Judul : Otonari-San
Chapter : 24
Crossover : Naruto x LoveLive
Pairing : Naruto x (Rahasia) :v
Genre : Ecchi, lemon, NTR, romance, drama, dll.
Disclaimer : Naruto punya Om Masashi Kishimoto dan LoveLive punya Sakurako Kimino
Rating : M
A/N :
Ciee akhirnya update..
.
.
.
.
DON'T LIKE DON'T READ :)
(Jangan maksa buat baca jika ga kuat netorare..)
.
.
.
.
.
Normal pov*
"Se-sejak kapan kau ada di sini?!"
Keterkejutan membuatnya menjauh dari Naruto, "Ke-kenapa kau ada di sini?!" Mika berteriak seperti orang yang melihat hantu.
"Tentu saja, untuk buang air, 'bukan?" Jelas Nozomi menatap Mika yang tersungkur di lantai dan terlihat menggunakan lingerie yang cukup terbuka.
Pandangan Nozomi berpindah pada Naruto yang berdiri dengan celana panjangnya yang melorot sehingga memperlihatkan celana dalamnya, mendapat pandangan Nozomi padanya membuat Naruto berbalik membelakangi Nozomi dan menarik celananya ke atas.
Naruto sedang merutuki kesialannya karena kepergok oleh Nozomi yang ternyata selama ini ada di dalam bilik tepat di sebelah saat Mika menggodanya. Naruto bingung karena kepergok oleh Nozomi, meskipun dia berusaha menolak tadi, tetap ada perasaan yang mengganggunya.
Nozomi tersenyum sarkas menatap Mika yang menyedihkan karena ditolak Naruto, namun terus memaksa. Nozomi yang tahu betapa setianya Naruto pada kekasihnya, tentu sudah tidak asing akan sifat Naruto yang satu ini. Nozomi tersenyum ketika melirik Naruto yang tidak mau menatapnya.
"Ah, apa aku muncul di saat yang tidak tepat? Omong-omong, dalaman yang sangat menarik.." Jelas Nozomi seperti meledek Mika yang wajahnya memerah, dia langsung melesat mengambil gaun tidurnya yang tergeletak di bilik lantai tadi, dan memakainya. Lalu, menatap tajam Nozomi dengan pandangan tak suka.
"Aku salut kau benar-benar mencoba menggodanya, aku pikir kau hanya membual saja~ sejak tadi, aku hanya tertawa dalam hati di bilik sebelah.." jelas Nozomi yang kembali mengingat suara Naruto yang gugup ketika digoda oleh wanita lain yang mencoba mengajaknya one night stand.
"Apa itu lucu bagimu?" Tanya Mika yang menunduk terdiam.
"Ah, gomen.. apa aku menyinggungmu? soalnya aku sudah bilang padamu sebelumnya, 'bukan? Kau tidak tahu apapun tentang dia.." Jelas Nozomi menunjuk Naruto yang menatap kedua wanita di depannya dengan pandangan bingung, karena sepertinya kedua wanita di depannya ini sudah saling kenal.
"Uzumaki-san mungkin orang yang tidak pendirian, tapi dia selalu menjaga perasaan orang lain. Bukankah dia berbeda dengan pandanganmu selama ini? Kau membenci wanita cantik karena mudah mendapatkan cinta banyak orang, 'bukan? Karena itu, kau ingin menyakiti Minami-san, karena itu merupakan kepuasan bagimu.."
Mendengar nama kekasihnya membuat Naruto melebarkan pandangannya pada kedua wanita di depannya, "Tunggu, apa maksudmu dengan Kotori-chan?" Tanya Naruto pada Nozomi.
Nozomi membuat isyarat pada Naruto dengan jari telunjuk di depan mulut, "Ini rahasia wanita.." jelas Nozomi yang kembali menatap pada Mika, lalu dia menyentuh wajah Mika di depannya.
