Sepanjang perjalanan, Chanyeol tak bisa berhenti menggumamkan kata 'sial'. Kepalanya tak henti dipenuhi oleh kata-kata Baekhyun, ketika kekasihnya secara eksplisit mengatakan bahwa ia takut pada pria bernama 'Jay' yang suka meneleponnya ke XOXO Radio.

Masalahnya di sini Baekhyun tidak benar-benar tahu siapa sebenarnya si 'Jay' ini, sementara Chanyeol ragu untuk mengaku karena ini mungkin akan mengancam hubungan mereka. Katakanlah Chanyeol beruntung karena Baekhyun belum pernah mendengar suaranya di telepon. Bisa dipastikan identitas Chanyeol ketahuan jika Baekhyun sadar bahwa suaranya dan suara si 'Jay' sama persis.

Meski belum bisa dipastikan apa yang akan terjadi, entah kenapa Chanyeol merasa Baekhyun akan marah besar padanya jika sampai tahu siapa sebenarnya si 'Jay' yang ia sebut stalker ini. Dan Chanyeol tak mau itu sampai terjadi, terlebih dengan kehadiran Sehun yang kemungkinan besar akan mengambil kesempatan itu untuk merebut Baekhyun darinya.

"Apa boleh buat."

Chanyeol akhirnya mengambil keputusan. Meski berat, sebisa mungkin ia harus menahan diri untuk tidak menelepon Baekhyun juga tidak menjawab telepon darinya. Setidaknya sampai ia tahu kapan waktu yang tepat untuk memberitahu Baekhyun soal ini.

Hanya saja, sekarang yang menjadi pertanyaan adalah—sampai kapan Chanyeol harus bersembunyi?

.

.

.

###

AEIPATHY (GS VERSION)

Chapter 12 – Self-Control

Main Casts : Park Chanyeol & Byun Baekhyun

###

.

.

.

Pagi yang cerah di hari Sabtu ini seolah menjadi awan mendung bagi Sehun ketika Johnny—temannya semasa kuliah—mengajaknya berpesta di rumah Seulgi. Tentu saja Sehun langsung menolaknya. Bukan bermaksud kasar, tapi Sehun benar-benar malas bertemu gadis itu. Mereka seperti memiliki sejarah tak menyenangkan, di mana Seulgi menyebarkan gosip bahwa mereka pacaran dan membuat Sehun kesulitan mendekati Baekhyun.

"Ayolah, Sehun! Lagipula ini hari Sabtu, kau tidak mengajar, kan? Ini hanya pesta kecil, sekadar mengenang masa kuliah. Ya? Ya? YA?" Johnny setengah memohon, setengah memaksa.

Sehun mengacak rambutnya frustrasi. "Sudah kubilang aku tidak mau, Johnny."

"Eyy~ memangnya kau tidak merindukan si cantik Seulgi, hm?" goda Johnny. Tapi niatannya itu gagal total karena nyatanya Seulgi-lah penyebab Sehun malas pergi ke pesta itu.

"NOPE."

"Oh, come on! Sebentar juga tidak apa-apa. Kita kan sudah lama tidak bertemu, teman-teman yang lain juga mengharapkan kau datang. Kumohon~"

Satu yang paling membuat bulu kuduk Sehun merinding adalah ketika Johnny menggunakan aegyo untuk membujuknya. Demi Tuhan, itu tidak menggemaskan, tapi sangat menggelikan.

"Ugh, fine." Sehun mau tidak mau mengiyakan sebelum aegyo menggelikan Johnny kian menjadi.

"Great! We'll see you, then~"

Sehun menghempaskan tubuhnya di sofa begitu sambungan telepon diputus. Benaknya mulai memikirkan berbagai alasan agar ia bisa pulang lebih cepat dari pesta itu, terlebih jika nanti teman-temannya memaksanya untuk tinggal lebih lama di sana.

###

Baekhyun tersenyum puas melihat penampilannya hari ini. Balutan rok jeans biru selutut, dipadukan dengan kaos kuning dan jaket coklat tua. Gadis itu menambahkan sentuhan kecil dengan mencepol rambutnya, yang mana membuat parasnya bertambah manis.

Setengah jam yang lalu, Chanyeol mengundangnya berkunjung ke rumah untuk melakukan bimbingan skripsi yang waktu itu Chanyeol janjikan. Baekhyun tentu saja senang. Secepat mungkin gadis itu bersiap-siap dan sekarang ia hanya perlu menunggu Chanyeol yang sedang dalam perjalanan untuk menjemputnya.

"Yosh! Waktunya berangkat!" seru Baekhyun bersemangat. Ia ambil ranselnya di atas meja, lalu berjalan menuju pintu keluar.

"Kau mau ke mana, Noona?" Samuel tiba-tiba muncul ketika Baekhyun sedang mengikat tali sepatu.

"Aku mau bimbingan skripsi."

Alis Samuel terangkat sebelah mendengarnya. "Di hari Sabtu?"

"Ya, kau tidak lupa kan dosen pembimbingku itu kekasihku sendiri? Katanya mumpung sedang senggang, jadi aku bisa bimbingan hari ini."

Samuel tentu saja tidak langsung percaya. Entah kenapa, ia merasa ada yang janggal. "Lalu, di mana kalian akan melakukan bimbingan? Bukankah SNU tutup di hari Sabtu dan Minggu?"

