I LOVE YOUR DAD

WU YIFAN X KIM JONGIN

.

.

Ini bukan tentang sugar daddy apalagi pedofil

.

.

CHAPTER 23: Choice 2

"Kuning atau biru?"

Jongin menatap Yifan dengan heran. Kenapa harus kuning? Saat Yifan tengah memakai kemeja biru langit, rompi hitam dan jas hitam. Serius. Kenapa kuning?!

"Kuning." Jawab Jongin yang malah membuat Sehun hampir tersedak kopi buatannya sendiri.

"Oh, oke!" Yifan setuju begitu saja.

Saat Yifan menggunakan dasi kuning. Jongin langsung berlari ke arah Yifan.

"Bercanda Ge!" seru Jongin sambil mengambil dasi biru yang tersampir di atas sofa. "Biru Ge! Biru!" Jongin menghentikan tangan Yifan. "Biru jangan kuning." Jongin tersenyum lembut yang membuat Yifan melepas dasi kuningnya.

"Aku hanya ingin kau tahu, keputusanmu sama pentingnya untukku."

"Tapi ya jangan Biru atau Kuning," Jongin memukul paha Yifan dengan dasi kuning di tangannya. "Kau tahu keputusan yang benar tapi pura-pura bertanya padaku," Jongin bercakak pinggang saat Yifan sibuk merapikan dasinya. "Memberikan pilihan rasional juga penting."

"Memberikan orang tuamu kesempatan dan kuliah di Jepang merupakan pilihan yang jauh lebih rasional, dibandingkan menikah setelah lulus sarjana." Ini Sehun yang berbicara.

"Kau berada di pihak mana sih?" Bukan Yifan yang bertanya tapi Jongin. "Ini nih, kau itu kadang plin plan." Protes Jongin yang hanya membuat Yifan justru tertawa.

"Aku berpihak pada tim dasi biru." Sehun menyesap kopinya tanpa rasa bersalah.

Jongin tanpa sadar menyandarkan dahinya di dada bidang Yifan. Dan Yifan hanya mengusap pelan rambut Jongin. Hingga supir Yifan datang dan tidak sengaja mengintrupsi keduanya.

.ILYD.

Jongin menatap tab kesayangannya yang berisi grafik penjualan dengan ketiga temannya. Ah, tidak, kali ini ditambah dengan Sovi dan dua orang junior yang Sehun rekrut untuk membantu. Mereka semua berada di akhir semester, kadang mereka sibuk dengan tugas akhir. Jadi mereka memutuskan untuk menarik beberapa junior yang bisa membantu dan tentu dibayar dengan pantas.

"Kami berdua sudah mengirim proposal." Yuan kekasih Sehun angkat bicara ditengah kesibukannya menyeruput bihun kuah kaldu ayam kesukaannya. Proposal mengenai inovasi yang akan mereka kembangkan sekaligus menjadi jurnal ilmiah mereka nanti ke depannya dengan seorang dosen sebagai pembimbing.

Yuan sesekali membenarkan geraian rambutnya dan membuat Jongin risih bukan main. Tanpa memindahkan tatapannya dari Yuan. Jongin mengulurkan tangannya pada Sovi. Kadang Jongin tidak perlu mengatakan apa pun pada Sovi, gadis itu dengan hebatnya langsung mengerti maksud dari Jongin. Jadi, Sovi memberikan salah satu ikat rambut yang selalu ia bawa.

"Bagus sih kalau kita bisa mengembangkan produk kita dari minyak aroma terapi berkembang menjadi produk skin care," gumam Jongin. Setidaknya pengalamannya menjadi interpretasi kakaknya Suho dulu, memberikannya gambaran kecil mengenai skin care yang akan Jongdae dan Yuan kembangkan. "Tapi bagaimana kita tahu kalau produk kita aman?"

"Sedang dalam penelitian." Perkataan Jongdae berbarengan dengan suara mie yang disedot oleh Yuan. Barbar bukan main gadis satu ini jika sedang kelaparan.

"Dosen kalian bagiamana?" Jongin kembali bertanya. Namun tangannya tanpa permisi mulai menata rambut Yuan. Menyatukan semua yang bisa digapai dengan ikat rambut pemberian Sovi.

"Nah ini!" seru Sehun tiba-tiba. "Kebiasaan!" protes Sehun yang menatap Jongin dengan kesal. Namun Jongin dan Yuan justru menatap Sehun dengan menghakimi. Suara Sehun terlalu keras. "Hal macam ini yang membuat orang-orang salah sangka kalau Yuan itu kekasihmu."

"Ya makannya peka," keluh Jongin yang kembali menatap tabnya. Sama seperti Yuan yang kembali fokus pada makanan dihadapannya. Bahkan sempat-sempatnya meminta Sehun untuk mengambilkan tisu karena mulutnya yang belepotan terkena ciptaran kuah. "Oke lanjut, apa kita berempat masih sanggup untuk memenuhi pesanan?" Jongin kembali menatap grafik pesanan online yang tidak banyak peningkatan. Namun beberapa konsumen sepertinya cukup berminat hingga melakukan repurchase.

"Masih." Jawab Sehun yang awalnya ingin marah harus kembali pada topik pembicaraan. "Kecuali untuk pesanan besar."

"Kalau kalian mengalami kesulitan, kalian bisa ajak teman kalian yang lain," Jongin menunjuk kedua junior yang hanya diam mendengarkan. Masalah packing kadang ia serahkan pada dua juniornya ini. "Aturan mainnya masih sama," Keduanya mengangguk pelan. Tapi kemudian Jongin menatap keduanya dengan lekat. "Menurut kalian apa kelemahan dari kami?"

Keduanya justru saling bertatapan dan menggelengekan kepala. Reaksi yang wajar ketika ditanya macam itu. Mana mungkin mereka berani berkomentar pada usaha yang sedang dirintis oleh para senior. Diajak bergabung saja sudah untung bagi mereka.

"Kalian pasti sadar, setiap bulan kita memang mendapatkan permintaan tapi makin lama grafiknya penjualannya justru semakin turun," Jongin menatap keduanya dengan tatapan penasaran. "Kalian menemukan sesuatu dari kolom komentar di semua platform yang kita punya?"

