"Ya, tolong antarkan pesanannya ke fakultas bahasa SNU, di ruangan Park Chanyeol. Terima kasih."

Chanyeol berbalik menghadap Baekhyun begitu mengakhiri teleponnya. Gadis itu tampak masih asyik melihat hujan di luar sana, tak menyadari si jangkung yang berjalan menghampirinya dan berhenti tepat di belakangnya.

"Maaf ya?"

Baekhyun terkesiap ketika suara Chanyeol berdengung di dekat telinganya. Ia hendak menoleh, tapi kehadiran sepasang tangan kokoh yang melingkar di pinggangnya menghentikan pergerakan itu.

"Gara-gara pekerjaanku, kita terpaksa makan siang di ruanganku." Chanyeol menumpukan dagunya di bahu Baekhyun, tidak sadar bahwa tindakan itu membekukan si mungil. "Pesanannya akan segera diantarkan. Kau tidak apa kan menunggu sebentar?"

Baekhyun menelan ludahnya sesaat. Di saat seperti ini, bisa ia rasakan jantungnya berdegup luar biasa kencang di dalam sana.

"T–tidak apa, aku juga belum terlalu lapar kok.." jawab Baekhyun seraya membawa atensinya pada jendela ruangan Chanyeol yang basah karena hujan, berharap cara itu bisa menurunkan kadar kegugupannya.

"Sungguh?"

"Ya, sungguh."

Suara bulir-bulir langit yang jatuh membasahi Seoul kemudian mengisi kekosongan di ruangan Chanyeol. Atmosfer di sana terasa agak canggung. Bukan karena kegugupan Baekhyun, tapi karena raut muka Chanyeol yang kentara terlihat bersalah pada Baekhyun.

Padahal awalnya Chanyeol hendak mengajak Baekhyun makan siang di Arirang Barrel—restoran milik temannya—tapi tiba-tiba saja datang pekerjaan dari dekan yang harus diselesaikan sebelum pukul dua siang. Alhasil, mereka terpaksa memesan makanan dari luar dan harus puas dengan makan siang di ruangan Chanyeol.

Sebenarnya Baekhyun sudah mengatakan bahwa ia tidak keberatan jika mereka makan siang di kantin fakultas bahasa. Tapi melihat tempat itu lebih ramai daripada biasanya, Chanyeol pun berinisiatif untuk memesan makanan dari luar. Meski begitu, sepertinya Chanyeol masih merasa tidak enak pada Baekhyun.

"O–omong-omong, kenapa tadi kau kembali sebelum jam sepuluh? Kupikir kelasnya selesai jam sepuluh?" Baekhyun memecahkan keheningan itu dengan sebuah pertanyaan.

"Karena aku tidak mau membuatmu menunggu terlalu lama, jadi kupercepat kelasnya."

Merasakan pipinya merona, Baekhyun pun menundukkan kepalanya. "A–ah, begitu."

"Apa yang kau lakukan selagi aku tidak ada?" Chanyeol balik bertanya.

"Aku? Hanya duduk sambil main game."

"Game?"

"Yup. Itu membantuku jika sedang kebosanan."

"Selama satu setengah jam?"

Baekhyun mengedikkan bahunya. "Aku kadang bisa lupa waktu kalau sedang bermain game."

"Sungguh?" Baekhyun mengangguk sebagai jawaban. "Kalau begitu, kau dilarang bermain game selagi kita hanya berdua."

"Eh? Kenapa?"

"Karena aku tidak mau perhatianmu terbagi."

Baekhyun terkekeh geli mendengar alasan Chanyeol yang lebih mirip rajukan bocah umur lima. Entah bagaimana, kesannya sangat manis. "Baiklah, aku akan pastikan untuk tidak bermain game selagi kita hanya berdua."

"That's my girl~" Chanyeol mengecup puncak kepala Baekhyun.

.

.

.

###

AEIPATHY (GS VERSION)

Chapter 10 – Insecure

Main Casts : Park Chanyeol & Byun Baekhyun

###

.

.

.

Suasana kemudian menjadi hening kembali. Baekhyun sibuk dengan pikirannya sendiri, sementara Chanyeol memikirkan hal lain yang mengganggunya sejak tadi.

"Acara makan siang kita, aku janji akan menggantinya lain waktu. Dan kalau kau mau, kau boleh menentukan tempatnya."

"Aku tidak apa, sungguh." Baekhyun mengelus punggung tangan Chanyeol, berusaha menenangkan kekasihnya. "Aku malah suka kita makan siang berdua di sini.." cicitnya seraya menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di dada Chanyeol.

