"Akaashi-san."
Akaashi melirik malas. Ia menjauhkan wajahnya ketika Hoshiumi menggamit rambut hitam ikalnya yang dijalin menjadi kepangan, memainkannya lalu melepaskannya kembali. Laki-laki berambut putih itu mungkin setinggi dengannya, sedikit lebih pendek. Akaashi baru saja mengalahkannya adu tembak, tetapi kekuatan fisik Hoshiumi lebih terlatih dibandingnya. Akaashi sudah tahu pamor hitman muda berbakat mantan anggota angkatan laut itu. Hitman mercenaries biasanya saling mengenal dengan banyak alasan: karena mengidolakan, karena berteman, karena bermusuhan, karena iri, karena penasaran atau gabungan dari macam-macam alasan lainnya.
"Aku dengar rumornya saja." kata Hoshiumi. " Katanya, ratu shinigami itu cantik sekali. Cerdas. Kuat. Seksi. Mematikan." Lelaki pendek itu merendahkan tubuhnya untuk bertatapan lebih dekat dengan Akaashi yang baru saja diikatnya dengan seutas kawat."Kau lebih cantik dari yang kubayangkan. Kalau ada klan gokudo yang mengirimmu untuk membunuhku, aku ikhlas-ikhlas saja sih."
Akaashi tersenyum lembut. "Sini. Kubuat kau mati sesak nafas karena mencium belahan dada atau celah pahaku."
"Ahahahaha! Nice pun."
DUK.
Akaashi merintih. Hoshiumi menyenggol kakinya. Luka tembak dari betisnya kembali mengucurkan darah. Laki-laki pendek berambut putih itu membidik kaki kiri Akaashi dan memukul kepalanya dalam pertarungan mereka sebelumnya. Jejak darah lengket mengotori sebagian wajah, rambut dan pakaian Akaashi. Tahu-tahu ketika sadar, dia sudah ada disini.
"Jangan tersinggung, tapi kerja ya kerja. Aku cuma menghajarmu sampai kau tidak bisa mengganggu misiku lagi. Aku tidak akan membunuhmu karena aku tidak dibayar buat itu. Kode etik sebagai pekerja hitman mercenaries itu merepotkan, ya." Hoshiumi berjongkok, menegakkan dagu Akaashi dengan ujung pistolnya. "Diam disini dulu. Kalau kau hoki, burung hantu kesayanganmu mungkin datang menyelamatkan. Kalau tidak, mungkin kau bakal di gangbang sama para kkangpae itu."
Akaashi merenggangkan lehernya. "Boleh aku minta rokok?"
"Aku tidak merokok."
"Aku punya. Ambil saja di kantongku."
Hoshiumi menatapnya sejenak, sebelum memutuskan merogoh luaran Akaashi dan memantikannya sebatang rokok. Ia bahkan memegangkan rokok tersebut untuk si wanita ayu.
"Enak tidak, kerja di Kamomedai?" tanya Akaashi.
"Kau mau melamar?" Hoshiumi kembali mendekatkan filter rokok ke bibir Akaashi dan membiarkan wanita itu menyesap kabut nikotin kesukaannya.
"Nggh-hmm..." Akaashi menggeleng. Ia memalingkan wajah menjauhi Hoshiumi ketika membuang asapnya. "Hidupku sudah repot. Anakku 3, semua bocah kecil dan bandel-bandel. Kau mau hitung suamiku yang lebih bikin repot?"
Hoshiumi tersenyum kecut. "Aku iri sama Bokuto-san."
"Aku juga dengar sedikit rumor. Kau kurang beruntung soal perempuan." Akaashi tertawa pelan. "Padahal uangmu banyak. Dandananmu oke. Wangi parfummu enak. Kalau kau tanya pendapatku, kau itu lumayan imut. Mungkin tutur kata atau gelagatmu terlalu kasar. Harus lembut kalau sama perempuan."
"Sudah. Aku selalu lembut sama perempuan. Kau saksinya, Akaashi-san." balas Hoshiumi sarkas.
"Dan jangan terlalu agresif. Harus tarik-ulur." Akaashi mengerjapkan matanya sejenak. "Kau mau nikah muda, ya?"
"Aa. Nikah muda terdengar menyenangkan." katanya lagi sambil menyodorkan rokok Akaashi.
"Percaya padaku, setelah kau punya anak, kau pasti berpikir menjadi hitman jauh lebih mudah. Membesarkan anak itu sulitnya bukan main. Raja Neraka saja jadi semakin gila karena itu."
"Tashika ni."
Hoshiumi menjejakkan puntung rokok Akaashi sampai padam, lalu membuangnya ke pojok ruangan. Ia lalu menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. Ruangan menjadi sangat gelap. Akaashi menghela nafas pelan. Kepalanya masih berdenging. Pukulan Hoshiumi keras sekali. Dengan apa dia memukul kepalanya tadi? Ada nyeri tumpul di bagian yang mengeluarkan darah, masih terasa berdenyut-denyut sampai sekarang. Kawat yang digunakan Hoshiumi mengikatnya kencang sekali. Semakin Akaashi menggeliut, kawat-kawat itu semakin mengiris kulitnya.
SRUK!
"Siapa itu?"
Akaashi tertegun mendengar suara itu. Suara anak-anak.
"Matsukawa-sensei?"
TAP. TAP.
"...Oikawa...?"
"Bukan."
Meski gelap gulita, Akaashi bisa mendengar tubuh seseorang turun dan melangkah ke lantai. Ia memang melihat sebuah kasur dan gundukan kain tadi saat dimasukkan ke dalam ruangan ini. Apakah itu targetnya? Akaashi berusaha mengatur nafasnya, lalu mencoba memanggil pemilik suara tersebut.
"Apakan itu Anda, Ushijima-san?"
TAP. TAP.
"Suara perempuan." ujar Ushijima Wakatoshi, si pemilik suara. Suara langkahnya menjauhi Akaashi. "Apa kau si kakak pengacara?"
"Bukan." balas Akaashi. "Aku Akaashi Keiji. Semi Eita dari Phantom Hawks membayarku dan suamiku agar membebaskan Anda dari sini."
"Semi?!" suara itu terdengar meninggi mendengar nama tersebut. "Dimana Semi?"
"Semi Eita sedang menuju kesini dengan seluruh pasukan Phantom Hawks untuk menyelamatkan Anda, Ushijima-san." tutur Akaashi.
"Tidak! Jangan! Ini jebakan!" Ushijima terdengar gelisah. "Oikawa memancing semua orang kesini, lalu menghabisi mereka semua disini! Mereka akan membunuh Semi, Leon, Kawanishi, Hayato dan yang lain seperti mereka membunuh Tendou dan Shirabu."
"Oikawa bilang begitu kepada Anda?"
Hening. Samar-samar, Akaashi mendengar suara isak tangis yang diredam paksa.
