Disclaimer : Naruto milik Om Masashi Kisimoto

.

.

.


Shion berharap seandainya ia bisa kembali ke waktu lima menit yang lalu, sewaktu ia begitu percaya diri berhadapan dengan Naruto. Saat ia tidak merasa takut atau pun segugup seperti sekarang ini. Pemuda itu seakan menjelma menjadi seorang polisi kawakan dengan kepribadian yang kuat dan tanpa tedeng aling-aling, langsung menudingnya, "Mengaku sajalah." dan Shion akan menurut saja bagai bocah bego. Mata ungunya bolak-balik dengan kecepatan luar biasa. Ia duduk di atas jembatan, serba salah tingkah, gugup dan pipi merona hebat. Padahal baru lima menit yang lalu dia begitu santai dan bergairah seolah pemuda itu kelihatan seperti anak kecil yang gampang ia kuasai.

Sekarang lihat saja, baru lima menit berjalan dan keadaan telah berbalik. Shion tidak bisa mengenyahkan pemikiran bahwa pemuda itu sedang berusaha menahan diri untuk segera menyerang, lalu mengulitinya hidup-hidup! Shion merasa seperti hewan buruan yang terpojok saja. Pandangan matanya yang tajam, batin Shion bergejolak, pemuda itu sedang menelanjanginya!

Naruto menyandarkan pantatnya di tepi sungai sambil berpegangan. Sepasang mata biru yang menyala, dari wajah serupa kuningan itu sedemikian mengintimidasi Shion sampai-sampai gadis itu kelihatan mati kutu. Tapi kemudian mendadak keberanian Shion bangkit. Paling-paling Naruto akan menganggapnya wajar saja ia bersikap menantang. Ia mendongakkan wajah sambil membusungkan dada. Menatap mata biru Naruto secara langsung, tidak sembunyi-sembunyi.

Sesaat ia tak sanggup bicara, mata Naruto kelihatan tidak berbahaya seperti yang disangka-sangkanya. Mata itu mempesona, seakan punya daya tarik yang kuat sehingga Shion tak mau berpaling darinya, seakan mata itu menembus langsung ke dalam matanya dan menusuk tepat ke hatinya, menggenggamnya, dan dengan mudah memainkannya.

Shion merasa lebih mabuk. Secara spontan ia pun berkata, ''Ada apa kau melihatku seperti itu?''

Naruto menghela napas berat. Berpaling memandang yang lain. ''Tidak apa-apa,'' katanya. Shion mendengar nada yang menggelitik dadanya pada suara Naruto. ''Kau hanya terlihat lebih cantik dan agak kurus... Aku senang melihat dandananmu.''

Jantung Shion berdebar hangat. Mau tak mau dia pun tersenyum manis. Ia nyaris saja mengatakan 'Aku ini kan milikmu seorang, bego. Jadi sudah sepantasnya aku berdandan secantik ini untukmu.' tapi segera tersadar dan menjawab, ''Benar...,'' ia berhenti. Lalu melanjutkan. ''apa kau bercanda?''

''Tidak, Nona Pirang... Aku tidak bercanda,'' tegas Naruto. Matanya tampak teduh, suaranya terdengar tulus dan sendu hingga Shion merasa tersentuh. ''kau memang bertambah cantik seratus kali lipat. Dan aku tak bisa mengabaikanmu.''

''Eh, makasih,'' Shion berpaling salah tingkah. Mengambil napas, berusaha untuk tidak ambruk saking senangnya mendengar itu. Tiba-tiba ia teringat betapa belakangan ini ia tak pernah merasa sesenang dan sehangat ini sejak ia bercumbu dengan Naruto di rumah pemuda itu... Ia berpegangan pada tepi jembatan kayu dan kembali menatap Naruto dengan sikap lebih santai. Seulas senyum tipis menghias wajahnya dan matanya berubah sayu, tapi binar matanya seakan gadis itu ingin menangis. Ia menggoyang kakinya yang terendam. ''Maksudku bicaralah yang banyak. Kita belum pernah bicara sebulan belakangan ini 'kan?''

''Oh iya''' kata Naruto tersadar. ''aneh sekali. Padahal baru sebulan berlalu, tapi rasanya lama sekali seolah waktu telah lewat berbulan-bulan. Terlalu banyak yang terjadi.'' Naruto berhenti, lalu duduk di tepi sungai. ''dan aku senang semuanya baik-baik saja. Terutama kau, kau kelihatan lebih baik. Meski agak kurusan.''

Mendengar itu, Shion menjadi pedih. Tidak ada yang baik-baik saja selama ini. Baru sekaranglah keadaan itu agak membaik. Ia pun berkata, ''Segalanya itu mulai baik terjadi saat ini. Sebelumnya buruk sekali. Belakangan ini aku sering berharap andai saja kita tak pergi berlibur. Mungkin takkan terjadi kesalahpahaman itu. Aku benci mengingatnya.''

Naruto berkata, ''Tidak ada gunanya menyesalinya. Berandai-andai pun percuma saja. Toh berkat kejadian ini kita berdua mendapatkan banyak hal, misalnya apa yang renggang kembali bersama dan apa yang hilang telah kembali.''

Shion berpikir alangkah bijaknya kata-kata itu. Orang mudah sekali mengatakannya seolah apa yang ia alami menjadi terkesan enteng. Tapi baris kalimat akhir itu membuatnya jadi bingung. ''Apa maksudmu?''

''Masak kau tidak mengerti? Apa kau tidak merasa bahwa hubunganmu dengan Sasori nyaris di ambang putus? Lalu kejadian itu telah menjadikan hubungan kalian membaik,'' pada bagian ini Shion merasakan sesuatu yang ganjil dari nada suara Naruto, seolah nada dan kata-katanya bertolak-belakang. ''lalu aku mendapatkan apa yang selama bertahun-tahun ini terlupakan dari ingatanku. Kalau bukan karna kejadian ini aku mungkin tidak akan ingat orang-orang yang pernah aku kenal.''

Shion merasa kecewa. ''Kau mendapatkan begitu banyak kebahagiaan. Sedang aku? Aku cuma mendapatkan rasa sakit dan kepedihan.''

''Eh, bukankah hubunganmu dan si Sasori itu kembali seperti semula? Kan itu artinya bagus?''

'Bagus menurutmu!' batin Shion dengan marah. Tapi dia pun berterus terang. Tak ada gunanya lagi ditutup-tutupi. ''Dia bukan pacarku. Asal kau tahu saja. Berteman pun tidak.''

Setelah mendengar pengakuan itu, Naruto langsung terkesiap seperti seekor singa yang melihat kawanan rusa dikejauhan, 'Asyik. Ada makanan nih!'. Dia menatap wajah Shion dengan penuh tanda tanya. ''Tapi kau bercerita banyak hal tentang dia waktu itu? Kau bahkan mesra sekali dengannya di sekolah...''

''Jangan ingatkan aku tentang itu. Itu cuma pura-pura saja. Sekadar akting. Iseng-iseng mungkin akan ada yang cemburu.'' jelas Shion seraya membayangkan kejadian tolol saat itu. Rasa bersalahnya timbul begitu saja dan membuatnya ingin menangis. Sekarang, dia tak mau berpaling dari muka Naruto. Air matanya nyaris tumpah. Tapi dia bisa menahan diri.

Alis Naruto berkerut lama. Pelan-pelan air mata Shion berlinang. Dagunya bergetar. Naruto bertanya, ''Siapa yang mau kau buat cemburu?'' tapi kemudian terpaku pada mata Shion yang berurai air mata.

