"To - Narutooo.." Sakura melambaikan telapak tangannya di depan wajah Naruto yang lempeng.

"Y - Ya Sakura?" Naruto gelagapan.

'Tidak ada -chan?' batin Sakura mulai gelisah, lagi.

"Cepat selesaikan. Setelah itu kau bisa istirahat pulang." Sakura merapikan kertas yang ada di meja Naruto sekilas ia melirik Shikamaru yang masih terpejam di kursi tamu.

"SHIKAMARU!!!"

"Hah?" Shikamaru membuka mata malas dan berjalan gontai ke depan meja Naruto, mulai memilah kertas - kertas yang berserakan.

"Bagus. Begini akan lebih cepat." Sakura kembali seperti biasa.

Naruto hanya melihat pada Sakura yang sedang memunggunginya karena memasukkan gulungan - gulungan yang sudah ditanda tanganinya.

Dulu ia begitu memuja Sakura. Bahkan Sakura adalah alasannya untuk sering berkelahi dengan Sasuke.

Bagaimana sekarang?

Bagaimana ini?

Bagaimana nanti?

Bagaimana Hinata?

Hi - na - ta?!

Sejak dua jam yang lalu Naruto sudah menghilangkan bunshin yang mengikuti Hinata.

Apa - apaan itu. Hinata bahkan memakai yukatta sederhana milik klan Uchiha yang dengan mudah diketahui Naruto meski lambang kipas Uchiha itu kecil dan terletak di ujung yukatta yang berwarna senada rambut Sasuke.

Sukar diakuinya bahwa Hinata sangat indah dengan yukatta itu.

Naruto juga tahu bahwa Sasuke sudah mengetahui lebih awal bunshinnya dan ia sengaja, lagi pula tidak akan bertahan lama dari insting buas Sasuke jika ia bersembunyi.

Naruto tidak tahu ia harus berterima kasih atau memukul Sasuke. Sering kali ia melihat tangan Sasuke merangkul Hinata untuk menghindarkan Hinata dari tubrukan bahu - bahu orang besar di pasar yang ramai dan menggandeng telapak tangan Hinata untuk menempel dengannya.

Kenapa Hinata tidak menghindar sendiri? Kenapa Hinata tidak melindungi dirinya sendiri? Kenapa Hinata begitu senang saat Sasuke melindunginya?

Sialan ia akhirnya tahu bahwa Hinata bergantung pada Sasuke. Hinata bisa menjadi gadis biasa saat bersama Sasuke.

"Sial!" gumam Naruto sambil memukul meja pelan.

Shikamaru hanya melihat malas sambil mengerjakan tugasnya yang sedikit lagi selesai dan Sakura sudah pamit undur diri saat merasakan cakra Tsunade hanya beberapa meter darinya. Memang dasarnya Sakura tidak diperbolehkan keluar rumah menjelang pernikahan, wajar saja ia merasa takut.

Rasa yang begitu ingin memiliki begitu kian mengental dalam diri Naruto. Apalagi saat Hinata mengakhiri perjalanan menyenangkannya dengan Sasuke.

Naruto melihat Hinata memasuki gerbang mansion klan Uchiha dengan mengait lengan Sasuke sambil tertawa lepas. Ia merasakan rasa tidak suka itu. Rasa benci.

Ia sadar sekarang sangat sadar bahwa ia menginginkan Hinata.

"Naruto, jangan sampai kau berbuat hal-hal merepotkan."

Niat hati Shikamaru hanya ingin mengingatkan Naruto tapi tatapan tajam dari sepasang saphire yang berkilat adalah balasan yang ia terima.

"Kau masih ingin di sini?" Shikamaru sambil menguap mengatakannya

"Mendokusei.. Aku pulang Hokage-sama. Sebaiknya kau benar-benar memgikuti saranku, aku tidak sedang main-main. Kebaikanku kemarin adalah salah satu toleransiku sebagai temanmu dan juga bawahanmu. Jika kau ingin membuat ulah lebih lagi aku sudah angkat tangan." Shikamaru berdiri di ambang pintu sambil menatap samping ruangan dengan mata melirik Naruto.

