"Byun Baekhyun?"
Baekhyun membeku kala suara bass milik Chanyeol memanggil namanya dari atas. Ia tak berani mendongak, terlebih karena langkah sepatu yang semakin mendekatinya.
Tamatlah riwayatmu, Byun Baekhyun.
"Yak," Chanyeol berjongkok tepat di depan Baekhyun, meniliknya dengan alis menukik tajam. "Kenapa kau ada di sini, hah?"
Susah payah Baekhyun menelan ludahnya, berusaha menetralkan detakan jantungnya yang seolah ingin membunuhnya. "A–aku..hanya lewat sini saja.."
Itu alasan bodoh, Baekhyun tahu itu, tapi ia juga tak bisa terang-terangan mengatakan bahwa ia sedang menguntit Chanyeol, bukan? Itu terlalu memalukan.
"A–aku akan pulang sekarang!" seru Baekhyun kemudian. Ia memaksakan dirinya untuk berdiri, tapi malah erangan tertahan yang keluar dari celah bibirnya. Ah, sungguh, rasanya Baekhyun ingin bumi menelannya detik ini juga.
"Naiklah."
Baekhyun mengerjap bingung mendapati Chanyeol berjongkok memunggunginya. "A–apa?"
"Kakimu sepertinya terkilir. Cepat naik ke punggungku."
Jika sebelumnya Baekhyun merasa sangat malu sampai meminta bumi untuk segera menelannya, sekarang ia ingin waktu berhenti detik ini juga. Ia senang sekali. Saking senangnya, ia sampai sulit menahan senyumannya.
"Hm." Baekhyun mengangguk patuh. Perlahan, ia lingkarkan kedua tangannya di leher Chanyeol, lalu menumpukan bobot badannya di tubuh tegap itu.
Samar-samar, Baekhyun bisa mendengar suara detak jantungnya yang berbaur bersama keheningan. Gadis itu tak bisa memikirkan apa pun, terkecuali aroma tubuh Chanyeol yang menguar jelas di penciumannya dan rasa panas yang mulai memenuhi pipi chubby-nya.
"Maaf merepotkan, padahal kau sedang mengajar."
Chanyeol tak menyahut.
"O–omong-omong, kita mau ke mana?"
Lagi, Chanyeol tak memberikan respon apa pun. Semakin hening suasana di sana, semakin canggung atmosfernya. Dan ini menyesakkan dada Baekhyun. Ia tak menyukainya. Ia tahu Chanyeol sedang marah padanya, tapi daripada mendiamkannya seperti ini, lebih baik Chanyeol memarahinya langsung.
"Kau marah padaku, kan?"
Pertanyaan itu sontak menghentikan langkah Chanyeol.
"Jika ya, tolong katakan apa yang membuatmu marah padaku. Aku tidak suka didiamkan begini.."
Mendengar suara Baekhyun yang bergetar di belakang sana, Chanyeol jadi tak tega untuk mendiamkannya lebih lama lagi. Diturunkannya Baekhyun di sebuah bangku, lalu bersimpuh di hadapan gadis itu, menatapnya dengan raut serius.
"Kau benar-benar ingin tahu?" Baekhyun mengangguk dua kali. Chanyeol menghela napas, tangannya menggenggam jemari lentik itu. "Kalau begitu, jawab pertanyaanku dengan jujur." Jeda sejenak. "Kemarin kau tidak bermain game dengan Samuel di rumah, kan?"
"Eh?"
.
.
.
###
AEIPATHY (GS VERSION)
Chapter 11 – Completely Forgotten
Main Casts : Park Chanyeol & Byun Baekhyun
###
.
.
.
"Ke mana kau pergi setelah aku mengantarmu pulang?"
Chanyeol sudah tahu semuanya. Itulah kesimpulan yang bisa Baekhyun ambil. Dari pertanyaan juga sorot matanya, Baekhyun sadar bahwa Chanyeol sudah tahu bahwa kemarin ia pergi menemui Sehun. Entah dari mana Chanyeol mengetahuinya, tapi yang jelas, Baekhyun tak bisa mengelak lagi.
"A–aku..pergi menemui Sehun Sunbae.." Baekhyun menundukkan kepalanya. "Maaf.."
Lamat-lamat rahang Chanyeol mengeras. Ia memang tidak terkejut mendengar pengakuan Baekhyun, tapi tetap saja ia merasa kesal.
"Apa dia yang memintamu menemuinya?"
Baekhyun tidak menjawab pertanyaan itu. Ia takut Chanyeol akan melampiaskan amarahnya pada Sehun jika sampai tahu bahwa Sehun-lah yang memintanya bertemu.
"Kami hanya mengobrol sebentar, Oppa. Sungguh, sama sekali tidak ada yang penting. Setelah itu aku langsung pulang."
