Hari telah berlalu, namun tidak dengan pertengkaran Baekhyun dan Chanyeol. Setelah perdebatan mereka kemarin di pinggir sungai Han, Baekhyun malah semakin enggan bertemu Chanyeol. Ia bahkan berakhir dengan mengabaikan telepon dan pesan kekasihnya. Pikirnya, bicara dengan Chanyeol hanya akan memancing lebih banyak emosinya dan ia tak mau hubungan mereka menjadi lebih buruk dari ini. Mungkin yang saat ini mereka butuhkan adalah waktu, setidaknya sampai kepala mereka sama-sama dingin untuk menyelesaikan masalah ini.

Dengan niatan ingin melupakan sejenak permasalahannya dengan Chanyeol, Baekhyun pun mengajak Kyungsoo makan es krim, sekalian meminta sarannya tentang masalah ini. Mereka akan pergi setelah Kyungsoo selesai melakukan bimbingan skripsi. Baekhyun sungguh berharap Chanyeol terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga kecil kemungkinan mereka bertemu di kampus.

"Baekhyun?"

Baekhyun refleks menoleh pada si pemilik suara itu. Siapa lagi jika bukan Sehun?

"Sedang apa kau di sini?" tanya pria bersurai ebony itu.

"Menunggu Kyungsoo, kami ada janji setelah dia selesai bimbingan skripsi."

Sehun mengangguk paham. "Apa masih lama?"

"Kurasa begitu. Dia baru masuk enam menit yang lalu."

Senyum Sehun pun terkembang sampai ke telinga. "Bagaimana kalau kita minum kopi dulu di Café Lava Java? Kemarin kau berhutang waktu padaku, ingat?"

"Ah, benar juga." Baekhyun berpikir sejenak, sebelum akhrinya mengangguk setuju. "Baiklah, tapi tidak apa kan jika hanya sampai Kyungsoo selesai bimbingan skripsi?"

"Tentu saja, lagipula aku harus mengajar sebentar lagi." Sehun mengulurkan tangannya pada Baekhyun. "Then, shall we?"

Tersenyum manis, Baekhyun menyambut uluran tangan Sehun. "Let's go~"

.

.

.

###

AEIPATHY (GS VERSION)

Chapter 13 – All About Timing

Main Casts : Park Chanyeol & Byun Baekhyun

###

.

.

.

Chanyeol bisa memastikan kepalanya akan meledak jika hubungannya dengan Baekhyun tetap buruk seperti ini. Gadis itu tidak membalas pesannya, juga mengabaikan panggilannya. Sebanyak apa pun Chanyeol mencoba, Baekhyun malah terkesan seperti sedang menghindarinya. Ini pasti karena tuduhan tak berdasar itu. Dan lagi, kenapa pula ia sampai kepikiran Baekhyun berselingkuh dengan Sehun? Tidak aneh jika kekasihnya itu semakin marah padanya.

"Aku butuh kopi." Satu helaan napas yang terasa berat itu Chanyeol hembuskan. Ia membelokkan mobilnya ke Café Lava Java, berniat membeli secangkir kopi. Mungkin itu akan menghilangkan sedikit pening di kepalanya.

Chanyeol sudah bersiap memesan ke kasir, namun eksistensi dua orang tak asing di hadapannya justru melenyapkan niatan itu. Bisa Chanyeol rasakan darahnya bergejolak marah, menghentakkan jantungnya begitu keras karena bertatapan dengan dua pasang mata yang tak lain adalah milik Sehun dan Baekhyun.

"Apa yang kalian lakukan di sini?"

Baekhyun seharusnya bisa menjawab dengan kasual jika saja Chanyeol tak mendeliknya seolah ia tengah ketahuan berselingkuh.

"Apa lagi?" Sehun tersenyum miring, satu tangannya sengaja merangkul bahu Baekhyun untuk memancing kecemburuan Chanyeol. "Tentu saja minum kopi. Iya kan, Baekhyun-ah?"

Dan itu berhasil. Terlihat jelas dari rahang Chanyeol yang langsung mengeras, juga kepalan tangan di sisi tubuhnya. Chanyeol benar-benar dilanda api cemburu.

"Lepaskan tangan kotormu darinya, Oh Sehun."

"Oppa!"

"Kalau aku tidak mau, memang kau mau apa? Memukulku?" Sehun balik mengancam. Sedikit pun ia tidak takut pada Chanyeol. "Pergilah, bukankah kau ada jadwal mengajar pagi ini?"

"Oh, aku akan pergi." Chanyeol menarik Baekhyun ke sisinya. "Bersama kekasihku." lanjutnya pernuh penekanan, lalu pergi dari sana, seutuhnya mengabaikan Sehun yang dongkol setengah mati di belakang sana.

"Kau lihat saja, Park Chanyeol." Sehun mendesis, tak meninggalkan lekat tajam matanya dari sosok Chanyeol. "Ini belum berakhir."