"Karena selera, beberapa orang tidak suka aroma lavender yang terlalu pekat," salah satu juniornya yang selalu dipanggil Ten berkomentar. "Beberapa kali juga kita harus menangani komplain karena botolnya rusak atau bocor."

"Oke double hingga triple check, kalo perlu kita menambah bubble warping" ujar Jongin. "Apa kalian memiliki ide yang tidak pernah kami pikirkan?"

Lucas merupakan salah satu junior yang memiliki pembawaan ceria mengangkat tangan. "Bagaimana kalau buat single aroma, kita hanya perlu membuat beberapa aroma populer seperti bergamot, levender, peppermint, tea tree dan ylang ylang," Lucas terlihat gugup saat semua orang menatapnya dengan ragu. Tapi Jongin memaksa untuk melanjutkan ucapannya. "Nanti kita berikan komposisi aroma apa saja yang cocok untuk dicampurkan, biar konsumen yang menentukan kebutuhannya sendiri, sesuai dengan selera meraka." Kemudian dia tertawa di akhir ucapannya. Tidak ada yang lucu memang tapi itu cara ampuh untuk menghilangkan rasa gugup.

"Aku rasa kita juga perlu peka pada tren wewangian," Ten menambahkan dengan tiba-tiba. "Aroma bunga seperti chamomile sempat trending," Ten menatap Lucas yang menganggukan kepalanya. "Lilin aroma juga memiliki penikmatnya sendiri, aku melihat beberapa orang senang mengumpulkan gelas bekas lilin, mungkin kita bisa memperkokoh tempatnya."

"Sepertinya aku bisa dengan tenang kuliah di Jepang," gumam Jongin tiba-tiba. "Kita punya dua orang yang sangat peka." Sindir Jongin pada Sehun yang hanya cembeut.

"Kau serius akan ke Tokyo?" Jongdae sebenarnya sempat mendengar kabar itu dari Kyungsoo.

"Aku belum memutuskan, aku harus mendiskusikannya dengan orang tuaku dulu," Jongin menatap tabnya dengan resah. "Lagi pula aku juga masih harus menyiapkan banyak hal sebelum sidang."

"Sudah di acc?!" Semua orang bertanya dengan terkejut.

"Aku belum cerita ya?" Jongin mengerutkan dahi dan malah menemukan semua orang menggelengkan kepalanya. "Tiga hari yang lalu.." Jongin menghentikan ucapannya karena handphonenya bergetar. Sebuh pesan singkat dari nomor yang tidak ia kenal muncul.

Pesannya sangat sederhana namun sukses membuat Jongin panas dingin.

Bisakah kau mengambil mobilku dari bengkel. Kalau kau tidak keberatan kita bertemu saat makan siang.

Kemudian pesan lain muncul yaitu sebuah lokasi dimana mereka akan bertemu. Ini sudah mendekati makan siang. Yuan bahkan sudah memakan sarapan sekaligus makan siangnya tadi. Jongin memang belum memesan apa pun karena belum merasa lapar. Dan sepertinya itu sebuah keputusan yang bijak.

"Aku tidak bisa ikut bergabung makan siang," Jongin yang bahkan belum menyelesaikan ceritanya tiba-tiba mengintrupsi. "Aku harus menemui..." Jongin menganggantungkan kalimatnya. Memiringkan kepalanya karena merasa pupil matanya berkedut. "...bakal calon ibu mertua."

"Aku ikut!" Sehun tiba-tiba beranjak berdiri.

"Tidak!" Jongin menatap Sehun dengan tajam.

"Nenek memintamu datang hari ini karena tahu Ayah..." Sehun melebarkan matanya lupa ada dua juniornya yang sangat peka. "...dan kekasihmu sedang perjalanan dinas," Sehun melanjutkan kalimatnya dengan senyuman permohonan maaf. "Kau serius pergi sendirian?"

Jongin hanya mengangguk sambil memasukkan tabnya ke dalam tas. "Maaf aku harus pergi." Jongin buru-buru keluar dari restoran menuju bengkel Kyungsoo. Untung dia membawa motor tadi.

"Aku baru tahu senior sudah punya kekasih." Celetuk Ten yang diberi anggukan setuju oleh Lucas.

"Memangnya bakal calon mertua senior menyeramkan ya?" Lucas bertanya dengan penasaran.

"Tidak, calon mertuanya itu hanya sulit ditebak." Jawab Sehun sambil tersenyum simpul.

.ILYD.

"Kau datang sendiri?"

Jongin mengangguk. Mana berani ia tolak.

"Aku pikir Yifan akan membatalkan pertemuannya," wanita itu tersenyum saat Jongin memberikan kunci mobilnya. "Atau setidaknya Sehun datang untuk menemanimu."

"Aku sedikit penasaran," ucap Jongin sambil tersenyum kecil. Ia tentu tidak memberitahu Yifan. Nanti saja, setelah selesai pertemuan. "Apa yang membuat Anda ingin kembali menemuiku?"

"Lebih baik kau minum dulu." Wanita ini bahkan tahu kalau Jongin suka matcha latte.

Karena udaranya cukup panas, wanita yang melahirkan kekasihnya ini memesan minuman untuknya dengan es. Jongin diam-diam tersenyum hanya karena segelas matcha latte.

"Berat tidak?" Nyonya Wu menatap cincin yang dikenakan Jongin. "Menjadi seorang gay?"

Jongin tersentak. Terkejut dengan bertanyaan tanpa basa basi. Sepertinya Jongin harus terbiasa dengan ini.

"Tergantung," Jongin menatap mata wanita yang tampak terlihat lelah dan banyak pikiran. "Keluargaku menerimanya dan aku rasa itu sudah lebih dari cukup."

"Kau diminta ayah kandungmu untuk kuliah di Jepang, kau tidak takut Ayahmu akan memaksamu kembali untuk menyukai perempuan," Wanita itu tidak berniat untuk menakuti Jongin. Tapi Jongin pernah dengar, alasan kenapa Yifan menikah dengan ibunya Sehun. Karena ibunya mengancam untuk memasukkan Yifan ke rumah sakit jiwa. "Aku tahu kau pernah berkencan dengan perempuan."

