CHAPTER 15
Lantai kamar itu terasa dingin, tapi mereka terbakar oleh gairah.
Ponsel Jongin sudah berbunyi sejak tadi tapi telinganya otomatis memblokir suara itu. Bagaimana dengan kesalahan? Bagaimana dengan kejujuran? Sekarang, aku hanya ingin menikmati waktu ini. Siapapun yang mencoba menghentikanku, aku akan membunuhnya!
Sehun menekan tubuh Jongin ke bawah dan kedua kakinya berada di kedua sisi tubuh Jongin. Penis yang mengeras saling bergesekan satu sama lain, membawa rasa panas menjalar ke tubuh mereka. Sehun menyentuh pinggang Jongin dan melihat penis Jongin yang semakin keras. Napasnya memburu.
Sehun duduk diatas kaki Jongin, memegang penis Jongin dan penisnya bersamaan.
Jongin mengangkat kepalanya dan melihat Sehun dengan wajah memerah.
"Kau tidak bisa melakukannya seperti ini!"
"Kenapa aku tidak bisa melakukan seperti yang aku inginkan?" Sehun menyentuh dagu Jongin, "Kau tidak membiarkanku menyentuh diriku sendiri?" Tangannya bergerak ketika berbicara.
"Apa kau harus melakukannya seperti ini?" Jongin mencoba berbicara dengan jelas dan menahan desahannya, "Kau tidak dapat melakukan semuanya bersamaan. Biarkan aku dulu lalu aku akan menyentuh milikmu... Ahh..."
Sehun mempercepat pijatannya pada kedua penis yang berada dalam genggamannya, "Ini cara yang paling mudah."
Gesekan antara ereksi mereka secara alami seperti yin dan yang. Darah panas menjalar ke seluruh tubuh mereka. Jantung mereka berdegub dengan kencang.
Jongin mengangkat kepalanya, memperlihatkan garis otot di lehernya, mulutnya terbuka, mencoba menghirup udara sebanyak mungkin. Kakinya bergerak gelisah saat tangan Sehun bergerak semakin cepat dan kuat.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Sehun.
Pipi Jongin memerah, "Ehmm... Tidak buruk."
Mendengar itu, tangan besar Sehun dengan terampil menekan ujung penis Jongin yang tegang. Gerakan itu membuat Jongin bergetar liar dan mendorong tangan Sehun yang menghalangi penisnya dengan wajah memohon.
"Apakah ini cukup?" Sehun menarik puting Jongin seraya bertanya. "Lalu, apa kau akan menjadi gila jika aku menggunakan mulutku?"
Sehun membungkuk setelah itu dan menempatkan kepalanya diantara kaki Jongin.
Sehun sangat suka ketika menghujam penisnya ke dalam lubang seseorang dengan kasar sampai lubang orang tersebut berdarah. Tapi dia tidak pernah melakukan blowjob dengan siapapun, lebih tepatnya selama beberapa tahun terakhir.
Tapi sekarang Ia bersedia melakukannya untuk Jongin.
Sama seperti bagaimana Ia tidak akan pernah mencurahkan perasaannya kepada orang lain, tapi kini Ia akan mencurahkan segalanya untuk kepala besi ini.
Bagi hati Sehun, Jongin tidak sama seperti orang lain.
Penis Jongin seperti ice cream ketika berada di dalam mulut Sehun. Mulut hangat itu menelan penis Jongin dan lidahnya bermain di penisnya secara menyeluruh. Jongin mengangkat bokongnya dan ledakan kenikmatan menutupi wajahnya.
"Penismu tidaklah kecil!" Sehun menatap Jongin dengan menggoda.
Jongin memindahkan bokongnya dan langsung memaksa penisnya semakin masuk ke dalam mulut Sehun.
Kemudian, serangkaian kutukan keluar dari mulutnya. "Fuck! Screw you!"
Kutukan itu keluar dari mulut Jongin yang merupakan murid yang baik, seorang remaja yang dulu selalu berperilaku baik dan lulus dari sebuah universitas besar dan selalu menjalani kehidupan dengan integritas. Namun, Ia kini mengayunkan bokongnya tanpa bisa menahan diri. Sebenarnya Ia telah melakukan seks dengan Krystal berkali-kali, namun Jongin tidak pernah di luar kendali seperti ini. Itu tampak seperti Sehun telah membawa keluar jati dirinya yang kasar.