Chanyeol tanpa sadar tersenyum mendengar perkataan itu. Didekapnya lebih erat gadis bersurai brunette itu, menyesap perpaduan aroma geranium, peach, dan cashmere wood yang berhasil membuatnya kepayang.

"Aku juga suka situasi ini; makan siang hanya berdua, tanpa ada siapa pun di sekitar kita." Chanyeol mendaratkan satu kecupan ringan di leher Baekhyun. "I really love it.."

Pegangan Baekhyun pada tangan Chanyeol mengerat, seiring dengan kecupan Chanyeol yang datang secara bertubi-tubi di perpotongan lehernya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, mati-matian menahan lenguhannya.

Ingin sekali Baekhyun berkata agar Chanyeol menghentikan kegiatannya di lehernya karena itu membuatnya geli, tapi reaksi tubuhnya justru menunjukkan hal yang berbanding terbalik dengan keinginan otaknya. Bahkan kata-kata penolakan yang hendak Baekhyun lontarkan tertahan di tenggorokan karena bibirnya terlanjur dibungkam oleh bibir Chanyeol. Pria tinggi itu mengecup dan melumat belahan tak bertulang itu, tanpa sedikit pun melonggarkan pelukannya.

Baekhyun yang mulai dibuat kewalahan, sedikitnya bisa mengais udara ketika Chanyeol memutar tubuhnya agar berhadapan dengannya. Tapi itu hanya berkisar tiga detik, sampai Chanyeol mendorong tubuhnya ke dinding dan kembali menyerang bibirnya. Ciuman itu pun kian intens karena Chanyeol melibatkan pertarungan lidah di dalamnya. Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan, sambil menekan leher Baekhyun untuk lebih merapat ke dekapannya.

"I love you, Baek.." bisik Chanyeol di samping telinga Baekhyun yang memerah. Ekor matanya melirik si mungil dan tersenyum senang mendapati sang kekasih sedang sibuk mengatur napasnya dengan mulut sedikit terbuka. "Don't be too cute in front of me, Sweet Muffin. I won't be able to control myself."

"E–eh? Akh!" Baekhyun terlonjak kaget merasakan bibir Chanyeol menyesap belakang lehernya dengan cukup kuat. Tidak lama, tapi itu jelas meninggalkan jejak.

"Ini adalah tanda bahwa kau itu milikku." Chanyeol mengecup sekilas mahakaryanya. Ia terkekeh melihat Baekhyun yang masih membolakan matanya, merasa lucu dengan ekspresi menggemaskan itu. "Jangan khawatir. Akan kubuat lagi kalau mulai memudar." godanya seraya mengedipkan sebelah matanya.

Baekhyun sendiri tak tahu lagi harus berbuat apa, selain menundukkan dalam-dalam wajahnya yang terasa sangat panas. Ia terlalu malu untuk sekedar membalas tatapan mata Chanyeol atau memukul lengan Chanyeol yang menggodanya habis-habisan, hanya bisa mengikuti pria tinggi itu untuk duduk bersamanya di sofa. Namun diam-diam, saat Chanyeol tak memerhatikan, Baekhyun mengulum senyum dengan jemari meraba kissmark di belakang lehernya.

###

Rintik hujan telah berhenti ketika Chanyeol memarkirkan mobil Tesla-nya di depan gerbang kediaman Byun. Tampak bangunan itu tak sesepi biasanya, ada sebuah mobil terpakir di depan garasi.

"Apa itu mobil orangtuamu?"

"Ya, itu mobil mereka." Baekhyun melepaskan sabuk pengamannya dan tersenyum pada Chanyeol. "Hari ini terima kasih banyak, Oppa. Aku senang sekali."

Chanyeol mengusuk surai Baekhyun. "Hm. Aku senang kalau kau juga senang. Berikutnya kau yang pilih tempat makan siang kita, oke?"

Baekhyun mengangguk semangat. "Kalau begitu, aku pamit dulu. Menyetirlah dengan hati-hati ya?"

"Aku mengerti." Chanyeol mengecup pipi Baekhyun. "Maaf aku tidak bisa mampir untuk menyapa orangtuamu. Lain kali pasti aku akan menyapa mereka secara resmi."

Rona kemerahan tiba-tiba muncul di pipi tembam Baekhyun. Sekelebat kalimat intens yang Chanyeol lontarkan di acara ciuman panas mereka tadi, tanpa permisi melintas dalam benaknya.

"Ini adalah tanda bahwa kau itu milikku."

Bola mata Baekhyun bergerak gelisah. Entah bagaimana, pikirannya jadi melantur ke mana-mana. "M–menyapa secara resmi? K–kenapa begitu?"

Chanyeol yang menyadari sikap salah tingkah Baekhyun, jadi tak tahan untuk menggodanya.