"Aku punya Ayah, Kakak, Adik, dua orang Ibu, sahabat dan juga kekasih yang tidak akan tinggal diam," Jongin cukup percaya diri akan hal ini. "Aku sudah terlalu lelah untuk berprasangka buruk pada orang tuaku sendiri," Jongin kemudian tersadar akan satu hal. "Aku tahu Ayah kandungku malu, oleh karena itu aku tidak pernah memperkenalkan diri sebagai Kai Nakashima."

"Tapi sepertinya kau akan memilih permintaan Ayahmu dibandingkan Yifan."

Jongin memincingkan matanya. Refleks. Ia sepertinya mulai mengerti arah pembicaraannya.

"Kalau kedua hal tersebut tentang pilihan tanpa ada faktor lain, ini hanya masalah waktu."

Sebagai seorang anak, permintaan orang tua tentu menjadi hal yang diprioritaskan. Ia tidak memiliki dendam apa pun pada Ayah kandungnya. Sekarang ia bersyukur Ibu dan Otousan bercerai. Ia tidak perlu lagi melihat Ibunya menangis, karena sekarang Ibunya sudah memiliki teman hidup yang jauh lebih baik.

"Tapi Yifan orang yang egois," wanita itu tidak menyangka jika Jongin akan tertawa mendengar perkataannya. "Kau tidak penasaran, kenapa Yifan dengan mudah mengajakmu menikah padahal kau baru lulus kuliah?"

"Aku tidak menemukan jawabannya," jujur saja Jongin dari dulu penasaran bukan main. Dia menolak dengan alasan yang sama, ia masih muda, baru lulus kuliah. Menikah bukan hal yang mudah. "Dia selalu bilang, dia akan selalu mendukung apa pun pilihanku, dia tidak akan menghalangiku jika aku ingin melanjutkan kuliah dan membantu perusahaan Ayahku."

"Yifan menikah pada umur 23 tahun," Nyonya Wu mengatakannya dengan sekali tembak yang membuat Jongin terdiam cukup lama. "Setelah lulus kuliah, dia membawa Nara dan bilang jika ia harus menikah dengan seorang perempuan, ia hanya ingin menikah dengan Nara."

Jongin hanya tahu ia dan Yifan berbeda 24 tahun. Tapi kalau di kalkulasikan dengan benar. Ya berarti, Yifan menikah pada umur 23 tahun, setahun kemudian baru Sehun lahir.

"Pantesan!" seru Jongin sambil memandang cincinnya. "Dia punya anak dan bisnis yang berjalan lancar," Jongin menatap wanita yang tengah memasukan dua sendok gula ke dalam tehnya. "Seharusnya aku tidak kaget kenapa dia bisa sukses dan memiliki hidup yang cukup stabil hanya dalam waktu beberapa tahun."

Wanita di hadapannya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Jongin yakin, Yifan memiliki orang tua yang peduli padanya. Kalau tidak, buat apa Ibunya ini sampai menyelidiki Jongin sampai sejauh ini.

"Ku akui kau memang memiliki mulut yang manis," Wanita itu mengaduk tehnya dan menyesap dengan pelan. "Kau punya aura yang menenangkan, meksipun kau saat ini sedang gelisah."

Jongin tersenyum kikuk.

"Sulit untuk tidak menyukaimu," Nyonya Wu mengatakannya dengan sungguh-sungguh. "Sebenarnya aku sedikit bersyukur, Yifan lebih memilihmu dibandingkan Luis," wanita ini tertawa saat melihat reaksi Jongin yang memelototkan matanya. "Kau harus tahu, sebenarnya orang tua Luis tahu kalau anak satu-satunya itu gay dan menyukai Yifan."

Jongin mengerutkan dahinya dan sebuah skenario dramatis muncul dalam imajinasinya. "Apa jadinya kalau Yifan juga menyukai Luis?" Jongin memiliki banyak hipotesis. "Hanya ada dua ending, bisnis Yifan akan naik atau berakhir bangkrut, tapi ku rasa yang kedua."

Komentar Jongin membuat wanita di hadapannya ini tertawa. Jongin ikut tertawa melihatnya.

"Tapi aku tetap tidak bisa merestui kalian berdua." Suara yang terdengar serius itu jelas membuat Jongin tersetak.

"Aku tahu," Jawab Jongin pada akhirnya. "Sejak tadi pagi aku terus berpikir, kira-kira apa yang akan terjadi di restoran ini," Jongin sudah terbiasa dengan penolakan. "Tapi Yifan bukan orang yang mudah menyerah," Jongin menatap wanita yang masih menatapnya tanpa gentar sama sekali. "Aku juga bisa sama berambisinya."

"Kalau kau berambisi dengan hubunganmu, harusnya kau tidak insecure dengan kehadiran Luis," Nyonya Wu menatap Jongin dengan lembut, tapi Jongin malah mengerutkan dahinya. Pertanda anak muda ini masih belum mendapat inti kalimat yang tepat. "Tidak ada orang yang terbiasa melihat pasangannya digandeng mesra oleh orang lain," kalimat ini membuat Jongin justru memiringkan kepalanya. "Kau hanya perlu beri tahu Yifan, beri dia penjelasan, Yifan pasti punya cara yang tepat agar Luis menghormati hubungan kalian berdua."

Jongin tersenyum kaku dengan dahi mengerut. "Aku cukup terkejut mendengarnya."

"Setelah menyelidikimu, aku baru tahu, banyak hubungan Yifan yang kandas berkat Luis," wanita itu tersenyum saat Jongin menganggukkan kepalanya. Jongin tahu akan kabar itu berkat Baekhyun. "Aku memang tidak merestui hubungan kalian berdua, tapi aku sedikit gemas dengan cara kau menyikapi perlakuan Luis," wanita dengan pakaian menawan itu kembali membuat Jongin terpukau. "Entah itu perbuatan baik atau buruk, pura-pura tidak peduli adalah tindakan yang jauh lebih buruk."

