Cbuniverse Present.

A Chanbaek Shortfic

.

.

Cubicle Love Story

Park Chanyeol and Byun Baekhyun

.

.

"Bagaimana menurutmu?" Baekhyun membalikkan tubuh setelah hampir sepuluh menit lamanya mematut diri di hadapan cermin dengan tinggi yang hampir menyamai tinggi tubuhnya sendiri.

Chanyeol yang sejak tadi duduk pada ujung ranjang mengulas senyum kecil dan menyahut, "Kau selalu terlihat sempurna, sayang."

Baekhyun mendengus. "Dan kau selalu berlebihan."

Pria mungil itu meraih botol parfume pada meja nakas dan memberikan beberapa semprotan pada bagian-bagian tertentu dari tubuh dan pakaiannya.

"Padahal kau tidak perlu berdandan sampai seperti itu, Baek. Kita hanya akan makan malam biasa."

Baekhyun meletakan botol parfume-nya lebih dulu sebelum melangkah untuk menghampiri sang kekasih. "Aku hanya ingin terlihat baik di depan kedua orang tuamu, Chan. Jika tidak bisa dalam segala hal, setidaknya penampilanku harus cukup baik untuk dipandang."

Chanyeol tersenyum dan mencubit kedua pipi Baekhyun gemas. "Padahal kau sempurna apa adanya."

"Mulai lagi." Baekhyun memutar bola matanya malas. "Ayo sebaiknya kita pergi sekarang!"

"Kau sudah tidak sabar untuk bertemu calon mertua, hm?" Chanyeol menggoda Baekhyun seraya menarik lengan sang kekasih mungil hingga Baekhyun jatuh di pangkuannya.

Mungkin ini hanya sebuah pengetahuan tak penting, tapi ketahui saja jika Chanyeol akan bertingkah sangat menyebalkan saat ia merasa bahagia.

Baekhyun memukul pundak Chanyeol untuk membuat kekasihnya itu berhenti berulah dan berdiri untuk sedikit menjauh. "Kau ini apa-apaan, sih? Jika kau terus bercanda, kita mungkin akan datang terlambat."

"Iya, iya, aku berhenti." Chanyeol memeluk tubuh kecil Baekhyun gemas dan menggoyangkan tubuh mereka ke kanan dan ke kiri.

"Kalau begitu, ayo pergi!" seru Baekhyun sambil berusaha menarik lengan Chanyeol agar segera keluar dari kamarnya.

Chanyeol menahan lengan Baekhyun dan meminta kekasihnya itu untuk lebih santai sedikit. "Yaampun, pelan-pelan, sayang. Masih ada waktu yang tersisa hingga jam makan malam."

Namun kepalang terlalu kesal, Baekhyun tidak mendengarkan ucapan kekasih tingginya itu dan malah melepaskan tangannya untuk berjalan lebih dulu dengan kaki menghentak. "Jika kau masih saja seperti itu, lebih baik aku pergi sendiri!"

"Hei kau masih marah?" Chanyeol menoleh kepada sang kekasih yang selama perjalanan tadi tidak mengeluarkan suara sedikitpun.

Baekhyun yang sebelumnya menatap jauh ke arah luar melalui jendela mobil di sampingnya terlihat sedikit tersentak. "Oh, apa sudah sampai?" tanyanya.

"Kau tidak mendengarku?"

Baekhyun mengerutkan kening heran seraya menggeleng kecil dengan raut polos.

"Kau sedang melamun?" Chanyeol terkekeh sambil mengusak puncak kepala Baekhyun dengan sayang. "Ya, kita sudah sampai. Ayo turun?"

Alih-alih mengiyakan, Baekhyun malah terdiam di kursinya dengan kedua tangan memilin kecil ujung kemeja biru muda yang dikenakannya.

Merasa ada yang aneh, Chanyeol menarik pelan kedua tangan Baekhyun dan mengusapnya lembut. "Kau gugup, hm?"

Baekhyun menganggukan kepalanya. "Sedikit," ucapnya pelan.

"Semua akan baik-baik saja, Baek. Ini bukan kali pertama kau datang kan?"

Baekhyun tersenyum kecil. "Eum, ayo turun. Aku tidak apa-apa."

