SYUUUT!

DOR!

DOR! DOR! DOR!

DOR!DOR!

DOR!DOR!DOR!

DOR! DOR!

Semi Eita mengumpat murka ketika tembakan loom of fate Hirugami Fukuro membuat pistol di tangannya terlempar. Adu tembak dengan sesama Ulster selalu menjadi pertarungan terburuk, keluh Semi dalam hati. Ia sudah membekali diri dengan empat buah pistol dan sebuah submachine gun. Penyerbuan yang dilakukan Phantom Hawks cukup memakan waktu dan tenaga. Semi sudah menghabiskan semua peluru submachine gun yang dibawanya untuk menyerang sekaligus melindungi anak-anak buahnya dalam menghadapi pasukan kkangpae yang buas seperti kesetanan. Ohira Leon ia lepaskan untuk mencari Ushijima tetapi pria berkulit gelap itu menolak. Nyatanya, Hirugami Fukuro tetap terlalu kuat dilawan mereka berdua sekaligus. Leon sudah kehabisan peluru dan mulai memasang kuda-kuda, bersiap menyerangnya dengan ilmu beladiri. Berbeda dengan adiknya yang selalu memberikan serangan brutal, Hirugami Fukuro adalah penembak jitu berpengalaman. Ia merancang pergerakan pelurunya dengan hati-hati dan bisa melayangkannya dengan kekuatan maksimal. Kecenderungannya menggunakan rifle memberikannya jarak tarung yang sangat sulit dijangkau lawan.

"Sejujurnya, aku lebih menyukai bekerja dengan bayi-bayi elang dibanding dengan para kkangpae." gumam Fukuro. "Mereka bawel sekali."

"Karena itu kami akan membungkamnya." Semi mengayunkan tangannya seperti melempar bola bisbol dan melayangkan tembakan parabola. "Jangan menghalangi!"

DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!

DOR! DOR! DOR!

DOR!

DOR! DOR! DOR!

DOR!DOR!

DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!

DOR! DOR!

"Hiyaah!"

BAK! BUK! BAK! BUK!

DUAK! DUAK!

BUAKH!

Leon mendaratkan pukulan keras di perut Fukuro. Terdengar bunyi krek teredam. Hirugami sulung cuma terbatuk-batuk memegangi perutnya. Leon kembali memasang mode siaga saat Fukuro malah membuang rifle-nya dan balas menghajar Leon dengan pukulan dan tendangan. Kaki jenjangnya yang berbalut celana kerja hitam licin menendang Leon hingga terpelanting menubruk Semi. Keduanya bertabrakan, terguling-guling tidak karuan. Fukuro membungkuk memungut rifle-nya dengan cepat saat melihat tangan Semi kembali mengokangkan pistol.

DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!

DOR! DOR! DOR!

DOR!

DOR!

DOR! DOR! DOR!

DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!

Fukuro mengayunkan pipasenapan laras panjangnya, menciptakan tembakan loom of fate yang menghalau rentetan peluru yang dilancarkan Semi. Tembakan berikutnya saling bertumbuk, dan tembakan lain kembali bertubrukan. Sang negosiator Phantom Hawks mendorong tubuh Leon yang setengah sadar dan melawan tembakan loom of fate meliuk yang dilancarkan Fukuro.

DOR! DOR! DOR!

DOR!

"Semi Eita..." Fukuro menurunkan kokangan senapannya dan kembali menyelempangkannya. "Full spent."

Hirugami sulung tersebut berbalik dan meninggalkan dua petinggi Phantom Hawks tersebut. Ia menjawab kembali panggilan-panggilan aneh yang dibuat Oikawa di saluran wireless. Ketika menyadari Hirugami Fukuro sudah hilang, Leon terhuyung-huyung bergegas menghampiri Semi yang tergeletak tidak bergerak. Darah merembes dari setelannya. Kepalanya tidak tertembak. Matanya membelalak dan memutih. Leon melepas paksa jas dan kemeja yang dikenakan Semi. Ia mengenakkan rompi anti peluru, sehingga sebagian besar tembakan loom of faith Fukuro berhasil dihindari meski ada satu peluru yang tetap menembus. Dadanya kaku. Nafasnya tidak berasa, begitupun nadinya. Leon yang putus asa tetap memberikan resusitasi di dada rekan kerjanya meski darah merembes hangat ke sela-sela jarinya.

"Semi, ayolah...bertahanlah..." tangannya tetap memompa meski harapan di hatinya semakin menipis. "Tuan muda Wakatoshi bisa mati kalau dia kehilanganmu juga."

Dua puluh tujuh, dua puluh delapan, dua puluh sembilan, tiga puluh. Leon menaikkan dagu Semi dan meniupkannya nafas buatan hingga dada si negosiator menggembung setelah hitungan ke-30 pompaannya. Ia kembali meresusitasi dada Semi karena belum ada impuls yang terasa, lalu kembali meniupkan nafas bantuan. Darah segar muncrat dari kerongkongan Semi ke dalam mulut Leon hingga ia melepas nafas bantuannya dan terbatuk-batuk hingga muntah meludah-ludah. Semi terbatuk dengan suara yang aneh, namun nafasnya kembali lagi. Mulutnya berlumuran darah. Leon membantunya duduk dan melepas rompi anti peluru yang dikenakannya, membuat segala jalan nafasnya lebih lega. Satu peluru menembus dada kirinya, persis di tulang selangkanya. Anehnya, Leon bisa melihat pangkal peluru yang menembus tubuh Semi mencuat keluar. Sang negosiator menunjuk-nunjuk area tersebut. Leon mencabutnya dengan hati-hati, berusaha mengabaikan lolongan kesakitan Semi. Darah segar kembali mengucur dari bagian tersebut. Luka Semi tidak dalam, tetapi tampaknya peluru itu mengenai tulangnya. Leon menjadikan dasi dan saputangan Semi sebagai bebat darurat. Semi meludah dan menyeka darah di mulutnya.

"...brengsek..." rutuknya lirih. "Terlambat sedikit saja...aku pasti tewas."

"Kau bisa hidup saja sudah keajaiban." gumam Leon. Ia merogoh sakunya dan membukakan sebungkus permen karet rasa stroberi yang merupakan salah satu jenis morphine keluaran Phantom Hawks. "Hawking."

Semi mengunyah permen karet itu dengan cepat. Rasa sakit dan sesaknya berangsur mereda semakin ia lama mengunyah permen tersebut. Berbeda dengan Eaglegum yang efeknya lumayan kuat karena berbentuk permen kunyah yang bisa ditelan, Hawking memiliki dosis morfin yang lebih rendah dan dapat dicerna berangsur-angsur dalam tubuh karena berbentuk permen karet sehingga tidak menghilangkan kesadaran sesaat setelah dikonsumsi.

"Kupikir dia membunuhmu." Leon menyeka darah yang tadi masuk ke mulutnya. "Aku terpaksa harus menciummu, dan kau memuntahkan darah ke mulutku. Sialan."

"...teknisnya, dia memang membunuhku." Semi mengerang kesakitan, mengunyah Hawking lambat-lambat. "Aku membelokkan pelurunya."

"...heh?" Leon mengerenyit.

Semi terbatuk-batuk sedikit. Wajahnya memucat, tetapi ia merasakan darah yang mengucur dari lukanya perlahan berhenti. "Kami para DET Ulster...uhuk..bisa mengaplikasikan loom of faith...dengan... cara apapun, tergantung kemam..uhuk...kemampuanmu. Ergh...tadi itu benar-benar taruhan nyawa. Aku melihat...pelurunya Hirugami...melesat ke dadaku. Lalu...aku mencoba membelokkannya. Uhuk...setidaknya tidak langsung...membunuhku..."

Leon tersenyum lega.

"Seperti yang kulakukan...waktu si cebol keparat itu..menculik tuan muda Wakatoshi." jelas Semi.

"Bedebah itu menggunakan senjata dengan peluru high suppressed tingkat tinggi." Leon memamerkan peluru yang dicabutnya dari dada Semi. "Benda ini bahkan bisa menembus rompi anti peluru. Dan kau bilang kau membelokkannya dengan teknik rahasia. Sungguh gila."

Koridor itu sudah sepi, porak-poranda akibat pertarungan dua pasukan besar. Mereka menatap kosong diantara mayat-mayat yang berserakan. Leon duduk bersandar di sebelah Semi. Ia memutuskan tidak ada salahnya sedikit beristirahat. Penyergapan ini melelahkan dan menyakitkan. Ia tidak bisa pergi seorang diri. Setidaknya sampai Semi kuat untuk berjalan sendiri, Leon memutuskan memulihkan energinya sejenak.

"..Leon..." Semi melirih. "Apakah...aku lancang, kalau...kuanggap tuan muda Wakatoshi...seperti anakku sendiri?"