Jongin binggung harus merespon seperti apa. Ia ingin berterimakasih untuk sarannya. Tapi di sisi lain, saran itu tidak terlalu berguna jika hubungannya dengan Yifan masih tidak bisa direstui. Jadi Jongin hanya bisa diam sampai seorang pelayan datang dan mengatarkan dua piring makanan berat. Sepiring tuna salad dan ayam katsu. Jongin menatap wanita di hadapannya dengan bingung.

"Aku tahu kau suka ayam."

Hidangan dihadapannya membuat Jongin terkesiap dan menghela nafas dengan panjang. "Sepertinya ini salah satu alasan kenapa aku tidak suka perempuan," gumam Jongin yang membuat Nyonya Wu menaikan sebelah alisnya persis seperti Yifan. "Kalian susah sekali ditebak dan bisa melakukan hal yang kontradiktif dalam waktu bersamaan." Keluh Jongin yang lebih seperti rengekan anak keci.

Keambiguan tindakan Nyonya Wu membuat Jongin bingung, dia merasa hubungannya tidak direstui tapi diberkati dalam waktu bersamaan. Melihat ayam katsu di hadapannya membuat Jongin memilih untuk tersenyum senang. Ia hanya perlu menerima semua kejutan dari sifat wanita yang membesarkan Yifan.

"Terimakasih atas makanannya." Ucap Jongin dengan suara riang. Hal ini cukup membuat wanita dihadapannya terkejut.

Wanita itu tidak bisa menahan tawanya saat melihat ekspresi Jongin yang berubah riang. "Sepertinya kau memang tidak bisa menolak ayam?" pertanyaan yang itu membuat Jongin menganguk dengan semangat.

Pembicaraan mengenai Luis membuat Jongin sedikit merasa nyaman. Setidaknya meski pun Ibunya Yifan tidak merestuinya. Nyonya Wu ini pun tidak berpihak pada Luis.

"Aku punya cerita yang cukup sentimental tentang ayam," Jongin mengatakannya setelah menelan sepotong ayam katsu. "Ibuku membelikanku ayam goreng untuk merayakan gaji pertamanya."

Jongin tiba-tiba ingin menceritakan hal ini lebih panjang lagi. Ia sudah lama tidak berbicara dengan sosok seorang Ibu. Nyonya Wu sebuah sosok Ibu yang sangat perhatian. Matcha latte, ayam bahkan perkara Luis. Pembicaraan keduanya tidak akan sejauh ini jika Nyonya Wu bukan orang yang sangat perhatian.

"Sebelum menikah dengan Otousan, ibuku seorang jurnalis, setelah menikah ibuku memilih untuk tidak bekerja sama sekali," Jongin ingat, masa-masa dimana ia tinggal berdua dengan ibunya di Seoul. "Bertahun-tahun tidak pernah bekerja, pengalamannya yang begitu banyak sudah tidak bisa dipakai lagi dan tidak bisa dianggap sebagai pengalaman karena zaman sudah berubah, untungnya perpustakaan di pusat kota menerima lamaran kerja ibuku."

"You love her?" Pertanyaan spontan itu membuat Jongin tersenyum.

"Ya."

"Apa jadinya jika ibumu tidak menerimamu sebagai gay?"

"Aku rasa, aku akan memilih untuk tidak memiliki hubungan dengan siapa pun, baik wanita atau pria," Jongin pernah berpikir sejauh itu. Ia tidak mau menyusahkan Ibunya. Ia bisa keluar dari rumah Otousan merupakan hal yang sudah sangat ia syukuri. "Mungkin aku akan hidup seperti pendeta dan biksu."

"Maksudnya?"

"Menebar kasih tanpa harus memiliki kekasih."

"Aku tidak yakin kau bisa melakukannya."

"Aku tidak tahu, karena aku tidak jadi mengalaminya," Jongin tersenyum sumringah karena mengatakan hal ini. "Karena Ibuku dengan berbesar hati menerima anaknya yang berbeda."

Jongin langsung melebarkan matanya. Dan menutup mulutnya dengan cepat. Sumpah! Ia tidak bermaksud menyindir sama sekali. Serius, oleh karena itu Jongin buru-buru langsung meminta maaf. Tapi wanita dihadapannya ini hanya tersenyum tipis. Suasan makan siang keduanya berubah jadi asing.

Wanita berpakaian glamor ini berjalan di samping Jongin. Tidak ada yang meminta, tapi Jongin rasa mengantarkan pemilik mobil kepada mobilnya adalah tindakan paling benar. Karena hanya ia yang tahu dimana mobil mewah itu terparkir.

"Aku tahu kau tidak bermaksud seperti itu." Wanita ini bahkan mengusap punggung Jongin dengan pelan.

Jongin menatap dengan rasa bersalah. "Aku tidak mau memperkeruh hubungan rumit ini." Jongin akhirnya mengatakan kegelisahannya.

"Aku rasa kau benar-benar menyukai anakku."

Jongin menganggukkan kepalanya dengan pasti sambil mengulum kedua bibirnya. "Anak Anda terlalu tampan untuk aku campakkan."

"Ya Tuhan," Nyonya Wu mengelus dadanya dengan perlahan. Hal ini yang membuatnya sulit membencin seorang Kim Jongin. "Aku rasa ibumu mendidikmu dengan baik."

Wanita ini terkesan saat Jongin dengan begitu naturalnya mengulurkan lengannya, membantunya untuk turun dari tangga. Kebetulan mereka memang makan di lantai dua. Tapi Jongin lebih terkejut, karena wanita yang menggenggam lengannya ini, menyupir mobilnya sendiri. Tanpa bantuan seorang supir sama sekali. Persis seperti Yifan yang hanya menggunakan supir kantor untuk waktu-waktu tertentu.

"Tolong berikan ini pada Yifan dan Sehun," tiba-tiba seseorang datang dari arah samping Jongin. Seorang pria muda berpenampilan rapih seperti pegawai kantoran. "Kau juga boleh mencobanya."

"Akan aku sampaikan." Ucap Jongin yang terbawa suasana melihat betapa sopannya pria yang memberikannya tas berbahan aluminium foil berukuran sedang. Jongin bisa menebak, sepertinya isinya makanan rumahan.

