"Aku..masih mencintainya.."
Kyungsoo menarik senyum. "Bukankah selama ini kau sudah memiliki jawabannya? Apa lagi yang kau ragukan, hm?"
Raut Baekhyun kembali muram ketika pokok permasalahannya dibahas. "Kau tak mengerti, Kyung. Ini tidak sesederhana kelihatannya." Ia memainkan jemarinya satu sama lain sambil merangkai kalimat dalam benaknya. "Aku merasa buruk pada Chanyeol Oppa. Yang dia lakukan hanyalah memperingatkanku tentang Sehun Sunbae, tapi aku malah menangkapnya sebagai bentuk kecemburuan berlebihan."
"Lalu?"
"Lalu, aku..tidak yakin memulai semuanya dari awal adalah jawaban kucari. Sejujurnya, aku takut jika semuanya malah berubah menjadi lebih buruk dari ini. Aku tak mau hal itu terjadi.."
Lagi, Kyungsoo menghela napas. Sepertinya sahabatnya ini berpikir terlalu banyak.
"Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari, Baek. Yang bisa kau lakukan hanyalah menjalaninya, termasuk hubunganmu dengan PCY Seonsaengnim. Memang ada kalanya hubungan kalian menemui masalah, tapi itu adalah hal yang wajar. Dan lagi, bukankah di situ letak tantangannya? Sekarang, PCY Seonsaengnim menawarkanmu untuk memulai semuanya dari awal lagi dan menurutku itu hal yang bagus."
"Kenapa begitu?"
"Karena itu membuktikan bahwa perasaan PCY Seonsaengnim tulus padamu. Dia ingin mempertahankanmu, bahkan rela menyingkirkan ego-nya demi kau. Ambil saja contoh saat Sehun Sunbae menciummu, apakah dia mempermasalahkannya? Tidak, kan?"
Benar juga. Alih-alih membahas Sehun, waktu itu Chanyeol justru meminta maaf dan meminjamkan Baekhyun jaket agar ia tidak kedinginan. Tak ada perdebatan seperti yang Baekhyun bayangkan, hanya ada sensasi hangat dan tulusnya perasaan Chanyeol. Sikap Chanyeol yang seperti itulah yang menghentakkan jantung Baekhyun sampai ke titik di mana ia sulit melupakan sosok tinggi itu.
Jika dipikir dengan saksama, ketakutan Baekhyun ini memang agak berlebihan. Padahal Chanyeol sebegitu mencintainya, sama seperti dirinya. Lalu, apa lagi yang harus Baekhyun takutkan di saat mereka memiliki hati satu sama lain? Bahkan Sehun bukan halangan baginya untuk kembali ke pelukan Chanyeol.
"Daripada memikirkan hal yang belum tentu akan terjadi, bagaimana kalau kau berhenti menyiksa hatimu sendiri? Jika kau merasa buruk pada PCY Seonsaengnim, segeralah minta maaf padanya. Karena menurutku, masalah sekecil apa pun tidak akan beres jika yang kau lakukan hanyalah menghindarinya, itu bukanlah jawaban." tutur Kyungsoo disertai senyuman. "Apa kau sudah mengerti, Baek?"
Baekhyun mengangguk pelan. Berat yang sedari tadi memikul hatinya, kini berangsur berkurang.
"Terima kasih, Kyungsoo-ya.."
.
.
.
###
AEIPATHY (GS VERSION)
Chapter 14 – Hesitancy
Main Casts : Park Chanyeol & Byun Baekhyun
###
.
.
.
"Nah, sekarang lebih baik kau cepat mengambil keputusan; apakah kau akan mengiyakan tawaran PCY Seonsaengnim atau justru menolaknya." Seringaian jahil muncul di sela kalimat Kyungsoo. "PCY Seonsaengnim itu tampan dan mapan lho, pasti banyak yang mengincarnya~"
"Y–yak! Jangan bicara yang tidak-tidak!" Bibir Baekhyun mengerucut sebal.
"Aku ini bicara tentang kenyataan, tahu? Karena itu, kau harus segera memutuskan kalau tidak ingin PCY Seonsaengnim-mu direbut orang lain."
Pipi Baekhyun sontak merona dan sialnya ia tak bisa menyembunyikannya. Meski saran Kyungsoo sangat membantu, tapi menyebalkan juga kalau digoda olehnya. Gadis bermata besar itu seolah tahu apa yang ada dalam pikirannya.
"Ah, menceramahimu panjang lebar begini membuatku haus. Hey, kau tidak akan meminum itu?"
Baekhyun melotot saat Kyungsoo menunjuk susu strawberry-nya yang belum diminum. "Jangan! Ini dari Chanyeol Oppa untukku!" serunya sambil mengamankan susu strawberry itu. Tapi yang didapatkannya kemudian adalah ledakan tawa dari mulut Kyungsoo. Hell, didengar dari sudut mana pun, sahabatnya itu jelas sedang mengejeknya.
"Aigoo~ coba lihat siapa yang tiba-tiba berubah jadi posesif, hm? Kau ini lucu sekali, Baek, hahaha!"
Sial. Ini memalukan sekali. Ditambah beberapa orang di kantin juga ikut terkekeh karena aksinya.