''Kau...'' jawab Shion dengan penuh tekanan.

''Aku?'' tanya Naruto makin tak mengerti. Perlu dijelaskan bagaimana kondisi otak pemuda itu setelah mendengar jawaban tanpa basa-basi itu? Rumit sekali. Otaknya bergulat, tapi perasaannya bisa langsung memahaminya berkat tatapan mata gadis itu, seolah perasaannya sedang jadi penonton pergulatan seru di dalam kepalanya, lalu mengatakan, 'Kapan makhluk-makhluk goblok ini akan mengerti?' atau seperti nonton film di bioskop, lalu akan terdengar seruan dari penonton, 'Astaga Naga!' dan 'Sudah kuduga!' dan 'Pembohong!' dan 'Aku mengerti...' Mata Naruto membelalak selama sedetik, lalu menenang... dan mereka pun berpandangan cukup lama. Kali ini seakan perasaan mereka yang sedang berbicara, antara perasaan terluka dan perasaan yang mendamba.

Naruto mendesah panjang. Dia berpaling memandang ke depan. Tatapannya menerawang, penuh kesenduan. Lalu ia berkata, ''Sebelum kau melakukan semua keisengan yang jahat itu, aku jauh-jauh hari telah cemburu dan marah pada si dungu itu. Saking marahnya, berkali-kalu aku tergoda untuk menghajarnya sampai babak belur. Nyatanya itu pun terjadi. Sampai saat itu aku belum menyadari apa-apa. Ada satu hal yang tak bisa kupungkiri setiap kali aku melihat kedatanganmu. Aku merasa senang dan gembira. Kadang-kadang aku gelisah. Pada awalnya perasaan itu cuma secuil saja. Baru setelah kau katakan tidak bisa datang untuk dua minggu ke depan, aku jadi sering memikirkanmu, juga amat kesepian. Dan aku tidak bisa mengenyahkan keinginan untuk melihatmu berada dekat-dekat denganku lagi. Intinya aku rindu padamu, Non,'' Naruto mendelik. Sewaktu melanjutkan, suaranya berubah menjadi amarah. ''Tapi setelah melihatmu di teluk berpegangan tangan dengannya, aku menyadari aku sakit, lalu harus melihat kalian bergandengan tangan, berpelukan, bahkan tak tanggung-tanggung dia menciummu di depan mataku sendiri. Kau sukses besar. Kau benar-benar ahli soal akting dan menyakiti perasaan. Tapi kuberitahu ya Nona, lain kali jangan suka main-main dengan perasaan orang!''

Shion menunduk, dan terisak. ''M-maaf... M-ma-maafkan aku...'' katanya tersendat-sendat.

''Maafkan aku juga,'' kata Naruto menenang. ''tak seharusnya aku mengatakan itu padamu. Aku kelepasan.''

Shion mengangguk. ''T-tidak apa-apa... Aku mengerti... K-kau pantas marah padaku.'' lalu terisak lagi. Terbayang kesedihan dalam wajah Naruto. Tapi diam saja menatap kepala gadis itu yang terguncang-guncang, memperhatikan. Dalam waktu yang cukup lama mereka tidak bicara. Sibuk dengan urusan hati mereka sendiri.

Seusai tangis gadis itu agak mereda, Naruto berkata, suara bergejolak. ''Malam itu, saat aku melakukan ... Itu padamu, aku tak bisa menahan diri lagi. Kau terlalu cantik di mataku... Jujur saja, aku jadi sering memperhatikanmu. Bahkan ketika kubawa kau ke kamarku malam itu, aku punya keinginan untuk menjadikanmu milikku...''

Shion mendongak, pandangannya berkaca-kaca. ''Seharusnya aku ada untukmu sewaktu kau sakit saat itu. Tapi pikiranku sedang keruh. Menerima kenyataan bahwa kau berbuat begitu padaku sudah sulit. Orang-orang disekitarku mengatakan macam-macam. Kemudian saat aku menerimanya dan membencimu sebagai orang bermuka dua, lalu saat kenyataan sebenarnya terungkap, aku sangat hancur. Seminggu belakangan ini aku nyaris seperti orang gila. Mengulang-ulang lagi omong kosong itu tiap saat membuatku muak... Lalu aku dihadapkan pada bayangan bagaimana gadis pondokan itu merawatmu... bayangan itu terlalu pedih... Kalau saja sejak awal aku lebih menuruti kata hatiku...'' bibir Shion terkatup rapat. Dia memejamkan matanya, lalu berpaling. Pedih yang tergambar dalam wajahnya begitu kentara sehingga Naruto merasa ingin menghiburnya dengan cara memeluk gadis itu erat-erat.

''Huh...'' Naruto membuang napas. ''Aku mengerti.'' katanya sambil merenung. ''kejadian ini benar-benar diluar dugaan. Kau dan aku, seperti yang orang bilang adalah korban dari kesalahpahaman. Tapi berkat itu, Nona Pirang, aku melihat banyak hal dengan lebih jelas. Mestinya kau katakan saja semua kepura-puraan itu sejak awal. Tapi apa mau dikata? Toh ceritanya sudah begitu. Kalau kau katakan lebih awal, mungkin saja kita tidak akan berada di sini. Aku tidak akan mendapatkan ingatanku, dan tidak akan menyadari perasaanku padamu, lalu kita akan tetap kita yang duduk berleha-leha dengan perasaan yang tidak akan pernah bisa kumengerti sampai aku kehilanganmu. Kau lihat 'kan? Aku merasa tidak apa-apa mendapat sakit sebentar jika bayaran yang kuterima lebih banyak seperti ini.''

Shion baru saja akan mengatakan itu. Tapi Naruto mendahuluinya. ''Kau mengatakan itu seperti tidak pernah terjadi apa-apa padamu. Padahal kau nyaris mati.''

''Memang begitu 'kan? Seperti inilah kita sebelumnya, sewaktu kau bersandar padaku di Taman Konoha, sewaktu kita berangkulan di rumahmu, atau di rumahku. Kau ingat tidak? Dan sekarang kita di sini, kembali seperti saat-saat itu.''

Shion merona. Ia mengangkat pandangannya. Melihat wajah Naruto. Melihat garis-garis itu lagi, dan mata sayu ketika pertama kalinya ia melihatnya di gang sempit itu. Seraut wajah ganteng yang memancarkan kehangatan lembut ke dadanya. Pangeran gagah perkasa yang menghabisi para penyihir jahat untuk menyelamatkannya. Andai saja para pangeran berwujud pemuda pirang bego dengan bibir tak acuh begitu, dan gemar menunggang kuda ke sana ke mari menyelamatkan gadis-gadis. Mungkin saja Shion akan terbakar api cemburu saking banyaknya saingan. Dia jadi bertanya-tanya, apakah ada perempuan lain dalam hidup Naruto sebelum ini? Pikiran itu menimbulkan amarah kecil dalam hatinya.

Tanpa ia sadari Naruto juga membalas tatapan matanya. Untuk sementara waktu mereka terdiam. Apa yang dirasakan pemuda itu? Seperti yang sering ia rasakan ketika dia melihat mata gadis itu. Kehangatan yang mengalir lembut di dalam darahnya. Kehangatan yang membuatnya lupa segala-galanya. Kehangatan yang menjadikan semua kewarasannya lenyap begitu saja. Gadis itu berkulit bersih~wajahnya bersemu merah jambu, agak pucat, dan cantik bagaikan bidadari. Naruto tak bisa menahan hasrat untuk memeluknya segera. Takut-takut kalau gadis itu bakal diculik oleh penjahat begitu dia mengedipkan mata. Tapi kemudian terbayang dalam benaknya bayangan gadis itu yang mesra sekali dengan Sasori. Ketika jantungnya terasa sakit melihatnya. Dia ingin marah. Sesaat kemudian penjelasan gamblang gadis itu membuatnya kembali tenang. ''Apa aku boleh memelukmu sekarang?'' pintanya dengan nada memaksa.