Leon menggeleng. "Dia imut, kan? Wajahnya, sifatnya, perilakunya pada kita."

Semi mengangguk.

"Kau dan aku sudah bekerja untuk klan ini sejak Washijo-sama masih ada. Aku tahu harapanmu besar pada tuan muda. Tetapi kurasa kau sedikit terlalu keras padanya."

"Kalian semua memanjakannya." Semi mendengus pelan.

"Tidak ada yang berani menentangmu karena kami semua tahu, kaulah yang paling sayang dengan tuan muda Wakatoshi." Leon menimpali lagi. "Cuma kau yang cukup tega memarahi dan mendidiknya. Dibandingkan negosiator, kau bersikap seperti orangtua sungguhan."

Semi cuma tersenyum kecil. Ia sudah mengasuh Ushijima sejak bayi. Rasa sayang melunakkan hatinya. Bukan karena loyalitas pada Phantom Hawks Semi membesarkan Ushijima dengan tangannya sendiri. Ia bisa menyewa pengasuh anak yang lebih berpengalaman. Tetapi Semi hanya ingin anak malang itu menyadari bahwa di belantikan dunia hitam yang sudah menaungi keluarganya sejak 2 generasi terdahulu, Ushijima Wakatoshi bisa tumbuh dewasa dengan sehat dan bahagia dari cinta kasih yang tulus.

TEP.

Leon menoleh ketika melihat kepala Semi lunglai, lalu tubuhnya tersungkur jatuh ke lantai. Ia memeriksa jalan nafas dan denyut nadi sang negosiator, lalu merogoh ponselnya menelpon salah seorang hitman andalan Phantom Hawks.

"Yamagata, cepat cari kami di lantai 12! Semi tidak bisa bertahan!"


"Shoyo."

Hinata masih berjalan cepat. Raut wajahnya kusut, ia tampak bersungut-sungut seperti anak kecil yang habis berkelahi dengan temannya. Si suami cuma bisa menghela nafas jengkel, Miya Shoyo yang sedang marah akan bersikap sangat keras kepala. Atsumu menarik tangannya sampai wanita mungil bersurai ginger itu berhenti. Hinata menoleh, memandangi suaminya yang menuntunnya mendekat dan memeluk kepalanya dengan penuh sayang.

"Aku mau merokok." kata Atsumu.

"Kau bisa lakukan itu nanti." Hinata membalas ketus sambil mendorong Atsumu menjauh. "Kita tidak punya waktu untuk santai, 'Tsumu-san."

"Ayolah, kumohon." Nada suara Atsumu merendah, ekspresi wajahnya memelas. "Sebatang saja."

Hinata yang sudah tipis kesabaran akhirnya mengalah. Pria jangkung bermata chesnut itu merangkul istrinya berjalan menuju smoking area bandara dan duduk membungkuk. Di bibirnya tersemat sebatang rokok, lalu disulutnya, dan lokomotif Atsumu mengudara dengan nyaman. Ia mengulurkan rokok yang baru sekali ditariknya kepada Hinata, tetapi sang istri menggeleng. Atsumu menginstruksikan Hinata untuk duduk di sampingnya dan ia menurut.

"Tenanglah." Atsumu menggenggam tangan istrinya. "Kau harus tetap berkepala dingin di situasi sulit, Shoyo cintaku."

Hinata cuma menggenggam tangan suaminya erat-erat, dan merebahkan kepalanya di pundak Atsumu. Sepanjang perjalanan pulang dari Kobe ke Yokohama, Hinata tampak sekali sedang dilanda badai konflik. Bokuto Kotaro, guru yang paling dihormatinya, yang menjadi harapannya untuk dijadikan koalisi melawan Aoba Johsai menolaknya dengan alasan bahwa mereka menyetujui kontrak dari Phantom Hawks dan menolak tawaran mereka berkoalisi.

"Mereka itu hitman mercenaries." Atsumu menasehati. "Jangan terbawa perasaan."

"Apa uang lebih penting dari relasi?" tanya Hinata kesal. "Aku ini muridnya. Guru macam apa yang membiarkan muridnya dalam kesulitan?"

Atsumu menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu melepaskan asapnya perlahan tapi dalam satu tarikan nafas panjang. Ia tengah berpikir, kalimat apa yang cukup mengena bagi istrinya yang sedang kesal, panik dan kecewa sekaligus? Oh, tambahkan kata polos kalau bodoh terdengar terlalu kasar. Tetapi Atsumu mengakui kalau istrinya yang manis dan cerah itu memang agak bodoh.

"Sho-chan, manisku..." Atsumu menengadah. "Memangnya kalau kau berteman dengan dokter gigi, dia bakal memasangkanmu kawat gigi dengan cuma-cuma?"

"Kenapa jadi bahas dokter gigi?!" Hinata sontak berdiri karena gerah dengan sikap kelewat santai suaminya.

"Jawab saja." Atsumu menyahut dingin.

Pundak Hinata merosot. Alisnya bertaut. Jelas sekali terlihat ia berusaha berpikir. Kalau ini bukan tempat umum, Atsumu sudah mencaplok istrinya karena kepalang gemas. Harusnya orang-orang yang mengecapnya sebagai bedebah berlibido abnormal itu paham, salah satu alasan kenapa Atsumu tidak pernah bisa mengendalikan birahinya adalah karena memiliki istri yang sangat menggoda.

"Nggak, lah." jawabnya. "Kawat gigi kan mahal."

"Meskipun kau temannya, pasang kawat gigi itu tidak murah dan sulit. Mana mungkin dia mau melakukan kerjaan mahal dan susah dengan ikhlas hanya karena kau temannya?" jawab Atsumu sambil menuntun Hinata kembali duduk di sebelahnya. "Sama saja dengan Bokkun dan Nona Keiji. Mereka menerima tawaran Phantom Hawks sebelum kita datang. Itu semua murni karena mereka bersikap professional."

Ekspresi Hinata berubah sendu. Bibirnya melengkung kebawah, sedikit maju karena logika dingin suaminya kali ini benar dan masuk akal. Atsumu menarik sebatang rokok baru dan menyambung sesi 'merokok sebatang saja'-nya yang tentu saja bohong. Ia sudah dua hari tidak merokok. Selagi ada waktu, sekalian saja santai sejenak untuk menenangkan pikirannya dan tempramen wanita kesayangannya.

"Sho-chan." Atsumu melirik. "Aku mau tanya sesuatu."

"Apa?"

Atsumu menghela kabut tebal sambil mendongak."Kau hamil, ya?"

Wajah istrinya merona padam sampai telinga. Hinata menunduk, menggangguk dalam diam.

"Yappari. Stok pembalutmu tidak berkurang sejak bulan ketiga kita menikah. Dadamu jadi semakin besar sampai terlihat tumpah dari bra-mu. Aku mencampurimu setiap hari, dan tidak pernah lagi aku mendapatimu datang bulan."

"Jadi, 'Tsumu-san sudah tahu?" tanya Hinata datar dan lirih.

"Yacchan yang memberitahuku." ujar Atsumu. "Mereka memaksamu memeriksa saat kita pisah ranjang, kan?"

Hinata tidak menjawab. Ia kembali mengangguk.

"Kau tidak terlihat senang." Atsumu menyenggol pelan pundak istrinya. Seringai jahilnya terulas lebar. "Yang ada di dalam rahimmu itu anakku, lho. Eh, salah. Anak kita."

"Aku takut, 'Tsumu-san." Hinata mengepalkan tangannya erat-erat. "Dulu...waktu ibuku hamil Natsu, dia tampak kepayahan. Apa perempuan serampangan sepertiku pantas jadi ibu? Dalam keadaan seperti ini, bukankah hamil malah membuat kita berdua jadi semakin susah? Aku merasa tidak sanggup..."

Atsumu mengulurkan lengannya merangkul Hinata, membelai rambutnya. "Sho-chan, sayangku. Aku pernah bilang apa padamu?"

"Apapun maumu, aku ladeni." ujar Hinata. Kalimat itu memang jargon andalan Atsumu saat mereka berdua tengah bermanis-manis di dalam rumah. Atsumu memang selalu melakukan apapun yang Hinata inginkan, meski kadangkala ia memang bersikap galak. Terlebih di sesi latihan mereka.

"Bukan yang itu." Atsumu menggesekkan pipinya di puncak kepala Hinata. "Jangan sungkan padaku, Sho-chan. Kita ini suami-istri."

Atsumu mematikan rokoknya. Ia lalu berjongkok di hadapan istrinya sambil mengulurkan kedua tangannya mengusap perut Hinata, lalu naik mengusap kedua pipinya dengan penuh kasih.