"Eh? Uh..itu.." Baekhyun memutar otaknya dengan cepat. Ia tidak mungkin mengatakan akan melakukan bimbingan di rumah Chanyeol, bisa-bisa Samuel melarangnya pergi. "Di café dekat kampus."

"Café?"

"Mm-hm, sekalian makan siang. Sudah ya, aku berangkat dulu, Chanyeol Oppa sudah menunggu di depan gerbang. Bye, Sammy!"

Alis Samuel bertautan sempurna begitu sosok Baekhyun menghilang di balik pintu. Ia menoleh ke kiri, di mana jam dinding berada. Sekarang masih pukul sembilan lewat sepuluh menit.

"Bukankah ini masih lama menuju jam makan siang?"

###

"Selamat pagi, Muffin~" Chanyeol menyapa dengan senyuman cerah begitu Baekhyun duduk di kursi penumpang tepat di sampingnya. Gadis bersurai brunette itu membalas dengan cengiran lucu.

"Selamat pagi juga, Seonsaengnim~"

"Oh? Kenapa tiba-tiba kau memanggilku 'Seonsaengnim' lagi, hm?"

"Tentu saja karena hari ini aku akan bimbingan skripsi dengan Saem, hehe~"

"Dasar kau ini." Chanyeol mencubit gemas hidung Baekhyun, yang hanya ditanggapi dengan kekehan renyah dari si mungil. "Omong-omong, kau sudah sarapan, Baek?" tanya Chanyeol sambil menyalakan mesin mobil.

Baekhyun menggeleng sebentar, sebelum kembali sibuk memeriksa isi ranselnya. "Hanya minum susu, aku tidak sempat masak tadi."

"Eyy~ seharusnya kau sarapan dulu, bocah nakal." Chanyeol kembali mencubit hidung Baekhyun, membuat yang lebih muda meringis kecil. "Pokoknya kau harus sarapan dulu sebelum kita mulai bimbingan, paham?"

Tersenyum lebar, Baekhyun memberikan anggukan patuh pada Chanyeol. Sebenarnya Baekhyun memang sengaja tidak sarapan. Pikirnya, daripada memakan masakan sendiri, ia lebih ingin Chanyeol memasak untuknya. Well, Baekhyun suka pria yang pintar memasak, ingat?

"Kau mau sarapan apa?"

"Um..itu..sebenarnya aku ingin kau memasakkanku strawberry pancake, hehe~"

Chanyeol terkekeh melihat tingkah menggemaskan kekasih mungilnya. Ah, ia memang tidak bisa melawan Baekhyun.

"Baiklah, tapi kita mampir ke toko buah dulu, oke? Persediaan strawberry di lemari es-ku sudah menipis."

"Siap, Seonsaengnim~"

###

"Kau sendirian di rumah? Baekhyun Eonnie mana?" Itu Ryujin ketika duduk di ruang keluarga kediaman Byun. Hari ini, ia dan Samuel janjian untuk bermain game yang baru dibelinya kemarin.

"Baekhyun Noona sedang bimbingan skripsi." sahut Samuel seraya meletakkan dua gelas jus jeruk di atas meja.

"Bimbingan skripsi? Bukankah SNU tutup di hari Sabtu?"

"Itulah yang kukatakan padanya, tapi kemudian dia bilang akan bimbingan di café dekat kampus. Dasar, mentang-mentang dosennya adalah kekasihnya."

"Eh? Baekhyun Eonnie pacaran dengan dosennya?"

"Ya, namanya Park Chanyeol. Dia pria yang pernah membentak Baekhyun Noona saat tidak sengaja menumpahkan kopi ke bajunya. Aish, kalau diingat-ingat aku jadi kesal sendiri. Rasanya masih sulit dipercaya Baekhyun Noona pacaran dengan pria itu."

"P–Park Chanyeol, kau bilang? Yang mengajar di SNU, bertubuh tinggi, dan berambut abu?" Setengah kaget Ryujin mengonfirmasi. Ia hanya takut salah orang. Siapa tahu kan Park Chanyeol yang dimaksud Samuel bukanlah Park Chanyeol si tetangganya.

"Ya, yang itu. Kau mengenalnya, Noona?"

Tidak merespon Samuel, Ryujin malah menganga di tempat. Ia sungguh tidak menyangka kekasih Baekhyun adalah sungguh Park Chanyeol yang tinggal di sebelah rumahnya.

"Kau serius? Sejak kapan mereka pacaran? Maksudku, bagaimana bisa mereka pacaran?"

"Aku tidak begitu tahu bagaimana, tapi yang kutahu mereka pacaran belum lama ini. Kenapa kau begitu kaget, Noona?" Samuel memicing curiga. Ia merasa ada yang aneh dari reaksi Ryujin.

"Tidak, hanya saja.." Ryujin tak melanjutkan kalimatnya. Ada sesuatu yang membuatnya penasaran. "Apa Baekhyun Eonnie tahu bahwa Chanyeol Oppa itu 'Jay' yang sering meneleponnya ke XOXO Radio?"

Giliran Samuel yang dibuat menganga kaget. "A–apa kau bilang?"