"Oikawa benar." Suara Ushijima berhamburan, disela bunyi isak tangis. "Dia bilang, membunuhku hiks...hiks...tidak ada gunanya. Hiks...aku memang boss yang tidak berguna. Melindungi anak buah saja tidak bisa. Hiks...ukh...hukk...padahal mereka melakukan segalanya untukku. Ukh...huk...mereka merawatku sejak bayi...mendidikku...menyenangkan aku...dan aku cuma bisa menangis menunggu mereka membereskan semuanya...hiks...apanya yang boss muda kalau cuma bisa nangis..."
Akaashi tersenyum kecil, tersentuh dengan tekad dan keteguhan hati si boss muda Phantom Hawks. "Anda benar-benar hebat, Ushijima-san. Berapa usia Anda?"
"9 tahun." Ushijima berusaha meredakan isakannya. "Agustus nanti, usiaku 10."
Akaashi terperanjat. "Tanggal berapa?"
"13." Ushijima menjawab singkat.
"Kupikir Anda sedikit lebih tua. Usia SMA, gitu. Ternyata masih kelas 4 SD." ujar Akaashi. "Anakku yang tertua seumuran dengan Anda. Dia 2 hari lebih muda."
"Akaashi-san, siapa nama anakmu yang seumur denganku?"
"Bokuto Suoh."
"Bokuto?"
"Aku ini pimpinan klan Fukurodani, kalau Anda tahu. Klan itu habis dibantai Inarizaki saat aku kuliah di Irlandia. Lalu, Bokuto mengajakku menikah. Aku masih menggunakan nama gadisku untuk melanjutkan keturunan klanku. Anak yang lahir dari urutan genap, seperti anak kedua, keempat dan seterusnya, akan dinamai dengan marga 'Akaashi'." jelas Akaashi.
TAP. TAP.
TAP.
JDUK!
"Aduh!"
Akaashi merasakan tubuh kecil itu berusaha meraba dalam gelap, mencari dimana keberadaannya, lalu menabrak Akaashi yang cuma bisa berkapar kesulitan kareta ikatan kawat.
"Akaashi-san, apa kau diikat?"
"Anda baru bangun saat aku datang, ya?" tanya Akaashi.
"Iya. Aku kesulitan bergerak."
"Mereka mengikat Anda juga?"
"Tidak. Dia mematahkan kedua tanganku saat menculikku." ujar Ushijima muram. "Lalu Oikawa mencabut kuku kakiku. Hari pertama dengan tangan kosong. Hari ini dia pakai tang. Dia bilang kuku kakiku terlalu kecil, dia jadi gemas."
"Apakah sensei yang Anda panggil tadi membuat tangan Anda diselempang?"
"Iya."
"Bagian mana yang tidak terlalu sakit, Ushijima-san?"
"Uhm...yang kiri, kurasa. Oikawa merusak gips yang kanan. Matsukawa-sensei menggantinya dan tanganku jadi berat sekali."
"Apakah Anda bisa membantuku?" Akaashi berpikir sejenak. "Tarik tangan kiri Anda yang digips dari selempang, lalu sentuh tubuhku agar kau tahu dimana aku."
Ushijima adalah anak yang sangat pintar. Saat Akaashi mendengar suara gesekan kain, ia mendekatkan tubuhnya agar Ushijima bisa menemukannya. Jari-jari mungil menerpa wajahnya. Tangan kecil itu menggigil, lalu terdengar suara cekatan aneh.
"Akaashi-san, wajahmu lengket..." lalu Ushijima terdiam sebentar. "...kau berdarah."
"Sedikit." Akaashi berdusta. "Sekarang, ayo kita main game ringan biar tidak bosan."
"Memangnya kita punya waktu untuk main-main, Akaashi-san?"
Akaashi mendengus kesal. "Anda betulan masih 9 tahun? Reaksi Anda seperti pria berusia 33, tahu."
"Almarhum Tendou dulu bilang aku suka tidak ingat umur." jawab Ushijima jujur.
"Mungkin dia benar." Akaashi tertawa kecil. "Anakku, Suoh dan adiknya, Hikaru, suka bermain hidden object di komputer. Kali ini, aku perlu Anda memainkan game ini supaya kita bisa keluar dan menemukan Semi. Setuju?"
"Iya." jawab Ushijima.
"Dengan tangan Anda, rasakan kantong kecil di pinggangku. Disana ada sebuah pisau lipat serbaguna seperti yang pernah Anda lihat di film action spy." terang Akaashi.
Ushijima meraba-raba badan Akaashi takut-takut. Tangan kecil itu merogoh pinggang Akaashi dengan susah payah, lalu dia berhenti.
"Ada 4 kantong." ucapnya. "Yang mana?"
"Ke kiri sedikit." Balas Akaashi. "Lagi, dan...ups! Mundur sedikit. Yep, disitu! Benda itu panjang dan berat, dan—"
"Aku tahu. Semi juga punya." ujar Ushijima cepat. "Akaashi-san DET Ulster, ya?"
"Anda tahu soal DET juga, Ushijima-san?" tanya Akaashi lembut.
"Semi dan negosiatornya Raven adalah orang-orang dari Ulster. Mereka sedikit mirip. Bisa menembak dengan peluru ajaib. Tapi Semi juga bisa melakukan trik sulap kecil. Negosiatornya Raven bisa melempar kartu-kartu dari balik jasnya seperti shuriken tajam yang dipakai para ninja. Kalian semua punya tangan-tangan sihir. Dan Semi menunjukkanku pisau serbaguna juga. Lasernya bisa melubangi kaca dan melelehkan besi." ungkap Ushijima.
"Jangan pernah mau berkuliah disana. Itu bukan tempat yang bagus." balas Akaashi.
"Tidak. Aku akan kuliah di Oxford." balas Ushijima. Ia menempelkan pisau serbaguna yang didapatnya ke pipi Akaashi. "Lalu aku harus apa?"
"Raba tombol putarnya. Putar ke kanan 3 kali, lalu putar ke kiri sekali dan tunggu sampai ada bunyi CTAK! Apa Anda bisa melakukannya dengan satu tangan?"
"Aku ini kidal. Tangan kiriku lebih terlatih." jawab Ushijima.
Ia kembali mematuhi instruksi Akaashi dan di dalam kegelapan, kini muncul cahaya remang kuning yang menerangi mereka berdua. Ushijima terpana, bibirnya mengerucut dan matanya berbinar-binar. Akaashi tidak bisa tidak tersenyum melihat ekspresi lugu tersebut.
"Glow in the dark..." bisiknya.
"Keren, kan?" Akaashi menyahut.
"Akaashi-san...berdarah..." Ushijima mengarahkan cahaya itu ke wajah Akaashi dan bergidik ngeri. "Kepalamu berdarah."
"Daijobu." Akaashi berusaha menenangkan. "Sekarang, putar tombolnya lima kali ke kiri, sekali ke kanan dan 2 kali ke kiri lagi. Nanti akan ada bunyi CTAK! lagi."
CTAK!
"Good. Sekarang, bisakah kau potong lilitan kawat di jari tanganku?"