"Kenapa bertanya? Tentu saja aku harus menyapa orangtua kekasihku untuk membuat kesan pertama yang baik. Dan lagi," Chanyeol mengedipkan matanya jahil. "Siapa tahu kan hubungan kita berlanjut ke tahap yang lebih serius?"

Baekhyun mati kutu dibuatnya. Tak terbayang lagi seberapa merah wajahnya sekarang, mungkin itu sudah melebihi kepiting rebus. Chanyeol mungkin hanya bercanda, tapi pikiran Baekhyun yang melayang jauh membuatnya terdengar seolah itu akan benar-benar terjadi dalam waktu dekat ini.

"Kenapa tiba-tiba terdiam?" Chanyeol menyentakkan Baekhyun dari lamunannya. Gadis itu dengan cepat menggeleng sebagai jawaban.

"A–aku pamit dulu." Baekhyun membungkukkan badannya. Namun tepat saat hendak membuka pintu mobil, Baekhyun menghentikan pergerakannya dan kembali menghadap Chanyeol. Sebuah ciuman mendarat cepat di bibir Chanyeol tiga detik setelahnya. Hanya kecupan singkat, tapi wajah Baekhyun langsung memerah sampai ke ujung telinga. "S–s–sampai jumpa besok, Oppa!" Dan kabur begitu saja.

Sementara di belakang sana, Chanyeol terdiam dengan mulut menganga kecil. Tapi tidak untuk waktu yang lama. Sampai ketika Baekhyun hilang di balik pintu rumahnya, kekehan Chanyeol terdengar dengan renyah. Padahal Baekhyun yang menciumnya, tapi kenapa Baekhyun pula yang merona?

"Aigoo~ manisnya." Chanyeol geleng-geleng kepala. Ia kemudian melajukan mobilnya, meninggalkan kediaman Byun.

###

Sebuah pesan masuk ke ponsel Baekhyun saat ia mengganti sepatunya dengan sandal rumah. Sederet nomor tak dikenal muncul di layar beda pipih itu. Baekhyun sudah sedikit ini untuk melompat kegirangan jika saja tak sadar bahwa pesan itu bukan dari kekasihnya, melainkan dari Sehun.

From: 01042725404

Hey, kau sudah pulang?

Baekhyun berpikir sejenak, sebelum membalas pesan itu dengan singkat.

To: 01042725404

Iya, Sunbae.

Baru beberapa langkah Baekhyun ambil, satu pesan lainnya dari Sehun kembali masuk ke ponselnya.

From: 01042725404

Apa aku mengganggumu?

Baekhyun memiringkan kepalanya bingung.

To: 01042725404

Tidak kok. Kenapa kau berpikir begitu?

Pesan balasan dari Sehun datang setelah Baekhyun masuk ke dalam kamarnya.

From: 01042725404

Kalau begitu, bisa kita bertemu sekarang?

Berbeda dengan sebelumnya, Baekhyun tak langsung membalas pesan itu. Jemarinya bergeming di pinggiran ponsel, sementara otaknya tengah sibuk menimbang antara berbohong atau mengiyakan ajakan Sehun. Bukannya tidak mau, hanya saja hati Baekhyun merasa tak keruan mengingat ia sudah terlanjur berkata pada Chanyeol bahwa ia takkan dekat-dekat dengan Sehun. Apa yang harus dilakukannya?

From: 01042725404

Please?

Baekhyun menggigit bibir bawahnya ragu. Kalau Sehun sudah memohon begini, Baekhyun jadi tidak enak hati untuk menolak. Walau bagaimanapun Sehun tetaplah sunbae-nya.

Mungkin kalau sebentar tidak apa-apa—batin Baekhyun kemudian.

###

Senyum Sehun mengembang lebar segera setelah sosok yang dinantikannya memasuki Café Creamy. Sehun melambaikan tangannya, yang kemudian dibalas oleh sosok cantik itu—yang tak lain dan tak bukan adalah Byun Baekhyun.

"Maaf, apa aku terlambat?" tanya Baekhyun, tersenyum kikuk sambil duduk di hadapan Sehun.

"Tidak kok, aku memang datang lebih awal."

"Oh, begitu." Baekhyun menghela napas lega.

"Omong-omong, kau mau pesan apa? Semua cake di sini enak lho! Kau pilih saja yang kau suka, hari ini aku yang traktir."

"Eh? Tidak usah, Sunbae! Aku akan bayar sendiri saja." tolak Baekhyun sopan.

"Tidak usah sungkan begitu, Baek. Bukankah aku yang mengajakmu bertemu duluan? Jadi setidaknya biarkan aku mentraktirmu, oke?"