"Aku merasakan kata-katamu menyiratkan sesuatu Shikamaru. Apa ini benar-benar peringatan untukku?" Tantang Naruto.

"Wah.. Aku hampir lupa jika kau sudah serius maka semua kondisi akan terbaca dengan mudah."

Shikamaru tidak bermaksud mengejek, ia benar-benar terkadang lupa jika Naruto adalah Hokage-nya.

Naruto bangkit menuju jendela dan memunggungi Shikamari yang senantiasa menatapnya malas.

"Yaa.. Aku hanya mengingatkanmu 'posisi'mu dan jangan ganggu 'dia' lagi." Tegas Shikamaru memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Aku tak mengganggunya! Apa hak mu mengatakan aku tak boleh mengganggunya?!" Sergah Naruto berbalik cepat memandang Shikamaru.

Naruto mengabaikan 'posisi' yang dikatakan Shikamaru karena ia tahu kata-kata itu menuju pada Sakura. Ia tidak sadar jika sekarang hatinya selalu memilih kata-kata yang menyangkut Hinata di dalamnya.

"Kau lupa ternyata. Kau lupa jika 'dia' memiliki banyak perlindungan. Malaikat, serigala hitam, kesatria, hitam -merah, penjaga bulan, yang paling penting adalah sang iblis dan si pion yang mengatur semuanya agar 'dia' selalu baik-baik saja."

Shikamaru menyeringai menatap Naruto yang terdiam saja. Ia sekarang hanya ingin segera berjalan pulang untuk memastikan sesuatu dan menuju cepat pada kasur yang menunggu dirinya.

"Semoga berhasil." Lambai satu tangan Shikamaru sambil menguap.

Setelah Shikamaru cukup jauh akhirnya Naruto kembali menatap keluar jendela dengan diam dan pikiran yang melayang.

"Haah.. Shikamari sialan." Naruto menghela nafas resah dengan mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan.

Naruto tetaplah Naruto, ia baru sadar kalimat yang mengandung tebak-tebakan dari Shikamaru. Tidak tebak-tebakan tapi Naruto yang menganggapnya begitu karena ia jadi ingin tau siapa saja maksud Shikamaru.

Sepertinya ia tidak bisa tidur malam ini.

.

Shikamaru berhenti melangkah.

Dia hanya berdiam di sebrang jalan, di bawah pohon rindang, ia tak berniat sembunyi tapi ia membutuhkan sandaran untuk menunggu seseorang yang berani-beraninya membuatnya menunggu.

"Bagaimana?" Tanya seseorang tiba-tiba yang munculnya sekejap mata di samping Shikamaru.

"Mensokusei. Aku tak bisa memprediksi tindakannya. Naruto yang menjadi Hokage sudah berbeda dari Naruto yang dulu yang selalu nekat." Shikamaru menatap malas satu mata onyx.

Sasuke hanya membalikkan badan menghadap depan seperti Shikamaru yang menghadap mansion Uchiha di depannya.

"Hn. Dia sudah tidur."

"Makanya kau menyelinap."

"Hn."

"Tak ada yang mengganggu?"

"Hanya si penggila anjing."

"Hei.. Dia juga salah satunya bagi Hinata."

"Hn. Aku tahu."

"Kau jangan mengganggunya!"

"Kau-"

"Bagaimana si kesatria?"

"Menyebalkan."

"Bagus."

"Pergilah!"

"Aku ingin melihatnya."

"Pergilah. Tidur sana!"

"Baiklah."

"Cidori!"

"Kau tadi menyuruhku tidur jika kau lupa. Hoaaammm."

"Di rumahmu sendiri!!"

"Plin plan."

"Amaterasu."

"Yare-yare.. Aku pergi."

"Hn."

.

.

.

TBC

Gomenasai kalok lama up nya.

Ada yang tau si..

Malaikat?

Serigala hitam?

Kesatria?

Hitam-merah?

Penjaga?

Sang Iblis?

Si Pion?

See you next time..