I LOVE YOUR DAD

WU YIFAN X KIM JONGIN

.

.

Ini bukan tentang sugar dady apalagi pedofil

.

.

CHAPTER 20: Plan on

Yifan selalu mengira dan berpikir bahwa pengalaman merupakan hal yang paling penting. Tetapi Jongin bilang belajar dari pengalaman orang lain berarti menghentikan siklus dan tindakan tidak perlu. Maka Yifan juga tidak heran jika Jongin menjadi mahasiswa yang begitu sangat cerdas.

Hingga tanpa sadar Yifan berada titik dimana pendapat Jongin tidak kalah penting dengan pendapatnya sendiri. Yifan juga tidak tahu dari mana asalnya, setiap kata yang diucapkan Jongin akan ia pedulikan layaknya petuah dari seorang ahli filsuf. Padahal Yifan sendiri tidak terlalu peduli dengan quote-quote bijak yang sering diposting oleh teman-temannya.

Meski ia peduli bukan berarti Yifan menjadi orang yang lebih sabar. Ia mendengar dan memahami maksud Jongin. Tapi ketakutan akan kehilangan, menghantuinya dengan rasa yang menyakitkan. Setelah bersusah payah menjaga hubungan yang begitu rentan dan rapuh. Jongin berniat melebarkan jarak.

Penolakan mendorong diri Yifan untuk bersuara. Ia peduli pada Jongin, namun statusnya saat ini tidak akan menjamin ia akan mendapatkan Jongin seutuhnya. Apa Yifan terlalu rakus? Rasanya tidak juga. Hal ini bisa diwajarkan, karena ia hanya terlalu cinta pada Jongin.

"Menikah denganku, dan aku tidak akan mengekangmu untuk melanjutkan sekolah maupun membantu perusahaan Ayahmu."

Itu bukan perkataan spontanitas belaka. Yifan sejak dulu memang tidak memiliki niatan untuk menunggu Jongin menyelesaikan semuanya. Dan memaklumi caranya yang pura-pura baik saja dan tidak membutuhkan bantuan orang lain. Rasa mandiri berlebihan Jongin sedikit melukai harga diri Yifan. Bahkan ayah tirinya pun merasakan hal yang sama.

Jongin selalu berdiri dengan gagah sendirian. Bahkan jika angin topan Natcher menghadang langkahnya, menerbangkan pakaiannya hingga ia harus bertelanjang bulat. Jongin akan melaluinya tanpa protes sama sekali. Padahal Yifan memiliki kendaraan canggih untuk mengantarkannya ke tujuan yang ingin Jongin tuju. Tapi Jongin akan menolak halus bantuannya atas dasar kata mandiri.

Itu yang membuat Yifan sempat menolak untuk mencoba meraih Jongin seutuhnya. Awalnya, ia akan mencoba saat Jongin akhirnya sudah memutuskan untuk meluruhkan semua keangkuhan berkedok mandiri. Hingga ia menemukan Jongin kembali terluka karena persoalan Triad yang tidak terprediksi. Cukup, Yifan tidak bisa untuk tetap bersabar dan membiarkan Jongin terus melarikan diri. Ia akan melakukan yang sejak dulu seharusnya ia lakukan, memberikan perlindungan. Frustasi rasanya mengingat luka di punggung Jongin dan keadaan Jongin saat dihajar habis-habisan oleh mantan kekasihnya sendiri.

"Dulu kau bilang, aku bertingkah seperti korban," Jongin menunjukkan ekspresi lelah yang begitu kentara dari sorot matanya. "Sekarang kau bilang aku pura-pura bersikap seolah tidak membutuhkan bantuan sama sekali," Jongin juga menunjukkan ekspresi terluka setelahnya. "Apa aku tidak boleh memutuskan kehidupanku sendiri?"

"Tapi kau tidak hidup sendirian," sebenarnya Yifan hanya ingin mengatakan ia tidak mau kehilangan Jongin. Sebelum kesalahpahaman menjadi hal yang semakin rumit. Yifan menenangkan Jongin dengan kata-kata manis yang ia pelajari langsung dari Jongin. "Aku hanya ingin menjadi bagian penting dari segala proses yang kau lalui untuk mencapai tujuan dan impianmu."

Jongin memiringkan kepalanya. Bingung dan terlalu heran dengan pilihan kata yang tidak biasa Yifan katakan.

"Aku tidak mau hanya menjadi bagian kecil dari prosesmu dan berperan sebagai kekasih biasa."

"Kau luar biasa." Jongin berkata dengan nada tercekat. Jelas, Jongin tidak setuju dengan perkataan Yifan.

Dan Yifan tentu saja senang dengan perkataan Jongin. Namun ada yang lebih penting dibandingkan mendengar ucapan manis dari mulut memabukan Jongin. Ia ingin Jongin memikirkan masa depan dimana Yifan juga ada di dalam lembar rencana Jongin.

"Aku ingin menjadi bagian dari semua tujuanmu." Yifan berkata dengan nada lembut yang mengejutkan.

Sedikit lucu rasanya, saat Yifan mengerti dengan arti tatapan Jongin yang membulat. Jongin sampai jatuh terduduk di atas ranjangnya sendiri. Entah terlalu terkejut atau baru sadar kalau Yifan memang seserius ini.

"Tunggu sebentar, biarkan aku mencerna semua perkataanmu dengan baik."

Yifan menghela nafas dengan pelan dan menatap Jongin dengan tajam.

"I'm fucking love you."

Pernyataan cinta dengan selipan umpatan justru membuat Jongin tersentak kaget. Detik selanjutnya suara tawa Jongin pecah dan menggema di kamarnya. Yifan sendiri lagi-lagi hanya bisa tersenyum dengan maklum. Menghadapi anak kuliahan yang cukup idealis ternyata memerlukan tenaga yang cukup besar.

Sabar menjadi kata yang paling dibenci Yifan saat ini. Yifan tahu Jongin masih mahasiswa berumur 20 tahun yang sebentar lagi beranjak 21 tahun. Ia juga tahu kalau ia masih harus menunggu Jongin 1 sampai 2 tahun lagi sampai akhirnya Jongin lulus dari tempat kuliahnya.

"Katakan ya, dan aku akan menyiapkannya mulai dari sekarang," Yifan mungkin terkesan begitu buru-buru. "Aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama."

"Kesalahan yang mana?" Jongin mengerutkan dahi.

"Jarak selalu sukses membuat kita seperti orang asing."

"Oh, kau sedang membicarakan dirimu sendiri, membuat jarak dan bertingkah seperti tidak mengenalku?" sebenarnya, setelahnya Jongin tersenyum jenaka, tapi kalimat Jongin kali ini sukses membuat jantung Yifan seperti ditempa palu keras. "Tenanglah sedikit Ge, jangan terburu-buru."

"Aku tidak bisa tenang."

"Kau harus menjelaskan satu hal lagi, keluargamu."

...

Dari semua reaksi yang Yifan harapkan. Jongin malah hanya duduk diam dan tanpa sadar mulai mengurut pelipisnya dengan resah. Yifan duduk dengan hati-hati, ia mengontrol wajahnya agar terlihat tenang. Tapi di sisi lain Yifan khawatir Jongin mendengar suara keras detak jantungnya.

Semua suasana ganjil ini berhubungan dengan pertanyaan sederhana Jongin.

"Kenapa para triad tidak akan berbuat macam-macam dengan keluargamu?"

Sulit menjelaskannya dengan gamblang dan terbuka. Bisnis yang dijalankan keluarganya akan selalu dianggap tidak bermoral, meski mereka sangat membutuhkannya demi rasa aman dan keseimbangan.

"Keluargaku memproduksi alat untuk pertahanan dan perang," Yifan menemukan Jongin mengerutkan dahi. "Secara legal namun terkadang bisa berakhir di tangan yang salah."

"Bisa kau perjelas?" ada nada ragu dan penyangkalan dari suara Jongin.

"Alat untuk berburu~" Yifan menjawab dengan nada memelas. Seolah memohon pada Jongin untuk bisa membayangkannya dengan tepat.

"Senapan?" Jongin terkesiap hanya karena anggukan kecil Yifan. "Oh Tuhan! " seruan Jongin tampak berlebihan di mata Yifan. "Kenapa aku selalu masuk di lubang yang sejenis?"

"Kau tak pernah masuk lubang," Yifan berceletuk dengan nada menggantung. "Justru kau lubangnya." Dan dengan seenaknya tersenyum.

Jongin refleks memberikan tatapan merendah karena lelucon cabul Yifan. Namun kemudian memilih menghela nafas. Hidupnya begitu sangat biasa saja, tapi orang disekelilingnya memiliki rahasia yang tidak biasa. Untuk beberapa alasan, Jongin mulai sedikit bosan dengan kejutan.

"Tapi aku tidak terlibat dengan perusahaan itu," sedikit menyakitkan saat mengingat ia pernah ditendang dari daftar ahli waris. Semua itu karena pilihan hidupnya yang dianggap menyimpang. "Ahli waris tunggal perusahaan itu dipegang penuh untuk adikku."

"Sepertinya kau tidak akrab dengan adikmu," Jongin menatap Yifan sambil tersenyum miring. Jongin juga bisa menyebalkan di mata Yifan. "Tapi rasanya mungkin lebih menyenangkan jika tidak dianggap sama sekali dibandingkan dianggap sebagai keponakan."

"Apa kau sedang mengukur siapa yang paling menderita?" Yifan menggunakan nada sarkas yang mulai dimengerti Jongin, namun tetap saja membuat pemuda berkulit tan itu tersentak. "Tidak baik membandingkan luka orang lain macam itu."

"Sepertinya aku mulai mengerti kenapa kau bilang aku selalu bertingkah sebagai korban." Jongin mengucapkan kalimat itu dengan hati-hati.