"Shin-chan bilang, kembar itu gen." Atsumu berucap. "Anak kita mungkin juga kembar seperti otou-chan dan oji-chan-nya."

Hinata tersenyum tipis. "Kau mau dipanggil otou-chan? Nggak mau dipanggil Papa?"

"Tidak, jangan." Atsumu memasang wajah horror. "Oyakata-sama bisa memenggalku. Shin-chan itu pria Jepang super kolot. Menurutnya, panggilan papa-mama itu kurang santun untuk orangtua."

"Tapi kau memanggil Shinsuke-san dengan sebutan Shin-chan." Hinata tertawa kecil.

"Itu karena dia suka dipanggil Shin-chan." Atsumu menggamit lembut dagu Hinata dan memandang matanya lekat-lekat. "Setelah perang ini selesai, ayo kita menetap di Kobe sampai anak kita lahir dan sedikit lebih besar. Kita berdua sama-sama berandalan. Kita harus belajar jadi orangtua yang baik. Karena rumahku di Kobe itu luas, anak-anak kita bisa berlarian sampai puas. Halaman belakangnya punya taman yang teduh, mereka bisa main di luar dengan aman. Masakannya Shin-chan dan Rintaro lebih enak dari buatanku. Dan juga, 'Samu sebetulnya pintar menghadapi anak-anak. Oke?"

Hinata mengangguk. Kasih sayang Atsumu yang selalu hangat dan manis membuat segala ketakutan dan kepanikannya tertepis seakan hanya awan lewat pada cuaca cerah. Hinata begitu terharu, membayangkan seperti apa keluarga kecilnya kelak. Oyakata-sama bisa mimisan kalau tahu cucu pertamanya kembar, Hinata yakin. Raja Neraka kan tergila-gila sekali dengan anak kembar.


"[Daichi-team sampai di lantai 7. Kalian baik-baik saja? Monitor]."

"[Suga-team split! Aku dikejar Hirugami bungsu. Miya maju ke lantai selanjutnya. Ganti]."

"[Tsuki-team split! Aku tidak bisa menghubungi Hinata—maksudku Shoyo. Ada yang bertemu dia di lantai lain? Ganti?]."

"[Sawamura, monitor! Aku harus kemana? Aku cari istriku atau lanjut?]."

"[Asahi-team baru saja naik ke lantai 7. Lanjut lantai 8 atau team up dengan Daichi-team?]."

"[Asahi-team tolong bantu Suga. Miya lanjut ke lantai atas. Bantai semua kkangpae tanpa sisa kecuali Kageyama. Tidak usah sungkan. Rampas senjata mereka kalau kau kurang amunisi. Daichi-team akan split. Tsukishima akan lanjut mencari bayi elang itu. Noya tolong bantu Tsukishima, lalu kalian berdua cari Shoyo. Seseorang harus menggorok leher Oikawa, dan aku harus memastikan kepala dan lehernya benar-benar terpisah!]."

Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya. Wireless di telinganya berdengung-dengung, memperdengarkan suara teman-temannya yang masih menjalankan misi menghabisi Aoba Johsai sekaligus menculik balik Ushijima. Kepalanya pening, lehernya terasa sakit. Hinata mendapati dirinya tidur berselimut di sebuah kamar yang rapi dan full furnished, tetapi minim barang pribadi.

Ah, iya. Kageyama membawanya kesini.

Hinata melompat bangun dan lekas berdiri. Rasa sakit dari luka-lukanya mulai timbul, membuatnya oleng dan tumbang ke lantai. Susah payah ia berdiri dan merangkak ke pintu, hanya untuk mengetahui kalau pintunya dikunci. Wanita itu mengecek tubuhnya, memeriksa barangkali Kageyama melucuti senjatanya. Tas selempang yang ia bawa ada di meja. Hinata membongkarnya, dan mendecih kesal karena senjatanya habis terpakai. Cuma ada beberapa butir petasan sisa dan sebuah pistol. Para kkangpae yang mereka lewati benar-benar menyusahkan. Hinata kehabisan pisaunya saat melawan Iwaizumi.

Ragu-ragu, Hinata menekan tombol di kerahnya agar ia bisa bicara dengan wireless.

KLIK. KLIK.

Tidak ada bunyi beep. Hinata berlari ke arah sebuah kaca dan berbalik, menemukan bahwa kabel yang terhubung dengan microphone-nya putus. Bagus. Hinata jadi cuma bisa mendengarkan apa yang terjadi, tetapi tidak bisa membalas. Kageyama benar-benar mengisolasinya. Apakah bocah sialan itu benar-benar berkhianat pada Raven? Atau ini bagian dari misi agen gandanya mengelabuhi Aoba Johsai? Ataukah ini alasan pribadinya saja karena ingin Hinata tetap hidup?

Sang Johnny Blaze Yokohama tersebut bersandar di pintu, merosot dengan pasrah dan duduk bersidekap. Tidak, meski kesal dan bingung ia tidak boleh menangis. Atsumu selalu memarahinya kalau seperti itu. Harus tenang. Harus santai. Kepala panas dan hati sempit akan menghasilkan keputusan gegabah.

Lalu Hinata ingat, sebelum ia bangun ia bermimpi. Memimpikan kejadian beberapa hari silam saat Atsumu mengetahui bahwa Hinata tengah mengandung. Ia berniat menyimpannya, menjadikannya kejutan setelah mereka bertemu kembali. Nyatanya meski Miya Atsumu adalah pria penuh kejutan, Hinata selalu gagal membuatnya terkejut. Suaminya yang tampan dan liar itu seperti memiliki indera keenam. Ia selalu tanggap dan awas terhadap apapun yang mereka berdua lakukan. Di rumah, Atsumu dan Hinata melakukan banyak eksperimen menengangkan. Atsumu memaksa Hinata merahasiakan semua kegiatan rumah tangga mereka, dan sang istri menurutinya.

Atsumu mengajarkan Hinata memasak, menyetrika pakaian, merawat motor (meski Hinata lebih pandai kalau masalah ini), dan bagaimana menikmati percintaan tanpa merasa jemu. Bahasa isyarat tuna rungu juga. Hinata mendekam, memeluk lututnya. Ia ingin sekali memeluk Atsumu dan menciumnya saat ini.

Harus tenang. Harus santai

"Mana bisa aku bersikap sekeren itu, 'Tsumu-san?" Hinata merengek, menjedukkan kepalanya ke pintu.

DRUK.

Suara pintu membuatnya tertegun sejenak. Wanita manis itu berbalik dan meraba pintu. Ia mengetuk-ngetukkan tangannya, merasakan tekstur kayu pintu kamar tersebut. Hinata mengecek engsel dan kenopnya. Kalau dia punya tenaga sebesar Daichi, Asahi, Nishinoya atau Kageyama, mungkin ia akan mendobraknya sampai hancur. Tetapi tidak mungkin, teknik yang selalu digunakan oleh polisi tersebut tidak akan berhasil kalau dilakukan dari dalam ruangan. Hinata kemudian mengecek jendela yang ternyata tidak dikunci. Balkoninya kosong dan memiliki ruang sekitar beberapa langkah dari jendela kaca geser. Jarak antar balkoni di setiap lantai tidak terlalu jauh. Hinata berjalan dan melihat kebawah, memucat menyadari bahwa ia ingat ini lantai 18. Meluncur turun melalui balkoni menggunakan untaian kain gorden adalah tindakan paling tolol yang terlintas di kepala Hinata. Wanita mungil berambut ginger itu kemudian berkeliling di dalam kamar, mencari apa yang kira-kira bisa membantunya kabur. Hinata mengurut kepalanya menahan emosi.

Tunggu.

Ia menarik sebuah jepit rambut tipis yang menahan untaian rambutnya. Benda itu bernama bobby pin. Hinata tidak pernah menggunakan benda itu seumur hidupnya sampai Atsumu menikahinya. Laki-laki kesayangannya itu sangat senang merawat dan menata rambutnya, apalagi semenjak surai ginger tersebut semakin panjang. Bahkan Atsumu mempelajari bagaimana cara membuat aneka gaya rambut seperti waterfall braid, fishtail, dan macam-macam lainnyadari internet. Katanya, Hinata dengan rambut panjang yang tertata rapi sangat cantik dan ia suka sensasi rambut halus Hinata yang berkelok anggun diantara jari-jari tangannya.

Bobby pin adalah benda yang selalu tersemat di saku jaket Atsumu. Jumlahnya selalu genap, empat atau enam. Hinata pernah bertanya untuk apa Atsumu selalu menyelipkan benda super feminim itu di pakaiannya, dan dengan enteng dia bilang itu jimat keberuntungan. Pernah dalam satu sesi latihan mereka, Atsumu mengunci Hinata rapat-rapat di dalam kamar dan menyuruhnya membuka pintu dengan segala cara yang bisa dilakukannya. Dari beberapa trik yang pernah diajarkan sang suami, Hinata malah menendang-nendang pintu sambil menjerit frustasi. Atsumu bersikap kejam dengan berkata selamat berjuang, cintaku.