###

Sehun tak bisa mengubah ekspresi datarnya selama pesta di rumah Seulgi berlangsung. Beberapa kali Sehun mengambil minuman dan cemilan yang disediakan di sana, mengobrol dengan teman-temannya juga sudah ia lakukan, tapi tetap saja rasa jenuh itu masih ada. Pikirnya, daripada di sini, Sehun lebih memilih untuk mengajak Baekhyun makan siang di restoran atau jalan-jalan ke tempat rekreasi. That would be a lot better.

"This is boring." Satu helaan napas yang terdengar berat keluar dari celah bibir Sehun. Memikirkan Baekhyun hanya membuatnya semakin ingin pergi dari pesta ini dan langsung melajukan motornya ke kediaman Byun. Sehun penasaran, kira-kira apa yang Baekhyun lakukan di hari libur ini ya?

"Hey, lama tidak bertemu?" Suara seorang wanita mengembalikan fokus Sehun untuk menoleh ke samping. Itu Seulgi, tersenyum manis padanya. "Kau menikmati pestanya?"

"Tidak juga." jawab Sehun ketus, kemudian kembali memerhatikan teman-temannya yang asyik menari di tengah ruangan. "Johnny memaksaku kemari."

"Aku harus berterima kasih padanya, kalau begitu." Seulgi terkekeh. Sehun merotasikan bola matanya. "Kau tidak merindukanku, hm?" goda Seulgi sambil memperlihatkan aegyo andalannya. Tapi itu sama tak berpengaruh pada Sehun. Yang ada pria bersurai ebony itu mendengus keras.

"Kau harus mencoba lebih keras untuk itu."

"Begitukah?" Bukannya merasa tersinggung, Seulgi justru semakin berani melingkarkan tangannya di lengan Sehun. Baginya, ucapan Sehun lebih terdengar seperti tantangan baginya dan ia menyukai tantangan. "Kalau begitu, kau mau bermain ke kamarku?" bisiknya seduktif.

Sehun tidak langsung menolak. Ia malah memperlihatkan seringaiannya, sebelum membalas dengan sebuah bisikan pula, "Maaf, tapi aku punya kencan yang harus kudatangi."

"Kencan?" Seulgi merengut tak suka. "Dengan siapa? Jangan berbohong padaku!"

"Well, dengan siapa lagi selain dengan Byun Baekhyun?" Sehun mengedipkan sebelah matanya, kemudian berbalik meninggalkan Seulgi yang tampak dongkol di belakang sana.

###

"Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan—"

"Aish! Kenapa ponselnya tidak aktif terus?" Samuel berdecak kesal untuk yang ke-sekian kali sambil melempar asal ponselnya ke ranjang. Atensinya bergeser pada langit luar yang mendung, kemudian beralih pada jam dinding. Sekarang sudah pukul sebelas siang dan Baekhyun belum juga pulang.

"Apa dia masih bimbingan ya?" gumam Samuel. Namun tiba-tiba satu pemikiran lain terlintas dalam benaknya. "Jangan-jangan..bimbingan skripsinya memang sudah selesai dan mereka sedang berkencan sekarang?"

Memikirkan itu, tanpa sadar Samuel tersenyum lebar. Ia tak bisa lebih bersemangat lagi dari ini. Setelah semua yang diceritakan Ryujin mengenai Chanyeol, entah kenapa Samuel malah mendukung Chanyeol.

Memang kesan pertama Chanyeol itu buruk di matanya, tapi jika benar dia adalah si pria 'Jay' itu, maka Samuel takkan ragu untuk memberi restu pada hubungan Baekhyun dan Chanyeol. Setelah sekian lama bertanya-tanya, akhirnya Samuel tahu siapa sebenarnya pria 'Jay' itu dan ia senang ternyata pria itu adalah kekasih Noona-nya sendiri.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah Baekhyun sudah mengetahui soal ini atau belum?

"Kuberi tahu lewat pesan saja." Samuel pun meraih kembali ponselnya, mengetikkan berita mengejutkan ini untuk dikirim pada Baekhyun.

###

Chanyeol melempar asal ponselnya ke sofa saat game yang dimainkannya menampilkan tulisan 'GAME OVER'. Untuk yang kesepuluh kalinya, tatapan Chanyeol tertuju pada Baekhyun yang masih sibuk mengetik revisi skripsi. Gadis itu tampak tak terusik sama sekali, malah asyik memainkan jemari-jemari lentiknya di atas keyboard laptop.

Bimbingan skripsi mereka sudah selesai sekitar dua belas menit yang lalu, tapi daripada menghabiskan waktu dengan Chanyeol, Baekhyun justru lebih memilih untuk langsung mengerjakan revisi skripsinya di sana. Gadis itu bahkan tak mendengarkan ketika Chanyeol memintanya untuk mematikan laptop. Ini sungguh membuat Chanyeol kesal.

"Byun Baekhyun?"

"Hm?"

"Kau belum selesai juga?"

"Belum."

"Tak bisakah kau melanjutkannya nanti di rumah?"

"Tanggung."

"Maukah kau melanjutkannya nanti jika kuberikan buku referensi?"

Baekhyun sontak berhenti mengetik. Matanya berbinar-binar menatap Chanyeol. "Berikan bukunya padaku sekarang, Oppa~"

Mendengus keras, Chanyeol mengambil alih laptop Baekhyun, lalu mematikannya tanpa izin.