Dan kembali hening.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Chanyeol lepaskan tautan jemari mereka dan bangkit dari posisinya. "Aku akan memanggil taksi untukmu."
"Tidak, kumohon!" Baekhyun cepat-cepat memeluk Chanyeol, menahannya pergi. "A–aku mengerti kau marah padaku dan aku minta maaf karena telah berbohong padamu, tapi sungguh, tidak ada apa-apa di antara kami. Sehun Sunbae hanyalah seorang teman dan tidak akan pernah lebih dari itu. Kumohon, percayalah padaku, Oppa.."
Chanyeol tersentak ketika isak Baekhyun tertangkap pendengarannya. Segera ia putar tubuhnya menghadap Baekhyun, lalu menangkup pipinya yang sudah basah akan airmata.
"Y–yak, kenapa kau menangis?" seru Chanyeol agak panik. Ia hendak menghapus airmata Baekhyun, tapi gadis itu sudah lebih dulu memeluknya dengan erat.
"Kumohon, jangan mendiamkanku begini.." ucap Baekhyun di antara isaknya. "Lebih baik kau memarahiku habis-habisan daripada membuatku seolah tidak terlihat. Itu menyiksaku, Oppa.."
Bagi Chanyeol, tak ada yang lebih mengiris hatinya daripada tangis orang yang ia kasihi, terlebih jika itu adalah kekasihnya sendiri. Chanyeol memang marah pada Baekhyun karena sudah berbohong padanya, tapi ia takkan sampai hati untuk membuat Baekhyun menangis, apalagi menyakitinya.
Membalas pelukan itu, Chanyeol kemudian mengusap surai Baekhyun dengan lembut, mencoba menenangkannya. "Maafkan aku, Baek. Membayangkanmu dekat dengan pria itu membuatku resah dan aku tidak suka itu. Aku benar-benar minta maaf jika sikapku menyakitimu.."
Baekhyun menggeleng kuat-kuat. "Tidak, akulah yang salah di sini, kau tak perlu minta maaf, Oppa.."
"Tapi tetap saja aku sudah membuatmu menangis." Chanyeol menangkup wajah Baekhyun, menghapus jejak airmata di pipinya, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat di dahinya. "Mulai sekarang, aku akan berusaha untuk memperbaiki sifatku yang pencemburu ini. Aku tak ingin melihat kekasih mungilku menangis karenaku lagi."
"A–aku juga, mulai sekarang, sebisa mungkin aku akan menjaga jarak dengan Sehun Sunbae."
Chanyeol tersenyum manis. "Thank you." Kemudian membawa kembali Baekhyun ke dalam dekapannya. "I love you, Sweet Muffin.."
"Hm," Baekhyun ikut tersenyum, menerima kehangatan yang Chanyeol salurkan dalam pelukan itu. "I love you too, Chanyeollie Oppa.."
Mendengar panggilan manis itu dari Baekhyun, Chanyeol jadi tak tahan untuk menggodanya. "Kau manis sekali saat memanggilku begitu. Wajahmu bahkan merona sampai ke telinga."
"A–aku tidak merona!"
"Aku bisa fotokan wajahmu kalau kau tidak percaya."
"Ap—hey! Jangan foto aku seenaknya, Oppa!"
"HAHAHA!"
Baik itu Baekhyun maupun Chanyeol, keduanya sama-sama terlarut dalam dunia sendiri sampai tak menyadari kehadiran Sehun yang menyaksikan semuanya dari balik tembok. Tangan pria bermarga Oh itu mengepal kuat, sorot matanya mengisyaratkan amarah.
###
Sudah hampir satu jam lamanya Kyungsoo berdiam diri di depan cermin wastafel, menatap lurus ke arah lehernya yang dikecup Sehun. Ia tak bisa berhenti memikirkan kejadian tadi di kampus. Sehun memang tidak meninggalkan bekas apa pun di lehernya, tapi tetap saja itu mengganggu pikiran Kyungsoo. Dan sialnya, setiap kali ia mengingatnya, leher dan wajahnya menjadi panas. Ia merona hebat.
"AISH!" Kyungsoo mengumpat. "Sialan kau, Oh Sehun! Dasar brengsek!"
"Lain kali, aku akan meninggalkan jejak kalau kau berniat menghalangiku lagi, Do Kyungsoo."
"Lain kali jika kau berani menyentuhku lagi, aku akan menendang selangkanganmu, Muka Tembok." Kyungsoo mengepalkan kedua tangannya, membayangkan hal yang kemungkinan besar akan dilakukannya jika bertemu Sehun lagi.
Demi apa pun, Kyungsoo baru tahu sifat asli Sehun ternyata seperti ini. Padahal selama ini ia kira Sehun adalah pria dengan sifat dewasa dan pintar membaca situasi. Jika saja Kyungsoo tahu sifat asli Sehun lebih awal, ia akan menjaga jarak dan melarang keras Baekhyun berteman dengan pria itu.