"Kau tahu, wajahmu nampak menyedihkan sekarang. Seandainya kau tahu, kau lebih menyedihkan dari wanita lain yang kau hancurkan. Sungguh menyedihkan, apa kau ingin aku membantumu?" Nozomi kemudian terkejut ketika Mika menepis tangannya, Mika menatap tajam padanya lalu tersenyum sarkas.
"Heh, kau pikir aku butuh belas kasihanmu.. aku sama sekali tidak butuh, dan aku tidak menyesal dengan apa yang sudah kuperbuat.." lalu Mika berbalik dan berpikir untuk keluar dari sana, namun matanya melihat Naruto yang berdiri membuatnya kesal.
"Cih.." dia mendecih tepat ketika melewati Naruto untuk keluar dari toilet wanita saat itu, Naruto ikut menatap punggung Mika yang menjauh dengan wajah jengkel.
Tangannya terkepal lalu berteriak dengan emosi, "A.. apa-apaan dia! setelah menarikku dalam masalah, itu yang dia lakukan?!"
Nozomi tertawa kecil, "Ufufu~..apa kau tidak tergoda olehnya? Padahal tadi mungkin kesempatanmu untuk melakukannya~" jelas Nozomi menggoda Naruto dengan pandangan jahil.
"Ma-mana mungkin! Setelah aku tahu, dia ingin menyakiti Kotori-chan.. aku benar-benar tidak bisa memaafkannya.." jelas Naruto menatap Nozomi yang berjalan melewatinya.
"Hmm~ baguslah.." gumam Nozomi yang berjalan keluar dari ruang toilet, langkahnya berbelok ke arah lain, melihat wanita itu yang menuju pintu keluar penginapan membuat Naruto bertanya-tanya.
"Kau mau kemana? Hari masih gelap, akan berbahaya jika wanita keluar sendirian.." Pertanyaan yang spontan keluar dari tenggorokan Naruto membuat Nozomi berhenti, lalu berbalik untuk menatapnya.
Naruto tersadar begitu melihat wajah polos Nozomi, Naruto berpaling ke samping memutuskan kontak mata dengan manik hijau wanita di depannya. Wajah Naruto sedikit memerah karena baru saja mengkhawatirkan wanita di depannya, tangannya menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal karena gugup.
"I-ini bukan berarti aku penasaran kau mau kemana, tapi.. yah.. kalau ada wanita berjalan sendirian di tempat asing.."
"Kalau begitu.." Nozomi melangkah mendekat lalu menunduk dengan wajah mendongak menatap Naruto yang lebih tinggi darinya, "..apa kau mau menemaniku?" Tanya Nozomi tersenyum menatap pria di depannya.
"Hah? Untuk apa?"
"Kau lupa? Aku sudah membantumu beberapa saat lalu, dan kupikir kau akan mentraktir sesuatu~" jelas Nozomi dengan ekspresi cemberut untuk menggoda Naruto yang mulai kepikiran beberapa saat lalu, saat Mika yang memaksanya berhubungan seks dan Nozomi muncul sehingga Mika akhirnya menjauh.
Naruto tidak bisa bayangkan apa yang terjadi jika Nozomi tidak muncul, Naruto bisa saja menolak Mika dengan cara kasar. Seperti saat dia mendorong Mika menjauh hingga wanita itu menabrak pintu toilet dengan cukup keras. Naruto salut Mika bisa tetap bersikap seakan itu tidak terjadi. Naruto akhirnya sadar ada wanita yang lebih aneh dari Nozomi.
Tapi daripada hal tersebut, pikiran Naruto melayang saat Nozomi menunjukkan ekspresi kosong dengan tatapan sedihnya dua hari lalu. Meskipun Naruto tidak tahu penyebab wanita di hadapannya yang selalu berubah mood. Entah kenapa, Naruto merasa itu seperti salahnya.
"Jaa, bagaimana dengan sekaleng kopi? Jika kau mau.." ucap Naruto.
.
.
.
.
.
