Bau menyengat alkohol menguar ke dalam ruang lab tatkala salah satu botol berisi cairan pun jatuh ke lantai. Tubuh mungil merosot ke lantai seakan ditarik paksa gravitasi. Wajah berubah pucat tatkala seorang teman laki-lakinya tiba-tiba masuk ke dalam lab. Tak berbeda jauh, anak laki-laki itu pun terkejut dengan keberadaan temannya.
"Bagaimana kau bisa kesini, Rin? Bukankah seharusnya kau berada di rumah? Dimana Len." Bukannya menjawab, sebuah isak tangis mulai terdengar yang membuat Kaito panik. "A-ah, Rin! Jangan menangis!"
Isak tangis yang semakin besar membuat Kaito kebingungan. Matanya mulai mencari sesuatu yang bisa membantu. Tepat di saat dirinya membutuhkan, ternyata di salah satu meja lab ada bantal bulat berbentuk jeruk tergeletak disana. Sepertinya itu milik Rin yang ia bawa saat pergi ke sekolah bersama Len.
Kaito meninggalkan pintu lab tertutup sendiri saat tangannya tak lagi menjadi penahan. Kaki jenjang itu melangkah cepat ke arah bantal jeruk dan mengambilnya. Entah mengapa Kaito merasa senang seakan mendapat barang rare dari sekian banyak gacha ampasnya. Kaito mendekati Rin perlahan seraya menunjukan bantal yang ia yakini milik gadis itu.
"Lihat, Rin! Ini milikmu, bukan?" Kata Kaito saat mendekati Rin. "Kau pasti mengingatku 'kan? Jadi jangan menangis."
Kaito berjongkok di jarak sekitar dua setengah meter dari tempat Rin duduk. Ia menyodorkan bantal jeruk itu pada Rin yang menangis seraya memeluk lututnya. Tubuh gemetar gadis itu tetap menjadi perhatiannya, dan di saat inilah ia semakin merasa bersalah atas kondisi Rin. Inginnya ia meninggalkan gadis itu setelah memberikan bantal tersebut. Tapi, meninggalkannya sendiri dalam kondisi seperti ini bukanlah hal yang bagus.
"Tenang, aku tidak akan mendekat lebih dari ini tanpa ijinmu."
Beberapa menit berlalu tanpa adanya perubahan. Rin masih tetap menangis seraya menenggelamkan wajahnya di kedua kakinya yang ia peluk erat, dan Kaito hanya mengubah posisi dari berjongkok menjadi duduk di lantai. Bantal jeruk yang sejak tadi dipegang, kini berada di lantai. Kaito menaruhnya di lantai dan menggesernya lebih dekat pada Rin.
Perlahan, suara tangis Rin mulai mereda, dan digantikan dengan keheningan. Takut terjadi sesuatu pada Rin, Kaito pun membuka suara. "Err ... Rin. Kau baik-baik saja?" Rin mengeratkan pelukan pada kedua kakinya. Sepertinya Rin sudah lebih tenang sekarang. "Syukurlah kalau kau baik-baik saja."
"Aku benci diriku."
"Hei, jangan berkata seperti itu, Rin." Kaito teringat akan keberadaan Len saat ini. Maka dari itu, ia merogoh saku celana mencari ponsel. "Akan ku hubungi Len. Tunggu sebentar, Okay?"
"Aku ingat sekarang," mendengar kata-kata Rin, Kaito mengalihkan perhatiannya dari ponsel ke Rin. "Ini bukan pertama kalinya aku menerima pelecehan seperti ini."
"Huh?" Kaito menyeringitkan dahi bingung saat mendengar kata-kata Rin. "Apa yang kau bicarakan?"
Tubuh Rin kembali gemetar, sepertinya gadis itu sedang menahan air matanya keluar. "Sudah lama sekali aku melupakannya. Tapi, mereka membuatku mengingatnya lagi."
"Apa yang kau lupakan? Siapa yang kau maksud?" Entah mungkin karena terlalu bodoh, Kaito masih belum bisa mencerna kata-kata Rin saat ini.
