Dua bulan telah berlalu semenjak Baekhyun menyelesaikan sidang skripsi. Kini telah tiba acara wisuda yang ia tunggu-tunggu. Namun bukannya merasa bahagia atau semacamnya, raut muka gadis bermarga Byun itu malah dipenuhi awan mendung.

Pasalnya sejak kemarin Chanyeol tak bisa dihubungi, sederet pesan yang Baekhyun kirim pun tak ada yang dibaca. Ini membuatnya khawatir. Padahal hari ini adalah hari besar di mana Baekhyun resmi mendapatkan gelarnya, tapi Chanyeol seolah ditelan bumi. Berbagai pemikiran buruk pun menghantui Baekhyun. Ia takut Chanyeol masih sibuk di Jerman atau yang paling buruk terjadi sesuatu pada Chanyeol hingga tak bisa dihubungi sampai detik ini.

"Bagaimana ini?" Baekhyun menggigit bibir bawahnya gelisah. Kepada siapa ia harus bertanya? Baekhyun tak kenal kerabat Chanyeol dan ia yakin para dosen juga sedang sibuk-sibuknya.

"Kau kenapa, Noona?" Samuel tiba-tiba muncul di samping Baekhyun.

"Uh..t–tidak apa-apa, Sam. Appa dan Mum sudah siap berangkat?"

"Ya, kami justru sedang menunggumu. Kau tidak apa-apa? Wajahmu agak pucat."

"Aku tidak apa-apa, hanya saja Chanyeol Oppa tak bisa dihubungi. Padahal dia bilang akan menghadiri acara wisudaku."

"Mungkin ponselnya mati?"

"Tidak mungkin mati, Chanyeol Oppa tak bisa dihubungi sejak kemarin. Sekalipun ponselnya rusak, dia pasti akan menghubungiku dengan cara lain, tapi ini tidak. Aku takut terjadi sesuatu padanya, Sam."

"Apa dia bilang kapan akan berangkat ke Seoul?"

"Uh..tidak, tapi dia sudah berjanji."

"Mungkin dia masih sibuk di Jerman? Kita tunggu saja, bagaimana?"

Menatap ponselnya sebentar, Baekhyun tampak menimbang-nimbang saran Samuel. Sepertinya tidak ada salahnya menunggu sebentar lagi.

"Baiklah."

Samuel tersenyum. Ia genggam tangan Baekhyun, membawanya keluar dari rumah.

.

.

.

###

AEIPATHY (GS VERSION)

Chapter 16 (end) – New Page

Main Casts : Park Chanyeol & Byun Baekhyun

###

.

.

.

Acara wisuda di SNU berlangsung lancar dan meriah. Setelah selesai mengikuti upacara dengan khidmat sampai akhir, para wisudawan segera disambut arak-arakan dari masing-masing fakultas dan mengabadikan momen tersebut dengan mengambil banyak foto. Tampak raut bahagia dari setiap orang yang hadir di sana. Terkecuali Baekhyun.

Alih-alih ikut berbahagia bersama yang lain, gadis itu malah menunjukkan raut khawatir dan tak henti menatap layar ponselnya. Baekhyun tak bisa berhenti memikirkan Chanyeol. Kekasihnya itu melewatkan upacara wisudanya, bahkan sampai sekarang belum kelihatan juga batang hidungnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Baekhyun sungguh berharap tak terjadi sesuatu yang buruk pada Chanyeol.

"Hey, ada apa? Kenapa kau murung begitu?" tanya Nyonya Byun, meleburkan lamunan Baekhyun. Putri sulungnya itu melengkungkan bibir ke bawah, tak mampu menyembunyikan kekhawatirannya.

"Chanyeol Oppa tak bisa dihubungi, Mum.."

"Chanyeol? Kekasihmu itu?"

Baekhyun mengangguk lemas. "Padahal dia sudah berjanji akan datang saat aku wisuda, tapi ponselnya bahkan tidak aktif sejak kemarin. Bagaimana ini?"

"Eyy~ jangan berpikiran buruk begitu. Mungkin ada hal penting yang harus diselesaikannya sehingga ia datang terlambat."

"Semoga saja begitu. Aku hanya berharap dia baik-baik saja."

Nyonya Byun tersenyum lembut. Diusapnya puncak kepala Baekhyun, berusaha menenangkannya. "Aku yakin Chanyeol baik-baik saja dan akan segera datang kemari begitu urusannya sudah selesai."