Naruto dan Nozomi berjalan-jalan di sekitar desa Totsukawa yang masih sepi, ketika melewati pemukiman beberapa toko kecil sudah mulai bersiap buka. Di tangannya Naruto membawa bungkusan kopi dan bakpau hangat yang dibelinya di toko kecil tadi.
Naruto hanya mengikuti Nozomi yang berjalan di depannya dalam diam, matanya melihat sekitaran dimana di sebelah mereka terdapat sungai dan bebatuan yang mereka injak. Tanpa sadar mereka berjalan sampai melewati pemukiman pedesaan yang jaraknya tidak jauh dari penginapan. Suasana masih terasa agak gelap dan angin begitu dingin.
"Hatchu! Di-dingin.." Pria kuning itu mulai bersin begitu semilir angin mengenainya, "Hey, hanya untuk minum kopi, kenapa kita harus pergi sejauh ini?!" Omelnya pada Nozomi di depannya sambil merinding kedinginan.
"Setiap hari, aku selalu jalan-jalan keliling komplek dari jam 4 pagi.. bukankah kau sendiri yang mau ikut?" Tanya Nozomi yang menimbulkan perempatan di pelipis Naruto, pria kuning itu merasa kesal karena mau menemani wanita di depannya. Sekarang akhirnya dia mengerti kenapa Nozomi selalu bangun pagi, wanita itu hobi jalan-jalan di subuh hari.
Dan sekarang, Nozomi terlihat melompat-lompati batu yang dilewatinya dengan riang, Naruto melihat wanita dewasa tersebut yang bermain-main seperti anak kecil. Melihat Nozomi yang enerjik membuat Naruto agak terganggu, batu di tepi itu licin kalau tidak berhati-hati, bisa jatuh ke sungai.
"Hey, kalau lompat-lompat begitu, kau bisa terjatuh" tegas Naruto pada Nozomi yang tetap melompat.
"Aku akan baik-baik saja, saat kecil aku sering melakukan ini.. rasanya membuatku kangen.." balas Nozomi yang tidak mendengarkan Naruto.
"Kau ini.." geram Naruto dengan suara pelan, entah bagaimana dipandangan Naruto sekarang Nozomi terlihat seperti perempuan biasa, yang bertingkah kekanakan saat tak ada siapapun.
"Kyah!" Nozomi tiba-tiba terpeleset dan tubuhnya hampir jatuh ke sungai, beruntung Naruto langsung menangkap tangannya sehingga Nozomi tertahan.
"Nah kan, sudah kubilang.." gerutu Naruto yang menarik Nozomi untuk kembali berdiri dengan seimbang.
Melihat tangan mereka yang bertautan membuat Nozomi merona, wanita itu menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan semburat merah di kedua pipinya. Naruto samasekali tidak menyadari semburat merah Nozomi dan menengok ke sungai yang sebenarnya tidak terlalu dalam, hanya saja pasti sangat dingin di musim gugur saat ini.
"Kalau kau jatuh, nanti masalah buatku.." Naruto kembali mengomel kecil.
"Hm, arigatou.." Ucap Nozomi dengan suara yang kecil, matanya menyipit senang melihat tangan besar Naruto yang menggenggamnya.
Tangan besarnya yang agak kasar terasa seperti sengatan panas bagi Nozomi, membuat hati wanita cantik yang kini menyimpan rasa pada pria di depannya tersebut ikut menghangat. Dia ingat ketika pemuda itu pernah mendekap dan menyentuhnya. Sesaat kemudian kehangatan yang dirasakan Nozomi menghilang ketika Naruto melepas genggamannya dari tangan Nozomi.
"Bisa kita beristirahat? Menemanimu berjalan membuat kakiku pegal dan kedinginan.." gerutuan Naruto memang menyebalkan, tapi entah bagaimana itu membuat Nozomi tersenyum, dia sudah biasa dengan sifat Naruto yang seperti itu.
