Try New Things
Dilihatnya kalender digital hari ini, Sasuke berdecak pelan menyadari angka ganjil yang muncul di sana. Sekarang dia paham kenapa si pirang terus tidur pulas meskipun alarm sudah berdering lebih dari tiga kali. Ini memang bukan tugas Naruto, melainkan dirinya.
Tugas mencuci, yang bergilir antara mereka setiap minggunya.
Diletakkan mug berisi kopi pada meja, melangkah Sasuke ke arah kamarnya. Dipungut pakaian yang dirasa kotor dari balik pintu, gantungan baju, juga milik si pirang yang berceceran di lantai.
Protes yang sama terucap lagi dari bibirnya, bagaimana dia mengomentari kebiasaan buruk si pirang seperti ular yang sedang berganti kulit—pria itu lebih suka menanggalkan pakaian kotornya di sembarang tempat dibandingkan dengan tempat yang sudah disediakan.
Keranjang pakaiannya sudah terisi penuh, Sasuke menekan tombol on pada mesin cuci, selagi menunggu dia kembali melanjutkan kegiatan yang tertunda sebelumnya—meminum kopi.
Sesekali diliriknya pakaian dalam tabung yang memutar searah jarum jam, busa yang tipis tidak menutupinya untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana, meskipun mereka juga memiliki beberapa pakaian berwarna sama—yang berwarna gelap—seolah ingin mendominasi warna cerah terus terlihat lebih menonjol dibandingkan dengan warna gelap.
"Si Dobe itu, berapa kali sehari dia mengganti pakaiannya?" dalam hati memprotes sekaligus bertanya-tanya, dia melirik ke arah keranjang pakaian yang masih menunggu giliran untuk dicuci. Biasanya tidak ambil pusing, tetapi dipikir lagi kebiasaan buruk pria itu memang terlihat lebih jelas setelah mereka menikah.
Tidak, dia tidak terganggu.
Jujur sama sekali tidak.
Dia hanya ingin tahu alasan apa yang membuat si pirang mengganti pakaiannya sebanyak itu, karena yang dilihat dengan mata kepalanya sendiri si pirang lebih banyak menghabiskan waktu di weekend-nya dengan beristirahat total atau 'berpacaran' dengannya.
"Ini sepertinya tidak kotor," ucap Sasuke meraih salah satu pakaian Naruto dari dalam keranjang. T-shirt oranye cerah bergaris hitam diperhatikan dengan jeli. Tidak ada noda, bahkan tidak ada bau yang menganggu. Mengendus sekali lagi karena penasaran, hasilnya tetap sama.
Hanya ada aroma khas Naruto di sana.
Sasuke mengernyit, dia bergumam tidak paham. Yakin hidungnya tidak ada masalah, dan matanya juga dalam kondisi prima. Dia tidak menemukan satu kesalahan pun pada baju itu.
Mesin cuci dimatikan, dia memilih dan membawa beberapa pakaian milik Naruto yang dirasa masih layak pakai. Berhenti tepat di depan cermin besar dalam toilet dia melucuti pakaiannya sendiri untuk digantikan oleh pakaian si pirang.
Menurut Sasuke, pantulan tubuhnya di cermin terlihat aneh, tampak seperti bukan dirinya, atau mungkin versi leluconnya pada dunia pararel yang lain, tetapi bukan itu inti permasalahannya. Dia ingin memastikan mungkin saja pakaian si pirang terasa tidak nyaman, tetapi sebanyak apa pun gerakan yang dia buat, baju itu tidak juga memberikan alasan yang diinginkannya.
"Ini hanya membuang-buang waktu," protesnya melepas baju Naruto yang dikenakan. Namun tubuhnya membeku di tempat melihat sosok yang tiba-tiba membuka pintu toilet dari balik cermin—siapa lagi jika itu bukan si pirang yang baru saja bangun, mulut yang menguap lebar dan mata yang masih setengah terbuka.
Keduanya saling menatap, saling terkejut.
"Itu punyaku bukan?" tanya Naruto, memerhatikan begitu lekat setiap lekuk liku tubuh Sasuke yang dibalut pakaian miliknya. Kantuknya menguap entah ke mana, pemandangan di hadapannya saat ini memberi kejut luar biasa yang berdampak besar pada batin juga fisiknya.
Singkat. Namun mematikan. Sasuke benci pertanyaan yang mengharuskannya untuk menjelaskan atau memberi alasan atas apa yang tengah dilakukannya saat ini karena menurutnya itu akan menjadi satu esai yang begitu panjang. Berusaha menjaga raut wajahnya seperti biasa, dilepasnya pakaian Naruto, dipakai kembali pakaian miliknya. Perlahan, tetapi pasti, dia melangkah ke arah pintu tanpa niat menjawab. Namun dia juga tahu terkadang kepala Naruto bisa lebih keras daripada batu.
Di detik ketiga dia merasakan genggaman kuat pada lengan kiri, yang melarangnya untuk pergi.
"Aku tahu mencoba hal-hal baru itu menyenangkan Sasuke, tetapi kau juga harus menyadari dampak apa yang akan terjadi dengan kondisi sekitarmu, bukan?"
Melihat senyum puas Naruto, kali ini Sasuke mengaku, dia telah mengambil keputusan yang salah.
.
Continued
Extra :
"Jadi karena itu?" Naruto menatap punggung yang pucat, mengangguk dia mengiyakan setelah mendengar penjelasan Sasuke yang saat ini hanya bisa merebahkan tubuhnya di atas kasur—tampak letih tidak berdaya. "Tapi Sasuke, pakaian itu memang kotor. Bahkan aku bisa mencium aroma tubuhku di sana."
"Itu tidak kotor Dobe."
"Aku tidak nyaman mencium aroma tubuhku sendiri Sasuke."
"Itu bukan aroma yang menganggu," sahut Sasuke, detik selanjutnya dia menyadari kalimat yang diucap terdengar begitu salah. "M-Maksudku! Kau masih bisa menggunakannya lebih lama lagi sebelum mencucinya!"
"Sasuke ... apa kau menyukai aroma khas tubuhku?"
Ah... Entah mengapa Sasuke sudah bisa menebak ini akan terjadi sejak awal. Naruto dan asumsinya yang terkadang benar, sering membuatnya tidak bisa berkutik juga membuatnya mengakui hal-hal yang tidak ingin diakui sebelumnya.
"Tidak."
"Pasti iya! Kau menyukainya kan?"
"Kubilang tidak ya tidak!"
"Mengaku saja."'
"Tidak, Dobe!"
"Oh ayolah!"
Keputusan Sasuke sudah bulat. Kali ini dia tidak akan mengaku meskipun seluruh bukti telah digenggam si pirang.