Keputusan akhir telah Sehun ambil.

###

"Apa-apaan sikapmu ini, Oppa?! Kau sudah keterlaluan, kau tahu?!" Baekhyun menghempaskan tangan Chanyeol dengan kasar begitu mereka menginjakkan kaki di basement fakultas bahasa. Pikirnya, sudah cukup dengan sifat cemburuan Chanyeol yang mendarah daging ini. Baekhyun benar-benar muak.

"Setelah kau mengabaikan semua pesan dan panggilanku, ini yang kudapat darimu?"

"Apa maksudmu, hah? Aku dan Sehun Sunbae hanya minum kopi bersama!"

"Cih, 'hanya minum kopi'." Chanyeol mendengus keras. "Aku juga akan beralasan sama dengannya jika sedang mendekatimu, Baek. Apa perlu kubuktikan agar kau percaya?"

"Sehun Sunbae tidak sedang mendekatiku, Oppa. Kami hanya berteman. Sudah berapa kali kita membahas ini, hah?"

"Apa kau sungguh akan terus menyangkal bahwa Oh Sehun tidak memiliki perasaan khusus padamu?! Sadarlah, Byun Baekhyun! Dia tidak pernah melihatmu sebagai teman!" Suara Chanyeol kian meninggi. Ia sungguh tak tahan dengan sifat naif Baekhyun.

"Yang seharusnya segera sadar itu kau, Oppa!" Suara Baekhyun turut meninggi, merasa frustrasi karena Chanyeol terus berpikiran dangkal terhadapnya juga Sehun. "Kau terus saja menuduhku yang tidak-tidak! Bahkan masalah kemarin tidak menjadi beban bagimu dan sekarang kau malah bertingkah seolah aku yang paling salah di sini!"

"Kau pikir siapa yang terus mengabaikan pesan dan panggilanku?! Masalah kemarin pasti selesai jika kau memberiku kesempatan untuk menjelaskan!"

"Kalau begitu, jelaskan sekarang!" tantang Baekhyun dengan lantang. "Jelaskan kenapa kau berbohong padaku, padahal aku sudah menceritakanmu tentang si 'Jay' itu!"

"Aku tidak bermaksud berbohong padamu, Baek! Itu semua adalah kesalahpahaman!"

Berbalik Baekhyun yang mendengus keras. "Bagian mana yang kau sebut 'kesalahpahaman', hah?"

"Aku berniat memberitahumu semuanya nanti. Aku hanya sedang mencari waktu yang tepat."

"Dan kapan tepatnya waktu yang tepat itu?"

Chanyeol terdiam tak menjawab. Meski sudah berniat akan memberitahu Baekhyun tentang identitasnya, Chanyeol sendiri sebenarnya belum tahu pasti kapan tepatnya.

"See? Kau bahkan tidak tahu. Sudah jelas tak ada kesalahpahaman di sini, kau memang tak pernah ada niatan memberitahuku, kan?"

"Baek, percayalah padaku! Aku ini mengatakan yang sejujurnya padamu!"

"Lalu, bagaimana denganku? Kau percaya padaku?" Lagi, Baekhyun menantang Chanyeol. "Apa kau percaya bahwa tak ada hubungan apa pun di antara aku dan Sehun Sunbae?"

Chanyeol membuang napas sejenak, lalu maju selangkah untuk mengelus surai brunette Baekhyun. "Tentu saja aku percaya padamu. Aku hanya tidak percaya pada Oh Sehun, dia pasti merencanakan sesuatu untuk merebutmu dariku."

Menggeram kesal, Baekhyun menepis tangan Chanyeol dari kepalanya. "Demi Tuhan, Oppa, jangan terus berperasangka buruk pada Sehun Sunbae! Kami hanya berteman, tidak lebih! Kenapa kau—"

"BERHENTI MEMBELANYA, BYUN BAEKHYUN!" Teriakan Chanyeol sontak membungkam mulut Baekhyun. Napasnya memburu karena emosi yang mencapai batas tertinggi. "Aku muak dengan segala pembelaanmu pada pria sialan itu! Apa kau tidak lihat bagaimana sikapnya terhadapmu?! Kau bahkan tidak sadar bahwa selama ini dia menyukaimu!"

Susah payah Baekhyun menelan ludahnya di antara geming maniknya pada obsidian Chanyeol. Ini adalah kali pertama ia melihat Chanyeol semarah ini padanya. Dan itu karena Sehun.

"Aku membelanya karena dia memang temanku, Oppa. Kami—"

"Cukup, Baekhyun." Chanyeol menekankan intonasinya. "Kalau kau terus seperti ini, aku bersumpah akan menghambat skripsimu. Kau paham itu?"

Lalu hening.