Baekhyun mengangguk pasrah. Yang bisa dilakukannya hanyalah menunggu.

"Hey, Baekhyun-ah."

Suara seorang pria di belakang sana tiba-tiba mengejutkan Baekhyun. Ia tahu betul suara siapa itu.

"Sehun..Sunbae?"

Itu sungguh Oh Sehun, berdiri di hadapan Baekhyun dengan sebuket bunga mawar kuning di tangan.

"Selamat atas kelulusanmu." ucapnya tulus sambil memberikan buket mawar itu. Tapi respon Baekhyun justru terdiam di tempat. "Sudah kuduga." Sehun tersenyum masam. "Kau masih marah padaku ya?"

Tak bisa memungkiri perkataan Sehun, Baekhyun mengalihkan atensinya ke arah lain. Walau bagaimanapun, pertemuan terakhir mereka bukanlah kenangan yang indah.

"Aku tahu aku salah waktu itu, karenanya aku minta maaf, Baekhyun-ah." Sehun mengambil satu langkah dan—sekali lagi—memberikan buket mawar itu pada Baekhyun, berharap ia mau menerimanya. "Aku berjanji takkan mengganggumu lagi setelah ini, tapi setidaknya izinkan aku memperbaiki kesalahanku padamu. Hm?"

Dahi Baekhyun mengerut tak simetris. Jujur, ia agak meragukan ucapan Sehun. "Sungguh? Kau berjanji?"

"Ya."

"Sedikit pun, kau takkan mengganggu hubunganku dan Chanyeol Oppa lagi?"

"Aku sedang belajar melupakan perasaanku padamu, Baekhyun-ah. Jadi kau bisa pegang janjiku."

Menyaksikan bagaimana Sehun meminta maaf dengan tulus begitu, Baekhyun jadi tidak tega untuk bersikap dingin. Pikirnya, Sehun pasti sengaja datang kemari untuk menghadiri acara wisudanya, dengan niatan meminta maaf padanya.

"Baiklah." Baekhyun akhirnya menerima buket mawar itu. Senyumannya terkembang tipis di sudut bibir. "Aku memaafkanmu, Sunbae.."

"Terima kasih, Baekhyun-ah.." Sehun mengusuk surai Baekhyun. "Omong-omong, kau melihat Kyungsoo?"

"Kyungsoo?" Baekhyun menggeser pandangannya ke arah kanan, menunjuk Kyungsoo yang sibuk berfoto dengan keluarganya. "Itu di sana. Kenapa kau tiba-tiba menanyakannya?"

"Apa lagi?" Sehun mengeluarkan buket mawar lainnya yang ia sembunyikan di balik punggung. Kali ini warnanya merah. "Tentu saja untuk memberinya selamat."

Baekhyun mengerjap kaget dibuatnya. Ia tak menyangka Sehun juga datang untuk menemui Kyungsoo, bahkan sampai mempersiapkan buket mawar merah. Satu hal yang Baekhyun tahu tentang arti mawar merah dan itu jelas berbeda jauh dengan mawar kuning. Apa yang sebenarnya ia lewatkan?

"Jangan-jangan mereka..?"

"Sepertinya dia sudah move on darimu ya?"

"Ya, kurasa begitu, Opp—"

Dan detik itulah, bola mata Baekhyun melebar sempurna. Ia menoleh cepat ke samping. Untuk sesaat, bisa ia rasakan jantungnya seperti berhenti berdetak karena mendapati sosok yang sedari tadi dinantikannya. Ya, itu Park Chanyeol.

"C–Chan..yeol..Oppa? Sejak kapan kau..?"

Chanyeol tersenyum jenaka, puas melihat reaksi Baekhyun. "Surprise, Baekhyun-ah! Selamat atas kelulusanmu ya?"

"T–tapi..bagaimana—"

Lagi, Chanyeol menahan suara Baekhyun. Kali ini dengan kehadiran sebuah kotak kecil yang Chanyeol berikan padanya. "Maaf ya? Aku sengaja mematikan ponselku demi mempersiapkan kejutan ini untukmu. Tentu saja dengan bantuan keluargamu juga."

Baekhyun menoleh pada ayah, ibu, dan Samuel yang tersenyum penuh makna ke arahnya. "Eh? Mereka sudah tahu?"

"Mm-hm. Aku harus memastikan mereka memberiku restu."