"Sampai jumpa lagi!" sapa wanita yang kini tengah menggunakan kacamata hitam. Oh, style Yifan itu hampir mirip dengan ibunya. "Jangan lupa kembalikan kotak itu padaku tanpa perantara siapa pun."

"Baiklah.." Jongin terkejut bukan main. Berarti akan ada pertemuan selanjutnya. "Hati-hati di jalan." Ucap Jongin sambil melambaikan tangannya.

Setelah mobil dua pintu itu benar-benar hilang dari jangkauan matanya. Jongin langsung memegang dadanya sambil meraup oksigen dengan kuat. Jantungnya hampir copot, mau bagaimana pun ia tetap grogi bukan main. Ia sedikit bersyukur pernah bertemu dengan keluarga besar pemimpin triad. Setidaknya dia belajar untuk mengendalikan ekspresi wajah.

"Mari aku antar." Ucap pegawai pria yang rupanya masih berdiri di samping Jongin. "Aku akan mengantar Anda ke bengkel untuk mengambil motor."

Sepertinya ia masih diikuti oleh orang suruhan ibunya Yifan. Atau jangan-jangan ya orang ini, pelakunya.

.ILYD.

Jongin baru saja keluar dari toko buku bekas langganannya. Saat melihat mobil Yifan melintas dan tepat berhenti di hadapannya.

"Oh! Gege!" seru Jongin dengan wajah cerah. Namun kembali meredup saat pintu di samping kemudi terbuka. "Lagi.." baru saja ia habis bergibah mengenainya dengan ibu yang melahirkan Yifan.

Tapi tidak masalah karena tempat ini tergolong sepi. Jongin tidak ragu untuk memeluk Yifan. Meski Yifan tentu saja terkejut.

"Kau baik-baik saja?" Yifan menangkup wajah Jongin dengan khawatir.

"Ibumu menitipkan ini," Jongin akhirnya menyerahkan kantung kertas. "Kau pasti merindukan masakan ibumu," Jongin tersenyum saat Yifan membuka tas kertas yang ia berikan. Isinya terdapat 3 kotak tempat makan berisi beberapa lauk makanan. "Aku diizinkan untuk mencicip juga."

Yifan seperti ingin menanyakan sesuatu tapi bingung melontarkan pertanyaannya.

Jongin menatap cara berpakaian Yifan. Bagaimana body language Yifan. "Aku seperti melihatmu dalam balutan seorang wanita," Jongin tertawa saat mengatakannya. "Aku terharu saat ibumu memesankan matcha latte dan ayam katsu!" Jongin berkata dengan heboh sambil menggoyangkan lengan Yifan.

"Kau memangnya suka ayam?" Yifan tahu sih Jongin lebih memilih matcha latte dibanding kopi. Tapi ia tidak tahu kalau Jongin suka ayam, karena Jongin tipe orang yang akan memakan apa pun.

Pertanyaan Yifan membuat Jongin berdecak dan memukul lengan kekasihnya sendiri.

"Ibu kekasihku bahkan lebih tahu hal yang aku sukai dibanding kekasihku sendiri." Sungut Jongin.

"Apa dia ..."

"Tidak," Jongin menjawab dengan cepat. Ia tidak mau Yifan mengharapkan hal yang sempat Jongin harapkan. "Kalian akan makan malam bersama?" Jongin mengalihkan topik pembicaraan karena melihat Luis yang tampak penasaran dengan pembicaraan keduanya.

"Aku tahu restoran enak di sekitar sini." Luis tiba-tiba menawarkan hal yang tidak Jongin harapkan.

Alhasil mereka bertiga akhirnya duduk di sebuah restoran yang selalu mewah jika Luis yang memilih.

"Kau suka olahan ayam yang mana?" Yifan menunjukkan menu pada Jongin. "Aku pikir kau suka daging sapi terutama steak." Gumam Yifan yang masih merasa bersalah.

"Itu sih makanan kesukaan Gege," Jawab Jongin yang membuat Yifan terkesiap. "Apa pun asal ayam," Jongin buru-buru menjawab karena handphonenya berdering. "Sehun menelfonku." Jongin beranjak berdiri. Menjauh dari keramaian.

"Kenapa dia menelfonmu?" Yifan bertanya pada Jongin yang baru datang, padahal ia belum duduk sama sekali.

"Dia bertanya kenapa aku belum pulang," Jongin menjelaskan dengan cepat. "Dia sendirian di rumah, aku bilang aku di sini denganmu dan Luis-Ge," Jongin menemukan Yifan mengecek handphonenya. Sehun tidak menghubunginya sama sekali. "Sehun bilang dia ingin steak dan sedang dalam perjalanan ke sini." Perjelas Jongin yang baik membuat Luis dan Yifan menaikan sebelah alisnya.

Orang-orang sering bilang, kita tanpa sadar suka mengubah sedikit tingkah laku kita menyesuaikan dengan orang yang kita sukai. Body language Luis lama kelamaan makim mirip dengan Yifan.

"Kenapa dia tidak menelfonku?" Yifan bertanya sambil menunjukkan handphonenya. "Dia selalu menghubungumu tapi tidak padaku." Yifan butuh penjelasan.

"Sepertinya ini salah satu hal yang membuatmu sangat tidak menyukaiku dulu." Jongin menggelengkan kepalanya dengan pelan. Harusnya Yifan protes pada Sehun bukan pada Jongin. "Seharusnya Gege tanyakan pada Sehun."

"Sangat tidak menyukaimu?" Luis bertanya dengan heran. "Kau pernah membenci Jongin?" pilihan kalimat Luis terlampau ekstrim meski ada benarnya.

"Dia sudah membenciku saat aku masih kelas 2 SMA," Jongin menjawab pertanyaan Luis dengan santai. "Kita juga pernah perang dingin." Kalau tidak salah itu alasan yang membuat Jongin keluar dari komunitas dan kemudian berkencan dengan Chanyeol. "Gege pernah dapat bogeman dari Yifan? Aku pernah." Jongin juga tidak paham kenapa ia harus mengatakannya dengan sangat bangga.

"Itu kan masa lalu." Keluh Yifan.