"Aku harus memperingatkan Byun Baekhyun." tandas Kyungsoo, lalu meraih ponselnya untuk menghubungi nomor Baekhyun. Terdengar beberapa kali nada sambung, sebelum suara sahabatnya terdengar. "Baek, besok jam berapa kau berangkat ke kampus?"
"Aku tidak akan ke kampus besok."
"Eh? Kenapa?"
"Um..aku baru jatuh dari tangga dan membuat kakiku terkilir."
"Apa? Bagaimana bisa?" seru Kyungsoo, kaget.
"Sebenarnya tadi pagi ada sedikit drama antara aku dan Chanyeol Oppa."
"Drama apa?"
"Dia marah padaku karena sudah berbohong padanya tentang pertemuanku kemarin dengan Sehun Sunbae. Intinya dia memintaku pulang duluan, tapi—"
"Tunggu dulu, kau bertemu Sehun Sunbae kemarin? Tanpa sepengetahuan PCY Saem?"
"Iya."
"Kenapa kau iyakan ajakannya? Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa PCY Saem itu seorang pencemburu?"
"Aku tahu, tapi apa yang bisa kulakukan ketika Sehun Sunbae memohon untuk bertemu? Aku mana bisa menolaknya."
Membuang napas kasar, Kyungsoo memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Seharusnya ia bisa memprediksi ini sebelumnya. Baekhyun itu terlampau baik dan ia terhimpit di antara dua pria yang (kemungkinan) sama besar tingkat kecemburuannya.
"Baek, sebaiknya kau jangan terlalu dekat dengan Sehun Sunbae, oke?"
"Kenapa memangnya?"
"Aku punya firasat dia menyukaimu."
Beberapa detik Baekhyun terdiam, sebelum akhirnya meledakkan tawanya. "Astaga, Do Kyungsoo. Dari mana kau mendapat pemikiran seperti itu? Sehun Sunbae tidak menyukaiku. Kami hanya berteman."
"Yeah? Karena dia berusaha kabur dari kejaran Jieqiong demi menemuimu."
"Lalu? Itu tak membuktikan bahwa dia menyukaiku."
"Ayolah! Dari caranya menatapmu saja sudah ketahuan dia tidak melihatmu sebagai teman. Kau saja yang tidak peka!"
"Hey, aku ini peka, tahu!"
Kyungsoo merotasikan bola matanya bosan. "Kau bahkan telat menyadari perasaanmu sendiri pada PCY Saem, apanya yang peka?"
Baekhyun membalas dengan dengusan. "Bagaimana bisa itu dibandingkan dengan hal ini?"
Kyungsoo menghela napas sejenak. Susah memang bicara dengan Baekhyun mode keras kepala. "Kau ingat saat aku mengatakan bahwa PCY Saem menyukaimu?"
"Yeah?"
"ITU DIA!" Kyungsoo menekankan. "Itu yang kulihat di mata Sehun Sunbae ketika menatapmu, sama seperti ketika PCY Saem menatapmu, Byun Baekhyun."
Lamat-lamat Baekhyun memikirkan perkataan Kyungsoo. Tentang bagaimana sikap Sehun yang jauh lebih manis ketimbang saat mereka kuliah dulu, juga bagaimana cara Sehun menatap matanya sekarang. Dan ya, memang ada sesuatu yang berbeda dalam sorot manik hazel itu.
"Entahlah, Kyungsoo-ya. Aku masih tidak mau banyak berspekulasi. Bisa saja itu karena efek kami bertemu lagi setelah sekian lama?"
Kyungsoo menggeram tertahan. "Ya sudah, terserah kau saja. Aku mau tidur. Bye."
Bibir Baekhyun mengerucut setelah Kyungsoo menutup telepon mereka secara sepihak. Memeluk gulingnya erat, gadis itu kemudian menghela napas panjang. Benaknya tiba-tiba dipenuhi sosok Sehun, membuat hatinya gelisah untuk alasan yang ia khawatirkan.
"Itu tidak benar, kan, Sunbae?" bisiknya lirih. "Kita..hanya akan tetap menjadi teman, kan?"
Itu adalah harapan Baekhyun.
###
Satu alis Nana terangkat tinggi mendapati Chanyeol datang ke apartemennya, dengan senyuman lebar dan satu kotak pizza di tangannya.
"Hey, kau sudah makan? Ayo kita makan pizza~"
Oke, ini benar-benar aneh. Dan semakin aneh karena Chanyeol bahkan tidak menghubunginya terlebih dahulu sebelum datang, lalu tahu-tahu mengajaknya makan pizza. Nana tebak mood si jangkung pasti sedang sangat bagus sampai tak sadar senyumannya mengembang terlampau lebar.