"Karena kau selalu menganggap dirimu paling menderita dari pada siapa pun," Yifan memandang Jongin dengan tatapan yang biasa Jongin dapatkan dari ayahnya. "Kau tidak boleh melihat luka orang lain hanya dari sudut pandangmu," Yifan menemukan Jongin meringis pelan. "Saat orang lain kehilangan 50 Yuan dan kau kehilangan 100 Yuan kau tidak bisa menganggap dirimu lebih malang, karena bisa jadi yang ia punya hanya 50 Yuan, sedangkan kau sebelumnya memiliki 150 Yuan, ketika dia sudah tidak memiliki apapun kau masih memiliki 50 Yuan."

"Baiklah, maafkan aku." Jongin menemukan Yifan mengusap rambutnya dengan lembut.

.ILYD.

Ini moment yang paling mengejutkan.

"Kau penting untuk keegoisanku," Jongin bisa mendengar ucapan Chanyeol dari kejauhan. "Aku ingin mengakui satu hal padamu, aku yang membuat perusahaan Yifan berantakan, awalnya ini mungkin cara yang pantas untuknya karena sudah mempermainkanmu dibandingkan membuatnya lenyap dari dunia ini."

Jongin tentu melebarkan matanya dengan terkejut.

"Tapi aku sadar, aku cemburu setengah mati saat melihatmu menangis untuk Xia Wei, tangisan macam apa yang akan kau tunjukan jika aku menargetkan nyawa Yifan?" Chanyeol sengaja tidak melihat raut wajah Jongin. "Tapi merusak perusahaannya malah membuatmu luluh kembali," Chanyeol sempat melirik Jongin yang hanya menggigit bibir bawahnya. "Aku akan menikah dengan wanita pilihan kelompokku," Chanyeol menghela nafas pelan dan bersyukur Jongin tidak menunjukkan reaksi apapun atau mengatakan apa pun. Chanyeol bisa langsung goyah jika Jongin bereaksi. "Dan kau pun akan menikah dengan Yifan."

Jongin menaikan alisnya, biasanya ia akan membantah. Tapi khusus untuk Chanyeol ia lebih memilih diam. Membiarkan Chanyeol berpikir ia sudah setuju dengan keputusan Yifan dan keluarganya.

"Mau secinta apapun aku padamu, ternyata kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama," Chanyeol kemudian mendekati Jongin dan membuat Noboru hampir bergerak untuk menghadang. Tapi kemudian Chanyeol berhenti dengan jarak yang menurut Noboru terbilang aman. "Kau tau cerita tentang imprint?" Chanyeol membuka topik pembicaraan yang cukup nyeleneh. "Aku tidak tahu kau percaya atau tidak, tapi seperti imprint, aku pikir akhirnya aku menemukan pasangan jiwaku hanya dari cinta pada pandangan pertama," Chanyeol kagum dengan kontrol mimik wajah Jongin yang tidak berubah. "Ternyata cerita konyol itu tanpa sadar malah aku yakini kebenarannya dan berakhir membuat hatiku hancur setelahnya."

"Maafkan aku." Jongin hanya bisa mengatakan kalimat itu.

Dan ia memang hanya bisa mengatakan hal itu. Kali ini Jongin menatap wajah Chanyeol dengan berani. Luka fisik yang Chanyeol berikan membantunya untuk melupakan perasaannya pada pemuda yang akan mewarisi kelompok Triad. Tubuhnya yang remuk karena luka mengambil alih sebagian besar rasa sakit hatinya ketika harus menghadapi kenyataan bahwa kekasihnya sudah memiliki calon istri.

Manusia itu abstrak dan sialnya egois. Jongin sebenarnya sedikit senang dengan semua ucapan Chanyeol. Perkataan pria turunan Triad itu memaksa Jongin mengingat momen saat semuanya baik-baik saja. Saat Chanyeol menjemputnya di sanggar tari atau membelikannya sekotak pizza. Atau menonton film dari layar laptop yang baterainya mudah sekali habis.

Bukan karena sudah ada Yifan. Tapi rasa cintanya pada Yifan lebih besar ketimbang dengan Chanyeol. Jika ia boleh membanding, Jongin mungkin akan lebih siap mendapat pertentangan dari keluarga besar Yifan. Ketimbang menghadapi musuh-musuh Chanyeol yang tidak kasat mata. Katakan saja jika Jongin pengecut, tapi ya inilah hidup yang penuh dengan pilihan.

"Karena ternyata kita tidak ditakdirkan bersama, aku bahkan berpikir akan membuat anakku dan anakmu bersama," Chanyeol menghela nafas saat melihat Jongin yang mengerutkan dahi. "Tapi aku lupa, kau dan Yifan kan sama-sama pria," Chanyeol bisa melihat bibir Jongin berkedut. "Aku juga sempat punya gagasan lain, karena kau tidak mau jadi istri keduaku, kau mau tidak jadi selingkuhanku?"

Mendengar tawaran macam itu malah membuat Jongin tidak bisa untuk tidak tertawa.

"Dasar sinting."

.ILYD.

"Tidak lebih dari dua detik. Ketika sebuah proyektil yang merupakan bagian dari peluru ditembakkan ke dada tepat ke arah jantung akan masuk menembus kulit, merobek daging dan pembuluh darah. Ketika proyektil bertemu penghalang seperti tulang, ujung proyektil akan terbelah dan melebar seperti kembang api. Proyektil akan terus melaju menembus apapun yang bisa ditembus hingga jantung dan merusak rusuk. Jika proyektil kehilangan energi dia akan bersarang di tubuh, namun ketika proyektil memiliki kekuatan yang cukup besar, proyektil bisa menembus badanmu. Bahkan gelombang kejut proyektil bisa memberikan tekanan yang kuat pada organ sekitar proyektil." Sehun perlu menarik nafasnya dalam-dalam dan kembali menatap Jongin. "Kau bisa bayangkan serusak apa organ tubuhmu dan berapa banyak darah yang akan terkuras hanya karena benda kecil."

Sehun mengambil kertas dan mulai menggambar peluru, menurut Sehun apa yang ia gambar merupakan peluru dengan kaliber terkecil.

"Cukup!" Jongin menarik kertas yang Sehun gunakan. Tentu saja Sehun menunjukkan reaksi tidak suka. Tapi Jongin mengabaikan perasaan Sehun untuk mengatakan hal yang lebih penting. "Dan kau berlagak tidak pernah menyembunyikan rahasia apapun dariku." Jongin mengomentari hal yang jauh dari topik yang dibicarakan.

Jongin hanya bertanya pada Sehun yang tengah mengerjakan tugas. Ia tahu bagaimana cara kerja peluru yang berkaitan dengan rumus fisika, momentum = massa x kecepatan, tetapi ia penasaran dengan daya rusak peluru. Tanpa perlu diskusi kecil, Sehun bisa menjelaskannya tanpa ragu sama sekali. Sekarang yang Jongin temukan Sehun malah mengulum bibir bawahnya dengan gagu. Seperti suami yang kepergok selingkuh.

"Sepertinya ayahku sudah membongkar rahasia terbesarnya." Gumam Sehun dengan pelan.

"Jadi karena itu juga kau tiba-tiba setuju jika aku menikah dengan ayahmu," bagaimana Jongin tidak curiga. Orang yang paling menentang rencana Yifan tiba-tiba berubah haluan menjadi setuju. Hanya karena Zitao menghajar wajahnya. "Sekarang semua jadi sedikit logis, ku pikir kau hanya beruntung waktu itu."

"Sekarang kau sudah tahu semuanya," Sehun menyela Jongin yang akan terus mengomel tanpa henti. "Dan kenapa kau masih saja menolak Ayahku?"

"Aku masih muda."

"Dan diburu Triad," Sehun menekan kata Triad dengan tajam. "Kau hingga saat ini masih dianggap sebagai orang yang paling berharga untuk Chanyeol, meskipun Chanyeol sebentar lagi akan bertunangan dengan wanita keturunan mafia mexico," Sehun bahkan tidak mencengkram bahunya, tapi Jongin seolah dipaksa untuk mendengarkan setiap ucapan Sehun. "Kau bahkan mungkin bisa dianggap sebagai gudang informasi."

"..." Jongin mengerjapkan matanya dengan cepat. Terkejut dengan ucapan Sehun.

"Kami mengkhawatirkanmu," Sehun menatap Jongin dengan tidak habis pikir. "Kenapa kau malah menolak segala bantuan kita dan memilih untuk melarikan diri ke Jepang?"

Jongin tahu Sehun itu anak dari Yifan, jadi ia tidak heran Sehun dan Yifan memilih kata yang paling efektif. Melarikan diri.

"Takut." Itu adalah alasan paling logis dan bisa diterima.

Jongin menjawab dengan apa adanya. Satu kata itu sukses membuat Sehun tersentak. Demi Tuhan, Jongin takut ia berakhir menjadi potongan daging atau tubuhnya masuk ke dalam palung atau dikubur hidup-hidup atau kepalanya bolong oleh peluru atau skenario terburuk apa pun. Ia lebih suka gagasan mengurung diri di rumah selama sisa hidupnya. Tapi, ia harus tetap menjalankan hidupnya dengan resiko menanggung ketakutan dan teror yang bisa datang kapan saja.

Jongin tidak tahan untuk tidak membicarakan skenario yang selalu menghantuinya.

"Dan jika skenario itu hampir terjadi saat kau di Jepang, siapa yang akan menolongmu?" Sehun bertanya dengan mimik wajah serius. "Kami semua menawarkan bantuan dan kau menolaknya, kau bukan hanya egois tetapi memberikan beban rasa bersalah pada kami," Sehun betulan marah dan Jongin mulai ketakutan. "Kau tidak hidup sendirian!"

Jongin menegak minumnya dengan rakus. Sehun yang terus berbicara tapi malah Jongin yang justru merasa dehidrasi.

"Aku lebih suka ayahmu yang berbicara." Jongin masih belum bisa terbiasa dengan perkataan tajam Sehun.

.ILYD.

Jongin mendekatkan telinganya saat Yifan memberikan kode.

"Apa aku harus setua dia untuk bisa menikah denganmu?" bisikan Yifan membuat Jongin melirik sepasang pengantin yang jarak umurnya bahkan lebih jauh ketimbang Yifan dan Jongin.