"Sungguh?" Chanyeol meremas lembut kedua tangan Baekhyun yang berada dalam genggamannya.

"Ya, tentu saja."

Walaupun jawabannya terdengar yakin, Baekhyun tidak bisa menutupi bahwa keringat dingin sudah mulai terasa membasahi kulitnya.

Ia menggenggam tangan Chanyeol erat-erat saat keduanya berjalan memasuki rumah besar dengan desain modern yang cantik.

"Kalian sudah datang!" Seruan antusias itu terdengar begitu pintu utama rumah terbuka, menampilkan seorang perempuan paruh baya yang sangat mirip dengan Chanyeol.

"Selamat sore, bibi Park," sapa Baekhyun dengan senyum sopan yang terlihat sedikit canggung.

"Baekhyunie, bukan bibi. Panggil saja Ibu, ya?" Wanita itu—Ibu Chanyeol menarik Baekhyun untuk dipeluknya dengan gemas. "Ibu rindu padamu!"

Dalam pelukan Ibu Park, Baekhyun melirik Chanyeol yang masih berdiri di tempatnya dengan senyum kecil tersungging di bibirnya.

"Aku juga rindu eum ... Ibu," sahutnya pelan, ia sebenarnya masih canggung apalagi Ibu Park terlihat begitu bahagia sekarang, berbeda dengan apa yang ia kira sebelumnya.

"Ibu tidak akan mempersilakan kami masuk?" Chanyeol menginterupsi pelukan keduanya dengan cengiran lebar di akhir kalimat.

"Ya ampun, ibu lupa!" Ibu Park berseru panik sambil melepaskan pelukannya pada tubuh kecil Baekhyun.

"Ayo masuk, sayang." Ibu Park menggandeng Baekhyun untuk mengikuti langkahnya. "Ayah dan Kakak Chanyeol kebetulan sudah menunggu di meja makan," ucapnya lagi.

"Ibu, anak laki-lakimu tertinggal!" Chanyeol berseru dari arah pintu masuk sedangkan sang ibu malah tertawa bersama Baekhyun yang masih mengikuti langkah pelan calon ibu mertuanya itu.

Setelah makan malam selesai Baekhyun ditarik oleh ibu dan kakak perempuan Chanyeol untuk duduk dan mengobrol di sofa ruang keluarga sedangkan Chanyeol kini tengah berada di ruang kerja sang ayah untuk membicarakan sesuatu.

"Baekhyun masih canggung ya dengan ibu?" tanya Ibu Park sambil menggenggam kedua tangan mungil Baekhyun.

Baekhyun terlihat sedikit terkejut, namun dengan cepat menggeleng pelan. "Ah, tidak, Bu. Mungkin karena aku jarang bertemu dengan ibu."

"Karena itu sering-seringlah main kemari, adik ipar." Kakak Chanyeol—Kak Yoora menimpali dengan ringan.

Kepala Baekhyun mengangguk semangat dengan senyum menghiasi wajah.

"Lagipula Baekhyun akan segera resmi menjadi anggota keluarga Park, bukan?" ucap Ibu Park untuk menggoda Baekhyun yang kedua pipinya mulai merona.

Kedua wanita yang ada di ruangan itu tertawa kecil melihat ekspresi Baekhyun yang sangat menggemaskan. Sebenarnya berapa umur pria mungil itu?

"Untung saja ibu tidak jadi menjodohkan Chanyeol. Kalo sudah terlanjur, aku bisa-bisa menyesal karena kehilangan adik ipar seimut Baekhyun."

Ibu Park terkekeh lembut dan meraih tubuh Baekhyun untuk dipeluknya. "Benar, maafkan ibu ya, Baekhyunie."

Baekhyun tersenyum kecil dalam pelukan wanita yang telah melahirkan kekasihnya. "Iya, Ibu. Aku baik-baik saja, lagipula saat itu ibu belum tahu jika Chanyeol sudah memiliki hubungan denganku."

"Mari menjadi keluarga yang baik ya, sayang."

Hati Baekhyun terasa begitu penuh dengan kebahagiaan. Ia selama ini selalu berpikiran buruk, namun nyatanya ia diterima begitu baik di keluarga Chanyeol.

—End of Chap.