"Sesuatu yang bagus terjadi?"
Seringaian Chanyeol pun menjadi jawaban. Tak perlu bertanya lebih lanjut lagi, Nana langsung saja membiarkan Chanyeol masuk ke dalam apartemennya. Well, kalau bukan karena mendapatkan promosi jabatan, Nana tebak ini ada hubungannya dengan Baekhyun.
"Jadi hal bagus apa yang membuatmu datang kemari dengan sekotak pizza, hm?" tanya Nana setelah bergabung dengan Chanyeol di ruang TV.
"Aku sudah resmi dengan Baekhyun."
Satu kalimat itu nyaris membuat Nana tersedak ludahnya sendiri. Ia melotot, menatap Chanyeol tak percaya. Nana memang sempat menebak kedatangan Chanyeol kali ini ada hubungannya dengan Baekhyun, tapi ia sama sekali tak meyangka si jangkung akan mengatakan kalimat sakral itu dengan sangat lancar.
"Demi apa?" Nana memastikan.
"Sebenarnya sejak dua hari yang lalu."
"WHAT?! Dan kau baru memberitahuku sekarang?!" protes Nana. Alisnya menukik tajam tak terima.
"Hey, aku terlalu sibuk dengan hubungan kami, maklumi sajalah." ujar Chanyeol enteng. "Omong-omong, aku ingin minta saranmu."
"Oh, great. Setelah terlambat memberitahuku berita bagus ini, sekarang kau ingin minta saran dariku?"
Rotasi bola mata Chanyeol pun menjadi respon. Menjengkelkan rasanya kalau Nana sudah dalam mode drama.
"Okay, so listen. Aku memang senang karena sudah berhasil mengklaim Baekhyun, tapi ada hal yang masih menggangguku."
Nana mengerutkan dahi. "Hal apa?"
"Pria ini, namanya Oh Sehun dan dia adalah dosen baru di SNU. Baekhyun bilang dia adalah sunbae-nya tiga tahun yang lalu, tapi entah kenapa dia terus menerus mendekati Baekhyun."
"Maksudmu pria Oh ini mungkin menyukai Baekhyun?"
Chanyeol menjentikkan jarinya, mengisyaratkan bahwa tebakan Nana benar-benar telak.
"Itu sebabnya aku ingin minta saranmu soal ini. Aku ini bukan tipe pria yang tahan melihat kekasihnya berdekatan dengan pria lain, kau tahu?"
"Relax, Chan, itu hal yang normal. Lalu soal pria Oh ini, apa dulunya dia punya sejarah dengan Baekhyun?"
"Kurasa tidak. Baekhyun bilang mereka hanya berteman. Dan aku tahu betul gerak-geriknya jika sedang berbohong, jadi aku yakin tentang yang satu ini."
"Apa Baekhyun menunjukkan reaksi atau tanda-tanda yang menunjukkan bahwa ia tertarik pada pria Oh ini?"
"Aku belum pernah melihatnya merona saat membicarakannya, jadi kurasa juga tidak."
"Apa Baekhyun pernah secara tidak sadar membicarakan kebaikan atau kelebihan pria Oh ini di hadapanmu?"
"Tidak, sekalinya Baekhyun membicarakannya pun itu karena aku yang bertanya."
Nana manggut-manggut paham. "Kalau begitu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sudah bisa dipastikan Baekhyun benar-benar menganggap pria Oh itu sebagai teman."
"Menurutmu begitu?"
"Berdasarkan jawabanmu, ya." Nana menepuk-nepuk pundak Chanyeol, memberinya semangat. "Tenanglah, kau tidak perlu merasa tersaingi begitu. Satu-satunya yang harus kau waspadai adalah jika Baekhyun juga tertarik pada pria Oh itu, which—she's not. So, it's totally fine."
Chanyeol tersenyum lega mendengarnya. "Ya, kurasa juga begitu."
"Jadi masalahnya sudah beres, kan? Tugasmu sekarang adalah mempertahankan hubungan kalian, lalu ketika Baekhyun sudah siap, kau langsung membawanya ke hadapan orangtuamu dan yakinkan mereka bahwa dia-lah yang kau cintai."
"Hm, doakan aku supaya semuanya berjalan lancar, oke?"
Nana tersenyum tiga jari. "Tentu saja!"
###
Baekhyun akhirnya bisa menghembuskan napas lega begitu Samuel berangkat ke sekolah. Adiknya itu terlampau khawatir dengan keadaan kakinya yang terkilir sampai-sampai mengulangi pertanyaan yang intinya sama—bahwa ia akan tinggal di rumah jika Baekhyun merasa tidak baik-baik saja. Tapi beruntung Samuel bisa diyakinkan dua menit yang lalu.
