Judul : Otonari-San

Chapter : 19

Crossover : Naruto x LoveLive

Pairing : Naruto x (Rahasia) :v

Genre : Ecchi, lemon, romance, drama, dll.

Disclaimer : Naruto punya Om Masashi Kishimoto dan LoveLive punya Sakurako Kimino

Rating : M

A/N :

Jadi Erocc baru saja ikut audisi teater enjuku tanggal 15 ini, meski Erocc jago nyanyi tetap saja Erocc gak pede nyanyi di depan banyak orang.. lalu erocc lupa lirik, tau dah keterima apa kaga.. :'v

.

.

.

.

.

DON'T LIKE DON'T READ :)

.

.

.

.

.

Naruto pov*

"Otsukaresama deshita~" begitu yang terucap oleh orang-orang yang baru selesai bekerja di toko buku Miyamori Shoten.

Aku keluar melalui pintu belakang toko lalu merenggangkan otot tubuhku, hari ini sama melelahkannya di tambah kegiatan kuliah sudah di mulai sejak 2 hari yang lalu. Musim sudah berganti sehingga bulan ini aku memakai baju yang lebih tebal dengan jaket musim gugur. Angin musim gugur lebih dingin dari biasanya.

"Ah, senpai..!" Aku melihat Hanayo yang menuntun sepedanya ke arahku dengan senyuman ceria, dia memakai switer berwarna coklat dan syal berwarna merah kotak-kotak.

"Yo, Hanayo-chan.. Otsukare.." setelah membimbingnya selama bekerja untuk seminggu ini kami jadi lebih dekat.

"Otsukaresama, senpai.." ucapnya yang sudah berada di sampingku, lalu kami berlanjut berjalan bersama.

Sudah menjadi kebiasaan bagi kami berjalan bersama menuju arah pulang hingga tikungan jalan. Mungkin karena aku lebih sering bersama dengannya saat bekerja dia jadi lebih dekat denganku. Ditambah kami sudah setuju untuk memanggil dengan nama kecil, tapi perilaku hormat dari Hanayo masih terlihat jelas.

Hanayo gadis yang penuh semangat meskipun agak ceroboh saat bekerja. Beberapa kali dia menjatuhkan buku yang ingin di pajang. Dan hari ini, dia hampir saja menjatuhkan miniatur kaca. Untung saja benda itu dapat di selamatkan, soalnya harganya tidak terbilang murah. Tentu saja, aku merasa dia menjadi tanggung jawabku karena aku yang membimbingnya.

"Naruto-senpai, apa kau suka kentang?" Tanya Hanayo.

"Suka sih, memang kenapa?"

"Aku dapat kiriman kentang banyak sekali dari kampung halamanku, aku pikir akan membaginya pada senpai.." ucapnya yang tersenyum padaku.

"Oh benarkah? Aku beruntung sekali.."

"Kalau begitu besok akan kubawakan.." kemudian kami berjalan dengan terdiam setelah pembicaraan tersebut, tiba-tiba Hanayo menatapku untuk beberapa detik dan itu terasa menggangguku.

"Senpai, kalau aku boleh tahu.." dia terlihat ragu untuk menanyakannya, aku menatapnya untuk menunggu pertanyaan yang mungkin untuk ditanyakan, "..apa kau sudah punya pacar?" Tanyanya dengan wajah memerah.

Aku terkejut mendengar pernyataannya itu, "Huh?! Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"

"Tidak, aku hanya ingin tahu saja.." jelasnya yang membuatku gugup untuk mengakuinya, aku menggosok pipiku dengan jari telunjuk karena merasa malu.

"Ada kok, kita teman satu angkatan di kampus.." Hanayo terlihat terkejut dia melonjak padaku sehingga membuatku agak mundur sedikit.

"Benarkah..?!" Dia menatap tak percaya lalu menghela nafas dengan raut wajah kecewa, "Sayang sekali.."

"Eh? Kenapa?"

Dia melirikku dengan wajah memerah yang entah bagaimana aku merasa itu manis sekali, "Kau sangat baik padaku dan juga dapat diandalkan, aku selalu berdegub kencang setiap kali memikirkannya.." aku memandang tak percaya padanya, "..Seandainya kau belum punya pacar, mungkin aku akan menyukaimu.." jelasnya yang membuatku terkejut dan salah tingkah.

"Wahh, jika itu terjadi aku akan kesusahan..!" sial, pernyataan itu membuatku jadi berdebar-debar. Tenang Naruto, kau harus menjaga hatimu.