Yifan menunggu respon dari Jongin, tetapi kekasihnya itu hanya menatapnya dengan datar. Yifan takut, Jongin akan meninggalkannya. Yifan itu sudah cinta setengah mati loh. Melihat reaksi Jongin malah membuat Yifan menunjukkan wajah merajuk. Jongin jadi refleks meremas paha Yifan.

Mereka sedang di acara pesta pernikahan anggota klubnya. Pernikahan yang sangat tertutup. Dan ini pertama kalinya Jongin datang ke sebuah pesta pernikahan dengan Yifan.

Jongin melebarkan matanya saat Yifan memalingkan wajahnya dengan kesal. Aksi Yifan tentu menjadi sebuah daya tarik untuk beberapa teman Yifan terutama Luis. Mereka berdua terpaksa berpisah dengan Luhan, Kyungsoo, Suho, Yixing, Baekhyun dan Baba karena keterbatasan kursi. Jadi mau tidak mau Yifan dan Jongin bergabung dengan Luis bersama teman-temannya yang sedikit menyebalkan bagi Jongin. Sayangnya aksi merajuk Yifan malah membuat Jongin terkekeh geli.

"Tsk, kalau kekasihmu marah harusnya kau rayu bukan kau tertawakan," Yifan kesal sendiri melihat Jongin yang kini malah sibuk memakan makanan pembuka yang baru saja diantarkan oleh pelayan. "Kau doyan atau lapar sih?"

"Kau menyeretku saat aku baru keluar kelas," Jongin menjelaskan dengan nada menuduh. Lagi pula ia makan dengan cara sewajarnya. "Oh, kau sudah tidak marah lagi?"

"Masih, aku masih marah padamu."

"Oke tunggu sebentar aku selesaikan dulu makananku." Jongin melanjutkan kegiatannya dan membuat Yifan menganga dengan wajah terluka.

"Kau pilih aku atau makanan?" Yifan mulai dengan pertanyaan konyolnya.

"Kau, Ge.." Jongin menjawab dengan sambil menunjuk dada Yifan dengan garpunya. Tapi kemudian kembali menghabiskan makanannya. "Kau cemburu hanya karena seonggok kalori?"

"Jika kekasihmu sedang marah kau seharusnya memperhatikannya dengan penuh perhatian."

Suapan terakhir dan Jongin langsung memegang tangan kanan Yifan sambil menatap dalam mata Yifan. Hingga Yifan mengerutkan dahi dengan tatapan ganjil.

"Aku sedang memperhatikanmu." Ujar Jongin sambil tersenyum tipis.

Yifan rapuh kalau dibeginikan oleh Jongin.

"Aku memang tidak bisa marah padamu," keluh Yifan sambil menarik tangannya dan memulai memakan hidangan di hadapannya. Jongin masih menatap Yifan dengan senyuman yang sama. "Apa?" Yifan mendadak grogi dipadang macam itu oleh Jongin saat mereka berdua ditempat umum.

Yifan baru sadar.

"I love you." Bisik Jongin yang tidak didengar jelas oleh Yifan namun gerakan mulutnya tertangkap dengan tepat oleh mata Yifan.

"Jongin!" panggil Luis yang membuat Jongin mengalihkan tatapannya dari Yifan.

"Ya?" Jongin merespon dengan lembut. Oh, ia masih dalam mode manis rupanya.

"Aku dengar kau bertemu dengan Chanyeol." Luis bertanya dengan tatapan yang justru tertuju pada Yifan.

"Ah, dia memperkenalkanku dengan calon istrinya yang berasal dari Meksiko," dusta Jongin. Karena Chanyeol hanya bercerita tidak benar-benar memperkenalkan wanita yang menurut Jongin pasti memiliki kulit dan aura eksotis. "Aku terkejut Gege mengetahui pertemuanku dengan Chanyeol."

"Aku terkejut kau masih berhubungan dengan mantanmu." Luis mengeluarkan komentar yang membuat Jongin hanya tersenyum simpul.

Luis tahu cara yang tepat membuat mood Yifan hancur total. Dan ya, Luis berhasil karena kini Yifan menatap Jongin dengan tajam. Oke, pertemuan mereka berdua sudah dibahas bahkan sebelum bertemu dengan Chanyeol ia bertemu dahulu dengan Yifan untuk mengkonfirmasi bahwa ia datang bersama Noboru. Tatapan Yifan kali ini tentu berbeda dan Jongin mana mungkin menggoda Yifan dengan cara yang sama seperti tadi. Jadi yang bisa Jongin lakukan hanya menghela nafas. Membiarkan mood Yifan hancur dan menghiraukan senyuman Luis yang menyebalkan. Keputusannya ini jelas-jelas akan Jongin sesali.

Lagi, Luis mencairkan suasana dengan membicarakan hal yang hanya Yifan dan teman-teman Luis bisa mengerti. Jongin hanya menjadi pendengar yang baik. Meski kadang ia pura-pura tersenyum saat beberapa orang mengeluarkan lelucon yang tidak bisa Jongin tangkap. Selalu seperti ini, Jongin tidak bermaksud untuk memotong tapi Luis selalu mengalihkan perhatian Yifan saat Jongin ingin berbicara. Sampai akhirnya Jongin harus berdiri dari kursinya agar Yifan menanggapinya dengan jelas.

"Toilet." Ucap Jongin sambil tersenyum kecil.

Kali ini ia kembali berbohong. Ia hanya ingin merokok. Oke, sejak kapan Jongin merokok? Sejak ia frustasi ditinggal Yifan. Ia bukan tipe pecandu rokok, hanya saja ia benar-benar merasa pusing dan lelah.

"Sejak kapan kau merokok?" oh, Jongin lupa kakaknya datang di pesta ini. "Berapa kali dalam sehari?" introgasi dimulai.

Jongin langsung mematikan rokoknya. Dan memasukkan sisanya ke dalam bungkus rokok yang selalu ia bawa kemana-mana.

"Kadang seminggu sekali atau beberapa minggu sekali," Jawab Jongin sambil meminum champagne yang ditawarkan oleh butler di ruang khusus merokok. "Ayo keluar, aku tahu Gege tidak tahan dengan asap rokok."

"Apa kau ada masalah?" Yixing mulai khawatir.

"Tidak juga."

Jongin dan Yixing duduk di pojok ruangan. Dan sesekali bertepuk tangan saat pengantin tersebut tampak berdansa bersama. Lagi, tanpa sadar Jongin menghela nafas.

"Kenapa?" Yixing kesal kalau Jongin sok misterius macam ini.

"Apa Gege akan menikah juga dengan Suho?" pertanyaan spontan Jongin membuat Yixing mengerutkan dahi. "Kalau iya, apa kau juga akan berdansa maca itu dengan Suho?" kekeh Jongin yang membuat Yixing berdecak pelan. Yixing meminta penjelasan saat ini juga. "Aku hanya tidak suka saat Luis dengan tepat bisa merubah mood Yifan."

Yixing langsung memutarkan bola matanya, harus berputar-putar dahulu agar Jongin jujur. Yixing malas berkomentar. Dan hal itu yang membuat Jongin mengalihkan tatapannya. Dan Jongin kini menemukan Yifan bertepuk tangan sambil tertawa untuk menyemangati pengantin pada malam ini.

"Aku harus kembali." Jongin berkata saat ia menemukan Yifan dipaksa untuk ikut berdansa bersama Luis.

"Kau pulang hari ini?" Yixing hanya mencoba memastikan.

"Mungkin."

Bahkan saat Jongin kembali duduk. Teman-teman Luis masih bersikeras untuk memaksa Yifan. Dan akhirnya keduanya menyerah. Mereka berdua meninggalkan meja untuk berdansa bersama. Tindakan Yifan dan Luis membuat semua orang refleks menatap Jongin. Tidak, Jongin tidak mencoba untuk pura-pura tidak melihat. Justru Jongin dengan sengaja menatap keduanya. Ia bisa melihat senyum kaku Yifan dan senyum malu Luis. Oh, Jongin bahkan beberapa kali bertukar pandangan dengan Yifan. Tapi Luis selalu bisa mengalihkan tatapan Yifan. Dan itu membuat Jongin tersenyum miring.

Mungkin karena rasa empati, seorang anggota yang tidak terlalu dekat dengannya menawarkan diri. Mengajak Jongin berdansa. Seolah mengetahui sifat Yifan, Jongin menolak dengan halus dan berkata ia tidak bisa berdansa karena cedera kaki. Oh, mereka semua tahu cedera macam apa yang harus Jongin lalui berkat seorang Chanyeol. Hingga lagu selesai, Jongin sampai tidak sadar sudah menolak lima pria sekaligus.

"Kalian sangat serasi!" seruan itu datang dari salah satu teman terdekat Luis.

Jongin melirik pelan orang tersebut yang membalas tatapan Jongin dengan sinis. Jongin sampai mengerutkan dahi sambil mengambil beberapa lembar tisu. Dan memberikannya pada Yifan yang tampak berkeringat. Jongin kemudian mengambil puding dihadapannya dengan tangan yang sedikit bergetar. Oh, tangannya kebas. Sudah lama ia tidak menahan marah macam ini.

"Mengapa pria-pria itu mendekatimu?" Yifan bertanya dengan sedikit kesal.

"Oh, mereka hanya merasa kasihan dan mengajakku untuk berdansa." Jongin tidak menatap tatapan menggelap Yifan karena terlalu fokus pada tangannya yang masih terasa kebas. Jongin sampai harus memijat pelan tangannya dengan bergantian.

"Terus?"

"Aku menolak mereka karena aku punya cedera kaki." Kali ini Jongin mengibaskan kedua tangannya.

"Jadi kalau kakimu tidak cedera kau akan menerima tawaran mereka?" Yifan bertanya dengan nada sarkas.

Jongin memiringkan kepalanya masih sambil mengibaskan kedua tangannya. "Kenapa aku harus menerima tawaran mereka?" Jongin malah balik bertanya pada Yifan.

Jongin tahu Yifan bertanya dengan sarkas. Jongin pada akhirnya menyerah dengan kedua tangannya yang masih bergetar. Ia memilih untuk melipat kedua tangannya di atas meja. Dan menatap Yifan dengan senyuman simpul.