Sekarang, tinggal Baekhyun sendirian di rumah. Gadis itu sengaja duduk santai di ruang keluarga kalau-kalau ada yang memencet bel, jadi ia tak perlu naik-turun tangga. Sebenarnya yang terpenting dari itu semua adalah Baekhyun sedang menanti kedatangan Chanyeol. Semalam kekasihnya itu sudah berjanji akan menengoknya hari ini, meski belum bisa dipastikan jam berapa.
Ingin sekali Baekhyun mengirim pesan pada Chanyeol untuk bertanya jam berapa ia akan menengoknya, tapi Baekhyun takut mengganggu karena seingatnya Chanyeol ada jadwal mengajar pagi ini. Jadi ia putuskan untuk menunggu saja.
TING TONG!
"Oh?" Wajah Baekhyun tiba-tiba berseri. Benaknya tak memikirkan siapa pun kecuali Chanyeol. "Ya, sebentar!" Sedikit tertatih, Baekhyun berjalan menuju pintu untuk membukanya. Ia sudah sedikit ini untuk menerjang kekasihnya dengan pelukan erat, namun ternyata sosok yang berdiri di hadapannya bukanlah si jangkung bersurai ash grey.
"Hey."
Itu Oh Sehun.
"S–Sunbae?" Bola mata Baekhyun bergerak gelisah. Ia sungguh tak menyangka Sehun datang ke rumahnya. "A–ada perlu apa kau datang kemari?"
"Apa lagi?" Sehun menyamakan tinggi badannya dengan Baekhyun, tersenyum manis pada si mungil. "Tentu saja untuk menengokmu. Kemarin kakimu terkilir, kan?"
"Eh?"
"Apa aku boleh masuk?"
"Uh..i–itu.." Baekhyun menggigit bibir bawahnya ragu, tak tahu harus menjawab apa. Janji yang kemarin ia buat dengan Chanyeol terus berputar dalam benaknya, membuatnya merasa tak enak hati pada Sehun. "M–maaf, Sunbae, kupikir kau sebaiknya pulang."
"Kenapa?"
"Aku.." Baekhyun menundukkan kepalanya, tak berani menatap balik manik Sehun. "Chanyeol Oppa akan datang sebentar lagi, aku tak ingin dia berpikiran yang tidak-tidak tentang kita."
Lalu hening. Keadaan seketika menjadi serba canggung dan Baekhyun tak ingin menerka-nerka raut muka Sehun saat ini.
"Baiklah." Sehun mendaratkan satu usapan lembut di puncak kepala Baekhyun, membuat kepalanya mendongak perlahan. "Tapi bagaimana keadaan kakimu?"
"Kakiku sudah baikan. Kemarin Chanyeol Oppa membawaku ke dokter."
"Syukurlah, kalau begitu. Oh ya, kau sudah sarapan? Aku membawa beberapa macam makanan. Kau mau yang—"
"Tidak usah repot-repot, Sunbae, aku sudah sarapan kok."
Sehun menghela napas panjang mendapatkan respon begitu. Ia tatap lekat Baekhyun. Sepertinya gadis itu sedang menjaga jarak dengannya.
"Kenapa kau begitu canggung, hm? Terakhir kali kita bertemu kau masih bisa bicara santai denganku."
"T–tidak apa-apa."
Sehun tidak bodoh untuk mengartikan gelagat Baekhyun sebagai kebohongan. Ia tahu pasti bahwa Chanyeol-lah penyebab di balik kecanggungan Baekhyun.
"Apa PCY Saem mengatakan sesuatu padamu?"
"Eh?"
"Apa dia memberimu peringatan atau semacamnya? Tidak mungkin kan sikapmu padaku tiba-tiba berubah jika dia tak mengatakan sesuatu?"
Baekhyun terdiam. Ia tak mengelak karena itu memang benar. Chanyeol memang memperingatkannya untuk tak dekat-dekat Sehun. Dan tak bisa dipungkiri, Baekhyun pun tak ingin hubungannya dengan Chanyeol kembali renggang hanya karena sebuah kesalahpahaman.
"Oke, tidak apa." Sehun memasang senyum tipis. Mendapati Baekhyun cukup lama terdiam, Sehun pikir ia tak perlu banyak bertanya lagi. Sudah pasti Chanyeol memberi Baekhyun peringatan tentang dirinya. Namun sebisa mungkin Sehun tidak menunjukkan kekesalannya di hadapan Baekhyun. Salah-salah itu bisa berimbas pada acara pendekatannya.
"Kalau begitu, aku pulang dulu ya?" Sehun mengelus pipi Baekhyun, tersenyum tulus pada gadis itu. "Cepat sembuh, Baekhyunnie.."
Baekhyun membalas senyum itu. "Terima kasih, Sunbae.."