Ushijima mengerenyit, tidak yakin gunting kecil berujung melengkung itu bisa digunakan untuk memotong kawat. Ia tetap mematuhi Akaashi untuk memotong kawat yang membelit jari-jari tangannya hingga rapat menyatu.
PTAS. PTAS. PTAS. PTAS. PTAS. PTAS. PTAS.
"Sugoi yo, Ushijima-san!"
Akaashi merenggangkan tangannya dan mengajak Ushijima bertos pelan. Bocah 9 tahun itu dengan sukses memotong seluruh kawat yang mengikat Akaashi. Wanita berkepang itu mengambil alih pisau serbagunanya dan memasukkan kembali gunting melengkung itu ke slotnya, dan memberi putaran tertentu. Sinar glow in the dark lenyap dan berganti menjadi senter dengan satu titik cahaya yang terang. Akaashi meraba kantong-kantong di pinggangnya dan menarik sebuah pinset tipis dan mencucukkannya ke dalam lubang tembakan peluru di betisnya.
"Sini, biar kubantu." Ushijima merebut pisau serbaguna itu dan membantu Akaashi menerangkan. "Memangnya tidak sakit mencabut peluru sendiri?"
"Sakit." Jawab Akaashi. "Tapi ada saatnya, dimana Anda harus bersikap mandiri."
"Aku ingin bersikap mandiri. Tapi aku belum bisa menyetir mobil dan tidak boleh menggunakan mesin ATM sendirian."
"Anda adalah anak yang luar biasa, Ushijima-san." Akaashi menggeram ketika berhasil mengeluarkan peluru dari betisnya. Dengan tangan gemetar, ia meraba kantong di pinggangnya lagi untuk mengoleskan salep putih berbau logam dan segulung perban. "Tetapi semua hal butuh proses. Selagi Anda tidak bisa melakukan hal yang cuma bisa dilakukan orang dewasa seperti menyetir atau menggunakan mesin ATM, Anda bisa belajar dengan rajin."
Akaashi menghela nafas, menyeka noda darah yang membuat kelopak matanya lengket dan meluruskan kaki. Ia meraba luka di kepalanya. Masih sakit, tetapi tidak lagi berdenyut dan berdarah.
"Akaashi-san?" Ushijima menunduk. "Apa setelah ini, aku boleh berteman dengan anakmu?"
Akaashi menatap Ushijima dengan pandangan heran.
"Aku selalu belajar di rumah. Tidak punya teman sebaya." Ujarnya muram. "Aku ingin kenalan dengan Suoh. Apa dia suka main shogi? Aku juga pintar main ular tangga. Sedikit video game, Semi melarangku main itu sering-sering."
Akaashi tersenyum. Ia mengusap lembut rambut Ushijima dan mengangguk.
"Setelah kita keluar dari sini, kau akan pergi menginap di rumahku. Main dengan anak-anakku. dan Jangan biarkan Semi atau orang lain melarangmu, oke?"
DOR! DOR!
DOR! DOR! DOR!
SYAAAT
BRET! BRET!
JREB! JREB! SRAT!
DOR!
KLAAANG!
Hirugami Sachiro berlari mundur menjaga jarak. Atsumu masih kokoh berkuda-kuda, dengan Sugawara melindunginya dari semua serangan tembak. Setelah nyaris lima tahun, akhirnya Sachiro kembali melihat lembaran kartu tarot tajam yang digunakan Sugawara seperti shuriken. Teknik loom of fate memungkinkan untuk menggerakkan dan mengendalikan segala benda yang bisa disentuh jari-jarinya. Sachiro kesal, sekarang dua orang ini terlihat sekeren jagoan di serial aksi.
"Hey! Ini setelan kesukaanku!" Sachiro menggumam protes ketika ayunan pisau Atsumu merobek bagian siku jasnya. Ada luka yang meninggalkan pulau noda berdarah disana, tetapi Sachiro tampak tidak kesakitan. "Ini Burberry Fall Edition, lho."
"Aku punya Burberry Winter Edition yang tidak pernah kupakai. Aku bisa mengirimkannya ke kantormu di Hokkaido." ujar Atsumu.
"Sumpah?!" Sachiro terperangah. "Kenapa kau tidak pernah menggunakannya? Kekecilan atau kebesaran?"
"Mana ada rider pergi balapan pakai jas, dasar tidak berotak!"
"Kasar sekali, ih!"
DOR! DOR!
SYUUNG!
DORDOR DORDORDOR DORDORDOR
KLAAANG! KLAANG!
DORDORDORDOR
BRUKK!
"Argh!" Sugawara tumbang. Ia tertembak tepat di pahanya.
Sachiro berhenti menggunakan submachine gun yang tadi dikokangnya, beralih ke senapan panjang otomatis yang diselempangkan di punggungnya. Tembakannya yang beruntun tidak sempat dihindari Sugawara karena ia sibuk melindungi Atsumu dengan tembakan parabola loom of fate yang dilancarkannya. Atsumu merunduk, berlari secepat yang ia bisa dan menendang wajah Sachiro yang sayang masih bisa dihindari sekilas. Ia terus memukul, menyabet dan menendang, memberi jarak sekecil mungkin agar Sachiro tidak memiliki celah untuk menembak.
KRAAAAK!
BUAK! BUAK!
DUK! BUAK!
BUAK! BUK! BUK! DUAAAK!
Sachiro menyilangkan kedua tangannya di kepala, menahan tendangan Atsumu yang terakhir membuatnya terdorong mundur. Rubah pirang menakutkan itu baru sana menghancurkan rifle yang tadi digunakan Sachiro—ia menebas pipa moncongnya dengan pisau besar aneh itu. Pantas saja Hoshiumi mematok harga gila untuk membunuh Miya Atsumu, batinnya. Laki-laki ini kekuatannya sangat tidak masuk akal. Benar-benar seperti setan!
"Oy, oy..." Sachiro tertawa, menyeka debu di bagian dada jasnya. "Aku lihat pisau seperti itu untuk mengiris daging babi di warung ramen."
"Bisa untuk menebas tulang sapi dan babi dengan rapi tanpa pecah, lho." Atsumu mengacungkan pisaunya menyamping.
Hirugami Sachiro mengerenyit. Ia cuma punya satu pistol dengan amunisi penuh di pinggangnya untuk serangan dadakan. Submachine gun cukup besar dan Atsumu pasti lebih mudah menghindarinya. Ucapan Hoshiumi mengenai seberapa peka pendengaran Atsumu membuat Sachiro lebih berhati-hati dalam merancang tembakannya. Strategi memasangkan Miya Atsumu dengan Morrigan Seventh adalah kombinasi monster! Bagaimana dia bisa menang melawan dua orang ini seorang diri, coba?
"Suga-san, kau masih bisa berlari, tidak?" tanya Atsumu.
"Lari pincang dihitung, tidak?" Sugawara terkekeh.
"Lari pincangmu bisa mengungguliku, memang?"
SYAAAT!
DOR! DOR!
DOR!
