Bandara Internasional Incheon..
Semula Kyungsoo pikir Sehun bercanda ketika dia berkata akan pergi ke Inggris, tapi ternyata itu benar. Nyatanya kini pria itu memegang sebuah paspor dan membawa seluruh barangnya ke dalam koper.
"Tak kusangka kau benar-benar pergi."
Satu senyum jahil Sehun berikan pada Kyungsoo. "Apa ini? You miss me already?"
"M–memangnya kapan aku bilang begitu?!" elak Kyungsoo. Pipinya samar-samar bersemu.
"Lalu kenapa kau merona, hm?"
"Aku tidak merona!"
Sehun tertawa puas. Sementara Kyungsoo mendengus sebal.
"Hey, do me a favor."
"What?"
"Kabari aku kalau Baekhyun sudah putus dengan si Park Chanyeol."
Kyungsoo melemparkan raut datar. "Kau masih belum menyerah, hah?"
"Menyerah itu membutuhkan waktu, kau tahu? Kecuali jika aku sudah menemukan pengganti yang cocok."
"Ada banyak wanita cantik di Inggris, kau pilih saja salah satunya."
"Kita lihat saja nanti." Sehun melirik waktu di jam tangannya. "Aku harus pergi sekarang."
"Hm, jaga dirimu, Sunbae. Kabari aku kalau kau sudah sampai di sana, oke?"
Sehun tersenyum kecil, sedikit banyak terharu akan perhatian yang Kyungsoo berikan padanya. Padahal jika diingat-ingat, Sehun sudah beberapa kali membuat Kyungsoo kesal setengah mati, tapi justru Kyungsoo-lah yang selalu menemaninya di saat-saat tak terduga. Termasuk detik ini.
"Thanks, Kyung." Sehun membawa wajahnya mendekati wajah Kyungsoo dan mendaratkan kecupan di pipi gadis itu. "Don't miss me too much, okay?" Lalu mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda si mungil yang melotot kaget.
"K–k–kau—"
"Bye~"
Kyungsoo tak sempat mengeluarkan umpatannya karena Sehun sudah lebih dulu pergi meninggalkannya. Alih-alih, Kyungsoo justru tersenyum kecil pada sosok bersurai ebony itu. Dalam hati ia berharap semoga Tuhan memberi Sehun kesempatan untuk jatuh cinta lagi, kali ini pada orang yang juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya.
.
.
.
###
AEIPATHY (GS VERSION)
Chapter 15 – I Am Yours
Main Casts : Park Chanyeol & Byun Baekhyun
###
.
.
.
Kedua tungkai Baekhyun berlari kencang menyusuri kerumunan yang memadati bandara. Sambil terus berusaha menghubungi nomor Chanyeol, bola mata Baekhyun tak henti mencari sosok tinggi bersurai ash grey itu, tak peduli sekalipun napasnya kian berantakan. Baekhyun tak tahu pasti jam berapa pesawat yang ditumpangi Chanyeol berangkat, ia hanya berharap pria jangkung itu segera mengangkat teleponnya, hingga Baekhyun tahu ia belum terlambat.
"Oppa, di mana kau? Kumohon, cepat angkat ponselmu." Baekhyun menggigit bibir bawahnya kelewat resah. Perasaannya semakin tidak enak karena lagi-lagi ia terhubung dengan voice mail. Mungkinkah pesawat yang membawa Chanyeol sudah lepas landas?
"Tidak, tidak!" Baekhyun menggeleng keras, berusaha menepis pemikiran buruknya. Apa pun yang terjadi, ia tak boleh menyerah. Siapa tahu kan Chanyeol mengaktifkan mode getar di ponselnya dan dia tidak sadar ada yang meneleponnya? Atau bisa juga baterai ponsel Chanyeol memang sudah habis. Ya, kemungkinan itu selalu ada.
Berhenti menelepon Chanyeol, Baekhyun kemudian berlari menuju FIDS untuk mencari tahu jadwal keberangkatan pesawat dengan tujuan Frankfurt, Jerman. Namun belum sempat Baekhyun menemukannya, sebuah pengumuman menghentikan laju larinya.