Satu.

Ada satu trik yang akhirnya berhasil dilakukan Hinata setelah berjam-jam disekap di kamar tidurnya sendiri.

Hinata meraba untaian rambutnya, mencabut beberapa bobby pin dan memangkas ujung tumpulnya. Ia membengkokkannya dan menyelipkannya di lubang kunci. Harus sabar dan teliti. Tenaga yang kelewat besar akan mematahkan si jepit rambut dan membuat lubang kuncinya tersumbat. Begitu mendengar bunyi klik klik, Hinata memutar 'congkelan'-nya dan pintu tersebut terbuka dengan indahnya.

"Beruntung yang kunikahi seorang jenius kriminal. Ulah sintingmu mendidikku dengan baik, 'Tsumu-san." gumam Hinata bangga. Ia menyambar tasnya dan berjalan keluar.


"Bagaimana kau menjelaskan semua ini padaku, Tobio-chan?"

Kageyama Tobio menjatuhkan tubuh Kyotani Kentaro yang bersimba darah begitu saja seakan pria bernama Korea Kim Lee Yang tersebut cuma seonggok barang tidak berharga. Oikawa meninggalkan pos penjagaannya ketika ia melihat pergerakan tidak normal dari anak didik terbaiknya, dongsaeng kesayangannya, agen ganda andalannya yang menodong machine pistol kepada rekan-rekan sesama kkangpae dan menghabisi anak buah Aoba Johsai tanpa keraguan sedikitpun. Kyotani terkenal sangat kuat dalam pertarungan jarak dekat, nyaris sama kuatnya dengan Iwaizumi. Kageyama dibuat babak belur menghadapi teknik taewkondo yang dilancarkan pria bermodel rambut aneh itu, tetapi ia tetap bisa menang. Kageyama menggorok leher Kyotani menggunakan selembar kartu tarot milik Sugawara yang ditancapkan Sachiro di kakinya ketika penyerbuan Hirugami bersaudara di kantor Raven tempo hari. Oikawa kenal benda itu dengan baik. Saat Perang Kapak Baja, Moniwa Kaname—buaya tambang dari Date Company mati karena kepala dan badannya ditancap lembaran-lembaran kartu tarot kaku setajam silet milik Morrigan Seventh, negosiator para gagak Yokohama.

Mata coklat Oikawa tajam menelik safir gelap netra Kageyama. Pancaran matanya berkilat dingin. Persis seperti dongsaeng yang selalu ia banggakan, yang menjerat mendiang Hinata Chiaki dengan kain gorden tokonya sendiri 4 tahun silam karena bersekutu dengan Phantom Hawks di area kerajaan kkangpae.

Ah, ini dia Kageyama Tobio yang ditempa Oikawa. Dia sudah kembali dari masa labilnya karena cinta semu pada Johnny Blaze Yokohama.

"Kukatakan terus terang, hwangje." Kageyama membalas dingin. "Aku resign dari Aoba Johsai."

Oikawa tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat tersebut. "Hah?! Apa kau bilang? Resign? Memangnya kau bisa melakukan hal itu selama masih ada aku, dongsaeng?"

"Jangan pernah kau sebut aku dongsaeng lagi." Kageyama mengelap darah di tangannya dengan memeperkan tangannya ke sisi jaketnya. "Aku cuma punya satu noona, Kageyama Miwa."

"Miwa-chan sudah mati." Oikawa tertawa sini. "Aku yang menutup matanya dan menyelimuti mayatnya yang berantakan habis di-gangbang, lalu memungutmu pulang ke rumahku. Aku membelikanmu pakaian baru, memandikanmu dan memberimu makan. Kau bahkan tidur satu ranjang dengaku sampai usiamu 14. Ingat, tidak? Setelah semua yang kita alami, kau tidak senang jadi dongsaeng-ku?"

Kageyama tidak bergeming.

"Tobio-kun, sudahlah. Kau sudah dirumah." Oikawa mendengus lelah. "Berhenti melawanku. Peran agen gandamu sudah selesai. Daebak, daebak! Sugohaesseo!"

Oikawa berjalan santai menghampiri Kageyama yang tidak mengendurkan kewaspadaan sama sekali. Kaki jenjangnya terangkat melayangkan tendangan high side menepis tangan Kageyama yang baru saja menarik pistol dari gun holster yang dikenakannya. Jedanya hanya sepersekian detik, tidak sampai satu kedipan mata. Tatapan dan raut wajah Oikawa berubah ketika ia menurunkan kakinya dan memasang kuda-kuda.

"Yang mengajarimu taekwondo itu aku. Kau pikir kau bisa mengalahkan aku?"

Pemuda bersurai legam itu merundukkan kuda-kudanya dan mengepalkan tinjunya kuat-kuat. Oikawa semakin terpingkal-pingkal melihat bagaimana Kageyama merubah ancang-ancang taekwondo-nya menjadi gypsy boxing.

"Tobio-chan berlagak kayak gagak!" Hardiknya. "Ppang teojine..."

BUAK! DUK! DUAK! BUK! BUK!

BUK! BUAK!

DUK! DUAK! BUK! BUK!

BUAKH!

DRUAAAKKK!

Pukulan dan tendangan mereka saling beradu. Kageyama mengerenyit, berusaha mempertahankan kesadaran dan pertahanannya meski dibombardir habis-habisan. Oikawa sudah jauh lebih kuat sejak terakhir kali Kageyama habis dihajarnya di Hakata. Cara si hwangje para kkangpae itu menyerangnya bukan lagi pukulan dan tendangan peringatan. Oikawa Tooru sungguh-sungguh akan membunuhnya. Tendangan sisinya membuat Kageyama terlempar dan tersuruk ke sisi ruangan. Kepalanya berputar-putar. Darah mengucur dari pelipisnya.

"Cuma segitu?" tanya Oikawa sambil melepas luarannya, menggulung lengan kemeja yang digunakannya. "Tidak biasanya kau besar mulut, Tobio-chan."

Sejujurnya, Oikawa merasa terganggu ketika mengetahui fakta bahwa Kageyama jatuh cinta pada si joki cebol itu. Pemuda dingin itu jadi berubah banyak karenanya. Pikirannya tidak jernih. Hatinya tidak lagi kokoh. Sikap pembangkangnya sudah diantisipasi Oikawa mengingat usia Kageyama yang memang terbilang masih remaja. Tetapi, jika perasaan membuatnya menjadi tidak bisa lagi menjalankan kewajibannya sebagai kkangpae di Aoba Johsai, hal itu tentu tidak bisa dibenarkan. Oikawa mengepalkan tinju dan kembali memasang kuda-kuda.

Oikawa Tooru tahu, bahwa anak didiknya itu sangat kuat. Dia tidak mungkin mati dengan mudah meski sang hwangje para kkangpae tersebut bersikap sedikit serius.


"Aha! Sudah kuduga kau ada disini, gongju!"

Hinata memucat. Ia kembali melihat pria kekar sekuat gorilla yang tadi disalibnya di lantai. Sosoknya yang berdarah-darah tetapi terlihat tetap kokoh memberi kengerian hebat bagi si wanita mungil. Hinata memilih lari dan menahannya karena ia tahu tidak mungkin laki-laki ini bisa ia tumbangkan lewat pertarungan tangan kosong. Bukan masalah teknik, tenaga Hinata pasti tidak sebanding dengan pria ini.

"Beraninya dia menyalibku di lantai! Ssibal-nyeon!" Iwaizumi menggeram kesal. "Biar kupelintir lehernya!"

"Su eopseoyo."

Hinata menoleh. Ia mendapati seorang laki-laki dengan jas putih, berambut hitam ikal dan menjulang tinggi menakutkan muncul dari sisi ruangan. Wajahnya tampak mengantuk. Dibandingkan para kkangpae yang ditemuinya sejak penyerbuan, laki-laki ini tampak berwibawa dan tidak seram. Mungkin dia dokternya Aoba Johsai.

"Apa maksudmu, Matsukawa?!" Iwaizumi mengerutkan wajahnya dengan murka.

"Kau tidak dengar? Oikawa dan dongsaeng-nya berkelahi gara-gara cebol oranye ini." tutur Matsukawa. "Aku dikabari sama Kunimi kalau Tobio menculik cewek ini. Eh, nyatanya dia kabur! Jadi aku diutus mengurungnya balik. Hanamaki dibuat kerepotan karena dipatuki gerombolan elang yang menyerbu beberapa saat yang lalu. Jadi kita harus cepat."

"Jadi kau mau aku menangkapnya hidup-hidup?"