Atsumu kembali menyerang. Sugawara yang melihat Sachiro menarik pistol membidik tangannya, tetapi ia kalah cepat sehingga adu tembak loom of fate terjadi. Kedua peluru mereka saling berbenturan, dan satu peluru meleset mengenai tembok di belakang Sugawara. Sachiro berusaha mundur, menghindari sabetan dan pukulan Atsumu. Semakin dekat jaraknya, semakin berbahaya pola serangannya.
BEEP.
NGUUUIIIIINGGGG NGUUUIIIIINGGGG NGUUUIIIIINGGGG NGUUUIIIIINGGGG
[Mohon perhatian! Mohon perhatian! Kebakaran terdeteksi di dalam gedung. Mohon tinggalkan gedung melalui jalur evakuasi. Diharap tidak menggunakan elevator].
Bunyi sirene alarm kebakaran itu membuat konsentrasi Atsumu buyar. Suaranya yang memekakkan telinga membuat kepalanya berdentum-dentum. Sachiro sengaja membuat Atsumu terus menyerangnya, lalu si Hirugami bungsu menekan tombol alarm kebakaran. Sprinkle berisi cairan pemadam api mulai aktif bekerja, menciptakan hujan kecil tidak berarti atas kebakaran palsu.
"Urrkhhhhh!" Atsumu menggertakkan giginya. Ia melancarkan tebasan sejajar dengan leher Sachiro.
DUAK!
BRUAAAAAKK!
Keduanya terpental. Sachiro terkapar telentang, mulutnya berdarah. Atsumu terpelanting hingga berguling-guling akibat tendangan Sachiro yang sukses mendarat di kepalanya. Sugawara berlari menghampiri Atsumu, memeriksa apa yang terjadi dengannya. Pria pirang bermodel undercut itu masih sadar. Hidungnya berdarah. Urat-urat wajahnya keluar seakan-akan ia hampir meledak. Atsumu meringkuk memegangi telinganya.
"Suara brengsek!" Ia mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri. "Suara brengsek! Keluar dari kepalaku!"
Sugawara sempat melihat apa yang tadi dilakukan Atsumu. Ia memutar pisaunya, memegang bagian punggung mata pisaunya dan memukulkan gagangnya ke bagian bawah dagu Sachiro. Bagian tersebut adalah pusat syaraf keseimbangan manusia. Dalam gypsy boxing, orang yang ditinju uppercut di bawah dagu biasanya akan langsung pingsan. Semakin kecil luas permukaan serangannya akan semakin mematikan. Jika kekuatan serangannya besar, orang yang terkena pukul di bagian tersebut bisa gegar otak atau mengalami kejang syaraf di sekitar mulut. Yang jelas, super fatal.
"Hei, sudah. Daijobu." Sugawara memeluk kepala Atsumu di dadanya, lalu menariknya sampai berdiri.
Sugawara lalu membawa Atsumu ke sebuah ruangan yang jauh dari tempat itu, jauh dari Hirugami Sachiro yang masih tidak sadarkan diri. Entah dia mati atau belum, tetapi Sugawara tidak ingin mengambil resiko. Suara sirene kebakaran itu terdengar lebih redam di dalam ruangan tersebut. Atsumu menoleh ke segala arah dengan panik, lalu perlahan melepas kedua telinganya.
"Kupikir kelemahanmu di dunia ini cuma ayahmu, adikmu atau istrimu." ujar Sugawara. Ia mengusap pelan rambut Atsumu. "Kau ini hyperacusis, ya?"
Atsumu tidak membalas. Ia menatap Sugawara sejenak, lalu melihat bekas luka tembak di pahanya. Bohong kalau Sugawara bilang dia baik-baik saja. Tetapi setidaknya, mereka berdua masih hidup.
"Ibu kandungku bilang, mungkin itu kutukan." Atsumu bergumam. Ia menarik kedua lututnya dan menumpukan dagunya ke lutut, duduk memeluk dirinya sendiri. "Aku bisa mendengar suara kecil dan besar, lalu semua itu mendekam di kepalaku. Membuatku berpikir yang tidak-tidak, berbuat yang tidak-tidak. Suara-suara itu kadang membuatku sangat marah. Suara yang keras dan statis bisa membuatku sejenak hilang akal. Aku tidak pernah lupa dengan suara apapun yang pernah kudengar, dan hal itu membuatku mulai sinting. Lalu di Sarkad, seorang dosen mengatakan bahwa ini bukan kutukan. Telingaku adalah anugerah. Beliau jugalah orang yang mengajarkanku bagaimana menggunakannya. Tetapi selepas Perang Kapak Baja, aku jadi seperti kesurupan. Terlalu banyak suara di kepalaku. Aku cuma ingin membunuh saja rasanya, supaya suara-suara itu lenyap..."
"Makanya kau pergi ke arena balap?" tanya Sugawara. "Kau berusaha akrab dengan suara bising?"
Atsumu mengangguk. "Suara bising arena balap menyenangkan. Penuh dengan kegembiraan. Aku jadi mulai bisa mengeliminasi suara-suara yang tidak kuinginkan. Membuatku merasa seperti manusia lagi."
"Di arena balap, kau juga bertemu cinta sejatimu." Sugawara berdiri, beringkah sok kuat meski sebelah kakinya mulai mati rasa. "Ayo kita akhiri semua ini."
Oikawa Tooru menatap bosan petak-petak layar CCTV, memantau keadaan gedung apartemen yang menjadi benteng baru Aoba Johsai. Di lantai 5, Hirugami Sachiro yang dia pikir sudah mati ternyata bangun lagi. Pasangan Suga-Atsumu naik ke lantai 8 dengan lift, sementara Daichi-Noya tertahan di lantai 6. 30 pasukan kkangpae menahan mereka.
"Fukuro-san, kau dimana?" tanya Oikawa melalui wireless.
"[Aku ada di lantai 18]." jawab Fukuro santai.
"Pergi ke lantai 3. Ada pemain tambahan."
Suara sirene ribut digunakan Sachiro untuk melemahkan Atsumu. Oikawa mendengus pelan, lalu mematikan alarm kebakaran dari sistem keamanan. Kunimi yang juga berada di lantai 25 bersamanya cuma melirik Oikawa sekilas, lalu kembali mengamati.
"Oikawa-sshi, Anda bersembunyi disini karena takut, ya?" tanya Kunimi.
"Mana mungkin aku takut?!" Sergah Oikawa. "Yang namanya hwangje itu harus mengontrol segalanya dari sini! Menggunakan segala pion untuk menang! Berterima kasihlah, karena kau sedang hamil aku tidak menurunkanmu ke medan perang!"
"Gomawo, hwangje." ujar Kunimi dengan nada datar terpaksa.
"Nah, selanjutnya siapa yang bisa diajak main-main, ya..." Oikawa memutar-mutar telunjuknya di layar, lalu berbicara para wireless lagi.
"Kalian, siapa saja yang menemukan Iwa-chan, tolong melapor! Dia kehilangan wireless-nya! Ssibal-saeki..."