"Perhatian, panggilan terakhir untuk para penumpang yang belum memasuki pesawat Asiana Airlines dengan nomor penerbangan OZ641 tujuan Frankfurt, dipersilakan segera naik ke pesawat melalui pintu A12."
Pelupuk mata Baekhyun seketika digenangi airmata. Ia semakin panik.
"Tidak.." Baekhyun kembali berlari, ia mulai terisak. "Jangan pergi dulu, Oppa, kumohon.."
Sepuluh menit—tidak, lima menit. Bahkan jika Tuhan berbaik hati memberinya sedikit waktu untuk bertemu Chanyeol, Baekhyun berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia akan meminta maaf pada Chanyeol, mengatakan bahwa ia tak pernah membagi hatinya pada siapa pun, hanya pada Chanyeol.
"Kumohon.."
Seutuhnya, hatinya adalah milik Chanyeol.
"Jangan pergi.."
Kaki Baekhyun berhenti di depan pintu A12 yang sudah tertutup rapat. Ia terlambat.
"Aku.." Baekhyun menunduk di antara airmatanya yang berjatuhan tanpa henti. Satu tangannya memegang dada sebelah kiri, di mana jantungnya terasa begitu sesak. "Aku mencintaimu, Oppa. Sangat.."
Baekhyun benar-benar merasa begitu bodoh. Padahal dulu ia memiliki banyak kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka, bahkan Chanyeol sempat memintanya untuk memulai kembali hubungan yang retak itu, tapi kenapa ia malah mengulur-ulur waktu dan baru sadar sekarang?
Di saat Chanyeol pergi jauh dan belum tahu pasti kapan ia akan pulang.
Di saat tak banyak waktu untuk mengutarakan apa yang ada dalam hati satu sama lain.
"Baek?"
Suara itu lantas menyentakkan Baekhyun. Ia mendongak perlahan, mendapati seseorang yang tak asing berdiri di hadapannya dengan raut kebingungan.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Itu Kyungsoo.
"Kyungsoo-ya.." Baekhyun memeluk sang sahabat, menumpahkan kesedihannya di bahu sempit itu. "Chanyeol Oppa..dia pergi.."
"Pergi? Ke mana?"
Baekhyun tak menjawab, hanya mengeratkan pelukannya di tubuh mungil itu dan menangis sesenggukan. Kyungsoo sendiri tak bertanya lebih lanjut, memilih untuk mengusap punggung Baekhyun agar sahabatnya merasa lebih baik. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi sepertinya ini bukan berita bagus.
"Ayo, kita pulang. Kau ceritakan semuanya begitu kita tiba di apartemenku, oke?"
Kyungsoo menggenggam tangan Baekhyun, mengajaknya pergi dari sana. Ia menyetop sebuah taksi yang baru memasuki pelataran bandara. Namun tepat ketika tangannya terulur untuk membuka pintu taksi, itu sudah dibuka duluan oleh seseorang dari dalam.
Manik bertemu manik.
Baik Baekhyun, maupun Kyungsoo, sama-sama membelalakkan mata akan sosok tinggi bersurai ash grey yang keluar dari taksi tersebut. Bahkan untuk sesaat, Baekhyun merasa jantungnya seperti berhenti berdetak, terlebih karena kini sosok itu berdiri di hadapannya dengan senyum yang teramat Baekhyun rindukan.
Itu Park Chanyeol.
"C–Chanyeol Oppa?" Mata Baekhyun membola kaget. "K–kenapa—"
"Kau benar di sini rupanya."
"Eh?"
"Kyungsoo?"
Kyungsoo tersentak oleh panggilan Chanyeol. "Y–ya, Saem?"
"Kau boleh pulang duluan, saya ada perlu dengan Baekhyun."
"Eh? T–tapi—"
"Tidak perlu khawatir, nanti saya akan mengantar Baekhyun pulang."