"Apa yang kau lakukan?! Aku belum selesai mengetik, Oppa!" Baekhyun meluncurkan protes. Tapi Chanyeol sama sekali tidak memedulikannya. Pria bersurai ash grey itu justru mendekati si mungil, memenjarakannya di pinggiran sofa. "K–kau mau apa?" tanyanya setengah gugup.

"Aku tidak memintamu datang kemari hanya untuk bimbingan skripsi, kau tahu?"

"L–lalu?"

"Kau belum mengerti juga?" Chanyeol mendekati telinga Baekhyun, lalu berisik di sana, "Aku ingin berduaan saja denganmu, Baekhyun-ah."

Lamat-lamat Baekhyun menelan ludahnya. Bisa ia rasakan hentakan keras di balik rongga dadanya yang berlomba-lomba dengan desiran darahnya, menghasilkan efek rona memalukan di kedua pipinya.

Astaga, Baekhyun benar-benar salah tingkah. Kenapa pula ia malah membayangkan yang tidak-tidak hanya ketika suara husky Chanyeol berdengung di telinganya?

"Sekarang kau mengerti, kan?" Chanyeol kembali berbisik. Satu tangannya mengelus pipi Baekhyun, lalu menuntun dagu si mungil agar balik menatap irisnya. "Kau manis sekali saat sedang merona, Sweet Muffin~" kekehnya di ujung kalimat.

"J–jangan menggodaku, Oppa!" Baekhyun merengek lucu. Namun detik berikutnya ia tak melakukan perlawanan saat Chanyeol mengeliminasi jarak bibir mereka. Alih-alih, matanya terpejam, menikmati pergerakan bibir Chanyeol di atas bibirnya.

Rasanya masih manis, juga memabukkan. Seperti madu yang dipadukan dengan wiski. Baekhyun tak bisa berhenti mengecapnya. Daripada melepaskan tautan itu, kedua tangan Baekhyun justru beringsut melingkari leher Chanyeol, memintanya menambah intensitas tautan bibir mereka. Dan Chanyeol tentu saja tak menolak. Ia balas mendekap pinggang ramping Baekhyun sambil menelusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut si mungil untuk memulai pertarungan lidah.

Tautan bibir itu berakhir ketika yang lebih muda mulai kehabisan napas. Sedikit terburu-buru Baekhyun mengais udara, sementara Chanyeol melanjutkan serangannya di leher jenjang si mungil. Bibir tebalnya mengecup dan menggigit kecil di sana. Jika tadi Baekhyun yang tak menghiraukan perkataan Chanyeol, kini giliran Chanyeol yang mengabaikan cicitan Baekhyun dengan menciptakan jejak keunguan di lehernya.

Sedang sibuk-sibuknya terlarut dalam suasana romantis, dering ponsel Chanyeol tiba-tiba saja menginterupsi. Pria tinggi itu berusaha mengabaikannya, tapi si penelepon malah meneleponnya lagi beberapa detik kemudian.

"O–Oppa, sebaiknya kau angkat telepon itu. Siapa tahu penting?" bujuk Baekhyun.

"Aish!" Setengah hati Chanyeol menghentikan kegiatannya dan beralih pada ponselnya yang masih berdering. Di saat seperti ini, Chanyeol menyesal karena tidak mengubah mode deringnya menjadi senyap.

"Siapa itu, Oppa?" tanya Baekhyun penasaran.

"Im Nana." desis Chanyeol, lengkap dengan raut jengkel yang kental. "Sebentar ya?" Ia mengusuk rambut Baekhyun, sebelum berjalan agak jauh dari sana untuk mengangkat telepon itu.

Sementara di tempatnya, Baekhyun diam-diam menghela napas lega. Pipinya yang menunjukkan rona kemerahan itu ditepuk-tepuk, berharap cara itu bisa menghilangkan rona tersebut dan menormalkan kinerja jantungnya yang menggila di dalam sana.

"Astaga, tadi itu hampir saja." gumam Baekhyun sembari membenahi penampilannya yang agak berantakan. Ia minum jus strawberry-nya, sekadar untuk mengusir perasaan gugup, lalu mengambil ponselnya yang sedari tadi ia matikan. Bukannya apa-apa, Baekhyun hanya tak ingin ada yang mengganggu waktunya bersama Chanyeol.

"Hm? Apa ini?" Baekhyun mengerutkan dahinya mendapati beberapa pesan dari Samuel dan deretan notifikasi bahwa Samuel menghubunginya pada jam tertentu. Penasaran, Baekhyun pun membuka pesan itu satu persatu. Isinya hampir sama; meminta Baekhyun untuk mengangkat panggilannya, tapi ada satu pesan yang isinya berbeda dan cukup panjang.

From: Sammy

Noona, kenapa kau tidak mengangkat panggilanku? Aku punya berita mengejutkan untukmu. Kau ingat pria 'Jay' yang sering meneleponmu ke XOXO Radio? Ternyata dia adalah Park Chanyeol! Aku mengetahuinya dari Ryujin Noona, dia menceritakan semuanya padaku. Bukankah ini hebat?Aku sendiri masih sulit percaya, tapi itu memang benar-benar dia. Ah, pokoknya hubungi aku begitu kau membaca pesan ini ya!

Tak elak mata Baekhyun membulat sempurna karena pesan itu. Dibawanya pandangannya pada sosok Chanyeol yang membelakanginya, memandang kekasihnya dengan raut tak percaya.

