Chapter 14
Akhirnya semua meledak. Rasaku, sakitku, dan semua yang terasa ganjal di kepala. Aku hanya sebuah daun yang layu terbang bersama angin, tidak terarah. Aku kehilangan seluruh pusat duniaku, dirimu.
Sehun mengumpat ketika sadar akan kebodohannya yang terpancing dengan jebakan murahan seperti ini. Dia tidak takut, dia juga tidak akan mundur dengan kemampuan bela diri serta kemampuan tembak yang dimiliki.
Tapi kali ini lawannya tidak masuk akal. Ditambah kenyataan jika kebanyakan dari mereka bukanlah orang lokal Korea.
Sehun berharap gps yang terpasang pada mobilnya mampu dilacak oleh tim milik papa atau ayahnya. Juga chip penyadap yang masih setia tertempel di punggung mampu mengirim pesan jika ia dalam bahaya. Alat komunikasinya terjatuh entah kemana. Jadi Sehun tidak bisa menjawab sinyal komunikasi yang mungkin terbuka disana.
Dengan sisa tenaga dari luka sana sini yang didapat, Sehun berdiri terhuyung. Orang barat dengan postur hampir dua kali lipat darinya itu sungguh menguras tenaga.
"Aku belajar bahasa Korea dengan antusias untuk menghancurkan keluarga kakekmu tentu saja" Sehun meludahi seseorang yang terduga bernama Pieter. Kemudian tersenyum miring, melihat ludahnya yang bercampur darah mendarat indah di wajah lelaki brengsek di depannya.
"Aku tersanjung, Piet. Tapi kau pengecut sayangnya. Kau membawa banyak pasukan dan aku sendiri? Oh, ayolah. Jika kau laki-laki, ayo berduel denganku satu lawan satu"
Pieter kira-kira seusia ayahnya. Sehun tidak tahu apa hubungan mereka semua. Tapi Sehun sudah menyiapkan mental jika Pieter adalah pendatang dari masa lalu akibat ulah salah satu dari anggota keluarganya.
"Brengsek!" Sehun terbatuk setelah mendapat pukulan telak di perutnya, menyemburkan darah yang sengaja diarahkan ke wajah Pieter lagi.
Posisinya sudah ditahan oleh dua anak buah Pieter yang tersisa sedangkan yang lain sudah tumbang dihajar Sehun menggunakan tangan kosong saja.
Sehun dijebak di pinggir pantai tak berpenghuni. Yang kemungkinan jika dia mati, mayatnya akan ditemukan beberapa minggu kemudian saat musim panen ikan oleh nelayan. Ia sudah siap untuk itu, karena dunia keluarganya memaksanya harus siap berdekatan dengan kematian.
"PIETER BANGSAT!" Pieter menoleh, disusul Sehun yang berusaha membelalakkan matanya yang sudah berat. Ia ingin pingsan tapi tidak boleh. Kesadarannya harus dipaksa untuk ada sampai paling tidak ada bala bantuan lain yang lebih kuat.
"Un-cle" Sehun menggeleng memberi isyarat agar pamannya tidak mendekat. Bodohnya Kai hanya datang sendiri.
"Kau lagi!? Dulu kau juga yang menggagalkan kerja sama ku dengan Seunghyun. Sekarang kau juga yang akan menggagalkan rencana pembunuhan untuk anak ini!?" Pieter menghadap ke arah Kai sepenuhnya.
"Lepaskan dia karena urusanmu dengan kami. Dia tidak ada dimasa lalu kita" Kai berusaha tenang dan tetap berkepala dingin meski saat ini ingin berlari menerjang Pieter yang membuat kondisi Sehun jadi menyedihkan. Luka babak belur di seluruh tubuh.
"Tapi dia masa depan kalian kan? Balasan terbaik bagi pengacau masa depanku di pasar Korea"
"UNCLE!" Sehun berteriak ketika Kai dikeroyok oleh anak buah Pieter yang tadi menjegal tangannya. Sementara dirinya diambil alih oleh Pieter dengan sebilah pisau pada perpotongan lehernya.
Kai memang kuat dalam urusan hajar menghajar. Tapi semakin ia melawan, pisau milik Pieter semakin mendekati leher Sehun.