###
Pukul satu siang, Chanyeol sedang dalam perjalanan menuju kediaman Byun. Begitu urusannya dengan pembantu dekan selesai, Chanyeol tak membuang waktu lebih lama lagi untuk segera pamit pulang. Ia ingin cepat-cepat bertemu Baekhyun-nya.
Laju mobil Tesla milik Chanyeol sedikit lebih cepat daripada ketika ia berangkat ke kampus, saking tak sabarnya ingin bertemu Baekhyun. Ketika lampu lalu lintas di perempatan jalan berubah menjadi merah, Chanyeol memanfaatkan waktu untuk sekedar mengecek ponselnya. Di sana ada sebuah pesan dari Baekhyun.
From: My Sweet Muffin
Oppa, kau masih di mana? Kenapa lama sekali? -_-
Chanyeol terkekeh membaca pesan itu. Senyumannya pun terkembang lebar sampai ke telinga hanya dengan membayangkan ekspresi Baekhyun saat mengetik pesan itu. Pikirnya, itu pastilah sangat menggemaskan.
To: My Sweet Muffin
Sebentar lagi, Muffin. Kau mau kubawakan sesuatu?
Dikirim.
Selagi menunggu pesan balasan, Chanyeol mengalihkan padangannya ke arah jalanan lagi. Sebuah ide tiba-tiba muncul dalam benaknya ketika tak sengaja melihat toko bunga yang tak jauh dari posisinya saat ini.
Mungkin memberikan 'kejutan kecil' untuk Baekhyun bukanlah ide yang buruk.
Di saat sedang asyik memikirkan bunga apa yang akan dibeli, ponsel Chanyeol kembali bergetar, menampilkan sebuah pesan masuk dari Baekhyun. Isinya memang singkat, tapi mampu memberikan efek yang besar pada degup jantung Chanyeol.
From: My Sweet Muffin
Hanya kau /
###
Baekhyun menggigit bibir bawahnya gelisah. Sesekali ekor matanya melirik ponselnya, memastikan kalau Chanyeol membalas pesannya. Tapi sayang, tidak ada pesan yang masuk. Ponselnya masih berlayar hitam dan ini sudah setengah jam berlalu semenjak Baekhyun mengirim pesan cheesy itu padahal dilihat dari notifikasinya, Chanyeol sudah membaca pesan itu. Jadi, kenapa masih belum ada pesan balasan?
Raut muka Baekhyun tiba-tiba berubah panik. Lamat-lamat, ia merutuki tindakan konyolnya. "Astaga, bagaimana ini? Apa dia marah ya? Aish, seharusnya aku tak mengirim pesan cheesy itu! Kenapa kau bodoh sekali, Byun Baekhyun?! Bagaimana jika dia menganggapmu lancang? Atau yang lebih buruknya lagi, dia tak mau—"
Ucapan Baekhyun seketika terhenti kala suara mobil yang tak asing memasuki indra pendengarannya. Tubuhnya refleks menegak. Sedikit tergopoh-gopoh ia berjalan menuju jendela, ingin memastikan bahwa ia tak sedang berhalusinasi.
Dan benar saja. Itu memang mobil Tesla milik Chanyeol.
"Astaga, astaga, dia di sini! Bagaimana ini?!" Baekhyun menjadi lebih panik daripada sebelumnya. Cepat-cepat ia rapikan penampilannya, lalu membukakan pintu itu untuk Chanyeol.
"Oh hey, Muffin, kebetulan sekali? Aku baru saja mau memencet bel." kata Chanyeol, lengkap dengan senyuman khas yang memperlihatkan lesung pipinya.
"K–kau datang?" Baekhyun malah terkejut dengan kehadiran kekasihnya itu.
"Tentu saja aku datang, kenapa pertanyaanmu aneh begitu?"
"Tapi, kau tak membalas pesanku. Kupikir kau marah?"
Chanyeol mengerutkan dahi mendengar pertanyaan itu. "Marah? Kenapa pula aku harus marah padamu? Aku tidak membalas pesanmu karena sedang menyetir, Baek."
"E–eh? Sungguh? Jadi bukan karena kau marah padaku?"
"Aigoo~ kau ini sebenarnya memikirkan apa, hm? Lagipula, kenapa kau pikir aku marah padamu?"
"I–itu.." Baekhyun menundukkan kepalanya. Ia jadi malu sendiri. "Karena..pesan terakhir yang kukirim.."
"Pesan terakhir?" Chanyeol merogoh ponselnya dan membaca kembali isi percakapannya dengan Baekhyun. Tapi tak ada yang aneh di sana. Pesan terakhir yang Baekhyun kirim justru terkesan sangat manis baginya. Jadi, kenapa ia harus marah karena pesan itu?