"Tidak..mungkin.."

###

Sehun melajukan motornya cukup kencang begitu berhasil kabur dari pesta Seulgi. Tak dihiraukannya beberapa bulir langit yang mulai berjatuhan, Sehun hanya ingin segera bertemu Baekhyun.

"Shit!" Umpatan keras itu Sehun layangkan tepat ketika macet terjadi di perempatan jalan. Sepertinya ada kecelakaan di depan sana.

Tak kehilangan akal, Sehun pun mengedarkan pandangannya untuk mencari jalan lain. Dan ia menemukannya; sebuah gang di sebelah kiri jalan. Lebarnya tidak terlalu sempit dan tampaknya ujung gang itu menembus ke jalan raya.

"Baiklah!" Sehun langsung memutar setang motor, berbelok masuk ke dalam gang itu.

###

Tangan Baekhyun meremat ponselnya kuat. Maniknya masih terpaku pada pesan Samuel. Kata per kata ia baca kembali, siapa tahu ia salah baca atau semacamnya. Tapi tidak. Pesan Samuel benar-benar mengatakan bahwa pria 'Jay' itu adalah kekasihnya sendiri—Park Chanyeol. Stalker yang selalu meneleponnya ke XOXO Radio itu adalah orang yang sama dengan yang berdiri di hadapannya.

"Baek, apa kau lapar? Aku mau pesan spicy fried chicken, mungkin kau mau yang lain?"

Atensi Baekhyun berpindah pada si jangkung bersurai ash grey, menusuk sosok itu dengan hazel-nya. Lamat-lamat Baekhyun merasakan darahnya mendidih sampai ke kepala. Hatinya sakit bagaikan ditusuk ribuan jarum dan satu-satunya pertanyaan yang bersarang dalam benaknya adalah kenapa Chanyeol tak memberitahunya soal ini di saat ia sudah menceritakan tentang pria 'Jay' yang sering meneleponnya saat sedang siaran radio?

"Baek, kau kenapa?"

Mengabaikan pertanyaan Chanyeol, Baekhyun segera membereskan barang-barangnya dan bergegas pergi. Pikirannya terlalu kacau untuk peduli pada sekitar, ia hanya ingin pergi dari sana secepat yang ia bisa.

"Hey, kau mau ke mana?" Chanyeol dengan sigap menahan tangan Baekhyun. Alisnya bertautan sempurna. Namun gadis bermarga Byun itu tidak menjawab pertanyaannya dan lebih memilih diam sambil memandang ke arah lain. Itu membuat Chanyeol bingung juga khawatir. "Baek, ada apa? Di luar sudah mulai hujan, sebaiknya kau—"

PLAK!

Satu tamparan itu Baekhyun layangkan pada tangan Chanyeol yang hendak menyentuh wajahnya. Itu adalah refleks, Baekhyun sendiri kaget dengan aksinya sendiri. Namun daripada memikirkan itu, keinginannya untuk pergi dari sana malah semakin besar.

"Aku harus pergi." kata Baekhyun lirih, lalu berjalan cepat melewati Chanyeol. Tak diindahkannya Chanyeol yang menyerukan namanya di belakang sana, Baekhyun justru mempercepat langkahnya keluar dari rumah itu.

Bersamaan dengan Baekhyun yang berhasil mencapai pintu gerbang, motor Sehun muncul dari arah kiri jalan raya. Keduanya refleks berhenti dan menyisakan jarak berkisar dua meter. Untuk beberapa saat, Baekhyun dan Sehun sama-sama terpaku karena kemunculan yang tiba-tiba itu.

"Byun Baekhyun!"

Seruan Chanyeol di belakang sana seolah menyentakkan Baekhyun. Gadis itu cepat-cepat menghampiri Sehun dan memegang tangannya erat.

"Baekhyun-ah? Apa yang terjadi? Kau kenapa?"

Baekhyun hanya bisa menggeleng berkali-kali tanpa menjawab. Rematannya pada tangan Sehun menguat dan bola matanya memanas dalam hitungan detik. Baekhyun sendiri sebenarnya tak tahu kenapa ia berlari pada Sehun. Berhadapan dengan Chanyeol hanya membuat sesak jantungnya dan Baekhyun ingin pergi sejauh mungkin.

"Aku ingin pulang, Sunbae. Kumohon.."

Tajam manik Sehun sontak tertuju pada Chanyeol yang membeku di ambang pintu gerbang rumahnya. Ia tidak tahu ada apa, tapi ia bisa pastikan Baekhyun begini karena Chanyeol.

Balas menggenggam tangan Baekhyun, Sehun kemudian memasangkan helm-nya pada si mungil. "Naiklah, aku akan mengantarmu pulang."

Setelah memastikan Baekhyun duduk nyaman di jok belakang, Sehun pun melajukan motor itu meninggalkan Chanyeol yang bergeming di tempatnya. Tak ada yang mengucapkan sepatah kata, hanya deru ribuan bulir langit yang memecah keheningan.

###

Tak terhitung sudah umpatan yang keluar dari mulut Chanyeol sepeninggal Baekhyun dari rumahnya. Ia sudah mencoba menghubungi gadis itu berkali-kali, tapi tak sekali pun itu tersambung. Ini sungguh membuat Chanyeol frustrasi. Benaknya tak bisa tenang memikirkan Baekhyun, terlebih jika teringat ketika Baekhyun berlari pada Sehun seolah gadis itu tak menginginkan kehadiran Chanyeol.