"T–tapi—"

"Tidak ada tapi-tapian, pokoknya aku memaksa." Sehun memberikan buku menu pada Baekhyun sebelum gadis itu menolak lagi. "Nah, silakan memesan, Nona Byun."

"Uh..baiklah." Baekhyun pun mengalah. Bola matanya bergerak menelusuri sederet cake dan minuman dalam menu itu, lalu menunjuk satu yang menarik perhatiannya. "Aku pesan satu strawberry shortcake dan strawberry smoothie."

Selesai memesan, Baekhyun meletakkan buku menu itu. Ia hendak menanyakan menu apa yang ingin Sehun pesan, tapi niatannya terhenti saat tersadar Sehun tengah memandangnya cukup intens.

"A–ada apa, Sunbae?"

"Tidak ada. Hanya saja aku baru tahu kau sangat menyukai strawberry?" tanya Sehun, tampak sangat tertarik pada hal-hal yang disukai Baekhyun.

"Apa itu aneh?"

Terkekeh renyah, Sehun menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak." Satu senyum manis tersungging di sudut bibir Sehun, membuat pria itu tampak sangat tampan. "Menurutku itu sangat manis."

Merasakan pipinya memanas, Baekhyun langsung saja menundukkan kepalanya, berharap Sehun tidak menyadari momen memalukan itu.

Sementara tak jauh dari tempat mereka, sepasang mata gadis berdarah Cina tengah memerhatikan mereka. Mulutnya sedikit menganga, tak percaya pada apa yang saat ini disaksikannya. Diam-diam, gadis itu mengambil gambar Sehun dan Baekhyun, lalu mengirimkannya pada seseorang.

###

Chanyeol termangu dengan rahang mengeras. Tayangan TV di depan sana entah kenapa tidak terlihat menarik lagi baginya. Atensinya kini terpaku pada ponselnya, tepatnya pada pesan yang baru saja ia terima dari Jieqiong beberapa saat yang lalu.

From: Zhou Jieqiong

Saem, saya melihat Baekhyun Eonnie bersama Oh Saem di Café Creamy.

Kemudian sebuah gambar Sehun dan Baekhyun di dalam sebuah café memenuhi layar ponsel Chanyeol.

###

"Aku harus pulang, Sunbae. Hari sudah mulai gelap." kata Baekhyun sambil bangkit dari duduknya. Ia baru sadar percakapannya dengan Sehun telah menghabiskan waktu selama hampir dua jam.

"Kalau begitu, kuantar pulang ya?" Sehun menawarkan. Tapi langsung dibalas dengan gelengan kepala oleh Baekhyun.

"Tidak usah, aku naik bus saja. Rumahku tidak begitu jauh kok dari sini."

"Eyy~ mana bisa begitu? Ayolah, kuantar pulang saja. Naik motor pasti lebih cepat daripada naik bus. Hm?"

Baekhyun mengemut bibir bawahnya ragu. Ia juga sebenarnya ingin segera pulang, tapi janjinya pada Chanyeol untuk tidak terlalu dekat dengan Sehun, membuatnya tidak nyaman untuk mengiyakan tawaran Sehun. Padahal niatan Baekhyun hanyalah berbincang sedikit dengan Sehun hari ini, sekedar bernostalgia, kemudian tidak terlibat terlalu jauh dengannya.

"Tidak apa, Sunbae. Aku bisa pulang sendiri kok." Baekhyun sekali lagi menolak dengan halus. Tapi sepertinya itu tidak berpengaruh banyak pada Sehun.

"Aku yang apa-apa. Mana mungkin aku membiarkanmu menunggu bus, sementara hari mulai gelap? Kuantar saja ya?"

Melihat Baekhyun yang hanya terdiam, memunculkan spekulasi dalam benak Sehun. Ini pasti tentang Chanyeol.

"Kau ragu karena PCY Saem?"

"Eh?"

Sehun tersenyum tipis, tangannya mengusap lembut surai Baekhyun. "Tenang saja. Aku janji tidak akan memberitahunya soal ini. Pertemuan kita hari ini pun akan kurahasiakan darinya."

"T–tapi—"

"Kita teman, bukan? Aku hanya ingin memastikan temanku pulang dengan selamat, itu saja. Apa itu salah?"

Lagi, Baekhyun terdiam. Ia tidak bisa mengelak ucapan Sehun.

###

Baekhyun turun dari motor Sehun begitu mereka telah sampai di depan kediaman Byun. Sambil tersenyum kecil pada Sehun, Baekhyun memberikan helm yang tadi dipakainya.

"Terima kasih banyak, Sunbae."

"Tidak, aku yang seharusnya berterima kasih karena kau mau jalan-jalan denganku hari ini. Aku senang sekali, Baek."

