Judul : Otonari-San

Chapter : 20

Crossover : Naruto x LoveLive

Pairing : Naruto x (Rahasia) :v

Genre : Ecchi, lemon, romance, drama, dll.

Disclaimer : Naruto punya Om Masashi Kishimoto dan LoveLive punya Sakurako Kimino

Rating : M

A/N :

Radang memang mengesalkan...

.

.

.

.

DON'T LIKE DON'T READ :)

.

.

.

.

.

Naruto pov*

"Hari ini sepi ya~" ucap Hanayo yang berada di sampingku, kami sedang berada di balik meja kasir. Kali ini, aku dan Hanayo bertukar bagian dengan beberapa pegawai yang harusnya berada di sini.

"Hah~ kuharap kita bisa pulang lebih cepat.." balasku yang melihat sekeliling Miyamori Shoten hanya dihuni beberapa pengunjung yang sepertinya hanya menghabiskan waktu untuk melihat-lihat saja.

Perhatian Hanayo terlihat kembali pada catatan masukan yang sedang dia kerjakan. Aku mendengar suara buku yang diletakkan pada meja kasir dengan pelanggan yang membawanya. Aku langsung tersenyum manis pada pelanggan tersebut dan menoleh padanya.

"Selamat datang di Miyamori Shoten! Apa anda memiliki kartu member?" Aku menyambutnya dengan penuh semangat lalu bertanya tentang kartu member yang mungkin dimilikinya.

"Uzumaki-san terlihat sangat menikmati pekerjaanmu.." ucapnya yang membuka tudung switer yang dia kenakan, aku melihat wajah cantiknya dengan sepasang manik hijau dengan surai ungunya sangat dapat aku kenali.

"Geh! Kau.. k-kenapa ada di sini?!"

Aku terkejut bukan main ketika pelanggan di depanku ternyata adalah Nozomi. Dia tersenyum manis di hadapanku, senyuman yang benar-benar membuatku merasa terganggu. Aku terdiam mematung dan kembali teringat beberapa memori yang pernah terjadi sebelumnya. Namun, aku menepis pikiran itu.

"Biar kujelaskan, aku sedang membeli buku di sini.." jelasnya menunjukkan buku di meja kasir itu padaku.

"O-ouh benar juga.." tanggapku yang entah mengapa menjadi kaku, dia hanya tertawa meledek dan jujur saja itu benar-benar membuatku kesal.

Sepertinya, keributan tadi membuat Hanayo penasaran dengan kami. Dia menatap kami dengan penuh pertanyaan entah apa yang ingin diketahuinya.

Dia mendekat padaku lalu melihat Nozomi dan aku secara bergantian, "Senpai, siapa ini?" Tanyanya.

"Oh dia-"

"Oh, aku tahu!" Hanayo langsung memotong pembicaraanku lalu tangannya menggenggam tangan Nozomi dengan wajah berseri-seri, "Oneesan adalah pacarnya senpai..!" Jelas Hanayo yang membuat Nozomi terdiam kebingungan ketika Hanayo mengatakan bahwa Nozomi adalah pacarku, aku kembali dikejutkan dengan kata-katanya yang bilang hal semacam itu.

"Ti-tidak, Hanayo-chan..! kurasa kau salah paham.."

"Eh?"

"Di-dia bukan pacarku.."

Hanayo kembali menatap Nozomi yang tersenyum padanya, "Itu benar, aku bukan pacarnya.. kita hanya teman kampus.."

Hanayo terkejut dengan wajah memerah lalu melepaskan genggaman tangannya dari tangan Nozomi. Dia langsung menunduk-nunduk meminta maaf pada Nozomi. Aku hanya tertawa canggung sambil memijat keningku. Hal ini selalu terjadi, bahkan di tempat kerja?!

Hanayo menunduk memainkan jari tangannya, dia terlihat tak berani menatap langsung pada Nozomi yang ada di depannya.

"S-sumimasen, Senpai selalu menceritakan tentang pacarnya yang cantik.. Saat melihatmu, kau terlihat sangat cantik dan kalian terlihat dekat jadi kupikir begitu.." jelas Hanayo yang nampak malu-malu pada Nozomi.

Tunggu, interaksi apa yang membuat kami terlihat dekat..?!

Nozomi tertawa kecil setelah mendengar perkataan Hanayo, "..benarkah? Kalau begitu terima kasih. Kau juga gadis yang manis.." ucap Nozomi pada Hanayo yang menatapnya dengan wajah kagum.

Hanayo terlihat tersenyum lalu membungkuk lalu berlari menjauh, saat berlari dia menabrak tumpukkan buku yang sudah disusun sehingga membuatnya panik sejenak lalu membereskan tumpukan buku itu kembali.

"Dia anak yang lucu.."

"Hm, aku juga berpikir begitu.."

"Hey, untuk perjalanan makrab nanti.. kau datang, 'kan?"

Tiba-tiba Nozomi mulai bertanya mengenai rencana angkatan jurusan kami yang ingin mengadakan perjalanan untuk 1-2 hari pada tanggal 24 nanti.