Kelopak mata Shion mengerjap. Mendengar permintaan yang kedengaran seperti perintah itu langsung mengusik rasa rindunya. ''Ya,'' katanya setengah berbisik. Dalam sekejap saja, gadis itu telah berada dalam kungkungan Naruto. Pelukan itu menyulut gairah Shion. Shion memeluk leher Naruto. Naruto meremas baju Shion. Remasan itu kasar. Shion merasa tali branya ditarik-tarik paksa.

Naruto mendorong. Tubuh Shion condong ke belakang. Shion melepaskan pelukannya, lantas menopang tubuhnya dengan kedua tangannya. Serbuan bibir Naruto ke bahu, leher, dan telinganya mengundang geli. Acap kali merasa kegelian dengan tingkah pemuda itu yang gemar mengendus dan mencium sembarangan, dia akan menjambak rambut~sebagaimana yang diingatnya saat pergumulan seru diatas sofa dan kasur itu. Kali ini rangsangannya sepuluh kali lipat. Jambakan itu diikuti gigitan gemas di rambut dan telinga Naruto, juga disertai suara 'Ah!' 'Ngggh!' panjang.

Lalu pelukan emosional sekaligus menyenangkan itu pun terhenti. Dengan satu hembusan napas panjang, Naruto melepaskan kungkungannya. Shion megap-megap, merasa kecewa berat. Matanya tampak merana. Perasaan indah itu selesai terlalu cepat. Baginya, ketika mrmbandingkan perasaan indah singkat itu dengan apa yang dialaminya sebulan ini, keindahan itu tak ada apa-apanya. Shion menginginkannya lagi, lebih lama, agar kerinduannya terpuaskan. Dia tak mau menyerah terlalu cepat pada bagian akhir yang mrngecewakan ini. Dia pun turun ke sungai, jantungnya berdenyut-denyut, lalu melompat memeluk Naruto erat-erat, bahkan sampai kuku-kukunya mencengkram tulang belikat Naruto. Wajahnya diusapnya ke leher Naruto, menghirup bau khas pemuda itu yang samar-samar masuk menggelitik indranya. Selama sesaat Naruto dibuat kaget dengan gerakan tiba-tiba gadis itu.

''Aku merindukanmu,'' kata Shion sambil tersengal. Lalu berganti memeluk leher Naruto.

Naruto memandanginya dengan gembira. Seulas senyum pun menghias wajahnya. Matanya berubah sayu. Dia mengendus rambut Shion, mengusap kepalanya,dan merangkul pinggangnya. ''Aku juga,'' bisiknya tanpa daya. Suaranya lemah, tapi getaran emosi yang terpancar mengusik telinga gadis itu.

Shion berkata, matanya berair. ''Maafkan aku.''

''Maafkan aku juga. Aku tidak sengaja melakukannya.''

Shion akhirnya menangis. Suaranya kecil, lalu makin besar menjadi isakan nyaring. Air matanya bercucuran. Naruto membiarkannya, hanya mengelus punggung dan kepala Shion. Lama setelah itu Shion melepaskan pelukannya, tapi Naruto enggan melepaskan rangkulannya. Shion memegangi pipi Naruto. Mata ungunya yang berkaca-kaca terpaku pada mata biru itu. Wajah mereka berhadapan, hampir tak berjarak. Bibir mereka kemudian bertemu. Napas mereka menderu. Udara seakan bingung mau masuk ke hidung siapa lebih dulu, dan menjadi jengkel karna ditarik-tarik oleh hidung-hidung brengsek itu. Kemudian terjadilah hisapan yang amat singkat dan memabukkan dari dua bibir itu. Lalu sekali lagi, dan sekali lagi. Sampai akhirnya menjadi lumatan emosional dengan hasrat terbakar. Kepala mereka meliuk-liuk liar, seolah kedua bibir itu berusaha memuaskan tuntutan hati mereka yang kehausan. Shion menarik kepala Naruto. Naruto menahan kepala Shion.

Pelukan mereka berganti remasan dan jambakan. Tanpa sadar mereka telah berada lima belas meter jauhnya dari jembatan. Bertindihan di tepi sungai. Naruto benar-benar menguasai gadis itu. Dia memenjarakan tangan gadis itu, sedang gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.

Berdebar-debar, Shion serasa melayang-layang. Naruto menyesap leher Shion. Shion menggelinjang kegelian. Dia menoleh ke samping. Naruto mencumbui lehernya, lalu telinganya. Dia meremas bahu Naruto sambil terengah. Bibir Naruto kemudian menyusuri pipinya, lantas bibir mereka kembali terkait. Lidah Naruto menerobos masuk ke dalam bibirnya. Lidah Shion menyambut dan bergulat. Sensasi memabukkan itu makin membludak tanpa henti, seakan sensasi itu menarik pikirannya terperosok terlampau jauh ke dalam fantasinya. Hisapan Naruto turun ke tulang selangkangan Shion. Shion menggeliat seperti cacing. Matanya merem melek. Erangannya pun terdengar jelas saat mulut Naruto bergelut dengan dadanya. Mencocol-cocolnya dengan mulutnya itu. Rangsangan yang diterima Shion melihat Naruto begitu hebat ke tubuhnya. Tampaknya bagai mimpi saja, kemudian genggaman tangan Naruto terlepas. Tangan itu beralih menggenggam sikunya, lalu lepas lagi, dan berakhir meremas dadanya. Shion terkulai nyaris tak mampu melawan. Rangsangan itu menyerangnya terlalu hebat, gejolak hasrat berkobar membakar dadanya.

Tiba-tiba Naruto berhenti menciumi dada Shion yang masih terbalut pakaiannya itu, namun tangannya masih meremas. Dia menatap wajah Shion, terangsang dengan pipi Shion yang memerah dan bibirnya yang membuka itu. Lantas ia menyerbu bibir gadis itu lagi. Tangannya ke bawah. Jari-jarinya menyibak rok, tangan lainnya menjamah bongkahan pantat Shion. Jemarinya masuk ke celah celana dalam Shion, lalu meremas pantatnya, seperti cengkraman laba-laba.

''Ahhh...'' Shion mengerang. Sekujur tubuhnya dikuasai gejolak nafsu liar. Birahi itu memberi sensasi luar biasa memabukkan bagi tubuhnya. Jiwanya terasa ringan... Sensasi itu menariknya lebih tinggi... Makin tinggi ke angkasa... Ia merasa puncak itu akan segera tergapai. Lalu sensasi itu mengumpul pada satu titik, hingga segala-galanya lepas tanpa bisa ia kendalikan. Hingga ia tersadar baru saja mengeluarkan satu teriakan nyaring selama sedetik. Dan seluruh saraf di tubuhnya serasa berkedut-kedut. Semuanya terpusat di selangkangannya. Ia mendapati dirinya sedang menggigit bahu Naruto, jemarinya mencengkram punggung Naruto sambil kakinya mengapit pinggang pemuda itu. Kemudian ia merasa lemas, tak berdaya, dan kuyu.