"Hm, aku juga senang."

Kemudian suasana menjadi hening.

Ini terasa agak canggung bagi Baekhyun, terutama karena Sehun tak berhenti tersenyum manis padanya.

"Uh..baiklah, kalau begitu, aku masuk dulu. Kau juga pulanglah."

"Hm, kau masuklah duluan."

"O–oke."

Detik ketika Baekhyun berbalik, saat itulah Sehun tersentak oleh sesuatu. Pupilnya bergeming pada warna kemerahan di belakang leher Baekhyun. Sehun tahu betul itu bukanlah gigitan serangga atau semacamnya. Itu adalah sebuah kissmark. Dan ia juga tahu pasti dari mana itu berasal.

"Park Chanyeol." desis Sehun. Sorot matanya dalam satu detik berubah menjadi dingin.

###

Satu helaan napas keluar dari celah bibir Baekhyun setelah kegiatan membersihkan tubuhnya selesai. Ia hempaskan tubuhnya di atas ranjang yang empuk, kemudian mengecek ponselnya yang tak ia sentuh semenjak jalan-jalan bersama Sehun. Tidak ada pesan masuk, juga tidak ada panggilan tak terjawab.

Dalam hati, Baekhyun merasa lega. Meski ada rasa bersalah pada Chanyeol, tapi setidaknya hubungannya dengan Sehun sudah membaik. Dan lagi, Sehun sudah berjanji padanya untuk merahasiakan pertemuan mereka hari ini dari Chanyeol. Jadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan, bukan?

"Ah, aku jadi merindukannya!" Baekhyun memeluk erat gulingnya, kemudian memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Benaknya melayang jauh pada sosok Chanyeol.

Padahal belum ada dua puluh empat jam mereka berpisah, tapi Baekhyun sudah merindukan pria jangkung itu. Di saat seperti ini, Baekhyun menyesal karena dia tidak balik menanyakan nomor ponsel Chanyeol ketika kekasihnya itu meminta nomornya.

"Dia sedang apa ya? Akan sangat menyenangkan jika dia menghubungiku duluan." gumamnya dengan bibir mengerucut lucu.

###

Keesokan harinya Chanyeol menjemput Baekhyun seperti biasa. Tidak ada yang aneh dari sikapnya, Chanyeol menyapanya seperti biasa juga tersenyum seperti biasa. Hanya saja, Baekhyun merasa ada yang berbeda dari Chanyeol. Sesuatu—Baekhyun tak bisa memastikan apa, mungkin itu hanya perasaannya saja.

"Maaf aku tak menghubungimu kemarin, keluargaku tiba-tiba datang berkunjung." Kalimat Chanyeol yang pertama setelah menyalakan mesin mobilnya.

"Tidak apa."

Chanyeol melirik Baekhyun melalui ekor matanya. "Kau tidak pergi ke mana-mana lagi setelah kuantar pulang?"

Baekhyun menelan ludahnya kasar. Pertemuannya dengan Sehun kemarin tiba-tiba membuat tenggorokannya terasa begitu kering. "Tidak, aku hanya bermain game dengan Sam di rumah."

Lalu hening.

Baekhyun takut-takut melirik Chanyeol yang pandangannya lurus ke depan. Pria tinggi itu tak mengatakan apa pun lagi, Baekhyun sendiri tak bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya. Dan keheningan ini hanya membuat Baekhyun semakin gelisah. Pikirnya, kenapa Chanyeol diam saja? Mungkinkah Chanyeol tahu bahwa Baekhyun berbohong?

"O–Oppa?"

"Hm?"

"Kenapa..kau diam saja?"

Ekor mata Chanyeol bergerak sebentar ke arah Baekhyun, lalu kembali pada jalanan. "Kau ingin aku mengatakan sesuatu?"

"Uh..tidak, bukan begitu, hanya saja..aku merasa kau tidak seperti biasanya."

"Maksudmu?"

Intonasimu terdengar datar.

Baekhyun ingin sekali berkata begitu, tapi lidahnya malah tidak mengucapkan apa pun. Ada rasa takut di dalam hatinya.

"Tidak, lupakan saja." Menundukkan kepalanya, Baekhyun pun mencoba menghapus pikiran buruk dalam benaknya. Sebisa mungkin ia berpikir positif, bahwa mungkin saja Chanyeol sedang memikirkan hal lain sehingga ia tidak fokus pada intonasinya atau mungkin juga mood Chanyeol memang sedang tidak begitu bagus.

"Hari ini aku mengajar sampai sore. Nanti kau pulang duluan saja, tidak usah menungguku."