"Baiklah.." ucap Nozomi yang turun dan duduk di atas bebatuan.
Matanya melihat ke samping pada tangan Naruto yang terulur dengan sekaleng kopi yang hangat, "Ini, kau menginginkannya, 'bukan?" Tanya Naruto yang langsung di terima Nozomi, pemuda itu kini terduduk di samping Nozomi, menikmati hilir air di sungai dan suara jangkrik dari pepohonan dan semak-semak.
Nozomi menempelkan kopi hangat tersebut pada pipinya, "Hm~ ini hangat.." dia memandang Naruto di sampingnya, "Arigatou, Narucchi.." ucap Nozomi yang mendapat pandangan aneh dari Naruto.
"Naru.. -cchi?" Naruto merasa aneh ketika namanya diberi suffix -cchi, dia tak terbiasa dengan panggilan imut seperti itu.
"Itu panggilanku untukmu, aku juga memanggil begitu untuk Ericchi.." jelas Nozomi yang membuka kaleng kopi di tangannya.
"Oh, terserah jika itu maumu.. tapi jangan panggil aku begitu saat ada oranglain, itu memalukan.." tanggap Naruto yang memakan bakpau yang dia beli, dia tidak ingin jika panggilan imut itu membuat teman-temannya salah paham akan kedekatannya dengan Nozomi, apalagi sebelumnya beredar gosip bahwa dia menyukai senpai di sebelahnya bahkan gosip itu tepat sasaran saat dia baru saja ditolak dan patah hati melihat wanita yang pernah disukainya bermesraan dengan pria tampan.
"Tenang saja, itu spesial hanya untuk kita berdua.." jelas Nozomi tersenyum memandang sungai di depannya dengan pohon-pohon di seberangnya, juga pemandangan gunung dari kejauhan.
Mendengar kata berdua membuat Naruto tersadar bahwa mereka sedang berduaan sekarang, bukankah sekarang dia sedang menyelinap keluar penginapan dengan perempuan lain? Tapi niatnya hanya untuk berterima kasih pada Nozomi, jadi ini bukan berarti mereka sedang berkencan. Hanya saja, perasaan gugup apa ini? Memikirkan berduaan dengan Nozomi malah membuatnya jantungnya berdebar-debar.
Apa karena Nozomi cinta pertama dan orang pertama yang meluluskannya dari status perjaka?! Pikiran pria itu kembali tak konsisten dan kalang kabut.
Kendalikan pikiranmu, Naruto..! Kau masih punya Kotori-chan! Ingatlah, janji manis kalian sebelumnya.. Peringat Naruto pada dirinya sendiri, dia langsung memakan bakpau di tangannya dengan terburu-buru.
"Ah! Cahayanya mulai terlihat.." jelas Nozomi yang membuat Naruto ikut menatap pada pemandangan gunung yang menyelipkan cahaya matahari terbit, langit sudah mulai menunjukkan warna biru redup yang menandakan pagi telah tiba.
"Indahnya~" gumam Nozomi tanpa sadar terpesona dengan surya yang menampakkan diri.
Naruto menoleh pada Nozomi hingga matanya terkunci pada senyuman manis Nozomi yang jarang dilihatnya di depan orang lain, karena wanita bersurai ungu ini sangat tertutup pada oranglain. Naruto sendiri juga bingung kenapa Nozomi hanya menunjukkan sisi lainnya pada Naruto, karena itu Naruto sempat berpikir bahwa Nozomi juga menyukainya.
Naruto memandang Nozomi cukup lama sampai ketika Nozomi membalas tatapannya, matanya menyipit lembut di hadapan Naruto dengan garis kurva pada bibir pinknya, serta kedua pipinya yang kemerahan. Diperjelas dengan sinar matahari pagi dan angin yang mulai terasa hangat.