"Aku tidak mengerti, Baek. Kupikir pesanmu normal-normal saja." kata Chanyeol sambil menunjukkan pesan yang terakhir kali Baekhyun kirimkan padanya.
"Kau..tidak merasa kesal atau apa pun?"
Merasa gemas sendiri, Chanyeol pun mencubit hidung Baekhyun. "Sama sekali tidak, my Sweet Muffin. Tidak ada yang salah dari isi pesanmu kok. Oh ya, ini untukmu." ucapnya seraya memberikan buket bunga tulip berwarna merah ke hadapan Baekhyun. "Aku ingin memberimu sedikit kejutan, tapi karena aku tidak tahu kau suka bunga apa, jadi kubelikan saja bunga kesukaanku."
"Eh? Kau suka bunga tulip?" Baekhyun balik bertanya.
"Begitulah. Apa kau juga suka?"
Baekhyun menerima buket itu. Satu senyuman manis terkembang di sudut bibirnya kala wangi bunga tulip meruak ke indra penciumannya. "Aku sangat menyukainya. Terima kasih, Chanyeollie Oppa~"
"Sama-sama, Muffin. Aku senang kau menyukainya."
"Hm. Masuklah, kita mengobrol di dalam~" Baekhyun memberikan ruang agar Chanyeol bisa masuk ke dalam. Keduanya kemudian duduk berdampingan di ruang keluarga.
"Kakimu sudah baikan?"
Baekhyun mengangguk. "Sudah jauh lebih baik, aku bahkan bisa naik-turun tangga sendiri."
"Sungguh? Syukurlah, kalau begitu."
"Oh ya, kau mau minum sesuatu? Biar kubuatkan."
Chanyeol menggeleng tegas menjawabnya. Dan sebagai gantinya, ia menarik tubuh Baekhyun untuk dipeluk, kemudian menyandarkan dagunya dengan nyaman di pundak si mungil. "Aku hanya ingin memelukmu, boleh kan?"
Seiring dengan senyuman yang tak bisa ditahan, Baekhyun membalas pelukan itu. "Kenapa kau bertanya segala?"
Chanyeol terkekeh dibuatnya. "Kau sudah makan?"
"Hm, aku bahkan mengemil tanpa henti saking bosannya menunggumu."
"Ah~ pantas saja perutmu agak buncit—AUW!" Chanyeol meringis keras merasakan jemari lentik Baekhyun mencubit perutnya. Tapi tak lama kemudian, mereka terkekeh bersama. "Aku merindukanmu, kau tahu?" Chanyeol mengayun-ayunkan tubuh Baekhyun dalam pelukannya.
"Aku juga merindukanmu, Chanyeollie Oppa~"
"Dan aku suka setiap kali kau memanggilku 'Chanyeollie Oppa'."
Baekhyun terkekeh kembali. Dilepaskannya pelukan itu dan menggantinya dengan kecupan singkat di bibir Chanyeol. "Kau tidak ada jadwal mengajar lagi setelah ini?"
"Sebenarnya ada nanti sore, jadi aku tidak bisa lama-lama menjengukmu, Muffin."
"Eh? Padahal kau tidak perlu memaksakan diri datang kemari kalau jadwalmu padat."
Chanyeol balas mengecup lembut bibir Baekhyun. Wajah si mungil yang menggemaskan itu ia tangkup kemudian. "Aku mana tahan tak bertemu denganmu sehari saja. Bisa-bisa aku kesulitan bernapas."
"Berhenti menggombal, Oppa!" seru Baekhyun sambil memukul pelan lengan Chanyeol.
"Lho? Bukannya kau yang menggombaliku duluan?"
"Aku? Kapan?"
"Saat aku bertanya 'kau ingin kubawakan sesuatu?' dan kau menjawab 'hanya kau'. Oh, dan jangan lupakan emoji malu-malu kucing itu."
Sekakmat.
Wajah Baekhyun benar-benar menyerupai kepiting rebus sekarang.
"Kau sedang malu ya?" goda Chanyeol, mati-matian menahan tawanya.
"A–aku tidak!"
"Lalu kenapa wajahmu memerah begitu?"
"A–aku hanya merasa kepanasan!"
"Aigoo~ kau manis sekali saat sedang berkelit, Baekhyunnie~"
"AKU TIDAK SEDANG BERKELIT!"
Tawa Chanyeol pun meledak. Cepat-cepat ia kurung Baekhyun dalam pelukannya sebelum si mungil memukulnya lebih keras.
"Ck, menyebalkan! Kenapa kau suka sekali menggodaku?" gerutu Baekhyun. Meski bibirnya mengerucut kesal, tapi tangannya tetap saja melingkar di tubuh Chanyeol.
"Karena reaksimu itu sangat menggemaskan, haha~"
"Alasan macam apa itu? Dasar!"