"Tidak apa kok, akan kutunggu sampai sele—"

"Tidak, aku ingin kau pulang duluan." Chanyeol memotong ucapan Baekhyun. Intonasinya terdengar dingin kali ini. Dan Baekhyun tak menyukainya, tapi di saat bersamaan, juga tidak bisa membantahnya.

"Baiklah." Tangan Baekhyun mengepal kuat, matanya memandang ke arah lain. "Aku akan pulang duluan."

###

Chanyeol menghempaskan bokongnya ke atas sofa sesampainya ia di ruangannya. Matanya menatap kosong langit-langit ruangan, memikirkan pesan yang dikirim Jieqiong kemarin dan reaksi aneh Baekhyun saat ditanya olehnya. Jelas ada yang tidak beres. Chanyeol pikir tidak mungkin Jieqiong berbohong, asistennya bahkan mengirimkan foto Baekhyun dan Sehun yang sedang mengobrol di sebuah café. Satu-satunya pihak yang berbohong di sini justru kekasihnya sendiri—Byun Baekhyun.

Omong kosong jika Chanyeol berkata bahwa ia baik-baik saja. Maksudnya, bagaimana bisa Baekhyun menemui Sehun diam-diam dan berbohong padanya pagi ini? Namun yang paling membuat Chanyeol kesal adalah fakta bahwa dirinya bahkan tak bisa mengatakan pada Baekhyun tentang perasaannya saat ini. Bahwa ia tak suka Baekhyun berbohong padanya, terutama jika itu menyangkut Sehun. Bahwa ia merasakan firasat aneh setiap kali Baekhyun berhubungan dengan Sehun. Bahwa ia merasa gelisah juga cemburu.

"Sial." Chanyeol mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Kenapa kau menemuinya, Baek?"

Chanyeol benci situasi ini.

###

"AAARGHHH!"

Teriakan frustrasi yang berasal dari mulut Baekhyun itu sontak mengagetkan beberapa orang yang duduk di depan perpustakaan kampus. Beruntung itu hanya di luar, bisa-bisa Baekhyun ditendang keluar jika saja ia berteriak di dalam perpustakaan.

Namun bukan tempatnya sekarang atau pandangan aneh dari beberapa orang di sekitarnya yang Baekhyun pedulikan. Pikirannya terlalu penuh dengan sikap aneh Chanyeol pagi ini dan Baekhyun tak bisa membuat dirinya tenang akan hal itu.

Baekhyun tahu ia sudah menyuruh dirinya untuk tidak berpikiran buruk tentang sikap aneh Chanyeol, tapi sejujurnya, ini mengusiknya. Baekhyun ingin tahu apa yang membuat Chanyeol bersikap berbeda dari biasanya. Apakah karena ia telah melakukan kesalahan atau memang kekasihnya itu sedang memiliki masalah?

"Ugh.." Baekhyun menggerutu tertahan. Perasaannya semakin tak keruan karena jemarinya tak kunjung menemukan akun media sosial milik Chanyeol, padahal ia sudah mencoba menelusuri dengan berbagai nama. "Aish, kenapa pula dia tidak memiliki satu pun akun media sosial?! Memang dia hidup di zaman apa, hah?!"

Kesal tak menghasilkan apa pun, Baekhyun kembali mengerang. Tidak sekeras barusan, tapi cukup menarik perhatian sekelilingnya. Sekarang gadis itu tak tahu harus melakukan apa. Ia merindukan Chanyeol, tapi sudah terlanjur bilang akan pulang duluan.

"Bagaimana ini?" Kepala Baekhyun menunduk lemas. Ia mengemut bibir bawahnya. "Aku ingin bertemu dengannya.." bisiknya kemudian.

###

Sehun mendelik kesal pada Jieqiong yang masih mengekorinya. Kelas Exploring Poetry baru saja selesai, tapi gadis keturunan Cina itu masih saja membanjirinya dengan berbagai pertanyaan—entah itu pertanyaan seputar materi di kelas tadi atau hal sepele lainnya yang bahkan tidak terlalu penting.

"Berhenti mengikuti saya, Jieqiong. Saya ada urusan penting." seru Sehun pada Jieqiong. Tapi gadis cantik itu malah memberinya tatapan memelas.

"Memang Saem mau ke mana? Pertanyaan saya kan belum Saem jawab!"

"Kita bahas pertanyaanmu lain kali, oke? Saya benar-benar harus pergi."

"Tapi Saem, saya benar-benar penasaran!"

"Saya mau ke toilet, memangnya kau mau ikut?!"

"Saem bohong, kan? Toilet kan arahnya berlawanan!"

Sehun mengerang kesal dibuatnya. Pikirnya, ini pasti perintah Chanyeol. Kalau begini caranya, ia mana bisa bertemu Baekhyun dengan leluasa?