"Ah, begitu. Baiklah, Saem." Kyungsoo mengusap tangan Baekhyun sebelum pergi dari sana. "Aku duluan ya?"
Setelah Kyungsoo pamit, tinggal Baekhyun dan Chanyeol berdiri saling berhadapan. Untuk beberapa saat, ada atmosfer canggung yang menyelimuti keduanya. Baekhyun sendiri tak tahu harus berkata apa. Melihat Chanyeol yang tiba-tiba muncul di hadapannya menghasilkan perasaan berkecamuk di dalam hatinya. Antara kaget, senang, tapi juga bingung. Ia pasti terlihat begitu bodoh sekarang.
"Aku mencarimu ke kampus." Chanyeol memecah keheningan itu. "Tuan Ryu bilang kau pergi begitu tahu aku akan berangkat ke Jerman."
Alih-alih menanyakan sederet pertanyaan yang sedari tadi berputar dalam kepalanya, Baekhyun justru memeluk Chanyeol. Begitu erat, seolah jika dia tidak melakukan itu, Chanyeol akan menghilang dari pandangannya dalam sekejap.
"Kupikir.." Suara Baekhyun bergetar ketika panas menjalari bola matanya. "Kupikir..aku sudah terlambat.."
"Baek, dengar—"
Baekhyun menggeleng kuat saat Chanyeol hendak melepaskan pelukannya. "Tidak, kumohon.." ucapnya sambil terisak. "Jangan pergi. Tetaplah di sini, Oppa.."
Merasakan dengan jelas kekalutan itu, Chanyeol pun membalas pelukan Baekhyun. Diusapnya surai dan punggung si mungil agar lebih tenang, kemudian berbisik dengan suara husky-nya, "Maaf, sudah membuatmu kebingungan begini." Chanyeol mengecup lembut dahi Baekhyun. "Aku ada di sini, Baekhyun-ah.."
###
Café Sip of Coffee. Di sinilah Baekhyun dan Chanyeol berada sekarang, duduk berhadapan dengan secangkir americano dan mocca latté terhidang hangat di atas meja.
"Minumlah dulu." kata Chanyeol. Baekhyun menurut.
Beberapa kali gadis itu melirik Chanyeol yang juga sedang menyesap americano-nya, sebelum meletakkan kembali cangkir mocca latté itu dan beralih memainkan jemari-jemari lentiknya untuk mengusir kegugupan.
"Maaf." Satu kata itu meluncur dari lidah Baekhyun. "Untuk semuanya." lanjutnya, menatap Chanyeol tepat di onyx itu. "Kau benar soal Sehun Sunbae. Kau juga benar soal diriku. Tak seharusnya aku meragukan kata-katamu dan malah menuduhmu macam-macam. Karenanya, aku minta maaf, Oppa.."
Chanyeol terdiam sejenak, lalu membalas lirih, "Tidak apa."
Dan kembali hening.
"Lalu," Baekhyun mengemut bibir bawahnya sebentar. "Apa kau benar-benar akan pergi ke Jerman?"
Satu helaan napas Chanyeol hembuskan, sebelum menganggukkan kepalanya. "Ya, sore ini."
Ada perasaan ngilu yang menyiksa hati Baekhyun karena jawaban Chanyeol. Sekelebat memori pertengkaran mereka tiba-tiba memenuhi kepala Baekhyun, membuatnya merasa begitu buruk. Dan kenyataan bahwa Chanyeol mengambil jarak di antara mereka, hanya memperburuk pemikiran Baekhyun.
"Apa..kau pergi karena hubungan kita?"
Baekhyun tahu ini terdengar miris saat ia menyebut 'hubungan kita' padahal mereka sudah tak menjalin hubungan apa pun. Namun Baekhyun tetap ingin tahu isi hati Chanyeol, sekalipun itu akan menyakiti hatinya.
"Tidak, ini murni karena pekerjaanku."
Sedikit banyak Baekhyun merasa senang mendengarnya. Setidaknya ia bisa bernapas lega untuk satu hal. "Kapan kau akan pulang lagi ke Seoul?"