"Tentu saja, kenapa kau bertanya?"

"Tidak, kupikir jika kau tidak pergi rasanya akan membosankan.."

"Oh benarkah~?" aku tersenyum padanya lalu aku mengubah mimik wajahku kembali jengkel padanya, "Memangnya aku peduli.."

Aku mengambil buku yang ingin dibelinya lalu menempel alat scan bar kode sehingga harganya muncul di komputer, tanpa mempedulikan tatapannya aku langsung menaruh buku itu ke dalam plastik dan memberikannya pada Nozomi. Dia menerima buku itu lalu melihat judulnya entah untuk apa.

"Semuanya, 105 yen.." jelasku meminta bayarannya, dia terlihat masih menatap buku itu dalam waktu yang lama, oh sial aku ingin cepat melarikan diri dari situasi ini.

"Kau tahu, Uzumaki-san.. ketika aku membaca sinopsis buku ini, aku merasa terganggu.." jelasnya yang membuatku mengerutkan kening dengan pembicaraan ini.

"Hah..? Mana kutahu, aku kan tidak pernah membaca buku itu.."

"Kisah yang menyedihkan.. kupikir lebih cocok untukku.." dia tersenyum dengan pandangan yang terlihat sendu.

Apa-apaan itu? Jangan tunjukkan wajah seperti itu padaku..

Lagipula apa maksudnya..?

"Ah, gomen.. kau lama menunggu, 'bukan?"

Dia terlihat memasukan buku ke dalam tasnya lalu menyerahkan selembar uang di dompetnya padaku, aku mengambil uang itu lalu memasukannya ke dalam mesin kasir dan aku memberikan sisa kembaliannya lagi pada Nozomi. Kami tidak terlibat pembicaraan apapun setelah itu, aku hanya melihat sosoknya yang menghilang dari balik pintu keluar toko.

Rasa penasaran kembali kurasakan tentang buku novel yang dia katakan tadi, k-kenapa aku harus memikirkan tentang itu? Itu sudah tidak ada hubungannya denganku. Lagipula, ada pria lain yang sedang mendekatinya sekarang.

.

.

.

.

.

Kemudian tanggal 11 September, selama seminggu aku sudah sering melihat Shii yang terus gencar mendekati Nozomi. Mereka mulai sering terlihat bersama dan duduk bersebelahan ketika kami berada di kelas yang sama. Padahal biasanya Nozomi terlihat seperti penyendiri, dimana dia jarang bicara dengan siapapun di kampus. Sekalinya dia buka mulut itu hanya ketika oranglain mengajaknya bicara. Semua orang kelihatan mulai menyadari Shii yang memang berniat mendekati Nozomi.

Dan kali ini aku sedang duduk di sebuah bangku kelas dengan jendela di sebelah kami. Bersama dengan Sakura-chan yang ada di depanku dengan sebuah laptop ketika dia sedang mengerjakan persentasi untuk tugas kelompok kami. Aku kemari hanya untuk menemaninya saja sambil membaca buku dari teori tentang hama tanaman untuk sedikit membantu. Hanya ada aku dan Sakura di sini untuk menyelesaikan setengah dari pekerjaan kelompok.

Aku hanya termenung diam ketika Sakura mengetik sesuatu di sana. Aku sudah menandai beberapa kalimat dari teori pada buku hama tanaman yang baru saja kubaca. Mataku menatap keluar jendela yang terlihat beberapa pohon rindang dan orang-orang yang berjalan melewati halaman kampus. Pandanganku terhenti ketika melihat dua orang pasangan yang berjalan bersama.

Tepat sekali, pasangan itu adalah Shii dan Nozomi. Tak lama kemudian mereka duduk bersama pada tembok pembatas semak-semak di bawah pohon rindang. Aku melihat mereka entah sedang membicarakan apa. Nozomi hanya tertawa kecil ketika dirasa ada hal yang menarik. Dia terlihat sama sekali tidak terganggu dan sepertinya pendekatan yang Shii lakukan lancar-lancar saja.

Heh~ sikapnya berbeda sekali ketika dulu aku yang mendekatinya. Jadi kau menyukai pria seperti itu?

"Entah kenapa, aku tidak menyukainya.." aku mendengar Sakura berucap ketika aku sedang fokus menatap pasangan di bawah sana.

"Hah, apa?" Aku bertanya pada Sakura yang matanya tertuju pada Shii dan Nozomi di bawah sana.

Tunggu, apa Sakura menyukai Shii?!

"..A-apa mungkin kau suka pada Shii-kun?"

"Hah?" Sakura memandang jengkel padaku lalu tersenyum sarkas, "Gaklah, justru dia itu tipe pria yang aku benci..!" Jelasnya yang membuatku memandangnya penuh tanya.

Aku terkejut biasanya dia dan Ino membicarakan tentang pria tampan dan populer, tapi dia tidak menyukai pria tampan seperti Shii. Bukankah itu aneh?