"Restu?" Baekhyun mengernyit kebingungan. "Restu untuk apa?"

Chanyeol membuka kotak kecil tersebut, memperlihatkan sepasang cincin perak dengan ukuran dan ukiran yang berbeda. Ukiran Chanyeol's tertera cantik di cincin yang lebih kecil, sementara ukiran Baekhyun's ada pada cincin yang lebih besar.

"Oppa, i–ini..?" Baekhyun terbata, masih belum percaya dengan apa yang indra penglihatannya tangkap, terutama ketika Chanyeol bersimpuh di hadapannya.

"Byun Baekhyun, will you marry me?"

Mulut Baekhyun menganga kecil. Kaget, tak percaya, dan senang, berbaur menjadi satu sampai airmatanya menggenang di pelupuk mata. Apa ini hanya halusinasinya saja atau Chanyeol sungguh sedang melamarnya?

"So, is that a 'yes'?"

Baekhyun menangis. Ternyata ini bukan halusinasi. Chanyeol memang sedang melamarnya.

"Yes.." Baekhyun berbisik di antara isaknya, lalu memeluk Chanyeol begitu erat. "Yes, I will.."

Keduanya pun menyalurkan kebahagiaan itu melalui pelukan penuh rindu. Sesak karena cukup lama dipisahkan jarak, semuanya terobati dalam sekejap. Tak ada lagi halangan bagi keduanya untuk terus bersama.

Namun tanpa disadari Baekhyun dan Chanyeol, Sehun sedang menyaksikan kejadian itu dari kejauhan. Kyungsoo yang berdiri di sampingnya tak bisa berbuat apa-apa selain menggenggam tangan Sehun agar tetap kuat. Ia tahu pria tinggi itu sedang terluka.

"You okay?" tanya Kyungsoo.

"I guess." Sehun menghela napas, lalu membalas genggaman tangan Kyungsoo. "Aku hanya senang dia bisa tersenyum lagi."

Kyungsoo tersenyum bangga. "Kau akan menemukan penggantinya."

Sehun menoleh. Senyum penuh makna tersungging di sudut bibirnya, sebelum berbisik di telinga Kyungsoo. "Sepertinya aku sudah menemukannya."

"Eh?"

CUP~

"Get ready, Do Kyungsoo~"

Yang terjadi berikutnya adalah wajah Kyungsoo merona sampai ke telinga.

###

Baekhyun tak paham apa yang tengah terjadi saat ini. Setelah acara wisuda di SNU benar-benar dinyatakan selesai, Chanyeol membawa Baekhyun ke kediaman Park dan mengenalkannya pada orangtuanya sebagai calon istri yang ia janjikan. Tak hanya itu, setelahnya orangtua Chanyeol langsung mengundang Baekhyun dalam acara makan malam bersama dan mulai menanyainya seputar hubungannya dengan Chanyeol.

Sebenarnya Baekhyun tak keberatan dengan semua itu, jika saja Chanyeol memberitahunya dari jauh hari dan bukannya saat mereka sampai di depan kediaman Park. Baekhyun bahkan belum mempersiapkan hati untuk bertemu orangtua Chanyeol, tapi tahu-tahu ia malah terjebak dalam situasi ini. Well, ingatkan saja Baekhyun untuk melontarkan sederet kalimat protes pada kekasihnya yang jangkung itu begitu mereka pulang nanti.

"Aku senang Chanyeol menjalin hubungan denganmu, Baekhyun-ah." ujar Nyonya Park sambil mengusap punggung tangan Baekhyun. "Anakku ini rupanya pintar memilih pasangan, hm? Tidak kusangka."

Sementara Baekhyun tersipu malu, Chanyeol malah tersenyum penuh kemenangan dipuji oleh ibunya. "Pilihanku memang tidak pernah salah, Eomma."

"Ya, tapi alangkah lebih baiknya jika kau mengenalkan Baekhyun lebih awal, Chanyeol. Jadi kan kami tidak perlu repot-repot menyusun perjodohan itu. Kalau sudah begini, kita harus memberitahu keluarga Im secepatnya agar perjodohan itu dibatalkan.."

"Eh? Perjodohan apa?" Baekhyun mengerjap kaget karena kalimat Nyonya Park barusan.

"Lho? Baekhyun belum tahu?" Nyonya Park balik bertanya pada Chanyeol.

"Uh..belum." Chanyeol menggaruk pipinya yang tak gatal. Ia baru sadar belum menceritakan soal Nana pada Baekhyun.