"Ayahku pernah hampir memperkosaku beberapa kali," kata Rin dengan lirih yang membuat Kaito bungkam. "Tapi, Ibuku selalu memergokinya."
"Rin."
"Ibu selalu berpikir kalau aku yang menggoda Ayah. Aku dipukul hingga kakiku mati rasa, beberapa kali aku kehabisan nafas karena ditekan kedalam bak berisi air, tanganku terbakar saat dia menyiramkan minyak panas." Isak kecil mulai kembali terdengar dari mulut Rin. "Aku bahkan tak mau berpikir untuk menggoda orang yang selalu memukul atau menendangku saat diriku berontak."
"Oi, Rin. Apa kau sudah ceritakan ini pada Len?" Tanya Kaito dengan nada serius. Tapi, pemuda biru itu tetap tak berniat untuk mengurangi jarak diantara mereka.
"Saat mereka melakukannya, seluruh ingatanku kembali. Bahkan, sampai sekarang aku masih bisa merasakan sentuhan mereka ditubuhku. Dan setiap aku melihat laki-laki di dekatku, rasanya sentuhan itu semakin jelas. Dan rasa sakitnya selalu terbayang dibenakku." Kepala kuning itu terangkat perlahan menatap Kaito dengan lelehan air mata. "Apa yang harus kulakukan?"
"Rin." Tangan Kaito terulur kearah Rin. Ia berniat menenangkan Rin, tapi gadis itu malah terlonjak kaget dan menjauh. Kaito tersenyum maklum, ia menarik tangannya kembali. "Aku akan menghubungi Len. Bagaimana pun kau harus menceritakan ini pada Len."
Rin terdiam saat nama Len disebut. "Tidak." Gumam Rin dengan nada kecil, tapi sepertinya Kaito tak mendengar hal tersebut. Kaito kembali memegang ponselnya yang sempat ia taruh di lantai. "Tidak boleh!"
Rin menerjang tubuh Kaito. Tangannya merampas paksa ponsel dari tangan Kaito. Setelah mendapatkan yang ia mau, ia kembali menjauhkan diri dari Kaito. Kaito masih terlihat shock dengan Rin yang menerjangnya tadi. Pemuda itu tidak berpikir kalau Rin akan menerjangnya. Ditambah ponselnya kini terlempar jauh ke sudut lab yang menyisakan retakan pada layarnya.
"Kumohon, jangan katakan pada Len."
Sebenarnya bukan masalah bagi Kaito untuk tidak mengatakan pada Len. Tatapan nanar ia berikan pada ponsel biru disana yang baru lunas sebulan lalu. Kaito kembali menatap Rin yang masih memandangnya seakan memohon untuk diberi belas kasihan. Saat ini Kaito hanya bisa menghela nafas dan menerima kenyataan bahwa ia harus membeli ponsel baru.
"Baiklah, aku takkan mengatakannya pada siapapun termasuk Len." Kaito memberikan senyumnya pada Rin yang sepertinya berhasil menenangkan gadis itu.
"Terima kasih."
~TWINS~
"Sudah lebih baik, Rin?"
Hampir satu jam berlalu sejak kejadian tadi. Kaito dan Rin masih dalam posisi duduk berjauhan. Rin sudah tidak begitu histeris, tangisannya sudah berhenti sejak tadi. Dan ponsel kaito kini sudah ditangan pemiliknya meski dalam keadaan mengkhawatirkan.
"Kalau ada hal yang ingin kau katakan, katakan saja. Aku akan mendengar ceritamu."
"Apa selama ini kau sudah tau hubungan antara Len dan Miku?"
"Hmm ... Yahh ..." Kaito menengadah menatap langit-langit. "Anggap saja seperti itu."
"Kau tahu, dan kau tidak memberitahukannya padaku?"
"Memangnya salah jika mereka bersama?" Kepala biru itu menengok menatap Rin yang duduk seraya menenggelamkan kepala di kedua kaki seperti sebelumnya.
"Aku tidak suka melihat mereka bersama."