"Kenapa? Dia kan tampan dan populer.."

Sakura berdecak lalu menyilangkan tangannya di depan dada, "Aku sangat tidak menyukai bagaimana dia mendekati Tojo-senpai.. Mereka tidak cocok.."

"Menurutku mereka cocok-cocok saja, mereka sama-sama populer.. pasti akan menjadi pasangan yang TOP, 'bukan?" Jelasku mengelaknya untuk membela temanku.

"Aku tahu jelas pria seperti apa dia, di depan dia terlihat baik tapi di belakang dia akan menunjukkan sifat aslinya.." jelas Sakura yang membuatku mengingat bagaimana sikap Shii.

Setahuku, Shii itu pria yang baik. Dia sangat pintar di kelas, para dosen terlihat mengandalkannya, dia juga suka membantu di saat oranglain kesulitan. Aku sama sekali tidak pernah tahu dia punya sifat jelek. Aku bahkan tidak pernah melihatnya melakukan hal buruk.

"Apa alasan yang membuatmu berpikir begitu, Sakura-chan?" Tanyaku padanya.

"Hanya intuisiku saja sih, soalnya dia baik pada banyak wanita.."

Alasannya sama sekali tak akurat.

"Shii-kun bersikap baik pada semua orang~" jelasku padanya yang menatapku jengkel.

"Terserah, aku tetap tidak menyukainya.. Aku kasian pada Tojo-senpai yang terus didekatinya.." jelasnya yang menutup laptopnya ketika selesai bicara.

"Eh? Kau sudah selesai?"

"Membicarakan hal itu membuatku tidak mood untuk mengerjakannya.." dia memasukan laptopnya ke dalam tas laptop dan memakai di pundaknya, "Aku akan mengerjakannya di rumah.." jelasnya yang kemudian berjalan keluar kelas, aku hanya menatap punggungnya yang menjauh.

Mataku beralih kembali pada Shii dan Nozomi yang sedang berbincang akrab di sana.

.

.

.

.

.

Normal pov*

Ketika Naruto akan beranjak dari kelas sore ini, Iruka-sensei memanggilnya lalu meminta untuk membawa alat-alat yang dia tunjukkan di kelas tadi pada laboratorium. Dia berencana melakukan praktek setelah menjelaskan teori dan cara penelitian yang akan mereka lakukan. Dan sekarang berkat hal itu Naruto harus membawa kotak plastik besar ini pada ruang penyimpanan di laboratorium.

Naruto berjalan di lorong besar kampus ini yang mulai sepi dan hanya di huni oleh beberapa mahasiswa yang masih tinggal entah untuk apa. Naruto menemukan ruang laboratorium bioteknologi mulai berbelok, lalu membuka pintu ruang laboratorium yang nampak sepi tanpa ada siapapun di sana. Langkahnya melaju menuju ruang lebih kecil di sudut ruangan. Itu adalah ruangan penyimpanan untuk alat-alat dan hasil data dari penelitian.

Naruto mulai masuk ke dalam lalu melihat ruangan yang dipenuhi rak-rak untuk menyimpan barang-barang dan buku-buku yang digunakan. Naruto menaruh barang yang dia bawa di salah satu rak lalu melangkah mundur namun dia menyenggol rak dan menjatuhkan lembaran kertas hingga berserakan di lantai. Oh sial, dia jadi harus membereskannya.

Naruto mulai berjongkok lalu mengumpulkan kertas-kertas yang terlihat memiliki hasil ketikan. Beberapa saat kemudian dia menaruh kertas yang sudah dikumpulkan itu pada rak tadi. Naruto mulai berbalik untuk melangkah ke arah pintu, Naruto menekan kenop pintunya untuk keluar dari ruangan itu. Tapi, tindakannya terhenti ketika mendengar suara pintu laboratorium di luar terbuka dan suara langkah kaki seseorang yang masuk ke dalam.

"Aku tidak menyangka kau tertarik membicarakan tentangnya juga.." jelas suara seorang wanita yang sering kali didengar Naruto sebagai tetangganya.

"Kupikir kau akan tertarik dengan hal yang akan kukatakan ini.." jelas suara dari seorang pria yang Naruto yakini teman satu angkatan dengannya.

Naruto kemudian mengintip dari kaca kecil di tengah pintu, matanya melihat Shii dan Nozomi yang sudah berada di sana saling berbincang. Naruto melihat Nozomi yang akan menoleh tepat ke arah pintu ruang penyimpanan dimana dia berdiri di baliknya, refleks Naruto langsung menunduk lalu menurunkan tubuhnya hingga terduduk.

Kenapa mereka kemari?! Tunggu, kenapa aku bersembunyi?!

"Hari ini Kurenai-sensei tidak akan menggunakan lab, jadi kita bisa mengobrol sesuka kita di sini.." jelas Nozomi yang menyalakan kompor kecil di lab dengan korek, dia terlihat memakai peralatan lab untuk membuat kopi.

