Usai ditinggal oleh Naoto, Shun terdiam dan matanya menyipit, raut wajahnya yang biasa berubah dalam persekian detik, seolah merasakan wangsit yang tiba-tiba sampai ke dirinya.
"Begitu rupanya,"Ucapnya sembari berguma..Lalu memejamkan mata.
"Dia akan datang mencariku,"
Elsa masih kepikiran dengan ucapan Jack frost mengenai salah satu cara menemukan bantuan menolong Naruto, meski pun Elsa sudah diajari cara menarik hawa beku Naruto sepanjang waktu, hal itu hanya bersifat sementara dan meringankan dan tidak selamanya.
Pada malam setelah menyelesaikan pekerjaan-nya, Elsa tidak bisa tidur, sejak tadi ia selalu terputar di kamarnya Yang begitu normal tidak ada lagi serpihan salju yang menempel di mana-mana, kamar itu nampak rapi bersih terawat tidak seperti sebelumnya dimana, iya harus mengurung diri seperti penjara. sembari memandang bel yang diberikan Jack sebelumnya sejujurnya ia ingin mencari tahu bagaimana caranya untuk menolong Naruto dalam kondisi sekarang.
Dan untuk itu, sebenarnya dia ingin mencari jawaban, akan tetapi Anna selalu menghalangi dia untuk pergi dan berkata jika Elsa pergi maka dia ikut. Elsa sudah berjanji kepada Anna akan melakukan hal bersama-sama tidak ada lagi kebohongan di antara mereka, dan Apapun masalahnya mereka akan melewatinya bersama.
Tiba-tiba Elsa tidak sengaja membunyikan lonceng ada di tangannya, awalnya tidak ada masalah dengan lonceng itu, layaknya sebuah lonceng yang merupakan aksesoris di berbagai tempat itu nampak tidak ada bedanya.
Akan tetapi bunyi lonceng itu semakin kencang dan suaranya seolah terdengar berirama, anehnya Elsa tidak lagi membunyikan lonceng itu tapi lonceng itu terus berdering tanpa henti membuatnya sedikit panik, secara perlahan lonceng Indah itu mengeluarkan cahaya berwarna putih. tiba-tiba cahaya itu membentuk sebuah bulatan di udara layaknya asap dan membesar mengelilingi dirinya.
Elsa yang awalnya terkejut Bukan main, panik Setengah Mati seketika tubuhnya diliputi oleh asap cahaya itu, sebelum dia bisa berteriak meminta pertolongan tubuhnya menghilang dari sana, menyisihkan kesepian di kamar kosong di malam itu.
Elsa merasakan ribuan cahaya melewati tetes matanya, ia tidak sanggup dalam beberapa detik untuk melihat apa yang terjadi di sekitarnya. Sampai akhirnya cahaya itu mulai meredup dan memperlihatkan Horizon yang berbeda disekitar, tidak ada lagi kamar indah yang selalu dipakainya setiap hari.
Melainkan sebuah hutan bebas, dengan berdirinya pohon-pohon pinus raksasa, dan langit yang membentang dengan ribuan cahaya bintang anehnya meskipun ia berada di hutan pinus di malam hari di tempat itu sama sekali tidak terlihat gelap, ia melihat beberapa kristal tertancap di atas hutan dan memantulkan cahaya layaknya obor.
Elsa kembali takjub dengan apa yang terjadi, seolah lupa dalam berapa detik di mana dan apa yang terjadi di sekitarnya, tapi nuansa kagum itu tidak bisa mengikuti selamanya. Sebuah langkah kaki terdengar pelan di belakangnya membuat Iya memasang wajah cemas disertai sikap yang Waspada.
"Siapa kalian,"
Elsa masih stand by dengan gerakannya, tatapan cemasnya terlihat begitu kentara di kala Iya menatap sosok seorang pemuda berambut hitam kebiruan, dengan mata biru ia mengenakan hoodie hitam celana santai olahraga berwarna hitam dan sepatu boots, dengan kisaran tinggi 1 70, berkulit pucat Tengah memegang sebuah Sabit raksasa kini menatapnya dengan datar.
Kau datang dari tempat yang jauh, tidak mungkin kau bisa datang tanpa alasan ke tempat ini, "ucapnya sembari mengangkat sabitnya.