Sehun tidak pernah memanjakan siapapun sejauh bagaimana Ia memanjakan Jongin tapi Ia sangat tidak menyukai kata kutukan yang keluar dari mulut Jongin.
Jongin terlempar ke lantai oleh Sehun. Rasa dingin menjalar di tubuh Jongin.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Jongin sedikit gugup.
"Bermain dengan bokongmu."
Jongin ingin lari tapi salah satu kakinya dipegang Sehun. Sehun meraih bongkahan daging bulat itu, bagian itu dibukanya lalu lidahnya menyapu lubang milik Jongin. Jongin mencoba memutar tubuhnya, mencoba menghindari rangsangan Sehun.
"Kau benar-benar dapat membangun rumah di tepi laut." Sehun menatap Jongin mengejek.
"Apa maksudmu?"
"Kau bergetar seperti ikan."
"Fuck! Ahh..."
Jongin merasa bahwa sesuatu sedang dimasukkan ke dalam dirinya karena Sehun sedang memasukan lidahnya ke dalam lubang Jongin. jongin tidak pernah berpikir jika Sehun akan membiarkannya pergi setelah Ia mencapai klimaksnya dan membiarkan dirinya sendiri mencapai klimaks hanya dengan tangannya.
Setelah itu, Sehun mencari lidah Jongin dan bermain dengan lidahnya. Hari ini Jongin tidak berniat mendorong Sehun meskipung mereka berhubungan sangat intens kali ini.
Bau alkohol yang kuat memenuhi seluruh ruangan dan membuat Jongin merasa mabuk dibuatnya. Ciuman mereka berlangsung lama, bermain dengan bibir dan lidah satu sama lain. Setelah ciuman itu berakhir, Jongin menyandarkan pipinya di dada Sehun. terakhir mereka membuka mata mereka, mereka melihat jam dinding menunjukkan pukul tengah malam. Mereka tertidur nyenyak menuju kedamaian masing-masing.
.
.
.
Jongin tertidur sampai siang hari. Ketika Ia terbangun, Ia menemukan dirinya berbaring di tempat tidur klinik. Ia merenung tentang segala sesuatu yang terjadi semalam, mungkinkah bahwa itu semua mimpi? Bukankah tadi malam Ia pergi ke rumah Sehun untuk mengatakan yang sebenarnya?
Bagaimana aku berakhir menjadi begitu intim dengannya? Aku tidur ditempatnya setelah itu lalu kenapa aku bisa ada disini?
Jongin menjadi lebih bingung dan buru-buru keluar untuk bertanya pada Baekhyun.
"Apa kau tahu apa yang aku lakukan tadi malam?"
Baekhyun melihat Jongin, "Apa yang kau lakukan?"
"Kau tidak tahu?!"
"Apa aku harus tahu apa yang kau lakukan tadi malam?" Baekhyun merasa Jongin masih setengah bangun, "Kau berada di klinik sebelum aku pergi kemarin dan kau masih di klinik ketika aku datang kembali di pagi hari. Dan kau mengatakan bahwa kau sudah melakukan sesuatu? Kau jelas berbicara omong kosong."
"Shit! Mungkinkah semua itu hanya mimpi basah?"
"Oh yeah, ada dua kantong plastik berisi makanan di atas menja. Aku tidak tahu siapa yang membelinya." Kata Baekhyun lagi.
Jongin mengingat hal-hal yang dikatakan Sehun kemarin, Ia mengatakan bahwa dirinya sedang dalam suasana hati yang buruk dan menyuruhnya pulang kemudian tidur. Besok pagi Ia akan membawakan sesuatu untuk dimakan.
Semua hal yang terjadi kemarin tidak seperti mimpi.
Jongin tidak tahu apakah Ia harus senang atau frustasi. Ia duduk sendirian di kursi dan berpikir tentang kejadian itu. Ia juga belum sempat mencuci wajahnya, Ia duduk dengan penampilan yang berantakan.