Baekhyun membatu menatap Chanyeol dengan raut terkejut. Untuk sesaat, ia menolak percaya ucapan Chanyeol dan berharap bisa menemukan setitik kebohongan dalam manik kelam kekasihnya. Namun tidak ada. Baekhyun harus menelan bulat-bulat kekecewaannya karena hanya ada kesungguhan dalam sorot mata Chanyeol.

Tawa hambar keluar dari celah bibir Baekhyun, bersamaan dengan perih di matanya. Ia tak tahu harus berkata apa lagi. Semuanya terasa menyakitkan sampai menyiksanya dalam setiap tarikan napas. Padahal yang Baekhyun inginkan adalah Chanyeol percaya padanya, bukannya mengancam akan menghambat skripsinya jika ia tak mau menjauhi Sehun. Kalau sudah tak ada rasa saling percaya di hati, bagaimana cara mereka mempertahankan hubungan ini?

Tidak.

Baekhyun sudah tak bisa lagi menolerir semua ini, terutama sifat cemburu Chanyeol. Ini terlalu berlebihan.

"Kita putus saja."

Satu kalimat itu menyentakkan Chanyeol dengan telak. Gebu emosi yang tadi menguasai dirinya, berubah menjadi kekalutan.

"A–apa maksudmu dengan 'putus', Baek?" tanya Chanyeol hati-hati. "Kau bercanda—"

"Hubungan kita tidak akan berhasil jika terus seperti ini, Oppa.." Baekhyun menyela dengan suara bergetar. Tak terbendung lagi airmata di pelupuk matanya. "Karenanya, kita akhiri saja sampai di sini."

Panik menguasai Chanyeol. Bola matanya bergerak gelisah karena Baekhyun mulai berbalik meninggalkannya.

Tidak! Chanyeol tak mau mengakhiri hubungan ini! Bagaimana ia bisa melepaskan gadis yang begitu dicintainya? Ia harus melakukan sesuatu!

"Baekhyun-ah, kumohon dengarkan aku—"

Secepat Chanyeol menahan tangan Baekhyun, secepat itu pula tepisannya bersambut. Baekhyun menolaknya. Tubuh mungil itu bergerak kembali tanpa menoleh sedikit pun, menyisakan sakit dan penyesalan dalam hati keduanya.

###

Sehun tak bisa lebih bersyukur karena jadwal mengajarnya hari ini sudah selesai. Sedari tadi pikirannya terus melayang pada Baekhyun; menerka-nerka apa yang terjadi pada gadis itu setelah ditarik pergi oleh Chanyeol. Menilik wataknya yang pencemburu, Sehun yakin pria bermarga Park itu takkan bersikap tenang ketika ada orang lain yang ingin merebut gadis yang dicintainya. Terlebih setelah kejadian di Lava Java tadi pagi, sepertinya Chanyeol akan mengekang Baekhyun lebih jauh.

Membuang napas, Sehun mengerem motornya di pinggir taman. Ia meraih ponselnya di dalam saku celana dan mencari kontak Baekhyun di sana. Sehun pikir setidaknya ia harus memastikan sendiri bahwa Baekhyun baik-baik saja. Walau bagaimanapun, ia juga salah karena malah memancing emosi Chanyeol di depan Baekhyun. Hatinya tidak akan tenang jika hanya berdiam diri dan menunggu Baekhyun mengabarinya.

"Oh?" Sehun mendongak ke atas saat beberapa bulir bening jatuh mengenai tangannya. Tampak sekumpulan awan hitam menutupi langit Seoul dan mulai menitikkan hujan. "Shit!"

Sehun menyimpan kembali ponselnya, lalu memarkirkan motornya di bawah pohon rindang dalam taman itu. Baru saja ia berpikir untuk melanjutkan niatannya menghubungi Baekhyun, maniknya sudah lebih dulu menangkap siluet Baekhyun tak jauh dari tempatnya berdiri. Si mungil bersurai brunette itu hanya bergeming di sana, membiarkan tubuhnya terguyur hujan.

"Astaga, Baekhyun-ah!" Sehun berlari menghampiri Baekhyun dan menyampirkan jaket di kepalanya. "Apa yang kau lakukan di tengah hujan begini? Kau bisa—"

Lidah Sehun mendadak kaku saat Baekhyun tiba-tiba memeluknya. Samar-samar ia mendengar isak di antara deru hujan. Itu berasal dari Baekhyun.

Tak membutuhkan waktu lama bagi Sehun untuk menyadari alasan di balik tangis pilu Baekhyun, sebelum akhirnya ia membalas pelukan itu. Diusapnya lembut punggung Baekhyun yang gemetaran, mencoba menyalurkan kehangatan padanya.

"Kau baik-baik saja?"

Bukan kata-kata, melainkan rematan penuh di kemejanya yang Sehun dapatkan.

Baekhyun tidak baik-baik saja.