Jujur, Chanyeol merasa sangat cemburu, namun yang lebih mendominasi adalah rasa penasaran. Pikirnya, apa ia sudah melakukan kesalahan sampai Baekhyun sebegitu marah padanya? Atau apa? Chanyeol pikir tidak mungkin Baekhyun marah tanpa alasan. Padahal sebelum Chanyeol mengangkat telepon dari Nana, sikap Baekhyun masih baik-baik saja.

Apa yang sebenarnya terjadi?

DUG! DUG! DUG!

Suara gaduh di luar sana lantas membangunkan Chanyeol dari lamunannya. Pria bersurai ash grey itu mengernyit untuk sesaat, sebelum beranjak dari duduknya dan membuka pintu. Tampak di hadapannya Sehun berdiri dengan tubuh basah kuyup. Air mukanya terlihat keruh, sangat kontras dengan kedua tangannya yang mengepal kuat di sisi tubuh.

"Apa yang kau lakukan pada Baekhyun?"

Ada keheningan tercipta saat pertanyaan tanpa formalitas itu meluncur dari mulut Sehun. Ia tak peduli lagi pada siapa ia bicara, pelajaran sopan santun tidak berlaku dalam hal ini. Satu-satunya yang ia pedulikan adalah pertanyaan yang sedari tadi mengusik pikirannya. Tapi bukannya menjawab, pria tinggi di hadapannya malah diam seribu bahasa.

"Jawab aku, Park Chanyeol! Apa yang telah kau lakukan pada Baekhyun sampai dia menangis begitu?!" Kesal pertanyaannya diabaikan, tanpa pikir panjang Sehun mencengkeram kerah baju Chanyeol. Sorot matanya menunjukkan amarah yang nyaris meledak.

"Itu bukan urusanmu, Oh Sehun." tandas Chanyeol sambil melepas paksa cengkeraman Sehun dari bajunya. "Dan jangan coba-coba mendekati Baekhyun. Dia milikku."

Itu adalah ancaman eksplisit, Sehun tentu sangat menyadarinya. Namun daripada peduli, Sehun justru melemparkan dengusan keras, membuat Chanyeol mendelik.

"Jangan terlalu berharap, Park. Aku takkan memaafkan siapa pun yang sudah membuat Baekhyun menangis, termasuk kau."

Kepalan tangan itu Chanyeol eratkan. Giginya mengertak keras menahan emosi. Pria bermarga Park itu tidak melontarkan kalimat balasan untuk sesaat. Namun ketika Sehun hendak berbalik pergi, barulah suara husky Chanyeol terdengar.

"Dan aku takkan membiarkanmu mendekati Baekhyun, Oh Sehun."

Dalam sedetik, aura persaingan itu menguar kuat. Suara debum pintu yang dibanting Chanyeol kemudian menjadi penutup dari tatapan tajam yang saling mereka lemparkan.

###

Baekhyun menghentikan pergerakan tangannya pada handuk kecil di atas kepalanya. Gadis itu duduk di sisi ranjang, dengan pandangan menerawang ke depan. Potongan drama di rumah Chanyeol lagi-lagi memenuhi benaknya, membuat rasa ngilu itu kembali meremat kuat jantungnya.

Baekhyun sebenarnya tidak marah pada Chanyeol. Ia hanya terkejut dan kecewa karena Chanyeol tetap diam meski ia sudah menceritakan tentang pria 'Jay' waktu itu. Entah kenapa Baekhyun merasa itu tidak adil, ia seperti dibohongi sejak awal. Pikirnya, apakah begitu sulit bagi Chanyeol untuk bersikap jujur padanya? Toh jika Chanyeol sendiri yang mengaku, Baekhyun mungkin tidak akan bersikap sedingin ini padanya.

Katakanlah Baekhyun terlalu mendramatisir situasi karena waktu itu ia terlalu terkejut. Tapi—hell, siapa yang tidak akan terkejut ketika pria yang selama ini ia sebut stalker ternyata kekasihnya sendiri? Sebagian orang mungkin menganggapnya manis, tapi jujur, Baekhyun justru merasa takut, terlebih ia tahu semuanya setelah membalas perasaan Chanyeol.

"Noona, kau baik-baik saja?" Samuel mengetuk pintu kamar Baekhyun. Intonasinya terdengar khawatir. Mungkin karena tadi Baekhyun pulang dalam keadaan basah kuyup dan mata merah.

"Aku baik, Sam."

Tapi Samuel masih khawatir. Ia yakin sesuatu terjadi antara Baekhyun dan Chanyeol, melihat tadi Noona-nya diantar pulang oleh pria lain.

"Boleh aku masuk?" pinta Samuel kemudian. Senyumannya terkembang tipis ketika Baekhyun membuka pintu kamarnya. Ia duduk di kursi, berseberangan dengan Baekhyun yang duduk di atas ranjang. "Sebenarnya ada apa, Noona?"

"Tidak ada apa-apa."

Samuel tahu Baekhyun berbohong. Dari raut mukanya saja sudah kelihatan bahwa Baekhyun tidak baik-baik saja.

"Apa ini karena pesanku soal Chanyeol Hyung?"