"Jika aku menerima tawaran mereka, aku tahu kau akan marah," Jongin menemukan Yifan yang tersentak pelan. "Aku tidak mau membuat suasana pesta orang lain jadi kacau." Jongin tiba-tiba ingat dengan temperamen Yifan yang tidak bisa dikendalikan. Kekasihnya ini pernah menghajar sahabatnya sendiri di klub.

"Kemarikan." Titah Yifan.

"Apanya?" Jongin menelusuri seluruh meja.

"Tanganmu." Yifan mengulurkan tangannya untuk memijat pelan kedua tangan Jongin yang sedikit bergetar.

Oh, Yifan peka ternyata.

Jongin jadi ingat dengan perkataan Sovi saat ia bercerita kalau tangannya sering bergetar jika menahan emosi. Sovi bilang, itu respon otonom terkait dengan stres yang dialami seseorang. Sovi bilang tidak hanya mengontrol emosi, Jongin juga harus belajar mengontrol stress.

Melihat Yifan berdansa dengan Luis saja tubuhnya langsung stres. Apalagi yang akan ia alami nantinya jika ia menikah dengan Yifan.

"Apa yang kau pikirkan?" Yifan bertanya dengan nada yang berubah lembut.

"Aku ingin bertemu dengan Sovi." Jongin malas menanggapi perubahan nada Yifan. "Terimakasih." Jongin menarik tangannya dan meraih puding yang sempat ia terlantarkan.

Setelahnya, Jongin benar-benar tidak peduli dengan obrolan di mejanya. Jongin tahu Luis dan teman-temannya pun sukses membuat mood Jongin hancur. Sepertinya lebih baik ia memikirkan hal lain. Misalnya jurnal yang harus ia cari untuk menambah referensi skripsinya. Oh, shit, Jongin hampir melupakan perintah dosen pembimbingnya.

"Kau mau pulang bersama?" tanya Suho sambil menepuk bahu Jongin. Tapi tepukan Suho justru membuat Jongin tersentak kaget. "Apa yang kau pikirkan dengan begitu serius?" kekeh Suho yang juga terkejut dengan reaksi Jongin.

"Aku lupa kalau aku harus mencari jurnal," keluh Jongin dengan nada meringis. Jawaban Jongin tentu membuat Suho terkejut. "Maaf, tadi hyung bilang apa?"

"Kau mau pulang bersama kami?" tawar Suho sambil menunjuk Yixing yang tengah menatap Yifan dan Luis dengan tajam.

"Tsk tsk tsk, pantas saja adikku belum memberikan jawaban untuk lamaranmu." Yixing tersenyum takzim sambil menatap Jongin.

"Kalian pulang duluan saja, aku akan pulang bersama Yifan-Ge." Jongin pura-pura tidak mendengar perkataan kakaknya.

Ya ampun, Jongin sengaja membiarkan informasi Yifan yang akan melamarnya sebagai rumor belaka di komunitasnya. Dan Yixing dengan sengaja mengkonfirmasi hal tersebut.

"Melamar? Kau gila ya?!" itu kata pertama yang Luis katakan saat Yixing dan Suho berpamitan. "Jongin masih kuliah."

Jongin menumpangkan dagunya di atas tangan kanan. Kali ini ia ingin mendengar perdebatan yang akan terjadi. Ia dengan terang-terangan menatap tertarik pada Luis dan beberapa temannya. Jongin ingin melihat dan jawaban Yifan, ia tidak mau ikut terlibat.

"Aku akan menikahinya setelah dia lulus." Yifan memberikan pembelaan.

"Dia belum siap!" bantah Luis.

"Hm?" gumam Jongin dengan nada terkejut. Oke, sepertinya akan lebih menyenangkan jika ikut terlibat. "Kata siapa?"

"Buktinya kau belum menjawab lamaran Yifan."

"Kakakku baru pulang dari Australia, dia belum tahu kalau aku sudah menerima lamaran Yifan," Jongin menaikan kedua bahunya. Haha tentu saja ia berbohong. "Kami hanya belum sepakat dengan tanggal."

"Kau masih terlalu muda."

"Memangnya kenapa?"

"Kau memangnya tidak mau melanjutkan cita-citamu?"

"Oh, Yifan Ge mendukungku untuk melanjutkan S2-ku dan mengizinkanku membantu perusahaan ayahku."

"Emosimu belum stabil."

"Kalau emosiku belum stabil, aku sudah mengacak-acak pesta ini saat melihat kalian berdua berdansa di depan mata kepalaku sendiri." Jongin sengaja meninggikan suaranya dan diakhiri dengan helaan nafas. Ups, Jongin lupa mengontrol emosinya.

"Tapi.."

"Sudahlah Ge, kau tidak perlu khawatir," Jongin benar-benar terbawa emosi sekarang. Memangnya sebegitu tidak pantaskan Jongin. "Lagi pula Yifan melamarku, kenapa Gege yang repot?"

"Aku teman baik Yifan dan aku khawatir padanya," Luis menatap langsung mata Jongin, mengintimidasi. "Bisa jadi kau sama seperti pasangan muda lainnya, memilih kabur saat permasalahan yang kau hadapi tidak terselesaikan."

Jongin refleks tertawa. "Ya ampun, padahal Gege salah satu saksi waktu kejadian di Inggris kemarin."

Perkataan Jongin tentu membuat Luis tersentak. Dan Yifan menatap Jongin dengan tatapan cemas. Yifan paling benci mengingat perlakuan buruknya pada Jongin. Sadar perkataannya menyakiti Yifan, Jongin langsung menggenggam tangan Yifan sebagai permintaan maaf. Meski seharusnya Yifan duluan yang harus meminta maaf padanya.

"Tapi ini berbeda." Luis bersikeras.

Namun Jongin jauh lebih keras kepala. Toh, Luis pasti akan mulai mempengaruhi Yifan lagi dengan berbagai cara. Dan ketika Yifan benar-benar terpengaruh. Jongin kali ini tidak akan membiarkan Yifan pergi. Dan sebelum itu terjadi, Jongin ingin mengatakan satu hal saja pada mereka semua.

"Kau boleh mempengaruhi Yifan dan membuat Yifan ragu padaku," Jongin tersenyum pelan. "Mungkin perkataanmu ada benarnya juga untuk Yifan," Jongin menatap Yifan yang mengerutkan dahi. "Toh, rumusnya dari dulu tetap sama, rasa percaya jauh lebih berharga dibandingkan cemburu tanpa alasan." Jongin marah kok saat mereka berdua berdansa, serius. Tapi Luis, lebih paham dengan sumbu mana yang tepat untuk menyulut kemarahan Yifan.

Padahal yang punya hak lebih besar untuk marah itu jelas Jongin. Tidak ingin merusak suasana lebih dari ini. Jongin memilih untuk berdiri dan meninggalkan ruang pesta. Sebelum akhirnya Yifan meraih tangan Jongin bukan untuk mencegah. Tetapi justru ikut keluar bersama Jongin.

"Kau masih marah?" Yifan tidak mau melepaskan genggamannya saat keluar dari ruang pesta.

Kalau Jongin tidak mengontrol amarahnya, ia sudah menepis tangan Yifan. Jika itu terjadi, maka Luis akan membuat bahan baru untuk mempengaruhi Yifan. Bahkan saat keduanya tengah menunggu lift. Yifan tidak mau melepaskan tangan Jongin.

"Maafkan aku."

"Aku.. Lelah." Jongin benar-benar lelah dengan siklus yang sama. Bertengkar karena alasan yang sama. Luis dan Chanyeol. Ayolah~

Jongin tidak keberatan untuk menjadi orang yang lebih mengalah untuk Yifan. Karena Yifan juga merupakan orang yang jauh lebih berani mengorbankan segala hal demi Jongin.

"Kau hanya perlu percaya padaku." Yifan berkata dengan meyakinkan yang malah membuat Jongin tertawa dengan cara mendengus.

"Seharusnya aku yang mengatakan hal itu."

"Aku percaya padamu," Yifan berkelit dengan nada tajam. "Aku kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa," Yifan menatap pintu lift yang belum juga terbuka. "Aku juga mulai bosan bertengkar karena alasan yang sama." Yifan menarik dasinya dengan perlahan. "Aku tahu aku tidak bisa mengontrol emosiku." Yifan menatap Jongin yang hanya melirik. "Aku sadar dan maaf aku sempat mengacuhkanmu."

"Kau boleh marah padaku, tapi jangan acuhkan aku." Jongin menatap Yifan dengan kesal.

"Yifan!"

Panggilan Luis membuat Yifan dan Jongin kompak menengok ke belakang.

"Aku tidak membawa mobilku."

Perkataan Luis bertepatan dengan lift yang terbuka. Hanya ada satu orang yang ada di dalam lift dan itu adalah supir setia Luis. Yifan tidak berkomentar apa pun, hanya tersenyum sambil menarik lengan Jongin.

"Selamat malam, selamat beristirahat." Ucap Yifan sambil tersenyum kecil sebelum lift tertutup dengan sempurna.

"Aku pikir aku akan duduk di belakang nanti." Jongin menghela nafas dengan lega.

"Oh, tadi aku berniat untuk memesankan taxi."

"Aku rasa itu tidak akan berhasil, mungkin dia akan bilang kalau dia tidak percaya dengan orang lain atau apalah itu." Jongin memutar bola matanya dengan jengah. "Untung saja Luis itu seorang pria."

"Kenapa?"

"Kalau dia wanita, mungkin dia bisa ngaku-ngaku hamil." Jongin entah kenapa malah tertawa sendiri karena pemikiran absurdnya.

"Heh!" seru Yifan sambil menoyor kepala Jongin.

"Ih, kasar.." keluh Jongin.

"Mulutmu itu."

"Tapi, ayolah.. Aku rasa dia perlu merubah alasannya," Jongin menatap Yifan yang mulai merangkul pinggangnya. "Aku sudah bosan dengan alasan tidak membawa mobil," kenyinyiran Jongin cukup membuat Yifan menggelengkan kepalanya. "Lah, dia datang kesini menggunakan apa? Bus?"

"Aku rasa karena dia tidak sepandai kekasihku dalam berbohong."

Jongin memelototkan matanya. Sadar kalau Yifan hanya bergurau. Jongin hanya mengangkat kedua bahunya dengan santai. "Kau benar, dia harus belajar banyak dariku."

"Oke, tunjukan salah satu kebohonganmu."

"Aku bilang padamu kalau aku harus bertemu dengan Sovi."

"Kemarin?" Yifan mengerutkan dahinya. Oh, Jongin terkena umpan.

Kini Yifan menatap Jongin dengan tajam. Jongin tahu tidak, kalau pada saat itu libido seorang Yifan tengah pada puncaknya. Yifan sampai harus berolahraga hingga kelelahan. Dibandingkan menculik Jongin dari rumahnya.

"Sebenarnya aku hanya mampir ke kedai mie pangsit sendirian." Jongin tahu Yifan akan mengamuk. Tapi Yifan harus tahu alasannya. "Aku juga butuh waktu untuk diriku sendiri."

"Kau menikmatinya?"

Yifan menarik pinggang Jongin ketika lift menuju area parkir terbuka. Oh, Jongin harus membayar atas kebohongan kecilnya.

"Tentu saja," Jongin mengangguk dengan semangat. "Jangan bersikap seolah kau tidak pernah berbohong padaku," Jongin menuduh Yifan dengan berani. "Misalnya minggu kemarin kau bilang ada rapat tapi ternyata bermain billiard dengan teman-temanmu termasuk Luis."

"Kau tahu dari mana?"

"Xiumin," Jongin menghela nafas sambil bersandar di pintu kemudi mobil Yifan. "Aku sempat berpikir mungkin itu cara baru untuk meeting, tapi kemudian aku bingung, buat apa seorang dokter ikut ke pertemuan bisnis, apa billiards termasuk olah raga yang bisa menyebabkan cedera? Oh, tanganmu mungkin bisa terkilir."

Yifan rasa Jongin belajar berbicara macam ini berkat Baekhyun. Belum lagi posisi Jongin yang kini bersikap bossy dengan melipat kedua tangannya.

"Kau cemburu?" Yifan tersenyum miring.

"Jelas!" Jongin bahkan tidak menutup-nutupinya.

"Kenapa kau baru membicarakannya sekarang?" Yifan meletakkan kedua tangannya di antara tubuh Jongin. Mengurung tubuh Jongin dengan kedua tangannya. "Dan di tempat macam ini?"

"Aku sebenarnya tidak mau membahas masalah ini, tapi topiknya mengalir begitu saja." Jongin tidak takut sama sekali dengan cara Yifan yang menunjukkan sisi dominan.

Melihat ekspresi keras Jongin membuat Yifan memilih untuk merubah posisinya, berdampingan dengan Jongin dan bersandar di salah satu mobil kesayangannya. Lamborghini LM002, makin tidak heran Jongin kalau Yifan memang betulan anak dari keluarga pembuat senjata. Mobilnya saja merupakan prototipe untuk kendaraan militer.

"Tapi kau tahu kan kalau aku itu orangnya setia."

"Ya, tapi aku sudah memberikan alasanku kenapa aku berbohong."

"Aku tidak mau membuatmu berpikir macam-macam," meski Yifan tahu, alasan macam itu justru akan berdampak sebaliknya. "Aku harap kau mengerti maksudku."

"Yah~ aku memang tidak bisa beradaptasi dengan teman-temanmu itu." Jongin mengeluh dengan nada lelah. Tapi sebenarnya dia juga malas untuk beradaptasi, bahkan untuk beramah-tamah pun ia menghindarinya sebisa mungkin. "Oh iya, aku harus mencari jurnal." celetukan Jongin tentu membuat Yifan menghela nafas. "Ini konsekuensi karena berpacaran dengan anak kuliahan dan menuntutnya untuk cepat-cepat lulus."

"Sinyal internet Wi-Fi di rumahku kencang, kau bisa mengerjakannya disana."

Senyuman Yifan hanya berarti satu hal.

"Beri aku dua jam."

"Deal!"

.LYD.

Jongin bersiul pelan berbanding terbalik dengan Yifan yang berdehem keras. Sehun dan Yuan tengah berciuman di ruang tengah. Mentang-mentang ditinggal sendirian di rumah.

"Dasar anak muda jaman sekarang." keluh Yifan dengan tidak tahu diri.

Tidak mau ikut terlibat, Jongin memilih berjalan ke arah dapur. Ia haus bukan main.

"Setidaknya aku bukan seseorang yang mengencani teman anaknya sendiri." Sehun memulai peperangan. Yuan sendiri justru tampak menundukkan kepalanya. Entah malu atau ketakutan.

"Tapi ayah tidak pernah mencium Jongin di hadapanmu."

"Kalau tidak ketahuan, aku juga tidak akan mencium Yuan di depan ayah." Oke, Yuan jelas terlihat malu dan ketakutan dalam waktu bersamaan.

Perdebatan macam ini biasanya akan memunculkan masalah lama yang belum terselesaikan. Jongin butuh ketenangan untuk mengerjakan jurnalnya. Jadi setelah menyalakan tombol power di laptop yang sengaja ia taruh di atas meja makan. Jongin berjalan ke arah Yifan sekedar untuk mengecup bibir Yifan. Pemuda berkulit tan itu bisa mendengar suara tarikan nafas terkejut dari Sehun dan Yuan.

Jongin melepas kecupannya dengan suara sedikit berisik. "Kalian berdua sekarang impas." Jongin tersenyum miring dan kembali ke menuju laptopnya. Hanya untuk mengambil laptopnya yang sudah menyala dan membawanya dihadapan televisi yang menyala. Waktunya mengerjakan tugas yang tertunda.

"Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan?" Sehun bertanya dengan nada dramatis. "Kau.."

"Kau setuju dan bahkan memaksaku untuk menerima lamaran ayahmu," Jongin menoleh ke arah Sehun. Dan mendelik pada Yifan yang memilih untuk naik ke atas tangga menuju kamarnya. "Ini salah satu konsekuensinya." Jongin tersenyum dengan cara yang menyebalkan. Oh, akhir-akhir ini ia menyukai kata konsekuensi sepertinya.

Sehun dengan cepat menarik tangan Yuan menuju kamarnya. Kini keadaan ruangan ini benar-benar sepi, hanya terdengar suara berisik dari televisi yang masih menyala.

"Ayahku mana?" Sehun bertanya sambil menuruni tangga. Ia menemukan Jongin dengan kebiasaan yang sedikit aneh, Jongin lebih suka belajar dan mengerjakan tugas di depan televisi yang menyala.

Jongin menunjuk Yifan yang tengah tiduran berbantalkan paha Jongin. Yifan bahkan membawa selimut sendiri dan kini sudah tertidur. Sehun tanpa sadar menyipitkan matanya, dia gerah melihat ayahnya semanja itu pada Jongin. Besok pagi ayahnya pasti mengeluh sakit punggung karena terlalu lama tiduran di karpet berbulu yang sebenarnya cukup tebal.

"Sebentar lagi," Jongin menangkap kekhawatiran Sehun. "Yuan menginap?" meski terdengar sayup-sayup, Jongin bisa mendengar suara shower menyala.

"Ayahku saja bisa masa aku tidak boleh," Sehun duduk di samping kanan Jongin. Karena di sebelah kiri sudah di akuisisi oleh tubuh besar ayahnya. "Bisa nyenyak begitu ya?" Sehun menatap heran ayahnya yang benar-benar terlelap.

"Kakiku kesemutan." Sahut Jongin yang sudah kembali menatap layar laptopnya.

Satu jam lebih posisi mereka tetap sama. Meski Sehun sudah pindah duduk di atas sofa bersama Yuan yang tidak jauh dari posisi Jongin. Keduanya menonton film bioskop yang akhirnya tayang di stasiun televisi. Jongin masih berkutat dengan laptopnya dan tidak keberatan dengan paha yang sudah mati rasa. Hingga suara handphone Yifan berdering.

"Sudah tiga jam.." gumam Yifan sambil mematikan alarm di handphonenya.

"Alarm?" Jongin ingin tertawa keras rasanya.

"Kalau tidak di alarm bisa sampai besok pagi," Yifan mulai beranjak duduk dan sedikit terkejut dengan adegan pembunuhan yang terjadi di layar televisi. "Kau sudah berjanji."

"Beri aku beberapa menit," Jongin menemukan Yifan langsung memelototkan matanya. "Kakiku kesemutan." Jongin mulai merasakan kakinya yang terasa tidak nyaman saat digerakkan.

Tanpa banyak protes, Yifan mulai memijat kaki Jongin. Si mahasiswa berkulit tan itu pun juga menuruti kata-kata Yifan, ia menekan tombol save pada laptopnya, kemudian mengarahkan kursor nya pada pilihan shut down.

"Tanganku juga." Ucap Jongin dengan kedua tangan terulur.

Yifan menatap kedua tangan Jongin yang menggerakan semua jarinya. Meski terdengar suara decakan, Yifan tetap memenuhi permintaan Jongin. Jongin tersenyum lebar saat Yifan memijat kedua tangannya dengan bersamaan.

"Kapan kau lulus?" keluh Yifan tiba-tiba.

"Kalau kau tidak menggangguku mungkin akan lebih cepat."

Dengan sengaja Yifan menampik kedua tangan Jongin. Dan menatap Jongin dengan dramatis. Oh, bukan dramatis tapi lebih ke arah marah.

"Kantung matamu itu mengkhawatirkan," Yifan memulai ceramah pada biasanya. "Kau masih muda dan kau harus menjaga waktu tidurmu dengan benar."

Jongin yang terbiasa mendengar ceramah Yifan. Hanya menatap Yifan dengan datar. Ceramah Yifan makin melebar begadang bisa memicu obesitas dan diabetes.

"Kau sudah cek tekanan darahmu?" Jongin tiba-tiba teringat satu hal. Stress bisa memicu tekanan darah tinggi. Dan Yifan mengalami hal itu akhir-akhir ini.

"Belum."

"Halah Gege, terus saja menceramahi orang lain tapi lupa dengan diri sendiri," kini bergantian Jongin yang bercakak pinggang. "Kau bilang kau malas berolahraga akhir-akhir ini karena tidak ada teman, jadi aku ikut kelas gym yang sama dengan Gege," Jongin tahu itu hanya alasan belaka yang dibuat Yifan. "Tapi kau tetap harus check up, untuk tahu perkembangannya."

Tapi Yifan malah tersenyum hangat pada Jongin yang tengah memarahi pria yang jauh lebih tua. Yifan hanya ingat Jongin akan menyiapkannya jus campuran buah dan hanya Jongin yang tahu apa saja campuran buah yang ia gunakan. Kadang Yifan bisa merasakan wortel, kadang tomat, kadang buah delima bahkan sampai kiwi.

"Besok kita buat janji."

"Janji apa?" Yifan mengerutkan dahinya.

"Janji dengan dokter lah!" Jongin menatap jam tangan yang masih ia gunakan. "Ayo tidur!"

"Hanya tidur?" tanya Yifan dengan merajuk.

"Hush!" seru Jongin sambil melirik Sehun dan Yuan yang sejak tadi memperhatikan pertengkaran keduanya.

.ILYD.

Mungkin begini rasanya jika ada seorang wanita di rumah. Yuan tidak merasa keberatan sama sekali saat membantu bibi Lu untuk menyiapkan sarapan. Jongin yang biasa membuat sarapan pun tidak enak untuk tidak membantu. Tuan rumah dan sang tuan muda? Duduk dengan tenang di ruang makan. Menanti dengan sabar.

"Aku dengar kau akan ke Jepang." Yuan menatap Jongin yang tengah menyiapkan jus buah untuk Yifan. "Kau sudah memberitahu Paman?"

"Baru mau aku beri tahu."

Sesuai dugaan Jongin, kadang ia bingung. Kenapa Yifan itu selalu saja bereaksi dan berkomentar sebelum lawan bicaranya menyelesaikan perkataannya. Jongin jadi hanya bisa menghela nafas mendengar penolakan Yifan.

"Aku belum selesai," Jongin menyodorkan jus buatannya pada Yifan. "Adikku ulang tahun, dan Okaasan (ibu) memintaku untuk datang," Jongin membantu Yifan merapikan koran yang baru saja dengan dramatisnya Yifan banting. "Aku langsung pulang ke Beijing setelah menghadiri acara adikku."

"Kau tidak berencana untuk survey sebelum melarikan diri kan?" Yifan dengan segala kecurigaannya yang pada akhirnya selalu Jongin maklumi.

"Kau kan juga ada jadwal meeting di Soul kan, Ge?" Jongin mengalihkan topik pembicaraan. Ini masih pagi, ia tidak mau memulai sesuatu dengan hal-hal yang bisa menguras energi dan emosi.

Sebenarnya Jongin cukup penasaran kenapa Okaasan sampai memaksanya untuk datang. Bahkan sampai membelikannya tiket pesawat kelas pertama. Tidak seperti saat di Singapura ia datang bersama dua bodyguard milik ayahnya. Kini ia datang sendiri dengan persiapan seadanya. Karena lagi-lagi Okaasan bilang, ia tidak perlu membawa pakaian.

"Otousan, tanpa sadar sudah memenuhi lemari ini," Okaasan menunjuk lemari besar di sebuah kamar tidur yang katanya disiapkan untuk Jongin. "Dia kadang membeli beberapa pasang pakaian dan mengatakan jika ini semua cocok jika digunakan olehmu."

"Ini ulang tahun Nana bukan Otousan, kan?" Jongin pada akhirnya menggunakan panggilan bahasa jepang agar tidak tertukar dengan ayah satunya lagi.

"Menyenangkan dua orang sekaligus bukan hal yang buruk kan?" Okaasan mengangkat kedua bahunya dengan pelan. "Maaf aku memaksamu untuk datang."

"Jadi sebenarnya apa yang terjadi?" Jongin akhirnya duduk di atas ranjang, bersebelahan dengan wanita yang merebut suami ibunya.

Ia kini sudah berada di titik jenuh untuk membenci wanita di hadapannya ini. Mungkin memang ayah dan ibunya bukan jodoh sesungguhnya. Dan keduanya kini punya kehidupan masing-masing yang cukup bahagia.

"Otousan melakukannya lagi, kali ini pada Nana," wanita itu menatap sedih Jongin. "Alasannya yang membuatmu pun bisa mewajarkannya."

"Ya ampun," Jongin mengerti maksud dari Okaasan, pasti adiknya itu sekarang sedang patah hati. "Setelah menyerah denganku, aku tidak kaget kalau Otousan akan lebih fokus pada Nana."

"Oh? Onisan kau datang?" Nana yang tanpa sengaja melewati kamarnya tampak terkejut. Tapi dibandingkan kehadiran Jongin, ia lebih terkejut dengan sang ibu yang tengah bercengkrama dengan kakak tirinya. "Aku pikir kau tidak datang." Tatapan Nana jelas seperti bertanya, sejak kapan ibu dan kakak tirinya ini berubah menjadi akrab.

Jongin tidak mungkin bilang kalau sebenarnya ia malas dan dipaksa untuk datang oleh seseorang. Jadi Jongin hanya tersenyum kecil. Hingga sang adik akhirnya berpamitan untuk mengganti pakaiannya yang baru saja pulang dari tempat kuliah.

"Jadi Okaasan memintaku untuk menghibur Nana?" Jongin langsung memberikan pertanyaan inti yang membuat wanita di sebelahnya ini tersentak kaget. "Oh, bukan ya?"

"Tolong buat Nana mengerti, mereka berdua sedang perang dingin," Okaasan menatap Jongin dengan ragu. "Setidaknya kau pada akhirnya bisa memaklumi sifat Otousan."

"Ini persoalan yang sedikit berbeda," Jongin dua kali gagal dalam percintaan salah satunya berkat sang ayah yang mengacau. Padahal saat itu ia sedang berada di Seoul. "Ayahku tidak peduli dengan kekasih perempuanku tapi berbeda jika aku berhubungan dengan laki-laki." Meski Jongin tahu, ayahnya punya alasan yang layak untuk diberikan rasa terimakasih pada saat itu.

Okaasan membulatkan mulutnya. Mungkin kaget karena Jongin pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis. Dan sesekali menatap cincin yang melingkar di jari manis Jongin.

"Oh, Okaasan sudah mendengar ini?" Jongin menunjukkan cincinnya. "Aku belum tunangan tapi ayah sudah setuju dengan rencana lamarannya," Jongin tertawa kering dengan ekspresi terkejut ibu tirinya ini. "Aku akan tetap bersamanya bahkan jika Otousan tidak setuju, karena dia tidak akan pernah setuju."

"Jujur saja, aku cukup senang mendengarnya." Okaasan berkata dengan senyuman lebar. "Aku rasa kau sudah cukup mengerti dengan segala konsekuensinya."

"Kalau boleh jujur, sebenarnya aku belum siap." Jongin menggaruk tengkuknya dengan kaku.

"Itu wajar," Okaasan tiba-tiba beranjak berdiri dan menatap lemari yang sejak tadi terbuka. "Ayo, aku bantu untuk memilih kostum mu malam ini."

.ILYD.

Jongin mendekati adiknya yang tengah menatapnya dengan curiga. Jongin akui Nana termasuk gadis yang cantik serta sopan. Adiknya ini bahkan menggunakan gaun yang pasti pilihan Okaasan. Seharusnya ia menolak rekomendasi Okaasan, karena pakaiannya sekarang memiliki pemilihan warna yang sama seperti gaun yang digunakan adiknya. Perpaduan antara warna putih gading dan hijau.

"Kau seharusnya tidak membiarkan Okaasan memilihkanmu pakaian," adik tirinya ini berkomentar dengan suara datar dan dingin. "Apa kau datang ke sini untuk menghiburku?" Dan adiknya ini sepertinya tidak tahu apa gunanya basa-basi dalam percakapan.

Jujur saja, Jongin tidak bisa membayangkan pria macam apa yang bisa membuat dinding es hati adiknya mencair.

"Sebenarnya tidak," Jongin ingat perkataan Okaasan hanya saja ia melewatkan satu hal. "Jadi apa yang disembunyikan oleh mantanmu?"

"Hosuto (read. host)."

"Oh? Woaw.." Jongin betulan kaget ini. "Aku pikir kau akan berpacaran dengan lelaki yang satu level," maksud Jongin, ia tidak percaya jika adiknya bisa terkena rayuan macam itu. "Wow, dia pasti merupakan seorang hosuto yang handal." Komentar Jongin tentu membuat Nana kesal bukan main.

"Aku tidak menyangka bisa termakan rayuan macam itu."

"Setidaknya Otousan benar," Jongin tersenyum kecil. Tapi adiknya ini malah menghela nafas dengan kesal. "Otousan pasti menyebarkannya?"

"Agar gadis lain tidak menjadi korban seperti anaknya yang bodoh."

"Kau tidak bodoh," Jongin tertawa dengan pelan. "Otousan memang punya mulut yang mematikan," Jongin tanpa sadar mengusak kepala adiknya. Ini pertama kalinya ia melakukan hal macam ini. "Maaf, aku merusak tatanan rambutmu." Jongin buru-buru merapikan rambut adiknya.

"Ini ternyata rasanya punya saudara." Nana mengatakannya sambil menatap mata Jongin dengan dalam. Adiknya mungkin ingin memiliki hubungan yang normal seperti keluarga pada umumnya. Jongin juga sebenarnya. Hanya rasa sakit masa lalu, sulit sekali untuk dihilangkan bekasnya.

"Jadi kau menghabiskan berapa juta yen untuk Tuan Hosuto?"

"Aku tarik kata-kataku tadi," Nana menatap kakaknya dengan kesal. "Jam tangan." Sambil menunjuk jam tangan yang digunakan Jongin.

Jongin menatap adiknya dengan kesal dan menghela nafas dengan pelan. Sepertinya ia harus mengkonfirmasi sesuatu.

"Sepertinya aku salah saat aku bilang jika kau mungkin bisa merebut kekasih Sehun." Nana berceletuk dengan cara yang membuat Jongin ingin kembali merusak tatanan rambutnya.

"Kau harus tahu aku bukan simpanan om-om, meski aku berpacaran dengan seseorang yang hampir seumuran dengan Otousan," Jongin mengusap surainya dengan pelan. Lagi pula ini jam tangan pemberian dari ayahnya bukan Yifan. Karena ia akan menolak mentah-mentah barang mewah yang Yifan berikan padanya. "Ngomong-ngomong tentang Sehun, kekasihku itu Ayah kandung Sehun."

"ARE YOU SICK?!" Nana tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. "Apa Sehun tahu?"

"Dia juga memaksaku untuk menerima lamaran Ayahnya." Jongin sengaja memamerkan cincin di jari manisnya. Ini memang cincin dari Yifan dan satu-satunya barang yang ia terima dari Yifan.

"Ehem, seorang gadis seharusnya menjaga tutur katanya dengan baik." Okaasan menghampiri kedua anaknya yang terlihat tengah berbincang dengan seru. Saat itu ia menemukan anak gadisnya tengah menatap jari manis kakak tirinya.

"Maafkan aku." Nana benar-benar meminta maaf dengan benar.

"Teman-temanmu sudah datang." Otousan tiba-tiba memberikan instruksi.

"Baiklah.." Nana mengikuti langkah Okaasan dan meninggalkan Jongin yang tengah melambaikan tangannya.

"Sebenarnya Ayah tidak mau paham," Otousan yang kali ini mendatangi Jongin. "Tapi alasan yang dikatakan oleh Zhang dan ibumu, membuatku tetap tidak bisa berbuat apa-apa," tapi ayahnya ini bukan orang yang mudah menyerah. "Aku bisa mengerti kalau kau itu memang berbeda tapi apa harus dia orangnya?"

"Unmei (takdir)." Ucap Jongin sambil mengangkat kedua bahunya dengan pelan. "Otousan tentu tahu jika aku sudah mengenalnya sejak lama bahkan saat itu kami memiliki hubungan yang sangat buruk." Jongin yakin ayahnya ini pasti sudah mengumpulkan beberapa informasi.

Jongin terkesan, serius. Adiknya bisa memainkan piano dengan lagu yang cukup sulit. Ditambah dengan iringan dari alat musik lain. Hampir mirip dengan orkestra mini namun tidak memiliki kondektur sama sekali. Jongin pernah dipaksa untuk ikut kelas piano, karena ia tidak memiliki bakat, jadi ia menyerah begitu saja.

Jongin berusaha ramah pada seorang tamu yang menghampirinya. Seorang lelaki yang tampan, mungkin seumuran dengan Nana. Namun alunan musik piano selanjutnya benar-benar mengusik Jongin. Tanpa ada seorang vokalis sekalipun semua orang tahu lagu apa yang dimainkan adiknya. Saking terkejutnya, pemain alat musik lainnya baru bisa mengimbangi Nana.

I'm that bad type. Make you mama sad type

(Aku tipe yang buruk. Tipe yang membuat ibumu sedih)

Make your girlfriend mad tight. Might seduce your dad type

(Membuat pacarmu marah. Mungkin tipe yang merayu ayahmu)

I'm the bad guy

(Aku orang yang buruk)

Tatapan mata Nana jelas lagu itu diperuntukkan untuk kakaknya sendiri. What?! Apa yang salah hingga ia mendapatkan sindiran macam itu. Nana memberi kode di akhir lagu yang ia mainkan. Jongin berpamitan dengan sopan pada pria yang mengajaknya berbincang. Mendekati adiknya yang masih duduk di depan piano besar berwarna hitam pekat.

"Onisan bisa memainkan piano kan?" Nana menunjukkan nada yang cukup tajam dan memaksa.

Jongin meringis. Apa dosaku? Hingga membuat semua tamu menatapnya dengan curiga. Adiknya ini benar-benar beringas rupanya. Keadaan tegang macam ini, jelas harus Jongin buat cair.

"Ada satu lagu dan kau tidak boleh protes," sebelum Jongin menekan tuts piano, ia menatap Nana dengan ragu. "Kalau tidak salah, lagu ini bisa dimainkan dua orang."

Nana jelas menunjukkan wajah penasaran. Tapi baru saja Jongin Jenaka beberapa tuts piano, adiknya yang cantik itu menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Jongin tentu hanya bisa menaikan kedua bahunya dengan santai.

"Ka, yang benar saja?" Nana berbisik dengan pelan.

Jongin hanya menaikan kedua bahunya tanpa merasa bersalah sama sekali. Lagi pula, lagu ini memang biasa dimainkan untuk dua orang.

"Sora wo jiyuu ni tobitai na.. (aku ingin terbang bebas diangkasa)" Jongin sengaja menggantungkan nyanyiannya.

"HAI! TAKEKOKOPPUTAA! (Hai, baling-baling bambu)" seru tamu yang lain meski diiringi dengan suara tawa yang memecah. Nana tanpa sadar ikut tertawa. Hingga part terakhir lagu, tamu undangan yang lain malah ikut bernyanyi "AN AN AN Tottemo daisuki, DORAEMON!"

Jongin mengulurkan tangannya untuk membantu Nana turun dari atas panggung. "Aku melihatmu, kau sudah punya kekasih," Nana berniat mengingatkan Jongin. kakaknya secara terang-terangan berbicara pada lelaki yang sejak tadi menatap tertarik padanya. "Kau suka menjadi pusat perhatian ya?" sayangnya perkataan Nana malah terdengar kesal karena kakaknya hanya menaikan sebelah alisnya. "Kau tidak tahu arti kata setia?"

"Aku hanya berusaha ramah di pesta ulang tahun adikku," Jongin menepuk pelan lengan adiknya yang mengait di lengannya. "Setia itu bukan berarti kita sudah tidak tertarik pada siapapun, tapi ketika kau tertarik pada seseorang alam bawah sadarmu mengatakan bahwa partnermu lebih baik dari pada siapa pun," Jongin menatap Nana yang tampak tertegun. "Paham?"

"Kau sedang mengguruiku?" Nana bertanya dengan nada serius meski sebenarnya tidak benar-benar serius.

"Besok kau mau berkencan denganku?" Jongin tiba-tiba bertanya diluar topik pembicaraan. "Tadi aku sudah meminta tolong pada Okaasan, untuk mengubah jadwal kepulanganku ke Beijing," Jongin menatap Nana dengan wajah terlampau bersemangat. "Aku penasaran bagaimana seorang putri dan hosuto berkencan."

Nana tentu langsung melebarkan matanya.

"Aku bercanda, aku hanya merasa kau belum pernah merasakan kencan yang biasa," Jongin menemukan Nana mengerutkan dahinya. "Jika jam tangan menjadi hadiah terwajar untuk kekasihmu, aku takut kau malah memberikannya saham perusahaan ayahmu sebagai kado ulang tahunnya." Gurauan Jongin memang terdengar berlebihan tapi mungkin saja bisa terjadi.

"Kau berlebihan."

"Aku akan meminjam mobil Otousan," Jongin kemudian menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Atau kau mau kita janjian di suatu tempat?" Jongin menawarkan hal yang jelas terdengar absurd.

"Kita tinggal di rumah yang sama," keluh Nana dengan malas. "Buat apa janjian di tempat lain?"

"Oh, aku tidak tahu kalau kau bisa semudah itu untuk diajak berkencan." Jongin menatap Nana dengan cara berlebihan.

"Kau menjebakku!" seru Nana dengan pukulan keras di lengan Jongin. "Aku tidak tahu kalau kau orang yang begitu sangat pandai dalam mencari topik pembicaraan." Nana mengamati Jongin yang tidak pernah meninggalkan Nana selangkah pun. Nana sedikit terkejut menemukan Jongin yang cukup perhatian dan berperilaku seperti kakak pada umumnya.

"Kau lebih suka kita berjauhan?" Jongin balas bertanya dengan tatapan dingin. "Ini bukan sebuah formalitas hanya saja aku sadar, aku ingin hidup dengan damai," Jongin tersenyum kecil saat Nana mengerutkan dahinya. "Sudahlah, hubungan macam ini tidak terlalu sulit untuk dijalani." Jongin mengusap pelan rambut Nana untuk kesekian kalinya.

.ILYD.

Jongin menatap kagum adik tirinya yang tengah menatap banner besar berisi jajaran para lelaki. Jongin sengaja berjalan lebih lambat, dia hanya penasaran dengan alasan Nana memintanya untuk datang ketempat macam ini. Nana masih saja diam sambil mengatakan 'sumimasen' kepada beberapa lelaki yang mendekatinya. Nana mengenakan, setelan Halter Neck Short Jumpsuit hitam dari Louis Vuitton, dengan sandal Lambskin putih dari Chanel, dan tas tangan dari Prada. Adiknya itu berpakaian sederhana namun ia yakin dengan para pria yang mendekatinya itu tahu adiknya menggunakan merk macam apa. Hingga akhirnya seorang pria datang dan berdiri di sampingnya. Nana tidak mengatakan maaf sama sekali dan hanya menatap pria itu dengan tatapan yang sangat jelas terlihat artinya, kecewa. Jongin rasa ini waktunya untuk bertindak. Ia harus berterimakasih pada Otousan yang sudah memberikannya pakaian bermerek macam ini.

Meski ia sedikit penasaran kenapa Otousan sangat suka memilihkannya celana pendek. Ia hanya memadukannya dengan sweaters berbahan lembut yang sama-sama bermerk Ralph Lauren. Dan terimakasih juga untuk jam tangan Rolex yang membuat beberapa wanita mendekatinya. Jongin ingat, Jepang merupakan negara yang sangat menjaga sentuhan. Tapi gadis itu merupakan adiknya, jadi dengan tidak pengertiannya Jongin merengkuh pinggang Nana.

Jongin tersenyum kala pria itu menatapnya dengan tajam. Okaasan pernah memberitahunya, jam tangan macam apa yang diberikan Nana pada kekasihnya. Jadi, Jongin cukup menatap tangan kiri pria dihadapannya. Ini mungkin kebetulan tapi pria itu benar-benar mengenakan jam tangan pemberian Nana. Entah apa yang mereka bicarakan, Jongin tidak mau terlalu ikut campur.

"Kau baik-baik saja?" Jongin menatap langsung wajah Nana yang tidak baik-baik saja. Jongin menghela nafas pelan, ia sedikit bingung dengan jenis manusia macam Nana. Senang menambah rasa sakit.

"Dia pacar barumu?" Pria dihadapannya menatapnya dari atas sampai bawah. Jongin refleks melakukan hal yang sama. Ya ampun, pantas Nana jatuh hati. Ia pikir Hosuto selalu berpakaian berlebihan, model rambut macam anime dan kemeja bercorak norak. Tapi mantan pacarnya ini benar-benar tidak terlihat seperti Hosuto. Dia hanya mengenakan celana jeans biru langit, kaos putih polos dan jaket tipis berwarna navy. Di samping pria itu terparkir mobil sport yang Jongin yakini, mobil itu pasti pemberian dari salah satu kliennya.

"Aku kakaknya," Jongin meralat dengan senyuman kecil. Jongin memindahkan tangannya yang awalnya di pinggang berubah menjadi di pundak Nana. Namun sedetik kemudian ia membulatkan matanya saat menemukan wajah pria itu terpampang di banner terbesar. "Wow, kau mengenal hosuto yang menempati ranking pertama ditempat ini?" Jongin pura-pura menjadi pihak yang tidak tahu apa-apa. "Selama aku di Beijing kau memiliki hobi yang sedikit ekstrim rupanya." Jongin menatap Nana yang hanya menghela nafas dengan kesal meski matanya tetap tampak sendu. Tanpa sadar Jongin menghela nafas sambil mengusap pelan lengan Nana.

"Aku hanya ingin mengkonfirmasi sesuatu," Nana menatap pria dengan setelan simpel namun memukau. "Otousan ternyata benar." Nana kemudian merogoh tasnya dan mengeluarkan kotak kecil cantik berbahan beludru berwarna navi. Nana menyerahkannya pada si pria tampan yang membuat Jongin sempat terpukau.

"Apa benda ini bukan seleramu?" Jongin mengambil dengan tidak sopan. Lagi, berapa kali ia harus terpukau karena sosok pria dihadapannya. Kalung berliontin bintang dengan berhias berlian. "Wow!" Jongin menarik tangan pria dihadapannya dan memberikan langsung kotak beludru tersebut.

"Selamat tinggal." Nana mengatakan kalimat itu dengan dingin dan pergi begitu saja.

Jongin sejak dulu ingin sekali mengatakan kalimat mainstream macam ini.

"Jam tangan yang bagus." Jongin tersenyum kecil sebelum mengejar Nana yang sudah berjalan dengan cepat. Jongin sempat menikmati raut wajah terkejut bercampur kesal mantan kekasih Nana.

"Maaf aku tidak bisa menghajar wajahnya." Jongin menemukan Nana menghentikan langkahnya. Bukan hanya karena terdapat Yakuza berkeliaran, selain itu juga Jongin tidak mau memutuskan rantai rezeki seseorang. "Mau makan es krim?" tawar Jongin tiba-tiba.

"Aku bukan anak kecil." keluh Nana sambil mengusap kasar matanya.

"Kau maunya apa? Tas? Mobil? Berlian?"

"Mochi.. Ice cream"

Katanya bukan anak kecil.

.ILYD.

Nana memakan mochi ice creamnya dengan tidak berselera. Ya ampun, mau sampai kapan adiknya ini menunjukkan wajah sendu. Jongin tidak menemukan momen yang tepat, jadi akhirnya ia melambaikan tangannya sebagai tanda.

Sebagian besar pelayan berdatangan sambil membawa balon berwarna pink putih sesuai tema tempat yang begitu girly. Salah satunya membawa cake berbentuk hello kitty. Kemudian, seluruh pelayan menyanyikan ulang tahun diikuti tepuk tangan dari beberapa pengunjung.

"Mau sampai kapan cemberut?" tanya Jongin sambil mengambil alih cake yang berhiaskan satu lilin kecil pada Nana. "Semua orang suka kejutan kan?" Jongin tersenyum saat Nana meniup lilinnya dengan wajah ogah-ogahan.

"Hello Kitty?" Yuan menatap boneka bouquet bunga berhiaskan kepala hello kitty menggantikan belasan tangkai bunga mawar.

"Sampai sekarang kau menyukainya kan?" Jongin bahkan sampai tidak kaget adiknya ini malah mengajaknya ke cafe dengan nuansa hello kitty. Hanya untuk makan mochi ice cream ia harus membungkus rasa malunya. Kebanyakan pengunjungnya itu gadis, sobat.

"Terimakasih." Ucap Nana kepada para pegawai cafe yang selalu menunjukkan senyuman ramah.

"Kau ingat pria yang mendatangiku di pestamu?" Jongin tiba-tiba membuka pembahasan. "Sepertinya dia menyukaimu."

"Bukannya dia tertarik denganmu?"

"Apa semua pria yang mendekatiku terlihat seperti gay?" Jongin memutar bola matanya dengan jengah.

"Bukan ya?" Nana tertawa kecil. rasanya jadi sedikit bersalah. "Buat apa dia mendekatimu?"

"Taktik lama, dekati dulu saudaranya baru targetnya."

"Oh, seperti kau mendekati Sehun baru ayahnya?" Balasan yang bagus Nana.

"Hei, bukan seperti itu ceritanya," Jongin meralat dengan kesal. "Aku tidak pernah bermimpi dia akan melamarku."

"Jujur padaku apa kalian pernah bertengkar?" Nana entah kenapa mendadak penasaran dengan cerita romansa kakaknya ini.

"Sering."

"Kenapa?"

"Banyak hal, lagi pula perbedaan umur kita begitu jauh," Jongin mengangkat bahunya dengan santai. "Kemarin malam, kita bahkan bertengkar via video call karena aku memundurkan tanggal pulang."

"Posesif ya?" komentar Nana dengan spontan.

Jongin mengangguk setuju. "Dia takut aku melanjutkan kulian di Jepang."

"Onisan punya rencana kuliah di sini?" Nana bertanya dengan mata berbinar.

"Tidak jadi," Jongin mengeluh tapi kemudian tersenyum miring. "Karena dia terlalu mencintaiku."

"Cih!" Nana tanpa sadar mengeluarkan sifat buruknya. Meski pada akhirnya Nana menepuk pelan bibirnya sendiri.

"Untung tidak ada Okaasan." Jongin tertawa melihat kelakuan adiknya.

"Ah!" Nana tiba-tiba berteriak. "Liburan semester, aku ke Beijing ya?" pinta Nana dengan nada memelas. "Aku tidak mau diam di rumah," Nana menggoyangkan lengan Jongin. "Ya?"

"Minta izin dulu sana."

"Masa aku tidak boleh ketemu kakak sendiri?" Nana menatap kesal Jongin.

"Kau perempuan dan pergi ke Beijing sendirian." Jongin menunjukkan wajah keheranan sambil menggelengkan kepala.

"Memangnya kenapa kalau aku perempuan?" Nana mengatakannya dengan nada tersinggung.

"Benar juga," gumam Jongin sambil tersenyum kecil. Jongin kan jadi ingat Yuan pernah mengatakan hal itu juga pada Sehun. "Tapi tetap saja kau harus mengalahkan big boss terlebih dahulu."

"Duh, Otousan.." motivasi Nana untuk ke Beijing langsung runtuh.

"Kenapa kau ingin ke Beijing?"

"Aku ingin merasakan rasanya bangun siang."

Alasan Nana sontak membuat Jongin mengusak gemas kepala adik tirinya ini.

.ILYD.

Nana menatap kakaknya yang menelpon kekasihnya dengan bahasa mandarin yang tidak ia mengerti. Nana hanya berjalan mengikuti kakaknya berdampingan bersama supir yang membawakan koper Jongin. Kakaknya terlihat frustasi entah karena apa. Hingga terdengar suara menggelegar memanggil nama Korea kakaknya.

"Jongin!"

"Loh?!" Jongin berteriak keras tanpa kontrol. "Sejak kapan?"

"Dari kemarin, aku memesan hotel dekat bandara."

Nana tidak bisa mengendalikan keterkejutannya. Ia pernah melihat pria yang tengah melepaskan kaca mata hitamnya. Mereka pasti pernah bertemu di suatu tempat.

"Apa aku perlu memperkenalkan kalian berdua?" Jongin tersenyum kecil melihat ekspresi Nana yang kebingungan. "Ge, ini Nana adik perempuanku satu-satunya," Yifan mengulurkan tangannya pada Nana yang menatap Yifan dengan menyipit. "Na, ini dia kekasihku, kalian mungkin pernah bertemu."

"Singapore," Yifan menegaskan. "Saat peresmian hotel ayahmu." Yifan mengatakannya dengan bahasa Jepang yang lumayan fasih. "Maaf jika bahasa jepangku jelek." Biasa Yifan kadang suka merendah untuk meroket.

"Saat wajahmu bonyok itu kan?" Nana menatap wajah kakaknya yang masih menyisakan luka yang mulai memudar di ujung bibirnya.

Jongin dan Yifan saling berpandangan dengan terkejut. Dulu wajah mereka sama-sama bonyok karena pertengkaran konyol berkat seorang dokter. Refleks Jongin tertawa tipis. Itu pertengkaran paling beringas yang pernah ia alami.

"Aku pikir Gege sudah pulang ke Beijing."

"Kejutan," Yifan tersenyum dengan bangga. "Sekalian aku akan langsung memeriksa koper dan tasmu nanti."

"Hah?" Malah Nana yang bingung. "Tas?"

"Aku takut dia menyelundupkan brosur universitas."

"Ya ampun," Nana terkesiap sampai menutup mulutnya dengan dramatis. "Sampai segitunya?" Nana tidak bisa untuk tidak tertawa karena raut wajah kakaknya yang kesal. "Tapi aku akui, ini kejutan yang sangat manis."

.ILYD.

.

.

.

Plan on/ END

TBC