"Bukankah hubungan kalian sangat romantis untuk ukuran paman dan keponakan?"
"L-lepaskan uncle ku– aw" Sehun memekik saat cekikan yang diberikan Pieter semakin membuat kematiannya seolah tinggal selangkah saja.
Sehun memejamkan mata mendengar suara tembakan. Peluru milik Kai meluncur tepat pada lengan Pieter yang berusaha mencekik Sehun dengan pisaunya. Jika meleset peluru itu mungkin mendarat ke kepala Sehun karena lengan Pieter dan kepalanya hanya berjarak sekitar 2 sentimeter saja.
Melihat tuannya tergeletak, dua anak buah yang sibuk menghajar Kai itu bangkit. Sehun tidak menyia-nyiakan waktu berharga seperti sekarang untuk bergegas dan berlari ke arah pamannya.
"Uncle ayo pergi!" Kai menyambar tubuh keponakannya dengan buru-buru. Memeluk erat untuk memastikan Sehun tidak kehilangan apapun.
"Maafkan uncle!" Sehun menangis demi apapun ini menakutkan meskipun ia cukup kuat dalam segala hal. Khawatir pada paman juga dirinya sendiri. Takut karena tidak pernah sekalipun terbersit akan melalui hal menegangkan seperti sekarang.
Takut ketika–
Dor
Sehun sekarang benar-benar takut.
Melihat di depan matanya sendiri peluru yang menembus kepala bagian belakang pamannya dengan tidak manusiawi.
Seseorang yang berada dalam pelukannya, yang beberapa saat lalu memeluknya dengan begitu erat, luruh perlahan-lahan.
"Un-cle" Sehun mempertahankan posisi mereka agar tetap berdiri. Menarik diri sedikit untuk melihat wajah pamannya.
"Em..." Kai tersenyum. Mengusap wajah Sehun yang terkena cipratan darah miliknya.
Sehun menggeleng, ia benci saat seperti ini "Jangan katakan apapun!"
"Setidaknya aku ingin jujur sebelum tidur. Ada ayahmu sekarang, tugasku selesai"
"Kau belum uncle!"
"Sudah Sehun, meskipun aku tidak pernah memposisikan diriku sebagai ayah. Tapi aku menyayangimu. Aku mencintaimu" ucap Kai dengan susah payah.
Tangan Kai mengulur dengan gemetar. Membelai pipi Sehun yang basah. Peluru sialan itu membuat kepalanya menjadi sangat pusing.
"Tolong jaga agar keluarga ini tetap utuh"
"Uncle harus tetap sadar! Lihat aku! Aku nanti harus bergantung pada siapa!?" Sehun memaksa agar Kai tetap menjaga kesadarannya meskipun menyakitkan. Memberanikan diri memulai hal ini untuk memberi pamannya sebuah motivasi hidup. Mencium bibir pamannya dengan serampangan. Ciuman paling menyakitkan seumur hidup yang mungkin tidak akan dilupa hingga ia mati nanti.
Ciuman dengan rasa sakit, juga campuran darah. Ditambah asin air mata mereka berdua.
Kai tersenyum kecil di tengah pertautan bibirnya. Bekal yang akan dibawa untuk diceritakan pada Tuhan nanti bahwa ia sudah menjalani hidup dengan konyol karena mencintai keponakannya sendiri. Menikmati setiap proses kebersamaan mereka. Jawaban atas kesendiriannya adalah karena ia mencintai Sehun. Tidak ingin yang lain. Juga tidak perlu mencari yang lain.
Sehun menggigit bibir bawah Kai ketika pamannya mulai lemah. Mereka berdua jatuh ke tanah tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Hanya tersisa Sehun dengan rasa kehilangannya yang menyedihkan.
Ia kehilangan semua tentang uncle Kim-nya.
Tentang 24 tahun mereka yang dilalui oleh macam-macam hal. Sehun sadar sekarang, ternyata orang pertama yang paling paham dengan dirinya adalah Kai.
{CB}
"Chanyeol, cepat!" Baekhyun tidak sabar melihat jalanan terjal yang bercabang sana sini. Hingga akhirnya ia memilih turun dan berlari untuk memastikan keadaan anaknya dengan mata kepalanya sendiri sesegera mungkin.