Tanpa disadari oleh Nozomi, Shii menutup ruang lab lalu menguncinya dengan kunci yang dia dapatkan ketika meminjamnya dari ruang dosen tadi. Setelah mengunci pintu dia langsung mengantungi kunci itu di kantung celananya. Nozomi merasa aneh melihat Shii yang dari tadi hanya berdiri di dekat pintu.

"Apa yang kau lakukan?"

Shii hanya tersenyum padanya, "Tidak, bukan apa-apa.." kemudian dia berjalan mendekat pada Nozomi yang memegang dua cangkir kopi.

"Aku senang kau ingin membicarakan tentang rahasia Uzumaki-san.." Nozomi mengatakannya dengan sangat riang menatap pada Shii yang berdiri bersandar di meja.

Membicarakanku untuk apa? Naruto yang mendengar jadi penasaran.

"Ini berita yang cukup besar lho.." Shii mulai menyesap kopi yang ada di tangannya.

"Benarkah? Aku sangat penasaran~" Nozomi lalu duduk di meja di depan Shii, dia menyilangkan kakinya hingga pahanya terekspos dari rok pendeknya.

Shii melihat pemandangan menggairahkan itu dengan matanya lalu mengalihkannya lagi pada wajah Nozomi di depannya, "Iya, aku merasa dia orang lucu dan baik.. kau tahu, Naruto pernah melakukan hal konyol hingga Karin memusuhinya-"

"Berhenti membicarakan hal membosankan seperti itu, Shii-san.. aku tidak ingin menghabiskan waktu hanya untuk mendengar hal membosankan, bisa kau langsung ke intinya saja?" jelas Nozomi menatap dingin pada Shii yang terdiam, suasana menjadi aneh beberapa saat.

Apa yang terjadi? Suasananya terasa tidak enak.. Naruto hanya bisa menanyai diri sendiri dengan keadaan dua orang yang ada di balik ruangan penyimpanan.

Shii kemudian menaruh kopi yang di pegangnya di meja belakangnya, dia tersenyum dengan wajah iba di hadapan Nozomi. Dia terenyuh sesaat sebelum mengatakan apa yang akan dikatakannya. Naruto yang bersembunyi juga ikut penasaran.

"Aku tidak ingin mempercayai hal ini, sangat mengerikan.." jelas Shii lalu menatap Nozomi, "Kau tahu? Belakangan ini banyak mahasiswa yang membicarakannya.. Sebenarnya Naruto itu memperkosa Kotori lalu mengancam agar Kotori mau jadi pacarnya.."

Nozomi melebarkan matanya mendengar hal yang keluar dari bibir Shii. Begitupula dengan Naruto yang juga syok mendengar rumor tentangnya. Naruto ingat dengan jelas dia sama sekali tidak memaksa Kotori untuk menjadi pacarnya, bukankah Kotori yang justru menembaknya duluan.

Rumor darimana itu?! Apa semua orang sekarang berpikir begitu? Naruto mendadak menjadi lemas setelah mendengar rumor yang seperti mengada-ngada tentangnya.

"Pfft~" Nozomi menutup mulutnya dengan tangan sebelum pada akhirnya dia tertawa lepas, "Buh- Ahahahahahaha..! Uzumaki-san..? Memperkosa Kotori-chan.. Ahahaha..! Sulit dipercaya..! Aku tidak bisa membayangkan wajah konyolnya.. Ahaha!" Nozomi tertawa sangat keras hingga tanpa terasa air matanya sampai keluar, dia sampai memegang perutnya yang terasa ngilu karena terlalu keras tertawa.

Nozomi ingat jelas betapa polosnya Naruto ketika mereka pertama kali melakukan seks. Bahkan, dia ingat dengan jelas Naruto yang mencoba menolak dengan malu-malu padahal mau. Sementara Naruto di balik ruang penyimpanan hanya menunjukkan wajah cemberutnya dengan reaksi Nozomi yang seakan mengejeknya.

Pasti baginya itu seperti lelucon, huh..? Jelas Naruto jengkel di dalam hati.

Meskipun begitu, sebagian diri Naruto merasa terguncang mendengar rumor tersebut yang sepertinya sudah menyebar di antara teman-temannya. Memang untuk beberapa hari ini Naruto mendapat tatapan sinis dari para wanita di kelasnya, atau tiba-tiba para pria yang jadi sangat ramah padanya dan menanyakan pertanyaan yang aneh padanya. Naruto menganggap itu hanya perasaannya saja dan tidak menggubrisnya.

Entah mengapa Shii juga ikut tertawa melihat reaksi Nozomi di depannya, "Haha.. kau benar, sulit untuk dipercaya.. hal seperti itu tidak mungkin terjadi.. Naruto itu sangat naif sekali.." jelas Shii yang tersenyum di hadapan Nozomi.

Sebagian diri Naruto merasa senang, ketika Shii mengatakan bahwa rumor itu tidak benar.