Naruto kembali memakan bakpaunya untuk berhenti memikirkan perempuan di sampingnya ini memiliki rupa yang sangat cantik, Naruto merutuki betapa indahnya ekspresi senyum itu untuk di pandang, Naruto mengerti senyuman itu yang membuat Nozomi sangat populer sebagai hot girl. Wajah yang cantik, tubuh yang aduhai, tingkah laku yang seakan malaikat.
Naruto melahap satu potongan besar hingga hampir tersedak dan langsung meminum kopinya. Melihat pemuda di sampingnya makan dengan lahap hingga hampir tersedak membuat Nozomi tertawa.
"Apa kau selapar itu?" Tanya Nozomi yang mendapat wajah lesu pria kuning yang merasa melakukan hal bodoh.
"A-abaikan saja yang barusan!" Jawab Naruto ketus.
Nozomi menatap bingung pada pemuda tersebut, lalu memutuskan kembali menatap ke arah mentari yang baru muncul, "Kau lihat? Matahari terbit sangat indah, 'bukan? Saat berpikir semua akan berakhir, tapi melihat matahari terbit seakan memberikanku harapan.." ungkap Nozomi yang tanpa sadar membuat Naruto berpikir tentang karakter kanji yang digunakan pada nama Nozomi.
"Rasanya seperti membicarakan namamu.."
"Hm?" Nozomi memandang penuh tanya pada Naruto yang tertawa kecil akan reaksi wanita di hadapannya.
"Itu lho, kau pasti menyadarinya, 'bukan?" Tanya Naruto dengan telunjuknya yang bergerak seperti menulis sesuatu di udara, "Namamu Nozomi yang punya arti harapan dan nama keluargamu Tojo memiliki arti sinar cahaya timur, saat kau bilang seperti itu aku langsung ingat namamu.. benar juga ya, mungkin makna yang tepat juga jika disebut matahari.. Harapan baru saat matahari terbit, ya? Hm! Hm! Nama yang bagus~" jelas Naruto yang membuat Nozomi memandangnya cukup lama, wanita itu tidak menyangka bahwa pria di hadapannya mengetahui arti namanya, bahkan Nozomi sendiri tidak pernah memikirkannya.
"Bagaimana kau tahu?" Tanya Nozomi yang jadi penasaran.
"Eh?! I-itu.."
Naruto yang mendapat pandangan penuh tanya wanita di hadapannya langsung panik dan berkeringat, dia tidak bisa bilang saat dia menyukai Nozomi, dia selalu menulis namanya di buku catatannya setiap jam mata kuliah atau saat istirahat kerja paruh waktu sambil tersenyum bodoh, membayangkan jika wanita itu berganti nama keluarga menjadi Uzumaki.
Bahkan, saking niatnya sampai mencari makna dari coretan kanji nama Nozomi. Saat itu, Naruto benar-benar tak bisa memandang perempuan lain selain Nozomi, dan pemuda itu sekarang ingin mati ketika mengingat betapa memalukannya hal tersebut. Di masa itu, dia benar-benar pemuda yang pertama kali mengalami musim semi. Pria yang naif dan mudah sekali terbawa suasana.
"T-te-tentu saja! Itu ka-karena aku.." Jelas Naruto yang mulai salah tingkah hingga dia merona malu dan membuang muka ke arah lain lalu membelakangi Nozomi, dia langsung duduk meringkuk memeluk lututnya, "..saat itu.. aku.. aku menyukaimu" lanjut Naruto jujur dengan suara bergetar.
Bodoh! Apa yang kau lakukan, Naruto?! Kau baru saja mengatakan hal yang memalukan padanya, memangnya kenapa kalau kau tahu makna namanya?! Dan kenapa kau harus sejujur itu?! Batin Naruto yang mengeluh pada dirinya sendiri.
Kejujuran Naruto membuat Nozomi terpana, ketika dia mendengar Naruto yang tahu makna namanya membuatnya merasa senang, hingga tanpa sadar membuatnya tersenyum tipis karena tingkah manis pemuda di hadapannya. Belum lagi perasaan aneh yang dia rasakan di dadanya yang kian berdetak lebih cepat. Wanita tersebut ikutan merasa gugup, dia langsung meminum kopinya untuk mengalihkan perhatiannya.