###

Ekor mata Kyungsoo bergerak ke kiri dan ke kanan, mencari sosok Baekhyun yang belum ditemukannya sampai sekarang. Padahal mereka sudah janjian akan makan es krim bersama setelah bimbingan skripsinya selesai, tapi kenapa justru Baekhyun sendiri yang menghilang?

"Jangan-jangan dia pergi duluan?" Kyungsoo hendak menghubungi Baekhyun, namun tertahan karena Chanyeol yang berlari ke arahnya. "Selamat siang, Seonsaeng—"

"Apa kau melihat Baekhyun?" Chanyeol langsung memotong sapaan Kyungsoo dan meluncurkan pertanyaan di antara napasnya yang tidak teratur.

"Eh? Baekhyun? Saya juga sedang mencarinya, Saem. Padahal tadi dia bilang mau menunggu saya di sini."

Tak mengatakan apa pun lagi, Chanyeol berlalu bergitu saja dari sana. Kyungsoo di belakangnya hanya mampu terheran-heran. Ini sungguh tidak biasa.

"Ada apa ya dengan mereka?"

###

"Kami sudah putus."

Belalak mata Sehun menjadi respon dari satu kalimat yang Baekhyun lontarkan setelah tangisnya berhenti. Sehun memang sudah menduga tangis Baekhyun ada hubungannya dengan Chanyeol, tapi ini sungguh di luar dugaannya. Apakah Chanyeol yang memutuskan Baekhyun duluan? Ataukah sebaliknya?

"Tolong jangan berperasangka buruk padanya, aku yang mengambil keputusan ini." imbuh Baekhyun, seolah ia baru saja membaca pikiran Sehun. Jemari-jemarinya yang kedinginan bermain satu sama lain sebagai pengalihan atensi dari kesedihannya. "Kupikir..ini yang terbaik untuk kami."

Sehun tak memberikan komentar apa pun, hanya terdiam dengan ekspresi yang sulit dibaca. Tak bisa dipungkiri ada perasaan senang mengetahui akhirnya Baekhyun dan Chanyeol putus, namun raut gundah di wajah Baekhyun justru lebih mengusik pikiran Sehun. Hatinya sakit sekali, terlebih Baekhyun seperti ini karena Chanyeol.

Cemburu? Tentu saja. Ketika seseorang menangis demi orang lain, sudah pasti itu mengindikasikan cinta yang besar. Baekhyun adalah salah satu contoh. Bulir airmata yang ia keluarkan merupakan pertanda bahwa cintanya pada Chanyeol belum padam. Dan Sehun tak suka itu.

"Kau tidak apa?" Sehun akhirnya memecahkan keheningan. Untuk saat ini, yang terpenting baginya adalah menghibur Baekhyun.

"Kurasa.."

Sehun menghela napas mendengar keraguan dalam intonasi Baekhyun. Digenggamnya tangan si mungil, menangkupnya agar tidak kedinginan. "Seharusnya kau menghubungiku, Baekhyun-ah, bukannya membiarkan tubuhmu terguyur hujan. Kau bisa sakit nantinya, hm?"

Baekhyun tak merespon, juga tak membalas tautan mata Sehun. Tatapannya terlihat kosong seperti tenggelam dalam lamunan. Binar yang selalu terpancar dalam matanya pun kini meredup, hanya kesedihan yang Sehun tangkap.

"Baekhyun-ah.." Baekhyun menoleh pada Sehun. Pria bersurai ebony itu tersenyum lembut padanya, dengan jemari mengusap pipinya. "Tidak apa, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan selalu berada di sisimu.."

Perlahan, pupil Baekhyun bergerak memandang Sehun. Tampak ketulusan dalam hazel pria itu. Baekhyun tahu itu nyata, ia percaya Sehun akan selalu berada di sisinya dan fase berat yang tengah dialaminya akan berakhir—cepat atau lambat. Namun kembali lagi, Sehun bukanlah Chanyeol. Mereka tidak sama. Kehadiran Sehun takkan bisa menggantikan posisi Chanyeol di hatinya. Dan kenyataan itu akan tetap berdiri di sana, menorehkan luka yang lebih dalam.

"Aku.." Lelehan bening lagi-lagi menggenang di pelupuk mata Baekhyun kala benaknya kembali menampilkan wajah Chanyeol. Bagaimana si jangkung menyebut namanya, mengecup bibirnya, dan mengucapkan kata cinta padanya. Kenangan indah yang mereka ukir bersama terasa sulit Baekhyun singkirkan sampai itu meremas kuat jantungnya. "Aku..harus bagaimana, Sunbae?"

Baekhyun tahu ia telah membuat keputusan bodoh dengan memutuskan Chanyeol. Pada kenyataannya, jantungnya masih berdebar cepat untuk Chanyeol, darahnya masih berdesir kuat karena gema suara Chanyeol, dan airmatanya masih mengalir bahkan setelah kehilangan Chanyeol. Perasaan ini sungguh menyiksanya.