Tapi yang aku dapatkan malah Hanayo yang tertawa geli setelahnya dia menatapku dengan sedikit air mata yang keluar dari matanya karena tertawa lalu mengusapnya, "Seperti biasa senpai selalu serius, aku hanya bercanda.. ahaha!" Dia menjulurkan lidahnya seperti meledekku, aku hanya tertawa canggung setelahnya. Aku benar-benar sudah menganggap hal itu serius, lho.

Aku langsung bernafas lega mendengarnya. Syukurlah, dia hanya bercanda. Jika hal itu terjadi, aku tidak tahu harus bagaimana menanganinya. Bahkan, Kotori-chan pernah marah ketika melihatku dekat dengan Nozomi. Untuk sesaat tadi, aku juga hampir merasa kalau Hanayo terlihat manis sebagai perempuan. Aku benar-benar bermasalah dengan rayuan wanita.

"Pacarmu terlihat seperti apa, senpai..?"

Mendengar pertanyaannya membuatku terbayang dengan Kotori, aku tersenyum membayangkan betapa manisnya dia sehingga bingung bagaimana mengungkapkannya dengan kata-kata. Aku menatap langit malam sebelum mulai bicara.

"Dia perempuan yang cantik, baik, dan populer di kampusku. Aku sendiri tidak tahu kenapa dia bisa menyukaiku, tapi melihatnya yang terus berusaha untukku membuatku berpikir aku jatuh cinta padanya.." aku merasa malu mengatakannya pada oranglain, aku tidak pernah curhat masalah percintaan dengan orang luar sih.

"Sepertinya dia orang yang baik, aku mengerti bagaimana dia berusaha.."

Aku ikut kegirangan mendengar ucapannya lalu mengangguk, "Dia anak yang baik, itulah kenapa aku bisa menyukainya.."

Hanayo terlihat mengeratkan pegangannya pada stang sepeda, "Sebenarnya ada orang yang kusukai juga, tapi entah bagaimana aku sangat sulit menggapainya.." aku menoleh pada Hanayo yang wajahnya memerah, pertama kalinya aku melihatnya seperti itu. Aku agak terkejut mendengarnya yang menyukai seseorang.

"Kenapa?"

Dia terlihat berpikir sebelum bicara, "Kita bersama sejak kecil, dia orang yang pintar dan keren.. dia juga punya idealis yang tinggi, ketika aku melakukan hal yang tidak disukainya dia akan langsung memarahiku.. aku menyatakan perasaanku meskipun mendapatkan reaksi dingin darinya, tapi meskipun begitu aku tetap menyukainya.." aku terdiam mendengar apa yang diceritakannya, mengingatkanku pada perasaan menyesakkan ketika aku menyukai Nozomi.

"Hm, aku mengerti.." untuk sesaat aku mengingat bagaimana Nozomi menolakku, sampai sekarang pun aku tidak mengerti reaksi dingin yang dia lakukan dulu. Dan butuh proses cukup lama untuk lepas dari hal tersebut, lagipula dia cinta pertamaku. Tentu saja, itu hal yang sulit untukku.

Angin berhembus ketika aku kembali mendengar kelanjutannya, "Saat perusahaan Ayahku bangkrut dan Ibuku sakit stroke, dia tetap membantuku, bahkan di saat aku merasa benar-benar jatuh saat itu, dia datang dan memarahiku.." dia kembali tertawa kecil saat mengingatnya.

"dia mengusap kepalaku dengan wajah yang sombong lalu berkata 'perubahan itu menyakitkan, ia menyebabkan kau merasa tidak aman, bingung dan marah bukan? lalu apa? Kau ingin hal tetap sedia kala, karena kau ingin hidup yang mudah.. jangan bersikap manja, gadis bodoh..' dia memang kasar, tapi dia orang yang baik.." Hanayo tersenyum dengan lembut ketika menceritakan orang yang disukainya, hatiku merasa ikut hangat ketika melihat betapa tulusnya dia menyukai orang tersebut.

Pria yang beruntung, dicintai oleh perempuan sebaik Hanayo-chan.

"Setelah itu, aku semakin menyukainya.. meskipun sekarang hanya cinta sepihak, aku tetap ingin mengejarnya.." untuk saat ini aku merasa Hanayo terlihat cantik, apa perempuan yang jatuh cinta itu selalu terlihat secantik ini.

Wajahnya tiba-tiba memerah begitu sadar dari apa yang dikatakannya, "Ah, sumimasen.. aku pada akhirnya mengatakan cerita yang suram, tapi senpai tak perlu khawatir aku baik-baik saja..!" Aku tertawa mendengar bagaimana dia merasa itu hal yang akan membuatku merasa buruk.

"Ahahaha.. apanya? Kau terlihat senang menceritakannya, lain kali biarkan aku mendengarkan ceritamu sekali lagi.." aku menepuk puncak kepalanya seperti seorang kakak laki-laki, sebenarnya setiap kali melihat Hanayo aku merasa seperti memiliki adik perempuan. Aku punya dua adik kembar yang menyusahkan jadi entah bagaimana ketika Hanayo bergantung padaku, itu menimbulkan perasaan nostalgia. Kurasa memiliki satu adik perempuan di Tokyo akan menyenangkan.

Hanayo-chan, kau tak perlu khawatir dengan itu. Aku mengerti betul apa yang kau rasakan. Justru aku merasa kau jauh lebih kuat dariku. Kau tetap mencintai orang itu meskipun itu perasaan sepihak. Aku bahkan tak bisa melakukan itu. Pada akhirnya aku menyerah menghadapi hal tersebut. Sampai saat kau terluka nanti oleh perasaanmu, aku akan membantu sebisaku seperti seorang kakak yang melindungi adiknya.

Untuk saat ini, jika kau bahagia dengan perasaan itu, aku hanya akan mendukungmu sebisaku. Aku harap kau tidak menyesal dengan perasaan itu. Aku tidak ingin kau merasakan perasaan menyesakkan yang sama seperti saat itu.

.

.

.

.

.

Aku duduk di kantin kampus sambil memakan set makanan yang kupesan, yaitu ramen dengan kuah miso dan jus jeruk. Hari ini, aku libur kerja part time jadi aku berpikir untuk menghabiskan sedikit waktu di kampus. Sekalian menunggu Kotori yang sedang mengikuti ekstrakulikuler tennis. Aku melihat tanggalan di smartphoneku yang memperlihat hari ini tanggal 4 september. Aku ingat sebulan lalu di liburan musim panas bersama Kotori.

Naruto-kun, aku ulang tahun tanggal 12 September.. kau harus mengingatnya ya..!

Itu yang dia katakan. Dan sekarang sudah tanggal 4 September, aku harus memikirkan hadiah apa yang bagus untuknya. Banyak hal yang kupikir untuk dilakukan, aku tersenyum sendiri membayangkannya. Huh, tapi aku tidak tahu itu akan menyenangkan atau tidak dari perspektif wanita.

Krieeet..

Suara dari bangku yang di geser mengalihkan perhatianku pada orang yang berdiri di sebelahku. Aku melihat wajah tampannya yang tersenyum padaku. Dia kemudian duduk di sana bersamaan meletakkan set makanan yang dia pesan.

"Yo, Naruto.." aku mendengar sapaannya lalu tersenyum padanya.

"Oh Shii-kun, kau belum pulang..?" Aku bertanya karena memang kegiatan matkul sudah selesai.

"Aku ada urusan dengan seseorang.." jelasnya yang mulai mengambil sumpit untuk menyuap nasi, "Kau sendiri..?" Lanjutnya.

"Aku masih menunggu Kotori-chan.." aku kembali melihat tanggalan di smartphone lalu menandainya dengan sebuah note.

Shii terlihat penasaran dengan yang kulakukan, dia terlihat mencondongkan tubuhnya mendekat padaku yang sedang menulis note ulang tahun Kotori. Setelah melihatnya dia tersenyum padaku. Aku merasa malu mendapat responnya itu.

"Ulang tahun Kotori ya? Aku juga mendengarnya dari Honoka.." jelasnya yang mulai mengunyah sesuap karage, "Kau ingin apa? Merencanakan makan malam romantis..?" Jelasnya yang membuatku terjengit karena tersipu malu.

"Ahaha! Tidak, aku belum memikirkannya sih~" jelasku yang menggaruk belakang leherku, "Tapi aku ingin melakukan sesuatu yang membuatnya senang.." lanjutku yang kemudian meminum jus jerukku.

Shii terlihat memandangku cukup lama kemudian dia mengalihkan perhatiannya lagi pada set makanan di depannya, "Kau cukup serius padanya.. tadinya kupikir kalian akan putus dalam waktu dekat karena kebodohanmu.." jelasnya yang membuatku tertohok.

"Akh..! Kau kejam sekali Shii-kun.." itu benar-benar ngena sekali di ulu hatiku, membuatku teringat dengan kesalahan yang kuperbuat. Aku jadi merasa takut dengan pria di sebelahku ini, apa dia tahu yang aku pikirkan..?

Shii terlihat kembali menaruh sumpitnya di meja, dia terdiam beberapa saat hingga membuat suasana menjadi agak suram. Dia mulai melirik padaku lalu memandangku dengan memangku wajahnya di tangan. Aku mulai mengalihkan perhatianku menyeruput kuah ramen dari mangkuknya.

"Naruto, apa kau masih suka pada Nozomi..?" Tanya Shii.

Aku langsung tersedak kuah ramen hingga terbatuk-batuk, tanganku yang bergetar kemudian mengambil jus jeruk untuk meminumnya. Setelah batuk-batukku mereda aku langsung menatap jengkel pada Shii yang telah menanyakan pertanyaan kampret itu. Dia menatap wajahku datar seperti itu bukan masalah.

"Gak mungkinlah, kenapa kau bertanya begitu..?! Lagian sudah kukatakan kalau itu hanya rumor, 'kan?" Jelasku yang entah mengapa tidak bisa santai, itu sudah jadi masa lalu kenapa masih dibahas juga!

Shii mengalih pandangannya ke arah lain, "Hm~ aku tahu kau sudah pacaran dengan Kotori, tapi kalian terlihat cukup akrab saat liburan musim panas lalu, jadi aku pikir begitu.." jelasnya yang tidak bisa ku terima sama sekali.

"Aku tidak menyukainya, hubungan kita hanya sebatas kenalan saja.." tambahku lagi yang mendapat Shii tertawa lalu menepuk punggungku.

"Gomen naa, Naruto.. aku hanya asal bicara, kau sensitif sekali.." lanjutnya kemudian dia kembali memangku wajahnya dengan tangan sambil menatap ke depan, "Tapi kau tahu? Nozomi itu menarik, dia terlihat kalem tapi tidak begitu juga.. hanya saja, dia misterius sehingga aku penasaran padanya.."

Benarkah? Dia itu gadis mesum lho.. Aku pikir itu berlebihan, tapi aku memang sedikit penasaran sih..

Kemudian aku mengangkat nampan makanan kantin, "Oh baiklah, aku duluan ya.. kau tidak apa kan kutinggal..?" Tanyaku padanya.

"Tentu.." ucapnya yang kembali melanjutkan makan siangnya, aku hendak melangkah dari sana sampai Shii kembali memanggilku, "Naruto.." aku kembali menatapnya.

"Baguslah jika kau tidak suka padanya, kalau begitu.." dia menyisir rambutnya dengan jari tangannya ke belakang lalu menatapku, "..tidak apa kan, jika aku mengambil Nozomi darimu..?" Jelasnya yang membuatku yang terdiam sesaat.

Aku lalu mendengus, "Huh! Lakukan saja sesukamu, aku tidak peduli.." ucapku padanya yang kemudian kembali melangkah dari sana untuk meletakkan piring kotor di meja khusus untuk alat makan yang sudah kotor.

Begitu ya..? Jadi Shii menyukai Nozomi. Aku menutup mataku maklum, tentu saja itu jauh lebih baik jika mereka bersama. Aku tidak perlu memikirkan Nozomi lagi. Daripada itu, sebaiknya saat ini kupikirkan hadiah ulang tahun untuk Kotori.

.

.

.

.

.

Kotori memandang kentang yang cukup besar di tangannya, "Kentangnya besar sekali, kau dapat ini dari mana?" Tanya Kotori padaku yang sedang menaruh belanjaan di kulkas kecil.

Sekarang kami sudah berada di apartementku, Kotori datang untuk menginap malam ini. Kotori sedang mengupas kentang itu di depan meja patri dapur apartementku, setelah selesai menyusun makanan di dalam kulkas aku pun melangkah ke samping Kotori dan mengambil salah satu kentang untuk mengupasnya.

"Ini diberikan kouhaiku di tempat kerja, katanya dia dapat kiriman banyak kentang.." jelasku yang mendapat tatapan penuh pertanyaan dari Kotori.

"Kouhai..?" Kotori terlihat penasaran dengan itu jadi aku langsung ceritakan saja awal mula kejadiannya.

"Ada pegawai baru, aku yang mengajarinya tentang pekerjaan.. jadi, sekarang kami sangat dekat.." jelasku pada Kotori.

"Hm~ orang seperti apa dia?"

"Dia perempuan yang baik dan penuh semangat, namanya Hanayo-chan.. kita di tempatkan di bagian yang sama saat bekerja.." jelasku lagi.

Tiba-tiba Kotori berhenti mengupas kentang lalu menatap padaku dengan ekspresi yang terlihat terganggu, "Dia perempuan?" Tanyanya yang langsung ku jawab.

"Eh? I-iya.." aku merasa suasananya mulai tidak enak lalu aku dengan panik langsung menjelaskan hal yang sebenarnya agar Kotori tidak salah paham, "Yah! Kau tahu? Aku diberi tanggung jawab, lalu dia terlihat membutuhkan teman jadi aku pikir aku harus membantunya.. selain itu, dia seperti adik perempuan bagiku..!" jelasku dengan panik ketika Kotori mulai mencondongkan tubuhnya hingga membuatku mundur sedikit.

"Adik perempuan..?" Tanyanya lagi seakan aku telah menginjak ranjau dengan jawabanku sendiri.

"Bukan, maksudku..! Dia anak yang baik jadi kami hanya berteman biasa.." terangku yang langsung mendapat wajah cemberut Kotori yang manis, dia kembali fokus pada kentang yang dikupasnya.

"Kalau begitu tidak apa jika kalian cuma teman, aku memang merasa cemburu, tapi mau bagaimana lagi.." jelasnya yang tiba-tiba murung, "gomen nee, sikapku ini pasti mengganggumu, 'bukan?"

Ucapannya membuatku merasa tak enak juga. Sikap cemburuannya memang sedikit mengganggu, tapi dia cemburu karena dia pacarku. Aku tidak benci dengan itu. Aku tersenyum melihatnya yang menunduk itu, lalu melangkah mendekat ke belakangnya. Aku melesakkan tanganku yang melingkar di perutnya lalu menariknya dalam dekapanku.

"Kotori-chan, kau terlalu manis..!" Ucapku yang memeluk gemas padanya yang terlihat mulai malu-malu, "Sikapmu yang satu itu membuatku merasa dibutuhkan, aku jadi ingin membuatmu terus cemburu~" godaku padanya yang langsung merona.

"Eh~? Sonna.." dia menggerutu sehingga membuatku tertawa, sesaat kemudian kami saling berpandangan cukup lama.

Entah bagaimana aku tidak bisa lepas dari tatapan matanya yang menghipnotisku. Wajah kami saling mendekat lalu perlahan saling menutup mata. Aku merasakan bibir Kotori yang menempel dengan bibirku, kami kemudian saling melumat. Ah, sial~ ini terasa nikmat. Tanganku mulai merangsek ke atas lalu menggenggam buah dada Kotori, aku mulai meremasnya menimbulkan desahan Kotori.

"Ah~" matanya tertutup dengan alis bertautan seperti menikmati hal tersebut, bibirku merangsek pada lehernya lalu menggigit telinganya hingga dia menahan tubuhnya yang menggeliat di meja patri.

Salah satu tanganku mulai menyingkap rok yang dia kenakan lalu tanganku mengelus paha mulusnya dan merangsek ke atas untuk mencapai bagian sensitifnya. Namun, tiba-tiba Kotori menggenggam tanganku hingga berhenti bergerak, aku langsung menatapnya penasaran-wajahnya yang terlihat sudah merona menatap padaku.

"Ki-kita tidak bisa melakukannya, saat ini aku sedang memasak.." jelasnya yang membuatku seketika melihat kentang yang baru dikupas setengah, aku langsung menjauhkan diri dari Kotori.

"Ah, kau benar.." aku langsung memegang pisau dan kentang kembali untuk mengupasnya, begitupun dengan Kotori.

Sial, aku tak bisa mengendalikan diriku..

"Umm.. kau ingin membuat apa?" Untuk menghilangkan rasa canggung aku mulai bertanya pada Kotori yang tersenyum padaku, dia terlihat menunjukkan kemasan yang di dalamnya berisi potongan daging.

"Karena kita punya banyak kentang, aku pikir untuk membuat nikujaga.." jelasnya yang membuka kemasan daging itu, "Kebetulan aku mendapat diskon saat membelinya.." lanjutnya yang mulai mencuci daging itu di baskom.

"Oh, sepertinya enak!" Pujiku padanya yang tertawa kecil.

"Naruto-kun, sudah lama tidak makan masakan rumah, 'kan? Aku akan memasak lebih sering untukmu.." jelasnya yang kemudian kami lanjut memasak untuk makan malam.

.

.

.

.

.

Nozomi pov*

Aku meletakkan alat-alat lab di dalam lemari setelah mengelap mereka. Saat ini aku sedang membantu Kurenai-sensei dengan penelitiannya untuk seminar minggu depan. Dia terlihat mengetik suatu laporan tentang data yang dia dapatkan dari penelitiannya tentang peningkatan kualitas tanaman di pertanian.

Wajahnya terlihat sangat kelelahan untuk memikirkan berbagai teori, aku berinisiatif membuat coklat panas untuknya. Di saat lelah melakukan pekerjaan sangat bagus mendapatkan oksigen dari glukosa. Aku mengaduk coklat panas itu yang sudah berada di dalam gelas. Aku membawanya tepat di samping meja Kurenai-sensei yang masih fokus di depan laptopnya.

"Aku membuatkanmu coklat panas, sensei.." jelasku yang mendapati Kurenai-sensei menengok ke arahku, dia tersenyum sebentar lalu mengambil coklat panas dan menyeruputnya.

"Arigatou, Nozomi.." setelah itu Kurenai-sensei terlihat merenggangkan tubuhnya yang mungkin terasa pegal, "Ah, iya kau sudah boleh pulang.." ucap Kirenai-sensei yang memutar bangkunya pada Nozomi yang menatapnya.

"Tapi masih ada waktu sampai jam 9.." jelasku yang melihat jam dinding yang jarumnya menunjukkan angka setengah 8.

"Tidak apa, hari ini kau boleh pulang cepat.. aku juga ada kencan malam ini dengan suamiku~" jelasnya yang terlihat kembali berenergi, ah pantes saja dia menyuruhku untuk pulang cepat.

Sudah 2 bulan sejak pernikahan Kurenai-sensei, dia terlihat bahagia akhir-akhir ini meskipun banyak pekerjaan yang dilakukannya. Aku tersenyum padanya lalu mengucapkan terima kasih atas bimbingannya. Aku kemudian berjalan ke arah pintu dan melepas jas laboratorium. Aku memakai jas musim gugurku dan membawa tasku di pundak.

Aku berjalan menyusuri koridor hingga di ujung aku melihat seseorang yang tampaknya familiar hingga membuatku berhenti. Dia berjalan ke arahku dengan senyuman tampannya. Pria ini bernama Shii, dia teman satu angkatan dengan Naruto dan yang lainnya. Aku kembali berjalan ketika dia mulai di dekatku.

"Nozomi-senpai, kau baru selesai bekerja?" Tanyanya padaku, aku tidak mengerti kenapa dia masih di kampus di jam segini.

Aku mencoba untuk tetap bersikap seperti biasanya, "Iya, penelitian Kurenai-sensei baru saja selesai.." jelasku yang kemudian melempar pertanyaan padanya, "..kau sendiri, kenapa masih ada di kampus jam segini?" Tanyaku padanya yang menatapku, sebenarnya itu terasa mengganggu tapi aku berusaha untuk tidak terlihat seperti itu.

Dia berhenti berjalan ketika kami menyusuri halaman depan kampus menuju gerbang, "Sebenarnya aku menunggumu, senpai.." jelasnya yang membuatku terhenti sejenak karena terkejut juga bingung pada orang di depanku.

Aku kembali tersenyum padanya lalu menyentuh pipiku sendiri, "Hn, ada apa? Apa ada yang ingin kau tanyakan..?" Tanyaku yang kemudian lanjut berjalan beriringan dengannya.

"Mungkin semacam itu.." dia terlihat melirik padaku lalu tangannya menunjukkan gestur seperti meminum sesuatu, "Omong-omong, mau minum bersama?" Tanyanya padaku yang membuatku menatapnya dengan iseng.

"Ouh, apa itu berarti kau mau mentraktirku?" Tanyaku padanya yang membuat dia tersenyum.

"Tentu, aku tahu tempat di dekat sini yang cocok untuk itu.." jelasnya yang kemudian mengajakku pergi ke sana.

Kami berjalan menyusuri daerah perkotaan sambil mengobrol beberapa hal. Ini bukan pertama kalinya Shii mendekatiku. Dia beberapa kali bersikap manis padaku. Seorang pria tiba-tiba bersikap baik karena ada alasannya, 'bukan? Aku sangat mengerti itu. Meskipun, aku tidak menyukai hal itu tapi aku tidak bisa menghindarinya. Begitu pun yang terjadi sekarang.

Kami berhenti di gerbang tembok dengan tangga menuju ke bawah, aku melihat plang yang bertuliskan Jackpot. Shii mengajakku untuk turun menuju ke bawah tangga yang memperlihatkan sebuah pintu dengan tulisan open. Dia membukakan pintunya untukku yang masuk ke dalam, terlihat beberapa pria bermain billiard di pojok ruangan dan di tengahnya terdapat meja bar.

Aku melihat seseorang yang terlihat tak asing di dalam bilik meja bar. Dia terlihat seperti bartender yang sedang mengelap gelas, model rambut seperti buah nanasnya sangat mudah dikenali. Dia juga salah satu teman dekat Naruto, kalau tidak salah namanya Shikamaru.

Pandangannya berpindah pada kami seakan menyadari kedatangan kami. Aku melepaskan jas yang kukenakan dan menggantungnya di bangku. Dia kembali menaruh gelasnya di meja dan menghampiri kami yang duduk di seberang meja bar tersebut. Aku tersenyum memandang wajahnya yang terlihat terkejut melihat aku dan Shii bersama tapi dia tidak berkomentar apapun.

"Aku tidak tahu, Nara-san bekerja di sini.." ungkapku hanya untuk basa-basi.

"Dia bekerja di sini sebagai bartender, tidak mengejutkan jika dia memiliki banyak uang bukan?" Jelas Shii yang duduk di sampingku.

Shikamaru terlihat terganggu lalu berkaca pinggang di hadapan kami, "Justru aku yang terkejut melihat kalian di sini, sejak kapan kalian sedekat ini?" Tanyanya yang mendapat tawaan dari Shii, aku hanya terdiam dengan pernyataan tersebut.

"Nozomi-senpai, kau ingin makan burger? Di sini burgernya sangat enak lho.." jelasnya yang membuat lamunanku tersadar.

Aku hanya tersenyum dan mengangguk, kemudian Shii terlihat mengatakan pesanannya dengan Shikamaru. Aku mendapati segelas cocktail di depanku yang sudah di buat seorang gadis berambut merah dengan kacamata yang digunakannya. Aku tidak memesan minuman tersebut hanya memandang penuh tanya padanya.

"Kau terlihat murung, jadi aku buatkan satu gelas untukmu.." jelasnya yang membuatku hanya memandangnya aneh, "..tentu saja, kau harus bayar.." lanjutnya yang meletakkan sebatang rokok di mulutnya lalu menyalakan korek api.

"Oy Karin, jangan memaksa pelanggan untuk membeli minuman hasil eksperimenmu dan jika kau ingin merokok, bisa kau lakukan di luar?" Jelas Shikamaru yang sedang memanggang daging burger di depan wajan.

Gadis bernama Karin itu kemudian mendecih lalu kembali memasukan batang rokok itu di bungkusnya, "Cih, aku tahu.. tidak ada merokok di depan pelanggan, 'bukan?" Jelasnya pada Shikamaru yang hanya menatapnya datar.

"Seperti biasa Karin-san terlihat sangat bersemangat, hm?" Tanya Shii yang meledek gadis di depannya yang langsung menatapnya tajam.

"Hah..? Kau sendiri seperti biasa mengajak gadis cantik kemari, dasar playboy-yaro.." jelasnya yang menyindir Shii yang hanya tersenyum.

"Kami hanya berteman, bukankah begitu Nozomi-senpai..?" Tanya Shii padaku yang kemudian mendapat tatapan tajam dari Karin padaku.

"Nee, Onee-san.." dia mulai berucap lalu menunjuk pada Shii, "..Jangan percaya pada pria ini, dia musuh semua wanita.." jelasnya yang membuatku menatap pada Shii.

"Benarkah itu?" Tanyaku yang mendapat senyuman dari Shii.

"Sudah kubilang kami semua hanya berteman baik, kau tidak percaya padaku?" Jelasnya yang mendapat hujatan kecil dari Karin.

"Cih, masih saja membual.." ucap Karin dengan suara kecil.

DRRRTT! DRRRT!

Smartphone Shii yang diletakkan meja bergetar menandakan seseorang menelponnya. Shii melihat layar pada Smartphonenya lalu ekspresi wajahnya berubah masam dan menghela napas lelah, dia melihat padaku sebentar lalu meminta izin untuk menerima panggilan itu. Dia terlihat menggeser tombol untuk menerima telpon itu.

"Ya, ada apa..?" Dia terlihat bertanya pada orang di seberang panggilan itu lalu dia berdiri dan menjauh menuju bilik toilet laki-laki di ujung ruangan.

"Huh~ pasti itu panggilan dari wanita lain yang ditipunya.." jelas Karin kembali mengejek Shii.

"Karin, bisa kau berhenti menjelekkan pelanggan? Itu akan membuat pelanggan kita berkurang.." jelas Shikamaru yang membawa piring dengan burger yang sudah selesai dibuatnya lalu meletakkannya tepat di depanku.

Mataku kemudian beralih pada nametag kecil yang menempel di baju Karin, aku terkejut ketika merasa nama itu tidak asing.

Uzumaki Karin..

Nama keluarganya sama seperti Naruto, "Ah itu.." aku menunjuk nametag itu dengan penasaran yang disadari oleh Karin dan Shikamaru.

"Oh kau sadar juga.." jelas Shikamaru yang menunjuk perempuan berambut merah di sampingnya, "..dia ini sepupu Naruto.."

Tanganku langsung menutup mulutku karena terkejut, "Eh?! Jadi begitu?" Kemudian aku tertawa setelahnya, "Pantas saja, kalian memiliki aura yang mirip.." jelasku yang terlihat membuat Karin tersinggung.

"Huh?! Jangan samakan aku dengan Naruto..!" Karin mengomel padaku.

"Apa salahnya kalian kan saudara.." ungkap Shikamaru.

"Tidak, soalnya Naruto itu bodoh.. tidak sepertiku.." jelas Karin dengan nada sombong.

"Yah, terserah kau sajalah.." Shikamaru terlihat tidak ingin berdebat lalu pergi melayani pelanggan yang lain.

Karin kembali menengok ke arahku dengan penasaran, "Jadi onee-san, kau kenal dengan Naruto?" Tanyanya yang ingin langsung kujawab.

"Iya, kami te-" ucapanku terhenti ketika ingin mengatakan bahwa kami tetangga, aku berpikir sejenak ketika mengatakan hal itu apakah akan baik-baik saja untuk Naruto? Karena tidak ada satu pun orang yang tahu kami tinggal di apartement yang sama.

"Jadi kalian apa..?"

Aku langsung menutupi hal tersebut pada Karin, "Iya, maksudku dia juniorku di kampus dan kami berteman dekat.." aku meremas rok yang aku kenakan, kenapa aku merasa aneh mengatakan hal itu? Lagipula sejak awal kita tak memiliki hubungan apapun.

Itu benar..

Tidak ada yang terjadi di antara kami..

"Hm.. begitu ya? Sepertinya anak itu memang menjalani kehidupan kampusnya dengan baik.." jelas Karin.

Aku menatap burger yang baru matang di depanku, "Iya, bahkan dia memiliki pacar yang mencintainya.." lanjutku yang mengingat wajah Naruto ketika di penginapan onsen saat itu, dia mengatakan bahwa dia memiliki oranglain yang disukainya.

Gomen, aku tidak bisa..aku sudah punya oranglain..

Saat itu, aku merasakan ada yang salah di dadaku.. ketika mendengarnya mengatakan hal itu..

"Apa?! Dia punya pacar?" Karin terlihat terkejut lalu menggigit ibu jarinya, "Sialan, boleh juga si Naruto.. Hey, Shikamaru.. kenapa kau tidak bilang padaku kalau Naruto sudah punya pacar?" Karin terlihat memanggil Shikamaru yang sibuk membuat cocktail.

"Huh? Kukira kau sudah tahu.." jelas Shikamaru terlihat tak peduli.

Shii terlihat keluar dari bilik toilet setelah selesai dengan urusannya, lalu berjalan ke arah kami, membuat perhatianku dan Karin teralihkan pada Shii yang kemudian kembali duduk di sebelahku.

Dia melihat burger di depannya, "Oh sudah jadi?" Jelasnya melihat burger tersebut lalu menatap Karin, "Karin-san, aku juga pesan Shochuu.." jelas Shii pada Karin yang kemudian pergi mencari beberapa botol Shochuu.

Aku kemudian memakan burger di piring itu dan terkejut dengan rasanya yang memang enak, "Ah, ini enak.."

"Benarkan?" Jelas Shii yang kemudian ikut makan.

Setelah itu, kami melanjutkan minum Shochuu beberapa botol ditemani Karin dan Shikamaru yang mengobrol bersama kami. Beberapa kali aku mendengar Shii yang bercerita mengenai keluarga dan kampung halamannya. Aku hanya mendengarkan apa yang dia ceritakan, lalu tertawa jika ada hal yang lucu. Aku juga menceritakan kampung halaman tempat aku di besarnya hingga mereka penasaran dengan tempat asalku.

Tapi, aku mulai tertarik ketika Shikamaru menceritakan masa kecil waktu bersama Karin dan Naruto. Aku lebih tertarik ketika Karin mulai bercerita tentang Naruto dan Keluarganya. Hal ini membuatku mempertanyakan diriku sendiri, kenapa aku sangat senang ketika mendengar cerita mengenai Naruto?

Aku tidak mengerti, tentang bagaimana yang aku rasakan sendiri..

Hal yang paling aku takuti adalah aku mulai memperhatikannya..

Dan aku takut aku akan kembali mencintai seseorang..

Bahkan jika itu Naruto sekalipun, aku tidak ingin melanggar janji yang sudah kubuat sendiri..

.

.

.

.

.

TBC memang indah..

Silahkan review yang bijak..

Maafkeun, Erocc jika ada salah kata..

Erocc juga manusia biasa..