"Diam kau, Do Kyungsoo, atau aku akan menyumpal mulutmu dengan sepatuku." Baekhyun mengancam sambil memasang raut seram, tapi sepertinya itu tidak terlalu efektif. Kyungsoo tetap saja menertawakannya. "Yak, kubilang berhenti! Ini memalukan, tahu?!"
"Haha, baiklah, baiklah, aku berhenti." Kyungsoo mengusap airmata di sudut matanya. Ia sudah sedikit ini untuk menjahili Baekhyun lagi ketika matanya tak sengaja menangkap sosok Sehun yang berjalan ke arah kantin. "Y–Baekhyun-ah, aku duluan ya. Aku harus pergi menemui Song Seonsaengnim."
"Hm? Apa mau kutemani?"
"Eyy~ tidak usah, aku bisa sendiri. Sudah ya, bye!"
Tak menunggu respon Baekhyun, Kyungsoo cepat-cepat menghampiri Sehun. Apa pun yang terjadi, ia harus menahan Sehun agar tak bertemu Baekhyun.
"Kau mau menemui Baekhyun?" selidik Kyungsoo sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Jangan menggangguku, Do Kyungsoo."
Kyungsoo mendengus keras. Ternyata dugaannya benar. Sehun hendak menemui Baekhyun.
"Ada urusan apa lagi kau dengan Baekhyun, hah? Kau belum puas setelah merusak hubungannya dengan PCY Seonsaengnim?"
"Memang belum. Sekarang adalah kesempatanku untuk mendapatkan hati Baekhyun, jadi cepat menyingkir dari jalanku."
Dengusan keras kembali Kyungsoo keluarkan. "Sepertinya kau bermimpi, Sunbae."
"Apa?"
"PCY Seonsaengnim mengajak Baekhyun berpacaran lagi dan Baekhyun akan mengiyakannya."
Berbalik Sehun yang mendengus karena ucapan Kyungsoo. "Kau takkan bisa menipuku."
Merasa tersinggung, alis Kyungsoo pun menukik tajam. "Kau pikir aku berbohong?"
"Apa lagi?"
"Aku baru saja bicara dengan Baekhyun."
"Selain mendengarnya sendiri, aku takkan memercayai ucapan siapa pun—termasuk kau."
Kyungsoo berdecak kesal. Kalau begini caranya, Sehun akan terus mengejar Baekhyun dan semuanya bisa kacau lagi. Ia harus memikirkan cara lain agar Sehun sadar bahwa cintanya pada Baekhyun hanyalah bertepuk sebelah tangan.
"Kau mau bukti? Fine. Datanglah ke atap fakultas bahasa besok jam sembilan pagi. Aku akan meminta Baekhyun ke sana, jadi kau bisa mendengar sendiri bagaimana perasaannya padamu. Bagaimana?"
Sebenarnya Sehun ragu, tapi raut muka Kyungsoo terlihat sangat meyakinkan.
"Kenapa kau tiba-tiba melakukan ini?" tanya Sehun, mata memicing curiga pada Kyungsoo.
"Karena aku tidak berbohong."
Keadaan tiba-tiba menjadi hening.
Sehun masih menilik Kyungsoo, memastikan apakah gadis itu serius dengan ucapannya atau tidak. Sementara Kyungsoo bergeming pada posisi dan raut yang sama. Sudah ia putuskan untuk mengambil cara ini. Semoga Baekhyun bisa mengatasinya dengan baik nanti.
"Okay." Sehun akhirnya setuju. "Besok jam sembilan pagi, di atap fakultas bahasa. Tapi jika ternyata kau hanya membual," Ia maju ke sisi wajah Kyungsoo dan berbisik di depan telinganya, "Bersiap-siaplah menanggung akibatnya, Do Kyungsoo."
"Sialan." Kyungsoo mendesis kesal sambil menutup telinganya. Tak tahu kenapa, perasaannya jadi tidak enak, terlebih setelah Sehun pergi dengan seringaian terbentang di sudut bibirnya.
Mudah-mudahan ini langkah yang tepat.
###
"Kau ingin aku apa?!"
Atau tidak.
Bahkan tanpa tautan tajam alis Baekhyun, Kyungsoo dengan jelas bisa melihat protes besar-besaran dalam sorot mata sahabatnya itu setelah ia memintanya untuk bertemu Sehun besok. Tapi ini bukanlah akhir. Bagaimana pun caranya, Kyungsoo harus berhasil meyakinkan Baekhyun.
"Ini demi kalian berdua, Baek. Kau hanya perlu bicara sebentar dengan Sehun Sunbae dan beri tahu dia bagaimana perasaanmu."
"Kenapa harus?" Baekhyun masih melancarkan aksi protesnya. Ia sungguh tak ingin bertemu Sehun untuk sementara waktu ini.
"Karena Sehun Sunbae hanya percaya jika mendengar penjelasannya langsung darimu." Kyungsoo menatap Baekhyun dengan pandangan memohon, berharap sahabatnya luluh. "Ya? Kumohon, ini satu-satunya cara agar dia berhenti mengejarmu. Kau juga tidak mau kan jika Sehun Sunbae terus-terusan berada di antara kau dan PCY Seonsaengnim? Bisa-bisa hubungan kalian rusak lagi olehnya."
Baekhyun mengemut bibir bawahnya, merasa ragu. Ia memang ingin segera berbaikan dengan Chanyeol, tapi Kyungsoo ada benarnya juga. Selama Baekhyun belum memberikan penolakan tegas, Sehun pasti akan terus mengejarnya.