"Siapa kamu,"
"Aku adalah Naoto, salah satu penghuni tempat ini. Tidak biasanya seseorang dengan mudah memasuki zona buatan, "ucap pria itu dengan nada datar
"Penghuni tempat ini... zona buatan,"
Tiba-tiba Baik Elsa maupun pria itu, nampak merasakan ada aura baru yang mendatangi mereka berdua, mereka terdiam sebentar sebelum kemunculan sosok seorang pria berambut merah Tengah berdiri di salah satu dahan pinus paling rendah, dengan gaya santai menatap mereka berdua yang berpijak di atas tanah.
"Oh Kalau tidak salah kau adalah ratu dari Arendelle, yang pernah berurusan dengan Jack Frost Bukankah begitu,"Tanyanya.
"Kamu mengenalku, dan juga tuan Jack Frost,"
"Tentu saja dan aku kenal dengan lonceng yang ada di tanganmu, lonceng itu. Aku pernah melihatnya sebelumnya itu diberikan oleh Tuan tanah ini untuk Jack Frost,"
"Loncang ini memang pemberian dari Tuan Jack Frost, Dia berkata pada saya jika kemungkinan benda ini akan membawa saya pada jawaban yang saya butuhkan,"
Mendengar jawaban Elsa, keduanya saling memandang sebentar. sebelum sosok berambut merah yang tadinya bersandar di pohon pinus turun ke bawah lalu berdiri di samping pria berambut hitam kebiruan itu.
"Baiklah jika begitu, Perkenalkan nama saya adalah Noir, dan dia adalah Naoto kami berdua adalah Guardian khusus yang melindungi pemilik dari dimensi ini dan tempat yang kau pijaki sekarang bukanlah duniamu,"
"Bukan duniaku maksudnya,"
"Baiklah Mari saya jelaskan sembari berjalan, Tenang saja Kami tidak akan berbuat yang aneh-aneh padamu,"Ucap Noir.
"Tempat ini semacam di luar zona,"
"Di luar zona Apa maksudnya itu,"
"Di luar zona bisa disebut seperti semesta yang diciptakan oleh seseorang untuk dirinya sendiri, biasanya zona yang diciptakan itu tidak berhubungan dengan dunia asli yang kalian sebut bumi atau realitas yang berjalan secara bersamaan. Bagi pemilik zona luar alam ini bisa dikendalikan oleh pemilik zona dan tidak memiliki hukum alam yang sama seperti realitas-realitas yang ada di berbagai dimensi dunia asli,"
"Karena memiliki hukum dunia sendiri zona ini hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang pantas untuk masuk ke sini"
"Lonceng itu adalah salah satu syarat dan ketentuan agar masuk ke tempat ini kami berdua akan membawamu menemui orang itu"
Pada akhirnya Elsa mengikuti kedua orang itu mereka membawa Elsa ke sebuah rumah di tengah hutan, sebuah rumah kayu yang sangat cantik layaknya terlukis di atas kanvas
Rumah itu dipenuhi dengan tanaman bunga yang indah dan juga terlihat banyak hewan yang berkumpul hanya untuk berbaring atau memakan perumputan yang ada disana, Aura mistis terasa begitu kuat mengelilingi rumah, akan tetapi Aura mistis itu tidak terlihat buruk melainkan membuat orang sekitar nya menjadi sangat nyaman.
Apalagi rumah itu juga dekat dengan sungai kecil memanjang di sekitar hutan membuat Hawa dingin, mengelilingi sekitar tempat.
"Orang itu ada di dalam rumah ini silahkan masuk,"Ucap Naoto dibelakang Elsa.
Noir nampak dengan santun perlahan mempersilakan Elsa masuk rumah, Ia membuka pintu lebih dulu dan mempersilakan sang ratu untuk masuk ke rumah itu, sementara Naoto mengekori mereka dari belakang, dan sabit raksasanya sudah menghilang.
Setibanya didalam, mereka disambut sosok wanita yang tengah duduk disalah satu sofa dan tengah membaca, ruangan pertama yang dimasuki saat memasuki rumah ialah sebuah perpustakaan. Dengan beberapa sofa panjang dan sebuah perapian diruangan membuat ruangan lebih hangat.
