Sejauh yang Erlaine Tosen tahu selama hidup dia belum pernah berhadapan dengan lawan yang seperti ini.
Serangannya begitu tidak beraturan. Ketika Erlaine yang merupakan anggota Round Table Knight itu telah begitu terbiasa dengan serangan cepat, baru kali ini dia kewalahan.
Siapa sebenarnya penyusup ini!?
Erlaine Tosen tidak mengerti kecuali dia hanya bisa melihat gambaran garis putih membentuk orang pada dunia gelapnya.
Erlaine Tosen adalah orang buta. Kebutaan didapatkannya ketika dia masih menjadi Ksatria sihir dimana kebutaan itu disebabkan oleh racun yang diberikan sesama rekan Ksatria yang iri pada diri Erlaine Tosen karena pria itu dahulu adalah seseorang yang jenius dalam menggunakan ilmu berpedang. Ketika dia buta dia didepak dengan begitu mudah dari Ksatria sihir karena kecacatannya. Hal itu menyebabkan Erlaine Tosen begitu marah apalagi dengan nada-nada kasihan yang sering dia dengar dari orang-orang sekitarnya.
Mereka kasihan padanya namun dibelakang mereka mengolok-olok dirinya dimana mereka berkata itulah akibatnya jika dia sombong dengan kejeniusannya.
Dia tidak pernah menunjukkan kesombongan. Dia hanya menunjukkan kerja kerasnya.
Tapi ternyata dia kemudian tahu bahwa tempatnya berada, lingkungannya berada adalah lingkungan yang keji. Ibukota adalah kekejian. Bahkan orang tuanya yang merupakan bangsawan kecil pada ibukota kemudian mengabaikannya.
Karena itu kemudian rasa kebencian datang dari hatinya kepada mereka yang membuat dirinya seperti ini dan mengolok-olok dirinya. Kebencian juga kepada orang tua yang dengan begitu mudahnya mengabaikan anaknya ketika anaknya menjadi tidak berguna.
Dia terus memendam kebencian itu dan membiarkan kebencian itu tumbuh hingga kemudian dia bertemu dengan Tuan Issei Silvaria.
Tiga tahun lalu, dia bertemu bangsawan itu tiga tahun lalu yang bilang padanya bahwa dia bisa membuat Erlaine Tosen menjadi Ksatria kembali. Hal itu tidak dipercaya oleh Erlaine hingga Issei Silvaria membuktikan padanya dimana dia bisa melihat garis putih yang membentuk makhluk hidup dimana itu terlihat dalam dunia gelapnya. Itu diakibatkan oleh artifak langka yang diberikan oleh tuan Issei padanya.
Hal itu kemudian menimbulkan rasa terima kasih begitu besar pada Tuan Issei dan membuat Erlaine menyerahkan loyalitasnya pada Issei Silvaria yang banyak memberikannya dana dan obat-obatan sihir untuk Erlaine dalam rangka meningkatkan kekuatan Erlaine hingga dia bisa mencapai ilmu berpedang yang lebih jauh dan kemampuan sihir juga sangat meningkat. Selain itu kepekaan yang Erlaine dapatkan akibat keadaannya yang dilatih dengan ilmu sihir membuat Erlaine juga menjadi sosok yang kuat hingga dia bisa menduduki anggota Round Table Knight dalam waktu tiga tahun.
Dalam seni berpedang, Erlaine masih masuk lima besar dalam anggota Round Table Knight. Dia percaya dengan seni berpedangnya yang menggunakan senjata Rapier untuk memberikan tusukan dan tebasan cepat pada lawannya.
Tapi ketika seni berpedangnya terlihat tidak ada apa-apanya dengan musuh yang dilawannya, penyusup yang masuk ke kediaman tuan Issei, Erlaine Tosen hanya bisa menahan tebasan dari dua senjata, satu pendek runcing dengan bentuk cabang tiga yang aneh dan satu lagi pedang namun lebih pendek dari pedang kebanyakan.
Setiap tebasan yang datang dari musuhnya ini membawa kekuatan yang luar biasa. Erlaine Tosen yakin jika dia hanya menggunakan senjata Rapier yang ditempa dari biji besi biasa, Rapier itu akan patah dengan begitu mudahnya.
Yang bisa dilakukan oleh Erlaine Tosen adalah mengubah arah serangan yang datang sehingga arah itu tidak langsung menghantam senjatanya. Rapiernya memang terbuat dari bahan yang berkualitas bagus. Ingot dengan campuran Perak dari pegunungan Kilia yang menjadikan Rapier ini memiliki ketahanan dan ketajaman luar biasa.
Meski begitu kalau dihantam secara terus menerus Rapier ini juga bisa rusak bergerigi pada bagian tajamnya.
Tebasan yang mengarah pada bagian atas Erlaine Tosen pukul dengan mengincar bagian samping pedang untuk mengubah arah serangannya dan Erlaine Tosen membalas dengan serangan mendatar yang cepat yang dihindari begitu mudah oleh sosok yang menyerangnya dengan memutar tubuhnya ketika berada di udara dan melompat mundur mengambil jarak.
Erlaine mengambil nafasnya pelan. Ada bulir keringat yang mengalir pada dahi.
Siapapun penyusup ini, dia bukanlah orang sembarangan. Dia sangat lihai bertarung dan Erlaine tidak bisa membiarkan penyusup ini benar-benar pergi atau dia nanti akan menjadi penghalang bagi rencana tuan Issei jika dia bisa kabur dari sini dengan membawa informasi yang sudah penyusup itu peroleh.
Mengambil kuda-kuda berpedangnya, Erlaine kemudian menarik Rapiernya dan mensejajarkannya dengan wajah sampingnya sementara kedua kakinya menekuk sedikit mengambil ancang-ancang.
Suara angin membantu Erlaine memperlihatkan posisi lawannya dalam dunianya yang terlihat gelap. Garis putih membentuk orang itu berdiri disana dan Erlaine mengambil nafas panjang.
Getaran udara terlihat bersamaan dengan raungan [Mana] yang berwarna merah. Ketika pedang Rapier yang dipegang oleh Erlaine Tosen bergetar pada ujungnya begitu cepat, lingkaran sihir besar dengan aksara yang berputar melawan arah jarum jam terlihat begitu mengesankan.
Erlaine Tosen menghembuskan nafasnya dan mengatakan lirih serangannya
''Rubrum Gladium Levem; [Rapier Merah]''
Yang terlihat hanya lesatan merah selanjutnya.
[Stranded]
Asia Argento masih terkejut disana setelah Kuroka mengatakan siapa yang akan dia bunuh bersama dengan Kuroka.
Naruto Uzumaki.
Jika itu adalah petualang lain mungkin Asia tidak akan terkejut seperti ini tapi ketika nama petualang berambut merah itu disebut menjadi targetnya dia tidak habis pikir kenapa takdir berjalan seperti ini.
Asia Argento mengenal petualang berambut merah itu, bukan hanya mengenal melainkan dia cukup akrab dengan Asia karena petualang itu sering berkunjung ke panti asuhan yang dikelola Gereja hanya untuk memberikan bantuan kepada anak-anak yatim piatu disini.
Petualang itu bahkan juga memberikan mainan satu persatu bagi anak-anak disini. Anak-anak disini cukup akrab dengannya dan sering memanggilnya kakak. Petualang itu selalu tersenyum ketika dia dekat dengan anak-anak dan akan selalu membuatkan mereka camilan ketika petualang itu meminta ijin untuk memakai dapur Gereja atau bahkan bercerita tentang petualangannya pada setiap Quest yang dia jalankan.
Asia dahulu mengenal petualang itu bahkan jauh sebelum petualang itu terkenal atau bahkan rumor tentangnya santer terdengar belakangan ini. Asia masih mengingat betula bagaimana petualang itu datang pertama kali ke Gereja ini, mengenalkan dirinya sebagai seorang petualang dan bertanya apakah Gereja ini juga mengelola panti asuhan bagi anak-anak yatim.
Gadis itu masih mengingat bagaimana dia memasang wajah curiga kepada petualang tersebut. Tidak pernah selama Asia menjadi Biarawati ada seorang petualang yang bertanya demikian padanya. Ketika dia bertanya kenapa petualang itu bertanya seperti itu padanya, jawaban yang dia dapatkan terdengar mengejutkan.
''Jika ada anak-anak yatim disini, aku hanya ingin berbagi untuk kebahagiaan mereka.''
Hal itu diucapkan petualang tersebut dengan senyuman yang begitu tulus yang membawa rasa nostalgia yang tidak bisa dijabarkan oleh Asia itu sendiri. Ketika itu diperlihatkan oleh petualang tersebut, petualang tersebut bukanlah terlihat seperti seorang petualang.
Dia terlihat seperti seorang Saint; Orang suci.
Asia tahu bagaimana kehidupan seorang petualang. Kebanyakan petualang hanya memikirkan ketenaran dan kejayaan mereka. Ada mungkin yang baik diantara petualang tapi jumlah yang mau berbagi kepada sesama bahkan hanya untuk anak yatim bisa dihitung hanya dengan jumlah jari yang ada kepada kedua tangan.
Bahkan ketika petualang itu kemudian terkenal dalam waktu begitu singkat dimana Asia mendengar bagaimana petualang itu membawa kepala Wyvern ke ibukota yang mana menunjukkan seberapa kuatnya petualang tersebut, hati petualang itu tidaklah berubah.
Dia masih rendah hati dan masih sering mengunjungi panti asuhan.
Dan hal itu begitu menyentuh Asia. Asia bahkan kemudian menjalin hubungan baik dengan petualang itu karena Asia sendiri adalah penanggung jawab anak-anak panti.
Jadi ketika Asia diperintahkan untuk membunuh Naruto yang notabene dia kenali dan memiliki hubungan baik serta memiliki sifat yang baik pada mata Asia, Asia tidak bisa untuk tidak menampakkan kemarahannya setelah keterkejutannya hilang.
Tuan Issei!
Gigi Asia bergemelutuk. Asia mencoba menahan nafasnya yang memburu.
Kenapa takdir begitu kejam padanya? Apakah ini balasan untuknya karena dia memiliki pekerjaan Assassin dimasa lalu?
Mungkin melihat wajah yang ditampakkan oleh Asia, gadis kucing yang merupakan keturunan dari Demi-human itu bertanya padanya.
''Nona Asia, anda... Tidak apa-apa?''
Asia lalu menatap nyalang pada Kuroka yang membuat Kuroka tersentak. Mungkin gadis itu juga terkejut dengan reaksi Asia begitu berubah dengan cepat namun Asia mencoba untuk menguasai dirinya sendiri.
Asia menarik nafasnya perlahan. Dia harusnya tahu bahwa takdir memang terkadang selalu kejam padanya.
Asia memegang bagian dadanya. Ada sebuah tanda yang berada pada balik pakaiannya Biarawatinya. Itu adalah tanda sihir kontrak yang membuatnya tidak akan pernah bisa menolak apa yang diperintahkan oleh Tuan Issei hingga dia mati atau tuan Issei dahulu yang tewas. Asia menatap bagian bawah lantai dengan pandangan sayu.
Dia dahulu tidak pernah menginginkan menjadi seorang Assassin. Dia dahulu tidak pernah ingin menjadi orang yang mengambil nyawa orang lain dengan begitu mudahnya.
Tapi ketika takdir hidupnya sudah demikian terkadang Asia ingin berteriak pada dewa.
Asia muak dengan ini semua.
[Stranded]
Saat Naruto berkata ini akan menarik maka memang pertarungan yang dia lakukan dengan anggota Round Table Knight yang menjadi sekutu Issei Silvaria sangat menarik baginya.
Naruto belum pernah melawan orang yang memiliki kekurangan pada dirinya namun masih memiliki semangat juang yang begitu tinggi bahkan itu tercermin pada seni berpedangnya yang menurut Naruto terkesan halus.
Meski Naruto masih bertarung dengan tidak sungguh-sungguh dimana terbukti dia masihlah belum mengeluarkan tekanan membunuhnya dan hanya mengandalkan teknik Shinobi, Naruto harus dibuat terkesan ketika semua serangannya dialihkan untuk menuju arah lain dan bahkan Naruto harus berulang kali menghindar juga karena serangan balasan cepat dari si pendiam Erlaine Tosen. Bahkan ketika Naruto kemudian beralih pada serangan tidak beraturan, Erlaine Tosen masih bisa menangkisnya dengan begitu baik.
Mereka beradu pedang cukup lama. Kunai dan Tantonya menari dan Erlaine membalas tarian yang dilakukan Naruto dengan baik yang membuat Naruto salut pada anggota Round Table Knight ini meski dia berada pada jajaran musuh yang buruk.
Apakah Erlaine Tosen mengetahui segalah keburukan yang dilakukan oleh Issei Silvaria dan membiarkannya begitu saja? Erlaine Tosen dikatakan menjunjung tinggi keadilan dan membenci tindakan buruk jadi mungkin Erlaine Tosen tidak mengetahui keburukan Issei Silvaria dimana bangsawan itu hanya menunjukkan sisi manisnya untuk memperalat Erlaine Tosen semata.
Sungguh kasihan jika demikian.
Naruto mengelak dengan memutar tubuhnya pada udara untuk menghindari serangan balasan Erlaine Tosen dan melompat mundur ke belakang untuk mengambil jarak.
Ketika pedang mengatakan bagaimana usaha begitu keras Erlaine Tosen pada Naruto, Naruto menyayangkan usaha keras itu digunakan untuk melindungi orang yang salah.
Naruto kemudian melihat bagaimana Erlaine Tosen mengambil kuda-kuda berpedang berikutnya. [Mana] yang keluar dari tubuhnya terlihat marah dan lingkaran sihir yang tercipta pada belakang pria itu terlihat mengerikan.
Naruto pikir pria itu akan berniat menghabisinya dengan satu serangan ini. Naruto bisa merasakan aura membunuh yang meracuni udara sekitar.
Kupikir sudah cukup main-mainnya.
Dia tidak ingin membuat keonaran lebih dari ini dan Naruto pikir pertarungan ini tadi sudah menarik penjaga yang derap langkahnya bisa Naruto rasakan dari sensornya.
Naruto pikir ini saatnya untuk mundur. Naruto kemudian melihat ke belakang.
Bunshin yang dia buat memberikan sinyalnya bahwa dia sudah berada pada hutan kecil yang membatasi wilayah kediaman Issei Silvaria lewat chakra yang dilemparkan ke atas udara. Naruto tersenyum, dia kemudian berganti tempat dengan Bunshinnya. Mungkin Erlaine Tosen hanya akan melihat bayangan samar pergantian dirinya dengan bayangan Naruto dan hanya akan membunuh Bunshinnya.
Atau justru Bunshinnya yang sedikit nakal kali ini.
Ketika Bunshinnya meledak, ingatan yang kembali membuat Naruto meringis.
Erlaine Tosen melancarkan serangan tusukan cepat beruntun yang kecepatannya luar biasa, jumlah tusukannya mencapai enam puluh empat titik yang hampir menyamai serangan dari keluarga klan Hyuuga. Bunshin Naruto bisa menghindari banyak serangan itu tapi ketika serangan terakhir justru menembus tubuh Bunshinnya, Bunshinnya tertawa.
Ingatan Bunshinnya yang memegang Rapier yang menusuk tubuhnya dan ucapannya berikutnya yang membuat Naruto meringis.
Kage Bunshin; Okina hi no Bakuhatsu [Kage Bunshin; Ledakan api besar]
Jutsu yang membuat Bunshin miliknya meledak dalam ledakann api begitu besar yang sampai bisa menghancurkan satu rumah besar itu telah membuat asap yang membumbung ke langit dari arah kejauhan yang terlihat oleh Naruto dari atas dahan pohon.
Dia berharap Erlaine Tosen bisa selamat dari ledakan itu.