"Baekhyun-ah, kau tentu masih ingat kan apa yang kukatakan padamu? Menghindar tidak akan menyelesaikan masalah, begitu pula dengan kau dan Sehun Sunbae. Kau harus menghadapinya sebelum keadaan menjadi semakin rumit, lebih cepat lebih baik."
"A–aku paham itu, tapi—"
"Tenanglah, Baek." Kyungsoo menggenggam tangan Baekhyun, berusaha meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Aku berjanji akan menemanimu sampai urusanmu dengan Sehun Sunbae selesai. Oke?"
Baekhyun menunduk lemas. Tampaknya ia tak memiliki pilihan yang lebih baik.
"Baiklah. Akan kutemui Sehun Sunbae besok."
Kyungsoo tersenyum senang.
###
Sehun langsung mengganti jadwal mengajarnya yang seharusnya pagi ini ke besok sore demi bertemu Baekhyun. Benaknya terlalu dipenuhi Baekhyun sampai-sampai ia sulit tidur semalam.
Gugup? Hell, tentu saja. Bagaimana mungkin Sehun bisa tenang jika hari ini ia akan memastikan sendiri perasaan Baekhyun terhadapnya? Ini adalah momen yang ia tunggu-tunggu.
Melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya, Sehun menghembuskan napas untuk yang ke-sekian kali. Sebentar lagi memasuki waktu janjiannya dengan Baekhyun. Ah, ia sudah tidak sabar. Hentakan jantungnya bahkan semakin menggila di dalam sana.
CKLEK.
Pintu atap dibuka seseorang. Baekhyun muncul di sana.
"Baekhyun-ah, kau datang." Sehun menghampiri Baekhyun. Senyumannya terlampau lebar, jauh berbeda dengan ekspresi wajah Baekhyun yang terlihat dingin. "Untuk sesaat kupikir si mata besar itu menipuku, tapi aku senang ternyata kau benar-benar datang."
"Kau mau bicara apa?" tanya Baekhyun, tak basa-basi.
"Tidak perlu buru-buru begitu, Baekhyun-ah. Oh ya, kau sudah sarapan? Ayo kita—"
"Langsung saja bicara, aku ada urusan lain."
Mendapatkan respon begitu, senyuman Sehun luntur seketika. Ia benci melihat Baekhyun yang seperti ini, hanya membuatnya berpikir bahwa ia telah kalah dari Chanyeol.
"Kenapa diam saja? Kalau tidak ada yang ingin kau katakan, aku akan pergi."
Dengan cepat Sehun menahan tangan Baekhyun agar tetap di tempatnya. Keduanya sama-sama melayangkan tatapan menusuk.
"Kenapa kau berubah begini, hah?" Pertanyaan pertama Sehun. Dan Baekhyun tak menjawab. "Apa ini karena aku menciummu atau karena Park Chanyeol mengatakan sesuatu padamu?"
"Menurutmu kenapa?" Baekhyun balik bertanya. "Kau tahu yang kau lakukan itu salah, Sunbae. Aku baru saja putus dengan Chanyeol Oppa dan kau malah—"
"Aku tidak berpikir yang kulakukan adalah salah, Baekhyun-ah." tandas Sehun. Lamat-lamat ia tekan emosinya yang mulai goyah. "Aku memiliki perasaan ini jauh sebelum kau bertemu Park Chanyeol. Menurutmu kenapa aku kembali ke Seoul dan menerima tawaran dari Seo Seonsaengnim? Itu semua demi kau, Baekhyun-ah. Aku ingin bertemu denganmu lagi. Aku ingin kau tahu bagaimana perasaanku padamu dan aku juga ingin tahu bagaimana perasaanmu padaku."
"Bukankah semuanya sudah jelas? Selama ini aku hanya menganggapmu sebagai teman, Sunbae. Sekalipun aku dan Chanyeol Oppa sudah putus, kau tetaplah seorang teman bagiku. Tidak lebih."
Tanpa sadar pegangan tangan Sehun di tangan Baekhyun mengerat. Bukan ini yang ia harapkan untuk ia dengar.
"Kenapa?" desis Sehun, nyaris menyerupai bisikan. "Apa yang kurang dariku sampai kau lebih memilihnya?"
"Ini bukan tentang siapa yang lebih baik, Sunbae." Baekhyun melepaskan tangan Sehun. "Aku mencintai Chanyeol Oppa, hatiku hanya bereaksi padanya. Dan ini tidak ada hubungannya dengan siapa yang duluan menyukaiku, aku tetap mencintai Chanyeol Oppa."
Keheningan lalu merayapi situasi keruh di sana. Sehun tak bereaksi apa pun, tenggorokannya terlalu sakit untuk berkata. Sama sakitnya dengan luka yang Baekhyun torehkan di hatinya.
"Mungkin ini terdengar tidak adil bagimu, tapi aku bersungguh-sungguh mengatakannya, Sunbae." Baekhyun menggenggam tangan Sehun, menatap si jangkung dengan pandangan memohon. "Karena itu, aku mohon padamu, biarkan aku bersamanya.."
Sehun masih tak memberikan respon apa pun, hanya bergeming di tempatnya. Tatapannya tertuju ke bawah, tampak kosong bahkan setelah Baekhyun pergi meninggalkannya sendirian di sana. Kata-kata penolakan yang Baekhyun lontarkan tadi tak henti berdengung dalam benaknya, layaknya sebuah kaset kusut yang memutarkan mimpi buruk. Bohong jika Sehun berkata ia baik-baik saja. Karena faktanya, semakin lama ia memikirkannya, semakin dalam pula luka yang tercipta di hatinya.
Apa ini sungguh akhir dari perasaannya? Berbeda jauh dengan ekspektasinya ketika ia berhasil menemukan Baekhyun, jawaban yang Sehun terima hanya berbuah penolakan? Lalu untuk apa usahanya selama dua belas tahun ini?
Tanpa sadar, kepalan tangan Sehun menguat karena satu nama yang menjadi penyebab dari semua ini. Satu nama yang sejak pertama kali bertemu tak pernah ia sukai. Dan yang terpenting, menjadi penghalang terbesar bagi dirinya untuk bersama Baekhyun.
Park Chanyeol.
"Tidak." Suara Sehun menolak fakta dalam desisan. Sorot matanya berubah dingin, tertuju lurus pada pintu atap yang sedikit terbuka. "Jika aku tidak bisa memiliki Baekhyun, maka kau pun tidak."
Dibutakan oleh pemikiran yang sempit, Sehun mengambil ponselnya dari saku celana dan mengetikkan sebuah pesan pada Chanyeol. Begitu pesan itu terkirim, Sehun mengayunkan tungkainya untuk menyusul Baekhyun, dengan senyum miring terbentang di sudut bibirnya.
###
Saat ini Baekhyun berniat untuk menemui Chanyeol. Ia ingin meluruskan semua masalah dan jika bisa—memulai kembali hubungan mereka yang sempat retak. Ini sungguh membuat Baekhyun gugup, tapi juga bersemangat di saat bersamaan. Ada banyak kemungkinan, Baekhyun tak tahu mana yang akan berhasil, setidaknya ia harus mencoba. Karena sama seperti Chanyeol, Baekhyun pun ingin memperjuangkan cintanya untuk pria tinggi itu.
"Mungkin sebaiknya aku menghubunginya du—"
Baekhyun sudah sedikit ini untuk mencari nomor Chanyeol di ponselnya, namun seseorang menahan pergerakan itu dan menariknya menuju sudut bawah tangga.
Tepat di hadapan Baekhyun, manik Sehun menatapnya tajam. Pria bersurai ebony itu melempar asal ponsel Baekhyun dan mengurung tubuh si mungil dalam kungkungannya.
"A–apa yang kau lakukan, Sunbae?"
Tak peduli dengan intonasi ketakutan itu, Sehun malah mengeratkan kungkungannya, lalu memajukan wajahnya ke wajah Baekhyun.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu bersama Park Chanyeol semudah itu, hm?".
"A–apa?"
Tanpa aba-aba, satu lumatan intens Sehun daratkan di bibir Baekhyun, membuat mata gadis itu membelalak kaget. Susah payah Baekhyun berusaha melepaskan diri, tapi itu justru hanya memperkuat kungkungan Sehun di tubuhnya.
Tak berhenti sampai di sana, tangan Sehun kini bergerak memasuki baju Baekhyun. Pria itu mengelus pinggang ramping si mungil, sambil meninggalkan jejak kemerahan di leher jenjang itu sampai napasnya dibuat berantakan.
Sehun sama sekali tidak mengizinkan Baekhyun barang beberapa detik untuk bicara, apalagi melawan. Alih-alih Sehun memperdalam ciuman sepihak itu, dengan memaksa lidahnya masuk ke dalam mulut Baekhyun.
Tepat di saat Sehun mendengar suara langkah seseorang dari arah kiri, barulah ia mengakhiri kegiatannya. Diambilnya sedikit jarak tanpa melepaskan kungkungan itu, hanya untuk memamerkan seringaian di sudut bibirnya.
"You see, you're missing one important thing, Baek." Sehun berbisik. Maniknya menilik puas Baekhyun yang benar-benar sudah tak memiliki tenaga untuk melawan, sebelum beralih pada sosok bersurai ash grey yang mematung di belakang mereka. "That is..Park Chanyeol gets fucking jealous very easily."
Inilah rencana Sehun.
"Smile, Baekhyunnie. Your ex is standing right behind us~"
Agar Chanyeol menyaksikan semuanya.
"Apa?!"
Ketika Baekhyun tersadar akan situasi dan perlahan tenaganya terkumpul kembali, Sehun segera melepaskan kungkungannya. Sambil bersandar santai di dinding, ia nikmati ekspresi Chanyeol detik itu. Bagaimana wajahnya memerah karena emosi yang nyaris meledak dan tak ada kata terucap dari bibirnya. Itu adalah ekspresi yang Sehun inginkan.
"O–Oppa.." Baekhyun terbata. Wajahnya memucat secara perlahan. "A–aku bisa jelaskan semuanya."
Daripada mendengarkan penjelasan Baekhyun, Chanyeol justru menghampiri Sehun. Kegusaran dalam obsidiannya itu tertuju lurus di mana si rambut ebony berdiri, yang tak lebih direspon dengan sebuah dengusan.
"Kenapa? Kau kesal sampai ingin memukulku?" ledek Sehun, tangan melipat sempurna di depan dada. "Silakan saja, aku takkan melarang."
Mendelik Sehun yang semakin berani menyulut emosinya, lamat-lamat Chanyeol mengertakkan gigi. Muak? Tentu saja, terlebih karena Sehun tahu cara memanfaatkan kelemahannya yang seorang pencemburu untuk memperkeruh hubungannya dengan Baekhyun. Dan sialnya, itu kerap berhasil—termasuk detik ini.
Darah Chanyeol mendidih luar biasa di dalam sana. Kata 'gusar' bahkan tak lagi bisa merepresentasikan perasaannya. Memori ketika Sehun mencium Baekhyun di taman tempo hari dan apa yang Chanyeol barusan saksikan, melebur jadi satu hingga efeknya berimbas pada detakan jantung dan kepalan tangannya.
"Kenapa diam saja, hah? Kau takut?"
Layaknya api yang sengaja disiram bensin, tangan Chanyeol yang mengepal kuat itu melayang begitu saja dan mengantam keras tepat di perut Sehun hingga ia terjatuh. Sehun hendak membalas serangan Chanyeol, namun pria bermarga Park terlalu mendominasi perkelahian tersebut. Alhasil, wajah Sehun pun menjadi target bogem mentah Chanyeol berikutnya dan ia kembali terjatuh.
"Heh," Sehun mencibir seraya mengusap darah segar di sudut bibirnya. Mengabaikan rasa nyeri yang menjalari tubuhnya, ia memosisikan diri untuk duduk, sebelum memandang remeh Chanyeol. "Pukulanmu lumayan juga, Park. Tapi apa hanya itu yang kau punya, hah? Menggelikan sekali."
Chanyeol menarik sudut bibirnya membentuk seringaian. Sehun sama sekali belum sadar bahwa Chanyeol memiliki satu cara untuk menyingkirkannya dari kehidupan Baekhyun.
"Tadi itu hanya peringatan kecil, Oh Sehun." Chanyeol balik meremehkan Sehun. Ia mencengkeram baju pria bersurai ebony itu, menghujamnya dengan tatapan tajam. "Jadi kusarankan kau untuk segera mengundurkan diri dari SNU, sebelum perbuatan kotormu menjadi bumerang bagi dirimu sendiri."
Sehun tertawa keras mendengar ancaman itu. "Omong kosong macam apa ini, hah? Kau sebut itu 'ancaman'?" ledeknya.
"Kenapa harus mengancam kalau aku bisa melakukannya detik ini juga? Aku punya nomor polisi di ponselku dan aku takkan segan-segan bersaksi atas apa yang kulihat barusan." Chanyeol memberi jeda sejenak, lalu mendesis di depan wajah Sehun. "Seorang dosen pengganti melecehkan mahasiswanya sendiri, bisa kau bayangkan itu? Aku bertaruh namamu akan masuk ke dalam black-list sederet universitas ternama."
Tak ada yang bisa Sehun lakukan detik selanjutnya, selain mengubur amarahnya dalam-dalam. Fakta bahwa Chanyeol baru saja menyingkirkannya dari sisi Baekhyun dengan memanfaatkan kejadian barusan, membuat Sehun dongkol setengah mati. Jika ia berani menantang balik Chanyeol dan memperbesar masalah ini, itu pasti akan berimbas buruk pada dirinya di masa depan nanti.
Chanyeol bangkit dari posisinya setelah menghempaskan cengkeramannya pada baju Sehun. Tanpa melirik Baekhyun yang sedari tadi mematung menyaksikan pertengkaran itu, Chanyeol pergi dari sana.
"O–Oppa, tunggu!" seru Baekhyun setengah berlari mengejar Chanyeol. Namun pria tinggi itu seakan menulikan pendengarannya dan terus melangkah ke depan. "Oppa, dengarkan aku dulu! Ini tidak seperti yang kelihatannya, kumohon jangan pergi!"
Mendesah lelah, Chanyeol pun menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap Baekhyun yang tampak putus asa. Pria bersurai ash grey itu masih tak mengeluarkan kata-kata, hanya menatap lurus manik Baekhyun, menunggu penjelasan yang dijanjikannya.
"A–aku tidak memulai semuanya, aku bersumpah. Sehun Sunbae tiba-tiba saja datang dan menciumku, padahal aku—"
"Hatimu," Chanyeol tiba-tiba memotong. "Kepada siapa tepatnya kau memberikannya?"
"T–tentu saja padamu—"
"Seutuhnya?"
"Apa?"
"Atau kau justru membaginya pada Oh Sehun juga?"
Jantung Baekhyun berdenyut ngilu mendengar tuduhan itu. "A–apa maksudmu? Kau meragukan perasaanku?"
Untuk sesaat, Chanyeol terdiam saja. Ia tak yakin ingin mengatakan jawaban yang sesungguhnya karena itu pasti akan menyakiti mereka berdua, terlebih mata Baekhyun sudah mulai berkaca-kaca. Namun di saat bersamaan, Chanyeol juga sadar bahwa ia tak bisa selamanya berpura-pura seolah hatinya baik-baik saja. Chanyeol mungkin bisa memaafkan Baekhyun waktu itu karena ia percaya padanya. Tapi ini adalah kali kedua hal yang sama terjadi, atau mungkin lebih buruk. Sulit rasanya untuk melupakannya begitu saja. Entahlah. Chanyeol terlanjur kecewa pada Baekhyun.