"Ceritanya lumayan panjang, Baekhyun-ah. Nanti saja Chanyeol ceritakan padamu. Untuk sekarang, mari kita nikmati acara makan malam kita, hm?" bujuk Tuan Park.

Sebenarnya Baekhyun sangat penasaran tentang perjodohan itu, tapi ia tahu situasi akan menjadi canggung jika ia memaksa Chanyeol untuk menceritakannya sekarang juga. Jadi Baekhyun pun mengangguk sambil berusaha menetralkan raut mukanya. Well, setidaknya ia tidak boleh membuat kesan buruk di hadapan orangtua Chanyeol.

###

Baekhyun pamit pulang tepat pukul sepuluh malam. Awalnya Nyonya Park memintanya untuk sekalian menginap di sana, tapi beruntung Chanyeol berhasil meyakinkan ibunya untuk membiarkan Baekhyun pulang segera setelah ia menyadari ekspresi Baekhyun yang kewalahan menolak tawaran itu.

Begitu sabuk pengaman dipasang, mobil Tesla milik Chanyeol pun membelah jalanan menuju kediaman Byun. Tak ada percakapan di antara Chanyeol dan Baekhyun selama beberapa menit, hanya alunan musik radio yang mengisi keheningan di sana.

"Oppa, tolong jangan lakukan ini lagi." ucap Baekhyun tiba-tiba.

"Melakukan apa maksudmu?"

Baekhyun menoleh pada Chanyeol, bibirnya mengerucut lucu. "Membawaku untuk bertemu orangtuamu."

"Kenapa? Kau tidak suka?"

"Bukan begitu," cicit Baekhyun. Pipinya samar-samar memunculkan rona. "A–aku kan belum siap. Bagaimana jika aku membuat bad impression di depan mereka?"

"Tapi itu tidak terjadi, kan? Buktinya orangtuaku menyukaimu."

"Ya, tapi tetap saja!" protes Baekhyun sambil memukul lengan Chanyeol. Tapi pria itu malah tertawa menanggapinya. "Pokoknya jangan lakukan lagi, oke? Yang tadi itu hanya sebuah keberuntungan, siapa yang tahu jika itu di lain hari?"

"Baiklah, baiklah, aku takkan melakukannya lagi. Kau puas?" goda Chanyeol. Baekhyun dengan polos mengangguk. "Omong-omong," Ekor mata Chanyeol melirik Baekhyun yang masih menatap dirinya. "Tentang perjodohan itu, maaf aku belum sempat cerita padamu."

Merasa diingatkan, Baekhyun lamat-lamat menelan ludahnya. Entah kenapa topik pembicaraan ini membuatnya begitu gugup.

"Jadi beberapa bulan yang lalu, orangtuaku ingin menjodohkanku dengan Nana. Dia—"

Ucapan Chanyeol tiba-tiba terpotong oleh suara dering ponselnya. Tampak nama Nana tertera di layar benda pipih itu, membuat jantung Baekhyun tiba-tiba berdegup kencang.

"Panjang umur sekali, padahal baru saja kubicarakan. Sebentar ya?" ucap Chanyeol tanpa melirik Baekhyun, lalu menjawab panggilan Nana. "Ada apa?"

Samar-samar, bisa Baekhyun dengar suara nyaring seorang wanita di seberang sana. Intonasinya begitu riang, terlihat sangat akrab dengan Chanyeol. Dalam hati, Baekhyun merasa cemburu pada Nana. Pikirnya, Chanyeol dan Nana pasti sudah lama saling mengenal sampai orangtua keduanya memiliki niatan untuk menjodohkan mereka.

"Aish, nanti saja. Kami sedang sibuk—" Chanyeol menjauhkan ponselnya ketika suara Nana berdenging di telinganya. Ia berdecak dengan raut jengkel, sebelum melirik sebentar pada Baekhyun. "Baiklah, besok di Café Lava Java. Happy now?"

Begitu Chanyeol memutuskan sambungan telepon, Baekhyun kembali menatap pria itu. Rautnya yang penasaran benar-benar tergambar jelas di wajahnya yang manis. "Tadi itu Nana-ssi, kan? Kalian membicarakan apa?"

Chanyeol tak segera menjawab, malah menggaruk pipinya yang tak gatal. "Um..tidak banyak, hanya saja.."