Lalu Oikawa menonton satu petak gambar kecil, rekaman CCTV di salah satu sudut di lantai 4—dimana ada seorang perempuan pendek dan pria tinggi berkacamata melawan burung hantu legendaris dari dunia hitman mercenaries yang tengah saling membanting dan meninju.
"Heee...kelihatan seru di bagian sini." Oikawa bertopang dagu.
Kemudian, ia menelaah lagi petak kecil di ruangan lain. Pertarungan dimana-mana. Sudah berapa lama Oikawa tidak menyaksikan hal seperti ini?
"Oikawa-sshi," Kunimi berbalik. "Kamera di lantai 7, 19 dan 22 mati."
"Mwo?" Oikawa berpindah untuk melihat layar yang diawasi Kunimi. "Tobio-chan dan Makki ada di sekitar wilayah itu. Makki, Tobio-chan! Tolong dijawab!"
"[Oikawa berisik! Kubuang wireless-nya nih kalau kau terus mengoceh!]" omel Hanamaki. "[Aku baik-baik saja. Cuma mengalami sedikit gangguan]."
"Siapa lawanmu, Makki?" tanya Oikawa.
"[Cebol brengseknya gagak]." ujar Hanamaki. "[Orang yang sudah melibas tuntas buaya tambang]."
"Hati-hati! Dia berkomplot dengan Sawamura!" seru Oikawa memperingatkan.
"[Tidak. Begitu aku menjegatnya, dia dan Sawamura berpisah. Kusuruh orang lain mengejar Sawamura]."
Oikawa berdiri, tersenyum kecil. "Habisi dia, Makki."
"[Tonton aku baik-baik ya, hwangje]."
"HEEEEAAAAHH!"
"Wuaaaa!"
BRUAKK!
DOR! DOR!
"Kau bisa diam dulu tidak, Tsukki?!"
DUAK!
"...khhhhh!"
Bokuto Kotaro sepuluh kali lebih kuat dari Azumane Asahi. Hinata yang sudah lebih mahir bertinju, judo dan segala macam beladiri lain dibuat seperti mainan dengan segala hempasan. Pukulan dan kunciannya yang tepat sasaran tidak membuat Bokuto barang sedikitpun goyah. Ia juga bisa menghindari serangan tembak dengan mudah sekali. Tsukishima selalu kesulitan membidik objek bergerak. Kalau saja Hinata tidak disana, mungkin ia sudah membabi buta menghujani si burung hantu legendaris itu dengan serangan peluru. Tetapi dengan satu sentakan cepat, Bokuto berlari mendekati Tsukishima. Ia kemudian bersalto, dan saat melompat hantaman lututnya sukses menghajar si pirang berkacamata, dan tendangan kapak membenturnya tepat di kepala. Tsukishima ambruk, terhuyung-huyung tak berdaya.
"Shishou!" Hinata terseok-seok bangun. "Kenapa kau malah membantu Phantom Hawks?! Tidakkah kita ini sekutu?"
"Haah?" Bokuto menyingkirkan sesuatu yang tampak seperti debu berpasir di sisi kepalanya. "Phantom Hawks membayar kami untuk merampas kembali boss mereka. Apanya yang salah dari itu?"
"Ta..tapi...Phantom Hawks memfitnah suamiku! Dan mereka tidak menarik tuduhannya meski mereka sudah tahu bahwa pelakunya adalah Kamo...Kamo..."
"Kamomedai Northwatch?" Bokuto mengoreksi. Ia berjalan menghampiri Hinata, tetapi berhenti beberapa langkah ketika wanita mungil itu kembali memasang kuda-kuda bertahan.
"Jadi begini, murid kecilku..." gumam Bokuto. "Yang namanya hitman mercenaries itu tidak boleh melayani dua klien yang saling bertikai. Dan kami tidak boleh membantu klan lain atas dasar alasan pribadi. Meskipun aku ingin membantumu mengalahkan para kkangpae, Raven tidak membayarku. Tetapi Phantom Hawks membayarku."
Hinata mengerenyit masam. Itu adalah kalimat yang diutarakan Bokuto saat pasutri Miya menemui mereka di Kobe. Meski Hinata menyuarakan protes hingga berteriak bahwa ia tidak lagi mengakui Bokuto sebagai gurunya, Atsumu cuma berdiri dan menyeret paksa Hinata pulang seakan sudah tahu sikap apa yang harus diambilnya. Sulit bagi Hinata mencerna penjelasan Atsumu bahwa klan hitman mercenaries seperti Nocturnal dan Kamomedai Northwatch menjadikan bunuh-membunuh sebagai bisnis jasa. Pemimpin atau kaki-tangannya mungkin berteman baik dengan semua orang, tetapi jika mereka diminta membunuh tanpa kontrak dan imbalan, maka mereka pasti menolak. Memangnya kalau kau berteman dengan dokter gigi, dia bakal memasangkanmu kawat gigi dengan cuma-cuma? Meskipun kau temannya, pasang kawat gigi itu tidak murah dan sulit. Mana mungkin dia mau melakukan kerjaan mahal dan susah dengan ikhlas hanya karena kau temannya? Atsumu memberi perumpamaan seperti itu dalam perjalanan mereka dari Kobe ke Yokohama, yang ditepis mentah-mentah oleh Hinata karena saat itu ia masih sangat kesal.
"Kau berkembang pesat sekali." Bokuto terkekeh. Ia berkacak pinggang dan menggeleng-geleng dengan bangga menatap sosok Hinata yang sekarang. "Kurasa selama ini Myaa-Tsum itu tidak cuma sekedar menidurimu, ya?"
"...Bokuto-shishou..." Hinata mengendurkan kewaspadaannya.
"Ayo, bicara." katanya lembut. "Kuberi kau 10 menit untuk mengutarakan apa yang ada di kepala dan hatimu."
Wanita berambut ginger itu menghela nafas, lalu kembali merendahkan lututnya dalam kuda-kuda menyerang.
"Raven juga bermaksud menculik balik bossnya Phantom Hawks. Daichi-san ingin bernegosiasi dengannya, perihal masa depan klan. Kami sama-sama memusuhi kkangpae dan hendak bekerja sama merobohkan mereka. Tetapi negosiator mereka tidak mau diajak berdiskusi tanpa bossnya." jelas Hinata.
"Oh, begitu." Bokuto bersidekap, lalu mengangguk-angguk. "Kita bisa bahu-membahu kalau soal itu."
"Eh?" Hinata termangu. "Apa maksudmu, shishou?"
"Selama kau bisa menjaga bossnya Phantom Hawks tetap hidup, aku bisa bekerja sama denganmu membereskan para kkangpae ini. Dengan syarat, ketika Phantom Hawks ingin mundur, aku juga harus mundur. Bagaimana?"
"Memangnya bisa seperti itu?" Hinata mengerenyit bingung.