"Tapi, bukankah kau merasa aneh? Wanita sepopuler Kotori mau dengan Naruto?" Shii lalu tersenyum di hadapan Nozomi, "Biasanya orang yang terlihat baik itu sebenarnya punya sifat jelek, 'bukan? Bagiku hal yang wajar Naruto melakukan hal itu untuk mendapat wanita yang dia inginkan. Aku sih sudah menduganya. benar,'kan?"

Nozomi berhenti tertawa lalu wajah menunduknya mulai mendongak untuk menatap Shii di depannya, "Semua yang kau katakan hanya omong kosong belaka.." ujar Nozomi yang menatap tajam pada Shii.

"A-apa..?" Shii yang mendengar jawaban Nozomi membuat dahinya berkerut, dia bingung dengan reaksi beda dari Nozomi.

Nozomi mengangkat salah satu kakinya pada meja hingga roknya tersingkap, membuat fokus Shii berpindah pada celana dalam berwarna pink yang Nozomi kenakan. Wanita bersurai ungu di depannya tersenyum melihat reaksi dari pria di depannya ini. Nozomi meletakkan tangan di atas lututnya lalu menompang wajahnya di sana dan menatap Shii dengan senyuman Nozomi yang terasa aneh. Shii berpindah menatap wanita di depannya ini seakan menantangnya gelut.

"Kau orang yang munafik, Shii-san.."

"Huh..?"

"Kau berkata banyak hal seperti anjing mengonggong, kau mencoba membuatku terkesan dengan semua kebohonganmu, 'bukan?"

"Kebohongan katamu?" Shii mulai menatap tajam pada Nozomi.

"Apa kau selalu melakukan hal menjijikan seperti itu pada semua gadis? Kau berkata omong kosong selama seminggu ini, aku tahu semua tentangmu lho~"

Shii mulai menunduk ketika Nozomi mengatakan hal demikian, pria tampan itu mulai terpojok dengan hal yang Nozomi ingin katakan. Naruto masih di balik ruang penyimpanan mendengarkan apa yang akan Nozomi katakan.

"Kau tahu sejak awal bahwa aku tertarik pada Uzumaki-san, 'bukan? Lalu kau memanfaatkan gadis yang tergila-gila padamu untuk menyebarkan rumor bohong tentang Uzumaki-san. Dengan begitu, kau ingin membuatku membencinya.." jelas Nozomi yang tersenyum kecut dan Naruto yang terkejut dengan fakta itu, "Kau terlalu meremehkanku, aku wanita yang tidak mudah ditaklukkan hanya dengan rumor bohong.."

Nozomi tersenyum melihat Shii yang bersandar di meja dengan wajah menunduk. Bahu Shii terlihat bergetar membuat senyuman Nozomi sirna. Shii tertawa pelan hingga sampai akhirnya dia tertawa terbahak hingga suaranya memenuhi ruang Lab.

"AHAHAHAHA..!"

Dia tertawa geli seperti orang gila, melihat keanehan pria di depannya membuat Nozomi berulang kali meyakinkan dirinya untuk bersikap tenang agar pria ini tidak meremehkannya.

Mata Shii menatap tajam pada Nozomi dengan senyuman liciknya, "Nozomi-senpai, kau memang hebat bisa menebaknya dengan benar.." jelas Shii yang bertepuk tangan untuk menyelamati Nozomi yang hebat bermain detektif-detektif-an dengannya.

Nozomi hanya mendengus, "Aku sudah lama tahu dirimu yang sebenarnya, kau anak dari politikus, 'bukan? Ibumu terlibat skandal perselingkuhan lalu Ayahmu gagal mencalonkan diri di pemilihan gubernur.."

Shii terlihat terkejut ketika Nozomi mengatakan bahwa Shii merupakan anak dari politikus, begitupun dengan Naruto yang mendengarnya. Dia baru tahu bahwa Shii anak dari seorang politikus.

"Kau sangat kecewa lalu menyembunyikan dirimu, 'bukan? Karena itu, kau menghapus nama keluargamu.."

Shii kembali menunduk dengan mengepalkan tangannya kuat, dia mulai merasa geram dengan wanita di hadapannya.

"..Kau hidup dengan memanfaatkan uang dari wanita yang kau tiduri. Kau berkata hal manis pada mereka, meskipun kau membencinya. Tapi, kau terlibat hutang besar karena di tipu oleh salah satu dari mereka.."

"..he~ begitukah?" Shii mulai berkata dengan lirih.

"..kau juga menjadikan salah satu dari mereka untuk menanggung hutangmu.." Nozomi menatap tajam pada Shii, "Kau adalah orang yang paling kubenci.."

Shii tersenyum lalu berjalan mendekat pada Nozomi yang masih duduk di atas meja, dia berdiri di hadapan Nozomi dengan tersenyum angkuh. Nozomi hanya menatapnya nyalak ketika pria itu mengurungnya dengan kedua tangannya yang menapak di meja. Nozomi mencoba tetap tenang di hadapan pria di depannya.

