Akhirnya, chapter terakhir DK: LiA. Chapter 17 hr ini Cyaaz update.
Selamat membaca, selamat menikmati.
Disclaimer : GS/D Bukan milik Cyaaz…
Dragon Knight : Lost in Aprilius
Chapter 17
Norma PoV
"CAGALLI!"
Betapa terkejutnya Kira melihat sahabatnya tumbang. Gadis itu bersimpah darah penuh luka, kedua mata amber-nya kosong. Luka di perut dan pundaknya nampak begitu dalam, darah tak berhenti mengalir dari sana. Tak heran jika Cagalli kehilangan kesadaran seketika, rasa sakitnya pasti luar biasa.
"Cagalli! Aaaargh!" Tanpa pikir panjang lagi, Kira memaksakan dirinya untuk bangkit dan berlari ke arah Cagalli. "Cagalli, bangun!"
"Huh," Rau menghentakkan prisainya ke udara untuk menyingkirkan darah Cagalli yang menempel "Terlalu lemah untuk seorang Ksatria Naga."
Lebih tepatnya, masih.
"Minggir!" Dengan penuh amarah, Kira mengayunkan katana dan menyerang Rau. "Menjauh dari Cagalli!"
"Cih," Rau mengambil beberapa langkah mundur setelah sempat menangkis katana Kira dengan prisainya. "Kalian mengotori Providence dengan darah kalian."
Rau kembali membersihkan noda darah pada prisainya, lalu mencari dan memanggil ke delapan pedangnya satu per satu. Sementara itu Kira berbalik pada sang sahabat, memegangi dan mengguncang tubuh gadis itu berkali-kali.
"Cagalli, kumohon bangunlah!" Air mata mulai menggenang di kedua mata amethyst-nya.
Ini salahku, kenapa aku menyuruh Cagalli menyerang Rau sendirian?
Kira mulai merasakan tekanan yang luar biasa dalam dirinya, berbagai luapan emosi serta penyesalan menggerogotinya. Seharusnya ia meminta Cagalli pergi untuk menyelamatkan dirinya sendiri, bukan malah menyerang musuh yang jelas-jelas lebih kuat dari mereka. Kenapa Kira melakukannya? Kenapa ia meminta Cagalli mempertaruhkan nyawa untuk bisa mengalahkan Rau? Apakah sebegitu inginnya Kira mengalahkan Rau? Ataukah ia takut akan kematian?
"Cagalli…" Kira tak kuasa menahan air matanya, ia pun memeluk erat tubuh Cagalli yang tidak berdaya. "Maafkan aku, aku…" Tubuhnya gemetaran "Seharusnya aku melindungimu, tapi aku…"
Benar, bukankah seharusnya Kira melindungi Cagalli dengan apa pun menjadi taruhannya? Bukankah ia bisa menjadi sekuat ini juga karena ingin menjaga keselamatan Cagalli hingga mereka kembali ke dunia tempat asal mereka? Ke mana tekad ngin melindungi orang-orang terkasih yang membuatnya mendapat pengakuan dari sang Naga Angin? Kenapa semua berakhir seperti ini?
"Kau sudah selesai?" Suara Rau membuat Kira kembali ke alam nyata. Ia pun menoleh dan mendapati pria bertopeng itu sudah berdiri menghadapnya. "Jangan cemas, kau akan segera menyusulnya."
Rau berdiri tegap dengan prisai melekat di punggungnya. Ke tujuh pedangnya melayang mengelilinginya dan yang satu berada dalam genggaman tangan kanannya. Pria itu tersenyum angkuh, memandang rendah pada Kira dan Cagalli. Hanya tinggal satu serangan terakhir dan semua selesai, kemenangan sudah terlihat di depan mata.
"Selamat tinggal"
_…..--…._ Dragon ..- * -.. Knight _...--….._
Ngh… Apa yang…?
Sakit, sakit sekali. Seluruh tubuhku terasa sakit…
Aku, aku tidak bisa bergerak, nafasku semakin berat…
Apa aku akan... mati?