"Sejujurnya, ya." jawab Chanyeol selang beberapa detik. "Aku benci mengakuinya, tapi itulah yang kurasakan sekarang."
Bola mata Baekhyun bergerak gelisah. Hati dan benaknya mulai dipenuhi kekalutan. "Apa karena yang kau lihat barusan? Bukankah sudah kukatakan bahwa itu tidak seperti kelihatannya? Aku bahkan tidak menginginkannya, Oppa. Kumohon, percayalah padaku.." pintanya di antara isak.
Chanyeol mengepalkan tangannya kuat-kuat. Perasaannya jadi tak keruan. Sakit rasanya melihat Baekhyun terisak seperti ini. Padahal ia paling tak ingin membuatnya menangis, tapi—
"Beri aku waktu." Chanyeol menelan ludahnya susah payah ketika sesak menyulitkannya untuk bernapas. "Sendirian."
Mungkin ini yang terbaik untuk mereka.
###
Patah hati.
Selama dua puluh empat tahun hidupnya, Sehun baru sekarang merasakan yang namanya 'patah hati'. Padahal dulu ia selalu menjadi pihak yang memutuskan hubungan dan tak pernah ambil pusing meski pasangannya menangis tak ingin diputuskan. Baru kali ini hatinya sesakit ini. Hanya Byun Baekhyun yang berhasil membuatnya seperti ini.
Mungkinkah ini karma? Entahlah. Sehun tidak ingin memikirkan itu sekarang. Pikirannya terlalu semrawut. Yang Sehun inginkan hanyalah melepas stres dengan minum bir sepuasnya. Ia tak peduli lagi pada apa pun, toh pada kenyataannya Baekhyun sudah menolaknya mentah-mentah dan ia akan segera mengundurkan diri dari SNU.
"Sial." Umpatan kecil Sehun lontarkan saat kaleng bir yang dilemparnya tidak masuk ke tong sampah. Namun bukannya langsung memungut kaleng tersebut, pria bermarga Oh itu malah membuka bir berikutnya. Pikirnya, biarlah, nanti juga akan muncul orang yang peduli dan memungut kaleng itu.
"Sebegitu malasnyakah kau untuk sekedar membuang sampah ke tempatnya? Aigoo!"
Itu Kyungsoo, berdiri tak jauh dari tempat Sehun berada. Gadis itu memungut kaleng bir yang tadi si jangkung lempar, lalu memasukkannya ke dalam tong sampah.
Seperti biasa, Sehun bersikap tak acuh. Dengan santai ia menyesap bir-nya, seolah Kyungsoo yang duduk di sebelahnya tidak kasat mata.
"Biar kutebak," Kyungsoo melirik Sehun. "Sedang melepas stres?"
Lagi, Sehun tak memberikan respon, hanya memandang lurus lampu-lampu jalanan yang berkedip dengan indahnya. Biar saja Kyungsoo berkicau semaunya malam ini, Sehun sedang malas bicara.
"Kau akan terus mengabaikanku, hm?" tanya Kyungsoo sambil membuka salah satu bir milik Sehun tanpa meminta izin pada si empu-nya. Pandangannya kemudian turut berlabuh pada lampu-lampu jalanan. "Lukamu..sudah kau kompres?"
Sehun mendengus kasar. Entah kenapa ia tak terkejut ditanyai begitu. Pasti Baekhyun sudah menceritakan kejadian tadi pagi pada Kyungsoo.
"Kupikir kali ini kau harus mengakuinya, Sunbae." Kyungsoo menyesap bir-nya sesaat. "Bahwa kau sudah melakukan kesalahan fatal."
Sehun merotasikan bola matanya jemu. Mood-nya jadi bertambah buruk. "Jika kau datang kemari untuk menceramahiku, lebih baik kau pulang—"
"Baekhyun terluka, kau tahu?" Kyungsoo menyela Sehun. "Aku tak bermaksud membelanya karena aku juga tahu kau dalam posisi terluka, hanya saja.." Ia menatap Sehun yang juga tengah menatapnya. "Apa kau benar-benar akan pergi dengan situasi seperti ini?"
Sehun termangu kemudian. Jantungnya berdenyut ngilu untuk satu alasan.
###
Satu helaan napas keluar dari celah bibir Chanyeol setelah tubuhnya ia hempaskan ke sofa. Sekilas kejadian tadi pagi lagi-lagi menghasilkan rasa tak suka dalam hatinya. Entah bagaimana, semuanya jadi begitu kacau. Dan sialnya, itu memengaruhi kepercayaannya pada Baekhyun.
"Aish." Chanyeol memejamkan matanya, berharap dengan begitu ia bisa menemukan solusi untuk semua masalahnya.
Tapi tidak.
Yang ada kepala Chanyeol berdenyut sakit, terlebih saat fakta dengan telak mengingatkannya akan hubungannya dengan Baekhyun yang masih retak, sementara besok Chanyeol harus pergi dinas ke Jerman—entah untuk berapa lama.
"Aku harus bagaimana, Baek?" Chanyeol mengerang frustrasi.