"Halo semuanya, Naoto-kun/Noir-kun apa kalian sudah sarapa-oh hai?! Tak aku sangka ada tamu,"Ucap wanita itu, sementra Elsa hanya tersenyum.
Wanita itu terlihat mau bangkit dari sofa tapi agak kesulitan, namun Naoto, dengan sigap membantunya bergerak secepat kilat, dan Elsa terpaku memandang ternyata wanita itu tengah hamil besar.
"Naoto sebaiknya kau jaga Yui saja, aku akan segera membuat hidangan, Nona aku juga akan kedapur jadi aku akan meninggalkan Hint penunjuk arah untukmu, agar tidak nyasar,"Ucap Noir.
"Ta-tapi,"
BWOSS!
Pria berambut merah itu, lalu menjulurkan jemari telunjuknya dan muncul api bulat disana, kemudian api itu mulai terbang mengelilingi mereka seolah sedang mengajak orang sekitar bermain.
"Kau pengendali api..!," Elsa memandangnya dengan takjub, akhirnya Elsa mengangguk atas instruksi dari Noir, dan pria berambut merah itu hanya memberikan senyuman, sebelum melakukan apa yang dilakukan.
Sampai akhirnya Elsa pun berjalan tanpa pengawalan, Ia hanya mengikuti makhluk api kecil itu melayang. Sangat mengejutkan memang tidak disangka ukuran dari luar rumah, yang dilihat ternyata didalamnya sangat berbeda, tempat ini jauh lebih luas bahkan dari ruangan ke ruangan yang mereka lewati begitu menakjubkan, Elsa awalnya merasa tidak akan tersesat di rumah itu, tapi rumah itu memang yang memiliki banyak lorong dan ruangan yang bisa membuat orang tersesat sendiri tanpa kemampuan khusus.
Api kecil itu mulai membawa dirinya ke sebuah ruangan, berupa sebuah ruangan perapian, dengan sebuah sofa hangat berbulu, rak buku dan ukuran ruangan itu tidak sebesar ruangan perpustakaan yang pertama kali iya lihat.
Tempat ini jauh lebih mungil dari versi sebelumnya, api yang melayang itu terbang sampai ke tangan seorang laki-laki, yang tengah berdiri membelakangi dirinya seolah mengetahui Iya akan datang dan sudah menunggu dirinya.
Lalu lelaki itu tersenyum ramah, ketika berbalik memandang Elsa, api kecil itu pun bertengger di atas tangannya.
"Selamat datang di rumahku, Namaku Eras Silakan duduk Buatlah dirimu nyaman,"
"Terima kasih menyambutku ke di rumahmu."
Pria yang bernama Eras pun hanya tersenyum lalu memperbaiki Tata duduknya untuk lebih nyaman, sembari memandang Elsa yang masih menggenggam kuat lonceng yang diberikan padanya.
"Beberapa hari yang lalu, seseorang yang penting bagiku dikutuk oleh sebuah kutukan, kami sudah semampunya melakukan apapun untuk menyembuhkannya akan tetapi hasilnya, nihil sampai aku mendengar saran seseorang yang bijak padaku untuk menanyakan perihal ini padamu,"
"Baiklah aku akan mendengarkan," ucap Eras dengan laut berubah serius.
"Bisakah kau membantuku untuk sebuah kutukan yang bernama Winter flower,"
Mendengar ucapan Elsa, yang terdengar nampak putus-asa wajah Eras terlihat berubah senang, terlihat sebuah senyuman kecil yang tidak dapat diprediksi Apa maksud dari sikap tersenyum seperti itu.
"Mungkin aku bisa, memiliki jalan keluar untuk masalahmu akan tetapi aku tidak bisa memberikannya dengan gratis, tentu saja. aku tahu siapa dirimu dan dari mana Kau berasal,"
"..."
"Tapi untuk menggulir permintaanmu ini aku butuh mahar, Apakah bersedia Queen Elsa?,"
đź””Bersambungđź””
đź””Jumat-19-Agustus-2020đź””
đź””Dirumah sakit.đź””
Next-Chap :
❄Westergaard Kingdom❄