"Tobio pasti menangis bombay kalau tahu pacar kecilnya kita bunuh." Matsukawa menggedikkan bahu. "Apa boleh buat. Kita patahkan saja kakinya."

BUK!

Hinata tidak sempat bereaksi. Tahu-tahu ia sudah terlempar menabrak pot tanaman yang ada di koridor. Laki-laki bernama Matsukawa itu berlari melompat dengan langkah sunyi lalu memberikan tendangan tornado tepat di kepala Hinata. Susah payah, Hinata berdiri hanya untuk diseret dan disurukkan ke lantai oleh Iwaizumi. Apa-apaan pain endurance pria itu, sih?! Tangannya masih berlubang bekas penyerangan Hinata barusan, dan hangat darahnya yang merembes dari perban terasa sampai kulit kepala Hinata. Tekanan yang besar membuat Hinata tidak bisa berkutik melawan jegalannya. Berontak dengan kekuatan penuh bakal membuatnya celaka.

"Apa bagusnya cewek ini sampai Tobio begitu tergila-gila dengannya, sih?" Iwaizumi meludah ke lantai.

"Dia cantik, sih. Imut-imut gitu." Matsukawa menjambak rambut Hinata dan menengadahkannya. "Tapi kkangpae nggak akan suka dia. Rambutnya tidak lurus."

"Kulitnya kuning langsat." Iwaizumi memperkencang jegalannya sampai Hinata merintih sakit. "Cewek yang kulitnya kuning langsat 'hambar' di kasur."

"Setuju." Matsukawa menggumam. "Ayo, patahkan kakinya."

Iwaizumi menarik Hinata sampai telentang. Tangan besar Matsukawa menahan satu tungkai Hinata dan bermaksud mendislokasi pergelangan kakinya. Hinata meronta sekuat tenaga, tetapi Matsukawa malah mengencangkan cengkramannya. Si dokter jangkung itu terdiam sejenak, lalu merentangkan kedua tungkai Hinata hingga ia mengangkang lebar.

"Aku punya ide yang lebih oke." Katanya sambil menyeringai. "Ayo patahkan pangkal pahanya. Dia tidak akan bisa lari lagi seumur hidupnya."

"Jangan! Lepaskan aku, keparat!" Hinata memberontak panik.

"Memangnya bisa? Butuh kekuatan sebesar apa?" tanya Iwaizumi santai.

"Tidak tahu, sih." Matsukawa menaruh tangannya di selangkangan Hinata, tepat di sendi pangkal pahanya. "Coba saja."

GRET!

"Gyaaaaa!"

Lonjakan sakit tumpul menyetrum seluruh bagian bawah tubuh Hinata ketika Matsukawa mengeratkan cengkraman hingga urat-urat tangannya menonjol keluar. Hinata berteriak nyaring sampai suaranya pecah, menggelinjang seperti kesurupan. Iwaizumi terkekeh senang dan memiting leher Hinata, mencegahnya berontak. Matsukawa melepaskan cengkramannya. Nyeri yang berdenyut-denyut membuat Hinata menangis tidak karuan.

"Susah." Matsukawa mengeluh, mengusap paha Hinata dan mengetuk lututnya. "Lututnya, deh. Coba, yuk!"

"Patahkan saja langsung betisnya! Sikap sok idemu membuat semua ini lebih susah!" omel Iwaizumi.

"Betul juga."

Matsukawa beranjak bangun. Hinata menggunakan kesempatan tipis itu untuk menendang Matsukawa tepat di dagunya keras-keras. Si dokter jangkung terjungkal. Iwaizumi mengeratkan pitingannya. Hinata menahan nafas dan menarik naik kedua tungkainya balas memiting leher Iwaizumi dan berguling ke belakang membanting pria kekar itu. Hinata bergegas bangun, berjalan pincang-pincang secepat yang ia bisa untuk kabur dari kedua kkangpae mengerikan tersebut. Matsukawa menarik kaki Hinata sampai si wanita mungil tersuruk jatuh. Hinata menendang dan memukul Matsukawa dengan pukulan hook terkuat yang bisa dilancarkannya. Iwaizumi mengejar Hinata dan melayangkan tendangan sisi tepat di pinggangnya. Wanita bersurai ginger itu roboh. Ia berguling menjauh ketika Iwaizumi berusaha menangkapnya. Matsukawa, dengan hidung berdarah menjambak Hinata dan menjegal perempuan mungil itu didadanya kuat-kuat.

DOR!

Suara tembakan itu datang dari depan. Matsukawa mengejang. Kunciannya melepas bersamaan dengan tubuhnya yang roboh perlahan-lahan. Raut terkejut terpatri di wajahnya. Darah mengucur dari kepalanya yang tembus berlubang, muncrat sedikit ke wajah Iwaizumi yang berada beberapa langkah di belakangnya. Hinata berlari pincang-pincang mendekati si penembak tanpa menoleh. Iwaizumi berlari menangkap tubuh Matsukawa sebelum tubuhnya ambruk ke lantai. Dokter bertubuh jangkung itu sempat mengedip sejenak sebelum mukanya kaku. Dengan tangan bergetar, Iwaizumi menutup mata Matsukawa dan menjambak jas dokternya. Ia menunduk dan menangis di dada si dokter.

Matsukawa Issei adalah satu-satunya dokter di Aoba Johsai. Seperti Kageyama, ia adalah orang Jepang tulen. Matsukawa adalah sahabat Hanamaki sejak SMP, dan Aoba Johsai merekrutnya karena Oikawa membutuhkan dokter pribadi agar mereka tidak perlu sering-sering ke rumah sakit dan membuang-buang biaya perawatan anggota klan. Tangan besarnya yang terampil sudah berkali-kali menyelamatkan nyawanya, Oikawa dan Hanamaki juga puluhan kkangpae yang bernaung di bawah nama Aoba Johsai. Selera humornya yang hangat dan pemikirannya yang matang cukup menahan Iwaizumi untuk tidak berubah sinting karena mengurusi Oikawa yang pendengki dan ego setinggi langitnya. Perjuangan mereka berempat membangun kejayaan Aoba Johsai, Perang Kapak Baja, terusir dari kerajaan kkangpae, bertahan hidup di Incheon, hingga merancang rencana kembali ke Tokyo sekonyong-konyong berkelebat dalam benaknya.

Matsukawa, sama seperti Oikawa dan Hanamaki bukan cuma rekan kerja. Iwaizumi sudah menganggap mereka berempat adalah sahabat dan saudara. Tembakan di kepala tersebut tidak membuatnya sempat mengucapkan selamat tinggal.

Iwaizumi merogoh kantong Matsukawa, mencari nomor Kunimi. Matsukawa tidak menggunakan wireless, sepertinya Oikawa memang mengirimnya kesini karena seperti penuturan sebelumnya bahwa Kageyama dan Oikawa berkelahi karena Kageyama menyekap Hinata.

"Halo?" suara Kunimi bergumam manis di sebrang.

"..." Iwaizumi tidak sanggup berkata-kata. Ia dan Oikawa mengawasi CCTV seluruh gedung. Bukankah mereka harusnya sudah tahu apa yang terjadi?

"Halo? Matsukawa-seonbae?" ucap Kunimi.

Sebuah tangan kecil terulur lembut dari belakang kepala Iwaizumi, merebut ponsel itu dan berbicara.

"Halo, Kunimi-sensei yang cantik." Hoshiumi menggumam, tutur bicaranya gentle sekali. "Matsukawa-sensei gugur. Aku bersama Iwaizumi-san. Boss gagak Sawamura menembak kepalanya. Aku kejar-kejaran dengannya dari tadi. Kurasa dia memang mengincar Oikawa-san. Dia dan Johnny Blaze Yokohama kabur. Berikan perintah. Uhm. Uhm. Oke. Sankyuu."

Hoshiumi berjongkok, menaruh kembali ponsel Matsukawa ke saku jas luarannya. Ia menepuk pundak Iwaizumi dan memberikan belaian belasungkawa yang terasa sangat tulus.

"Kunimi-sensei yang cantik bilang, bantai saja gagak-gagak itu." katanya halus. "Sawamura terus berlari ke lantai atas. Dia pasti hendak membunuh Oikawa. Biar aku yang membereskannya. Kau disini saja, temani almarhum."

Iwaizumi cuma menatap Hoshiumi sejenak, lalu kembali menunduk. "Untuk ukuran seorang hitman, kau ini baik sekali."

Hoshiumi menghela nafas pelan.

"Meskipun aku dan talent Kamomedai yang lain adalah hitman mercenaries, kami itu bukan mesin." Ujar Hoshiumi.

Iwaizumi tidak menjawab.