###
Pukul tujuh pagi, Baekhyun terbangun dengan mata sembab di kamar Kyungsoo. Ia meringis kecil ketika kepalanya terasa agak pening. Ah, itu pasti efek dari ketiduran setelah minum dua botol soju. Baekhyun ingat kemarin ia datang ke apartemen Kyungsoo, menceritakan semua yang terjadi sampai ia membanjiri baju sahabatnya dengan airmata.
Mencoba bangkit dari posisi berbaring, Baekhyun ambil ponselnya di atas nakas. Terdapat beberapa pesan masuk di sana, tapi tak satu pun berasal dari Chanyeol. Dalam hati Baekhyun mengejek dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia berharap Chanyeol menghubunginya di saat kemarin ia sudah menyakiti hatinya. Meski itu disebabkan oleh rencana licik Sehun, tetap saja Baekhyun merasa buruk pada Chanyeol. Ia bahkan tak tahu apakah Chanyeol mau memaafkannya dan kembali padanya.
Sadar pelupuk matanya kembali digenangi airmata, Baekhyun pun meletakkan ponselnya, lalu melangkah lesu menuju kamar mandi. Dibasuhnya beberapa kali wajahnya yang kusut itu, lalu menatap miris bayangannya di cermin wastafel. Ia benar-benar tampak kacau dengan kantung mata yang tebal itu. Beruntung Kyungsoo mengizinkannya bermalam di apartemennya, karena jika tidak, Baekhyun harus pulang ke rumah dan berhadapan dengan rentetan pertanyaan dari Samuel.
Omong-omong tentang Kyungsoo, ke mana perginya gadis itu? Baekhyun tidak menemukannya di dalam kamar. Mungkinkah Kyungsoo sudah pergi duluan ke kampus?
###
Dahi Kyungsoo berkerut ketika pendengarannya menangkap suara hair-dryer, tak jauh dari tempatnya tertidur. Membuka kelopak matanya yang masih terasa berat, Kyungsoo mencari sumber suara itu. Bayangan seorang pria yang bertelanjang dada ia tangkap sedikit kabur. Sempat beberapa kali Kyungsoo mengucek matanya untuk memastikan bahwa ia sedang berhalusinasi, tapi sosok pria bertelanjang dada itu tetap ada di sana.
Dan pria itu adalah Oh Sehun.
"A–APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?!" Kyungsoo menunjuk Sehun dengan mata melotot saking kagetnya. Sementara si rambut ebony hanya menanggapi dengan raut datar.
"Kau belum sadar di mana kau berada ya?"
"Eh?" Kyungsoo mengerjap dua kali. Diperhatikannya sekelilingnya, menemukan pemandangan yang tak biasa. Mendadak tenggorokan Kyungsoo jadi kering. Ia tak ingin main tebak, tapi juga sangat penasaran. "D–di mana ini sebenarnya?" tanyanya hati-hati.
"Di mana lagi?" Sehun balik bertanya. "Tentu saja di apartemenku."
Bola mata Kyungsoo kembali membelalak, kali ini dilengkapi dengan pipi bersemu sampai ke telinga.
"A–APARTEMENMU, KATAMU?! K–KENAPA BISA?! APA YANG TERJADI SEMALAM?!"
Sehun merotasikan bola matanya bosan. Reaksi Kyungsoo ini benar-benar berlebihan.
"Seharusnya kau tanya pada dirimu sendiri, Do Kyungsoo."
"Eh?! Kenapa aku?!"
"Karena jika kau tak mabuk semalam, aku tak perlu repot-repot membawamu kemari."
"Mabuk? Aku mabuk? Bagaimana bisa?" Kyungsoo menunjuk wajahnya, kentara tak percaya dengan ucapan Sehun.
"Aku membeli tujuh kaleng bir dan kau meminum lima. Sekarang kau paham kenapa kau bisa mabuk?"
Kilas balik kejadian semalam tiba-tiba memenuhi kepala Kyungsoo. Ah, ia ingat sekarang. Setelah meminum satu kaleng bir milik Sehun, ia jadi seperti ketagihan sampai tidak sadar sudah meminum lima. Sekelebat racauannya pun mulai Kyungsoo ingat. Sial, ini benar-benar memalukan. Ia jadi penasaran akan sesuatu.
"T–tapi, aku tidak muntah di bajumu kan, Sunbae?" tanya Kyungsoo takut-takut. Ini akan menjadi lebih memalukan jika dia benar muntah di baju Oh Sehun.
"Tidak, kau muntah sebelum aku menggendongmu."
Kyungsoo menghela napas lega untuk itu.
"Oh, and FYI," Sehun menambahkan. "You're heavy like a freakin' bear."
Dikatai 'beruang', refleks Kyungsoo menendang bokong Sehun sampai si jangkung terjatuh dari ranjang.
"YAK! Apa yang kau lakukan?!" protes Sehun sambil mengelus bokongnya yang berdenyut.
"Kau hanya mengarang cerita, iya kan?" Kyungsoo melipat kedua tangannya di depan dada, masih menolak percaya pada ucapan Sehun. "Lagipula, kenapa juga kau malah membawaku kemari dan bukannya ke apartemenku?"
Sehun ikut melipat kedua tangannya di depan dada, menantang Kyungsoo. "Dari mana aku tahu alamat apartemenmu, bodoh? Aku bahkan tidak pernah ke sana."
"Kau kan bisa bertanya!"
Sehun mendengus. "Pada siapa? Kau?"