Naruto bangkit, menegakkan badannya, berlutut sambil memperhatikan muka puas gadis itu dengan keheranan. Reaksi singkat itu sudah dikenalinya, bahkan sebelum ini pernah dilihatnya, reaksi Shizuka ketika mencapai puncak senggamanya. Caranya sama persis seperti itu. Teriakan teredam nan nyaring. Cengkraman tangan yang kuat sekali. Pinggul yang kejang-kejang. Lalu menjadi begitu diam, hampa seperti pecandu ganja. Naruto bertanya-tanya secepat itukah? Padahal dia belum apa-apa. Hanya ciuman liar dan remas-remas sana-sini saja. Waduh, bakalan seru nih. Dia memandangi wajah gadis itu yang makin cantik di matanya sambil tersenyum puas. Pipi gadis itu merona. Warna merah itu begitu kontras dengan kulitnya yang pucat. Bibirnya... Yang membuka sedikit itu menggelitik hasratnya. Tapi ia mendiamkannya sebentar sampai Shion akhirnya membalas tatapannya, kemudian setengah bangkit menyangga tubuhnya dengan sikunya. ''Apa yang terjadi padaku?''

''Tidak terjadi apa-apa. Cuma hal biasa.'' Dengan selesainya jawaban itu Naruto langsung menyerangnya. Gadis itu menyambut tanpa perlawanan. Tenaganya seakan terkuras habis. Tetapi semenit kemudian gairahnya tersulut kembali. Ia pun kembali melenguh keenakan, lalu sensasi itu datang... dalam kurun waktu sepuluh menit ia mengalami puncak yang menyenangkan itu lagi. Kali ini ia tersadar sepenuhnya. Ia sadar ketika sensasi itu datang tenaganya bertambah berkali lipat. Bahwa ia baru saja mengompol. Bahwa jari-jari pemuda itulah yang menyentuh daerah pantat dan berulang kali menyentuh bagian paling sensitif di tubuhnya. Selangkangannya berkedut-kedut. Pinggangnya terangkat. Sampai puncak itu selesai ia masih mengapit dan memeluk tubuh Naruto. Lalu ia terhempas, terengah-engah malu bukan kepalang. Dah besar kok ngompol?

Naruto bangkit dengan semringah. Shion bergerak menyamping sambil menutupi mukanya. Ia berkata dengan malu, ''Jangan katakan apa-apa.''

''Tidak ada yang perlu dikomentari, Manis,'' kata Naruto. ''Kau hanya perlu mandi.'' Ia lantas mengangkat tubuh Shion, turun ke sungai dan berendam. Ia mendudukkan Shion, lalu mengambil tempat duduk di samping gadis itu.

''Jangan lihat. Hadap sana!'' bentak Shion seraya mendorong wajah Naruto dengan tangannya.

''Baik.'' Naruto menurut, memutuskan tidak ada gunanya berdebat, lalu berpaling. Dengan muka merah padam Shion lantas melakukan sesuatu dengan tubuhnya. Selama beberapa saat Naruto memandangi pohon-pohon dengan canggung.

''Sudah,'' kata Shion tiba-tiba. ''angkat aku. Sekarang.'' lanjutnya ketika Naruto baru saja berpaling. Sebentar kemudian mereka telah duduk bersisian di tepi sungai. Dengan agak mengantuk Shion menyandarkan kepalanya ke bahu Naruto. Sambil mengingat-ingat hari-hari indah ketika ia bersandar seperti ini. Naruto merangkul pinggang gadis itu, lantas mengecup pipinya agak lama. Shion memejamkan matanya rapat-rapat. Sejatinya kecupan itu meninggalkan kesan yang amat dalam bagi diri Shion. Setelah kecupan itu usai ia pun bertanya, ''Ceritakan padaku tentang Ayame. Mengapa kau begitu mesra dengannya?''

Naruto mengerutkan kening. ''Maksudmu Ay-chan? Dia adik angkatku,''

''Darimana kalian saling kenal? Kok bisa dia jadi adik angkatmu?''

''Ceritanya panjang,'' sahut Naruto.

''Ceritakan padaku.'' Shion menuntut. Maka mulailah Naruto bercerita. Shion mendengarkan dengan perhatian penuh. Setelah mendengarkan cerita itu, barulah ia tahu kalau ia belum tahu apa-apa sedikit pun mengenai pemuda pujaan hatinya itu. Jadi dia pernah kabur dari rumah, lalu hidup luntang-lantung di jalanan selama berbulan-bulan? Tak bisa ia bayangkan pemuda di dekatnya ini bisa sekalem ini setelah menjalani hidup seperti itu...

''Ceritakan tentang Nee-chanmu itu.''

Tak ada jawaban selama semenit. Shion mendongak penasaran. Tapi kemudian Naruto menggeleng. Wajahnya berubah sendu. Ia membuang napas. ''Payah,'' katanya. ''Keadaan sudah benar-benar berubah sejak aku berpisah dengan mereka dulu. Selama tiga hari aku menginap di sana Nee-san juga banyak berubah... Singkatnya kami tercerai-berai. Tapi setidaknya masih ada yang tersisa. Meski tidak lengkap. Aku cukup bahagia...''

''Maafkan aku.'' kata Shion. ''tidak seharusnya aku menanyakan itu.''

Naruto berkata, ''Tidak apa-apa. Aku juga ingin menceritakannya. Lagi pula aku tidak mau menyimpannya sendirian.''

''Aku mengerti,'' balas Shion. Dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan. ''aku juga punya mama. Dia adalah orang yang paling kusayangi dalam hidupku. Dulu sewaktu mama masih hidup. Segalanya terasa lengkap. Tapi kecelakaan mobil telah merenggut mama dariku. Sejak saat itu aku merasa kesepian, dan papa jadi gila kerja.'' Shion menggigit bibir. Dirapatkannya tubuhnya kepada Naruto.

Naruto mendengarkan dengan penuh minat. Rasanya begitu ringan jika kita punya masalah yang sama dengan seseorang. Kita akan langsung akrab dan mencurahkan perasaan kita pada masalah itu. ''Ibuku juga adalah orang yang paling kusayangi. Sekarang aku ingat pernah mematahkan tangan seseorang karna berani menghina ibuku...'' Mereka pun tenggelam dalam obrolan mengenai ibu-ibu mereka yang tua-tua itu. Suara-suara mereka mengudara berbaur bersama suara lainnya. Tidak ada yang berusaha mendominasi. Percakapan itu mengalir begitu saja layaknya air sungai. Sekonyong-konyong Shion mulai merasa letih. Shion pun menguap. Naruto langsung mengerti.

''Ngantuk ya?'' tanya Naruto. Shion mengangguk. Dia menggerakkan tubuhnya sedikit, lalu memeluk Naruto dan menyembunyikan wajahnya di leher Naruto. ''Tidurlah, Nona Manis. Biar aku jaga.''

''Kau tidak apa-apa, sayang?'' tanya Shion. Matanya hampir terpejam.

Naruto mengangguk. ''Ya, sayang.'' sahutnya lembut. Shion menekuk kakinya merapat ke kaki Naruto. Naruto mengangkat gadis itu sampai ke pangkuannya. Mengecup beberapa kali wajah Shion. ''Sekarang tidurlah.''

''Bangunkan aku sejam lagi ya?''

''Baik, sayang.'' Dalam hitungan menit, gadis itu pun sudah mendengkur. Tinggallah Naruto seorang diri, bersama suara-suara angin dan gemerisik dedaunan rimbun...

Naruto termenung. Dia memikirkan tempat-tempat bagus untuk berkencan seperti restoran di tepi pantai, tempat mereka menyantap makanan berdua saja, dengan pemandangan indah nan romantis, atau di suatu tempat yang menawarkan pemandangan sinar rembulan dan gemintang, lalu kecantikan gadis ini akan menggugah perasaan lembutnya, atau yang kecantikannya tampil bagaikan bunga Mimosa... Kemudian pikirannya terbayang sebuah dermaga, suara debur ombak menghantam karang... Disini, di dermaga, untuk pertama kalinya cinta itu menyatu antara dua hati yang jatuh cinta... Ketika si gadis tersenyum dan kekasihnya tak mampu bicara... Dia yang dengan pesonanya telah meluluhkan segala kebekuan yang ada... Di bawah bayang-bayang langit biru dan hiruk pikuk orang-orang yang tak lagi berarti, mereka berpelukan... Mencurahkan segala gejolak rindu yang selama ini terpendam jauh dalam perasaan terdalam mereka...

Naruto menarik napas dalam-dalam dan membuangnya. Sambil memandang sekeliling ia membatin. Tempat ini terlalu barbar dan agak liar. Tapi bagaimana pun juga, ini lebih baik daripada harus tidak sama sekali. Lagipula tempat ini lumayan nyaman dan jauh dari kebisingan. Ia menatap wajah si gadis, wajah yang tenang, begitu damai...

Tapi kemudian ia merasa sedih. Dia memikirkan gadis lainnya yang tinggal pada bangunan sederhana itu... Gadis bermata tajam. Wajahnya yang kaku dan sinis itu terbayang jelas dalam benak Naruto. Sikapnya yang gampang marah, dan senang membentak itu entah bagaimana menimbulkan kehangatan lain dalam diri Naruto. Tanpa sadar dia malah membandingkan Shion dan Shizuka. Mereka bagai dua Sifat yang bertolak belakang. Pikirannya melangkah jauh ke depan. Dari Shizuka dia melihat seorang ibu rumah tangga jempolan. Begitu dewasa, dan penuh perhitungan. Ada beratus-ratus perempuan seperti itu di Konoha, perempuan-perempuan yang lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah, yang bersedia hidup dengan uang pas-pasan, yang gemar marah-marah bila melihat segala sesuatu tak ada yang beres, yang akan siap berceramah panjang lebar bila kita terlalu boros membelanjakan uang, padahal ada banyak kebutuhan yang belum terpenuhi. Perempuan yang gemar mengatur segalanya, seolah pendapatnyalah yang benar dan kita akan tampak seperti bocah sebelas tahun yang tak tahu apa-apa. Perempuan yang cerdas, cantik, dan efisian. Membayangkan Shizuka sebagai gadis yang romantis susah sekali. Dari Shion ia melihat asmara penuh petualangan. Teman hidup yang baik, yang akan mendukung setiap keputusan yang kita pilih. Pada suaminyalah segala tindakannya dilakukan. Perempuan yang menomor satukan kita, yang akan selalu khawatir bila kita pulang terlambat, yang akan menyambut kita dengan pelukan rindu dan mulai mengorek-ngorek segala kelakuan kita selama berjam-jam diluar rumah. Perempuan manja, melankolis, dan agak kekanak-kanakan. Selalu menjadikan kita tempat bersandar dari segala problematika hidup ini. Membayangkan Shion sebagai ibu rumah tangga juga lumayan baik dan sekseh. Mana yang lebih baik siapa yang tahu? Bayangan kita tentang sesuatu seringkali salah. Waktu akan menampakkan segala sesuatunya dengan sendirinya dan sering menampar kita dengan kenyataan yang sebenarnya.

Dia memperhatikan wajah Shion yang tidur. Ia mengecup keningnya. Wah bagaimana kalau dua-duanya saja? Dua-duanya akan sakit. Terutama gadis ini, dia takkan tega melakukan itu. Dia harus memilih satu diantara keduanya. Dia tahu artinya akan ada yang terluka.

Dia sudah berjanji pada Shizuka. Belum ada dua bulan, dia telah mengkhianati gadis itu. Tapi yang satunya begitu rapuh, dan dia ingin menjadi pelindung baginya. Dia memperhatikan Shion sekali lagi. Dia telah mencintai gadis itu jauh sebelum Shizuka. Dia merasa... Dia merasa sebagai laki-laki tangguh bila berhadapan dengan Shion. Tapi dengan Shizuka? Hubungan mereka baru seumur jagung. Dan itu pun begitu mendadak, terburu-buru. Naruto menghitung sudah berapa kali gadis itu marah padanya. Naruto menggeleng. Dia akan kelihatan seperti bocah ingusan yang gemar berbuat salah di mata Shizuka. Dia sudah bisa membayangkan komentar-komentar pedas yang akan diberikan gadis itu, 'Sudah kukatakan padamu jangan letakkan itu di sana!' sampai 'Mengapa dulu aku mau menerima lamaran orang sepertimu?!' sampai 'Makan yang benar. Jangan kebanyakan melamun.' sampai 'Mandi sana, bodoh. Dan jangan kotori lantai dengan sepatumu yang dekil itu,' Padahal laki-laki mana pun di dunia ini paling benci dianggap bocah ingusan. Mungkin itulah sebabnya mengapa gadis-gadis manja dan kelihatan rapuh itu lebih laku ketimbang yang berotak cerdas, dan suka mengatur itu.

Naruto menoleh ke arah celah-celah dedaunan rimbun, memperhatikan cahaya kecil-kecil itu tanpa arti. Rasanya amat membingungkan. Dia sudah bisa menerima Shizuka dan rela kehilangan Shion. Namun segala-galanya jadi kacau saat mereka bergumul tadi. Dia gelap mata. Gadis ini selalu membuat kewarasannya lenyap selama beberapa waktu dan dia menjadi bocah nekad yang tidak peduli pada tindakannya. Lalu setelah sadar ia akan berkata, 'Apa yang telah kulakukan? Bodo amat. Yang penting aku cinta padanya.' Sejak dia baru datang tadi atau entah kapan saja Naruto bertemu dengannya. Jantungnya akan berdebar-debar hingga perutnya terasa mulas. Terutama di tempat parkir itu. Entah mengapa ia merasa sakit. Jantungnya nyeri, dan pedih melihat mereka berpelukan begitu. Padahal waktu itu dia telah menerima segala perasaannya yang tak berbalas. Tapi tetap saja ia tak bisa mengenyahkan rasa sakit dan perasaan rindu itu. Coba lihat dia, dia begitu cantik, amat mempesona, bagaikan sekuntum bunga Mimosa yang baru mekar. Kulitnya pucat sehalus salju... Matanya... Matanya yang indah bagai permata... Terutama rambutnya... Yang pirang pucat itu... yang panjang lurus bagai sutra... dan bertambah cantik jika tertiup angin sepoi... Kecantikannya selalu menggugah sisi laki-laki, kejantanan, dan ketangguhan Naruto... Akhirnya seperti yang sering diulang-ulang sejak peradaban terbentuk untuk yang pertama kalinya. Aku jatuh cinta padanya... Aduh, mirip dewi saja. Naruto mengerutkan kening. Dewi yang mana dia tak tahu namanya, mungkin Dewi Nona Cantik Jelita? atau Dewi Kepo? Atau Dewi Melankolis yang suka menuduh sembarangan...

Dengan penuh damba wajahnya melembut. Apa dia sudah memutuskan? Belum ada yang diputuskan. Dia perlu waktu untuk memikirkannya. Dia memikirkan keduanya lagi. Kali ini pikirannya agak berbau porno. Sekonyong-konyong mukanya memanas. Dia segera menepiskan pikiran kurang ajar itu, dan berpaling ke sesuatu yang lebih romantis... Tak lama kemudian dia mendesah, merasa letih...

Shion terbangun dengan perasaan bahagia. Dia butuh waktu lima detik untuk menyadari bahwa itu bukanlah mimpi. Kelopak matanya terbuka setengah, memandang langsung ke wajah Naruto. Sekonyong-konyong kehangatan itu muncul samar-samar dalam hatinya. Sekonyong-konyo

ng dan sekonyong-konyong lagi...

''Kau sudah bangun?'' tanya Naruto. Ia menatap gambaran wajah Shion yang teramat dekat dalam pandangannya.

Shion menguap. ''Syukurlah ini bukan mimpi...'' Ia tersenyum. Senyumnya sedemikian lebar sampai-sampai Naruto menyangka ia sedang bermimpi. Shion memegangi pipi Naruto dengan telapak tangannya. Lalu mengecup pipi lain pemuda itu, lantas menggosokkan wajahnya penuh perasaan. Ia mulai tersengal sekaligus merasa bahagia. Air matanya menggenang, kemudian bergulir. Orang bisa saja menganggap ini lebay, tapi persetan dengan omongan orang!

''Nah, kau menangis lagi, sayang...'' tegur Naruto. Ia menggeleng lambat. Kata 'Sayang' itu entah bagaimana merasuk menusuk-nusuk hatinya. Senyumnya makin lebar hingga gigi putihnya yang tak bercela itu tampak menggemaskan. Kemudian air matanya bercucuran, tanpa kendali. Deru napasnya makin terdengar jelas, sejelas suara bisikan.

''Apa yang~''

''Kumohon jangan bicara...'' Suaranya sedemikian memprihatinkan hingga Naruto jadi bungkam. Selanjutnya tangisnya pun makin nyaring, begitu nyaring menjadi tangisan yang menyayat, bagai suara lolongan serigala di malam purnama..

''Dia menangis. Kurang ajar! Kita harus bertindak.''

Naruto berpaling ke asal suara. Dia melihat tiga orang gadis, salah satunya adalah Karin. Mereka sedang berdiri dekat dinding tanah di dekat gang. Naruto melihat mereka satu persatu. Gadis yang berada di tengah-tengah itu jelas Ino, teman Shion. Lalu yang berdiri paling dekat dengan dinding adalah Sakura, teman Shion juga, pacar Sasuke. Sakura dan Karin buru-buru membungkam mulut Ino sambil memberi isyarat dengan telunjuk agar jangan berisik. Pikiran rasionalnya menyergapnya. Keadaan berdua nan romantis itu lenyap. Menjadi tontonan gratis itu membuat Naruto agak terusik.

Naruto ingin bicara. Tapi melihat Shion dan tangisannya, ia pun mengurungkan niatnya. Ketiga gadis itu mendadak menyadari bahwa mereka pengganggu, lalu dengan gerakan seolah paham mereka pun langsung menyingkir. Terdengarlah percakapan-percakapan mengudara dengan cukup jelas.

''Kau seharusnya tidak bicara, Ino-chan, apalagi dengan suara sekeras itu.'' itu adalah suara Sakura. Naruto mengenali suara gadis itu. Tidak mungkin salah. Nada yang penuh dengan tekanan, dan kedengaran seperti orang sewot itu tidak mungkin Karin atau Ino.

''Cowok itu membuatku sebal. Coba kalian lihat dimana letak telapak tangannya yang kurang ajar itu,'' Naruto langsung tersadar dan menarik tangan kanannya yang memegang pangkal paha Shion. Tiba-tiba ia jadi gugup. ''Pasti dia melakukan sesuatu pada Shion. Lihat saja bagaimana Shion kita menangis sehisteris itu. Aku akan menanyakannya begitu Shion selesai. Kita harus memperingatkannya. Laki-laki selalu begitu! Mengambil kesempatan dalam kesempitan. Baik apanya? Tampangnya saja sudah mencurigakan kok dibilang baik. Heran aku apa yang dipikirkan Shion sampai jatuh hati sama cowok model kayak gitu. Dih, amit-amit!''

Sakura menyahut, ''Kau melihat tangannya? Aku malah melihat wajahnya. Pada saat detik-detik sebelum Shion bangun. Lima atau enam detik kukira. Rasanya dia kelihatan aneh. Agak lain seperti... Seperti... tidak punya roh. Kosong sekali mukanya itu. Hiii... Bila mengingatnya lagi, aku jadi merinding...''

''Pelankan suara kalian,'' tegur Karin. ''dia bisa mendengar kita dari jarak ini.''

''Biarlah,'' kata Ino keras-keras. ''biar dia dengar. Supaya tidak berani macam-macam. Setelah ini kita harus bicara pada Shion. Dia terlalu tergila-gila padanya. Dia bakal hancur kelak jika terjadi sesuatu.''

Sakura berkata, ''Kebencianmu terlalu berlebihan Ino-chan. Kebencian seperti itu bisa berbalik padamu. Kata orang, 'Cinta dan benci itu beda tipis'.''

Ino mengernyit. ''Aku hanya memikirkan Shion, Sakura-chan. Gadis itu rela harga dirinya diinjak-injak demi cowok itu. Aku telah melihat macam-macam kisah gadis kayak Shion yang hancur lebur jika si cowok meninggalkannya.'

Karin menyahut, ''Tapi Shion 'kan bukan kisah cewek-cewek itu. Dan Naruto-nii-san juga bukan cowok-cowok itu '

Naruto mendengus. Wah, sok tahu amat cewek yang satu itu, batinnya jengkel, belum apa-apa dia telah meramalkan segala sesuatunya akan terjadi persis seperti yang dia katakan. Dia memelototi Shion. Tapi wajah gadis itu yang terpampang di depan wajahnya menjadikan kemarahannya sirna.

''Udah donk nangisnya,'' tegur Naruto sambil mengusap rambut Shion. ''kita lagi kencan 'kan, sayang?''

Shion pun melepaskan sebelah tangannya dari leher Naruto, lalu mengusap-usap matanya. Naruto membantu. Ia mengusap pipi gadis itu perlahan, sementara pandangannya memperhatikan poni Shion dan matanya yang berkedip-kedip. ''Ayo ke kedai es krim.''

''Ngapain?'' tanya Shion.

''Makan es krim,'' jawab Naruto. ''aku yang traktir. Seingatku kita jarang makan es krim berdua, bahkan mungkin tidak pernah.''

Shion mengangguk ringan. Tapi tak menjawab. Naruto mengamati Shion merapikan wajahnya. Dia melongo sebelum akhirnya meraih pergelangan tangan Shion. Shion menoleh terkejut. Sekilas mengerutkan alis memandang Naruto. Tanpa menyiakan waktu, dengan gerakan begitu cepat Naruto menyerobot bibir Shion. Lantas berangkulan erat. Shion menyambut pasrah. Jantungnya berdenyut nyeri. Nyerinya seakan mengalir ke nadinya, memancing fantasynya lagi. Mulutnya beradu dengan sengit. Kemudian ciuman itu terlepas tiba-tiba. Mereka tersengal-sengal, tak puas sambil menjilati bibir mereka.

Naruto memutuskan berpaling ke arah sungai, karna jika dia terus-terusan memandang Shion, dia tidak akan bisa berhenti. Bisa-bisa mereka akan di sini sampai malam tiba, seperti korban bencana alam. Shion kelihatan ingin marah. ''Ayo mandi. Kita tak bisa masuk ke kedai dalam kondisi kotor seperti ini. Apa kata orang nanti?''

''Apa kita akan masuk dengan basah kuyup juga?'' tanya Shion.

''Tak masalah.'' kata Naruto cuek. ''kau mau turun tidak, sayang?''

Shion mengangguk terpaksa. Ia pun nyemplung ke sungai diikuti Naruto. Shion lalu menggosok ini itunya yang agak lengket berkat kencan emosional dan penuh gairah itu. Dia merengut marah mengingat cowok itu yang memutuskan ciuman mereka secara sepihak berdetik-detik lalu. Dia menoleh ke samping, mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lalu terkejut dengan, 'Kok nggak ada?'.

Pandangan Shion berpaling ke semak-semak, lalu ke pohon-pohon, barangkali saja pemuda itu sedang pipis. Tak ada seorang pun kecuali dirinya. Tiba-tiba dia merasa takut kalau-kalau semua ini hanya mimpi buruk belaka, seperti yang disaksikannya dalam film horror amatiran itu. Dia hendak naik ketika sekonyong-konyong kakinya menyenggol sesuatu di dasar sungai. Dia mendapati Naruto sedang berbaring telentang seolah-olah sedang tidur. Dia mengamatinya selama beberapa waktu. Bukan itu masalahnya, hanya saja wajahnya yang tenang, nyaris kosong itu tampak bagai mayat. Shion terkesiap takut ketika mata Naruto terbuka tiba-tiba, melihatnya dengan tajam. Caranya menatap langsung ke mata Shion itu membuat adrenalin gadis itu berpacu.

Naruto kemudian bangkit dari berendamnya, keluar dari air dengan satu tarikan napas panjang, kemudian menggigil. Shion mundur dengan waspada.

''Ada apa?'' tanya Naruto ketika melihat ekspresi gadis itu yang seolah baru saja melihat hantu.

''Kau menakutiku!'' bentak Shion. ''Jangan lakukan itu lagi!''

''Maaf, sayang. Soalnya air ini rasanya enak. Ayo kemari, berendam bareng.''

Shion melotot, tampak sebal. ''Nggak. Kita ada kencan es krim, Bocah Terang, dan aku tidak mau menunggu hingga mandi airmu selesai.''

''Oh, iya,'' Naruto tersadar sambil nyengir. ''aku lupa. Kalau begitu ayo bergegas. Aku jadi tidak sabar berkencan denganmu Nona Cantik.''

Sekonyong-konyong Shion menjadi gugup. Ia menyisir rambutnya saat dirasanya Naruto memperhatikannya dengan mata biru memabukkan itu lagi. Ya, ampun, Shion rasanya rela memberikan apa saja kepunyaannya demi cowok itu. Ia pun mengerjapkan, mengambil napas dan mengangguk. ''Bantu aku naik.'' pintanya sambil mendekati pinggiran sungai. Maka Naruto menurut saja, memegangi pinggang Shion, lalu mendorongnya ke atas. Tapi suatu bayangan samar-samar dari balik rok gadis itu membuat jantungnya jedar-jedor. Dia memelototi pemandangan pangkal paha yang mulus itu sambil menelan ludah. Mukanya merah panas.

Shion pun menepuk-nepuk tangannya, mengibaskan rambutnya yang indah, lalu mengaturnya lagi, sambil memandangi yang di bawah sana melalui sudut matanya yang sayu itu. Gayanya bak ratu kecantikan. Naruto pun dibuat terperangah dengan pesonanya itu.

''Ayo naik,'' ajak Shion kegirangan.

Naruto pun salah tingkah. ''Oh, eh~ehem. Baik,'' ujarnya. Sebentar kemudian mereka telah bertatap muka. ''Ayo jalan.'' Mereka pun berjalan pelan beriringan. Naruto meraih tangan Shion, tapi Shion lalu menepisnya. Perlakuannya itu membuat Naruto terkejut dan memandanginya. Shion cepat-cepat mengamit lengan Naruto erat-erat.

''Nah, sekarang baru jalan.'' Shion tersenyum. Mereka lantas melanjutkan perjalanan. Belum lama berjalan Naruto berhenti untuk memungut ponselnya yang ia letakkan sembarangan. Shion memperhatikan ponsel baru itu. Pasti ada sesuatu di sana, pikirnya penasaran. Entah mengapa dugaan itu terasa begitu kuat di hatinya, hingga sulit rasanya tak mengacuhkan itu.

''Kapan kau beli itu?'' Shion bertanya.

Naruto menoleh. ''Ini?'' tanyanya. Shion mengangguk. ''Hadiah dari paman Minato. Katanya bonus karna kerjaku bagus.''

''Masak?'' tanya Shion. Matanya tak mau berpaling dari ponsel itu.

''Ya. Dia juga merombak kamarku. Kamar mandiku. Aku dapat tivi baru. Baju-baju mahal, dan yang lainnya. Bahkan tabunganku juga jumlahnya lumayan.''

Shion mengangguk. Melirik Naruto sebentar melalui sudut matanya, lalu kembali menatap ponsel Naruto. ''Boleh kulihat?''

Naruto memberikannya tanpa keberatan. Setelah ponsel itu berpindah ke tangan Shion, dalam hitungan detik gadis itu sudah mengorek-ngorek isinya, mengecek pesan masuk, panggilan keluar, tapi tak menemukan sesuatu yang menjadi pemicu dugaannya. Lalu memeriksa galery foto Naruto. Dia melihat foto Ayame bersama Naruto. Ayame yang sok kecentilan. Shion risih melihat keakraban mereka itu yang menurutnya terlalu akrab untuk sepasang adik kakak. Shion menggeser-geser lagi. Lalu muncul pula foto Hinata yang sok manis. Tapi kayaknya foto-foto itu diambil dilokasi pemotretan. Soalnya mereka malah tampak dingin-dingin amat. Shion tak peduli pada mereka. Mereka itu tak ada apa-apanya bagi Shion.

Shion menggeser terus, makin penasaran. Mencari suatu sosok~bukan Hinata, mau pun Ayame. Dia tahu itu siapa~orang itu seharusnya ada di antara Naruto. Sosok yang mengundang pedih disamping rasa bersalahnya. Sosok itu juga pernah dilihatnya di kedai es krim waktu itu. Dia hanya melihat selama sesaat, lalu memutuskan berpaling. Tapi cukup memberi gambaran mengenai sosok itu.

Kadang-kadang kegelisahan menyergap hatinya bila bayangan itu muncul. Bayangan itu terlalu mengerikan bagi hatinya yang lembut. Semestinya dia menduga bahwa ponsel itu diberikan jauh hari setelah Naruto meninggalkan pantai. Tapi bila menyangkut cinta, pikiran orang kadang menjadi amat rumit. Apalagi jika seseorang sudah dihinggapi cemburu. Gagasan yang muncul dalam kepalanya bisa mencengangkan siapa saja.

Shion mematung, jarinya berhenti menggeser. Dugaannya tepat. Sebuah potret ruangan kayu sederhana dengan teman-temannya ada di sana menyambut pandangannya. Lalu dia melihat orang itu dan Naruto. Gadis itu berdiri di ambang pintu, bersidekap sedang berhadapan dengan Naruto. Shion memperbesarnya. Sumpah mati gadis itu sedang merona! Shion merasa bagai ditikam tepat dijantung. Dia menggeser lagi, potret ruangan yang sama dan temannya pula masih ada di sana. Hanya saja kali ini gadis pondokan itu tampak tersenyum tipis. Shion menarik napas begitu dalam. Matanya telah berkaca-kaca. Dia menggeser lagi, rasanya ia tak sanggup melihat lagi. Tapi ia tetap melanjutkan...

Sekarang bukan potret, melainkan sebuah video. Shion memutarnya. Profil wajah Hanabi yang unyu menyambut matanya.

''Kak, sudah siap nih.'' Hanabi berkata.

''Minggir Hana-chan. Berikan aku ruang terbanyak.''

Shion tidak begitu memperhatikan mereka. Dia hanya memperhatikan Naruto dan gadis itu. Mereka sedang membicarakan sesuatu, entah apa, tapi gadis itu berulang kali menyisir rambut di telinganya, dan kadang-kadang seperti salah tingkah. Lihat saja matanya yang bolak-balik itu. Shion langsung benci pada gadis itu. Kok bisa-bisanya Naruto melihat terus padanya. Padahal tampangnya saja kayak Anoa begitu! Sok cakep banget lagi.

Dia sontak menoleh saat Naruto meraih ponsel itu, mengembalikan segala kesadarannya. Sekarang dia kelihatan seperti maling ketangkap basah saja. Tapi berkat muka Naruto yang datar-datar begitu, Shion jadi merenung. Apa Naruto tidak memperhatikan? Jelas-jelas dia tadi mengorek semua isi ponsel pemuda itu secara terang-terangan. Naruto pun mengantongi ponsel itu, lalu kembali menatap wajah kecut Shion selama beberapa saat. Shion menduga-duga kalau pemuda itu akan mengatakan sesuatu yang bakal membuatnya malu atau terlalu lebay. Tapi Naruto malah menciumnya dengan tiba-tiba, memeluknya sangat erat, hingga Shion bisa merasakan debar jantung pemuda itu di dadanya. Air mata Shion pun mengalir. Shion meremas ujung bahu Naruto. Denyut jantung Naruto seakan berirama dengan debar jantungnya yang sakit. Naruto melepaskan ciuman itu, tersengal.

''Nah, sekarang, ayo berkencan,'' komentar Naruto nyaris di depan hidung Shion, terdengar jengkel. ''kau suka sekali merusak suasana dengan muka sedih itu.''

Shion menjilati bibirnya lambat-lambat sambil menyeka air matanya. Katanya terus terang, ''Aku tidak suka pada gadis pondokan itu. Membayangkannya saja membuatku sebal. Apa kau punya perasaan padanya?''

Naruto tampak terdiam selama dua detik.

Shion menanti perubahan wajah. Tapi Naruto langsung menyangkalnya. ''Tidak. Memangnya kenapa?''

Shion memelototinya. ''Lalu mengapa pula kau simpan fotonya di ponselmu? Mengapa?'' desak Shion.

''Itukan hasil jepretan Hinata. Aku bahkan belum punya ponsel saat itu.''

''Aku tidak bertanya kapan kau punya ponsel bagus itu. Yang aku tanya mengapa hasil jepretan Hinata ada dalam ponselmu, Bocah Terang?'' kata Shion berargumen.

''Mana kutahu,'' sanggah Naruto. ''aku terlalu sibuk. Hinata terus yang mengotak-atiknya selama ini.''

''Mengapa kau biarkan dia mengotak-atik ponselmu?'' tanya Shion dengan sengit.

''Jadi sebenarnya, kau mau berkencan atau membahas ini sampai besok?'' tanya Naruto sewot.

Shion berkata, ''Mana bisa aku berkencan kalau kau terus saja menyembunyikan sesuatu dariku.''

Naruto mengerutkan keningnya. ''Apa yang kusembunyikan darimu?''

''Mana kutahu? Kau sendiri yang punya rahasia.''

Naruto memandangnya dengan bingung. Lantas mendesah. ''Sayang, besok aku ada syuting. Kita cuma punya beberapa jam untuk berkencan sebelum malam tiba. Besok aku akan sibuk bergaya dan berakting. Artinya jadwalku akan bertambah dua kali lipat lagi. Soalnya mulai besok aku dan Hinata akan berpindah-pindah kota. Kau tahu maksudnya? aku tidak akan bisa bertemu lagi denganmu beberapa hari kedepan,'' Naruto menunduk. Mukanya berubah murung. Waktu berbicara lagi, nadanya berbeda. ''karna aku akan sangat merindukanmu.''

Selama beberapa detik berikutnya Shion dibuat terenyuh. Shion menatap wajah Naruto dengan hangat. ''Sesibuk itukah?''

Naruto mengangguk. Jemarinya menelusuri wajah Shion. ''Jadwalku padat. Sekarang selain menjadi model, aku juga terlibat jadi model dalam lagu terbaru Kouki. Kita akan jarang bertemu.''

Shion tidak suka mendengar jadwal padat dan jarang ketemu itu. Baginya itu kedengaran seperti pemuda itu akan berangkat perang dunia kedua saja. Tapi demikianlah memendam rindu itu terlalu berat rasanya. Dia pernah merasakannya dua kali, dan yang kedua benar-benar meninjunya sampai babak belur. ''Jadi kau tidak akan ada dirumah selama beberapa hari kedepan?''

''Tidak juga,'' kata Naruto tanpa melepaskan pandangannya dari mata Shion. ''aku akan pulang larut malam. Mungkin saja menginap. Ada pemotretan di Uzushio. Juga di Tazuna, kau tahu mengenakan Kimono sambil memegang Katana.'' Terbayang rasa mual dalam wajah Naruto. ''Aku kelihatan kayak bapak-bapak saja.''

Shion membayangkan Naruto dalam balutan pakaian budaya itu sambil memegang Katana di sisi tubuhnya. Bayangan itu malah menggelitik Shion. Katanya, ''Kau pasti kelihatan gagah.''

''Aku tidak yakin.''

Shion mengangguk ringan. ''Aku yakin. Rasanya aku jadi ingin melihat kembang api bersamamu saat Festival Musim Panas nanti. Memakai Kimono berdua saja dibukit belakang sekolah. Apa kau mau?''

Naruto tidak menjawab selama sesaat, merenungkan. ''Tentu saja. Sesukamu sajalah. Tapi aku tidak yakin bakal mengenakan Kimono.''

Shion merona. ''Pakai donk. Aku juga akan memakai itu. Masak kau mengenakan pakaian sembarangan? Apa kau tidak pernah menonton kembang api bersama keluargamu?''

''Wah, sayang, aku tidak pernah mendapat kehormatan itu. Kembang api itu selalu mengganggu tidurku.''

''Kalau begitu kau harus mencobanya. Festival Kembang Api nanti jemput aku. Kita nonton bareng. Jangan lupa kenakan Kimono,'' kata Shion semringah.

''Mudahan saja aku tidak sibuk.''

''Itukan libur Nasional, sayang. Mana ada orang kerja di hari libur begitu.''

''Oh ya? Iya deh. Kita kencan malam itu semalam suntuk. Tapi pertama-tama kencan es krim kita menunggu.''

Shion mencubit-cubit baju Naruto, lantas memilinnya. ''Ya sudah. Ayo bergegas,'' ajaknya. Naruto memberikan kecupan hangat sebentar pada bibir merekah Shion. Kemudian berhenti. Mereka melepaskan diri, dan berjalan bergandengan tangan.

Jah Abis kopi gw

Kuy review biar ane semangat. Kritikan, ulasan, dan saran ane terima. Flame juga boleh, asal berbobot. Jangan flame ga guna yang ga mutu. Ane akan hapus sampah cacian yang bikin kotor kotak review ane...