"Aku..tak tahu cara melupakannya.."

Tangan Sehun mengepal kuat mendengar tangis pilu Baekhyun. Ia benci melihat ini. Tidak seharusnya Baekhyun menangisi Chanyeol. Airmatanya terlalu berharga hanya untuk pria macam Park Chanyeol.

"Jangan menangis, Baekhyun-ah. Masih ada aku di sini." Menghapus airmata Baekhyun, Sehun menangkup wajah si brunette agar membalas tatapannya. "Aku akan membantumu melupakannya."

Lalu tanpa Baekhyun sangka, bibir Sehun telah menempel dengan bibirnya, membuat sepasang mata sipit itu membulat sempurna. Bodohnya, Baekhyun malah mematung saking terlalu terkejut dengan situasi ini.

Namun itu tidak berlangsung lama.

Karena tepat di detik kedelapan, ciuman sepihak itu terputus kala seseorang menarik paksa Sehun hingga tubuhnya terjerembab. Belum sempat Baekhyun menyadarkan diri dari keterkejutannya, Sehun sudah terlebih dahulu mendapatkan bogem mentah dari si pelaku yang menariknya barusan.

"Beraninya kau." Suara rendah si pelaku bermakna geram. Itu Chanyeol, mengepalkan tangannya dengan kuat dan sorot menusuk tepat ke manik Sehun. "Bukankah sudah kuperingatkan kau untuk tak lagi mendekati Baekhyun, hah?! Dia milikku!"

"Dia bukan lagi milikmu, Park." Sambil mengusap darah di sudut bibirnya, Sehun mengoreksi dengan tegas. Senyum miring ia cetak sebagai sindiran. "Kalian sudah putus, ingat?"

Kepalan tangan Chanyeol sontak menguat. Habis sudah kesabarannya.

"DAN KAU ADALAH PENYEBABNYA, BRENGSEK!"

"Oppa, hentikan!" Baekhyun menahan tangan Chanyeol yang hendak memukul Sehun dan memeluknya agar pria tinggi itu tenang. "Kumohon, hentikan. Aku tidak mau kalian bertengkar.." pintanya memelas.

Chanyeol hanya mampu mengertakkan gigi guna menekan amarahnya. Ingin sekali ia memukul Sehun berkali-kali atas semua yang telah dilakukannya, tapi Baekhyun membuatnya lemah. Hell, jika bukan demi Baekhyun, Sehun pasti sudah babak belur di tangan Chanyeol.

Jadi tanpa mengatakan apa pun lagi, Chanyeol pergi dari sana bersama Baekhyun, meninggalkan Sehun yang menatap tajam punggungnya.

###

Belum ada kata terucap bahkan sampai Chanyeol menginjak pedal rem mobilnya di depan kediaman Byun. Baekhyun hanya terdiam sambil sesekali mencuri pandang ke arah samping, sementara Chanyeol tampak fokus pada jalanan di depan sana.

Ciuman di taman tadi sungguh di luar kendali Baekhyun, ia sendiri masih terkejut karena aksi Sehun. Selama ini, Sehun selalu menjadi teman yang baik di mata Baekhyun. Tak sekali pun terbesit dalam benak Baekhyun bahwa Sehun akan menciumnya.

Namun hal yang sedari tadi terus mengganggu pikiran Baekhyun adalah reaksi Chanyeol waktu itu. Sebenarnya tak ada yang perlu Baekhyun khawatirkan karena ia dan Chanyeol sudah tak memiliki hubungan apa pun, hanya saja seperti ada yang mengganjal di hatinya.

Baekhyun sendiri tidak yakin apakah Chanyeol masih marah atau hanya sedang berusaha tenang, ekspresinya tidak terbaca. Namun apa pun itu, Baekhyun tidak suka situasi canggung yang tercipta di antara mereka.

"Bisa kita bicara sebentar? Aku ingin mengatakan beberapa hal padamu." Chanyeol akhirnya mengusir kesunyian itu dengan suaranya. Pria bersurai ash grey itu mematikan mesin mobil terlebih dahulu, kemudian menghembuskan napas sebagai awal. "Aku sudah memikirkan masalah kita secara matang-matang selama di perjalanan tadi dan kurasa aku berhutang banyak maaf padamu, Baekhyun-ah."

Baekhyun menoleh pada Chanyeol. Tampak jelas raut bersalah di air muka si jangkung.

"Maaf, karena telah menomorsatukan ego-ku. Bahkan sampai mengancam akan menghambat skripsimu segala, aku benar-benar menyesal, Baekhyun-ah.." Chanyeol balas menatap manik Baekhyun. Satu tangannya menggenggam jemari lentik si mungil. "Dan maaf, karena telah berbohong padamu.."