"Haha, maaf, maaf. Omong-omong, minggu ini kau tidak siaran radio?"
Baekhyun menggeleng. "Aku izin tidak siaran minggu ini. Jarak dari terminal bus ke XOXO Radio lumayan jauh dan aku belum kuat kalau harus berjalan terlalu lama. Memang kenapa, Oppa?"
"Tidak apa, aku hanya rindu suaramu saat sedang siaran."
"Eyy~ kita kan bertemu setiap hari? Masa kau rindu suaraku?"
"Entahlah, kupikir sensasinya berbeda saja. Tapi kali ini, aku mendukung keputusanmu untuk tidak siaran. Kakimu harus sembuh dulu."
"Hm. Oh ya, kapan aku bisa bimbingan skripsi lagi, Oppa?"
"Nanti setelah kakimu sembuh benar."
"Sungguh?"
"Mm-hm. Aku bahkan akan memberikan jadwal khusus untukmu, jadi kau bisa bimbingan skripsi denganku kapan pun kau mau. Hanya beri tahu saja aku sehari sebelumnya, jadi aku bisa mengosongkan jadwalku dulu."
"Woah~ serius? Meski itu akhir pekan, aku tetap boleh bimbingan skripsi denganmu?"
"Yup. Tapi setelahnya," Chanyeol mengerling nakal pada Baekhyun. "Kita pergi berkencan, oke?"
Tersenyum senang, Baekhyun pun mengangguk semangat. "CALL!" Dipeluknya kembali Chanyeol, lebih erat daripada sebelumnya. "Terima kasih banyak, Oppa! Kau memang yang terbaik, hehe~"
"Sama-sama, Baekhyun-ah." Chanyeol mengecup pucuk kepala Baekhyun.
"Ah, ada untungnya juga aku tidak siaran minggu ini. Selain tidak perlu khawatir stalker sialan itu akan muncul lagi, jam istirahatku bisa kugunakan untuk bimbingan skripsi denganmu di akhir pekan."
"Eh? Stalker?"
"Ya, stalker. Aku belum pernah cerita ya? Beberapa minggu ini ada pria bernama 'Jay' yang sering menelepon ke XOXO Radio, menanyakan ini-itu padaku. Yang paling aneh adalah dia tahu beberapa hal tentangku, seolah dia tinggal di dekatku dan memerhatikanku diam-diam."
Mendadak lidah Chanyeol tak bisa memproduksi kata-kata. Ia membeku di tempatnya, dengan mata bergerak gelisah dan dentuman jantung yang mengganggu kinerja otaknya. Baekhyun memang tidak menyadarinya, tapi itu tetap tak membuat Chanyeol tenang. Semua perkataan Baekhyun terus bergema di dalam kepalanya bagaikan sebuah ancaman.
Ancaman retaknya hubungan mereka.
"K–kau tahu siapa pria itu?" tanya Chanyeol was-was. Gelengan kepala Baekhyun menjadi jawaban.
"Aku tidak yakin, tapi sepertinya dia satu fakultas denganku. Dan jika didengar dari suaranya, kemungkinan besar dia lebih tua dariku."
S-H-I-T.
Chanyeol menelan paksa ludahnya. Tebakan Baekhyun benar-benar sangat dekat.
"Jujur, dia membuatku agak takut. Bahkan sampai detik ini, aku tidak tahu siapa pria itu sebenarnya. Itu sebabnya kusebut dia 'stalker'. Aih, memikirkannya saja sudah membuatku merinding!" Menoleh pada Chanyeol, Baekhyun tersenyum begitu manis. "Tapi untungnya ada kau di sampingku, jadi setidaknya aku bisa lebih tenang. Bukankah begitu, Oppa?"
DOUBLE SHIT.
Chanyeol mati kutu sekarang. Dalam hati, pria tinggi itu merutuki dirinya sendiri. Maksudnya, bagaimana mungkin ia lupa tentang identitasnya sebagai 'Jay' dan sampai sekarang masih belum memberitahu Baekhyun soal ini? Lalu setelah perkataan Baekhyun barusan, bagaimana caranya ia bisa mengatakan hal yang sejujurnya pada Baekhyun? Gadis itu pasti akan marah sekali padanya kalau sampai tahu bahwa ia-lah si stalker 'Jay' itu.
"Lain kali, kalau dia menelepon lagi, aku akan katakan bahwa kekasihku itu pria yang protektif. Siapa tahu kan setelah dia tahu aku punya kekasih, dia akan berhenti menggangguku?"
Chanyeol berusaha menarik senyum, sebisa mungkin terlihat natural. "Y–ya, kupikir juga begitu."
Apa yang harus dilakukannya?
TBC
Something's good happened today, so I decided to update this FF. Hope you anticipate the next chapter~