"Berkabung untuk orang yang kau sayang itu manusiawi." Hoshiumi memberikan kalimat penghiburan terakhir. "Aku mau balik kerja lagi. Kalau sudah beres, ayo kita pergi minum."


Miya, aku khawatir Kageyama tidak akan sanggup membunuh Oikawa.

Perkataan Sugawara yang barusan membuat Atsumu berlari sekuat tenaga menuju lantai 25, tempat dimana raja para kkangpae itu bersembunyi. Dari laporan wireless, Tsukishima dan Nishinoya masih melakukan misi mencari Ushijima di gedung tersebut. Si negosiator pirang berkacamata bertemu Bokuto yang ternyata mau diajak kerjasama; ia melawan salah seorang talent Kamomedai Northwatch yang dikonfirmasi adalah si raksasa shimanchu Hakuba Gao. Laki-laki itu ditumbangkan dengan sukses oleh Bokuto. Daichi menemukan Hinata di lantai 18, membawanya sebagai bala bantuan untuk membantai habis Oikawa Tooru. Sugawara berhadapan kembali langsung dengan Hirugami Sachiro yang tidak mau repot menahan Atsumu yang kabur. Di lantai 9, para kkangpae berkelahi dengan pasukan lain yang tampaknya adalah gerombolan Phantom Hawks. Atsumu nyaris saja berpapasan dengan Hirugami Fukuro di lantai 12 kalau ia tidak menahan langkahnya dan berusaha keras menghilangkan hawa keberadaannya. Laki-laki itu memasuki lift dan turun ke lantai bawah, memberikan bala bantuan.

Kemana si cebol kikir bersurai putih itu? Kamomedai Northwatch hanya menurunkan dua pasang hitman, tiga diantaranya sudah ditemuinya. Apakah dia berlindung dibalik bayang-bayang untuk melindungi Oikawa? Atau selama ini Hoshiumi malah mengincarnya sejak tadi makanya Sachiro membiarkannya kabur? Meski spekulasi membelit pikirannya, Atsumu berusaha fokus kepada misinya.

"[Ini Daichi. Aku menemukan Shoyo. Wireless-nya rusak. Kami menuju lantai 25. Semua team tolong monitor]."

"[Hirugami bungsu bertingkah, brengsek!]" balas Sugawara.

"[Asahi-team berlindung di lantai 9. Phantom Hawks menyerbu masuk dan pasukan kkangpae menyerang. Sedang adu bantai. Kami cari selamat. Kalau situasinya lebih baik siapa yang harus kita susul?]" Ennoshita menjawab.

"Miya menuju lantai 25." balas Atsumu.

"[Bantu Suga kabur dari Hirugami bungsu. Persiapan mundur]." titah Daichi.

"[Ba-bagaimana denganmu, Daichi?]" suara kikuk Asahi menjawab.

"[Kami baik-baik saja. Teruslah memberi kabar]."


DOR!

Daichi merentangkan tangannya menghalangi Hinata yang berlari mengikutinya dan merundukkan paksa kepalanya. Sebuah tembakan serangan dilancarkan dari jarak sekitar 15 meter. Pria berambut putih cepak dengan kemeja putih berlengan panjang yang digulung sesiku, dasi merah gelap yang ujungnya dijejalkan ke kantong kemeja, celana coklat beige dan sebuah shotgun yang dipegangnya dengan satu tangan menghadang langkah mereka di lantai 22.

"Hora, hora! Bukannya harusnya kau itu lagi sekarat, joki cebol keparat?!" omel lelaki berambut putih itu. "Hakuba menabrakmu sampai remuk, kan?"

"Siapa yang kau panggil cebol, bocah kontet berlogat kampung!?" teriak Hinata kesal.

"Shhh...Perempuan itu tidak boleh mengumpat." lelaki itu memanggul shotgun yang tadi dikokangnya di bahu. Telunjuknya tersilang di bibir. "Aku kelepasan bicara karena kesal sekali melihatmu lari-larian begitu. Aku minta maaf, ya."

Hinata terdiam. Sikap laki-laki aneh ini mendadak melunak. Daichi yang tidak kendur kewaspadaannya menyerang dengan tembakan beruntun dengan submachine gun yang tadi dipungutnya saat mengalahkan para kkangpae. Laki-laki berambut putih itu menghindari tembakan Daichi dengan gerakan akrobatik yang mencengangkan. Hinata menarik pisau deba dari tasnya dan menghunuskannya dengan kuda-kuda menyerang.

"Dia tidak balas menembak." ucap Daichi pada Hinata. "Dia bukan Ulster seperti Suga."

"Ulster?" Hinata mengerenyit bingung.

"Intinya, dia tidak bisa melakukan tembakan ajaib seperti yang bisa dilakukan Suga." balas Daichi. "Dia pasti Hoshiumi Korai."

"Benar." Hoshiumi menyilangkan tangannya di dada, lalu membungkuk sopan. "Perkenalkan, Hoshiumi Korai. Koordinator Senior di Kamomedai Northwatch. 23 tahun."

"Shoyo." Daichi kembali membidik Hoshiumi. "Paksa dia bertarung tangan kosong. Kita habisi dia berdua."

"Yosh!"

Hinata berlari merunduk, tidak gentar dengan acungan shotgun gagah di tangan Hoshiumi. Ia melesat melakukan gerakan tackling andalannya tetapi Hoshiumi sigap melompat menghindari wanita mungil tersebut. Hinata menyerang kembali dengan tendangan ganda headstand sambil melompat bangkit, namun Hoshiumi bisa menghindarinya dengan gesit. Daichi merangsek dan melancarkan pukulan jab beruntun yang bisa ditangkis si lelaki pendek berambut putih tersebut.

SRAAT!

Hoshiumi melayangkan pukulan back fist ke sisi tubuhnya untuk memukul mundur Hinata dan melompat menjauhi kedua orang tersebut. Satu kakinya maju dan tumpuannya merendah, shotgun terselempang rapi di punggungnya. Ia mengepalkan kedua tangannya memasang kuda-kuda khas beladiri wushu. Dasi merahnya menggantung lemas di kantongnya, putus tertebas pisau deba Hinata. Ia menyadari hawa keberadaan Hinata saat pisau tersebut melintas nyaris menggorok lehernya, dan tidak sempat menghindarinya dengan sempurna.

"...gerakan itu..." gumamnya dengan pandangan waspada. "...iaijutsu aliran keluarga Kita."

Hinata tidak menjawab. Daichi melirik sekilas pada salah seorang anggota wanita termuda dari klan yang dipimpinnya.

"Tidak. Beda." Hoshiumi menggeleng, bicara lebih kepada dirinya sendiri. "Refleks dan kelenturanmu tidak benar. Form pukulanmu juga tidak se-solid yang dilakukan bossmu. Apa kau mengaplikasikan judo, gypsy boxing dan iaijutsu sekaligus?"

"Shoyo, dari tadi aku mau tanya." Daichi melirik Hinata. "Kenapa kau bawa-bawa pisau dapur?"

"Sudah jelas, kan?" Hoshiumi menjawab. "Pisau dapur itu ringan, kuat dan juga fleksibel. Bisa mengiris daging dan memotong tulang. Karena lebih pendek dari katana, jarak serangannya juga memendek. Opsi penyerangan lebih luas dan kelincahan pengguna bisa ditingkatkan sampai batas maksimal. Hal itu membuat serangan iaijutsu bersenjatakan pisau dapur sangat menakutkan kalau dihadapi dari jarak dekat."

Daichi dan Hinata saling melirik, membaca keadaan. Hoshiumi menggaruk lengannya yang penuh bekas luka melintang. Ada ruam ungu pucat yang tadi sekilas terlihat dimata Hinata lebih dekat, tampak pembuluh darah tipis di seluruh area lengannya yang terluka itu menyeruak keluar tepat dibalik kulitnya.

"Suamimu kasar tidak saat mengajarimu, Miya-san?" Hoshiumi terkekeh. "Gerakanmu sempurna sekali. Aku sampai merinding."

Hinata lagi-lagi bungkam. Wajahnya tenang, pandangan matanya berkilat lekat pada Hoshiumi. Daichi baru sekali melihat wajah Hinata seperti ini selain saat sedang balapan. Daichi memang sudah menduga mungkin pasangan suami-istri Miya punya latihan privat karena Hinata mendadak jadi lebih pandai beladiri. Tetapi mungkinkah latihan yang diberikan Atsumu kepada Hinata adalah latihan ala professional hitman dengan metode pembelajaran di deus ex tenebris Sarkad?Apa karena Hinata menjaga rahasia, makanya ia lebih banyak bungkam saat ditanya mengenai latihan macam apa yang diberikan suaminya? Sugawara dulu pernah memberitahunya kalau seorang alumnus DET dilarang mengajari teknik dan ilmu yang pernah dipelajarinya di kampus kepada orang luar, karena menyalahi kode etik professional hitman. Kalau ketahuan, imunitas dan lisensi orang tersebut bisa dicabut. Si alumnus yang melanggar dan orang yang diajarinya akan dibunuh rektorat dari deus ex tenebris. Masuk akal kalau Hinata selama ini mendadak lebih diam meski kemampuannya meningkat pesat, batin Daichi.