"Hanya saja apa, Oppa?" tanya Baekhyun, semakin penasaran.

"Nana bilang dia ingin bertemu denganmu."

"Eh?!" pekik Baekhyun, kaget.

"Besok."

"APA?!" Sekarang bola mata Baekhyun membelalak, lebih kaget dari sebelumnya. "B–besok? T–tapi kenapa tiba-tiba?"

"Nana protes karena aku belum memberitahunya tentang pertunangan kita, jadi dia ingin bertemu denganmu besok sebagai gantinya." Menyadari raut muka Baekhyun yang terlihat gelisah, Chanyeol pun mengusap puncak kepala si mungil untuk menenangkannya. "Tidak apa. Meski sangat cerewet, tapi Nana itu sebenarnya baik kok. Besok jam sembilan kujemput di rumahmu ya?"

Baekhyun sebenarnya ragu untuk mengiyakan permintaan itu, tapi di lain sisi ia juga sangat penasaran pada Nana. Seperti apa sebenarnya sosok wanita yang nyaris menjadi tunangan Chanyeol itu?

Mungkinkah sekarang adalah kesempatan yang bagus?—batin Baekhyun sambil menimbang-nimbang. Lagipula, ini tidak seperti ia akan bertemu empat mata dengan Nana, ada Chanyeol yang akan menemaninya.

"Baiklah." Baekhyun mengangguk setuju.

###

Hari yang Nana tunggu pun tiba. Setelah melakukan aksi protes pada Chanyeol kemarin, akhirnya Nana bisa bertemu dengan crush teman masa kecilnya itu. Dan satu hal yang terbesit dalam benaknya detik ketika ia duduk berhadapan dengan Baekhyun adalah mungil tubuhnya yang persis anak kelas 1 SMA. Kalau diukur dengan tubuh Chanyeol yang mirip tiang listrik, Baekhyun hanya setinggi dada pria itu.

"S–selamat siang, namaku Byun Baekhyun. Senang bertemu denganmu, Nana-ssi."

Merasa lucu melihat tingkah canggung Baekhyun, Nana tak kuasa untuk tak mengembangkan senyum lebar. "Kau tidak perlu se-kaku itu, Baekhyun-ah. Cukup panggil aku 'Eonnie' saja."

Chanyeol langsung mencibir perkataan Nana. "Tidak sadar umur sekali kau. Yang ada Baekhyun seharusnya memanggilmu 'Ahjumma'."

"Yak, kau lupa kita ini seumuran, hah? Kalau Baekhyun memanggilku 'Ahjumma', berarti kau harus dipanggil 'Ahjussi'." balas Nana sengit. Mengabaikan raut jengkel Chanyeol, Nana kembali memasang senyum manis saat bertatapan dengan Baekhyun. "Kudengar kau baru wisuda. Selamat ya atas kelulusanmu?"

Baekhyun tersenyum menanggapinya. "Iya. Terima kasih, Eonnie~"

"Setelah ini kau ada rencana apa? Melanjutkan pendidikan atau langsung kerja?"

"Um..niatannya aku akan bekerja dulu selama satu atau dua tahun untuk mencari pengalaman, sekalian mengumpulkan uang untuk melanjutkan S2 nanti. Meski mungkin penghasilannya tidak terlalu banyak, tapi setidaknya itu akan berguna jika kelak aku membutuhkan biaya darurat."

"Aigoo~ sudah manis, baik hati pula. Aku jadi bingung kenapa kau sampai mau pacaran dengan makhluk ini, Baekhyun-ah. Kau jelas terlalu bagus untuknya."

Dengan cepat Chanyeol menepis jari Nana yang menunjuk wajahnya. "Yak! Lihat ke mana jarimu menunjuk! Tidak sopan sekali kau!"

"Lho? Kenapa marah? Itu memang benar, kan?"

"Jangan suka mengarang cerita, Ahjumma!"

PLETAK!

Melihat perdebatan Chanyeol dan Nana, Baekhyun jadi geli sendiri. Perasaan khawatir dan iri yang semula membuatnya gelisah, entah bagaimana meluap tak bersisa. Pikirnya, pantas saja Nana tampak tak keberatan perjodohannya dengan Chanyeol dibatalkan. Dilihat sekilas saja hubungan Chanyeol dan Nana memang murni hanya sebatas teman, malah keduanya cenderung seperti saudara kandung.