Jangankan untuk berdiri, membuka mata sudah sangat sulit baginya. Rasa sakit yang tersebar di sekujur tubuhnya begitu dahsyat dan semakin menjadi-jadi. Merintih pun ia tak mampu, setiap otot terasa begitu berat untuk digerakkan. Mungkin memang sudah saatnya ia menyerah, tak ada lagi yang bisa ia perbuat. Mungkin memang sudah menjadi takdirnya…
"Menyedihkan! Hanya sampai di sini, huh?"
Seketika itu juga mata Cagalli terbuka, mendapati kobaran api di setiap arahnya memandang. Dengan mati-matian ia berusaha menggerakkan tubuhnya untuk bangkit, mengembalikan kesadaran yang sempat hilang. "Tempat ini…"
"Kau benar-benar mengecewakanku." Cagalli terhentak ketika ia mendengar suara lantang yang tidak asing, ridapatinya seekor naga keemasan tengah menataptajam padanya.
"Akatsuki…"
Barulah Cagalli menyadarinya, saat ini ia tidak sedang berada dalam alam nyata. Ia berada dalam sebuah dunia di mana ia dapat bertemu dan bicara dengan sang Naga Api. Akatsuki nampak murka, berdiri dengan menegakkan sepasang sayap keemasannya.
"Segini saja kemampuanmu, huh?" Tanya Akatsuki dengan nada sinis.
"Aku… Aku sudah mencoba sebisaku…" Cagalli menjawab dengan kepala tertunduk. "Aku sudah berusaha…"
"Dan kau gagal, kau dikalahkan oleh Providence keparat itu." Setiap kata penuh dengan penekanan, tanda Akatsuki tidak senang.
"Kau juga lihat sendiri 'kan? Rau sangat kuat!" Cagalli berusaha membela diri. "Aku dan Kira sudah mati-matian berusaha mengalahkannya, tapi dia terlalu kuat!"
Akatsuki sempat terdiam, saling menatap dengan gadis berambut pirang di hadapannya. "Aku memilihmu sebagai Ksatria karena kukira kau memiliki semangat juang bagai kobaran api yang membara, ternyata aku salah?" Ucapannya berhasil membuat Cagalli tersentak mundur. "Saat berhadapan dengan lawan kuat, yang harus kau lakukan hanyalah menjadi lebih kuat darinya."
"Bicara memang mudah!" Cagalli mengepalkan tangannya. "Aku, aku…"
"Tidak masalah, kau boleh berhenti jika kau menginginkannya." Akatsuki memotong ucapan Cagalli, membuat gadis itu kembali mengangkat wajah untuk menatapnya. "Diam dan tunggu ajalmu di sini."
"Huh?" Cagalli menelan ludahnya dengan berat, mendengar kata 'ajal' membuat sekujur tubuhnya membeku.
Mati? Aku akan mati di sini? Ia bertanya pada hati kecilnya. Jika aku mati sekarang, aku…
"Apa yang kau lakukan? Dasar bodoh!"
"Cagalli, kau baik-baik saja?
"Cagalli! Cagalli bangunlah!"
"Kakak? Kak Cagalli?"
Sekilas gambaran tentang orang-orang terdekat mengingatkan kembali Cagalli pada apasan mengapa ia berjuang hingga sampai saat ini. Ia ingin menang, ia ingin mengalahkan Rau dan mengakhiri semuanya. Ia ingin membantu Athrun dan Lacus mencapai kedamaian mereka, ia ingin pulang bersama Kira dan kembali hidup bahagia bersama Stellar. Jika ia mati di sini, semua takkan terwujud. Jika sampai ia menyerah di sini, nyawa Kira akan dalam bahaya dan Stellar akan benar-benar sendirian.
"Tidak!" Seketika itu juga Cagalli kembali membulatkan tekadnya yang sempat pudar. Tatapan amber-nya kembali kokoh, tidak menampakkan keraguan sedikit pun. "Aku tidak akan berhenti di sini!"
"….." Akatsuki menyeringai, betapa senangnya ia mendapati Cagalli kembali menyalakan kobaran api semangat dalam dirinya. "Benar! Tidak ada yang bisa menghalangimu, tidak ada yang bisa menghentikan kita!"
Akatsuki mengibarkan kedua sayap keemasannya, membuat kobaran api di sekitarnya semakin membara. Ia berdiri tegap, mengayunkan ekor dan tertawa dengan suara lantang. Betapa ia merasa senang karena telah memilih seorang Ksatria dengan hati bergejolak bagai api yang merupakan perlambangan dari dirinya.
"Akatsuki!" Cagalli memanggil nama naga di hadapannya dengan lantang. "Katakan, apa yang harus kulakukan untuk bisa jadi lebih kuat?"
"Huh, pertanyaan bodoh." Akatsuki menyeringai. "Tentu saja dengan menyalakan api yang lebih panas dan panas lagi!"
"Eh?" Belum sempat Cagalli merespon, Akatsuki mengibaskan sayap dan mengarahkan lidah api padanya. "Aaaaaah!" Dalam sekejap tubuh Cagalli terselimuti bara api, membuatnya terbakar dalam cahaya keemasan. "Akatsuki! Apa yang-aaah!"
"Hahahaha." Akatsuki tertawa penuh rasa bangga dan percaya diri. "Pergilah, kembali pada pertarunganmu!" Ia menatap Cagalli untuk yang terakhir kali. "Jangan mati sebelum kau mengalahkan Providence!"
Dengan itu, tubuh Cagalli pun tertelan api keemasan sepenuhnya.
_…..--…._ Dragon ..- * -.. Knight _...--….._
Kembali pada Kira dan Rau, keduanya saling beradu pedang. Kira melancarkan serangan dengan katana di tangannya melawan Rau yang juga menggenggam sebilah pedang. Beberapa kali Kira menyerang dengan gegabah, membuatnya jatuh dan terluka. Nampaknya pemuda bermata amethys itu mulai kehilangan kendali atas diri sendiri dikarenakan kondisi Cagalli saat ini.
"Aaaaargh!" Kira kembali menghunus katana-nya, berupaya melukai lawan dengan tatapan murka.
"Kau ingin membalaskan dendam wanita itu dengan kemampuan seperti ini?" Rau menahan serangan Kira dengan pedangnya. "Jangan bermimpi!"
Kira terhempas setelah Rau menghentakkan pedangnya. Ia menatap pria bertopeng itu dengan mata amethyst yang tajam. "Diam kau!" Ia kembali melancarkan serangan tanpa berpikir panjang.
Bagaimanapun aku harus menang, aku harus menang darinya. Kira berusaha mati-matian mengimbangi Rau. Walau aku mti sekalipun, demi Cagalli, aku harus…
Tiba-tiba tubuh Cagalli bercahaya, kobaran api melahap gadis itu dengan cepat. Kira dan Rau pun menoleh, tertegun mendapati apa yang sedang terjadi.
"Cagalli?!" Kira segera berpaling dan berlari menghampiri gadis itu.
Sesaat kemudian sosok Cagalli mulai nampak, keluar dari kobaran api keemasan. Gadis itu berdiri tegap dengan sebilah pedang pada masing-masing genggaman tangannya. Tatapannya lurus, mata amber-nya terlihat lebih gelap dari biasanya. Tanpa berucap ia segera melesat melewati Kira untuk melancarkan serangan pada Rau.
"Apa yang?" Kira masih belum dapat mempercayai apa yang ia lihat, Cagalli seharusnya sudah tidak memiliki tenaga untuk berdiri apalagi bertarung. "Cagalli!"
Rau menerima serangan dari Cagalli dengan prisainya, ia dapat merasakan sesuatu yang berbeda dari gadis itu. Dia kembali dengan kekuatan Naga Api yang sesungguhnya?
Tatapan Rau dan gadis itu bertemu, tak ada sedikitpun rasa takut terbersit dari mata amber tersebut. Perlahan tapi pasti, gadis itu dapat memukul mundur pertahanan Rau. Menyadari hal itu, Sang Ksatria Naga Pencipta mengaktifkan kembali kemampuan khusus prisainya. Duri-duri pasa prisai itu memanjang secara serentak.
Namun kali ini Cagalli berhasil melompat mundur di saat yang tepat. Gadis itu terdiam untuk sesaat, mengamati pola pergerakan dari prisai yang menjadi pertahanan terkuat musuhnya. Sementara itu Kira masih membeku di tempatnya, memperhatikan sosok Cagalli yang penuh luka. Saat itulah baru ia menyadari luka pada perut dan pundak gadis itu mengering, Cagalli sengaja membakar kulitnya agar luka-luka itu menutup. Tidak sempurna, apalagi sembuh, namun cukup efektif menghentikan pendarahan untuk sementara waktu.
"Menarik." Rau menyeringai, ia menggenggam pedang di kedua tangan dan menyiagakan yang lain di punggungnya. "Majulah!"
Dengan itu, adu pedang kembali terjadi di antara Rau dan Cagalli. Pergerakan mereka sangat cepat, akurat dan efektif. Rau kerap melesatkan pedangnya pada Cagalli, sedangkan gadis berambut pirang itu menyerangEngan lidah api yang membara. Sulit dipercaya, namun ini nyata. Cagalli yang sempat hampir kehilangan nyawa kini kembali dengan kekuatan yang lebih untuk mengalahkan Rau.
"Bagaimana denganmu?" Kira tersentak saat ia mendengar suara dari dalam dirinya.
Freedom? Ia menunduk, berkomunikasi dengan sang Naga Angin.
"Kau akan diam dan menyaksikan pertarungan ini hingga akhir?" Tanya Freedom.
Kira sempat terdiam, mengamati sosok Cagalli untui sesaat. Kemudian ia menghirup nafas dalam-dalam dan berkata, "Tidak, aku tidak akan membiarkan Cagalli bertarung sendirian lagi."
Terdengar suara tawa kecil dari Freedom. "Aku tahu kau akan mengatakan itu. Pergilah!"
Kira meneguhkan hatinya, membulatkan tekad dan memutuskan untuk ikut bertarung bersama Cagalli. Pemuda itu melesat dengan dorongan angin mengelilingintubuhnya, tatapannya jauh lebih kokoh dari sebelumnya. Ia menghunus dan mengarahkan katana pada Rau, membuat Cagalli yang juga masih berada dalam pertarungan terkejut.
"Kira?" Gadis itu menatap mata amethys Kira yang kini nampak gelap.
Kira tidak merespon dengan kata, ia hanya mengangguk mantap. Mendapati keteguhan hati sang sahabat, semangat juang dalam hati Cagalli semakin membara. Kini mereka bertarung bersama melawan Rau dengan hati yang kokoh, takkan lagi ada yang bisa menghalangi langkah mereka.
Rau yang menyadari perubahan pada serangan Kira dan Cagalli semakin waspada, ia mengerahkan seluruh pedangnya untuk menyerang dan menghalau segala serangan yang datang dengan prisainya. Dapat dirasakan olehnya, serangan kedua Ksatria Naga ini semakin bertambah kuat seiring berjalannya waktu meski hanya sedikit demi sedikit. Jika tidak segera diakhiri, bisa-bisa meja berbalik dan ia akan dikalahkan oleh mereka.
"Haaah!" Cagalli menyerang dengan kedua pedangnya, tentu Rau menangkis dengan prisai berduri untuk bertahan. Namun Cagalli menolak mundur, ia memfokuskan tenaga pada kobaran api pada pedangnya, meningkatkan suhu lidah api sang naga.
Benar saja, tak lama Cagalli berhasil menghancurkan duri-duri pada prisai yang hendak menyerangnya. Kemudian Kira pun datang dan membantu dengan tebasan katana-nya. Kedua Ksatria Naga itu berjuang keras, berharap dapat memecah pertahanan terkuat Rau, namun sebelum mereka berhasil, Rau mengarahkan pedang-pedangnya pada mereka hingga keduanya terpaksa mengambil langkah mundur.
"Cih," Rau merasa tidak senang mendapati prisainya retak.
"Sedikit lagi." Gumam Cagalli. Kira menanggapi dengan anggukkan.
Aku harus menggunakannya, pertahanan sekaligus serangan terakhirku.
Rau mengepalkan tangan, tidak menyangka ia hadrus melakukan sampai sejauh ini untuk menyingkirkan Kira dan Cagalli. Pria berambut pirang itu membentangkan tangan kiri dan membuka telapak tangannya ke udara. Kristal Naga di punggung tangannya bercahaya, diikuti gemuruh dari seluruh penjuru arah. Cagalli dan Kira pun tersentak mundur sesaat setelah tanah tempat mereka berdiri terguncang.
"Ultimate Armor."
Seketika itu juga bongkahan-bongkahan yang tersebar dalam gua bergerak melesat menuju tempat Rau berada. Sedikit demi sedikit bongkahan kristal tersebut melapisi tubuh dan prisainya, membentuk sebuah armor yang melindungi sang Ksatria Naga Pencipta. Hampir seluruh tubuhnya terlindungi, hanya menyisakan sedikit lubang di bagian mata. Sudah jelas, pertahanan Rau saat ini jauh lebih kuat dari yang sebelumnya.
Kira dan Cagalli menatap satu sama lain dan saling mengangguk untuk memantapkan kembali tekad mereka. Keduanya takkan gentar, takkan mundur meski Rau nampaknya kembali mengungguli mereka dalam pertarungan. Mereka memulai dan terlibat dalam pertarungan ini bersama, mengakhirinya pun bersama-sama.
Kali ini Rau maju terlebih dahulu, mengerahkan pedang-pedang yang sudah berlapis Kristal berwqrna hijau kebiruanpada Cagalli dan Kira. Kedua Ksatria Naga itu menghindar, menepis serangan yang datang dengan pedang mereka. Kejar-kejaran pun sempat berlangsung, adu cepat antar senjata dan Ksatria Naga.
"Patahkan pertahanannya," Kira memberi saran di tengah pertempuran "Cuma apimu yang bisa menembus prisai itu."
Cagalli mengangguk, ia pun tak membuang waktunya. Gadis itu melesat ke arah Rau, menebas pedangnya untuk berhadapan dengan prisai kristal milik lawan. Benturan dan gesekan beberapa kali terulang, mengadu kekuatan antara prisai dan pedang api. Berkali-kali Cagalli meningkatkan serangan dengan lidah apinya, namun sepertinya masih belum cukup untuk menembus lapisan kristal dari prisai milik Rau.
"Kenapa kalian berbuat sampai sejauh ini?" Rau mengangkat suara ketika ia bertatapan dengan Cagalli. "Apa yang kalian dapatkan dari pertarungan sia-sia ini?"
"Aku juga ingin menanyakan hal yang sama padamu!" Cagalli berupaya mendorong lawannya. "Aku dan Kira hanya ingin pulang!" Mata amber-nya bergejolak. "Tapi kami juga tidak bisa membiarkan orang jahat sepertimu berulah seenaknya!"
Jahat, huh? Rau menyeringai di balik armor-nya. "Salahkan saja takdir yang sudah memperlakukan orang-orang seperti kami dengan tidak adil!"
"Eh?" Cagalli terhentak mundur setelah Rau berbalik mendorongnya.
"Providence!" Rau mengangkat tangan kanan ke udara.
Pedang-pedang Rau kembali padanya, pria itu melesat maju bersama armor dan seluruh senjatanya untuk menyerang. Cagalli dan Kira dituntut untuk tanggap menghadapinya, Kira membentuk pusaran angin untuk menghalau pedang Rau dan Cagalli menahan prisai Rau dengan pedang lidah apinya yang disilangkan. Tak lama pedang-pedang Rau kembali, membuat Kira sibuk melindungi dirinya dan Cagalli di saat bersamaan. Pemuda itu menahan serangan dengan membentangkan katana di atas kepalanya dan Cagalli.
"Percuma saja." Rau mendorong Cagalli dan Kira dengan kekuatannya.
"Ugh," Kira menahan punggung Cagalli dengan tubuhnya agar tidak sampai terhempas.
"Kira!" Cagalli menengok untuk memastikan sahabatnya baik-baik saja, lalu ia kembali berkonsentrasi pada Rau.
Sial! Kalau begini terus, kalau begini terus… Cagalli mengerqtkan giginya, berpikir keras untuk mencari jalan keluar. Apa yang harus kulakukan?
"Bukankah sudah kukatakan, cukup mengobarkan api yang lebih panas!"
Akatsuki? Cagalli tersentak saat mendengar suara akatsuki dari dalam dirinya. Gadis itu pun mengerutkan dahi dan menajamkan mata. Benar, lebih panas dan lebih panas lagi!
Crack!
Betapa terkejutnya Rau ketika sebuah retakan terbentuk pada prisai berlapis kristal miliknya. Tidak mungkin, bagaimana bisa ini terjadi?!
"Sedikit lagi!" Cagalli tak ingin berhenti di sini.
"Kira, sekarang!" Kira mendengar suara Freedom. "Dukung serangan Akatsuki dengan angin!"
Seketika itu juga Kira mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyerang. Ia membalut bilah katana-nya dengan angin dan mengikuti langkah Cagalli. Pemuda berambut coklat itu mendorong dan memukul mundur lawan mereka bersama-sama. Balutan angin dari katana Kira berhembus menguatkan bara api dari kedua pedang cagalli.
Panas, kobaran api tersebut semakin menyala dan panas. Begitu panas hingga mampu menghancurkan lapisan kristal pada prisai milik Rau secara perlahan. Hingga pada akhirnya prisai tersebut pecah, terkalahkan oleh ke tiga bilah pedang di hadapannya. Seketika itu juga perpaduan antara kobaran api dan pusaran angin lepas kendali hingga menciptakan ledakan.
"Aaaaaargh!"
Kira dan Cagalli terhempas cukup jauh hingga membentur bebatuan. Sementara itu Rau terjebak dalam ledakan, lautan api mengelilingi dan melahap tubuhnya seketika.
Apa ini juga merupakan takdirku, huh? Rau tersenyum miris di saat terakhirnya.
"Persetan dengan takdir! HAHAHAHA!" Ia menatap Kira dan Cagalli untuk yang terakhir kalinya. Tatapannya dipenuhi dengan kedengkian dan amarah. "Satu saat kalian pun akan dipermainkan oleh takdir!"
Kira dan Cagalli membeku di tempat mereka, menyaksikan saat-saat terakhir Rau dalam keheningan. Mereka memang bertekad untuk mengalahkan pria berambut pirang itu dengan mempertaruhkan nyawa, namun tetap saja pada kenyataannya, menyaksikan kematian seseorang bukanlah hal yang menyenangkan.
Tubuh Cagalli bergetar sesaat ia menyadari apa yang baru ia perbuat, nyawa seseorang baru saja berakhir di tangannya. Gadis itu menjatuhkan pedangnya dan berlutut, berbagai macam perasaan meluap dalam dadanya. Ia mengangkat dan menatap kedua tangannya yang kosong, bertanya pada diri sendiri apakah ia sudah melakukan kesalahan? Apakah tidak seharusnya ia membunuh Rau dengan alasan apa pun? Apakah ia dapat diampuni dari kesalahan ini?
"Cagalli." Kira berlutut di depan Cagalli dan menggenggam tangan gadis itu. "Salah atau pun benar, kita melakukannya bersama."
Ucapan dan senyum tulus Kira berhasil menenangkan hati Cagalli. "Kira…"
Spontan Cagalli memeluk erat pemuda berambut coklat itu dan menangis. Kira pun membalas pelukan Cagalli dan menangis bersama gadis itu. Pertarungan ini merupakan sebuah pertarungan yang sangat berat bagi mereka, menguras tenaga dan juga emosi. Betapa mereka takkaan melupakan hari-hari mereka di Apeilius, selamanya menjaga kenangan dan berbagai pelajaran berharga yang mereka dapat.
"Sudah berakhir 'kan?" Cagalli bertanya di sela isak tangisnya. "Kita tidak perlu bertarung lagi 'kan?"
"…." Kira ingin memberi jawaban yang diinginkan Cagalli, namun ia sendiri tidak yakin.
Beberapa saat kemudian, barulah mereka menyadari satu keanehan muncul di sekitar mereka. Tubuh mereka bermandikan cahaya dari langit, Kira dan Cagalli pun mengangkat wajah untuk mencari tahu asal dari cahaya tersebut.
"Cagalli, ini…?" Kira bertanya seraya ia merasakan sensasi aneh pada dirinya. Cagalli tersenyum kecil dan mengangguk.
"Kita pulang, Kira…"
_…..--…._ Dragon ..- * -.. Knight _...--….._
"Sedikit lagi, Lacus." Athrun memapah tubuh gadis bermmata sapphire di sampingnya. "Kau tidak apa-apa?"
"Ya, jangan cemas." Jawab Lacus dengan lembut. "Kita harus cepat, aku tidak ingin hal buruk terjadi pada Kira dan Cagalli."
Athrun mengangguk, ia kembali fokus pada jalan terjal di hadapannya. Saat ini mereka tengah berjalan menelusuri reruntuhan ZAFT-castle untuk mencari Kira dan Cagalli yang terpisah sejak beberapa waktu yang lalu. Athrun dan Lacus merasa begitu cemas karena ke dua Ksatria Naga itu rupanya berhadapan langsung dengan Rau Le Crueset. Bukannya Athrun meragukan kemampuan mereka, hanya saja Rau meeupakan sosok yang kejam dan…
"Athrun, lihat!" Suara lacus menghentikan pemikiran panjang Athrun.
Pemuda berambut navy blue itu mengangkat wajah dan memperhatikan ke arah yang ditunjuk oleh Lacus. Kedua matanya melebar seketika, nampak sosok Kira dan Cagalli melayang semakin tinggi ke udara dengan perlahan. Keduanya seolah ditarik oleh sesuatu yang tidak mereka ketahui, satu kekuatan besar di luar nalar.
"Kira! Cagalli!" Spontan Athrun meneriakkan nama mareka.
Kira dan Cagalli mendengar suaranya, mereka menoleh dan menatap pada Athrun dan Lacus. Mereka hanyaa terdiam, saling menatap satu sama lain. Padahal bisa jadi ini adalah yang terakhir kalinya mereka saling bertatap muka, namun tak ada kata yang terucap. Seolah tak mampu memilih kata, tidak mengerti harus bagaimana menanggapi perpisahan ini.
"Athrun! Lacus!" Setelah beberapa saat, barulah Cagalli memecah keheningan dengan suara lantangnya. "Selamat tinggal!"
"Jaga diri kalian baik-baik!" Lanjut Kira, tak ingin melewatkan kesempatan.
Athrun tersentak. Ia pun hendak meneriakkan kata perpisahan, namun didahului oleh Lacus. "Terima kasih, terima kasih untuk semuanya!" Gadis itu berlinangan air mata. "Selamat jalan!"
"….." Athrun mengepalkan tangannya, entah apa yang menghalangi dirinya berucap. "Kira, Cagalli!" Akhirnya ia meneriakkan nama mereka sesaat sebelum sosok keduanya menghilang ditelan cahaya, tak menyisakan apa pun.
"Terima kasih…"
_…..--…._ Dragon ..- * -.. Knight _...--….._
The - End
Terima kasih, Readers.terima kasih, Reviewers teman2 yg sdh follow fav DK: LiA.
Panjang skli perjalanan fic ini, mungkin blm bner2 berakhir d sini. Cyaaz g brani mnjanjikan apa2 krn sdar diri.
Tp klau mmang bs, Cyaaz akn lanjutin DK smpe akhir, ntah brp nnti dipecah lg jd brp judul yg berbeda. Cyaaz akn berupaya ttp smangat dan rajin update untuk readers.
Sekian, chapter terakhir DK: LiA. Semoga berkenan di hati readers, g sia2 nunggu sampai bertahun2 sampai tamat.
Sampai ketemu lagi di fic2 Cyaaz yg lain.
See you next week!