"Benar kata orang perbedaan benci dan cinta itu tipis, makannya jangan terlalu benci pada orang lain, Ge." Sahut Jongin dengan nada sindiran andalannya. Jongin bahkan menepuk punggung Yifan.

"Kau kan dulu juga membenciku." Yifan membalas Jongin dengan menoyor kepala kekasihnya sendiri. Pernah beradu jotos, lama kelamaan gaya pacaran mereka mulai merabat ke arah yang lebih brutal.

"Aku tidak membencimu Ge, aku hanya tidak menyukaimu," Jongin tiba-tiba ingat pembicaraannya dengan ibunya Yifan. "Kalau aku seorang pendeta, kebencianmu sudah aku balas dengan kasih, Ge."

Yifan begiding mendengar perkataan Jongin. "Dih, kambuh! Random ih!" seru Yifan sambil mencubit pipi Jongin.

Entah pembicaraan macam apa yang terjadi antara Jongin dan Ibunya. Tapi Yifan rasa pertemuan mereka berjalan dengan lancar. Yifan sempat khawatir dengan keadaan Jongin. Ia tidak mau Ibunya memberikan dampak negatif hingga membuat Jongin depresi.

Jongin melambaikan tangannya sambil beranjak berdiri. Saat Sehun tampak tengah berbincang dengan seorang pelayan. Sehun membalas lambaiannya dan membungkuk pelan pada pelayan tersebut.

"Kau baik-baik saja?" Sehun menatap Jongin dengan khawatir. "Apa saja yang kalian berdua bicarakan?" Sehun bertanya dan langsung duduk di samping Jongin. Kebetulan meja mereka berbentuk bundar. "Oh, selamat malam Tuan Clemens, maaf aku mengganggu acara makan malam kalian."

Luis hanya tersenyum kecil dan mengangguk. Jongin malah menatap Sehun dengan terpukau. Tadi temannya itu menyapa Luis dengan nama keluarganya. Wow.

"Jawab pertanyaanku." Paksa Sehun sambil memukul paha Jongin.

"Ya membicarakan ayahmu, apalagi yang bisa kita bicarakan?" Jongin menepuk punggung tangan Sehun yang memukul pahanya. "Dan memberikan saran untuk kembali memikirkan apa ada sesuatu di balik permintaan Otousan," Jongin membuat Yifan dan Sehun mengerutkan dahi. Luis tidak seperti biasanya memilih diam dan mendengarkan. "Takutnya Otousan punya rencana lain dan membuatku tidak bisa kembali ke Beijing."

"The worst scenario," gumam Sehun dengan anggukan kepala pasti. "Nenekku selalu memiliki cara pandang seperti itu," Sehun mengangguk pelan. Maklum istri dari pengusaha pembuatan senjata api. "Kalian sudah seakrab apa sampai Nenekku memberikan saran?"

"Sedikit, setidaknya Nenekmu bilang kalau dia menyukaiku."

"Nenek itu memang paling suka dengan orang-orang sepertimu, pasti Nenek bilang mengenai aura."

"Auraku membuat orang lain nyaman." Kekehan Jongin membuat Sehun mendelik. Tatapan Sehun membuat Jongin tersenyum lebar.

"Jadi bagaimana?"

"Apanya yang bagaimana?"

"Kalian berdua."

"Masih tidak."

"Tsk! Nenek itu memang ya paling suka memberikan harapan palsu," Keluh Sehun sambil menyesap wine dari gelas Jongin. Mahasiswa berkulit tan itu sampai mengerjapkan matanya karena tingkah frustasi Sehun. "Aku ingin ikut membujuk tapi bukan ranahku."

"Kenapa malah kau yang terlihat lebih frustasi?" Yifan yang bertanya.

"Memangnya Ayah tidak gemas, Nenek itu punya andil yang sangat besar untuk setiap keputusan yang diambil Kakek."

Jongin pusing dengan ocehan Sehun yang tidak ada habisnya. Lagi pula ia sedikit takut Luis akan memancing suasan tidak menyenangkan.

"Makan.. makan.." Jongin menyuap mulut Sehun agar diam.

Sehun mengunyah makanannya dengan kesal.

"Kalian berdua lucu," celetuk Luis yang membuat Jongin mulai merasa khawatir. "Aku penasaran apa yang membuat Jongin bisa dianggap pantas olehmu untuk mengganti sosok Ibumu."

Wow, Jongin langsung dihajar dengan sebuah kalimat panjang. Jongin hanya tertawa kecil sambil menatap Sehun. Ia sering menceritakan hal ini pada Sehun. Sifat Luis yang pandai memanipulasi suasana.

"Jongin tidak bisa menggantikan sosok Ibuku."

Luis tersenyum saat mendengar jawaban Sehun. Jongin menggelengkan kepalanya saat melihat reaksi Luis yang terlihat sangat puas dengan jawaban Sehun.

"Tidak ada satu pun orang yang bisa menggantikan sosok Ibuku," Sehun menatap Yifan dengan sebuah senyuman tipis. "Siapa pun yang akan Ayah nikahi, tidak akan membuat posisi Ibuku tergeser."

Jongin jadi ingat Sehun pernah memanggilnya Ayah dan itu membuatnya tidak nyaman. Sangat tidak nyaman sama sekali. Sehun kali ini menatap Jongin yang tengah tersenyum sambil meminum winenya.

"Dia sahabatku," Sehun mengangguk pelan saat Jongin menoleh padanya. "Siapa pun kekasih Jongin, siapa pun orang yang akan dinikahi ayahku, bahkan jika Ayahku dan Jongin akan menikah, dia tetap sahabat untukku."

"Ayahmu menikah dengan Jongin, bukankah itu berarti Jongin merupakan suami Ayahmu?"

Sehun mengangguk dengan setuju. "Hanya beberapa hal yang akan berubah, marga Jongin," Sehun mengatakannya dengan sangat santai. "Status hubungan kami sebagai sebuah keluarga berubah menjadi legal," si pria yang paling malas berbicara pada orang yang tidak akrab ini menatap Luis. "Aku menghormati posisi Jongin sebagai suami Ayahku," Sehun sedikit tertawa mengatakan hal ini. Rasanya sedikit ambigu mengatakan kalimat suami Ayah. "Tapi itu bukan berarti Jongin memiliki kewajiban harus memperlakukanku dan mengasuhku sebagai seorang anak."