Tidak ada respon. Samuel menganggapnya sebagai 'ya'.

"Maaf jika pesanku membuatmu kaget. Jujur, aku sangat bersemangat ketika mengetahui semuanya. Aku sama sekali tak mengira kau akan sekaget ini." Jeda sejenak. Samuel menggenggam tangan Baekhyun. "Jangan terlalu lama berdiam-diaman dengan Chanyeol Hyung ya? Aku yakin dia memiliki alasan sendiri kenapa dia sampai tidak memberitahumu soal ini."

Mendesah lelah, Baekhyun balas menggenggam tangan Samuel. "Aku tahu. Aku akui aku juga salah karena tak mendengar penjelasannya terlebih dahulu. Chanyeol Oppa bukan lagi remaja, begitu pula aku. Hanya saja..aku masih kecewa padanya. Padahal aku sudah memberitahunya soal si 'Jay' itu, tapi kenapa dia masih diam saja?"

"Well, kupikir kau kecewa itu hal yang wajar. Kejujuran adalah dasar utama sebuah hubungan, iya kan?" Samuel tersenyum lembut, lalu melanjutkan, "Begitu pula dengan saling memaafkan."

"Eh?"

"Tolong jangan berpikir aku berada di pihak Chanyeol Hyung, tapi menurutku dalam sebuah hubungan, pastilah ada beberapa kali kesalahan yang dibuat—entah itu dari pihak pria atau wanita. Aku hanya berharap sebelum kau terlarut dalam kekecewaan, coba kau ingat-ingat lagi, apa kau juga pernah melakukan kesalahan pada Chanyeol Hyung sebelumnya? Apa kau ingat kenapa kau melakukan itu?"

Benar juga. Dulu Baekhyun pernah berbohong pada Chanyeol tentang bertemu Sehun diam-diam. Baekhyun ingat ia melakukannya karena tak mau Chanyeol cemburu dan ia juga ingat betapa Chanyeol marah padanya setelah mengetahui semuanya. Namun pada akhirnya Chanyeol tetap memaafkannya dan mereka kembali berbaikan.

"Nah," Samuel menyalakan ponsel Baekhyun. Terdengar beberapa kali nada pesan masuk ke nomornya, itu semua dari Chanyeol. "Bukankah sekarang adalah waktu yang tepat untuk saling memaafkan?"

Mengemut bibir bawahnya sesaat, Baekhyun ambil ponselnya dari tangan Samuel. Dibacanya sederet pesan dari Chanyeol yang memintanya untuk mengangkat panggilannya dan bertanya ada apa. Chanyeol pasti bingung juga khawatir karena Baekhyun pergi tanpa alasan yang jelas.

"Ingat pesanku ya, Noona. Aku ke bawah dulu."

Begitu Samuel keluar dari kamar, Baekhyun kembali termangu. Otaknya berpikir keras, menimbang-nimbang apa yang sekiranya harus dilakukannya untuk mengambil jalan tengah.

"Haruskah aku meneleponnya?" gumam Baekhyun, tapi kemudian dia menggeleng tak setuju. "Lebih baik bicara langsung saja."

Dan keputusan itu telah diambil. Baekhyun mengetikkan pesan pada Chanyeol untuk bicara empat mata besok pagi.

"Semoga ini berhasil." Baekhyun berharap.

###

Baekhyun mengemut bibir bawahnya gelisah sambil sesekali melirik ke jendela, memastikan apakah Chanyeol sudah datang atau belum. Sesuai niatannya, hari ini Baekhyun akan bicara empat mata dengan Chanyeol. Sejak kemarin Baekhyun sudah menahan diri untuk tidak membalas pesan dan panggilan dari Chanyeol, karena ia ingin membicarakan semuanya secara langsung, termasuk soal identitas 'Jay'. Baekhyun benar-benar berharap keputusannya ini adalah yang terbaik.

TING TONG!

Itu dia.

Baekhyun bangkit dari duduknya. Satu helaan napas ia keluarkan sebelum membuka pintu itu.

"Hai, Baek."

Namun ternyata orang yang memencet bel pintu rumahnya justru seseorang yang tak diduga-duga.

"S–Sunbae? Apa yang kau lakukan di sini?"

Mengembangkan senyum, Sehun mengusuk gemas surai brunette Baekhyun. "Menemuimu. Apa lagi?"

Well, itu sudah jelas. Kenapa pula Baekhyun harus bertanya segala? Padahal baru kemarin ia meminta Sehun mengantarnya pulang ke rumah. Tadi itu benar-benar pertanyaan bodoh.

"O–oh, begitu." Baekhyun menggaruk pipinya kikuk, merasa agak canggung dengan situasi ini. "Um..kau tidak ada jadwal mengajar pagi ini, Sunbae?"

Tawa Sehun pun meledak karena pertanyaan itu. "Tentu saja tidak ada, Baek. Ini kan hari Minggu."

Hebat, kau baru saja membuat situasi semakin canggung! Kenapa kau bodoh sekali, Byun Baekhyun?!—Baekhyun merutuki dirinya sendiri dalam hati. Sebisa mungkin ia usir kecanggungan itu dengan kekehan kecil, tapi sepertinya Sehun menyadarinya.

"Kau sudah baikan sekarang?"