"Mungkin memang benar, tapi aku tidak merasa begitu.." jelas Nozomi yang masih dapat di dengar tanpa Naruto memandangnya, "Habisnya yang kubisa hanya berharap terus tanpa melakukan apapun, sampai akhirnya aku kehilangan harapan sepenuhnya. Jadi meskipun makna namaku harapan, aku tidak benar-benar bisa mewujudkannya.."
Nozomi mengingat bayangan buruk ketika menatap tangannya, dia ingat dengan jelas bercak merah yang pernah mengotori tangannya hingga membuatnya merasakan kesedihan yang mendalam. Wajahnya kembali murung, matanya meredup seperti kehilangan cahayanya.
"..justru aku ingat, aku yang telah menghancurkannya.." lanjut Nozomi yang tak mendapat balasan apapun dari Naruto yang terdiam.
Mata hijaunya melirik punggung Naruto yang membelakanginya, namun hanya ada keheningan. Bodohnya Nozomi menginginkan tanggapan dari pria di sampingnya.
"Apa itu?" Nozomi melebarkan kelopak matanya ketika mendengar suara Naruto yang membalas perkataannya, "Kau bilang melihat matahari terbit memberimu harapan, 'bukan? Apa itu hanya sekedar kalimat puitis untukmu? Berhentilah membual.." lanjut Naruto yang masih tak bergeming dari posisinya, matanya melihat bebatuan yang dipijaknya.
"Melihat matahari terbit menandakan kau masih diberi harapan, kau diberi waktu yang panjang, sekarang kau hanya perlu memikirkan apa yang kau lakukan untuk harapan baru.." jelas Naruto mengingat kembali ketika wanita di belakangnya menolak bersamanya, membuat hatinya hancur seperti kehilangan segalanya.
"Ada hal yang tak mungkin kau gapai, anggap saja itu takdir. Sejak awal kau tidak bisa memaksanya, aku sempat membenci hal itu, dan aku tidak bisa mempercayainya.." jelas Naruto yang ingat dia terlarut dalam kesedihan sampai tak menyadari apapun di sekelilingnya, "Tapi pada musim panas aku kembali diberi harapan baru.." Naruto tersenyum ketika mengingat pertama kali dia bertemu Kotori yang kikuk dan pemalu.
"...awalnya itu terasa aneh untukku, aku tidak menyangka dan tidak mempercayai bahwa ada gadis cantik dan populer yang menyukaiku. Tapi saat dia berusaha untukku, aku juga ingin dia merasakan hal yang sama. Dan aku kembali jatuh cinta.." lanjut Naruto masih mengingat kenangan indah bersama Kotori, saat pertama kali Kotori menyatakan perasaannya, ciuman pertama mereka, dan berulang kali Kotori mengatakan bahwa dia mencintai Naruto.
"Ketika menyadarinya aku ingin melindunginya, aku tidak ingin membuatnya sedih. Aku ingin membuatnya bahagia. Karena itu aku berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan menghancurkan harapannya. Aku ingin bersama dengan Kotori-chan untuk selamanya.." ungkap Naruto tersenyum dengan pandangan yang melembut.
Nozomi hanya tersenyum tipis mendengarnya, seperti yang dia duga Naruto sangat serius tentang hubungannya dengan Kotori. Bahkan, pria kuning di sebelahnya rela memberikan seluruh hidupnya untuk wanita cantik tersebut. Nozomi memiliki perasaan menyesal karena dulu menolak Naruto, hanya karena sebuah janji yang dia pegang bahwa dia tak akan jatuh cinta pada siapapun lagi.