"Tentu saja. Konsepnya seperti dropshipper online shop. Kau bekerja untukku dan aku tetap membawa keuntungan darimu, win-win solution." Bokuto tertawa keras. "Tapi, kalau kau membahayakan targetku atau berusaha membunuhnya, aku harus membunuhmu juga."
Hinata mengerutkan kening, tampak tidak paham. "Baiklah, kurasa?"
"Yosh! Kalau begitu kita bangunkan dulu Tsuki."
Bokuto menarik Tsukishima hingga terduduk dan mengguncang-guncangkan bahunya. Pria pirang ultra ketus itu mengerjap-ngerjap lemah dan Bokuto memberinya tamparan keras. Tsukishima terlonjak bangun dan refleks menodong pistol. Tetapi Bokuto berhasil mengunci pergelangan tangannya dan tembakan yang ia lancarkan tersasar entah kemana.
"Tsukishima, dengar!" Hinata berseru girang. "Bokuto-san bakalan membantu kita!"
Tsukishima mengedip-ngedip, lalu memasang ekspresi tidak percaya. "Kau baru saja menghajarku. Lalu kau memintaku untuk percaya?! Apa semua yakuza Kobe menjalin ikatan sosial dengan saling memukul?! Suga-san dengan Raja Neraka, Daichi-san dan aku dengan Miya, Hin—Shoyo dengan Miya bungsu, lalu aku denganmu?!"
"Aku tidak menjalin ikatan dengan 'Tsumu-san lewat saling memukul..." Hinata menggerling. "...uhm...aku pernah memukulnya sekali di arena balap waktu belum pacaran, sih..."
"Saling memukul lalu akrab lebih baik daripada awalnya akrab lalu saling menikam seperti gokudo Kanto, kan?" Bokuto memberengut. "Ayo, beritahu rencanamu. Biar kita bertiga bisa menyusun strategi."
"Hmm, hmm! Ikutan, dong!"
Baik Bokuto, Tsukishima dan Hinata menoleh. Suara bariton riang itu terdengar dari ujung koridor. Seorang laki-laki menjulang dengan rambut hitam muncul dari pertigaan koridor dengan seorang laki-laki berambut hitam jabrik yang tadi baru saja ditumbangkan Bokuto. Si laki-laki raksasa itu mengenakkan celana hitam bergaris yang menggantung kikuk karena postur abnormalnya. Atasannya merupakan kemeja lengan pendek krem bermotif ubur-ubur besar berwarna hijau neon.
"Iwaizumi-san..." si laki-laki raksasa, Hakuba Gao namanya, menggosok-gosok matanya. "Aku nggak mimpi, kan?"
"Kenapa?" tanya Iwaizumi sambil merenggangkan lehernya.
"Aku sudah menumbangkan cewek cebol itu, lho!" ungkapnya panik. "Aku melihatnya terguling-guling di jalanan terus berdarah, terus digotong ambulans!"
"Kau gagal berarti. Dia kelihatan kelewat sehat kayak bocah bintang iklan vitamin, tuh." balas Iwaizumi santai.
"Jadi kau melakukannya dengan sengaja ya, Oga Bakuha!" jerit Hinata kesal.
"Oh, itu shimanchu yang menabrakmu?" tanya Tsukishima dengan raut wajah malas. "Dia kuat tidak, ya? Aku ingin sekali menghajarnya. Selera berpakaiannya menjijikkan."
"Tidak tahu, tapi si kkangpae lumayan." Bokuto menyeringai senang. "Kalau aku ber-kumite dengan Sho-chan, mungkin kita berhasil."
"Shishou yakin?" Tanya Hinata. "Kelihatannya seperti berduel dengan seekor paus dan gorilla."
"Kalau melihat kemampuanmu yang sekarang, kurasa kita bisa menang." Bokuto melirik Tsukishima. "Kau pergilah duluan."
Begitu Tsukishima mengangguk dan berbalik mencari jalur pelarian, Hakuba dan Iwaizumi berlari menerjang. Bokuto menghadang Hakuba merangsek maju dengan hantaman pundak hingga si raksasa mundur beberapa langkah. Pukulan dan tendangan mereka berdua saling beradu dengan kecepatan yang nyaris tidak bisa diikuti mata Hinata. Sementara Hinata yang lengah sesaat terperangkap dalam lekukan kaki Iwaizumi yang tadi menyerangnya dengan tendangan gunting, lalu memiting lehernya. Wanita mungil itu menggeliut, berusaha membuka kuncian Iwaizumi yang membuatnya mulai kehabisan nafas. Ia merogoh selempangnya dan menyabet betis Iwaizumi dengan pisau kecil.
"Argh!"
DUAK!
Hinata menendang Iwaizumi menjauh. Ia menarik tubuhnya berdiri dan berlari ke arah yang berlawanan dengan kemana Tsukishima pergi, namun Iwaizumi tetap mengejarnya meski terpincang-pincang. Hinata mengambil segenggam petasan Cina dan menyalakannya satu persatu, melempari Iwaizumi guna memperlambat langkahnya.
DRAP DRAP DRAP
BUK!
BRUAK!
Hinata tidak menyadari kedatangan Iwaizumi dari belakang. Laki-laki kekar itu masih sanggup mengejarnya. Ia menyelengkat kaki Hinata dan menjatuhkannya, menahan lututnya di leher wanita mungil itu. Hinata menggeliut, memutar seluruh tubuhnya untuk berposisi headstand dan melayangkan tendangan ganda ke dagu Iwaizumi. Jegalannya lepas, dan Hinata kembali bersusah-payah berlari menghindari si kkangpae kekar menakutkan itu. Langkahnya terhenti tiba-tiba ketika melihat segerombol kkangpae menghadangnya dari sisi lain.
"Terperangkap, eh?" Iwaizumi menaik-naikkan sebelah alisnya. "Kurasa kau orangnya, ya? Gongju-nya Tobio."
"Kageyama bukan kkangpae seperti kalian." Hinata menarik sebilah pisau deba dari selempangannya.
Hinata menelaah situasi. Para kkangpae itu menodongkan senjata, tetapi mereka tidak mungkin menembak. Iwaizumi ada di sisi satu lagi dan jaraknya terlalu dekat, mereka bisa saja menembak rekan mereka sendiri. Ketika mereka semua menerjangnya sekaligus, Hinata menarik sebuah granat tangan yang pinnya ia lepas, lalu dilemparkannya granat tangan itu ke arah gerombolan kkangpae.
DDUUUAAAARRRR!
Hinata dan Iwaizumi terpental beberapa meter. Para kkangpae yang terkena lemparan hancur berkeping-keping. Jasad dan potongan mayatnya menimpa Hinata yang sempat merunduk. Ia menyeret tubuhnya untuk berlari, namun tangan Iwaizumi menangkap pergelangan kakinya dan ia berhasil ditarik hingga jatuh. Hinata menendang wajah Iwaizumi dengan kaki satunya. Ia menghunuskan pisaunya dan menancapkannya kuat-kuat ke lengan Iwaizumi hingga menembus permukaan karpet dan lantai.