Baekhyun tidak peduli dengan teriakan Chanyeol yang memintanya untuk tidak kemana-mana. Ia malah memasang earphone untuk membuka komunikasi dengan anak buahnya sendiri. Kepalanya sudah pening memikirkan kemungkinan buruk yang terjadi di depan sana.
Baekhyun menyimak semua komunikasi yang sedang dilakukan anak buahnya. Ternyata anak buahnya dan Chanyeol benar-benar bekerja sama dengan baik untuk menyelamatkan Sehun. Hingga kemudian ia mendengar sebuah pernyataan bahwa Sehun baik-baik saja. Baekhyun semakin menambah kecepatan larinya menuju arah selatan seperti yang disampaikan oleh Jongdae.
"Kai tertembak di bagian belakang kepala" namun setelahnya, kakinya menjadi lemas. Tentang pernyataan susulan bahwa Kai yang justru menjadi korban.
Kaki Baekhyun gemetar melihat pemandangan mengerikan di depan sana. Biasanya itu merupakan pemandangan biasa yang terjadi. Tapi melihat dua orang terdekatnya berada dalam lingkaran mengerikan itu, Baekhyun merasakan luka yang begitu dalam.
Yang dapat Baekhyun lihat adalah anaknya hanya berdiam dalam posisi duduk di antara tanah kotor. Luka darah sana sini. Sehun bahkan tidak bereaksi apa-apa saat tubuh pamannya sudah diangkat untuk mendapat perawatan medis.
"Bagaimana keadaan Kai?" Baekhyun bisa mendengar Chanyeol bertanya hal itu pada salah satu anak buahnya. Tapi Baekhyun tidak sanggup merespon apapun selain fokus pada Sehun yang terlihat sangat terpukul.
"Baek…" Baekhyun memegang baju Chanyeol tanpa bisa berkata apa-apa. Ia menangis dalam diam untuk melakukan komunikasi melalui mata ke mata dengan Chanyeol.
"Anak kita tidak apa-apa" kata Chanyeol menenangkan.
Baekhyun lalu berjalan mendekati Sehun yang seolah tidak bernyawa dalam sendunya. Tangannya dengan gemetar memegang kepala Sehun. Baekhyun tahu perasaan Sehun sekarang. Perasaan terluka yang sama seperti ia saat dipaksa berjauhan dengan Chanyeol dulu.
"Pa.." bisiknya lirih.
"Ya?" Sehun lalu menyambar tubuh papanya dengan erat. Memohon untuk sebuah pegangan di antara kenyataan yang baru saja terjadi dalam hidupnya.
"Uncle, pa….." Baekhyun akhirnya ikut menangis bersama Sehun.
Mengutuk dirinya karena sempat meragukan cinta yang Sehun punya. Menyalahkan dirinya karena tidak ada saat Sehun dalam kesulitan menangani cinta pertamanya. Orang tua macam apa dia ini.
"Uncle mu akan baik-baik saja. Dia manusia yang tangguh"
Tidak ada kata yang pas untuk meyakinkan Sehun. Baekhyun sendiri pun tidak yakin tentang apa yang akan terjadi suatu hari nanti. Anaknya tidak butuh janji, tapi hanya butuh pelukan terbaik. Maka Baekhyun akan memberikan itu.
"Hari ini aku patah hati bersama cinta pertama ku. Papa benar, semua tidak akan berjalan mudah." Baekhyun menggeleng, mengutuk dirinya dan kesengsaraan yang ia bawa dan melibatkan Sehun.
{CB}
Hukum sebab-akibat itu nyata adanya. Kita tidak akan pernah memanen padi jika diawal yang ditanam hanya ubi jalar. Ketika semua berbahagia untuk menebus kesakitannya di masa lalu. Maka Chanyeol dan Baekhyun hanya terduduk sendu untuk menebus dosa mereka terdahulu. Kebahagiaan tidak pernah menjadi milik mereka sejak awal. Sejak langkah pertama mereka memutuskan untuk saling mencinta.
Obsesi menjadi mimpi buruk yang merusak nalar. Membutakan batin serta penglihatan akan kebaikan yang maha pengasih. Dan sekarang, mereka mendapat imbalan setimpal yang menyakiti dada.