"Entahlah," Chanyeol membuang muka. "Dalam beberapa bulan kurasa."
Di bawah meja, Baekhyun meremat kuat jaketnya. Melihat raut muka Chanyeol, entah bagaimana memunculkan firasat tak mengenakkan di hati Baekhyun. Seolah Chanyeol akan pergi jauh lebih lama dari 'beberapa bulan'.
Meski begitu, Baekhyun takkan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia akan menjawab pertanyaan Chanyeol waktu itu. Mengesampingkan kemungkinan terburuk, Baekhyun hanya ingin Chanyeol tahu bahwa ia tak pernah membagi hatinya.
"Apa kau masih ingat, Oppa?" Suara Baekhyun tiba-tiba mengalihkan atensi Chanyeol. "Waktu itu, kau bertanya padaku apakah aku membagi hatiku."
Seketika jantung Chanyeol berdentum keras. Gugup dan kaget bercampur jadi satu. Namun belum sempat Chanyeol berkata, Baekhyun sudah menahan suaranya dengan sebuah senyuman tulus.
"Jawabanku adalah tidak." tandas Baekhyun, tanpa keraguan. "Aku tidak pernah membagi hatiku. Tidak pada Sehun Sunbae atau siapa pun, hanya padamu aku memberikannya." Senyuman tulus itu terkembang kian cantik, menghasilkan hentakan tak beraturan di balik rongga dada Chanyeol. "Seutuhnya, hanya milikmu, Chanyeol Oppa.."
Selama ini Chanyeol bertanya-tanya, sebenarnya bagaimana cara kerja cinta? Yang mampu menyulut emosinya dalam hitungan detik, juga mampu meluluhkan hatinya hanya melalui sorot mata yang penuh akan ketulusan. Ke mana perginya rasa kecewa yang dirasakannya beberapa jam yang lalu? Kenapa kini kepalanya justru dipenuhi keinginan menggebu untuk memeluk gadis di hadapannya dan tak mengizinkannya barang sedetik untuk menatap ke arah lain selain dirinya?
"Aku akan bersabar menunggumu pulang. Karenanya—"
"Kau curang."
"Eh?"
"Kalau begini caranya," Chanyeol beranjak dari duduknya, menghampiri Baekhyun untuk dibawa ke dalam dekapannya. "Bagaimana aku bisa berkata 'tidak'?"
Diameter bola mata Baekhyun melebar. Mulutnya menganga kecil karena aksi Chanyeol. "A–apa?"
"Kau.." Chanyeol berkata lirih. "Kenapa kau membuatku jatuh cinta padamu lagi, Byun Baekhyun?"
Tak elak satu bulir airmata melewati pelupuk mata Baekhyun. Ia menggigit kuat bibir bawahnya, menahan gejolak dalam dada yang meronta ingin dikeluarkan.
"Kau harus bertanggung jawab, Baek." Chanyeol mendekap Baekhyun lebih erat. "Karena aku tak mau kehilanganmu lagi.." bisiknya dengan suara bergetar.
Membalas pelukan itu sama erat, airmata Baekhyun pun mengalir lebih deras. "Aku berjanji.." ucapnya di antara isak. "Aku sangat merindukanmu, Oppa.."
"Aku juga sangat merindukanmu, Baekhyun-ah.."
Lepas sudah semua beban yang semula menyiksa hati keduanya. Tak ada lagi senyum yang dipaksakan atau raut sedih yang disembunyikan. Hanya airmata kebahagiaan dan senyum tulus yang menghiasi paras Baekhyun dan Chanyeol. Sebuah euforia yang lama mereka rindukan.
"Aku akan pulang secepat yang kubisa." kata Chanyeol seraya melepaskan pelukan itu. Ditangkupnya pipi Baekhyun, menghapus sisa airmatanya. "Jaga dirimu, oke?"
Baekhyun mengangguk patuh. "Kau juga..jaga dirimu di sana ya? Sering-sering kabari aku."