"Jangan dengarkan dia, Baekhyun-ah. Ahjumma ini hanya iri karena kita sudah bertunangan." ujar Chanyeol sambil menutup telinga Baekhyun.

"Heh! Kita lihat saja siapa yang menyebarkan undangan pernikahan duluan!"

"Tentu! Kuterima tantanganmu!"

Baekhyun hanya bisa geleng-geleng kepala di tempat. Entah siapa sebenarnya yang lebih tua di sini.

"Anyway," Nana kembali pada Baekhyun. Senyumannya mengembang tulus di sana. "Kuucapkan selamat atas pertunangan kalian. Kuharap hubungan kalian langgeng dan bahagia bersama." Pandangannya kemudian bergeser pada Chanyeol. Senyum tulusnya berubah mengerikan. "Aku lebih menyukai Baekhyun daripada kau, Chan. Jadi awas saja kalau kau membuatnya menangis, aku akan menyolok matamu, kau paham?" ancamnya.

"Ck, kau tidak perlu khawatir. Lagipula aku tidak punya ketertarikan pada hal itu."

"Bagus." Nana mengambil tas dan mantelnya, lalu bangkit dari duduknya. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku ada janji kencan dengan kekasihku."

"Hm."

Nana mengusuk rambut Baekhyun sebelum pergi. "Sampai ketemu lagi, Baekhyun-ah. Jangan ragu untuk laporan padaku kalau Tuan Tiang Listrik ini membuatmu menangis, oke?"

Baekhyun terkekeh geli mendengarnya. "Baiklah, Eonnie. Hati-hati di jalan ya?"

"Pasti~"

Begitu sosok Nana keluar dari Café Lava Java, Chanyeol membuang napas lega. "Akhirnya pulang juga Ahjumma menyebalkan itu."

"Oppa, jangan menyebutnya begitu! Nana Eonnie itu baik, tahu?"

"Tapi tetap saja dia menyebalkan. Beruntung kami tidak jadi dijodohkan, apa jadinya kalau itu sampai terjadi?" Chanyeol bergidik ngeri karena ucapannya sendiri. "Ugh, membayangkannya saja membuatku bulu kudukku berdiri!"

Memasang ekspresi datar, Baekhyun memilih untuk tidak meladeni sikap Chanyeol yang berlebihan. Salah-salah, nanti malah dia sendiri yang digoda si jangkung.

"Oh ya," Chanyeol tiba-tiba teringat sesuatu yang penting. "Jangan lupa beri tahu orangtuamu, aku dan orangtuaku akan datang hari Minggu ini."

"Eh? Untuk?"

"Kau pikir apa? Tentu saja untuk membicarakan tanggal dan detail pernikahan kita, Muffin. Aku tidak mau sampai kalah taruhan dengan Im Nana."

"APA?!"

Chanyeol terkekeh karena reaksi Baekhyun barusan. Gadis itu benar-benar terlihat lucu saat sedang kaget, membuat Chanyeol jadi tidak tahan ingin menggodanya. "Kenapa kaget begitu, hm? Bukankah pertemuan antara dua keluarga itu wajib dilakukan sebelum pernikahan dilaksanakan?"

"I–iya, tapi tak kusangka akan secepat ini. Maksudku, aku bahkan baru lulus kuliah, Oppa. Aku juga ingin mencari pekerjaan dulu."

"Hal itu bisa kita bicarakan nanti, Muffin. Yang terpenting justru hubungan kita. Lagipula, bukankah semakin cepat rencana pernikahan ini dibicarakan," Chanyeol mendekat untuk berbisik di telinga Baekhyun. "Semakin cepat kita bisa menjadi pasangan suami-istri?"

Tak terbayang sudah seberapa merah wajah Baekhyun saat ini. Membayangkan kehidupannya dan Chanyeol sebagai pasangan suami-istri, membuat pikiran Baekhyun melayang ke mana-mana.

"Jangan bilang kau sedang membayangkannya?"

"A–AKU TIDAK!"

Chanyeol tertawa mengejek. "Muffin, kau mengelak dengan suara lantang dan aku terlalu mengenal kebiasaanmu."

"A–apa maksudnya itu?!"

"Apa ya~?"

"OPPA, BERHENTI MENGGODAKU!"

.

.

THE END

.

.

EPILOGUE

"Kita on air dalam tiga, dua, satu."