Baekhyun terkejut mendengar rentetan permintaan maaf Chanyeol. Padahal tadinya ia berpikir Chanyeol akan melontarkan pertanyaan macam-macam lagi padanya, terlebih setelah Sehun menciumnya, tapi ternyata tidak. Daripada itu, Chanyeol justru meminta maaf padanya dengan tulus.

"Aku takkan mengeluarkan alasan apa pun untuk menutupi sikapku yang keterlaluan ini. Kau berhak marah. Karenanya, aku minta maaf, Baek.."

Tak banyak yang Baekhyun lakukan selain menggigit kuat bibir bawahnya. Hatinya berdenyut ngilu jika teringat sikapnya ketika Chanyeol memperingatkannya berkali-kali tentang Sehun. Sekarang Baekhyun merasa sangat buruk pada Chanyeol. Tidak semestinya ia terus-terusan berpikir bahwa Chanyeol cemburu pada Sehun. Ada kalanya pria jangkung itu berkata sesuai fakta. Dan seharusnya Baekhyun menyadarinya lebih awal; tentang perasaan Sehun, juga tentang niatan baik Chanyeol.

Baekhyun-lah yang seharusnya minta maaf pada Chanyeol.

"Aku tahu hubungan kita sudah berakhir dan aku tidak tahu apakah perasaanmu padaku masih sama atau telah berubah. Meski begitu, kuputuskan untuk memulai semuanya lagi dari awal. Sampai kau benar-benar menolak perasaanku," Chanyeol mengecup punggung tangan Baekhyun, tersenyum lembut di jeda kalimatnya. "Aku takkan menyerah tentangmu, Byun Baekhyun.."

Lambat laun Baekhyun bisa merasakan panas memenuhi pipinya, bersamaan dengan munculnya debaran menggila di balik rongga dadanya. Ingin sekali ia mengalihkan wajahnya ke arah lain, namun obsidian Chanyeol seolah mengunci pergerakannya.

"Hari sudah mulai gelap, sebaiknya kau pulang sebelum Samuel mengkhawatirkanmu." Chanyeol memakaikan jaketnya di tubuh Baekhyun, memastikan si mungil merasa hangat. "Basuh tubuhmu dengan air hangat setelah ini. Kalau perlu, minumlah obat. Jangan sampai kau jatuh sakit karena hujan-hujanan, oke?"

Lagi, jantung Baekhyun menghentak kencang oleh perlakuan sederhana Chanyeol. Suara hentakannya pun masih sama seperti dulu; begitu menenangkan juga membuat candu. Baekhyun penasaran kenapa Chanyeol masih bisa bersikap begitu baik padanya, bahkan setelah semua yang terjadi di antara mereka? Ini membuat Baekhyun semakin sulit menentukan sikap.

"Ayo, aku akan mengantar—"

"Tidak perlu." Baekhyun menyela cepat. Gadis bersurai brunette itu kemudian membuang wajahnya ke arah lain. "Kau juga pulanglah. Aku akan mengembalikan jaketmu besok."

Merasa tak memiliki hak untuk memaksa Baekhyun, Chanyeol pun mengangguk paham. "Baiklah." Lalu mengusuk lembut puncak kepala Baekhyun. "Sampai jumpa besok, Baekhyun-ah.."

Baekhyun tak memberikan respon apa pun, hanya segera keluar dari mobil itu. Setelah memastikan Baekhyun masuk ke dalam rumah, Chanyeol melajukan kembali mobilnya. Satu senyum tipis tercipta di sudut bibir tebal itu. Sedikitnya ia bisa bernapas lega. Meski belum bisa berbaikan seutuhnya, tapi setidaknya Baekhyun masih mau bicara dengannya dan itu awal yang bagus.

###

Baekhyun sengaja berangkat lebih pagi agar ia bisa menitipkan jaket Chanyeol pada orang jurusan, tanpa harus bertemu langsung dengan Chanyeol. Jujur, Baekhyun masih merasa tidak enak hati pada Chanyeol dan berhadapan dengannya hanya akan membuat canggung keadaan. Jadi, menitipkan jaket itu pada orang jurusan sepertinya merupakan keputusan yang tepat.

"Permisi, Tuan Ryu." Baekhyun memanggil Tuan Ryu—salah satu orang jurusan. "Saya ingin menitipkan barang PCY Seonsaengnim, bisa?"

"Kenapa kau tidak temui langsung saja? Beliau ada di ruangannya."

Tersenyum kikuk, Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Saya ada urusan lain, tidak apa kan kalau saya titipkan saja di sini? Saya mohon."

"Baiklah. Siapa namamu?"

"Byun Baekhyun."

"Eh? Byun Baekhyun, katamu?"

"Iya. Kenapa?"

Tuan Ryu mengambil sesuatu di atas meja, lalu memberikannya pada Baekhyun. Itu sekotak susu strawberry dan sebuah buku. "PCY Seonsaengnim menitipkan ini untukmu."