"UAAARRRGGGHHH!" Iwaizumi menjerit keras.
Sundulan menyakitkan di rusuknya tetapi ia bisa menahannya. Sebelum Iwaizumi bisa lepas, Hinata menahan sebelah lengannya yang bebas dan ia menancapkan pisau terakhirnya dari tas selempang ke lengan satunya. Teriakan seram Iwaizumi memekakkan telinganya, tetapi Hinata memilih bergegas pergi naik ke lantai 5 melalui tangga darurat setelah sukses menyalib Iwaizumi di lantai. Makian dalam bahasa Korea yang dilontarkan Iwaizumi masih terdengar ketika Hinata sampai di lantai 5. Saat berlarian di koridor, Hinata menyadari daerah tersebut sepi sekali. Ia berhenti dan merapatkan dirinya ke tembok.
SRAAK. SRAAK.
"Hmmm...bedebah. Kemana perginya Mori-chan dan rubah sialan itu?"
Hinata menahan nafas, berusaha setenang mungkin menarik pistol dari selempangannya. Laki-laki tinggi itu mengenakkan setelan jas, tetapi kedua celananya digulung tinggi sampai kaus kaki dan bulu kakinya kelihatan kemana-mana. Di tangannya ada submachine gun. Di punggungnya ada senapan laras panjang. Langkahnya diseret, mungkin dia cedera. Laki-laki itu tidak menoleh ke arah Hinata dan berbelok di perempatan begitu saja.
GREP!
"Mmmfffhhh!"
"Sssh..." sosok yang membekap Hinata dan menyeretnya pergi mendesis geram.
Sachiro menoleh sejenak, lalu menggedikkan bahunya dan memilih mencari pasangan Suga-team. Hinata menoleh dan menemukan Kageyama-lah orang yang membekapnya tadi.
"Kageyama! Kau bikin aku jantungan saja."
Kageyama cuma diam. Ia melingkarkan lengannya di pundak Hinata dan memeluknya erat, menyandarkan keningnya di kepala gongju-nya dan memeriksa keadaannya.
"Kau terluka." Kageyama mengusap bilur di sisi bibir Hinata.
"Aww." Wanita bersurai ginger itu terkesiap. "Sakit."
"Gomen..." Kageyama menunduk, lalu menatap kembali Hinata. "Ayo, aku bisa membawamu ke tempat yang aman."
Kageyama menarik tangan Hinata, mengajaknya naik ke liftyang berbeda dari liftutama. kabinnya sempit sekali dan bagian dalamnya bukan tembok kaca yang bisa memantulkan bayangan, bunyi mesinnya mengkhawatirkan. Mereka berhenti di lantai 16 dan Kageyama keluar lebih dulu, mengecek keadaan dan mengulurkan tangannya pada Hinata. Meski ragu, Hinata menerima tangan pemuda yang selalu dianggapnya si adik besar tersebut. Kageyama memasukannya ke sebuah ruangan dan mengunci pintunya.
"Hei, ini..."
"...kamarku..."
Bagian dalamnya seperti kamar hotel mewah kelas deluxe. Ada tempat tidur, sofa, kamar mandi dalam dan perabotan lain. Kageyama mendudukkan Hinata ke ranjang dan mengambil P3K. Ia mengobati luka-luka Hinata yang sebagian besar adalah bilur dan parut berdarah. Ada juga bekas tembakan peluru. Tetapi secara keseluruhan, dia baik-baik saja.
"Kageyama?"
"Apa?"
"Lift yang tadi berbeda." ujar Hinata. "Tidak ada lift itu di rute pelarian kita."
"Iya." Kageyama mengangguk. "Aku tidak mencantumkannya di rute pelarian."
Hinata mengulurkan tangannya, mengusap pipi Kageyama. Pemuda itu tertegun sesaat, lalu memilih membiarkan Hinata membelai wajah dan kepalanya. Sudah berapa lama Hinata tidak melakukan hal itu? Kageyama rindu disentuh seperti itu oleh gongju-nya. Rindunya sampai terasa meradang di dasar hatinya.
"Maafkan aku." Ujar Hinata pilu. "Aku jadi egois semenjak mengenal 'Tsumu-san. Kau pasti kesepian, ya?"
Kageyama menarik wajahnya, lalu menatap wajah Hinata dalam-dalam. Bukan, bukan kesepian yang dia rasakan. Kageyama merasa seperti tersasar dan hilang di daerah yang asing, lalu sentuhan nyaman Hinata menuntunnya kembali pulang. Wanita mungil nan manis itu adalah mataharinya, tuan putrinya, objek obsesinya. Lalu sekonyong-konyong Kageyama kembali dihantam kenyataan. Hinata tidak mencintainya. Tidak dengan cara yang diinginkan Kageyama.
"Gongju..." ujarnya. Ia merunduk, duduk di lantai agar ia bisa menengadah menatap mata karamel menawan itu. "...aku...aku cuma mau dimaafkan."
Hinata menatap Kageyama dengan pandangan bingung.
"Aku sudah membunuh ayahmu. Melihatmu menangis kala itu, membuatku mendengar sebuah ketukan di benakku." ujar Kageyama. "Aku merasa bahwa...mungkin dengan menyerahkan nyawaku padamu, membuatmu bahagia dengan segala jerih payahku...bisa membuatku menutup lubang di hatiku. Aku ingin dimaafkan. Aku ingin orang menangisiku seperti gongju menangisi kematian ayahnya. Aku ingin menyayangi orang lain. Aku juga ingin disayang..."
"Kageya—"
"Apakah Miya -seonbae menyayangimu lebih baik dari aku?" tanya Kageyama. "Apa yang sudah dilakukannya sampai kau mencampakkan aku? Apa?! Gongju, aku sudah hampir gila dengan semua ini! Kaulah alasanku untuk hidup, bukan lagi rasa takutku dengan Oikawa-sshi! Aku tahu aku orang jahat, tetapi apakah orang jahat tidak boleh mencintai orang lain? Miya-seonbae juga orang jahat! Tetapi kau mencintainya setengah mati! Apa aku—"
Hinata meletakkan telunjuknya dengan lembut di bibir Kageyama. Ia memeluk kepala berambut hitam itu dengan lembut dan renggang, tetapi hangatnya tiada banding. Kageyama menarik kedua tangannya merengkuh Hinata lebih dekat hingga tubuhnya menggigil.
"Jangan pernah bandingkan dirimu dengan 'Tsumu-san." ucapnya sambil mengusap rambut Kageyama. "Kageyama ya Kageyama. Aku tetap menyayangimu. Tetapi aku sudah menetapkan cintaku untuk 'Tsumu-san. Aku tidak akan mencintai orang lain seperti aku mencintai suamiku."