Baekhyun mengangguk. Ia memasang headphone-nya, bersiap untuk melakukan siaran. "90,2 FM XOXO Radio. Selamat malam, DJ Byun kembali menemani kalian di acara live phone call 'Tell Me Your Feeling'. Ah~ rasanya sudah lama aku tidak mengisi acara ini, aku jadi penasaran siapa penelepon beruntung kali ini? Apa kalian siap?" seru Baekhyun. "Langsung saja hubungi nomor XOXO Radio di 01044601120. Sekali lagi, nomornya 01044601120. Dan—wow! Penelepon pertama sudah datang rupanya. Halo?"

Ada suara tak jelas di seberang sana, sebelum suara lirih seseorang menjawab, "H–halo?"

"Hai, selamat malam. Dengan siapa aku bicara?"

"Uh.." Si penelepon menimbang sesaat. "Panggil saja aku 'G'."

"Oke, G, bisa kau bicara sedikit keras? Suaramu tidak terlalu jelas."

"M–maaf, aku sedang tidak enak badan." Si penelepon berdehem pelan. "Apa suaraku sudah cukup jelas sekarang?"

"Ah, begitu. Baiklah, tidak apa-apa, ini sudah cukup jelas. Semoga kau lekas sembuh ya, G?"

"Hm, terima kasih."

"Kau sudah siap?"

"Kurasa begitu."

"Oke, G, tell me your feeling." Baekhyun pun memulai acara rutin Minggu malam di XOXO Radio itu.

Satu hembusan napas terdengar di seberang sana, yang kemudian disusul oleh suara si penelepon. "Sebenarnya aku ingin bertanya. Aku memiliki seorang teman, dia lebih tua dariku dan orangnya lumayan baik. Terakhir kali kami bertemu, dia sedang patah hati karena cintanya ditolak. Tapi setelah beberapa bulan dan kami bertemu lagi, tiba-tiba saja dia mengatakan sesuatu yang aneh."

"Hal aneh seperti apa?"

"Dia bilang.." Suara si penelepon tiba-tiba berubah dari sebelumnya. "Dia telah menemukan seseorang, tapi dia mengatakannya sambil melihat ke arahku. Menurutmu apa maksudnya itu?"

Daripada menjawab pertanyaan si penelepon, Baekhyun justru berfokus pada suara si penelepon yang tak asing itu. Ia merasa sering mendengar suara itu di telepon dan ini bukan hanya perasaannya saja. Lalu cerita yang barusan dikatakan si penelepon, Baekhyun juga merasa tidak asing. Mungkinkah si penelepon ini adalah orang yang ada dalam pikirannya?

"Kau.." Baekhyun mulai menebak-nebak. "Apa ini kau, Kyungsoo-ya?"

"A–apa?"

"Ini kau, kan? Do Kyungsoo?"

"S–siapa itu Do Kyungsoo? Aku tidak kenal!"

Baekhyun tak bisa lebih yakin lagi ketika suara si penelepon kembali berubah lirih. Ini sudah pasti Do Kyungsoo yang meneleponnya. Dan orang yang dibicarakannya pasti Oh Sehun.

"Yak, aku tahu ini suaramu, tidak usah berkelit lagi. Lalu, apa ini? Kau sedang curhat tentang Sehun Sunbae?"

"K–kubilang aku bukan Do Kyungsoo! Kenapa kau bersikukuh, hah?!" Suara si penelepon lagi-lagi berubah. Ah, dari intonasinya saja Baekhyun tahu ini suara sahabatnya.

"Eyy~ sudahlah. Sekarang cepat beri tahu aku apa yang sudah dia lakukan padamu? Dia bilang suka padamu? Kapan? Lalu kau bilang apa padanya?"

Baekhyun tidak tahu bahwa di seberang sana Kyungsoo sedang mati-matian menahan malu. Padahal ia sudah berusaha menyamarkan suaranya, tapi pada akhirnya ia ketahuan. Sialnya, Baekhyun tahu siapa yang sedang ia curhatkan dan malah mengatakannya dengan sangat jelas juga sangat lantang di radio. Habis sudah image-nya gara-gara si pipi mochi yang super tidak peka itu.

"Halo? Kyungsoo-ya, kau masih di sana? Bagaimana dengan Sehun—"

"AISH, BYUN BAEKHYUN, KAU SANGAT MENYEBALKAN!"

Baekhyun berkedip bingung begitu sambungan telepon ditutup Kyungsoo.

(beneran) THE END

Semoga kalian suka endingnya ya. Last review, please?