"Kau juga munafik, bukankah kau punya fakta jelek sebelumnya?" Shii mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Nozomi, "..Aku pernah dengar dari seorang senpai, kau cuti kuliah selama satu setengah tahun, dan kau terlihat menjadi jalang di klub kabaret, 'bukan?"

Nozomi terlihat tidak bisa membalas omongan Shii yang mulai mengintimidasinya, "Bagaimana rasanya menjadi jalang yang ditiduri banyak pria? Di mata laki-laki kau hanya pelacur menjijikkan.. kau hanya pemuas nafsu kami.." jelas Shii yang menepuk pelan pipi Nozomi.

Tentu saja harga diri Nozomi terluka mendengar seorang laki-laki merendahkannya, namun Nozomi kembali tersenyum.

"Itu benar, hal itu tak sepenuhnya salah.." jelas Nozomi yang menampik tangan Shii, "Tapi, meski sebagai wanita jalang wajar saja aku berpikir aku membencimu.. Uzumaki-san tidak akan menjelekkan reputasi oranglain hanya untuk seorang wanita, dia akan berusaha dengan caranya sendiri.."

Entah bagaimana Nozomi tersenyum lembut ketika teringat bagaimana Naruto yang berusaha melindunginya atau bersikap lembut padanya, "..dia akan melindunginya, meskipun dia tahu bahwa reputasi wanita itu buruk baginya, dia tidak mempedulikannya.. Uzumaki-san, dia jauh lebih baik darimu.. Kau bahkan dibenci oleh wanita jalang, apa itu membuatmu bangga?" lanjut Nozomi yang langsung membuat geram Shii yang dibandingkan dengan Naruto yang menurutnya lebih rendah darinya.

Rahang Shii mengeras karena kesal, tangannya langsung mendorong Nozomi hingga terbaring di atas meja dengan Shii dibatasnya yang menjegal kedua tangan Nozomi di samping tubuhnya. Nozomi meringis karena punggungnya terasa sakit ketika terbentur oleh meja.

Suara gelas yang berisi kopi terjatuh karena tersenggol, mengakibatkan gelasnya pecah dan cairan kopi yang menumpahi lantai. Mendengar kegaduhan di luar ruang penyimpanan membuat Naruto langsung bangkit dan melihat apa yang terjadi. Naruto sangat terkejut ketika melihat Shii yang menjegal Nozomi dalam kungkungannya.

Satu tangan Shii menjegal kedua tangan Nozomi dengan kuat, sedangkan tangan yang satunya dia gunakan untuk membungkam mulut Nozomi sehingga suaranya tertahan. Naruto yang syok kembali bersembunyi ketika merasa kebingungan dengan situasi yang memanas dari kedua orang manusia yang terlibat masalah yang serius di luar sana.

"Kau ini selalu saja membicarakan Naruto, Naruto, Naruto terus.. benar-benar membuatku muak mendengarnya, memang apanya yang menarik darinya, huh?" Shii kemudian melepas tangan Nozomi yang dia jegal, tangan Nozomi langsung mencoba mendorong Shii untuk melepaskannya.

Seberapa kuat Nozomi mencoba melawan pria di depannya, tetap saja tenaga wanita tidak akan sekuat tenaga laki-laki. Shii masih membungkam mulut Nozomi agar wanita itu tidak berteriak. Sekalipun berteriak juga mungkin tak ada siapapun di sana karena hari yang mulai berubah gelap.

Tangan Shii yang satunya masuk ke dalam blouse Nozomi dari bawah. Dia menariknya ke atas sehingga dada Nozomi yang tertutupi bra berwarna pink terlihat. Dia kemudian mengangkat bra yang Nozomi kenakan ke atas sehingga menunjukkan dada besar yang bulat menggoda di depan matanya.

Shii tersenyum licik melihat reaksi Nozomi yang terlihat mulai tak tenang yang ditandai dengan suara tertahannya yang terdengar ingin berteriak. Shii lalu meremas kasar dada Nozomi yang meringis. Shii semakin memepetkan Nozomi yang terbaring di meja.

"Heh~ sebagai jalang kau punya badan yang bagus juga, kau tahu aku sudah lama ingin melakukan ini padamu.. Melihat jalang sombong sepertimu yang tak berdaya sangat menyenangkan.." jelas Shii yang kepalanya turun lalu mengulum puting dada Nozomi yang menyembul keluar, Nozomi terpekik ketika pria itu menggigit puting dadanya hingga terasa sakit.

Naruto yang mengintip di balik ruang penyimpanan hanya terdiam tak mampu bergerak. Tubuhnya tengah dibanjiri oleh keringat dingin karena syok bahwa orang yang dia kira teman baiknya sekarang sedang berusaha memperkosa seorang wanita. Ini bukan pertama kalinya Naruto mengintip orang yang melakukan seks, tapi melihat wanita yang ingin diperkosa membuatnya sama sekali tidak bergairah.

"Kenapa kau sangat terkejut, banyak pria yang sudah menjilat dadamu, 'bukan?" Shii kemudian tertawa ketika meremas kuat dada Nozomi, "Apa mungkin Naruto pernah menyentuhnya juga?" Nozomi terkejut sesaat mendengar pertanyaan dari Shii.