"Eh? Dari PCY Seonsaengnim?" Baekhyun mengerjap kaget.

"Ya, beliau berpesan untuk memberikannya pada mahasiswa bernama Byun Baekhyun. Itu kau, kan?"

Baekhyun mengangguk membenarkan. Masih setengah kaget, ia terima susu strawberry dan buku itu. Ternyata itu adalah buku referensi, cetakan Cambridge pula. Tidak hanya itu, terdapat sticky note di dalam buku itu dengan tulisan tangan Chanyeol.

Don't skip you breakfast, Muffin~

From your secret admirer,

PCY

'Muffin'.

Panggilan sayang yang khusus Chanyeol buat untuknya. Entah kenapa, Baekhyun rindu panggilan itu.

"Ada lagi yang ingin kau titipkan untuk beliau?"

Suara Tuan Ryu tiba-tiba menyentakkan Baekhyun dari lamunannya. Gadis itu menggeleng sebagai jawaban, lalu berterima kasih sebelum berbalik pergi. Namun langkahnya refleks terhenti karena sosok pria bersurai ebony di hadapannya. Itu Sehun, menyapanya dengan senyuman lebar.

"Pantas saja tak ada siapa pun di rumahmu, kau berangkat lebih pagi rupanya."

Baekhyun mengernyit. "Kau..datang ke rumahku?"

"Yup, jadi kita bisa berangkat ke kampus bersama~"

Seketika kejadian kemarin di taman terbayang dalam benak Baekhyun. Tak berpikir dua kali, gadis berambut ikal itu mengambil satu langkah ke belakang, lalu berjalan meninggalkan Sehun.

"Baekhyun-ah, tunggu dulu!" Tapi tentu saja Sehun tak membiarkan hal itu terjadi dan segera memotong langkah Baekhyun dengan menahan tangannya. Sehun tahu betul kenapa Baekhyun bersikap seperti ini padanya. "Maaf kalau kemarin aku membuatmu terkejut. Hanya kumohon, jangan mengabaikanku setelah ini, hm?"

Baekhyun tak memberikan respon berarti, maniknya bahkan tak menatap balik tautan mata Sehun.

"Baekhyun-ah, please.." pinta Sehun. "Tatap mataku—"

"Lepas."

Satu kata itu memang menyerupai bisikan, namun Sehun bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Belum cukup dibuat kaget oleh intonasi dingin itu, yang Sehun tangkap berikutnya adalah Baekhyun menepis kasar tangannya, lalu pergi begitu saja. Menyisakan Sehun yang speechless di belakang sana.

###

Kedua tungkai Baekhyun melangkah menuju meja kantin yang masih kosong setelah membayar dua sandwich tuna yang tadi dibelinya. Gadis itu memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu di kantin sebelum pulang ke rumah. Kepalanya terasa agak pening, ini pasti gara-gara ia kehujanan kemarin.

Baru saja Baekhyun bersiap untuk memakan salah satu sandwich itu, kenangannya bersama Chanyeol tiba-tiba melintas bagai nostalgia. Baekhyun ingat dulu pria tinggi itu pernah membuatkannya sandwich tuna karena tahu ia belum sarapan. Memang hanya hal sederhana, namun itu sangat berarti bagi Baekhyun.

"Ugh.." Baekhyun meremat dada sebelah kirinya, tepat di mana rasa ngilu itu berasal. Lagi-lagi kerinduannya pada Chanyeol membuatnya tersiksa. Bahkan pada hal terkecil sekalipun, hanya Chanyeol yang terus berputar dalam benaknya.

"Di sini kau rupanya."

Suara Kyungsoo di belakang sana lantas meleburkan lamunan Baekhyun. Sahabatnya itu duduk di depannya dan tanpa permisi mengambil sandwich tuna milik Baekhyun.

"Kau tidak akan memakan ini?" Tak menunggu jawaban Baekhyun, Kyungsoo langsung saja memakan sandwich tuna itu. "Anyway, kenapa kau sarapan sendirian, hm? Mana PCY Seonsaengnim?"

Diingatkan tentang Chanyeol, mood Baekhyun pun jadi semakin turun. Bibirnya melengkung ke bawah dan kepalanya bersandar lesu pada meja.

"Kami sudah putus."

Diameter bola mata Kyungsoo yang sudah besar itu semakin besar karena ucapan Baekhyun. Beruntung ia sudah menelan sandwich tuna dalam mulutnya, jika tidak, bisa dipastikan ia tersedak.

"Apa?!" seru Kyungsoo tak percaya. "Kapan? Maksudku, bagaimana bisa kalian putus?"

"Aku yang memutuskan hubungan kami." Baekhyun membuang napas. "Tadinya kemarin aku ingin meminta saranmu, tapi malah terjadi kejadian tak terduga dan akhirnya kami putus."