"Sunbae, di sana kau rupanya?"

Suara itu lantas mengalihkan atensi Sehun dan Jieqiong. Keduanya sama-sama menghentikan langkah, tepat di depan gadis bermata besar yang tak lain adalah Kyungsoo.

"Kau lupa pada janji kita ya? Aku sudah menunggumu sejak tadi." ucap Kyungsoo pada Sehun. Untuk sesaat, pria berkulit pucat itu hanya mengerjap bingung. Tapi kemudian ia sadar bahwa Kyungsoo sedang berusaha menolongnya.

"Siapa yang lupa?" Sehun merangkul bahu Kyungsoo, turut berakting untuk meyakinkan Jieqiong. "Aku baru saja akan menemuimu."

"Lho? Kalian saling kenal?" Jieqiong menatap bingung Sehun dan Kyungsoo.

"Tentu saja. Bahkan, kami akan pergi berkencan hari ini."

Demi Tuhan, Kyungsoo harus menahan rasa mualnya karena alasan konyol Sehun. Dari sederet alasan yang ada, kenapa 'kencan' yang harus keluar dari mulutnya?

"Kencan? Kalian berdua? Sungguh?" Jieqiong menganga tak percaya.

"Ya, kalau tidak percaya, tanya saja teman kencan saya ini."

Manik Jieqiong kini menuntut kebenaran dari Kyungsoo. "Benarkah itu, Eonnie?"

"Uh..ya." Kyungsoo terpaksa mengiyakan. Ia balas merangkul pinggang Sehun. "Kami akan berkencan. Kau tahu, menonton film dan lain-lain." Lalu mencubit pinggang Sehun sebagai pelampiasan kekesalannya. Sementara Sehun hanya menahan tawa.

"Oh, begitu. Maaf ya Saem, saya tidak tahu." Jieqiong membungkuk minta maaf pada Sehun, tampak percaya dengan sandiwara itu. "Kalau begitu, selamat bersenang-senang kalian berdua. Sekali lagi, maaf saya sudah berpikir yang tidak-tidak tentang Saem."

Sehun memasang senyum palsu. "Tidak apa."

Begitu Jieqiong pergi dari sana, Kyungsoo dengan cepat menarik Sehun ke tempat yang agak sepi dan menusuknya dengan tatapan tajam.

"Kau akan menemui Baekhyun, iya kan?"

"Oh, kau sudah tahu rupanya? Baiklah, sampai jumpa, kalau begitu."

Kyungsoo tentu saja tak membiarkan Sehun pergi dari sana. Ia segera menahan tangan pria bersurai ebony itu agar tetap di tempat, lalu kembali menatapnya dengan tajam.

"Bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk menjaga jarak dengan Baekhyun?"

"Ya, kau sudah."

"Lalu, kenapa kau masih ingin menemuinya?"

"Karena aku tidak peduli. Bye!"

Lagi, Kyungsoo menahan Sehun yang hendak pergi. Kali ini cengkeraman tangannya lebih kuat dari sebelumnya.

"Aku tak bercanda saat mengatakannya, Sunbae. Aku sangat serius."

"Aku juga sangat serius, Kyungsoo-ya. Sekarang, lepaskan tanganku."

"No! Aku tidak akan melepaskan tanganmu. Aku tidak menolongmu dari Jieqiong agar kau bisa menemui Baekhyun, kau paham itu?"

Sehun merotasikan bola matanya bosan. Ia paling benci diceramahi, terutama oleh orang yang lebih muda darinya. "Again—I don't care, okay? Dan setelah pertemuan kami kemarin, kau pikir aku akan berhenti menemuinya? Like hell I will!"

Kyungsoo speechless dibuatnya. Ia tak menyangka Sehun akan tetap menemui Baekhyun, bahkan setelah dia menolongnya dari Jieqiong.

"Aku takkan membiarkanmu menemui Baekhyun." tandas Kyungsoo.

"Atau apa?" Sehun balik menantang. Ia kikis jaraknya dengan Kyungsoo, menyudutkan gadis itu sampai ke dinding. Seringaian tercetak jelas di sudut bibirnya. "Kau punya cara jitu untuk menghentikanku?"

"A–apa?"

"Ayo, kau bilang kau takkan membiarkanku menemui Baekhyun. Apa yang akan kau lakukan sekarang, hm?"

Dengan posisinya yang tersudut dan paras tampan Sehun memenuhi penglihatannya, tak mungkin jika Kyungsoo masih baik-baik saja. Lidahnya mendadak kelu. Jantungnya berdentum kencang dan nyaris meloncat keluar layaknya kecelakaan roller-coaster dalam film Final Destination 3.