Hinata menggenggam tangan Kageyama, lalu melepaskannya kembali. Sejak dulu bukan Hinata tidak tahu bahwa pemuda tanggung ini menyukainya. Sejak Kageyama memutuskan memanggilnya gongju, Hinata sudah tahu. Tetapi Kageyama terlalu 'hijau' baginya. Terlalu kikuk. Terlalu kaku. Terlalu suram. Bukan John Wayne impiannya. Kageyama masih sangat muda, Hinata hanya tidak mau pemuda yang sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri itu dibutakan cinta sesaat hanya karena saat itu Hinata adalah satu-satunya wanita yang mencurahkan kasih sayang kepadanya. Hinata sangat senang Kageyama menjadi lebih ceria semenjak dekat dengannya. Dan baginya itu sudah cukup. Hinata hanya...
...lalu memori itu kembali lagi.
Ah, iya.
Hinata masih memblokade hatinya untuk Kageyama, meski dia sudah menyadari rasa cinta pemuda itu. Jauh, jauh dalam hatinya ia masih menolak sosok yang membunuh ayahnya tersebut. Hinata memang mau memaafkan Kageyama, tetapi tidak pernah ada yang tahu bahwa sulitnya bukan kepalang. Sebelum insiden buaya tambang, Hinata sempat terpikir untuk mempermainkan perasaan Kageyama, membuatnya hancur karena patah hati, sengsara seburuk-buruknya. Tetapi seakan para dewa mengetahui niat jahatnya. Hati Hinata dibuat berantakan duluan karena kisah cintanya dengan Miya Atsumu. Patah hati itu amat menyakitkan. Pada akhirnya mereka memang berakhir bahagia. Namun bahagiakah ia sekarang saat melihat Kageyama?
Rencananya berhasil. Kageyama patah hati dengan sukses.
Harusnya sudah cukup, kan?
Atau mungkin ini karma bagi mereka berdua? Karma buruk bagi Kageyama yang pernah membunuh seseorang yang sangat dicintai Hinata, sehingga dia dibuat melarat karena mencintai seseorang. Karma buruk bagi Hinata pula, karena dia sejatinya berusaha membalas dendam dengan cara yang lebih menyakitkan, meski berkata bahwa ia sudah ikhlas padahal nyatanya tidak.
Wanita bersurai ginger itu mencium bibir Kageyama dengan penuh kasih, lalu menarik kembali wajahnya untuk memandang safir gelap tersebut. Ekspresi pemuda itu kosong. Ia meraba bibirnya sendiri, lalu merasa pipinya memanas. Tidak terlintas di kepalanya, bahwa Hinata akan menciumnya saat ini.
"Kageyama..." ucap Hinata beriring derai airmata. "Aku memaafkanmu. Aku memaafkanmu karena sudah membunuh ayahku...aku...aku..."
"Gongju..." Kageyama menggumam kebingungan.
"Terima kasih sudah mencintaiku dengan tulus. Maafkan aku, ya...rasa cintamu malah membuatmu jadi sengsara seperti ini...aku...meski...meski aku tidak pernah bisa mengakuinya, tetapi aku memang dulu berniat membuatmu patah hati. Aku berniat mencampakkanmu habis-habisan biar kau tahu rasa! Tapi...tapi kupikir ini sudah keterlaluan..."
Hinata membelai pipi Kageyama beriring seulas senyum, lalu melepaskannya. Ia menggosok-gosok matanya agar tangisannya berhenti.
"Karena itu, kumohon relakan aku. Kau juga harus bahagia. Gunakan nyawamu untuk membahagiakan dirimu sendiri, ya?"
BUUKK!
Pukulan telak di leher.
Hinata tidak sempat menghindarinya karena telalu cepat. Wanita mungil bernetra karamel itu rubuh di ranjang. Kageyama membuatnya tidak sadarkan diri dengan sengaja. Pemuda itu berdiri, lalu menyelimuti tuan putri tercintanya. Ia merunduk dan mencium pipi Hinata sebelum berbisik menahan linu pada nuraninya sendiri.
"Mana mungkin aku bisa merelakanmu, kalau seluruh isi kepalaku, hatiku dan seluruh duniaku semuanya tentangmu? Kau ini benar-benar egois, gongju."
Kageyama kemudian keluar dari kamarnya dan meninggalkan Hinata di dalam kamarnya yang terkunci rapat-rapat dari luar.
a/n:
hyperacusis: gangguan pendengaran yang mengakibatkan penderitanya memiliki sensitivitas tinggi terhadap suara. Suara yang menurut orang cuma sekedar keras dan biasa aja bisa bikin mereka keganggu luar biasa. Bisa menyebabkan trauma kepala karena gangguan yang diakibatkan hyperacusis bisa merusak syaraf otak. Penyebabnya macem-macem. Di fanfic ini, hyperacusis yang dialami Atsumu nggak pernah tertangani dengan baik jadi yang bikin dia kupingnya sensitif parah dan otaknya agak 'gesrek' seperti yang menurut Osamu bilang adalah karena kelainan ini. Tapi Atsumu bisa melatih kekurangannya jadi senjata. Dia jadi peka dengan segala suara dan mulai bisa meredam efek kelainan tersebut ke badannya sendiri (termasuk penuturan Hoshiumi yang katanya kupingnya super sensitif, dan dia bisa tahu Kageyama bangun, dan para kkangpae dateng nyari mereka di hotel di beberapa chapter sebelumnya). Begitchuuuuuu.
Kumite: istilah latihan sparing dalam karate. Tetapi Bokuto mengkonotasikan kumite adalah dia dan muridnya si Hinata berpasangan ngelawan Iwa-chan dan Hakuba pakai teknik-teknik judo yang biasa mereka pake waktu belajar dan latihan.
B.A.N.G.S.A.T:
Authornya masokis, fix. Udah tahu bikin adegan action baku hantam panjang itu menguras imajinasi tapi tetep aja dilakuin. Kalo udah keasikan ngetiknya mindless biar idenya ga ilang. Chapter kali ini juga dibuat lebih pendek karena hasil motong draft aslinya. Kalau kepanjangan author takut gila duluan ngeditnya hahaha. Dan btw author mulai niru gaya storytelling-nya furudate-sensei nih kayaknya, yang suka kasih 'truf card' setelah ceritanya panjang dan lama berjalan hahahhaha. Mau ngomong apalagi ya? Oh, dari beberapa chapter terakhir Atsumu menang banyak dapet fluff unyu-unyu sama Hinata mulu tangmentang udah kawin. Karena authornya menjunjung keadilan sosial bagi seluruh karakter fanfic, jadi dipersembahkanlah baper-baperan dari bucin nomor satu joki bocil emesh kesayangan kita! Author masih kasian sama Hoshiumi yang jomblo, apa cariin dia jodoh aja kali ya? Oh iya, Hoshiumi-nya versi timeskip ya. Entah kenapa dia jadi auto ganteng gitu semenjak tidak lagi berambut jabrik ala bokuto. Makin gede malah makin imut kok bisa ya? Hoshiumi rambut cepak jadi bias baru author deh /authornyalabilmohonmaap.
Yosh! Sekian bacotan kali ini. Sampai ketemu di chapter selanjutnyaaa.