"Dan aku pun tidak suka melihatmu terlalu dekat dengan laki-laki lain, termasuk Len," pernyataan Kaito membuat Rin mengangkat kepala dan menatap pria biru di sampingnya. Kaito tersenyum mendapati Rin menatapnya. "Aku hanya bercanda."
"Berhenti bertingkah bodoh seperti itu!"
"Tapi, itu membuatmu lebih bersemangat, bukan?"
Bibir merah muda alami terbungkam, kepala kuning itu ia biarkan menunduk kembali. "Apa kau pernah melakukannya?"
"Hmm? Melakukan apa?"
"Sex."
"A-ahh ..." Wajah Kaito terlihat sedikit merona saat mendengar pernyataan Rin. Pipi yang tidak gatal pun digaruk dengan telunjuk hanya untuk mengalihkan rasa gugup. "Di umurku sekarang, bohong jika aku mengatakan belum pernah melakukannya."
"Apa begitu penting melakukan hal tersebut di jaman sekarang? Maksudku, mengapa begitu banyak orang yang suka melakukannya padahal itu benar-benar terasa menyakitkan."
"Ahh ... maksudmu kejadian yang kau alami?" Kaito menyenderkan kepala pada dinding lab di belakangnya. "Hanya karena kau mendapat kejadian buruk, bukan berarti apa yang kau alami berlaku pada semua orang, Rin."
"Bahkan, Miku sampai harus dibawa ke rumah sakit olehmu 'kan?"
"Err ... itu beda hal, Rin."
"Apanya yang berbeda? Kami sama-sama korban disini." Rin menengadah menatap langit-langit Lab.
"Sepertinya itu tidak berlaku untuk Miku," kata Kaito yang sebenarnya ia pun bingung untuk menjelaskan. Kaito menengok ke arah Rin. "Kau akan mengerti apa yang kumaksud suatu saat nanti. Kau hanya membutuhkan laki-laki yang menjagamu seperti berlian berharga miliknya."
Ceklek!
"Maaf, Rin! Tadi Kiyo-Kaito."
Pintu terbuka memperlihatkan pria berambut kuning yang berdiri di ambang pintu. Kaito yang melihat kedatangan sahabatnya itu pun bangkit berdiri. Sepertinya waktu bersama Rin sudah habis.
"Baiklah, Rin. Aku pergi dulu, jangan lupa untuk mengingat perkataanku."
Len memberikan tatapan sinis pada Kaito saat pemuda biru itu mendekat. "Sedang apa kau disini?"
"Tidak ada, kami hanya mengobrol," jawab Kaito lalu menepuk pundak sahabatnya itu. "Kusarankan, jangan meninggalkan Rin sendirian lagi. Atau aku akan mengambil Rin darimu."
"Jangan harap kau bisa mengambilnya dariku."
"Aku ingin pulang."
Kedua pasang mata itu kini beralih pada Rin yang masih duduk dalam posisi memeluk kakinya. Kaito yang pertama mengalihkan perhatian dari Rin, pemuda itu menepuk-nepuk bahu Len. Senyum penuh arti ia berikan untuk sahabatnya itu.
"Baiklah, sepertinya aku harus pergi," kata Kaito seraya berlalu meninggalkan Len yang masih menatapnya dengan pandagan tidak suka hingga ia menghilang dibalik tikungan koridor.
"Aku ingin pulang."
Len beralih pada Rin yang kini menatapnya. "Ah, baiklah. Kita pulang setelah membereskan lab." Len menatap pecahan botol kaya dan cairan kimia yang berserakan tak jauh dari tempat Rin duduk.
Mengikuti arah mata Len, Rin pun mengangguk kecil. "Aku mengerti."
To be Continue.
Np:
Padahal niatnya mau masukin Lime antara Kaito dan Rin. Tpi, mengingat kondisi Rin yang belum stabil, kayanya agak aneh. Dan kalau isinya tiap chapter begituan, ini cerita kaya sampah aja. Padahal saya mau menekankan kehidupan mereka.
Kalau cerita aneh, ya Maaf