Chanyeol terkekeh. "Pasti." Dikecupnya dahi Baekhyun, sebelum ia bawa kembali tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. "Aku akan merindukanmu, Muffin.."
Sudut bibir Baekhyun terbentang lebar mendengar panggilan kesukaannya itu. "Aku akan jauh lebih merindukanmu, Chan Oppa.."
"Kau takkan bisa mengalahkan rasa rinduku."
"Kata siapa? Tentu saja bisa!"
"Aku akan langsung menerkammu saat pulang nanti."
"A–apa?!" seru Baekhyun. Pipinya semerah tomat.
"Aku bercanda, hahaha~"
Baekhyun mencebikkan bibir sebal. Jantungnya hampir copot karena candaan kekasihnya itu.
"Kau jangan main lirik wanita lain ya di sana. Aku akan meneleponmu setiap hari."
"Oh? Kau mulai bisa bersikap posesif rupanya."
"Biar saja! Kau juga sama posesifnya, tahu?"
"Tentu saja tahu, aku kan stalker-mu, DJ Byun."
"Eyy~ dasar!" Baekhyun melonggarkan pelukan mereka untuk menatap Chanyeol. Bibirnya melengkung ke bawah, persis seperti bocah SD yang hendak ditinggal orangtua. "Cepatlah pulang, Oppa.."
Chanyeol menarik sudut bibirnya membentuk senyuman. Satu tangannya mengusuk surai Baekhyun. "Aku bahkan belum benar-benar pergi."
"Tetap saja."
Tawa Chanyeol pun meledak karena rajukan Baekhyun. Ah, kekasih mungilnya ini memang sangat menggemaskan. Ia jadi semakin tidak tega pergi lama-lama ke Jerman.
"Bagaimana kalau seperti ini? Kau selesaikan skripsimu di sini dan aku akan pulang sebelum kau wisuda?"
"Eh? Sungguh?"
Anggukan mantap itu Chanyeol berikan. "Mm-hm. Jadi kita bertemu lagi saat kau wisuda nanti. Bagaimana?"
"DEAL!" seru Baekhyun, kembali bersemangat. Ia hendak menjabat tangan Chanyeol sebagai tanda perjanjian, tapi ia urungkan dan beralih melemparkan picingan mata. "Tapi janji ya, Oppa? Kau harus pulang sebelum aku wisuda!"
"Aku berjanji, Muffin." Chanyeol mengecup sekilas bibir Baekhyun. "Jadi cepat dapatkan gelarmu, oke?"
Baekhyun berjinjit sedikit untuk membalas kecupan singkat itu di bibir Chanyeol, lalu tersenyum lebar setelahnya. "Pasti~"
###
Kemudian seperti itulah semuanya berjalan. Chanyeol pergi ke Jerman hari itu dan Baekhyun melepasnya dengan tangis yang mati-matian ia tahan. Namun waktu terus berjalan, Baekhyun pun melanjutkan kesehariannya dengan menyelesaikan skripsinya dengan sungguh-sungguh. Beruntung ia mendapatkan Gong Shin sebagai pengganti Chanyeol dan bukan dosen killer lainnya.
Dalam kurun waktu empat bulan, tepat seminggu sebelum pendaftaran sidang skripsi ditutup, Baekhyun berhasil menyelesaikan skripsinya dan mendapatkan izin dari Gong Shin untuk mendaftarkan diri di sidang skripsi. Baekhyun tentu langsung menghubungi Chanyeol soal ini. Kekasihnya itu turut senang mendengarnya dan memberi Baekhyun semangat serta beberapa tips untuk menghadapi sidang skripsi nanti.
"Pokoknya kau tidak boleh kelihatan gugup, jawab saja dengan mantap. Biasanya dosen penguji akan mengincar mahasiswa yang tidak konsisten dalam menjawab."
"Begitukah? Woah, aku jadi semakin gugup!" seru Baekhyun sambil menepuk-nepuk jantungnya yang berdentum keras.