Oh Sehun, harus menanggung dosa masa lalu kedua orang tuanya. Ia harus berada di garda terdepan untuk merasakan pelajaran ketika takdir yang kuasa sudah membunyikan lonceng bahaya. Badannya utuh. Mereka tidak kekurangan apapun karena balasan terjadi langsung menusuk tepat ke dalam jantung.
Sehun seperti gila, tapi ia yakin masih cukup waras untuk tidak menembak dada kirinya sendiri dan mati. Otaknya masih cukup waras, meskipun seleranya untuk menghirup udara dunia sudah tiada.
"Chanyeol…" Baekhyun tersenyum tipis. Pandangannya menerawang jauh menembus lorong hampa yang tidak terbatas.
Mereka sedang duduk berdua di halaman rumah sakit. Wajah Baekhyun pucat. Suaranya parau karena menangis seharian. Chanyeol sadar kehadirannya tidak akan berdampak banyak untuk sang kesayangan.
"Bicaralah, aku akan mendengarkan."
Duduk mereka berjarak satu meter, tapi rasanya seperti ratusan kilo dengan pembatas kokoh yang tidak mampu Chanyeol dobrak.
"Aku-" Baekhyun mendongak. Hati Chanyeol retak mendapati bayangannya pecah di sorot mata indah itu. Bayangannya kemudian hilang bersama luruh deras air mata Baekhyun.
"Aku- sadar sekarang. Kebersamaan kita hanya merusak kebahagiaan banyak orang. Egoku merongrong kejam bahwa aku harus memilikimu sekarang. Tapi, melihat Sehun berantakan. Egoku mati dan berbalik untuk kembali mengais kehidupan damai kami." Chanyeol mencoba berkepala dingin. Bahwa itu hanya ucapan putus asa seseorang yang telah melahirkan anaknya susah payah dalam segala keterbatasan.
"Aku tidak pernah bisa membahagiakannya. Selalu menuntutnya menuruti semua mau ku padahal dia tidak ingin. Aku selalu berpikir membunuhmu sebagai hal wajib. Tapi sekarang tidak. Sekarang aku hanya ingin hidup damai bersamanya dan bahagia, bersama anakku. Tanpamu."
Chanyeol hadir dalam perasaan teriris perih. Berjongkok dan menggenggam kedua tangan Baekhyun yang dingin. Matanya memanas. Seperti perasaan lemahnya yang tidak berdaya mulai aktif memenuhi sel tiap berdekatan dengan si terkasih.
"Tidak ada aku disana?" Chanyeol menunjuk dada Baekhyun dengan telunjuknya. Sentuhan lembut yang ia sendiri merasa gamang.
"Coba tanya sebentar. Ada aku atau tidak?" Chanyeol resmi meneteskan air matanya.
Ia seorang Lynford Park yang tidak bisa diragukan ketanggungan serta kekejamannya. Namun ia luruh menjadi kepingan kaca kecil hanya karena seseorang di depannya kini.
"Tidak tahu. Aku hanya tidak ingin tahu ada kau atau tidak. Sehun butuh aku lebih banyak." Chanyeol mengangguk. Gerakan itu mampu meloloskan satu air matanya yang tidak lagi ditahan.
"Sehun butuh kita."
Baekhyun menerjang Chanyeol dengan gerakan cepat. Pria jangkung yang berjongkok di depannya kini mendekap erat seolah tidak ingin Baekhyun lepas dan berkata yang tidak tidak.
"Aku gagal, aku gagal."
"Berhenti berpikir bahwa kau gagal jika Sehun berdiri begitu tegar sekarang. Anak kita adalah cerminan mu, cerminan seorang yang pantang menyerah. Dan pantang mundur jika sudah mencintai seseorang. Jangan berkata ingin bahagia tanpaku jika kau masih menangis. Kalau
pun kau bahagia tanpa aku, tersenyumlah dan pergi. Buat aku iri bahwa tanpa diriku kau masih bisa berdiri."
Siang itu banyak kepingan hati jatuh menyedihkan. Siang itu semua tidak dalam dimensi baik untuk membagi tawa.
Sehun menangis di ujung lorong rumah sakit. Mendapati kehancuran lain yang lagi lagi karena permainan takdir.
-tbc-