Sayangnya dia kalah pada hatinya, dia akhirnya jatuh cinta pemuda di sampingnya. Dan pemuda itu kini memiliki orang lain untuk mendapat seluruh ketulusannya yang disebut cinta. Kotori menjadi wanita yang beruntung mendapat perhatian dari pria baik seperti Naruto.
Nozomi menunduk untuk menahan kegundahan hatinya. Nozomi tidak bisa menyalahkan siapapun, dia sendiri yang membuat keputusan, dan dia harus menerimanya. Yang bisa dia lakukan sekarang adalah merelakan Naruto untuk wanita lain, untuk kebahagiaannya.
"Narucchi, kau sangat baik ya.."
"Eh? Benarkah?" Naruto langsung berbalik, "Jika kau bilang begitu, aku jadi malu~" lanjut Naruto yang terkekeh geli menggaruk belakang kepalanya.
Nozomi mengangguk, "Tentu saja, jika mendengar itu, Kotori-chan pasti akan menangis bahagia.." lanjut Nozomi tersenyum di hadapan Naruto.
"Ah tidak, justru aku yang beruntung karena punya pacar seperti Kotori-chan!"
"Ini pertama kalinya bagiku, mengobrol denganmu seperti ini.." jelas Nozomi yang membuat Naruto juga tersadar.
"Benar juga, sebelumnya hubungan kita aneh dan penuh ketegangan, kurasa.." jelas Naruto yang menyesal dengan kejadian sebelumnya.
"Gomen nee, itu salahku.."
Naruto langsung menatap Nozomi yang terlihat merasa bersalah, "Ti-tidak kok, itu salahku juga. Aku merasa sudah banyak mengatakan hal yang menyakitimu. Aku juga tidak merasa membencimu atau apapun, jadi jangan bersikap begitu. Itu menggangguku. Jadi, sebaiknya kita lupakan hal itu.." jelas Naruto yang mengalihkan pandangannya ke depan.
Nozomi yang menatapnya langsung menunduk, "Arigatou.." Nozomi berterima kasih entah untuk apa tapi suasana menjadi kaku tiba-tiba.
Naruto memandang langit pagi yang mulai terang lalu tubuhnya bangkit dari posisinya duduknya, "Ah, sudah waktunya. kita harus kembali ke penginapan.." jelas Naruto yang mulai berbalik dan berjalan ke arah saat mereka datang tadi.
"Ah benar.." ucap Nozomi langsung bangkit dari posisinya juga lalu berjalan mengekori Naruto hingga langkahnya berada di belakang Naruto, di tangannya dia membawa plastik berisi sampah kaleng kopi yang mereka minum.
Kemudian mereka berjalan bersama ke penginapan dalam keheningan. Begitu sampai, Naruto kepergok oleh Kiba dan Shikamaru yang menatap tajam padanya karena berduaan dengan Nozomi.
"Eh, ada apa ini? Kupikir kau tak menyukainya~" ucap Kiba dengan seringai jahil, dia menahan Naruto dengan rangkulannya.
"Kau salah paham!"
"Hm~ begitu ya.." tanggap Shikamaru yang hanya mengelus dagunya dengan jari telunjuk.
"Sudah kubilang kami hanya minum kopi!"
Naruto berusaha keras menjelaskan pada mereka yang salah paham, dia hanya menemani Nozomi minum kopi dan tidak melakukan apapun. Tapi, teman-temannya tetap menjahilinya. Mereka tahu Naruto tidak selingkuh, mereka hanya senang menggoda pria kuning tersebut.
.
.
.
.
.
Naruto pov*
Aku melihat sekeliling taman yang dimana-mana ada rusa yang berkumpul. Sekarang kami berada di Nara Park, menikmati alam dan nuansa sejarah kurasa.
Aku tersenyum dengan teman seangkatan yang kulihat memberi makan rusa dengan takut-takut. Aku melihat pada aplikasi RINE di ponselku dimana terdapat foto seangkatan yang berfoto bersama, aku mendapat balasan dari Kotori yang terlihat ngambek karena tidak mengikuti perjalanan ini. Mungkin lain kali, aku akan mengajaknya berkencan di sini.