"Hm? Y–ya, sudah lumayan. Terima kasih." Baekhyun mengusap lengannya sebentar. "Anu..untuk yang kemarin, maaf sudah merepotkanmu. Waktu itu pikiranku sedang kalut, jadi aku.."

"Aku sama sekali tak berpikir kau merepotkanku, Baekhyun-ah. Sebaliknya, aku justru khawatir padamu. Apa yang sebenarnya terjadi kemarin? Apa kau terluka?"

Ditanya begitu, Baekhyun hanya terdiam sambil memandang ke arah lain. Ia tak bisa mengatakan hal yang sebenarnya pada Sehun. Ini adalah masalahnya dengan Chanyeol, ia tak mau melibatkan siapa pun ke dalamnya, terutama Sehun.

"Tidak apa kalau kau tak mau cerita. Aku mengerti. Tapi sebagai gantinya, aku ingin kau mengingat ini." Sehun menggenggam tangan Baekhyun, satu senyuman tulus terukir di bibir tipisnya. "Aku akan selalu berada di sampingmu, Baek. Kapan pun kau membutuhkanku, kau tak perlu ragu untuk menghubungiku, oke?"

Baekhyun tertegun dibuatnya. Sekali pun tak terlintas dalam benaknya Sehun akan sebegitu mengkhawatirkannya. Dia sungguh teman yang pengertian.

"Hm." Membalas genggaman tangan Sehun, Baekhyun mengangguk diiringi senyuman sama tulus. "Terima kasih banyak, Sunbae.."

"Nah, begitu. Kau lebih cocok kalau tersenyum, Byun Baekhyun."

Baekhyun terkekeh. "Kau mau masuk dulu, Sunbae?" tawarnya kemudian.

"Ya, tentu. Aku—"

Suara deru mobil yang berhenti di depan gerbang kediaman Byun lantas memotong ucapan Sehun. Seluruh atensi tertuju seutuhnya pada mobil tersebut. Itu mobil Tesla berwarna silver milik Chanyeol.

"Um.." Baekhyun menoleh pada Sehun dengan raut tak enak hati. "Sunbae, maaf, aku harus pergi. Kita lanjutkan obrolan kita lain kali ya?"

Sehun tak memberikan respon berarti. Tatapannya terus bergeming pada Baekhyun sampai ia masuk ke dalam mobil. Tak seorang pun sadar bahwa sedari tadi Sehun dan Chanyeol tengah bertukar tatapan tajam, saling menyalurkan amarah melalui sorot mata.

###

Atmosfer kecanggungan yang bercampur dengan ketegangan di dalam mobil Tesla itu terasa begitu kental. Baik Baekhyun, maupun Chanyeol, sama-sama tak mengeluarkan suara. Sebagian besar karena keduanya terlalu disibukkan dengan pikiran masing-masing. Ingin sekali Baekhyun mengakhiri kesunyian ini, tapi ia tak tahu harus berkata apa. Ekspresi Chanyeol yang keruh membuatnya agak takut.

"Kita bicara di sini saja." ucap Chanyeol setelah memarkirkan mobilnya di pinggiran sungai Han. Tatapannya masih mengarah ke depan. "Apa ini tentang Oh Sehun? Itu sebabnya kau pergi kemarin?"

Alis Baekhyun tak elak menukik tajam. Ia tak percaya pertanyaan pertama yang Chanyeol lontarkan justru tersirat kecurigaan terhadapnya.

"Ini sama sekali tak ada hubungannya dengan Sehun Sunbae, Oppa."

"Lalu, yang tadi apa?" Chanyeol menyudutkan. Dingin maniknya menusuk hazel Baekhyun. "Kalian bahkan berbincang dan tertawa bersama, bagaimana mungkin aku tak berpikir macam-macam?"

"Kenapa kau selalu menyangkutpautkan semuanya dengan Sehun Sunbae? Kau pikir aku berselingkuh?" Emosi Baekhyun pun mulai terpancing.

"Kau tahu aku tak pernah suka kau berdekatan dengan pria itu. Bukankah kau sendiri yang bilang akan menjaga jarak dengannya?"

"Dan bukankah kau juga bilang akan mengontrol kadar kecemburuanmu itu?"

"Kecemburuanku ini beralasan, Baekhyun. Ini tidak muncul kecuali kau menepati janjimu."

Baekhyun mendengus keras, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia sungguh tak mengerti jalan pikiran Chanyeol. Kecemburuannya ini benar-benar seperti remaja labil.

"Asal kau tahu, Oppa, Sehun Sunbae justru berusaha menghiburku. Dia bahkan tak tahu apa masalah kita."

"Jika bukan karena Oh Sehun, lalu apa?"

Chanyeol belum sadar kesalahannya rupanya. Ini bahkan semakin meningkatkan emosi Baekhyun.

"Kenapa kau tidak tanya pada dirimu sendiri," Baekhyun sengaja mengambil jeda di antara kalimatnya, lalu memberikan penekanan di kata berikutnya, "Tuan 'Jay'?"

Dalam satu nanodetik, bola mata Chanyeol membulat utuh. Tubuhnya membeku dan kilas balik kejadian kemarin mulai terasa masuk akal baginya.

"Apa sekarang kau masih berpikir aku berselingkuh dengan Sehun Sunbae?" Baekhyun menyindir. Tak menunggu respon Chanyeol, ia pun keluar dari mobil itu dan pulang sendiri dengan taksi.

TBC