"Kenapa tidak?"

"Karena bukan Jongin yang melahirkanku," Sehun selalu punya jawaban logis. "Kewajiban itu tetap ada ditangan Ibu kandungku."

"Berarti kau tidak menganggap Jongin sebagai figure orang yang bisa membantu Ayahmu dalam menjalani sebuah hubungan rumah tangga."

Sehun terdiam sejenak, mencerna perkataan Luis. "Apa aku tampak seperti seorang anak yang kekurangan kasih sayang?"

"Bukan itu maksudku." Luis terkesiap.

"Aku hanya merasa, rumah tangga itu berbeda-beda bentuknya," Sehun menghela nafas. "Perannya tidak sesederhana Ayah mencari nafkah, Ibu mengurus rumah tangga, Anak sebagai objek tanggung jawab pasangan orang tua," Sehun menggelengkan kepalanya. "Ada kelurga dimana, Anak yang memiliki peran untuk mencari nafkah, ada Ibu yang memiliki dua peran sekaligus," Sehun kembali menatap Jongin. "Jadi seharusnya bukan hal yang aneh jika aku menganggap Jongin sebagai suami Ayahku sekaligus sosok seorang saudara laki-laki untukku."

Luis memiringkan kepalanya. Dan sedikit terdistrak saat melihat Jongin mengambil handphone Yifan. Membuka password handphone Yifan dan entah melakukan apa. Yifan tampak menanyakan sesuatu dan Jongin menjelaskannya sambil menunjuk layar handphone Yifan. Saat Luis mengalihkan tatapannya, ia malah menemukan Sehun tengah menatapnya dengan senyuman tipis.

.ILYD.

"Terimakasih atas makanannya," Sehun mengatakannya sambil membungkukan tubuhnya. "Maaf, aku sadar kalau tadi aku sudah berbuat kurang sopan." Sehun menatap Luis dengan tatapan tulus.

Luis hanya tersenyum sambil menepuk bahu Sehun.

"Aku akan mengantar Luis terlebih dahulu." Yifan memberi tahu Sehun dan Jongin yang dengan kompak menganggukkan kepalanya.

Sehun tiba-tiba tersenyum lebar dan menatap Jongin. "Aku yang bawa ya?" Sehun bertanya dengan nada memohon. Jongin hanya mengangguk seperti biasanya. Sehun langsung mengambil kunci motor dari tangan Jongin dengan senang. "Kau tunggu saja di sini, biar aku yang ambil motormu."

"Sepertinya justru Sehun yang lebih senang kau dibelikan motor." Yifan bergumam saat melihat tingkah anaknya sendiri.

"Sehun dari SMA sangat suka melihat majalah otomotif terutama motor sport," jawaban Jongin sukses membuat Yifan melebarkan kedua matanya. "Pantas Sehun kadang tidak peka, Ayahnya jauh lebih tidak peka dengan persoalan macam ini." gumam Jongin sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan.

"Tapi waktu aku membelikannya mobil, dia terlihat senang," Yifan tidak suka disalahkan memberikan pembelaan. Jongin hanya tertawa, ia sudah terbiasa dengan sikap penuh penyangkalan andalan Yifan. "Dia suka motor apa?"

"Tanya sendiri." Jongin malas memberikan contekan.

Yifan langsung cemberut bukan main. "Dia tidak pernah meminta apa pun."

"Kalau begitu kenapa tidak Gege tanya langsung pada orangnya?" Jongin tersenyum saat Yifan menatapnya dengan dalam. "Kalian punya selera yang cukup mirip sebenarnya," Jongin mendengar deru motor miliknya mulai mendekat. "Semangat!" motivasi Jongin malah membuat rambutnya diusak dengan kasar oleh Yifan.

Jongin menatap sekeliling sebelum meraup wajah Yifan untuk ia kecup bibirnya. Dan dengan seenaknya pergi begitu saja sambil melambaikan tangannya.

"Dia hebat." Luis menatap Yifan yang tersenyum sambil mengusap bibirnya.

Entah kenapa, tiba-tiba saja Yifan merasakan firasat ganjil.

.ILYD.

Jongin melepas helmnya dan memberikannya pada Sehun. Tentu saja mereka datang duluan dibandingkan Yifan. Tapi karena Yifan tidak ada. Jadi, Jongin berani mengatakan hal ini pada Sehun.

"Aku terkejut kau berani mengatakan hal seperti itu pada Luis," Jongin menatap Sehun yang tengah meletakkan helm keduanya di tempat khusus. "Tapi aku lebih terkejut lagi karena melihat Ayahmu diam saja."

"Mungkin karena aku tidak suka dengan caranya memberikan pertanyaan," Sehun membuka pintu rumahnya dengan sidik jari. "Jangan bilang itu hal biasa untukmu," Sehun mengikuti Jongin yang berjalan ke arah dapur. Keduanya sama-sama haus. Jongin akhirnya menganggukkan kepalanya. "Merasa diri pantas direndahkan itu sebuah egoisme luar biasa."

Jongin mengerutkan dahinya. "Kau pernah bilang, aku harus bersabar menghadapi Luis," Jongin meletakkan gelasnya dan menatap Sehun dengan bercakak pinggang. "Aku diam bukan karena aku merasa pantas untuk direndahkan."

"Tapi aku tidak suka saat kau malah tersenyum mendengar pertanyaan Luis barusan, itu yang membuatku marah," Sehun melipat kedua tangannya di depan dada. Perdebatan dimulai kawan. "Aku memang mengatakan kalau kau harus sabar, tapi bukan berarti kau menelan semua perkataan Luis."

"Kang, aku berharap Ayahmu bersikap sepertimu juga."

"Jangan mengharapkan hal itu, kau harus bergerak duluan untuk memberi tahu Ayahku," Sehun berkata dengan tajam. "Katakan padanya kau tidak suka Luis bersikap seperti itu padamu, kau harus bilang kalau kau ingin Ayahku membelamu di depan Luis."