Shii tersenyum, "Dari reaksimu sepertinya benar, meski begitu, dia memilih oranglain. Dia sama saja dengan pria lainnya, dia hanya ingin tidur denganmu.." Shii lanjut menjilat leher Nozomi, "Apa kau ingin jadi selingkuhannya? Tapi, sepertinya kau ditolak ya~ ahaha! Kalau jadi dia aku pasti akan menjadikanmu simpanan.." Shii kembali mengulum puting dada Nozomi.

Tangan Shii yang meremas dada Nozomi berpindah ke dalam rok yang Nozomi kenakan dari bawah. Shii kemudian menarik celana dalam berwarna senada dengan bra Nozomi ke bawah hingga menuruni kaki Nozomi dan tersangkut di salah satu pergelangan kaki Nozomi. Nozomi mulai panik dengan apa yang akan pria ini lakukan padanya, dia kembali memberontak.

"Hey, hey.. tenanglah, ini tidak akan lama.." ujar Shii sembari membuka kancing dan resleting celananya.

Nozomi terpekik kaget hingga tubuhnya melengking, dia tiba-tiba merasakan jari Shii yang memaksa masuk pada liang senggamanya. Jarinya mengaduk bagian dalamnya secara kasar, dipaksa melakukan hal seperti ini tentu membuat Nozomi tak senang. Liang senggamanya terasa perih karena dimasukan benda asing tanpa persiapan. Kakinya bergerak tak nyaman ketika Shii yang mencoba melebarkan liang senggamanya dengan jarinya.

"Hey, kalau kau belum basah juga.. ini akan terasa sakit.." jelas Shii yang melepaskan jarinya lalu tangannya mulai memposisikan kejantanannya yang menegang pada liang senggama dari Nozomi yang semakin gencar memberontak.

"Oh sial, diamlah! Jika kau banyak bergerak, aku jadi sulit memasukkannya, bodoh..!" Ujar Shii yang menahan tubuh Nozomi agar lebih tenang, namun dia merasa tubuh wanita dihadapannya mulai bergetar dan terdiam pasrah.

Shii menatap wajah Nozomi yang menoleh ke samping, sulit dipercaya wanita yang terlihat sombong beberapa saat lalu kini terlihat tak berdaya. Shii tersenyum licik melihat reaksi wanita di hadapannya ini berhasil dia buat menjadi sosok lemah. Nozomi menangis dengan suara tertahan karena mulutnya masih dibekap. Air matanya meluncur keluar ketika dia mulai mengedipkan matanya.

"Oya-oya..? Kau menangis? Apa kau takut? Kau yakin tuh, kau baik-baik saja.. bagus-bagus, menurutlah seperti anak baik ketika aku berhasil mengeluarkan benihku di dalammu.. yeah, meskipun kau teriak percuma saja, aku sudah mengunci pintunya.. kau tidak akan bisa lepas dariku semudah itu.." jelas Shii yang mulai mendekatkan kejantanannya itu ke liang senggama Nozomi yang sudah pasrah akan nasibnya.

Oy, kenapa kau menangis? Jangan biarkan pria sepertinya membuatmu menjadi lemah..

Naruto yang melihat wajah Nozomi yang mengeluarkan air matanya merasa geram. Tangannya terkepal kuat ketika melihat Shii yang tersenyum licik memandang Nozomi. Naruto menggeretakkan giginya kesal, dia sudah tidak tahan melihat Nozomi yang terus dilecehkan oleh Shii. Terutama Shii sudah mulai ingin melakukan hal yang lebih mengerikan pada Nozomi.

Brak..!

"Hentikan..!" Naruto berteriak begitu keluar dari pintu ruang penyimpanan.

Shii dan Nozomi yang mendengar Naruto terkejut, Shii menghentikan tindakannya yang ingin memperkosa Nozomi. Shii langsung melihat sosok Naruto di depannya yang memandang marah padanya. Dengan cepat Shii langsung melepaskan Nozomi lalu kembali memasang celananya. Dia tersenyum canggung di hadapan Naruto yang terlihat sudah sangat geram. Nozomi terdiam dengan tubuh bergetar, dia memegang kemaluannya yang terasa perih.

"Sakit.." lirih Nozomi.

Melihat Nozomi yang seperti itu membuat Naruto memandang tajam pada Shii yang terlihat mati kutu.

"Yo, N-naruto.. kenapa kau bisa ada di sini..?" Shii meneguk ludahnya ketika Naruto sama sekali tidak menjawabnya, "Sebentar biar ku jelaskan ten-"

"Berhenti bicara.." potong Naruto.

Shii mendekat pada Naruto yang justru menghindarinya, "Aku tidak peduli dengan apa yang ingin kau katakan atau rumor buruk yang coba kau sebarkan tentangku. Aku hanya ingin kau menghentikan tindakan jahatmu sekarang." lanjut Naruto.