"Hey, Naruto! bisa kau foto aku dan Honoka?" Jelas Kiba dengan penuh semangat memberi kameranya padaku, "Baiklah.." ucapku yang kemudian mengarahkan pada Kiba yang memeluk Honoka dari belakang dengan latar danau di belakang mereka menambah kesan romantis, entah mengapa aku jadi kesal.
Apa mereka tahu betapa kesepiannya diriku tanpa Kotori-chan?! Dan kemesraan mereka seakan-akan memanasi-manasiku.
Dengan niat membodohi mereka, aku mengubah formatnya menjadi kamera depan, "Baiklah, satu.. dua.." aku menekan tombol kamera seraya tersenyum lima jari saat melihat wajahku di layarnya.
Aku memotret beberapa kali lalu memberikannya pada Kiba yang melotot kesal dan memukul punggungku, "Apa ini? Kenapa jadi mukamu semua?!" Kesalnya padaku yang membuatku tertawa.
"Naruto-kun, serius dikit dong!" Bagai petir Honoka juga memarahiku.
"Maaf, melihat kalian membuatku kesal.." ucapku dengan memandang sinis pada mereka.
"Hah, dasar~ Sudahlah, aku minta bantuan Sai yang lebih berseni.." jelas Kiba yang kemudian pergi memanggil Sai yang sedang memotret rusa.
"Kyah!" Teriakan wanita yang sangat kukenal terdengar, aku berbalik pada seseorang yang tertawa geli di sekumpulan senpai wanita yang sedang memberi biskuit pada rusa yang menjilati tangan mereka.
"Ahahaha.. dia menjilati tanganku.." ungkapnya yang tertawa geli, wanita itu tentu Nozomi yang menunduk memberi makan anak rusa.
Aku memperhatikannya yang tertawa bahagia, aku jadi teringat tadi pagi saat kami mengobrol di sungai. Itu pertama kalinya aku mengobrol dengannya seperti itu,
..justru aku ingat, aku yang telah menghancurkannya..
Aku teringat jelas dia mengatakan hal aneh seperti itu, awalnya aku tidak berpikir dia akan mengatakannya. Aku tidak melihat bagaimana wajahnya, tapi aku merasakan hal itu menjadi belenggunya selama ini. Dia terlalu rumit, aku sama sekali tidak mengerti tentangnya, aku tidak pernah tahu apapun tentangnya.
Aku mengatakan ini padamu bukan karena aku sombong.. aku sudah memutuskan tak akan pernah jatuh cinta pada siapapun, bahkan termasuk denganmu, Uzumaki-san..
Bahkan saat itu pun aku tidak tahu apapun, dan aku tidak bisa menanyakannya. Aku terbayang pria berambut orange pada foto album yang dimilikinya juga liontin yang ditatapnya.
Entah mengapa, saat itu aku takut alasannya jauh lebih besar dari yang aku pikirkan, dan itu hal yang akan menyakitinya. Aku takut untuk mengetahui alasan dia menolakku bukan karena dia mempermainkanku, tapi ada oranglain yang lebih berarti untuknya.
Menatapnya cukup lama tanpa sadar pandangan Kami bertemu, dia tersenyum dan membuatku mengalihkan pandanganku darinya. Dia sebenarnya memiliki sisi lemahnya, sisi lembutnya, sisi baiknya, yang tidak pernah kupikirkan bahwa itu mengganggu dan nyaman untukku. Ketika dia mulai mempercayaiku.
Mungkin, sebaiknya aku bersikap lebih baik padanya?
.
.
.
.
.
TBC
Dari merasa nyaman, dimulailah mode friendzone :v
Ciee yg menunggu update berbulan-bulan~ lama banget wkowkowkw
Sebenarnya sih bukan author menyerah menulis, tpi lg males mikir ajha.. mencari referensi itu yang bikin males..