"B–berhenti di sana, Sunbae!" Kyungsoo mulai panik.

"Kenapa? Kau takut?"

"A–aku tidak—"

"Jangan khawatir." Sehun mencengkeram tangan Kyungsoo. Wajahnya perlahan mendekati wajah Kyungsoo yang memerah sempurna. "Aku takkan menyakitimu."

Hal berikutnya yang terjadi adalah Kyungsoo memejamkan matanya erat, sementara Sehun menyelinap di antara ceruk leher Kyungsoo dan mendaratkan sebuah kecupan singkat di sana. Itu hanya berlangsung sekitar tiga atau empat detik, tapi sialnya berhasil membuat Kyungsoo melotot dengan napas tertahan.

"Lain kali, aku akan meninggalkan jejak kalau kau berniat menghalangiku lagi, Do Kyungsoo." bisik Sehun penuh ancaman. Tanpa menunggu apa pun lagi, Sehun langsung saja pergi dari sana, meninggalkan Kyungsoo yang masih membeku.

###

Kepala Baekhyun perlahan menyembul dari balik dinding, mengintip sosok sang kekasih yang sedang memerhatikan presentasi beberapa mahasiswa di depan kelas. Ya, pada akhirnya Baekhyun tidak pulang duluan, malah pergi ke ruangan kelas di mana Chanyeol mengajar. Bukan untuk menemuinya, tapi untuk melihatnya saja. Sedikit konyol—memang, tapi Baekhyun tak punya rencana lain selain yang satu ini.

Well, setidaknya dengan memandangnya dari jarak jauh, rasa rindu Baekhyun pada Chanyeol sedikitnya bisa terobati.

"Ah, sial. Kenapa dia begitu tampan?"

Merasakan jantungnya berdentum keras, Baekhyun refleks menggigit bibir bawahnya. Diam-diam ia merasa iri pada mahasiswa-mahasiswa di dalam kelas itu yang bisa puas memandangi Chanyeol selama kelas berlangsung. Meski terlihat kentara Chanyeol hanya fokus pada presentasi di depan kelas, tapi tetap saja Baekhyun iri pada mereka yang berada di dalam sana.

"Hebat. Sekarang kau terlihat seperti seorang stalker, Byun Baekhyun. Di mana harga dirimu, hah?"

Baekhyun seharusnya menghentikan hal memalukan ini segera setelah ia mengumpati dirinya sendiri, tapi maniknya malah semakin melekat pada sosok Chanyeol, seolah mereka punya pemikiran sendiri.

"Yak, Park Chanyeol.." cicit Baekhyun. "Kenapa kau malah menyuruhku pulang duluan?"

Chanyeol mengangguk kecil di dalam sana, lalu mengetikkan sesuatu di laptopnya.

"Padahal aku ingin menghabiskan waktu denganmu, tapi kenapa kau malah tidak peka, hah? Menyebalkan sekali." Kali ini Baekhyun merajuk. Bibirnya mengerucut lucu. "Lihat ke sini, bodoh.."

Chanyeol berdiri di depan kelas, mengatakan sesuatu yang entah apa.

"Aku di sini, menengoklah seben—"

Bola mata Baekhyun hampir saja keluar saat Chanyeol benar-benar menengok ke arahnya. Mata mereka sempat bertabrakkan selama tiga detik, sebelum Baekhyun memutuskan kontak mata mereka dengan menyembunyikan tubuhnya di balik tembok. Demi apa pun, Baekhyun tak mengharapkan hal ini terjadi. Apa tanpa sadar tadi ia bicara terlalu keras?

"Astaga, astaga! B–bagaimana ini?!" seru Baekhyun panik. Bola matanya bergerak gelisah, jantungnya berdetak menggila. Dalam hati, ia merutuki tindakan konyolnya yang berakhir petaka ini. "Kumohon, jangan keluar, jangan keluar, jangan keluar! Tetaplah di dalam—"

CKLEK.

Panik melihat pintu ruangan kelas yang tiba-tiba dibuka dari dalam, Baekhyun tanpa pikir panjang langsung memutar tubuhnya dan berlari menuruni tangga. Namun saking rusuhnya, gadis itu malah tersandung kakinya sendiri dan berakhir dengan terjatuh di tiga anak tangga terakhir.

"Akh.." Baekhyun mengerang kesakitan. Ia mencoba untuk bangkit dari posisinya, tapi kakinya malah semakin sakit ketika digerakkan.

"Byun Baekhyun?"

Baekhyun membeku kala suara bass milik Chanyeol memanggil namanya dari atas. Ia tak berani mendongak, terlebih karena langkah sepatu yang semakin mendekatinya.

Tamatlah riwayatmu, Byun Baekhyun.

TBC