"Hei, apa yang sedang kau pikirkan?" Baekhyun melambaikan tangannya di depan Jongin.
Jongin menatap Baekhyun dengan cemas.
"Aku menelepon teman Sehun kemarin. Ia mengatakan bahwa Sehun mengganti pekerjaannya karena ayahnya dan itu tidak ada hubungannya denganku."
Baekhyun mengambil termometer.
Jongin memutar posisi duduknya dan meletakkan dagunya di sandaran kursi, "Ia juga tidak tahu jika Krystal adalah mantan pacarku. Aku mendapat masalah dengannya bukan karena Krystal. Itu sebuah kebetulan."
Baekhyun menempatkan termometer di mulut seorang pasien dan kemudian menoleh ke arah Jongin, "Kalian berdua ditakdirkan untuk bertemu kan?"
Itu adalah takdir yang menyedihkan! Pikir Jongin tanpa sadar.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Baekhyun .
Jongin jelas tidak tahu apa yang harus Ia lakukan.
"Ingin menghentikan rencanamu?"
Jongin berhenti bernapas sejenak lalu berkata, "Ada alasan mengapa hal ini terjadi."
Telepon Jongin berdering saat selesai berbicara.
Baekhyun lalu berkata, "Aku lupa memberitahumu, ponselmu terus berdering dari pagi sampai sekarang. Aku tidak menjawabnya karena itu nomor tidak dikenal."
Itu nomor yang sangat dihapal Jongin diluar kepala. Aneh, bagaimana Krystal tahu nomor barunya? Dering berakhir karena Jongin masih terlihat bingung. Ia melihat catatan telepon sekali lagi dan ada lebih dari dua ratus panggilan tak terjawab, dan semua datang dari Krystal sejak semalam sampai sekarang.
Mungkinkah Ia sudah tahu?
Saat Ia sedang berpikir, teleponnya mulai berdering lagi.
Di sisi lain telepon, Krystal menggeretakkan giginya. Pelacur kecil ini berani mengabaikan teleponku? Kau harus mengangkat panggilanku. Aku ingin melihat siapa yang berani untuk merebut laki-laki Krystal.
Kemudian suara dari telepon menyadarkannya.
"Halo."
Seorang pria? Krystal diam sejenak dan tidak mengenali suara Jongin.
"Siapa kau?" tanya Krystal.
Jongin dengan tenang mengatakan namanya yang sebenarnya, "Kim Jongin."
Mendengar kata itu, Krystal sedikit terkejut.
"Bagaimana mungkin kau?"
Krystal menggunakan berbagai metode dan butuh ekstra kerja keras untuk menyelidiki dan memperoleh nomor ini dan ternyata ini adalah nomor mantan pacarnya.
Jongin mendengus, "Kau bertanya siapa? Kau adalah orang yang meneleponku."
Krystal terus bertanya, "Apa kau berbagi nomor ini dengan orang lain?"
Krystal sangat terkejut dengan sikap Jongin. ia kehilangan pikiran sejenak dan tiba-tiba Ia tahu sesuatu, "Kim Jongin, kau benar-benar tidak tahu malu!" Krystal berteriak marah.
"Kenapa aku tidak tahu malu?"
"Melihat bahwa aku telah memiliki kehidupan yang lebih baik dan nyaman hal itu membuatmu merasa menderita maka kau sengaja menelepon pacarku hanya untuk menabur perselisihan diantara kami, kan? Kim Jongin, aku akan memberitahumu, aku tidak memiliki perasaan sedikitpun kepadamu dan sangat tidak mungkin bagiku untuk menyukaimu. Kau sudah meninggal di dalam hatiku. Berhenti menelepon pacarku dan berhenti menyebut namaku di depannya atau kau akan melihat kemarahanku!"
Jongin benar-benar tidak tahu harus berkata apa, "Selama kau juga tidak menyebutkan tentangku di depannya."
"Cih! Kau benar-benar menilai dirimu tinggi. Aku takut mengotori telinganya dengan menyebutmu!"
Jongin menutup teleponnya dan menatap Baekhyun. "Aku telah memutuskan."
Baehyun heran, "Apa yang akan kau lakukan?"