"Aku yakin kau bisa, Baek." Chanyeol tersenyum di seberang sana. Pandangannya tertuju pada langit Jerman yang dihiasi beberapa kilau bintang. "Kita sudah membuat janji, bukan?"
Baekhyun tersenyum tipis. Tentu saja ia ingat janji yang mereka buat sebelum berpisah. Janji untuk kembali bertemu saat Baekhyun wisuda nanti. Maka dari itu, Baekhyun harus bisa melewati proses sidang skripsi ini dan ia akan berusaha sekuat tenaga agar keluarganya juga Chanyeol bangga padanya.
"Ya, aku pasti akan berusaha keras. Apa pun yang terjadi, akan kupastikan janji itu terpenuhi."
"Terus semangat, My Sweet Muffin~"
"Hm. Terima kasih, Chan Oppa~"
###
Hari sidang adalah salah satu hari paling menegangkan yang pernah Baekhyun alami. Berbekalkan skripsi yang telah ia buat susah payah selama enam bulan terakhir, gadis itu melangkah menuju ruang sidang skripsi.
Ada berbagai perasaan yang dirasakan Baekhyun, terutama saat bertatapan langsung dengan tiga dosen penguji yang duduk di depannya. Namun keinginannya untuk memenuhi janji pada Chanyeol membuatnya tenang hingga sidang skripsi berakhir.
Lalu pada pukul empat sore, di hari yang sama, Baekhyun mendapatkan hasil dari kerja kerasnya. Ia dinyatakan lulus cum laude, dengan nilai sidang skripsi tertinggi di fakultasnya. Gadis itu tak henti mengembangkan senyumannya dan tak sabar untuk segera memberitahu Chanyeol berita menggembirakan ini melalui video call.
"Hey, Muffin. Bagaimana—"
"AKU LULUS~" Baekhyun memekik senang segera setelah Chanyeol mengangkat panggilannya. "Aku lulus cum laude, Oppa! Bukankah itu hebat? Oh, rasanya aku masih belum percaya ini!"
Chanyeol tersenyum bangga. Seandainya saja ia berada di sana, sudah pasti ia akan memeluk erat Baekhyun. "See? Sudah kubilang kau pasti bisa."
"Apa kau tidak akan memberiku selamat?"
Tawa Chanyeol terdengar melihat Baekhyun mengerucutkan bibirnya. "Tentu saja. Selamat ya? Aku sangat bangga padamu, Byun Baekhyun."
"Sungguh?"
"Mm-hm."
"Lalu kapan kau akan memenuhi janjimu? Aku sudah tidak sabar!"
"Aku juga sama tidak sabarnya, Muffin. Tapi masih ada beberapa urusan yang belum kuselesaikan di sini."
"Eh? Lalu bagaimana? Kau akan tetap pulang, kan?"
"Masih ada waktu dua bulan sebelum acara wisudamu dilaksanakan, bukan? Aku akan pulang begitu semua urusanku selesai. Sabar sedikit ya?"
Merasa sedikit kecewa, bibir Baekhyun melengkung ke bawah. Padahal ia sudah sangat berharap Chanyeol akan segera pulang begitu ia memberitahu berita ini, tapi ternyata ia masih harus menunggu.
"Hey, jangan cemberut begitu. Aku pasti pulang sebelum kau wisuda kok, aku sudah berjanji, ingat?"
"Tapi kau harus tepati janjimu ya, Oppa? Aku akan marah kalau kau sampai tidak datang ke acara wisudaku."
"Mana mungkin aku melewatkan hari besar kekasihku yang manis ini, hm? Jangan khawatir, aku pasti datang, oke?"
Satu helaan napas Baekhyun buang, sebelum mengangguk sebagai jawaban. "Baiklah."
Chanyeol tersenyum. Dalam hati ia bersyukur Baekhyun tidak banyak bertanya tentang urusan yang sedang ia lakukan di sana.
TBC
Sehun bakal balik lagi ke Korea gak nih? Next adalah chapter terakhir, nantikanlah~