Shii terdiam ketika Naruto melangkah melewatinya, Naruto menatap tajam padanya. Shii menunduk dengan tangan terkepal karena rencananya sudah diketahui oleh Naruto. Dia merasa situasi ini membuatnya semakin membenci Naruto.

Naruto menghampiri Nozomi yang sudah berdiri di hadapannya dengan pakaiannya yang sudah dirapikan kembali, wanita itu hanya membisu dengan wajah lusuh. Ada perasaan iba di dalam dirinya melihat Nozomi dalam keadaan mengerikan seperti ini. Naruto hanya terdiam di tempat tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Dia tidak pernah melihat wanita di depannya terguncang seperti sekarang.

"Hah~ sialan..! Aku gagal.."desah Shii yang terdengar seperti disengaja agar kedua orang di belakangnya dengar, kemudian matanya melihat ke arah Naruto dan Nozomi dengan tersenyum sarkas.

"Baiklah, kurasa sudah tidak perlu untuk disembunyikan lagi.." jelasnya tersenyum licik di hadapan Naruto, "Itu benar Naruto, aku tidak akan menyangkal jika kau ingin melaporku.."

"Aku tidak akan melapormu.." jelas Naruto yang sama sekali tidak ingin bersitatap dengan Shii yang mengkerutkan dahinya dengan jawaban Naruto.

"Hah?" Shii mendengus, "Apa kau bodoh?"

"Tidak, aku hanya tidak memiliki bukti. Di tambah aku tidak ingin merusak citra Tojo-san jika oranglain mengetahuinya.. Semua ini hanya keputusan Tojo-san.. bagaimana menurutmu?" jelas Naruto menatap pada Nozomi yang terkejut, Nozomi kemudian menunduk dan menggeleng.

"Dan juga reputasi keluargamu akan semakin buruk, 'bukan? Jika anak dari politikus ketahuan mencoba memperkosa wanita, karir Ayahmu akan lebih hancur.. Jadi, aku tidak akan mengatakannya pada siapapun.."

Shii mengepalkan tangannya kesal dengan alasan Naruto, "..Aku tidak peduli dengan reputasi apapun, aku tidak perlu belas kasihanmu dan aku merasa tidak bersalah sama sekali.." jelas Shii yang mengambil tasnya lalu menuju pintu lab, dia memutar kunci yang dia pegang lalu membiarkan kunci itu di sana, tanpa mengucapkan apapun dia pergi dari sana meninggalkan Naruto dan Nozomi.

Naruto melihat pada Nozomi yang ada di depannya, wanita itu berjalan sedikit tertatih menuju pecahan gelas dan kopi yang tumpah. Naruto refleks mengikutinya yang berjongkok untuk mengambil pecahan gelas di lantai. Naruto memegang pundak wanita itu dan menatap langsung wajah Nozomi.

"Oy, apa kau baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja.."

Nozomi hanya tersenyum lalu menunduk dengan perlahan mengambil pecahan gelas untuk mengumpulkannya di satu sisi lantai yang lain. Naruto melihat tangan yang mengambil pecahan gelas itu terlihat bergetar merasa tak tega. Tangan Naruto langsung menggenggam pergelangan tangan Nozomi di depannya, Nozomi langsung balas menatap Naruto di depannya.

"Tanganmu bergetar begitu, mana mungkin kau baik-baik saja!" Bentak Naruto pada Nozomi yang terdiam.

Naruto kemudian ikut mengumpulkan pecahan beling gelas tersebut, "Aku akan membantumu.." jelasnya yang membuat Nozomi memandangnya.

Naruto tidak peduli dengan tatapan Nozomi, dia hanya membantu membersihkan kekacauan yang terjadi di ruang lab tersebut. Nozomi kembali memandang kopi yang tumpah itu sendu, lalu tersenyum tipis.

"Arigatou.."

.

.

.

.

.

TBC

Tak terasa udah chap 20, karena itu Erocc akan membalas 10 review dari kolom review buat chap depan.. tapi yang bijak ya!

Maafkan Erocc di chapter 20 Erocc seperti menyiksa Nozomi banget haha..

Kumohon Nozomi lovers jgn marah.. Erocc hanya mengikuti imajinasi dari plot yang Erocc buat..

Sebenanya ini terinspirasi sama pengalaman temen Erocc (cewek), tmn Erocc ini disukai dua cwok (temen erocc juga di kampus).. salah satu cwoknya ada yg bikin berita bohong gitu ke si cwek biar si cewek benci sama cowok yang lainnya.. si cewek gak suka gitu, di tambah dia anggap kedua cowok itu hanya teman..

Untungnya, gak ad sampe niat memperkosa sih.. wkwk

Karena lumayan menarik Erocc buat saja untuk konflik chap 20 ini..

Akhirnya punya niat juga erocc ngetik selama 3 hari, gatau kenapa erocc ingin menyelesaikan ff yang lain hingga yg lain terbengkalai..

Lemon NaruKoto bakal ada di Chapter depan, tunggu ajha.. v: