Tengah malem kaya gini enaknya bakar ayam, 'tul?
"Kenapa aku yang disiram kecap?"
Coba tebak.
"Oh, shit."
JANGAN KABUR WOI! SINI! LU PANTES DIBAKAR, PENULIS SINTING! BERAPA LAMA FANFIKSI INI DIANGGURIN?
"Ampuni hamba!"
G. MATI LU!
"TIDAAAAAAK!"
-o-o-o-
Avataramen is Now Online
Chapter 15
-o-o-o-
Aku tidak suka ini.
Begitu masuk ke alam bawah sadar, aku dipertemukan lagi dengan Madara dan tingkah songongnya. Tetapi, ada yang berbeda. Rasanya janggal.
Demi boxer merah muda kesayangan Sasuke, kejutan apa lagi yang disiapkan penulis sinting untukku? Belum cukupkah semuanya?
Aku tidak suka ini.
Tak ada yang berubah dari gerak-gerik Madara dan cara bicaranya dari terakhir kali kami bertemu. Tatapan matanya tetap sama. Tetapi, kali ini, instingku mengatakan semuanya adalah tipuan.
Ada yang tidak beres. Energi Madara pekat oleh rasa bersalah.
Dadaku terasa sesak.
.
Aku tidak tahu berapa lama aku terdiam menahan urgensi tangis. Entah sejak kapan pula Madara diam dan berhenti mengeluarkan ocehan yang sebelumnya memancing emosiku. Dia berdiri di depanku, pandangannya jauh diarahkan pada halaman artifisial.
"Seharusnya kau membawa Gunbai dulu, baru bertemu biksu dan dilatih kosmik. Bukan kebalikannya, Naruto." Aku mengerjap. Madara menatapku lagi, tapi ekspresinya berbanding terbalik dengan wajah songong yang selama ini ditunjukkan padaku. "Kau merasakannya ya?"
Aku mengepalkan tangan. "Aku tidak mengerti. Apa semua yang kau katakan di pertemuan sebelumnya adalah sebuah kebohongan?"
Madara menggeleng. Senyumnya terlihat kaku, dipaksakan. Seolah dia terbebani hanya untuk mengatakan apa pun yang hendak diutarakannya. "Tidak semua."
Aku teringat pertemuanku dengan Gurus Shishui. Dia menyangkal saat kutuduh bisa membaca pikiran.
Apa yang dikatakannya saat itu adalah sebuah kejujuran. Kosmik tidak membuatnya lantas bisa membaca pikiran, tapi refleksi hati.
Meski kuyakin tidak sepekat dan setajam yang kurasakan saat ini.
"Kau bukannya tidak mau menghubungi Avatar Hiruzen." Aku merasakan napasku tersendat. "Kenapa? Kenapa kau menyembunyikannya?"
Madara terlihat mau mendekat, tetapi urung saat melihat responku.
Tidak. Aku tidak suka ini.
Apapun itu, aku tidak suka!
"Aku tidak menyesal sudah menciptakan Teratai Merah. Itu menuntunku kepada jejak sejarah tentang siapa dan apa aku. Aku juga melanggar rasam kehidupan demi menemukannya. Tetapi sekali lagi, Neptis, aku tidak menyesal. Karena aku harus tahu kenapa aku jadi avatar. Kemungkinan itu jugalah alasan mengapa aku ada di sini, meski seharusnya pelanggaran yang kulakukan menghalangiku untuk terhubung dengan reinkarnasi Avatar mana pun.
"Aku tak bermaksud menyembunyikannya. Aku hanya ingin … menahan agar kau tahu ketika siap. Kau anak yang pandai, terlepas dari hinaan cucuku. Aku tahu kau bisa menyimpulkan sendiri nantinya.
"Menurutmu, Avatar Naruto, apa alasanmu berada di sini?"
.
.
.
" … Naruto."
" ... "
"Perlu kucium agar kau sadar?"
"Hmm."
"Bicara apa aku ini. Tentu saja hanya ada satu cara agar kau sadar."
Buagh!
Aku jatuh tersungkur dari bangkuku. Pipiku nyut-nyutan dihantam bogem mentah. Kutatap tajam sang tersangka. Bagaimana kalau aku sampai terantuk bangku teman dan lupa ingatan?
Siapa yang akan menghina si penulis sinting kalau aku amnesia hah!
"Sasuke! Itu sakit!"
"Sepertinya aku menonjok terlalu keras. Sori." Sasuke meringis. Dia menunduk dan membantuku berdiri. "Kau sih! Bel pulang sudah lima belas menit yang lalu! Masih saja melamun seperti zombie! Ini sudah hari ketiga sekolah!"
Huwat. Lima belas menit yang lalu?
Kali ini gantian aku yang meringis. Kuhindari tatapan khawatir dari sang Pangeran Negara Api. Aku tidak mau luluh dan jadi kelepasan curhat. Ada imej yang harus kupertahankan di sini!
Lagi pula kalau kubeberkan semuanya, si penulis sinting bakal kehabisan bahan cerita. Kalau aku menderita, kalian para pembaca juga harus ikut menderita!
Ahem. Abaikan yang di atas.
Sampai di mana kita tadi? Oh ya-
Seperti yang dikatakan Sasuke—selepas kejadian di Ruang Suci Kuil Angin bahkan hingga sekarang memasuki semester baru—aku berubah menjadi zombie.
Bukan, bukan mayat hidup tukang makan otak manusia secara harfiah. Hanya saja kepalaku sering tiba-tiba kosong dan badanku masuk mode auto-pilot. Otakku menolak bekerja secara sadar.
Sebut aku pengecut, sebut aku lari dari kenyataan. Aku tidak peduli. Itu memang kenyataannya.
Aku tak mau memikirkan apa yang terjadi setelah aku berhasil mendapatkan Gunbai terkutuk itu.
Aku menolak untuk mengingatnya.
Salahkah jika aku ingin pura-pura tidak tahu beberapa saat lagi?
"Oi! Bumi kepada Naruto!" Aku mengaduh sakit saat jari Sasuke mencolok pipiku yang kena bogem sebelumnya. Dia terlihat sangat kesal. "Kau mau ditonjok lagi apa bagaimana?"
Aku menendang tulang kering Sasuke. "Laki-laki macam apa yang menonjok seorang perempuan hanya untuk menyadarkannya dari lamunan!" protesku.
"Perempuan? Mana? Aku tidak lihat ada perempuan di depanku!"
Aku mengacungkan jari tengah, dibalas dua oleh Sasuke. Kami saling memelototi selama beberapa saat, lalu tertawa terpingkal-pingkal.
Setelah itu kami segera naik Kurama menuju istana. Semalam Sasuke diberi tahu Raja Api Fugaku kalau Pangeran Itachi meninggalkan kerajaan selama tiga minggu penuh. Kuputuskan untuk melapor hari ini juga. Lebih cepat, lebih baik.
.
Raja Fugaku sedang ada pertemuan dengan menteri kerajaan saat kami sampai di istana. Atas saran Sasuke, kami menunggu di kamarnya. Selain agar privasi lebih terjaga, Gunbainya memang kutitip di kamar dia juga.
Aku hanya bisa menggigit jari sambil menunggu. Sial, aku benar-benar gugup.
Yang menyebalkan? Sasuke malah bersiul. "Cie, sidak mertua," godanya.
Wajahku tiba-tiba terasa panas. "Oi! Kita tidak membicarakan … itu dengan Raja Fugaku!"
Sasuke tertawa lepas. "Mana tahu mau sekalian?"
Aku memukul lengan Sasuke kesal. Pukulan kedua, tanganku ia genggam. Senyum yang dipasangnya membuatku salah tingkah.
Terkutuklah seluruh pendahulu yang menurunkan gen ganteng di keluarga kerajaan ini!
Bahkan pun bila aku tidak jatuh hati pada pangeran yang bersikeras mengaku-ngaku jadi partner maho potensialku ini, aku masihlah cewek normal yang mengakui kegantengannya!
"Aku tahu aku ganteng, Nar. Tak perlu terpesona begitu." Sasuke bersiul lagi.
Aku menyodok pinggang Sasuke dengan tangan yang lain. Tawa si rambut unggas dihias ringis ngilu, tapi dia enggan melepaskan genggamannya.
"Bagaimana perasaanmu?" Saat Sasuke bertanya begitu, tingkat salah tingkahku bertambah.
Ulahnya tadi demi menghiburku. Aku tak tahu harus bagaimana menanggapi kesimpulan ini.
"Aku sudah baikan. Kau bisa melepaskan tanganku sekarang."
"Hmm … Tidak mau."
Asdfghjkl.
Bang, bucinnya dikondisikan, tolong.
.
Aku tidak tahu harus berterima kasih ataukah menganggapnya musibah begitu lima menit setelahnya Raja Api Fugaku bergabung dengan kami di ruang santai kamar Sasuke. Satu tatapan beserta dengusan geli beliau membuat Sasuke melepaskan sendiri genggaman tangannya tanpa instruksi siapa pun. Ingin sekali kuledek dia karena sudah salah tingkah dengan ke-bucin-annya di depan Yang Mulia. Mengingat kondisiku tidak jauh berbeda, aku hanya bisa menghinanya dalam kepala.
Sialan, memang.
"Maaf, kalian tidak menunggu lama 'kan?" tanya Raja Fugaku.
"Tidak sama sekali, Ayahanda." Sasuke membungkukan badannya sejenak. Aku mengikutinya, persis.
Raja Api mengangkat sebelah alis matanya, seolah mempertanyakan salam yang kuberikan. Seperti pertemuan pertama kami, beliau tidak mengungkitnya, langsung bertanya, "Jadi, ada apa? Kau bilang ada hal penting yang mau dibicarakan, Sasuke? Bukan soal menikahi Naruto 'kan? Karena aku tidak akan memberi restuku sebelum kalian lulus sekolah."
KAMPREEEET!
"A-ayahanda!"
Ekspresi Raja Api berubah kurang ramah. "Anakku tidak melakukan sesuatu yang tak layak padamu kan, Nak Naruto?"
Aku tersedak.
KAMPREEEET(2)!
"Ayahanda!" Sasuke protes, suaranya mendekati rengekan.
Aku bahkan mendukung dia merengek. Karena, maksudku, ayolah!
Dari interaksi kami selama ini, yang ada aku yang lebih mungkin berlaku tak senonoh pada anaknya!
Shut up. Bukannya aku akan berlaku begitu, tapi lihat saja Sasuke! Kepergok bertelanjang dada saja tingkahnya seperti gadis pingit diintip om-om mesum!
Kalau tak sadar yang sedang tertawa adalah Raja Api, aku bersumpah akan mengacungkan kedua jari tengahku saat itu.
"Maaf, maaf. Aku sedikit jengah dengan pertemuan tadi." Raja Api mengekeh. Beliau melipat kedua tangannya, tetapi posturnya lebih santai ditandai dengan bersandarnya ia di sofa tunggal yang didudukinya. "Jadi, apa yang mau kalian bicarakan?"
Aku dan Sasuke reflek saling pandang. Sebagai kode, Sasuke menganggukkan kepalanya.
Lakukan, Naruto.
Aku meneguk ludah. Detak jantungku meningkat tanpa bisa kucegah. Nyaliku menciut.
Dari mana aku harus memulai semua kekacauan yang disebut hidupku ini?
Terkutuklah penulis sinting yang bisa-bisanya memikirkan semua plot memuakkan ini!
"Tak apa, Naruto. Kau tak sendiri, ingat? Ada aku."
Sasuke berdiri duluan, mengulurkan tangannya. Ragu, kusambut uluran itu. Kubiarkan Sasuke menarikku mendekat ke sebuah kotak kayu di sebelah rak buku ruangan tersebut. Sasuke membuka tutupnya. Kemudian, kukeluarkan Gunbai dari sana.
Raja Api berdiri. Matanya melebar seiring semakin jelasnya detail Gunbai tertangkap mata. Aku sama sekali tak menduga beliau akan maju dan memegangnya.
Langsung kulepas Gunbai, kubiarkan menghantam lantai sehingga sentuhan Raja Api ikut terlepas. Aku meringis melihat tangan beliau melepuh.
"Sas, tolong ambilkan botol minumku di tas."
Sasuke mengangguk tanpa banyak tanya. Dia langsung membuka tutupnya, mengerti apa yang mau kulakukan.
Langsung saja kukendalikan air di dalamnya, kubuat melingkar tenang di atas tanganku dengan pendar cahaya yang semakin lama semakin jelas. Kubiarkan air itu menempel dan bergerak-gerak di atas telapak tangan Raja Api Fugaku. Kusisipkan sedikit kosmik dalam teknik penyembuhanku, mempercepat proses penyembuhannya hingga lepuhannya tak berbekas sama sekali.
Aku dan Sasuke menghela napas lega secara bersamaan. Entah dengannya, tapi aku takut luka Raja Api tak bisa disembuhkan.
Hei, Gunbai bukan senjata sembarangan!
Raja Fugaku ambruk, duduk bertelut di lantai. Ia tertegun menatap tangannya, beralih ke Gunbai, lalu berakhir menegadah menatapku.
"Kau Avatar," ujarnya, nyaris berbisik.
Aku berjengit.
Kurasa … aku tahu harus mulai dari mana.
"Sebelumnya, aku ingin meminta maaf sekaligus mewakili Jiraiya. Maaf telah menipu Anda pertama kali aku menginjakkan kaki ke istana. Pangeran Sasuke bilang, Anda tahu Jiraiya berbohong, kan? Biar kuklarifikasi sekarang.
"Namaku memang Naruto, itu bukan penipuan. Aku adalah putri dari Kepala Suku Air Selatan. Kedua orangtuaku tidak meninggal ditelan badai, tetapi mereka—bersama seluruh penduduk Kutub Selatan—meregang nyawa demi menyelamatkanku di malam pembantaian. Aku bisa mengendalikan api, itu bukan tipuan. Hanya saja aku tak bilang, kalau aku bisa mengendalikan sisa tiga elemen yang lain."
.
.
.
[Tim Pantang Modar]
Jan 25. 10.39 am.
Gaarawr : Perkembangan investigasi?
Faiprinsuke : Beberapa gudang yang kita tandai sudah diperiksa. Sejauh ini belum ada tanda-tanda jejak TM.
Sakurawr : Benar-benar tak ada yang bisa kita bantu untuk mempercepat?
Saiasukart : Titah Raja. Demi keamanan. Kalau dari kita ada yang gerak, Raja khawatir TM mengendus sesuatu dan malah mengacaukan segalanya.
HinataH : Dengan kita berdoa dan tak melakukan apa-apa yang dapat menarik perhatian TM, itu sudah sangat membantu. Benar kan, Naru?
Avataramen : Yup.
Giringneji : Apa tak ada yang mau protes dengan nama grupnya?
Avataramen : Kau bilang sesuatu, Nej? :)
Giringneji : Langitnya cerah, Kanjeng Naru. Bukankah momen yang tepat untuk kencan dengan yang tersayang?
Avataramen : Wah, betul juga. SASUKEEEEEE (tag Faiprinsuke) ANTAR AKU KENCAN DENGAN RAMEN JUMBO!
Saiasukart : Orang lain ditikung temen, ini malah ditikung ramen. Bffft.
Gaarawr : rip
Avataramen : RAMEN TERCINTAH, AKU DATAAAANG!
Faiprinsuke : Untung sayang :)
.
[Faiprinsuke]
7.48 pm
Faiprinsuke : Kelar latihan mau ke Ichiraku?
8.05 pm
Faiprinsuke : Nar? Napa baca doang?
8.15 pm
Faiprinsuke : woe
8.40 pm
Faiprinsuke : oh
Faiprinsuke : maaf, baru sadar tanggal.
Faiprinsuke : Perlu kutemani?
8.49 pm
Avataramen : Tempat latihan biasa.
Faiprinsuke : Otw.
Faiprinsuke : Aku bawa ramen instan. Perlu kubawain secangkir cinta juga?
Avataramen : GELI OI
Avataramen : Buruan sini biar bisa kutonjok :)
Avataramen is now offline.
.
"Secangkir cintanya diganti setangkai bunga tak apa-apa?" kata Sasuke. Mukanya dibuat memelas, mengundang baku hantam.
Aku tertawa terpingkal-pingkal menanggapinya.
Sasuke datang memakai setelan pakaian khusus hang out rutin kami. Tasnya agak mengembung, entah apa yang ia bawa selain berbungkus-bungkus ramen instan kesukaanku. Apa yang menarik perhatianku adalah 'bunga' yang ada di tangannya.
Dia membawa bunga kol.
SETANGKAI PALA LU, SAS!
"Orang lain tuh bawain cewek kembang mawar, ini malah kembang kol!"
"Eh, jangan salah. Kembang kol bisa dimakan lho. Bergizi pula."
Sasuke mengabaikan tawaku yang semakin membahana. Dia duduk di salah satu permukaan rumput yang datar, melepas tasnya. Pisau dan panci kecil yang pertama ia keluarkan. Kemudian, ia mengeluarkan semua bungkus ramen instan yang seketika membuatku keroncongan.
Saat kembang kol sudah termutilasi dengan sempurna di dalam panci, Sasuke menyodorkannya padaku.
"Isi air," katanya.
Aku mengisinya, setelah tidak sengaja melepas kendali air di atas kepala Sasuke.
Tak perlu waktu lama hingga panci itu mendidih dalam genggaman Sasuke. Kami duduk sebelahan, menikmati ramen instan nikmat dalam keheningan.
Entah bungkus ke berapa, aku mendapat dorongan untuk berbicara. "Apa kau tahu ulang tahun ayahku juga bertepatan dengan Hari Lunar?"
Sasuke menelan ramen yang sedang dikunyahnya. "Tanggal 25 Januari juga?"
Aku mengangguk. "Aku kecil sempat protes kenapa ulang tahun Ayah dirayakan sebegitu meriahnya sedangkan aku tidak. Sampai ngambek mengancam akan mengacaukan desain alun-alun kota."
Sasuke mendengus. "Barbar sejak dini, ya."
Aku tertawa kecil. Pandanganku dituntun perlahan ke langit lepas.
"Bagi Suku Air, Hari Lunar bukan hanya sekadar 'hari jadi' yang harus diperingati setiap tahunnya. Kau tahu legenda yang melekat dengan Hari Lunar, bukan?
"Dikatakan dalam legendanya, pendahulu kami terdampar di laut diakibatkan gerhana yang panjang. Tujuh hari dihantam badai dan ombak tanpa ada persediaan tambahan. Kayu-bambu dari perahu yang ditumpangi pun katanya dijadikan pengganjal perut. Walau rasanya bodoh sekali, mengingat di bawah mereka lautan kaya akan ikan. Terombang-ambing tanpa kepastian di mana dan ke mana mereka berlabuh. Suruh siapa juga berlayar tak jelas tujuan. Dikira mereka itu jelmaan kucing yang punya nyawa sembilan kali ya. Ahem.
"Kemudian mereka sampai di surga kapas—entah surga darimananya dingin rawan hipotermia begitu—bertepatan dengan munculnya kembali bulan yang amat dinanti. Dan blablablabla hingga akhirnya mereka memutuskan tinggal menetap setelah nomaden sekian lama. Dan berdirilah Suku Air."
Aku nyengir melihat Sasuke tertawa menanggapi ceritaku yang asal-asalan.
"Yah … terlepas dari cerita legenda yang membuatku mempertanyakan kewarasan leluhurku karena memilih benua beku sebagai tempat menetap dari sekian banyak tempat yang pernah disinggahi; bagi Suku Air, Hari Lunar adalah lambang lembaran baru. Tak peduli kesulitan, kegagalan, atau kegelapan apa pun yang kau alami; selalu ada hari cerah yang menantimu di keesokan hari. Seperti bulan yang memiliki siklus, hidup pun begitu."
"Kau terlihat benar-benar suka dengan Hari Lunar," komentar Sasuke.
"Apa aku pernah bilang padamu kalau aku suka ice-skating?" Aku nyengir. "Di Hari Lunar, kau bisa ice-skating menyusuri Kutub! Itu bagian yang paling kusukai!"
Mataku terpaku sejenak pada danau di depan.
Sebuah ide tiba-tiba muncul di kepalaku.
Buru-buru kuhabiskan isi bungkus ramen terakhir yang masih kupegang. Kuletakkan bersama sampah lainnya. Kemudian, aku melesat terbang ke tengah danau.
Aku mengatur napasku. Perlahan, seluruh permukaan danau kubuat membeku. Aku berharap ketebalannya cukup dan semoga saja apa yang akan kulakukan tak membunuh organisme yang hidup di bawahnya.
Kubekukan es yang membentuk seperti pisau skate di sepatuku. Kulepaskan teknik terbang, mendarat agak goyah di permukaan danau. Kulakukan beberapa putaran dan gerakan. Aku terkikik geli karena nyaris terjatuh. Sudah lama sekali aku tak begini.
Menggunakan dorongan pengendalian udara, aku maju, berputar, berkeliling, terus menyusuri permukaan danau sembari membuat replika desain alun-alun yang masih kuingat. Tak jauh dari tempat Sasuke berada (dia sekarang berdiri, aku bisa merasakan ketakjuban dari energi kosmiknya) aku berhenti sejenak. Kubuat replika air mancur beku di sana.
Kilas balik ingatan perayaan sesungguhnya mampir di pikiranku. Aku membeku sesaat. Terbayang Ayah duduk di air mancur itu bersama Ibu. Beberapa orang dewasa tak jauh dari mereka, berbincang ringan. Aku meluncur riang bersama anak lain, sesekali kembali ke dekat orangtuaku hanya untuk menunjukkan gerakan baru yang kupelajari dari anak-anak itu.
"Nar?" tegur Sasuke.
Aku menghampirinya ke pinggir danau. Kutarik dia ke atas permukaan es licin. Kubuatkan juga sepatu ice-skate dadakan seperti milikku.
"Kau harus menyaksikan yang aslinya di Kutub Utara, suatu hari nanti. Untuk saat ini, ayo!"
Aku mengabaikan penolakan yang Sasuke lakukan. Kutarik dia meluncur bersama, sebisa mungkin agar tidak tergelincir dan jatuh. Lama-lama, sang Pangeran menikmatinya juga.
.
"Selamat Hari Lunar, Putri Naruto."
"Pffft. Selamat Hari Lunar juga, Pangeran Sasuke."
"Bersabar sedikit lagi, oke? Perjuanganmu untuk bisa sampai sini memanglah berat. Tetap bertahan. Kita pasti bisa mengatasi Teratai Merah."
"Yup!"
.
Seandainya saja dia tahu, bahwa Teratai Merah bukanlah satu-satunya hal yang harus kukhawatirkan.
.
Sekali lagi kutanya, fanfiksi parodi macam apa ini?
To Be Continued
Sebenarnya Chic niat up nanti-nanti. But, I just want to make sure you guys know Im still alive, even deep down a part of me don't want to. And I guess this is some kind of apology for drowning myself with real life? Lmao.
Thanks buat kalian yang masih menyempatkan diri untuk menanyakan kabar. I appreciate it. Love you all.
