak enak berlama-lama ada di apartemen teman wanitanya. Apalagi jika memang ada seorang pria yang sedang menjalin hubungan dengan sahabat lamanya itu.
"Kalau begitu aku pamit, Uraraka-san. Terima kasih atas makan malamnya." Pamit pemuda berambut hijau itu.
"Aku juga berterima kasih karena kau sudah memberiku tumpangan, Deku-kun!" Jawab Uraraka dengan ceria. Tampaknya mood-nya mulai membaik.
"Tentu saja." Jawab Midoriya lalu pergi. Uraraka tersenyum dan menutup pintu apartemennya.
Bakugou Katsuki melihat pemandangan itu dari jauh. Ada pria lain yang masuk ke apartemen Uraraka, dan itu adalah Deku. Bakugou yang geram langsung berjalan cepat ke pintu apartemen Uraraka dan masuk kedalamnya.
"Katsuki?!" Uraraka sedikit kaget melihat siapa yang masuk ke apartemennya.
"APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN DEKU?!" Bentak Bakugou.
"A-apa? Apa maksudmu?"
"Aku melihat Deku keluar dari sini. Apa saja yang kau lakukan dengannya tadi, hah?!"
Jantung Uraraka berdetak cepat. Ia tidak menyangka Bakugou akan datang. "Kenapa tadi kau bilang tidak jadi datang malam ini?"
"Kalau aku bilang, apa kau akan tetap mengajak Deku sialan itu masuk ke apartemenmu?" Bakugou mendekati Uraraka dan memegang kedua bahu wanitanya itu.
"Apa yang kalian lakukan?! Jawab!"
"Aku hanya mengajaknya makan malam disini. Kau tidak perlu emosi seperti itu!" Balas Uraraka dengan bentakan.
"Makan malam? Cih. Bukankah sudah kutekankan dari awal, aku tidak ingin ada laki-laki lain datang ke tempatmu tanpa sepengetahuanku."
"Katsuki, ini sudah keterlaluan. Kita memang pacaran. Tapi bukan berarti kau bebas mengatur hidupku!" Air mata mulai mengalir dari mata indah Uraraka. Rasa bersalah mulai menguasai sang pria.
"Kau selalu melarangku ini itu. Memasang GPS Tracker diam-diam di ponselku. Kau pikir aku akan jatuh cinta dengan sifat over-protective-mu itu? Jangan bercanda! Harusnya kau ingat, aku hanya sedang memberimu kesempatan untuk mendapatkan hatiku. Kau bahkan belum bisa membuatku melupakan Deku-kun."
###