"Tapi aku hanya dipandang sebagai kekasih ABG ayahmu."

"Nah itu!" seru Sehun dengan suara keras. "Kau baru saja merendahkan dirimu sendiri," Sehun menurunkan suaranya kembali karena melihat Jongin tersentak kaget. "Ayahku tidak main-main denganmu, tolong ingat cincinmu saat kau bersama Luis."

"Aku mengerti maksudmu." Keluh Jongin pelan.

Jongin seriusan paham. Sangat paham. Kadang ia memang merasa kalah pada Luis.

"Handphonemu." Sehun menunjuk ponsel Jongin yang berdering.

"Oh, sial." Seharusnya Jongin tidak mengumpat saat mengetahui Ayahnya menelfon. Tapi ini memang pertanda buruk. Dan ia belum sempat memberitahu Ayahnya kalau ia kembali memikirkan opsi untuk melanjutkan kuliah ke Jepang.

"Ayah.." panggil Jongin pelan.

"Kenapa kau tidak menghubungi Ayah?"

"Menunggu Ayah pulang ke Beijing." Jongin tahu alasannya terlalu dibuat-buat. Ia tidak mau dimarahi.

"Kalau kau menunggu Ayah pulang, kau keburu daftar S2." Kan benar, Ayahnya membalas dengan ketus.

"Lagi pula, kenapa Ayah malah cerita pada Otousan kalau aku sempat berpikir untuk kuliah di Jepang?" keluh Jongin pelan.

"Pamer." Jawaban sederhana itu membuat Jongin mengelus dadanya dengan pelan. "Kenapa kau menerima tawaran Takeru?"

"Otousan pakai mengengukit cerita masa lalu," Jongin mencoba menjelaskan dengan cara yang tepat. "Mana mungkin aku tega."

"Jadi kalau pada Ayah kau tega?"

"Bukan seperti itu." Jongin rasanya ingin merengek. Tapi dengan kurang ajarnya Sehun malah duduk disampingnya. Menguping.

"Kau juga tidak bilang kalau Takeru membelikanmu motor," nada suara Ayahnya terdengar kecewa. "Kalau kakakmu tidak cerita, Ayah tidak tahu."

"Katanya, Otousan sudah memberi tahu Ayah, makannya aku terima." Jongin mencoba mengklarifikasi. Otousan betulan mengatakan hal itu padanya. "Kalian ini gimana sih?" Kali ini malah Jongin yang frustasi.

"Sudahlah, Ayah sudah bilang pada Noburu untuk ikut denganmu ke Jepang."

"Buat apa Ayah?"

"Ayah juga punya cabang di Jepang, sekalian Noburu pulang kampung, atau sekalian saja dia kuliah bersama denganmu." Ayahnya menjawab dengan nada polos bukan main. Jongin diam karena tidak tahu harus merespon apa lagi. "Dengar, Triad itu organisasi lintas negara. Kita tidak tahu, apakah kelompok Triad Chanyeol punya musuh di Jepang. Ayah tidak mau kau masuk rumah sakit dan lebih buruknya diculik oleh Yakuza. Kau pernah masuk rumah sakit setelah diculik oleh Triad."

"Terserah Ayah saja." Gumam Jongin. Menyerah adalah satu-satunya pilihan.

"Oh, Ayah juga akan menyiapkan mobil untukmu di sana."

"Ayah..." keluh Jongin yang mulai tidak tahan dengan sifat Ayahnya satu ini.

"Nanti Ayah pilih yang paling keren," nada suaranya terdengar menyindir. Tapi Jongin tahu, Ayahnya itu serius. "Ayah tidak mau kalah dengan Takeru."

"Ayah..." Jongin bahkan sudah berkata dengan selirih dan sememelas mungkin.

"Tidak ada kata penolakan," Ayahnya berkata dengan tegas. "Kau juga tidak bisa menolak keputusan Ayah seperti kau tidak bisa menolak permintaan Takeru."

"Ini persoalan yang berbeda." Jongin tahu seharusnya ia senang. Tapi ini berlebihan.

"Sama, Ayah juga kan Ayahmu."

"Kenapa kalian berdua suka sekali menggunakan kalimat itu?" Jongin hilang kesabaran. "Aku tahu kalian berdua itu Ayahku." Jongin bahkan mengatakannya dengan penuh tekanan.

"Sudah, Ayah tidak mau lagi berdebat denganmu."

"Ayah! Jangan dulu ditutup!"

"Jaga kesehatanmu, bye!"

"Ayah!"

Jongin rasanya ingin melempar ponselnya sendiri. Tapi keburu ditahan oleh Yifan yang ternyata sudah duduk disamping kanannya. Persis seperti Sehun menguping. Jongin langsung menatap Yifan dengan wajah memelas.

"Sultan... Sultan..." Gumam Sehun yang membuat Jongin mendelik dengan kesal. "Gila sih, diperebutkan oleh tiga Ayah sekaligus," Sehun tertawa pelan saat Jongin mengertukan dahinya. "Ayah kandung, Ayah tiri dan Ayahku."

"Ge, cepat belikan anakmu motor," Jongin menatap Yifan yang sejak tadi hanya diam. "Kalian berdua cepatlah untuk terbuka," Jongin menepuk punggung kedua pria di samping kiri dan kanannya. "Malam masih panjang, silahkan bicara dari hati ke hati."

"Kau kemana?" tanya Sehun.

"Tidur." Jawab Jongin dengan lelah. "Makan siang bersama calon mertua yang masih belum merestui hubunganku, makan malam dengan rival yang selalu sukses membuatku naik darah, sebelum tidur bahkan aku harus berdebat denganmu dan mendengar omelan Ayahku," Jongin mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Kita tutup pertemuan kali ini, sampai jumpa!"

Jongin langsung lari menuju tangga, tepatnya menuju kamar Yifan. Meninggalkan Sehun dan Yifan yang malah saling pandang dengan heran meski diakhiri dengan tawa. Jongin kalau sudah mumet ya seperti itu.

.

.

.

Choice 2/ END

TBC

.

.

Jaga kesehatan guys!

Jangan lupa pake masker dan rajin cuci tangan

Terimakasih sudah mampir..