Pertanyaan itu bergantung dipikiran Jongin.
"Aku akan menyingkirkan perempuan itu!"
.
.
.
Selama beberapa hari teakhir adalah puncak bagi ular betina untuk menetaskan telur mereka. Jongin menjadi sangat sibuk. Sebelumnya, ada seorang pemuda yang membantu mengawasi ularnya dan Jongin hanya bertanggung jawab dalam urusan pelangan.
Tapi sekarang, mereka berdua mengambil giliran untuk mengawasi ular-ular itu. Mereka tidak hanya bertindak sebagai bidan untuk membantu ular bertelur, tapi mereka juga harus segera mengambil telur itu untuk menghindari ibu ular yang memakan telurnya sendiri karena lapar. Selain itu, mereka juga harus memberi makan, membersihkan dan memindahkan. Mereka disibukkan dengan segala sesuatu tentang ular.
Jongin sangat sibuk bahkan untuk sekedar makan dan minum, Ia juga tidak punya waktu untuk menhubungi Sehun. Ia melihat teleponnya sebentar sebelum tidu dan menemukan bahwa ia telah mengabaikan Sehun selama beberapa hari dan Sehun juga tidak pernah mengambil inisiatif untuk menghubunginya terlebih dahulu. Itu tampak seperti Sehun hilang ditelan bumi setelah mereka bicara dari hati ke hati.
Pada malam hari, Ia menyeret tubuh lelahnya kembali ke klinik dan melihat Baekhyun tertidur di dekat meja pemeriksaan.
"Ini sudah malam. Kenapa kau masih disini?"
"Aku tidak pernah melihatmu selama beberapa hari." Kata Baekhyun.
Beberapa hari teakhir, Jongin telah meninggalkan klinik di pagi hari dan kembali larut malam, Ia berada di luar sepanjang haru. Baekhyun bahkan tidak melihat bayangannya untuk waktu yang lama.
"Semuanya akan selesai dalam beberapa hari. Aku pikir telur ini akan dijual lebih dari 3.000.000 won. Tunggu saja dan aku akan segera membawamu keluar untuk makan malam setelah aku menerima uangnya."
"Oh? Begitu banyak keuntungan!" Baekhyun tertawa, "Aku juga ingin mengikuti langkahmu untuk memelihara ular."
"Jangan tertipu. Ini bukan keuntungan yang besar. Aku hanya beruntung."
Mata Jongin berbinar, "Aku hanya melakukan ini untuk usaha sampingan. Aku akan membiarkan anak muda itu menangani bisnis ini dan aku akan mencari pekerjaan lain. Mungkin budidaya adalah salah satu sektor yang mendapat keuntungan tinggi, tapi aku juga seorang berpendidikan. Aku tidak dapat melakuakn ini seumur hidupku."
"Itu benar," Baekhyun setuju. "Kau mendapatkan banyak uang tapi itu membutuhkan usaha yang besar."
Jongin menempatkan handuk di bahunya dan pergi ke kamar mandi. Segera setelah itu, suara air terdengar dari dalam.
Terbiasa hidup sendiri, Jongin biasanya tidak pernah membawa pakaian bersih ketika Ia sedang mandi dan akan pergi ke kamar dengan telanjang. Tapi Ia ingat bahwa Baekhyun berada di klinik. Karena itu Ia harus menghindari situasi canggung dan keluar dengan dibungkus oleh handuk.
Baekhyun berbalik untuk melihat tubuh Jongin. sosok ramping kecil, bagian belakang yang kokong dan bulat, semuanya... sialan sungguh luar biasa! Waktu itu masih musim semi ketika terakhir kali Ia melihat dada Jongin dan selalu tertutup setelah itu, tetapi terungkap lagi hari ini. Shit! Mengapa tiba-tiba menjadi begitu panas?
"Aku pikir tubuhmu jauh lebih baik dari sebelumnya." Baekhyun memuji.
Jongin bertanya saat Ia melihat cermin untuk mencukur, "Sungguh? Mungkin karena aku selalu berolahraga akhir-akhir ini."
Setelah selesai berbicara, Jongin terus memeriksa bayangannya di cermin.
Baekhyun tiba-tiba merasa Jongin juga menjadi sangat seksi bahkan walau sedang mencukur dan segera memutuskan untuk menginap malam ini di klinik.
Keduanya duduk di temapt tidur. Baekhyun kemudian bertanya pada Jongin, "Bagaimana hubungan kalian berdua?"
"Aku sibuk selama beberapa hari terkahir dan tidak punya waktu untuk memperhatikannya."
Baekhyun bertanya-tanya, "Ia tidak berinisiatif untuk menghubungimu terlebih dahulu?"
Jongin juga merasa bingung, "Ya, Ia tidak menghubungiku sejak terakhir kali aku kembali dari tempatnya."
"Apa yang kalian berdua lakukan ketika kau pergi ke tempatnya?" Tanya Baekhyun.
Jongin berusaha untuk tidak mengatakan aksi intim itu pada Baekhyun yang duduk di depannya dan berkonsentrasi menginat kejadian sebelumnya dan kemudian berkata dengan serius, "Malam itu kami mmeiliki banyak hal untuk dibicarakan dari hati ke hati, dan kemudian dia mengatakan padaku dengan sedih mengenai kisa cintanya."
"Benarkah?" Baekhyun menampilkan wajah ragu, "Seorang yang kuat seperti dia tiba-tiba mengungkapkan sisi gelapnya di depanmu? Mungkin sekarang Ia merasa sangat malu ketika Ia mengingat malam itu."
"Benar, benar." Jongin mendengus, "Dia malu?"
Baekhyun berkata dengan sangat yakin, "Coba telepon jika kau tidak percaya."
Jongin penasaran lalu mulai menelepon Sehun.
Panggilan dijawab pada dering pertama. Ini menunjukkan orang di seberang telepon telah menunggu panggilan sejak tadi.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Jongin.
"Makan dengan teman-teman." Sehun menjawabnya dengan malas.
"Malam-malam seperti ini?" Jongin terkejut.
Sehun terdengar tidak sabar, "Apa yang terjadi? Aku ingin menutupnya jika tidak ada apa-apa."
Semua teman Sehun menertawakannya, "Tuan muda Oh akhirnya tahu sopan santun juga? Bukankah Ia biasanya langsung menutup telepon secara sepihak? Sekarang Ia bahkan bertanya tentang itu sebelum menutupnya."
Suara itu keras dan Jongin mampu mendengarnya.
"Aku memiliki sesuatu untuk dikatakan," Jongin berdeham. "Bukankah kita sudah bicara tentang banyak hal pada malam saat aku pergi ke tempatmu? Aku memikirkan tentang itu untuk sementara waktu setelah aku kembali ke rumah dan aku pikir –"
Panggilan tiba-tiba terputus.
Jongin mengeluarkan tawa jahatnya dan menepuk bahu Baekhyun, "Itu persis seperti yang kau katakan."
"Aku sudah bilang, Ia pasti merasa sangat malu."
Baekhyun menyeringai, "Orang itu cukup lucu."
Sehun merasa tidak ingin makan lagi dan ekspresinya gelap lalu berjalan keluar.
Salah satu temannya bertanya, "Apa yang terjadi?"
Suho berkata, "Ini maish belum apa-apa. Ia sudah seperti itu selama beberapa hari terakhir. Ketika aku sedang berjalan bersama dengannya, aku harus berjarak tiga meter darinya karena ekspresinya begitu gelap! Kalian mungkin akan ketakutan sampai celana kalian basah jika melihatnya."
"Jangan menganggunya. Kita makan saja!"
.
.
.
Baekhyun dengan sengaja menyentuh dada Jongin, "Apa yang akan kau lakukan?"
Jongin kaget, dengan tegas memperingati Baekhyun, "Kuperingatkan kau, jangan menyentuh tempat itu."
Tapi Baekhyun menghiraukan kata-kata Jongin.
"Hentikan itu! Hentikan itu!" Jongin semakin panas dan tiba-tiba menekan tubuh Baekhyun. Mata merahnya menatap Baekhyun dan dia terengah-engah, "Aku tidak bercanda!"