"Tentu saja pada—" Kyungsoo cepat-cepat menggigit lidahnya. Nyaris saja ia menyebut nama 'Baekhyun'.
"Daripada marah-marah, seharusnya kau bersyukur aku tidak meninggalkanmu di taman yang sepi itu. Kau tahu punggungku hampir patah gara-gara menggendong tubuhmu yang berat itu."
Kyungsoo mendelik Sehun kesal. Sialan—batinnya. Kalau pria itu bukan seorang sunbae, sudah pasti kepalanya takkan selamat dari pukulan Kyungsoo.
"Kalau kau sudah merasa lebih baik, cepat pakai jaketmu. Aku mau pergi sekarang."
Alis Kyungsoo terangkat sebelah mendengar itu. "Pergi? Memang kau mau ke mana?"
Ada satu jeda ketika Sehun memunggungi Kyungsoo dan tak langsung menjawab pertanyaannya. Pria bersurai ebony itu menunduk sebentar, sebelum menoleh pada Kyungsoo.
"Ke Inggris."
###
Setelah berdebat dengan otaknya selama hampir setengah jam, ego Baekhyun akhirnya menang. Ia memutuskan untuk pergi ke kampus hari ini. Tujuan utamanya tak lain dan tak bukan adalah bertemu Chanyeol. Well, tidak sepenuhnya bertemu, Baekhyun hanya akan melihatnya dari kejauhan. Dan agar tujuannya itu tercapai, Baekhyun menggunakan masker dan topi untuk menutupi wajahnya. Semoga saja ia tidak ketahuan oleh Chanyeol.
"Oke, ini dia."
Hentakan jantung Baekhyun meningkat seiring langkahnya menuju lobi jurusan. Jemari-jemarinya yang lentik bermain satu sama lain sebagai pelampiasan atas kegugupannya.
Saat ini, waktu tengah menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh tujuh menit. Seingat Baekhyun, hari ini Chanyeol ada jadwal mengajar pukul sepuluh di lantai tiga. Chanyeol mungkin belum datang, jadi menunggu di lobi jurusan sepertinya ide yang bagus.
Sengaja Baekhyun memilih tempat duduk tepat di samping para mahasiswa tingkat tiga berkumpul, dengan begitu kehadirannya tidak akan disadari Chanyeol. Namun baru duduk sekitar lima menit, percakapan para mahasiswa tingkat tiga itu lebih dulu menarik perhatian Baekhyun.
"Yak, bukankah sekarang kau ada kelas PCY Seonsaengnim? Kau membolos ya?"
"Eyy~ tenang saja. PCY Seonsaengnim tidak akan masuk. Kudengar dari Tuan Ryu, beliau sedang pergi dinas."
"Eh? Ke mana?"
"Entahlah, yang pasti dinasnya lumayan lama. Kudengar para sunbae yang dosen pembimbingnya PCY Seonsaengnim pun akan dialihkan ke dosen lain."
"Eh? Serius?"
Kata-kata itu sontak mengagetkan Baekhyun. Pasalnya ia baru tahu hal ini, Chanyeol bahkan tak menyebutkan apa-apa soal dinas. Mungkinkah Chanyeol memang sengaja tidak memberitahunya?
"T–tidak, sebaiknya kupastikan dulu pada Tuan Ryu." Bangkit dari duduknya, Baekhyun pun pergi menemui Tuan Ryu di meja jurusan. Ia tak mau berprasangka buruk dulu pada Chanyeol. "Permisi, Tuan Ryu." panggil Baekhyun, menghentikan kegiatan Tuan Ryu yang sedang mengetik sesuatu di komputer. "Apa PCY Seonsaengnim sudah datang kemari?"
"PCY Seonsaengnim? Beliau sedang cuti."
"C–cuti? Kenapa?"
"Kau tidak tahu? Beliau sedang pergi dinas ke Jerman. Hari ini jadwal keberangkatannya."
"J–Jerman? Untuk berapa lama?"
"Entahlah, tidak bisa dipastikan karena beliau ke sana untuk melakukan riset. Kau ada perlu dengan beliau?"
Bola mata Baekhyun tiba-tiba bergerak gelisah dan jantungnya berdegup lebih kencang. Tak satu pun suara bisa Baekhyun dengar karena benaknya terlalu penuh dengan berbagai pertanyaan. Namun sekeras apa pun gadis itu berpikir, ia tak bisa menemukan jawaban yang cocok. Seolah ada benang kusut melilit otaknya sampai ia kesulitan berpikir.
Apakah ini memang sungguh akhir dari hubungan mereka? Benar-benar sudah tidak ada harapan lagi?
"Sampai kau benar-benar menolak perasaanku," Chanyeol mengecup punggung tangan Baekhyun, tersenyum lembut di jeda kalimatnya. "Aku takkan menyerah tentangmu, Byun Baekhyun.."
Tidak.
Ini belum berakhir.
Sama seperti Chanyeol, Baekhyun sudah putuskan untuk memperjuangkan cintanya pada Chanyeol. Ia tidak akan menyerah. Setidaknya sampai masalah di antara mereka selesai dan Baekhyun mendapatkan jawaban yang pasti atas perasaannya, ia akan terus memperjuangkan cintanya.
Dengan tekad itulah, Baekhyun pergi menyusul Chanyeol ke bandara. Semoga ia belum terlambat.
TBC