Kyungsoo ikut membuang napas. Jadi ini sebabnya ia tidak menemukan Baekhyun di kampus kemarin? Menebak dari raut muka Baekhyun saat ini, Kyungsoo pikir 'kejadian tak terduga' yang dimaksud Baekhyun pasti ada hubungannya dengan Sehun.

"Aku harus bagaimana, Kyungsoo-ya?" Baekhyun menggigit bibir bawahnya sesaat ketika suaranya bergetar. Tampak bulir bening telah menumpuk di pelupuk matanya. "Semuanya jadi kacau gara-gara aku.."

Melihat Baekhyun yang terluka, hati Kyungsoo turut sakit karenanya. Padahal hubungan Baekhyun dan Chanyeol belum berjalan lama, tapi mereka sudah dihadapkan ujian berat. Tidak mungkin Baekhyun masih baik-baik saja jika sudah menitikkan airmata.

"Bisa kau ceritakan semuanya dari awal? Aku ingin membantumu, Baek.." pinta Kyungsoo sambil mengelus punggung tangan Baekhyun.

###

Pergerakan jemari Chanyeol di atas keyboard refleks terhenti karena ketukan di pintu ruangannya. Ia mempersilakan orang itu masuk, sebelum kembali sibuk mengetik.

"Ada titipan untuk Anda, Seonsaengnim." Tuan Ryu meletakkan paper bag di atas meja Chanyeol. "Ini dari mahasiswa yang bernama Byun Baekhyun."

Mendengar nama Baekhyun disebut, sontak mengalihkan atensi Chanyeol dari layar laptop. "Baekhyun, katamu? Di mana dia sekarang?"

"Uh..sudah pulang saya rasa."

"Begitu." Chanyeol mendesah kecewa. Tatapannya berhenti pada surat dinas yang tadi dibacanya, lalu beralih pada ponselnya yang belum bergetar sejak tadi.

Apa boleh buat—batinnya. Sudah menjadi keputusannya untuk memulai semuanya dari awal lagi, jadi mau tidak mau ia harus menahan diri agar tidak membuat Baekhyun lebih canggung padanya.

"Oh ya, apa titipan saya sudah diberikan pada Baekhyun?"

"Ya, sudah saya lakukan." sahut Tuan Ryu sambil mengangguk. "Apa ada hal lain yang Anda butuhkan?"

Chanyeol berpikir sejenak, sebelum akhirnya ia menggelengkan kepalanya. "Untuk saat ini tidak ada. Terima kasih banyak sebelumnya, Tuan Ryu."

"Sama-sama, Seonsaengnim. Kalau begitu, saya pamit dulu."

Begitu pintu ruangan ditutup, Chanyeol kembali menghela napas. Kali ini terdengar lebih berat dari sebelumnya. Pria bermarga Park itu memijat pelipis yang sedikit berdenyut, berusaha menenangkan pikirannya yang semrawut.

"Ah, sial." Chanyeol meraih surat dinas itu dan membaca isinya sekali lagi. "Kenapa aku harus pergi di saat seperti ini?"

###

"Begitu rupanya." Kyungsoo manggut-manggut setelah Baekhyun menyelesaikan ceritanya. Sekarang ia paham apa permasalahan sebenarnya di sini. Dan jika boleh jujur, Kyungsoo menyalahkan kenaifan Baekhyun sebagai salah satu pemicu terbesar dari permasalahan itu sendiri. Tapi ia akan membahasnya nanti, saat ini Baekhyun lebih membutuhkan dukungannya sebagai sahabat.

"Aku tidak tahu harus bagaimana, Kyungsoo-ya. Chanyeol Oppa bilang dia ingin memulai semuanya dari awal lagi, tapi aku bahkan tak bisa memikirkannya dengan benar karena Sehun Sunbae terus mendekatiku."

"Jadi, kau ragu karena Sehun Sunbae?"

"Bukan karena Sehun Sunbae, ini lebih condong pada perasaanku sendiri. Aku bingung."

Menghela napas panjang, Kyungsoo kemudian mengubah posisi duduknya ke samping Baekhyun. "Biar kutanya beberapa pertanyaan padamu. Kau jawab dengan jujur, oke?"

"Pertanyaan apa?"

"Apa kau memiliki perasaan lebih dari seorang teman terhadap Sehun Sunbae?"

Baekhyun menggeleng. "Aku hanya menyukainya sebagai teman."

"Bagaimana dengan perasaanmu pada PCY Seonsaengnim?"

Pandangan Baekhyun menerawang ke depan, membayangkan sosok Chanyeol; dimulai dari pertemuan pertama mereka yang tidak begitu bagus, sampai ke detik di mana si jangkung menyatakan cinta padanya.

DEG!

Dan respon berupa hentakan tak keruan Baekhyun dapatkan tak lama kemudian.

"Aku..masih mencintainya.."

TBC