Keduanya saling memandang dan terdiam untuk beberapa saat. Kemudian mereka kembali pada topik sebelumnya.
"Aku siap untuk berperang," kata Jongin. "Sehun tidak akan putus dengan Krystal saat ini."
Baekhyun terkejut, "Kenapa? Ia telah jatuh padanya?"
"Tidak." Jawab Jongin yakin.
"Lalu kenapa?"
Jongin menjelaskan semuanya, "Semua ular yang dirawat oleh Sehun sebelumnya diambil ayahnya dan Ia harus mematuhi segala sesuatu yang diperintahkan oleh ayahnya jika Ia ingin menjamin keamanan ularnya. Ia sedang menyelidiki ular-ular itu dan Ia pasti akan membuang Krystal setelah menemukan ular-ular itu. Jika ini terus berlanjut, Ia mungkin akan menggunakan Krystal sebagai tawar-menawar untuk meyakinkan ayahnya agar melepaskan semua ularnya."
"Bukankah ayahnya mengurung ular-ular itu karena Ia tidak memliki pekerjaan yang layak? Apa itu juga berhubungan dengan memiliki pacar? Apakah Krystal memiliki banyak kredibilitas? Apa Sehun bisa meyakinkan ayahnya?"
Mata Jongin berkilau, "Kau keliru. Kenapa ayahnya harus mengkhawatirkan pekerjaan Sehun ketika Ia terus saja mengganti pekerjaan Sehun? itu karena Sehun sering main-main dengan laki-laki dan tidak pernah kembali ke rumah."
Baekhyun terkejut, "Jadi, seperti itu. Maka itu akan sangat sulit. Apakah ada kemungkinan Sehun bersedia menyerahkan ularnya demi kau?"
"Sepertinya tidak akan ada kemungkinan." Jawab Jongin realistis. "Ular-ular itu memiliki makna yang sangat luar biasa bagi dirinya. Membandingkan aku dengan ular-ular itu benar-benar sulit untuk menggeser posisi mereka di hati Sehun."
"Rumit sekali." Baekhyun mendesah.
"Aku hanya bisa memaksa mereka untuk putus." Jongin menyeringai.
"Memaksa untuk putus?"
Jongin melihat Baekhyun dengan seksama, "Apakah kau tahu kekhawatiran paling besar Krystal sekarang?"
Baekhyun menggeleng.
Jongin menjawab dengan nada rendah, "Ular."
Baekhyun terdiam, "Gadis itu benar-benar memiliki tujuan yang sangat besar! Ia pergi sejauh ini dan berinteraksi dengan ular sehari-hari hanya untuk mendapatkan suami kaya raya. Ia benar-benar keras pada dirinya sendiri, tidak peduli apapun. Apakah ada hal lain yang masih tidak dapat Ia lakukan?"
"Itulah mengapa aku harus menyingkirkannya agar Sehun bisa memiliki kehidupan yang sedikit lebih baik."
Baekhyun terbatuk ringan, "Motif dan perhatianmu telah berubah sepertinya."
Jongin terkejut, kemudan kembali berbicara seperti tidak mendengar apa-apa.
"Aku yakin Krystal sangat membenci Tao. Ia pasti sedang menyusun rencana untuk menyingkirkan Tao. Oleh karena itu, kita harus mulai dari dari situ. Kita harus buat Krystal menyakiti Tao."
"Kemudian kau akan datang untuk menyelamatkannya?"
Jongin tersenyum senang, "Itu harus. Tao adalah anggota keluarga. Bagaimana bisa aku membiarkan perempuan itu menyakitinya?"
"Pertanyaannya adalah, bagaimana kau akan memprovokasinya?" Tanya Baekhyun.
Wajah Jongin berubah menjadi pahit.
"Aku akan meningkatkan peluang mereka untuk terus bertemu dan menstabilkan status Krystal di depan orang tua Sehun. ini merupakan persyaratan untuk membuat konflik di anatara mereka."
"Baekhyun dengan sengaja memprovokasi Jongin, "Itu berarti kau ingin mundur dan bekerja di belakang layar?"
"Aku akan mundur demi sebuah kemajuan."
.
.
.
TBC
.
.
.