"Daichi-san." Hinata menghunuskan deba-nya. "Ayo selesaikan lebih cepat. Aku tidak yakin Kageyama bisa menang melawan si raja kkangpae."

"Aa." Daichi mengangguk setuju.

Hoshiumi kali ini melancarkan serangan lebih dulu. Ia berlari menghampiri Daichi dan Hinata, lalu melancarkan tendangan bersalto. Daichi terhuyung-huyung karena berusaha menahan tendangan Hoshiumi. Pukulan cross melayang ke wajah Hoshiumi dari tangan Hinata. Si lelaki pendek menendang Hinata hingga terpental menjauh. Daichi menghujamkan pukulan uppercut bertenaga hingga membuat Hoshiumi terhempas dan terguling-guling di lantai. Daichi kembali maju dan melayangkan tendangan ke wajah Hoshiumi yang sayangnya bisa dilewati dengan mudah melalui gerakan lompat kayang ke belakang. Hinata melesat dan menghunuskan pisaunya, menyabet dan mengayun hingga Hoshiumi kehabisan celah memberi balasan karena sibuk melindungi diri. Kelincahan si Johnny Blaze Yokohama ini tidak main-main! Hoshiumi menendang betis Hinata hingga wanita bersurai ginger itu limbung nyaris tersuruk ke lantai. Hinata menggunakan momen sesaat tubuhnya yang melayang nyaris ambruk, ia menarik kerah kemeja Hoshiumi dan menghempaskannya ke dinding. Daichi menghunus tinju hook yang ditepis Hoshiumi tanpa perlu kepayahan. Sang pimpinan Raven dibuat menjerit karena Hoshiumi memutir lengannya dan bergerak menyamping, memutari pusat gravitasi tubuh Daichi. Ia menghantamkan sikunya ke mulut Daichi dan menendangnya sampai terpental.

"Daichi-san!" Hinata memekik panik.

BUK! BUAKH!

DUAK!

BUK!

SRAAT! BUAK!

BUK! BUK! BUK! BUK!

Hinata menahan nafasnya. Semua pukulan dan tendangannya ditangkis. Bantingannya digagalkan oleh maneuver menghindar akrobatik. Bagaimana Hoshiumi bisa menghindari gerakan sabetan dan tusukan pisaunya mulai membuat Hinata frustasi. Ia terus menyerang, mempersempit celah agar si pria pendek bersurai putih itu tidak sempat menggunakan shotgun di punggungnya. Ia tidak mengenakkan gun holster dan luaran, jadi tidak mungkin ada pistol tersembunyi. Hoshiumi merentangkan jari-jarinya dan menyerang Hinata dengan tusukan kuat tangan kosong di ulu hati. Wanita bersurai ginger itu terhenyak, memuntahkan segumpal darah.

SRAAAT!

BUAKH! BRUKKKK!

SYAAAAAAT!

GREPP!

Hinata menggunakan jeda singkat kedekatan fisik mereka untuk menghunus pisau deba-nya menikam Hoshiumi, yang bisa dihindari oleh sang koordinator senior Kamomedai Northwatch tersebut dengan tepisan telak di pergelangan tangan Hinata. Hoshiumi mengayunkan lengannya memukul Hinata jauh-jauh saat sebuah pisau melayang ke arahnya. Tangan kecil Hoshiumi yang terlatih menangkap mata pisau panjang tersebut sebelum menembus sisi wajahnya. Darah segar mengucur. Tangannya yang gemetar berusaha mencabut pisau itu dan menggunakan potongan dasinya yang terbacok guna membebat luka. Hoshiumi melihat lekukan jempol tangannya teriris dalam dan lukanya besar, menggantung lunglai setengah putus. Lemparan itu akurat sekali.

"Jangan pegang-pegang istriku, keparat." rutuk Atsumu. Suaranya datar, tetapi raut wajahnya jelas menunjukkan kemurkaan.

"Honesuki. Pisau yang kokoh, bisa memisahkan tulang dan daging dengan akurat. Bermata tebal, tidak gampang kikis tetapi kecil dan mudah dipakai." Hoshiumi menelaah pisau tersebut dan melempar pisau yang terbilang kecil tersebut ke sembarang arah. "Kau hampir memotong jempolku."

"Pengetahuanmu tentang pisau dapur luas sekali, Korai-kun." Atsumu membalas dengan nada menghina. "Sebegitu nge-fans nya padaku sampai stalking kalau aku ini koki handal?"

Hoshiumi menyeringai. "Ayahmu lebih handal, kan? Bisa memotong apapun hanya dengan satu 'pisau'? Kalau di dapur, pisau kesukaan Kita-san adalah shobu; karena anak sulungnya suka makan toro. Kalau di pertarungan, katana dengan campuran baja, aluminium dan tungsten yang ditempa Akagi Michinari sepanjang dua tahun. Sarungnya dari gading gajah putih, hadiah dari mendiang ayahnya yang bersahabat dengan yakuza Thailand setelah memenangkan tender opium besar. Bilahnya bahkan sanggup mementalkan peluru high suppressed kalau matamu sanggup melihatnya. Adikmu juga menggunakan pedang yang sama."

"Kau harus berhenti tracing soal aku dan keluargaku." Atsumu bergidik jijik. "Cebol maniak."

"'Tsumu-san!" Hinata berseru. Luapan gembira dan lega menyeruak dari suaranya melihat suaminya nyaris tidak terluka dan masih gagah melawan.

"Yo, babe." Atsumu mengedip genit ke arah Hinata. "Biar aku yang membereskan bajingan ini. Pergilah sama Sawamura keatas."

Hinata melirik Daichi yang berusaha bangun. Ia terhuyung-huyung memegangi tembok. Wanita berambut ginger tersebut sontak bangkit tetapi roboh kembali karena linu hebat di perut dan pangkal pahanya. Daichi dan Atsumu saling bertatapan sejenak, lalu Daichi berlari ke arah lift. Hoshiumi mendecak kesal dan mengejarnya, tetapi Atsumu sanggup mengimbanginya dan melancarkan pukulan yang membuat Hoshiumi terpelanting jauh.

"Bossmu tidak jantan. Dia kabur." Hoshiumi mencemooh Hinata.

"Tentu saja dia berhak kabur." Hinata mencengkram lekukan tembok dan berusaha berdiri meski kedua kakinya masih menggigil. "Dia kan boss."

Atsumu kali ini menarik sebuah pistol dari gun holster-nya dan menembaki Hoshiumi. Adu tembak yang sengit dan brutal tidak bisa dihindari. Tidak seperti Sugawara dan Hirugami bersaudara yang baku tembaknya tidak masuk akal, baik Atsumu dan Hoshiumi membidik dan menembak dengan normal. Keduanya masih merunduk dan bergerak menghindari tembakan lawan. Hinata memantik sisa-sisa petasannya dan melempari Hoshiumi dengan jeda-jeda yang sudah diperhitungkannya. Atsumu memberi celah agar Hinata bisa lari mengejar Daichi melalui kamuflase kabut tipis yang diakibatkan ledakan petasan tersebut.

"Aku belum selesai denganmu, Miya-san. Jangan kabur gitu, dong."

BRUK!

Hinata terhenyak saat merasakan tubuhnya roboh ke lantai. Hoshiumi, dengan hawa keberadaan nyaris nol menyusulnya dari balik kabut dan menyelengkat belakang lutut Hinata. Ia mengunci tubuh wanita mungil itu di lantai. Rontaannya lumayan kuat, Hoshiumi terkesan dengan fighting spirit Miya Shoyo tetapi kerja tetap saja kerja. Hakuba yang menjadi junior binaannya gagal membunuh Hinata. Sudah tugasnya untuk melanjutkan—

"Sudah kubilang, jangan pegang-pegang istriku!"

SRAAT!

Atsumu merangsek, melayangkan tebasan dari pisau honesuki yang tadi dibuang Hoshiumi. Tebasannya meleset karena si pria pendek berambut putih itu berhasil menghindarinya. Ia menarik tubuh Hinata dan berbalik, menjadikannya tameng saat Atsumu kembali menyerang dengan pisau yang berputar-putar diantara jemari tangannya. Pria pirang berambut undercut tersebut menarik Hinata hingga jatuh ke pelukannya dan merundukkan tubuhnya dengan paksa saat Hoshiumi menyerang balik dengan tendangan hook. Hinata berguling, merendah melancarkan tackling sempurna yang sukses membuat Hoshiumi jatuh dengan kasar. Hinata membenamkan pukulan jab ke pipi Hoshiumi, dan pria itu menepis pukulan keduanya dan melemparnya dengan teknik kuncian. Hinata menjambak kerah pria pendek berambut putih itu dan balas menghempaskannya. Mereka berguling-guling, saling memukul dan membanting sampai Atsumu menarik Hinata menjauh dan menghunus pisaunya untuk menikam Hoshiumi.

BAK! BUK! BAK! BUK!

DUAK! BUK! DUK! DUK! BRUAK!

SRAAT!

BUK! SYAAT!

DUAK!

Hinata kembali dilempar si talent Kamomedai Northwatch sampai terpelanting ke ujung koridor. Ia terbatuk, kembali memuntahkan segumpal darah. Tubuhnya melemas, dan rasa sakit kembali membuat nadi-nadinya melintir. Pandangannya mulai berbayang, tetapi ia masih bisa mendengar suaminya dan Hoshiumi bertarung. Atsumu memaksa dirinya bertahan menghadapi serangan si pria pendek berambut putih dengan menerima beberapa pukulannya demi menipiskan jarak. Hinata meraba-raba lantai, berusaha meraih pisau deba yang tadi lepas dari genggamannya. Meski berulang kali jatuh, Hinata berusaha bangkit dan memasang kuda-kuda. Hoshiumi sudah mulai terpojok. Gerakannya melambat dan nafasnya mulai terdengar putus-putus. Rasa sakit akibat luka di tangannya pasti mulai memberikan efek. Hinata menelengkan kepalanya, berusaha menjernihkan pandangannya dan ia melihat...

DUK!

JREB!

SRAAT!

Atsumu berdiri dengan wajah terkejut. Kaus abu-abu di balik jaketnya menguarkan noda gelap ketika Hoshiumi dengan kelelahan yang mulai memuncak menghalau tikaman Atsumu. Pisaunya terlepas, dan ia menggunakan kesempatan sekecil itu untuk balik membenamkan pisau tersebut di perut Atsumu beserta satu seretan panjang. Atsumu memegangi daerah bernoda gelap tersebut kuat-kuat dan melancarkan tinju, tetapi Hoshiumi menendangnya sampai tersungkur jatuh.

"'TSUMU-SAN!"

Tidak...

Tidak..

Tidak!

Hoshiumi mengerang panjang. Tangannya yang terluka dan segala cedera serangan Atsumu mulai memberikan rasa sakit yang tidak lagi bisa ia tolerir. Ia jatuh berlutut sambil memegangi tangannya sendiri.

"Kau...membunuh 'Tsumu-san...kau membunuh 'Tsumu-san..." Hinata menggigil murka. Airmata membasahi pipinya.

DRAP! DRAP! DRAP!

DRAP! DRAP!

DRAP!

DOR!

Kelelahan dan rasa nyeri yang tak tertahankan membuat Hoshiumi menarik shotgun dari punggungnya dan menembak Hinata dengan tubuhnya yang mulai tremor. Wanita itu tertembak di pundaknya, dan ia tetap merangsek maju seakan tidak lagi terasa sakit di tubuhnya. Tembakan itu sebetulnya bisa dihindarinya dengan mudah, tetapi Hinata tidak peduli. Hoshiumi dengan raut wajah kepayahan kembali melancarkan tembakan yang kali ini menembus paha Hinata. Wanita itu tersungkur jatuh, tetapi ia tetap merangkak bangkit dan berlari menghampiri Hoshiumi dengan pisau terhunus.

"HYAAA—"

TEPP!

Hoshiumi mendorong kembali shotgun-nya merosot ke punggung dan mengulurkan kedua tangannya, menangkap Hinata yang mendadak tidak sadarkan diri sebelum jatuh ke lantai. Pisaunya lepas dari genggaman, jatuh berkelontang. Wajahnya bereskpresi kosong. Hoshiumi melirik Miya Atsumu yang masih meringkuk setengah hidup. Hinata tidak bergerak lagi.

Hoshiumi Korai yang berlutut satu kaki kemudian berdiri susah payah, menggendong Hinata di pelukannya. Rembesan darah wanita itu terasa panas, mengotori kemeja kerja Hoshiumi dengan noda merah basah. Ia mendekati Atsumu dan membaringkan istrinya yang mungil tersebut di sebelahnya. Atsumu terbelalak panik. Ia mengusap wajah dan kepala Hinata dengan tangannya yang berlumur darah.

"...Shoyo, cintaku..tidak..." Atsumu mengisak, tidak kuasa menahan kesedihannya. "Jangan...kumohon...bertahanlah..."

"Dia pingsan." Hoshiumi menyingkap lembut surai ginger yang menghalangi wajah manis Hinata. Ekspresinya pilu beriring senyum getir. "Dia sudah melewati batasnya sejak lama. Aku merasakannya saat melawannya tadi. Dia sebetulnya sudah tidak sadar saat penyerangannya yang terakhir itu. Shoyo benar-benar cantik dan tangguh. Dan juga penuh cinta."

Atsumu tidak menghiraukan Hoshiumi. Ia menarik Hinata ke dalam pelukannya. Ia menangis, mengucapkan ratapan doa mengharapkan keduanya bisa hidup demi janin di rahim Hinata. Tangannya yang mulai melemas menekan tombol wireless di kerah jaketnya. Bibir Atsumu yang mulai memutih melapor bahwa pasangan suami-istri Miya tumbang menjelang tewas. Pria pendek berambut putih itu berdiri dan menyeka darah yang mengotori wajahnya, entah darah siapa.

"Kenapa bajingan tengik sepertimu bisa punya istri yang sangat luar biasa?" ucap Hoshiumi. Nada suaranya pahit dan merana. "Curang sekali."

Saat Hoshiumi Korai memutuskan untuk berbalik dan pergi, ia sudah masa bodoh. Mungkin Suwa akan memecatnya, atau talent lain yang menemukan mereka berdua masih hidup akan membunuhnya. Atau bisa jadi kkangpae yang lain. Atau mungkin mereka berdua bisa hidup bahagia selamanya.

Sungguh, Hoshiumi Korai tidak peduli lagi.


a/n

Ppang teojine: lucu banget; konteksnya Oikawa menyatakan sarkasme atas sikapnya Kageyama (bahasa Korea).

Su eopseoyo: arti harafiahnya tidak bisa (can't kalo dalam bahasa Inggris), atau bisa berkonteks nggak bisa begitu. Konteksnya, Matsukawa melarang Iwaizumi membunuh Hinata, makanya dia bilang su eopseoyo.

Pisau deba: pisau dapur yang berfungsi menjagal (memotong daging dan unggas, tetapi bisa juga untuk filleting ikan)dalam ranah masakan tradisional Jepang. Mata pisaunya tebal. Pisau ini yang sering dipake si Souma di series Shokugeki no Souma.

Pisau honesuki: pisau dapur yang berfungsi memisahkan tulang dari daging. Ukurannya sedikit lebih kecil dari deba dan memiliki pangkal mata (heel) yang agak lebar. Tidak sekuat deba, tetapi lebih presisi dalam memotong lemak, jaringan dan kulit dibanding deba.

Pisau shobu: Disebut shobu oleh orang Kansai, dan yanagiba oleh orang Kanto. Merupakan pisau panjang yang super tajam dan ramping, khusus untuk memotong ikan untuk sushi dan sashimi secara presisi tanpa merusak tekstur dan serat ikannya sendiri. Pisau ini digunakan dengan teknik single drawing motion (sekali tarik/ayun gitu, kayak nebas pake pedang).


B.A.N.G.S.A.T:

Hai readers sekalian! Senang sekali akhirnya author bisa update lagi. Karena chapter ini adalah chapter terpanjang dan waktu ngeditnya memakan banyak sekali waktu, akhirnya author memutuskan untuk memotong chapter ini jadi 2 bagian. Bagian awalnya di posting duluan, nanti bagian keduanya menyusul dengan segera setelah proses editing. Aku sebagai pasukan garda paling depan pendukung Hinata Harem Supremacy merasa gatal ingin bikin Hoshiumi yang (di fanfic ini) suka ganjen sama cewek jadi punya complicated feeling gitu sama Hinata, apalagi ngerasa dia cowok gentle baik-baik eh Hinatanya malah nikah sama preman begajulan kayak tsum-tsum yang notabene musuh bebuyutannya (ya gimana, aku mau puk-puk Hoshiumi aja. Secara tinggi badan sama tampang dia kalah jauh /ehkokjadijahat).

Doakan aku bisa ngepost chapter ini bagian akhirnya secepat mungkin ya, gengs! Sampai ketemu di bagian akhir chapter 21!